BAB IV. HASIL PENELITIAN
D. Hasil Uji Analisis Regresi Logistik Ganda
Tabel 4.14. Hasil analisis regresi logistik ganda tentang kadar GDS, usia, berat badan lahir, usia kehamilan, dan status asfiksia dengan kejadian hipotermi
Variabel OR
CI 95%
p
Batas Bawah Batas Atas
Kadar GDS 1.98 0.54 7.73 0.305
Usia 0.39 0.12 1.29 0.122
Berat badan lahir 0.86 0.25 2.95 0.816
Usia kehamilan 0.47 0.14 1.64 0.237
Status asfiksia 2.69 0.98 7.35 0.054
N observasi = 81
Nagelkerke R2 = 18.7%
-2 loglikelihood = 91.38
Sumber : Data primer, 2012
Berdasarkan tabel analisis regresi logistik diketahui bahwa setelah mengontrol pengaruh dari faktor perancu usia, berat badan lahir, usia kehamilan, dan status asfiksia, neonatus yang hipoglikemi memiliki risiko mengalami hipotermi 1.98 kali lebih tinggi daripada neonatus yang tidak mengalami hipoglikemi (OR = 1.98; CI = 95%; 0.54, 7.73; p = 0.305). Nilai OR = 1.98 menunjukkan hubungan sedang antara hipoglikemi dengan prognosis hipotermi. Nilai p adalah 0.305. Artinya, probabilitas untuk membuat simpulan salah bahwa neonatus yang mengalami hipoglikemi memiliki risiko menjadi hipotermi 1.98 kali dibandingkan yang tidak mengalami hipoglikemi, ketika sesungguhnya pengaruh
commit to user
tersebut tidak ada, adalah 30,5 dari 100 kesempatan. Probabilitas tersebut cukup besar, dengan kata lain hubungan antara hipoglikemi dengan kejadian hipotermi secara statistik tidak bermakna (p > 0.05).
Nagelkerke R2 = 18.7% mengandung arti variabel independen dalam model regresi logistik yaitu status hipoglikemi, usia, berat badan lahir, usia kehamilan, dan status asfiksia secara bersama mampu menjelaskan terjadinya hipotermi sebesar 18.7%.
commit to user
45 BAB V PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara hipoglikemi dengan kejadian hipotermi pada neonatus rujukan di IGD dan HCU Neonatus di RSUD Dr. Moewardi. Ada tidaknya hubungan antara kedua variabel tersebut diuji menggunakan metode uji regresi logistik ganda. Pada penelitian ini dibahas deskripsi tentang karakteristik hipotermi berdasarkan berbagai faktor, seperti: usia neonatus, usia kehamilan, berat badan lahir, status asfiksia dan kadar glukosa darah sementara.
Pada tabel 4.1. dan tabel 4.8. terlihat bahwa sebagian besar sampel neonatus yang diteliti merupakan neonatus laki-laki. Berdasarkan persentase jenis kelamin, neonatus laki-laki memiliki persentase yang sama dengan neonatus perempuan yang mengalami hipotermi, yaitu sebesar (33.3%). Analisis bivariat terhadap hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian hipotermi menunjukkan hubungan yang tidak signifikan. Neonatus laki-laki memiliki risiko mengalami hipotermi 1 kali lebih besar daripada kelompok neonatus perempuan. OR=1.00 memiliki arti bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin neonatus dengan kejadian hipotermi. Hal ini sesuai dengan penelitian Kambarami dan Chidede (2003) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan hipotermia pada neonatus. Pada penelitian Zayeri et al. (2007) terhadap 900 neonatus dengan seleksi random di Iran, tentang faktor risiko hipotermi pada
commit to user
rumah sakit rujukan juga didapatkan tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan kejadian hipotermi.
Pada tabel 4.2. dan 4.9. dapat diketahui sebagian besar sampel neonatus yang diteliti merupakan neonatal dini. Berdasarkan persentase usia, neonatus yang lebih banyak mengalami hipotermi adalah neonatus usia dini berusia 0-7 hari (neonatal dini) (39.3%) dibandingkan neonatus usia 8-28 hari (neonatal lanjutan) (20.0%). Pal et al. (2000) menyatakan bahwa kejadian hipotermi pada neonatus lebih dominan disebabkan oleh faktor usia. Pada penelitian retrospektif terhadap 261 neonatus di Zimbabwe dilaporkan bahwa neonatal dini berusia 0-7 hari yang saat masuk di unit pediatri dalam keadaaan hipotermi sebesar 44% walaupun dalam musim hangat (Zayeri et al., 2007). Hal ini juga didukung dengan adanya penelitian yang dilakukan di Kabupaten Cirebon yang menggambarkan bahwa usia mempengaruhi kejadian hipotermi, didapatkan bahwa 88 % kematian neonatal terjadi pada periode neonatal dini usia 0-7 hari dan 6 % dari kematian neonatus tersebut disebabkan oleh hipotermi (Hadi, 2008). Neonatus mudah mengalami kehilangan air secara transepidermal dan kehilangan panas akibat belum matangnya struktur dan fungsi kulit neonatus. Risiko kehilangan air secara transepidermal akan berkurang seiring bertambahnya usia neonatus (Waldron, 2007).
Pada tabel 4.3. dan 4.10. dinyatakan bahwa berdasarkan berat badan lahir, neonatus yang mengalami hipotermi paling banyak pada neonatus dengan berat badan lahir tidak cukup (BBLR dan BBLSR) (44.1%) dibandingkan dengan neonatus yang Berat Badan Lahir Cukup (BBLC dan BBLL) (25.5%). Hal ini
commit to user
sesuai dengan teori dimana neonatus yang lahir dengan berat badan rendah memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami hipotermi (Dinas Kesehatan Jawa Tengah, 2006; Kumar et al., 2009). Di Tanzania, Odds Ratio dari hipotermi pada neonatus dengan berat lahir rendah adalah 11.0 dibandingkan dengan neonatus dengan berat badan cukup (Kumar et al., 2009). Sedangkan neonatus yang terlahir dengan berat badan lebih, mampu mengatasi kondisi hipotermi dengan mudah (Pawlowski, 1998). Christensson et al. dalam penelitiannya pada neonatus di Zambia dan Briend dalam penelitiannya pada neonatus di Afrika Barat sama-sama melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara berat badan lahir dengan suhu rektal neonatus (Kumar et al., 2009). Ada beberapa hal terkait berat badan neonatus yang berhubungan dengan suhu tubuh, yaitu: 1) semakin besar ukuran neonatus, membuat semakin berkurangnya rasio permukaan tubuh dengan masa tubuh, 2) semakin meningkatnya jumlah dari jaringan lemak subkutan yang berfungsi sebagai insulator, 3) peningkatan jumlah dari lemak coklat akan meningkatkan proses termogenesis tanpa menggigil, 4) terjadinya termogenesis aktif saat neonatus tidur, dan 5) neonatus cenderung menyimpan panas selama usia beberapa bulan sehingga suhu tubuhnya seimbang (Pawlowski, 1998).
Tabel 4.4. dan 4.11. tentang kejadian hipotermi berdasarkan usia kehamilan, tampak bahwa neonatus yang paling banyak mengalami hipotermi adalah neonatus yang tidak cukup bulan (prematur dan immatur) dengan persentase sebesar (44.8%) daripada neonatus yang cukup bulan (aterm) dengan persentase sebesar (26.9%). Menurut Kumar et al. (2009), neonatus pada umumnya dan yang lahir prematur cenderung mudah untuk mengalami kehilangan panas tubuh karena
commit to user
luas permukaan tubuhnya yang relatif luas dibandingkan dengan masa tubuh. Memperjelas hal itu, Mullany et al. (2010) dalam penelitiannya menyatakan bahwa neonatus yang preterm (immatur dan prematur) mengalami kehilangan panas yang lebih cepat daripada neonatus yang aterm. Hal ini disebabkan antara lain oleh: 1) lebih besarnya rasio antara luas permukaan tubuh dengan masa tubuh neonatus, 2) lebih cepat mengalami kehilangan air secara transepidermal akibat barrier epidermis yang tipis, 3) sedikitnya lemak coklat dibandingkan neonatus yang aterm. Kumar et al. (2009) juga menjelaskan neonatus yang preterm mengalami terhentinya penyimpanan substrat pada akhir trimester dari masa kehamilan, sehingga mengurangi jumlah isolator yang seharusnya dihasilkan oleh lemak subkutan. Neonatus preterm lebih mudah mengalami kehilangan panas tubuh dibandingkan neonatus yang aterm, hal ini meningkat pada neonatus dengan usia kehamilan < 33 minggu.
Tabel 4.5. dan 4.12. tentang kejadian hipotermi berdasarkan status asfiksia, ditemukan bahwa hipotermi lebih banyak dijumpai pada neonatus yang asfiksia daripada yang tidak asfiksia. Pada penelitian ini, analisis bivariat terhadap hubungan antara status asfiksia neonatus dengan kejadian hipotermi menunjukkan hubungan yang signifikan. Neonatus yang asfiksia memiliki risiko mengalami hipotermi 2.97 kali lebih besar daripada kelompok neonatus yang tidak asfiksia. Hal ini didukung oleh teori yang menyatakan bahwa neonatus yang mengalami asfiksia memiliki risiko penurunan suhu tubuh yang sangat tinggi segera setelah lahir (Kumar et al., 2009). Asfiksia pada neonatus akan menurunkan kecepatan
commit to user
metabolisme yang mengakibatkan kurangnya kemampuan neonatus untuk memproduksi panas tubuhnya sehingga terjadi hipotermi (Hey, 2001).
Pada tabel distribusi sampel yaitu tabel 4.6. dan tabel 4.7. didapatkan bahwa sebagian besar sampel neonatus yang diteliti merupakan neonatus yang tidak mengalami hipoglikemi dan tidak mengalami hipotermi. Sampel neonatus pada penelitian ini berjumlah 81 neonatus dengan perbandingan antara yang hipotermi dengan tidak hipotermi 1 : 2 sesuai dengan teknik fixed-disease sampling. Hal ini dimaksudkan agar didapatkan perbandingan yang valid antara kedua kelompok studi dalam kelima variabel independen (Murti, 2010).
Pada tabel 4.13. persentase kejadian hipotermi lebih banyak dijumpai pada neonatus yang tidak hipoglikemi daripada yang hipoglikemi. Sedangkan secara kuantitas, neonatus yang mengalami hipoglikemi lebih banyak yang mengalami hipotermi daripada neonatus yang tidak hipoglikemi. Analisis bivariat kadar GDS dengan kejadian hipotermi menunjukkan hubungan yang tidak signifikan (p > 0.05). Neonatus yang hipoglikemi memiliki risiko mengalami hipotermi 2.35 kali lebih besar daripada kelompok neonatus yang tidak hipoglikemi (OR = 2.35; CI 95%; 0.73, 7.58; p = 0.212), tetapi hasil ini belum mengontrol pengaruh dari variabel perancu.
Untuk memperjelas hubungan dari hasil analisis data yang didapat maka dilakukan kontrol terhadap variabel perancu (usia, berat badan lahir, usia kehamilan, dan status asfiksia) dengan analisis regresi logistik ganda (dapat dilihat pada tabel 4.14). Setelah mengontrol variabel perancu, risiko menjadi hipotermi turun menjadi 1.98 kali lebih besar. Nilai OR=1.98 menunjukkan
commit to user
hubungan sedang antara hipoglikemi dengan prognosis hipotermi, namun secara statistik hubungan tersebut tidak signifikan karena nilai p > 0.05 (OR = 1.98; CI = 95%; 0.54, 7.73; p = 0.305).
Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kurangnya metabolisme untuk menghasilkan panas, seperti hipoglikemia dapat menyebabkan hipotermi. (Sessler, 2008). Hipoglikemia merupakan penyebab terjadinya hipotermi sekunder, yaitu penurunan suhu tubuh yang tidak disebabkan oleh suhu lingkungan yang dingin (Hassan dan Alatas, 2007).
Ketidaksignifikansi penelitian ini mungkin disebabkan adanya faktor lain yang mempengaruhi kejadian hipotermi yang tidak diteliti. Kumar et al. (2009) menjelaskan bahwa di negara berkembang, kombinasi dari faktor psikologis, perilaku, dan lingkungan, tanpa memandang berat badan neonatus, membuat neonatus dalam risiko hipotermi. Sedangkan Pal et al. (2000) menyatakan bahwa pada dasarnya, hipoglikemi dengan hipotermi pada neonatus lebih dominan disebabkan oleh faktor usia. Neonatus setelah lahir memang cenderung mengalami hipoglikemi dan hipotermi dalam waktu bersamaan, sehingga tidak terdapat kaitan klinis yang kuat di antara keduanya. Asakura (2004) dalam studinya menyampaikan bahwa segera setelah lahir kondisi tubuh neonatus berubah secara drastis. Suhu ruangan tempat proses persalinan biasanya sekitar 26 to 27, yang berkurang 10 dari suhu intrauterin membuat neonatus terpapar oleh lingkungan yang dingin sehingga berakibat hipotermi.
Ketidaksignifikansi penelitian ini juga mungkin disebabkan karena sampel yang berasal dari neonatus rujukan luar RSUD Dr. Moewardi adalah neonatus
commit to user
dengan berbagai jenis penyakit dan komplikasinya seperti kelainan kongenital, infeksi, gangguan metabolik, dan lain-lain sehingga banyak faktor yang dapat merancukan kejadian hipotermi dalam penelitian ini. Ada beberapa faktor perancu yang dikendalikan pada penelitian ini seperti seperti: usia neonatus, jenis kelamin, usia kehamilan, berat badan lahir, status dan asfiksia. Namun, faktor-faktor lain yang juga dapat merancukan hasil penelitian seperti faktor genetik, kondisi stres, kondisi dan suhu tubuh neonatus saat dirujuk dan lain-lain belum dapat dikendalikan pada penelitian ini.
Keterbatasan pada penelitian ini juga terdapat pada desain penelitian yang bersifat cross sectional, metode pengambilan sampel, jumlah sampel, dan adanya variabel luar lain yang tidak diteliti. Penggunaan desain cross sectional dipengaruhi oleh keterbatasan waktu dalam melakukan penelitian. Desain cross sectional kurang dapat menganalisis hubungan sebab akibat yang kuat antara paparan dengan penyakit/masalah kesehatan karena penilaian hubungan dilakukan satu waktu, sementara validitas penilaian hubungan kausal pada dasarnya memerlukan arah waktu yang jelas (paparan mendahului penyakit). Penilaian hubungan kausal ini paling baik dilakukan dengan desain kohort.
Pengambilan data kadar glukosa darah dan suhu tubuh sampel neonatus hanya dilakukan satu kali yaitu pada saat pertama kali neonatus datang di IGD. Hal tersebut dikarenakan waktu yang terbatas dan dapat menjadi kekurangan dalam penelitian. Hasil pengukuran kadar glukosa darah sewaktu pada neonatus menggunakan glucose strips test masih perlu dikonfirmasi lagi dengan pemeriksaan laboratorium namun pada penelitian ini tidak dilakukan.
commit to user
Jumlah sampel neonatus telah memenuhi perhitungan pada rumus sampel, namun dengan menggunakan jumlah sampel yang lebih besar diharapkan hasil penelitian lebih dapat digeneralisasikan. Jumlah sampel yang besar juga akan meningkatkan presisi atau ketelitian penelitian.
commit to user
53 BAB VI PENUTUP