BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.6. Hasil Uji Asumsi Klasik
4.1.6.3. Hasil Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamat ke pengamat yang lain (Ghozali, 2016). Jika variance dari residual satu pengamat ke pengamat lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah model regresi yang homokedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas karena data ini menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heterokedastisitas adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel dependen yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Uji heterokedastisitas dalam penelitian ini menghasilkan grafik pola penyebaran titik (scatterplot) seperti terlihat pada Gambar 4.14 berikut.
Sumber: Data diolah, 2018
Gambar 4.4 Grafik Scatterplot
Hasil pengujian heterokedastisitas menunjukkan bahwa titik-titik tidak membentuk pola tertentu atau tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan dibawah 0 (nol) pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas yang artinya asumsi-asumsi dalam model regresi dapat dipenuhi dari model ini.
4.1.6. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel bebas terhadap variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, sedangkan variabel terikatnya adalah kinerja karyawan. Hasil analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini disajikan dalam Tabel 4.14.
Sumber: Data diolah, 2018
Tabel 4.14 Coefficient Table
Dari Tabel 4.14 tersebut maka diketahui model regresi linier dalam penelitian ini dapat dianalisis berdasarkan koefisien-koefisiennya. Model persamaan regresi linier berganda berdasarkan tabel tersebut adalah:
Y = -3,099 + 0,418 X1+ 0,678 X2
Interpretasi dari regresi diatas adalah sebagai berikut:
a. Nilai koefisien kecerdasan emosional adalah sebesar 0,418. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan kecerdasan emosional satu satuan maka variabel kinerja karyawan akan naik sebesar 0,418 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
b. Nilai koefisien kecerdasan spiritual adalah sebesar 0,678. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan kecerdasan spiritual satu satuan maka variabel kinerja karyawan akan naik sebesar 0,678 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig. Collinearity Statistics B Std.
Error
Beta Tolerance VIF
(Constant) -3,099 2,892 -1,072 0,289
Kecerdasan
Emosional 0,418 0,132 0,365 3,167 0,003 0,470 2,126 Kecerdasan
Spiritual 0,678 0,152 0,513 4,454 0,000 0,470 2,126 Sumber: Data diolah, 2018
4.1.8. Hasil Uji Hipotesis
4.1.8.1. Hasil Uji Statistik F
Uji statistik F digunakan untuk menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model regresi mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Ghozali,2016). Adapun kriteria pengambilan keputusan untuk uji ini adalah:
HO diterima jika Fhitung < Ftabel pada α = 0,05 HO ditolak jika Fhitung > Ftabel pada α = 0,05
Dengan membandingkan nilai F hitung dari penelitian dan nilai F tabel pada α = 0,05 dengan df1=2 dan df2= 56-2-1 = 53, maka nilai F tabel adalah 3,17.
Sedangkan untuk nilai F hitung dapat dilihat pada tabel 4.15 berikut.
Tabel 4.15 Hasil Uji Statistik F
Model Sum of besar dari nilai F tabel yaitu 3,17. Kemudian nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa secara simultan atau bersama-sama seluruh variabel independen yang terdiri dari kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel dependen yaitu kinerja karyawan di PT. Proconfo Indah.
Sumber: Data diolah, 2018
4.1.8.2. Hasil Uji Statisitik t
Uji statistik t digunakan untuk menunjukkan seberapa besar pengaruh variabel bebas secara individual dalam menerangkan variabel terikat (Ghozali, 2016). Adapun kriteria pengambilan keputusan untuk uji ini adalah:
HO diterima jika thitung < ttabel pada α = 0,05 HO ditolak jika thitung > ttabel pada α = 0,05
Dengan membandingkan antara nilai t hitung dari penelitian dan t tabel pada α = 0,05 dengan df= n-k = 56 – 3 =53, maka nilai t tabel (0,05;53) adalah 1,67412. Sedangkan untuk nilai t hitung dapat dilihat pada Tabel 4.16 berikut.
Tabel 4.16 Hasi Uji statistik t
No. Variabel t Sig
1 2
Kecerdasan Emosional Kecerdasan Spiritual
3,167 4,454
0,003 0,000
Seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.16, nilai t hitung dari kecerdasan emosional adalah sebesar 3,167. Dengan nilai t tabel sebesar 1,67412 maka t hitung > t tabel. Selain itu, tingkat signifikansi kecerdasan emosional adalah sebesar 0,003 yang berarti lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan di PT. Proconfo Indah.
Kecerdasan spiritual dalam tabel 4.16 memiliki nilai t hitung sebesar 4,454.
Dengan nilai t tabel sebesar 1,67412 , maka t hitung > t tabel. Tingkat signifikansi kecerdasan spiritual adalah sebsar 0,000 yang berarti lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa
Sumber: Data diolah, 2018
kecerdasan spiritual berpengaruh secara signfikan terhadap kinerja karyawan di PT. Proconfo Indah.
4.1.8.3. Hasil Koefisien Determinasi (R2)
Pengujian koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur proporsi atau presentase kemampuan model dalam menerangkan variabel dependen. Hasil pengujian koefisien determinan ditampilkan pada Tabel 4.17 berikut.
Tabel 4.17 Hasil Uji Koefisien Determinasi
Model R R
Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1 0,818a 0,669 0,657 2,35449 1,983
Berdasarkan Tabel 4.17 diketahui bahwa nilai R sebesar 0,818 yang berarti bahwa hubungan antar variabel indepeden (kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual) dengan variabel dependen (kinerja karyawan) adalah erat. Nilai R Square menunjukkan angka 0,669 atau 66,9 % yang berarti bahwa kinerja
karyawan di PT. Proconfo Indah ditentukan oleh variabel-variabel kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
4.2. Pembahasan
4.2.1. Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Kinerja Karyawan Berdasarkan hasil uji parsial yang telah dilakukan sebelumnya, diperohleh nilai t hitung 3,167 > t tabel 1,674, serta nilai signfikansi 0,003 < 0,05, yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memilki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Trihandini (2005) bahwa kecerdasan emosional memilki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja, dan juga teori
Sumber: Data diolah, 2018
yang diungkapkan oleh Patton (2008) yang mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki kecerdasan emosi akan mampu menghadapi tantangan dan menjadikan seorang manusia menjadi penuh tanggung jawab, produktif, dan optimis dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, dimana hal-hal tersebut akan sangat mempengaruhi kinerja seorang karyawan dalam melakukan suatu pekerjaan.
Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kecerdasan emosional dapat digunakan dalam rangka meningkatkan kinerja karyawan. Terlebih lagi bagi karyawan yang bekerja diperusahaan yang bergerak dibidang jasa penyelenggara ibadah umroh seperti PT. Proconfo Indah, yang dalam memberikan pelayanan sehari-harinya selalu berinteraksi langsung dengan para jamaah. Kecerdasan emosional menjadi faktor penting yang harus ada dalam diri seorang karyawan, agar interaksi yang dilakukan dengan para jamaah tersebut dapat berjalan dengan baik, yang tentu hal ini nantinya akan berdampak pada kepuasan para jamaah terhadap pelayanan yang diberikan perusahaan. Kepuasan seorang pelanggan terhadap suatu pelayanan jasa, tentu akan menjadi review yang baik yang akan terus meningkatkan citra perusahaan. Citra perusahaan yang baik tentu merupakan gambaran yang baik bagi kinerja karyawan di perusahaan dalam mendapatkan serta melayani jamaah.
Pada analisis karakteristik variabel kecerdasan emosional sebelumnya, diketahui bahwa pada pernyataan “Saya dapat mengelola dan mengendalikan emosi diri dalam berbagai situasi yang saya hadapi” terdapat 23 orang (41,1 %) dari total 56 orang responden yang menjawab netral. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian karyawan diperusahaan masih ragu-ragu atau belum yakin pada
kemampuannya untuk mengendalikan emosi dalam berbagai situasi yang dihadapinya. Hal ini tentu menjadi permasalahan tersendiri bagi perusahaan, karena dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, karyawan PT. Proconfo Indah dituntut untuk dapat selalu mengelola dan mengendalikan emosinya, agar tidak terpengaruh pada proses pelayanan yang dilakukan kepada jamaah. Maka dari itu, untuk dapat mengatasi hal ini maka PT. Proconfo Indah dituntut untuk dapat melakukan pelatihan (training) terhadap para karyawannya. Pelatihan yang dimaksud disini bukan hanya terfokus pada pelatihan terhadap profesi atau jabatan karyawan yang bersangkutan, melainkan sebuah pelatihan kecerdasan emosional.
Pelatihan kecerdasan emosional ini sendiri akan banyak memberikan manfaat bagi pembentukan karakter karyawan di perusahaan. Dalam pelatihan kecerdasan emosional, para karyawan nantinya akan diberi pemahaman mengenai anger management (pengendalian emosi), yang didalamnya meliputi pemahaman
mengenai bahaya emosi marah untuk kemajuan karir, hal-hal yang menyebabkan agresi atau marah, cara mengontrol kemarahan, permintaan maaf dan kekuatan pengampunan. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan nantinya para karyawan di PT. Proconfo Indah akan mampu untuk mengelola dan mengendalikan emosi nya menjadi lebih baik, sehingga para karyawan dalam prosesnya melayani jamaah akan memiliki sikap yang lebih baik dan ramah, yang tentu hal ini akan mempengaruhi citra PT. Proconfo Indah kedepannya.
4.2.2. Pengaruh Kecerdasan Spiritual terhadap Kinerja Karyawan
Berdasarkan uji t yang telah dilakukan sebelumnya, diketahui bahwa kecerdasan spiritual memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, dengan nilai t hitung 4,454 > t tabel 1,674, serta nilai
signifikansi 0,000 < 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual memiliki pengaruh yang lebih dominan dibandingkan kecerdasan emosional dalam mempengaruhi kinerja karyawan. Hal ini disebabkan karena perusahaan yang menjadi objek dalam penelitian ini yaitu PT. Proconfo Indah, merupakan perusahaan yang bergerak dibidang jasa penyelenggara ibadah umroh, sehingga tentu karyawan-karyawan yang berada diperusahaan ini dituntut untuk memiliki spritualitas yang tinggi, terutama dalam hal melayani jamaah.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh Ratnasari (2015), yang mengungkapkan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kecerdasan spiritual terhadap kinerja, dan juga mendukung pernyataan yang diungkapkan oleh Anggraini (2010) bahwa seorang karyawan yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi akan lebih mudah bangkit dari suatu kejatuhan atau penderitaan, lebih tahan menghadapi stress, lebih mudah melihat peluang karena memiliki sikap mental yang positif serta lebih ceria, bahagia, dan merasa puas dalam menjalani kehidupan, yang mana hal-hal ini akan sangat dibutuhkan dalam mendorong adanya peningkatan kinerja.
Pada analisis karakteristik variabel kecerdasan spiritual sebelumnya, diketahui bahwa pada pernyataan “Saya selalu berusaha untuk melakukan kebaikan kepada siapapun” terdapat 26 orang (46,4) dari total 56 orang responden yang menjawab netral. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian karyawan di perusahaan masih ragu untuk melakukan suatu kebaikan kepada siapapun. Untuk mengatasi hal ini yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah dengan membentuk budaya spritualitas di tempat kerja. Salah satu bentuk budaya spiritualitas ditempat kerja ini dapat dilakukan oleh para karyawan dengan rutin
melaksanakan ibadah shalat berjamaah dan mengikuti acara-acara keagamaan yang diselenggarakan oleh perusahaan. Selain itu, perusahaan juga dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas sosial diluar perusahaan dengan menyisihkan sebagian keuntungan yang telah diperoleh atau biasa disebut juga dengan Corporate Social Responsibility (CSR). Perusahaan dapat melakukan kegiatan
CSR ini secara rutin setiap sebulan sekali, dengan mengunjungi pesantren-pesantren atau panti asuhan. Dengan menjalankan hal ini, selain untuk mengajak para karyawan agar dapat berbuat kebaikan kepada sesama, perusahaan juga akan mendapatkan manfaat lain seperti untuk meningkatkan citra perusahaan itu sendiri, serta mempererat kesolidan antar sesama karyawan, yang mana hal-hal ini tentu sangat dibutuhkan untuk dapat mendorong adanya peningkatan kerja karyawan di PT. Proconfo Indah.
4.2.3. Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual terhadap Kinerja Karyawan
Berdasarkan pengujian secara simultan yang telah dilakukan sebelumnya terhadap variabel independen kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual serta variabel dependen kinerja karyawan, diperoleh nilai F hitung 53,586 > F tabel 3,17, yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Proconfo Indah. Hal ini memiliki arti bahwa kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual haruslah dijalankan secara bersama-sama agar secara efektif dapat mendorong peningkatan kinerja karyawan di PT. Proconfo Indah. Hasil penelitian ini memberikan bukti empiris yang mendukung penelitian Mudali (2002), yang mengatakan bahwa kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dapat
berfungsi secara efektif serta menampilkan hasil kerja yang menonjol apabila dijalankan secara bersama-sama.
Pada dasarnya banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seorang karyawan, namun dalam hal ini kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual memiliki perannya sendiri dalam hal pembentukan mental serta karakter seorang karyawan, khususnya di PT. Proconfo Indah. Kecerdasan emosional menekankan bagaimana seseorang menyikapi kehidupannya, sedangkan kecerdasan spiritual lebih menekankan kepada bagaimana seseorang memaknai kehidupannya.
Mustahil bagi perusahaan jika menginginkan kinerja yang optimal, namun mental para karyawannya dalam bekerja masih belum dibenahi. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk menanamkan serta menumbuhkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dalam diri para karyawannya.
Hal tersebut salah satunya dapat dilakukan dengan melakukan pelatihan yang berkelanjutan (continuously improvement) yang mampu membentuk suatu karakter dengan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi, yakni sebuah training dimana para pesertanya mengikuti program pelatihan yang didasari oleh kesadaran diri yang kuat serta sesuai dengan suara hati. Salah satu bentuk pelatihan yang dapat dilakukan PT. Proconfo Indah adalah dengan melakukan pelatihan kecerdasan emosional (ESQ Training). Dengan dilakukannya pelatihan kecerdasan emosional ini, perusahaan diharapkan akan dapat membangun suatu sistem manajamen sumber daya manusia yang mampu memotivasi karyawan untuk selalu mengembangkan kecerdasan emosinya, sehingga nantinya bukan hanya kompetensi teknis saja yang dapat tumbuh dan berkembang tetapi juga produktivitas dan kinerja karyawan dalam mendapatkan jamaah di PT. Proconfo
Indah juga akan ikut meningkat.
Selain itu, perusahaan juga dapat membentuk budaya spiritualitas di tempat kerja, dengan cara rutin mengajak karyawan untuk melaksanakan ibadah shalat berjamaah dan mengikuti acara-acara keagamaan yang diselenggarakan oleh PT. Proconfo Indah serta melakukan kegatan-kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR). Perusahaan yang bersifat spiritual akan membantu para
karyawannya untuk mengembangkan dan mencapai potensi penuh dari dirinya.
Dengan terbentuknya budaya spiritualitas di tempat kerja, diharapkan akan terbentuk karyawan yang bahagia, tahu dan mampu memenuhi tujuan hidup.
Karyawan yang demikian umumnya memiliki hidup yang seimbang antara kerja dan pribadi, antara tugas dan pelayanan. Karyawan yang kecerdasan spiritualnya tinggi dan didukung lingkungan kerja yang juga spiritual, secara positif akan menjadi lebih kreatif, memiliki kepuasan kerja yang tinggi, mampu bekerja dengan baik secara tim, dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan di bab sebelumnya, maka kesimpulan pada penelitian ini adalah:
a. Variabel kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual secara bersama-sama (simultan) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan di PT. Proconfo Indah
b. Secara parsial, variabel keecrdasan emosional berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Proconfo Indah, kemudian variabel kecerdasan spiritual juga memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Proconfo Indah, dan menjadi variabel yang lebih dominan dibandingkan kecerdasan emosional dalam mempengaruhi kinerja karyawan.
5.2. Saran
Setelah mengetahui kesimpulan dari penelitian ini, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut.
a. Perlu dilakukannya pelatihan sepanjang waktu (continously improvement) yang mampu membentuk suatu karakter karyawan dengan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi melalui pelatihan kecerdasan emosional (ESQ Training)
b. PT. Proconfo Indah juga perlu untuk membentuk budaya spiritualitas di tempat kerja, dengan cara rutin mengajak karyawan untuk melaksanakan ibadah shalat berjamaah dan mengikuti acara-acara keagamaan yang
diselenggarakan oleh perusahaan serta melakukan kegatan-kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR).
c. PT. Proconfo Indah disarankan untuk membangun suatu sistem manajemen sumber daya manusia yang mampu memotivasi karyawannya untuk mengembangkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang mereka miliki.
d. Bagi penelitian selanjutnya, dapat menggunakan pengukuran lain dalam mengukur variabel yang ada, atau menambahkan variabel baru seperti keerdasan kreatifitas, dalam penelitian selanjutnya, agar dapat diperbandingkan hasilnya dengan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Agustian, Ary G. (2005). Rahasia Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ): Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: Penerbit Arga
Ardiyansyah, Rudi. (2011). Pengaruh Tingkat Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual terhadap Kinerja Karyawan di PDAM Tirtanadi Instalasi Pengolahan Air Limau Manis. Tesis. Universitas Sumatera Utara, Medan
Anggraini, Susi. (2010). “Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual terhadap Kinerja Karyawan pada LBPP-LIA Palembang”. Jurnal Kajian Ekonomi Universitas Sriwijaya Vol 9. No 2 2010
Aziz, R & Mangestuti, R. (2006). “Tiga Jenis Kecerdasan dan Agresivitas Mahasiswa”. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol 11 No.21 Bernardin, John H., Russel. (2010). Human Resource Management. New York:
McGraw-Hill
Ghozali, Imam. (2016). Aplikasi Analisis Multivariat Dengan Program SPSS.
Semarang: Badan Percetakan Universitas Dipenogoro
Goleman, Daniel. (2015). Kecerdasan Emosi: Mengapa Emotional Intelligence Lebih Tinggi Daripada IQ. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Gordon, E. (2004). EQ dan Kesuksesan Kerja. Focus-online, http://www.epsikologi.com, Diakses tanggal 22 Juni 2018
Hatulesila, Erhard. (2015). Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, dan Kecerdasan Spiritual terhadap Kinerja Karyawan Hotel Natsepa Ambon. Tesis. Jakarta: Universitas Terbuka
Kasmir. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rajawali Pers
Mangkunegara, Anwar Prabu. (2013). Manajemen Sumber Daya Perusahaan.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Mehmood, T., Qasim S., Azam R. (2013). “Impact of Emotional Intelligence on the Performance of University Teachers”. International Journal of Humanities and Social Science Vol. 3 No. 18 October 2013
Mudali. (2002). Quote : How High Is Your Spiritual Intelligence?
http://www.eng.usf.edu/gopalakr/artcles/spiritual.html, Diakses tanggal 15 Oktober 2018
Patton, P. (2008). Kecerdasan Emosional di Tempat Kerja, Jakarta: Pustaka Delaprata
Prasetyo, Hendra D. (2017). “Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual Bersinergi dalam Meningkatkan Kepuasan Kerja dan Kinerja Karyawan PT.
Bangun Papan Selaras”. Media Mahardhika Vol. 15 No. 2 Januari 2017 Rae, M.J., Earles, J., & Teachout, M.S. (2007). “Predicting Job Performance: not
Muchmore than g”. Journal of Application Psychology Vol. 79 No. 4
Ratnasari, S. Langgeng. (2015). “Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, dan Kecerdasan Spiritual terhadap Kinerja Staf Departemen Quality Assurance PT. BEP Batam”. Jurnal Dinamika Manajemen
Robbins, Stephen P. (2006). Perilaku Organisasi. Jakarta: Penerbit Prenhallindo Saragih, Eva Hotnaidah. 2009. Kecerdasan Spiritual dan Pengaruhnya terhadap
Kinerja. Artikel, http://badruddin69.wordpress.com , diakses tanggal 27 Oktober 2018
Sanusi, Anwar. (2014). Metodologi Penelitian Bisnis. Jakarta: Salemba Empat Sarwono, Sarlito Wirawan. (2009). Emotional dan Spiritual Quotient untuk
meningkatkan Porduktifitas Kerja. Artikel Psikologi, http://sarlito.hyperphp, diakses tanggal 20 Oktober 2018.
Sekaran, Uma. (2011). Research Methods for Business. Jakarta: Salemba Empat Shapiro. 2003. Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak. Yogyakarta:
Pustaka Belajar Offset
Sinulingga, Sukarya. 2017. Metode Penelitian. Medan: USU Press
Subhasini D, Shaju M. (2016). “Emotional Intelligence Has a Greater Impact on Job Performance of Employees – An Exploratory Study on Manufacturing Industries, Coimbatore, Tamil, Nadu India”. International Journal of Business and Management Vol. 11 No. 12
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Bisnis: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi, dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta
Sulastri, Budi L., Warso M. Mukeri. (2016). “Effect of Intellectual Intelligence, Emotional Intelligence, and Spiritual Intelligence on the Performance of Employees PT. Tresnamuda Sejati Semarang”. Journal of Management, Volume 2 No. 2 Maret 2016
Sukidi. (2004). Rahasia Sukses Hidup Bahagia, Mengapa SQ Lebih Penting daripada IQ dan EQ. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Trihandini, Fabiola M.. (2005). Analisis Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual terhadap Kinerja Karyawan di Hotel Horison Semarang. Tesis. Semarang: Universitas Dipenogoro
Wechler, David. (2006). Intelegensi sebagai tolak ukur manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Widodo. (2012). Cara Baru Memberdayakan Diri untuk Bahagia, Sukses dan Sejahtera. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Zohar, Danah & Marshall, Ian. (2007). Kecerdasan Spiritual (SQ) Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Intergralistik dan Holistik Untuk Memaknai Kehidupan. Bandung: Mizan
KUESIONER PENELITIAN
Kepada Yth
Bapak/Ibu Karyawan PT. Proconfo Indah di Tempat
Dengan Hormat,
Ditengah kesibukan Bapak/Ibu pada saat bertugas, perkenankanlah saya memohon kesediaan Bapak/Ibu untuk meluangkan sedikit waktu guna mengisi angket yang saya sertakan berikut ini.
Angket ini bertujuan untuk kepentingan ilmiah, oleh karena itu jawaban yang Bapak/Ibu berikan sangat besar manfaatnya bagi pengembangan ilmu.
Angket ini tidak ada hubungannya dengan status dan kedudukan Bapak/Ibu di PT.
Proconfo Indah, maka jawaban yang benar adalah jawaban yang benar-benar menggambarkan keadaan Bapak/Ibu.
Saya mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan bantuan yang telah Bapak/Ibu berikan. Besar harapan saya untuk menerima kembali angket ini dalam waktu singkat.
Medan, 2018
Hormat Saya
(Agus Setiawan) LAMPIRAN
Petunjuk Pengisian Kuesioner
1. Bapak/Ibu diminta untuk memilih alternatif jawaban yang ada pada angket ini yang sesuai dengan keadaan, pendapat, dan perasaan Bapak/Ibu, bukan berdasarkan pendapat umum atau pendapat orang lain.
2. Berikanlah jawaban singkat pada bagian identitas responden yang membutuhkan jawaban tertulis Bapak/Ibu
3. Berikanlah tanda checklist (P) pada pilihan jawaban yang disediakan (cukup hanya dengan mengisi satu jawaban saja)
No Responden : I. Karakteristik Responden
1. Nama* :
2. Usia :
3. Masa Kerja :
4. Pendidikan Terakhir : 1. SD 2. SMP 3.SMA 4.D3 5.Sarjana
Keterangan:
1. STS (Sangat Tidak Setuju) 2. TS (Tidak Setuju)
3. N (Netral) 4. S (Setuju)
5. SS (Sangat Setuju)
(*boleh dikosongkan)
a. Kecerdasan Emosional (X1)
No Pertanyaan STS TS N S SS
1 Saya dapat memahami penyebab timbulnya emosi yang terjadi pada diri saya
2 Saya dapat mengelola dan mengendalikan emosi diri dalam berbagai situasi yang saya hadapi 3 Saya mampu memotivasi dan
memberikan dorongan kepada diri saya sendiri
4 Saya selalu memiliki sikap optimis (tidak mudah menyerah) untuk meraih tujuan yang ingin saya capai
5 Saya bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain, seperti kesedihan dan
5 Saya bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain, seperti kesedihan dan