• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT Puspa Madu Sari pertama kali didirikan pada tahun 2007 di Salatiga oleh

Hubertus Bruinink seorang pria berkebangsaan Belanda yang menetap di Indonesia,

yang pada saat itu memulai usahanya dalam bidang produksi makanan ringan. PT

Puspa Madu Sari memproduksi makanan ringan khas Belanda berupa stropwaffell.

Selama perjalanan merintis usahanya, produk makanan ringan ini sudah memasuki

beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Denpasar, Surabaya, Malang,

Bandung dan beberapa toko di Salatiga.

Dalam menjalankan usahanya, perusahaan ini melakukan penjualan secara

tunai maupun non tunai. Perusahaan ini menjual barang berdasarkan pesanan dari

pihak pembeli. Pada saat ini PT Puspa Madu Sari yang terletak di jalan Nakula

16

merupakan anak perusahaan dari Bio Maret yang berkantor di Jl. Nakula Sadewa

No.47 Kembang Arum, Salatiga.

Pencatatan Piutang Pada PT Puspa Madu Sari

Pencatatan piutang tak tertagih dilihat dari tiga hal yaitu prosedur, dokumen

yang digunakan dan pelaporan.

1) Prosedur

Piutang usaha adalah suatu hal yang penting bagi pihak manajemen

perusahaan, karena piutang merupakan aktiva lancar yang mempengaruhi jumlah

harta atau kas. Selain itu pada umumnya transaksi penjualan yang terjadi pada

perusahaan dilakukan secara kredit, sehingga dari setiap transaksi menimbulkan

piutang bagi perusahaan. Untuk itu PT Puspa Madu Sari mengawasi pengelolaan

piutang secara baik dan ditangani secara khusus.

Prosedur piutang usaha pada PT Puspa Madu Sari seluruh bagian yang ada

dalam perusahaan terlibat dalam mengawasi pengelolaan piutang usaha. Karena pada

bagian pengiriman dan bagian produksi kebanyakan melakukan transaksi secara

kredit, sehingga dari setiap kegiatan transaksinya menimbulkan piutang usaha. Setiap

bagian dari perusahaan harus bekerja sama dengan baik supaya kegiatan usaha dapat

berjalan dengan lancar dan dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Prosedur piutang usaha pada PT Puspa Madu Sari berdasarkan penjualan langsung

17

1. Setelah terjadinya transaksi penjualan secara kredit, berdasarkan Surat

Pengantar (Delivery Order) membuat kwitansi (2 rangkap), , faktur penjualan

(2 rangkap) dan surat permohonan pembayaran (2 rangkap).

2. Setelah itu perusahaan mengirimkan kwitansi, faktur penjualan, surat

pengantar dan surat permohonan pembayaran kepada pelanggan. Setelah

ditagih kemudian di rekap kedalam rekap penjualan.

3. Bagian asministrasi mencatat kwitansi, surat pengantar, faktur penjualan, dan

faktur pajak standar ke dalam buku besar penjualan serta menginput data-data

tersebut ke dalam komputer kemudian data-data tersebut diarsipkan.

4. Bagian administrasi menyerahkan kwitansi, faktur penjualan, dan surat

pengantar kepada manajer pimpinan beserta surat permohonan pembayaran.

5. Apabila sampai akhir bulan tersebut belum terjadi pembayaran oleh

pelanggan. Bagian administrasi membuat Bukti Pengakuan Piutang (BPP) dan

melakukan penjurnalan berdasarkan penjualan yang dilihat kwitansi, faktur

penjualan, surat pengantar.

6. Bagian administrasi menyerahkan faktur penjualan kepada pimpinan

perusahaan.

7. Setelah dua minggu, administrasi melakukan konfirmasi kepada pelanggan,

untuk mengetahui apakah pelanggan sudah membayar hutangnya. Biasanya

18

8. Apabila terjadi pembayaran, bagian administrasi melakukan konfirmasi ke

bank, untuk mengetahui adanya transfer masuk dari pelanggan dan berapa

nominalnya.

9. Setelah itu bagian administrasi mencocokkan besarnya nominal yang dibayar

oleh pelanggan dengan surat pengantar, faktur penjualan, faktur pajak dan

kwitansi.

10. Kemudian dibuat kwitansi penerimaan kas, serta dilakukan penjurnalan

kemudian data-data tersebut diinput ke dalam komputer.

11. Pada saat akan membuat laporan keuangan, maka bagian administrasi

mengecek terlebih dahulu hasil dari pemrosesan data yang dilakukan oleh

komputer. Kemudian di print dan diperiksa per triwulan.

2) Dokumen

Dalam prosedur piutang usaha digunakan dokumen yang digunakan untuk

mencatat data-data penting dari setiap transaksi perusahaan, sehingga dapat

digunakan untuk meminimalisir terjadinya kekeliruan dalam pembukuan. Dokumen

yang digunakan dalam prosedur piutang usaha pada PT Puspa Madu Sari yaitu:

1. Surat Pengantar (Delivery Order)

Didalamnya terdapat nomor kontrak, tanggal kontrak, tanggal penyerahan

barang, serta rincian mengenai spesifikasi barang dan jumlah barang yang

19 2. Kwitansi

Didalamnya terdapat nomor kwitansi, pemberi uang, besarnya nominal yang

diterima oleh perusahaan dan rincian transaksi tersebut.

3. Faktur Pajak Standar

Didalamnya terdapat berapa besarnya pajak yang harus dibayar oleh

pelanggan atas pembelian yang dilakukannya. Pada umumnya sebesar 10%

dari total pembelian pelanggan. Yang akan dimasukkan ke dalam pajak

keluaran dan nantinya akan disetorkan oleh perusahaan kepada kantor pajak

4. Faktur Penjualan

Didalamnya terdapat nomor kontrak, tanggal kontrak serta rincian mengenai

spesifikasi barang, jumlah barang dan harga barang yang dijual kepada

pelanggan ditambah PPN 10% dari total penjualan.

5. Buku Monitoring (Buku Besar Penjualan)

Merupakan buku yang mencatat semua transaksi penjualan perusahaan baik

yang secara tunai maupun kredit. Yang didalamnya terdapat nomor kontrak,

tanggal kontrak serta rincian mengenai spesifikasi barang, jumlah barang dan

harga barang yang dijual kepada pelanggan ditambah PPN 10% dari total

penjualan beserta tanggal pembayaran oleh pelanggan.

6. Bukti Pengakuan Piutang (BPP)

Mencatat penjualan yang pembayarannya belum terjadi pada bulan yang

sama, maka pada bulan berikutnya dibuat Bukti Pengakuan Piutang atas

20 7. Bukti Pengakuan Hutang (BPH)

Digunakan untuk pertanggungjawaban Harga Pokok Penjualan (HPP) yang

dipertanggungkan pada bulan berikutnya.

8. Voucher Penerimaan Kas

Dibuat apabila perusahaan menerima uang atas pembayaran piutang oleh

pelanggan, yang didalamnya tercantum berapa nominal yang diterima serta

rincian mengenai transaksi penjualannya.

3) Laporan

Dari hasil wawancara denan pimpinan PT Puspa Madu Sari Ditemukan

bahwa perusahaan tidak mencatat maupun mengestimasi penyisihan piutang tak

tertagih. Perusahaan hanya menerapkan penghapusan piutang tak tertagih. Hal ini

menyebabkan bertambahnya beban operasional dalam penjualan, karena penghapusan

piutang ini akan mengurangi pendapatan perusahaan.

Secara teoritis, jika besarnya estimasi atas piutang tak tertagih adalah akurat,

maka akun cadangan seharusnya selalu mendekati nol. Akan tetapi estimasi tidak

pernah nol karena perusahaan akan terus melakukan penjualan kredit dan membuat

estimasi yang baru.

PT Puspa Madu Sari pada akhir tahun 2012 memiliki saldo piutang dagang

sebesar Rp. 899.426.000 dan diestimasi bahwa besarnya piutang tak tertagih

berdasarkan pada masing-masing kelompok umurnya seperti diringkas pada tabel

21 Tabel 1

Kelompok Umur Piutang Tak Tertagih PT Puspa Madu Sari

Kisaran Umur Piutang

Saldo (Rp)

Estimasi Piutang Tak Tertagih

Prosentase Jumlah

Belum jatuh tempo 788.165.000 2 15.763.300

Sudah jatuh tempo

1-30 hari 30.951.000 5 1.547.550

31-60 hari 6.555.000 10 655.500

61-90 hari 73.755.000 15 11.063.250

> 90 hari 0 20 0

Total 899.426.000 29.029.600

PT Puspa Madu Sari menggunakan catatan akuntansi dalam bentuk akrual

(accrual basis), beban dan pendapatan yang saling terkait dilaporkan pada periode

yang sama. Konsep dasar akrual (accrual basis) dapat memberikan informasi yang

akurat dalam pelaporan keuangan karena konsep ini didasari oleh konsep upaya dan

hasil. Pencatatan penyisihan piutang tak tertagih pada PT Puspa Madu Sari adalah

menggunakan metode cadangan kerugian piutang dengan menggunakan estimasi dari

jumlah piutang usaha. Besarnya estimasi akan menjadi saldo akhir akun cadangan

piutang tak tertagih. Berdasarkan hasil wawanvcara dengan staf PT Puspa Madu Sari

diketahui bahwa pada tahun 2012 PT Puspa Madu Sari memiliki beban kerugian

piutang tak tertagih sebesar Rp. 49.029.600 sehingga pada saat penyisihan piutang tak

tertagih dengan menggunakan metode cadangan kerugian piutang tak tertagih adalah

22

Beban kerugian piutang tak tertagih Rp. 49.029.600

Cadangan kerugian piutang Rp. 49.029.600

Pada 31 Oktober 2012, PT Puspa Madu Sari menghapus piutang nasabah

sebesar Rp 32.250.200 karena pembayaran dari pembeli tidak disetorkan dan terjadi

penggelapan oleh distributor perusahaan. Dan PT Puspa Madu Sari membuat

pencatatan dalam bentuk jurnal sebagai berikut:

Cadangan kerugian piutang Rp.32.250.200

Piutang Usaha Rp.32.250.200

Sementara itu pada 30 Desember 2012, ada sebagian nasabah PT Puspa Madu

Sari yang membayar hutangnya yang telah dihapuskan dengan total Rp 12.257.400,

dan PT Puspa Madu Sari mencatatnya sebagai berikut:

Piutang Usaha Rp. 12.257.400

Cadangan kerugian piutang Rp. 12.257.400

Kas Rp. 12.257.400

23 Pembahasan

Berdasarkan prosedur piutang yang dilakukan PT Puspa Madu Sari dapat

ditarik kesimpulan bahwa prosedur tersebut telah sesuai dengan prosedur piutang

usaha yang telah ditetapkan oleh perusahaan. PT Puspa Madu Sari telah melakukan

prosedur tersebut dengan baik, hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan dalam

proses pembukuan maupun dalam proses penagihan piutang.

PT Puspa Madu Sari sudah mulai melakukan perkiraan piutang tak tertagih

untuk mengurangi terjadinya piutang yang terhapus dengan umur yang lama,

sehingga membuat pendapatan perusahaan berkurang. Jika perusahaan ini semakin

besar dan berkembang, maka penyisihan piutang sangat penting dilakukan.

Menurut Mulyadi (2003), dokumen yang digunakan dalam sistem penjualan

kredit terdiri dari: surat order pengiriman, faktur, rekapitulasi harga pokok penjualan

dan bukti memorial, sedangkan dokumen pokok yang digunakan dalam prosedur

pencatatan piutang adalah sebagai berikut : faktur penjualan, bukti kas masuk, memo

kredit dan bukti memorial. Dokumen yang digunakan oleh PT Puspa Madu Sari

dalam prosedur piutang usaha pada umumnya telah sesuai dengan teori yang

dikemukakan oleh Mulyadi (2003). PT Puspa Madu Sari membuat dokumen prosedur

piutang usaha, mulai dari surat pengantar, kwitansi, faktur pajak standar, faktor

penjualan, buku monitoring (buku besar penjualan), Bukti pengakuan piutang (BPP),

24

Berdasarkan pencatatan keuangan piutang tak tertagih, PT Puspa Madu Sari

sudah sesuai dengan peraturan PSAK. Untuk lebih jelasnya diringkas pada tabel

berikut.

Tabel. 2

Kesesuaian Catatan Akuntansi antara Teori PSAK No.9 dan Praktek Pada PT Puspa Madu Sari

PSAK No.9,

Teori Praktek

Pada saat terjadi penjualan kredit

(D) Piutang dagang (K) Penjualan

Sesuai

(D) Piutang dagang (K) Penjualan Pada saat pengakuan kerugian

piutang (D) Kerugian Piutang (K) Cadangan Kerugian Sesuai (D) Kerugian Piutang (K) Cadangan Kerugian Pada saat penghapusan piutang

(D) Cadangan Kerugian (K) Piutang dagang

Sesuai

(D) Cadangan Kerugian (K) Piutang dagan

Dokumen terkait