• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Uji Fenotip Isolat klinis Mycobacterium tuberculosis

Uji fenotip terhadap 42 isolat bakteri dilakukan untuk mengidentifikasi jenis bakteri dan uji sensitivitas antimikroba dengan alat Bactec MGIT 960 (Mycobacterium Growth Indicator Tube). Bactec MGIT 960 merupakan alat yang menggunakan media cair untuk menumbuhkan bakteri Mycobacterium sp.

termasuk MTB. Kelebihan MGIT adalah waktu kultur yang relatif lebih singkat dibandingkan kultur dengan media Lowenstein-Jensen (LJ) (Rudeeaneksin, 2012).

Hasil uji resistensi secara fenotip isolat bakteri MTB dengan

Uji Sensitifitas OAT Jenis Resistensi

38 2470 S R R S S S R Pre-XDR

XDR : Extensively Drug Resistant Tuberculosis

Dalam penelitian ini telah dilakukan uji kepekaan obat anti tuberkulosis (DST) lini 1 dan lini 2 terhadap 42 sampel isolat klinis MTB dengan menggunakan metode kultur cair MGIT. Identifikasi spesies MTB telah dilakukan dengan uji antigen MPT64, hasil DST fenotipik dapat dilihat pada tabel 2.

Gambar 3. Persentase uji resistensi isolat klinis Mycobacterium tuberculosis Ket : STR : Streptomisin AMK : Amikasin

INH : Isoniazid KAN : Kanamisin RIF : Rifampisin OFX : Ofloxacin EMB : Ethambutol

Persentase resistensi isolat klinis MTB dapat dilihat pada gambar 3 diatas.

Resistensi tertinggi terdapat pada rifampisin dan ofloxacin dengan persentase

28.50%

STR INH RIF EMB AMK KAN OFX

Persentase Uji Resistansi Isolat Klinis Mycobacterium tuberculosis

100%, diikuti oleh isoniazid dengan persentase 97,62%, ethambutol 45,20%, streptomisin 28,50%, kanamicin 23,80%, dan amikasin 11,90%. Pada penelitian terdahulu oleh Campbell et.al tahun 2011 di Atlanta Georgia didapatkan persentase resistensi tertinggi pada rifampisin yaitu 97,1%, diikuti isoniazid 90,5%, ofloxacin 90%, ethambutol 80,5%, kanamisin 35,3% dan amikasin 22,4%.

Sementara satu-satunya OAT yang memiliki sensitifitas tertinggi adalah amikasin dengan persentase 77,6%.

Dalam penelitian ini hasil uji resistensi ofloxacin terhadap seluruh isolat klinis MTB adalah resistan ofloxacin 42/42 (100%). Hal ini menunjukkan bahwa secara fenotip seluruh isolat resistan terhadap ofloxacin. Penelitian ini sesuai dengan penelitian terdahulu oleh Chernyaeva et.al tahun 2013 di St. Petersburg Russia, dimana seluruh isolat MTB yang di gunakan pada penelitian tersebut resistan ofloxacin sebesar 100%.

Masalah resistensi OAT pada pengobatan TB perlu segera ditanggulangi karena angka kejadian resistensi selalu mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Hasil survei secara global menemukan bahwa OAT yang resistan terhadap MTB sudah menyebar dan mengancam kegiatan program pemberantasan dan penanggulangan tuberkulosis di berbagai negara di seluruh dunia (Irianti, 2016).

TB Resistan Obat merupakan perkembangan dari TB biasa yang kemudian pada akhirnya sesuai dengan kondisinya berkembang menjadi kebal akan obat tertentu dan beberapa jenis obat lainnya. Penularan TB resistan obat, MDR-TB maupun XDR-TB adalah sama seperti penularan TB yang tidak resistan obat pada umumnya. Ada 3 tipe resistensi OAT pada pasien TB yaitu Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB), Pre-Extensively Drug Resistant Tuberculosis

(Pre-XDR-TB), dan Extensively Drug Resistant Tuberculosis (XDR-TB) (Kemenkes, 2014). MDR-TB adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis yang resistan Obat terhadap minimal 2 (dua) OAT yaitu INH dan Rifampisin secara bersama sama atau disertai resistan terhadap OAT lini pertama lainnya seperti etambutol, streptomisin dan pirazinamid. Pre-XDR-TB merupakan MDR-TB yang disertai resistensi terhadap salah satu golongan fluorokuinolon atau salah satu dari OAT injeksi lini kedua seperti kanamisin, amikasin atau kapreomisin. XDR-TB adalah MDR-TB disertai dengan kekebalan terhadap OAT lini kedua yaitu golongan fluorokuinolon dan setidaknya satu OAT lini kedua suntikan seperti kanamisin, amikasin atau kapreomisin (Tasnim et al , 2018). Adapun persentase tipe resistensi terhadap isolat klinis MTB yang di uji secara fenotip dengan menggunakan alat Bactec MGIT 960 dapat dilihat pada gambar 4 berikut.

Gambar 4. Persentase isolat klinis Mycobacterium tuberculosisresistan ofloxacin berdasarkan jenis resistensi .

Gambar 4 menunjukkan gambaran tingkat persentase jenis resistensi isolat klinis MTB yang didapatkan dari hasil uji resistensi secara fenotip terhadap 42 isolat klinis MTB, dapat dilihat bahwa isolat klinis MTB yang termasuk TB-RR adalah 100%. Isolat klinis MTB yang termasuk diikuti oleh MDR-TB 97,62%

(41/42), Pre-XDR-TB sebesar 73,9% (31/42) dan XDR-TB sebesar 26,1%

(11/42).

Tidak semua TB-RR hasil dari pemeriksaan TCM untuk penegakkan diagnosis MDR-TB disertai dengan resistan terhadap isoniazid dari hasil uji DST fenotipik. Dalam penelitian ini ada satu dari 42 (2,38%) isolat TB-RR hasil pemeriksaan TCM yang menunjukkan sensitif terhadap isoniazid pada pemeriksaan DST fenotipik

Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik merupakan rumah sakit kelas A sesuai dengan SK Menkes Nomor 335/Menkes/SK/VII/1990 yang berlokasi di Jl. Bunga Lau No. 17 Medan Tuntungan Kota Medan Propinsi Sumatera Utara.

RSUP H. Adam Malik ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan sesuai dengan SK Menkes Nomor 502/Menkes/SK/IX/1991. RSUP H. Adam Malik juga sebagai Pusat Rujukan wilayah Pembangunan A yang meliputi Provinsi Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat dan Riau. Dalam hal ini Laboratorium MDR-TB RSUP H.Adam Malik Medan juga merupakan laboratorium rujukan untuk wilayah Sumatera bagian Utara yang meliputi Provinsi Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, dan Riau.Adapun persentase distribusi asal isolat klinis MTB berdasar data pasien TB yang di peroleh dari buku log pemeriksaan laboratorium dan catatan rekam medis pasien,dapat dilihat pada gambar 4 berikut.

Gambar 5. Distribusi asal isolat klinis Mycobacterium tuberculosis Resistan Ofloxacin berdasarkan wilayah Sumatera Bagian Utara

Gambar 5 diatas dapat dilihat bahwa persebaran provinsi asal ke-42 isolat klinis MTB sebesar 76,20% berasal dari Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebesar 7,15%, Provinsi Sumatera Barat sebesar 9,50%, dan Provinsi Riau sebesar 7,15%. Provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi dengan kasus terbesar penderita tb pada penelitian ini, hal ini dikarenakan provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi ke-4 dengan kasus terbesar di Indonesia dan merupakan Fasyankes terbanyak di pulau Sumatera (Riskesdas, 2018). Adapun persentase jenis resistensi berdasarkan distribusi asal isolat klinis MTB dapat dilihat pada gambar 6 berikut.

Sumatera Utara, 76.20%

Sumatera Barat, 9.50%

Riau, 7.15%

NAD; 7,15%

Gambar 6. Persentase Jenis Resistensi Isolat Klinis Mycobacterium tuberculosis Resistan Ofloxacin Berdasarkan Distribusi Asal Provinsi

Gambar 6 diatas menunjukkan jenis resistensi TB RR memiliki persentase 100% pada keempat provinsi di wilayah Sumatera Bagian Utara. Hal ini sesuai dengan data yang ditampilkan pada gambar 4, dimana seluruh isolat klinis merupakan isolat TB-RR. Resistensi MDR dengan persentase tertinggi berada di provinsi NAD, Sumatera Barat, Riau dan diikuti provinsi Sumatera utara 96%.

Jenis resistensi pre-XDR tertinggi dengan persentase 100% berada di provinsi Riau, diikuti oleh provinsi Sumatera Utara 75%, Sumatera Barat 75% dan Nanggroe Aceh Darussalam 33,3%. Sementara itu jenis resistensi XDR terbesar terdapat di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan persentase 66,70%, diikuti Sumatera Utara dan Sumatera Barat sebesar 25%. Sedangkan jenis resistensi XDR tidak ditemukan pada provinsi Riau.

Dokumen terkait