• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

C. Hasil Uji Analisis Regresi Logistik Ganda

Tabel 4.10 Hasil Analisis Regresi Logistik Ganda tentang Perokok Pasif, Status Obesitas, Status Gravida, dan Status ANC

dengan Kejadian Preeklamsia

Variabel OR

CI 95%

p

Batas Bawah Batas Atas

Perokok pasif 8.38 1.53 45.90 0.014 Obesitas 2.82 0.66 11.99 0.160 Primigravida 0.53 0.15 1.84 0.314 ANC - 0.00 - 1.000 N observasi = 60 Nagelkerke R2 = 26.20% -2 loglikelihood = 63.83

Tabel 4.10 menunjukkan hasil analisis regresi logistik ganda bahwa terdapat hubungan yang secara statistik signifikan antara perokok pasif dengan kejadian preeklamsia. Ibu hamil perokok pasif memiliki risiko mengalami preeklamsia 8.38 kali lebih tinggi daripada ibu hamil bukan perokok (OR = 8.38;

commit to user

CI = 95%; 1.53, 45.90; p = 0.014). Analisis ini telah mengontrol pengaruh faktor perancu status obesitas, status gravida, dan status ANC.

Nagelkerke R2 = 26.20% mengandung arti variabel independen dalam model regresi logistik yaitu perokok pasif, status obesitas, status gravid dan status ANC secara bersama mampu menjelaskan terjadinya preeklamsia sebesar 26.20%.

commit to user BAB V PEMBAHASAN

Penelitian yang berjudul ”Hubungan Ibu Hamil Sebagai Perokok Pasif dengan Kejadian Preeklamsia di RSUD Dr. Moewardi” dilakukan pada bulan April 2012 di bangsal Mawar I dan Poliklinik Obsgyn RSUD Dr. Moewardi dan setelah diseleksi dengan kriteria inklusi dan ekslusi didapatkan 60 subjek penelitian yang terdiri dari 40 pasien bukan preeklamsia dan 20 pasien preeklamsia.

Distribusi sampel penelitian berdasarkan status perokok pasif pada Tabel 4.1 didapatkan sebagian besar ibu hamil merupakan perokok pasif (68.33%). Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan merokok sudah membudaya di kalangan masyarakat Indonesia. Tingginya angka konsumsi rokok di Indonesia terbukti dengan separuh lebih (57%) rumah tangga di Indonesia mempunyai sedikitnya satu perokok (Depkes, 2010). Sebanyak 85,4% perokok aktif merokok di dalam rumah bersama anggota keluarga sehingga mengancam kesehatan anggota keluarga lainnya (Depkes, 2011). Salah satunya adalah meningkatkan risiko terjadinya preeklamsia pada ibu hamil.

Berdasarkan Tabel 4.2 didapatkan 48 orang (80%) sampel tidak obesitas yaitu berat badan saat hamil tidak melebihi berat badan ideal sesuai usia kehamilan dan tinggi badan.

Pada Tabel 4.3 didapatkan 25 ibu hamil primigravida dan 35 ibu hamil adalah secundigravida dan multigravida. Hal ini mungkin disebabkan karena

commit to user

sebagian besar pasien di poli kandungan RSUD Dr. Moewardi dan kamar bersalin RSUD Dr. Moewardi adalah secundigravida dan multigravida, sehingga pada penelitian ini banyak subjek penelitian yang secundigravida dan multigravida daripada primigravida.

Berdasarkan Tabel 4.4 didapatkan 59 orang (98.33%) sampel penelitian melakukan Antenatal Care (ANC) secara teratur yaitu minimal satu kali pada trimester I, satu kali pada trimester II dan minimal dua kali pada trimester III. Ketika ANC dianalisis baik menggunakan analisis bivariat maupun analisis regresi logistik ganda, hasil tidak dapat diketahui adanya Odds Ratio (OR). Tingginya angka ibu hamil yang secara teratur melakukan ANC menunjukkan bahwa tingkat kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan sudah tinggi.

Pada Tabel 4.5 persentase ibu hamil dalam penelitian ini yang mengalami preeklamsia lebih sedikit dibandingkan dengan ibu hamil yang bukan preeklamsia. Dapat terlihat dari persentase 33.3% pasien yang menjadi subjek penelitian mengalami preeklamsia sedangkan 66.7% pasien tidak mengalami preeklamsia. Pengambilan subjek penelitian berstatus preeklamsia lebih sedikit dibanding subjek penelitian berstatus bukan preeklamsia karena pasien ibu hamil di RSUD Dr. Moewardi kebanyakan bukan preeklamsia.

Tabel 4.6 dan Gambar 4.1 menunjukkan hubungan yang signifikan antara ibu hamil sebagai perokok pasif dengan kejadian preeklamsia (OR= 6.65; CI 95%; 1.36, 32.61; p = 0.011), tetapi hasil ini belum mengontrol pengaruh dari variabel perancu. Ibu hamil sebagai perokok pasif memiliki risiko mengalami preeklamsia 6,65 kali lebih tinggi daripada ibu hamil bukan perokok pasif. Hal ini sesuai

commit to user

dengan yang diungkapkan Titisari (2011) bahwa ibu hamil yang tidak merokok pun bila sehari-hari selalu berada di antara perokok dan selalu terpapar asap rokok (perokok pasif), bisa mengalami efek negatif.

Asap rokok mengandung berbagai macam senyawa yang berbahaya bagi kesehatan ibu hamil dan janin, di antaranya adalah karbonmonoksida (CO) dan Nikotin. Pada penelitian Wickstrom (2007), aktivasi nikotin menyebabkan terjadinya vasokonstriksi pada pembuluh darah dikarenakan pelepasan katekolamin oleh adrenal dan sel saraf. Hal ini salah satu yang memacu terjadinya hipertensi, sebuah fenomena awal yang jika dibiarkan bisa berakibat terjadinya preeklamsia. Selain itu, karbonmonoksida memiliki afinitas lebih tinggi dalam mengikat Hb dibandingkan dengan oksigen. Hal ini menyebabkan iskemia plasenta sehingga terjadi disfungsi endotel yang memacu peningkatan permeabilitas vaskular sehingga terjadi preeklamsia.

Obesitas merupakan salah satu faktor risiko terjadinya preeklamsia (Angelini, 2010). Tabel 4.7 dan Gambar 4.2 menunjukkan hubungan yang signifikan antara status obesitas dengan kejadian preeklamsia (OR = 2.43; CI 95%; 0.67, 8.84; p = 0.171). Ibu hamil dengan obesitas memiliki risiko mengalami preeklamsia 2.43 kali lebih tinggi daripada ibu hamil yang tidak obesitas. Pada orang obesitas pembuluh darah cenderung lebih sempit sehingga lebih berisiko mempunyai tekanan darah tinggi yang merupakan awal sebab terjadinya preeklamsia.

Tabel 4.8 dan Gambar 4.2 menunjukkan hubungan yang tidak signifikan antara hubungan status gravida dengan preeklamsia (OR = 0.66; CI 95%; 0.22,

commit to user

2.00; p = 0.459). Ibu hamil primigravida memiliki risiko preeklamsia 0.66 kali lebih sering daripada secundigravida atau multigravida. Hal ini mungkin disebabkan karena faktor usia juga menjadi faktor risiko terjadinya preeklamsia. Ibu yang hamil ketika usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun lebih berisiko mengalami preeklamsia. Meskipun pada penelitian ini subjek penelitian tidak ada yang berumur lebih dari 35 tahun, tetapi faktor usia tetap berpengaruh, di mana usia ibu hamil yang mendekati 35 tahun kemungkinan mempunyai risiko yang lebih besar daripada usia-usia di bawahnya.

Untuk semakin memperjelas hubungan dari hasil analisis data yang didapat maka dilakukan kontrol terhadap variabel perancu (status obesitas, satus gravida dan status ANC) dengan analisis regresi logistik ganda. Pada analisis bivariat, ibu hamil dengan status perokok pasif secara signifikan mempunyai risiko mengalami preeklamsia 6,65 kali lebih tinggi daripada ibu hamil bukan perokok pasif. Setelah mengontrol variabel status obesitas, status gravida, dan status ANC dengan analisis regresi logistik, risiko tersebut naik menjadi 8.38 kali lebih besar dan secara statistik signifikan (OR = 8.38; CI = 95%; 1.53, 45.90; p = 0.014). Sedangkan pada ibu hamil dengan obesitas mempunyai risiko preeklamsia 2.43 kali lebih besar dibandingkan ibu hamil tidak obesitas. Setelah mengontrol variabel status perokok pasif, status gravida, dan status ANC dengan analisis regresi logistik, risiko tersebut naik menjadi 2.82 kali lebih besar.

Setiap penelitian mempunyai keterbatasan. Keterbatasan inilah yang menyebabkan hasil yang diperoleh kurang maksimal. Beberapa hal yang menjadi keterbatasan penelitian ini yaitu:

commit to user

1. Setiap jenis rokok mempunyai kandungan nikotin yang berbeda-beda.

Sehingga efek terhadap terjadinya preeklamsia pun akan berbeda pula. Pada penelitian ini, penulis tidak menanyakan kadar nikotin pada rokok yang dikonsumsi responden.

2. Menurut Qiu (2009) stres merupakan salah satu faktor risiko terjadinya preeklamsia. Namun pada penelitian ini penulis tidak menjadikan stres sebagai kriteria eksklusi.

commit to user

43 BAB VI PENUTUP

A. Simpulan

Penelitian menyimpulkan, terdapat hubungan yang signifikan antara ibu hamil sebagai perokok pasif dengan risiko terjadinya preeklamsia. Ibu hamil perokok pasif memiliki risiko mengalami preeklamsia 8.38 kali lebih tinggi daripada ibu hamil bukan perokok. Simpulan ini telah mengendalikan status obesitas, status gravida, dan status ANC sebagai faktor perancu (OR = 8.38; CI = 95%; 1.53, 45.90; p = 0.014).

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, maka saran-saran penulis adalah sebagai berikut:

1. Edukasi terhadap suami dan keluarga ibu hamil mengenai bahaya asap rokok yang tidak hanya berdampak kepada perokok aktif tetapi juga berdampak pada perokok pasif yaitu ibu hamil dan kondisi kandungannya.

2. Pemasangan tanda dilarang merokok pada lingkungan kerja khususnya di

tempat kerja yang ada pekerja perempuan.

3. Mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai efek asap rokok terhadap kehamilan dengan ukuran sampel yang lebih besar (wanita yang bekerja di luar/pabrik-pabrik), dan mengontrol pengaruh dari stres.

commit to user

Dokumen terkait