HASIL DAN PEMBAHASAN
PENGUJIAN PENGAMATAN*
5.3 Hasil Uji Antibakteri
3 Flavonoid Pew Terbentuk warna
kuning intensif
+
4 Steroid
Lieberman-Burchard
Terbentuk cincin warna biru kehijauan
+ 5 Triterpenoid Lieberman-Burchard Tidak Terbentuk cincin kecoklatan _
6 Fenol FeCl310% Terbentuk warna biru
kehitaman + 7 Glikosida Lieberman-Burchard Terbentuk warna Hijau kebiruan +
8 Tanin Pbasetat 10% Terbentuk endapan
putih
+
5.3 Hasil Uji Antibakteri
Pengukuran diameter zona hambat dilakukan setelah lempeng agar dengan bakteri Salmonella typhi diinkubasi didalam inkubator selama 18-24 jam dengan suhu 370C. Diameter zona hambat diukur menggunakan jangka sorong dengan ketelitian 0,05 mm pada zona bening di sekitar cawan petri.
45
Gambar 5.13 Hasil Uji Ekstrak Metanol Daun Sirsak (Annona
muricata)terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhi Secara In Vitro
Pada penelitian ini digunakan 4 buah cawan petri dengan inkubasi koloni bakteri Salmonella typhi sesuai 108 CFU/ml dibuat kekeruhan yang setara dengan 0,5 MacFarland. Pada masing-masing cawan petri yang berisi bakteri Salmonella
typhi, diletakkan 6 buah disk yang terdiri dari1) metanol(K1); 2)
ciprofloxacin(K2); 3) ekstrak daun sirsak konsentrasi 50 mg/mL(P1) ; 4) ekstrak daun sirsak konsentrasi 100 mg/mL(P2); 5) ekstrak daun sirsak konsentrasi 200 mg/mL(P3); 6) ekstrak daun sirsak konsentrasi 400mg/mL(P4).
Dari zona hambat yang ditunjukkan pada gambar di atas, pengukuran dilakukan dari beberapa sisi lingkaran kemudian dirata-ratakan sehingga
46
didapatkan hasil rerata K1 = 0,00 mm, K2 = 32,25 P1 = 0,00 mm, P2 = 0,00 mm, P3 = 0,00 mm, dan P4 = 0,00 mm. Hasil dapat dilihat pada tabel 5.3.
Tabel 5.3 Data Hasil Pengukuran Diameter Zona Hambat Ekstrak MetanolDaun Sirsak (Annona muricata) terhadap Pertumbuhan Bakteri
Salmonella typhi Secara In Vitro
NO K1 (mm) K2 (mm) P1 (mm) P2 (mm) P3 (mm) P4 (mm) 1 0,00 35,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2 0,00 31,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3 0,00 32,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4 0,00 31,00 0,00 0,00 0,00 0,00 5.4 Pembahasan
Hasil pengukuran diameter zona hambat dengan metode disk diffusion menunjukan bahwa ekstrak metanol daun sirsak (Annona muricata) tidak memberikan efek antibakteri pada bakteri gram negatif Salmonella typhi secara in
vitro. Berbeda dengan hasil yang telah diperoleh oleh penelitian terdahulu,
pengujian ekstrak metanol daun sirsak yang dilakukan pada kelompok bakteri gram negatif menunjukan adanya aktifitas anti bakteri seperti yang dilakukan oleh Ginda Haro, et al (2014), yang menguji pada bakteri Escherichia coli, dimana pada konsentrasi minimalnya (5mg/mL) mampu menghambat pertumbuhan bakteri dengan zona inhibisi 8.0 mm (Ginda Haro,2014). Dian Riani dkk(2016), yang juga menguji ekstrak metanol daun sirsak pada bakteri gram
47
negatifEscherichia coli memperoleh hasil bahwa ekstrak yang digunakan mampu menghambat pertumbuhan bakteri secara in vitro dengan diameter zona hambat 3.0 mm (Dian R, 2016).
Sebagian besar penelitian pendahuluan yang menguji aktivitas antibakteri pada ekstrak daun sirsak, menggunakan bakteri gram negatif yang berasal dari spesies Escherichia coli, maka dari itu dapat dipahami apabila hasil yang peneliti dapatkan berbeda dengan apa yang didapat oleh penelitian sebelumnya. Perbedaan ini dapat terjadi mengingat spesies bakteri yang digunakan berasal dari spesies yang berbeda. Spesies bakteri yang berbeda akan menimbulkan mekanisme pertahanan yang berbeda pula terhadap antibakteri, baik dari komponen dinding sel bakteri maupun materi genetik yang dibawa.
Perbedaan hasil uji penelitian ini dapat pula terjadi karena adanya kemungkinan resistensi bakteri yang digunakan sebagai sampel uji. Resistensi bakteri secara genetik terhadap zat tertentu perlu diperhitungkan mengingat sampel berasal dari isolat pasien Lab. Mikrobiologi RSUP Sanglah. Mekanisme strain bakteri yang mengalami resistensi terhadap antibiotik bisa diakibatkan dari pemakaian antibiotik dalam jangka waktu yang relatif lama dan terus-menerus, yang memungkinkan bakteri membentuk mekanisme pertahanan diri.Selain itu, faktor kepatuhan dari diri pasien, juga dapat memengaruhi terjadinya resistensi antibiotik jika pasien tidak memiliki kepatuhan dalam mengkonsumsi antibiotik dengan benar (Silvan J,2013).
Hasil uji fitokimia yang dilakukan di Lab Farmasi Universitas Udayana menyatakanbahwa ekstrak metanol daun sirsak (Annona muricata) mengandung metabolit sekunder yang bersifat anti bakteri seperti flavonoid, steroid, alkaloid,
48
saponin, dan tannin.Flavonoid dilaporkan memiliki mekanisme sebagai antibakteri. Adapun mekanisme reaksi antibakteri yang ditimbulkan oleh flavonoid seperti mampu menginhibisi sintesis asam nukleat bakteri, menginhibisi fungsi dari membran sitoplasmik, serta mampu menginhibisi metabolisme energi pada bakteri(Tim Cushnie, 2005). Steroid tersebar di alam sebagai fraksi lipid dari tanaman maupun hewan. Steroid dibentuk oleh bahan alam yang disebut sterol. Sterol merupakan senyawa yang terdapat pada lapisan malam (lilin) daun dan buah yang berfungsi sebagai pelindung diri dari serangan serangga dan serangan mikroba. Saponin berfungsi sebagai antibakteri dengan menyebabkan kebocoran protein dan enzim dari dalam sel. Selain itu saponin dapat menjadi antibakteri karena zat aktif permukaannya mirip detergen. Kemiripan sifat saponin dengan detergenakanmenyebabkan penurunan tegangan permukaan dinding sel bakteri, merusak permeabilitas membran dan akan sangat mengganggu kelangsungan hidup bakteri. Alkaloid sebagai antibakteri bekerja dengan caramengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel. Selain itu, komponen alkaloid diketahui dapat berfungsi sebagai interkelator DNA dan menghambat enzim topoisomerase sel bakteri. Taninsendiri merupakan senyawa yang bersifat lipofilik, sehingga mudah terikat pada dinding sel dan mengakibatkan kerusakan dinding selbakteri(Dian R, 2016).
Hasil uji fitokimia yang dilakukan peneliti dengan uji fitokimia pada penelitian sebelumnya memang memiliki kesamaan, yang menyatakan bahwa ekstrak metanol daun sirsak memiliki potensi sebagai antibakteri apabila dilihat dari metabolit sekunder yang dikandungnya. Namun hasil uji in vitro yang peneliti
49
lakukan pada bakteri jenis gram negatif dalam hal ini adalah bakteri Salmonella
typhi memberikan hasil bahwa potensi antibiotik yang dimiliki ekstrak metanol
daun sirsak tidak memberikan efek antibiotik pada bakteri tersebut. Perbedaan hasil uji ini akan sangat tergantung pula pada efektifitas ekstrak yang digunakan.
Efektifitas ekstrak yang digunakan pada masing-masing penelitian sangat dipengaruhi olehadanya variasi biologis dari tanaman yang digunakan. Tempat asal dari tanaman sirsak yang daunnya digunakan, diketahui dapat memengaruhi jumlah kandungan bahan aktif yang ada. Faktor-faktor lingkungan seperti suhu udara, kelembapan relatif, radiasi matahari, angin, suhu tanaman, jenis unsur hara, ketersediaan air, ketercukupan cahaya dalam proses fotosintesis sangat memengaruhi fungsi fisiologis, bentuk anatomis, dan siklus hidup tumbuhan. Faktor lingkungan inilah yang mungkin memengaruhi kadar senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh daun (Melisa R,2015).
Perbedaan hasil uji antibakteri antara peneliti satu dengan lainnya dapat pula dipengaruhi oleh ekstrak bahan alam yang digunakan. Tidak adanya standarisasi pembuatan ekstrak bahan alam antara laboratorium satu dengan yang lain akan menimbulkan hasil yang berbeda pula. Selain prosedur standar pembuatan ekstrak, faktor lain yang dapat memengaruhi mutu ekstrak yang digunakan adalah faktor kimia seperti jenis dan jumlah senyawa kimia serta metode ekstraksi dan pelarut yang digunakan (Melisa R,2015).
50