4. BAB IV : Hasil dan pembahasan
4.3 Hasil Uji Hipotesis Penelitian
Pada penelitian ini terdiri dari 2 (dua) variabel bebas yaitu dukungan sosial dan optimisme dengan 1 (satu) variabel terikat yaitu kebahagiaan. Pengujian data dilakukan dengan menggunakan metode multiple regression dengan bantuan SPSS 22.0 for windows.
a. Hubungan Dukungan Sosial dan Optimisme dengan Kebahagiaan.
Hipotesis pertama adalah terdapat hubungan yang positif antara dukungan sosial dan optimisme dengan kebahagiaan. Berdasarkan uji hipotesis antara dukungan sosial (X1) dan optimisme (X2) dengan kebahagiaan (Y) diperoleh hasil seperti pada tabel 4.11
Tabel 4.11
Hasil Pearson Correlation Antara Dukungan Sosial dan Optimisme dengan Kebahagiaan
Variabel R
Sig.(1-tailed)
Dukungan Sosial dan Optimisme 0.677 .000
Berdasarkan tabel 4.11 diketahui nilai signifikansi adalah sebesar .000 yang berarti < .05. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara dukungan sosial dan optmisme dengan kebahagiaan pada mustahiq, sehingga semakin tinggi dukungan sosial dan optimisme yang dimiliki mustahiq maka mustahiq akan semakin bahagia. Selanjutnya untuk melihat besarnya kontribusi dukungan sosial dan optimisme terhadap kebahagiaan, dilakukan uji determinasi R dengan hasil seperti pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12
Kontribusi Dukungan Sosial dan Optimisme dengan Kebahagiaan Variabel R R- square Adjusted R Square Dukungan sosial dan
Optimisme
.677 .458 .440
Berdasarkan tabel 4.12, diketahui nilai koefisien determinan (R-square) adalah sebesar .458 hal ini menunjukkan bahwa variabel dukungan sosial dan optimisme dapat menjelaskan variasi dari variabel kebahagiaan sebesar 45.8%,
sedangkan sisanya sebesar 54.2% dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar penelitian ini. Korelasi antara variabel dukungan social dan optimisme dengan kebahagiaan, memiliki korelasi yang kuat, hal ini dilihat dari nilai koefesien korelasinya sebesar 0.677.
b. Hubungan Dukungan Sosial dengan Kebahagiaan.
Hipotesis kedua adalah terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan kebahagiaan pada mustahiq. Berdasarkan uji hipotesis antara masing-masing dimensi dukungan sosial (X1) dengan kebahagiaan (Y) diperoleh hasil seperti pada Tabel 4.13.
Tabel 4.13
Hasil Pearson Correlation Antara Dukungan Sosial dengan Kebahagiaan
Variabel X1 R Sig.(1-tailed)
Dukungan Sosial r = .625 .000
Dukungan Emosional r = .374 .001
Dukungan Instrumental r = .424 .000
Dukungan Informasional r = .563 .000
Dukungan Penghargaan r = .502 .000
Pada tabel 4.13 diketahui nilai rxy = .625 dengan nilai signifikansi sebesar p
= .000 yang berarti < .05. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan kebahagiaan pada mustahiq.
Hubungan positif yang signifikan diartikan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima oleh mustahiq, maka semakin tinggi kebahagiaan yang dirasakan oleh mustahiq. Kemudian, diketahui nilai r = .374 pada pada dimensi dukungan emosional dengan nilai signifikansi p = .001 yang berarti < .05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan emosional dengan
Terdapat pula nilai r = .424 dengan nilai signifikansi p = .000 yang berarti <
.05. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan instrumental dengan kebahagiaan pada mustahiq. Terdapat pula nilai r = .563 dan nilai signifikansi sebesar p = .000 yang berarti < .05. Hal ini menunjukkan hubungan antara dukungan emosional dengan kebahagiaan pada mustahiq. Dan yang terakhir terdapat nilai rxy = .502 dan nilai signifikansi sebesar p = .000 yang artinya < .05.
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa terdapat hubungan antara dukungan penghargaan dengan kebahagiaan pada mustahiq. Selanjutnya, untuk melihat besarnya kontribusi atau pengaruh dukungan sosial terhadap kebahagiaan, dilakukan uji determinasi R dengan hasil seperti pada Tabel 4.14.
Tabel 4.14
Kontribusi Dukungan Sosial dengan Kebahagiaan
Variabel X1 R R.Square Adjusted R Square
Dukungan sosial .625 .391 .114
Berdasarkan tabel 4.14, diketahui nilai koefisien determinan adalah sebesar .391 atau dapat dikatakan bahwa variasi dari dukungan sosial dapat menjelaskan variasi dari kebahagiaan sebesar 39.1%, sedangkan sisanya sebesar 60.9%
dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar penelitian ini.
c. Hubungan Optimisme dengan Kebahagiaan.
Hipotesis ketiga ialah terdapat hubungan antara optim1sme dengan kebahagiaan. Berdasarkan uji hipotesis antara optimisme (X2) dengan kebahagiaan (Y) diperoleh hasil seperti pada Tabel 4.15.
Tabel 4.15
Hasil Pearson Correlation Optimisme dengan Kebahagiaan
Variabel X2 R Sig.(1-tailed)
Optimisme r = .528 .000
Pada tabel 4.13 diketahui nilai rxy = .528 dengan nilai signifikansi sebesar p
= .000 yang berarti < .05. Maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, yang artinya terdapat hubungan positif yang signifikan antara optimisme dengan kebahagiaan pada mustahiq. Hubungan positif yang signifikan diartikan bahwa semakin tinggi atau semakin optimis para mustahiq, maka semakin tinggi kebahagiaan yang dirasakan. Selanjutnya, untuk melihat besarnya kontribusi atau pengaruh optimisme terhadap kebahagiaan, dilakukan uji determinasi R dengan hasil seperti pada Tabel 4.16.
Tabel 4.16
Kontribusi Optimisme terhadap Kebahagiaan
Variabel X2 R R- square Adjusted R
Square
Optimisme .528 .279 .267
Berdasarkan tabel 4.16, diketahui nilai koefisien determinan (R-square) adalah sebesar .279 atau dapat dikatakan bahwa variasi dari optimisme dapat menjelaskan variasi dari kebahagiaan sebesar 27.9%, sedangkan sisanya sebesar 72.1% dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar penelitian ini.
d. Sumbangan Efektif Dimensi Dukungan Sosial dan Optimisme
Untuk mengetahui sumbangan yang diberikan oleh masing-masing komponen dukungan sosial pada variabel kebahagiaan, maka dilakukan
perhitungan sumbangan efektif yang dapat dilihat pada tabel 4.17. Berikut rumus yang digunakan untuk mencari sumbangan efektif setiap variabel;
SE
Xi = bXi . crossproduct.R2Regression
Xi b = koefisien b komponen x CP = cross product komponen x Regression = nilai regresi R2 = sumbangan efektif total
Tabel 4.17
Sumbangan Efektif Variabel Dukungan Sosial Terhadap Variabel Terikat
Variabel Dukungan Sosial Sumbangan Efektif Dukungan Emosional .90%
Dukungan Instrumental 1.32%
Dukungan Informasional 16.32%
Dukungan Penghargaan 11.76%
Total 30.30%
Berdasarkan analisis di atas dapat diketahui bahwa dukungan emosional memberikan sumbangan efektif sebesar, .90%, dukungan instrumental memberikan sumbangan efektif sebesar 1.32%, dukungan informasi memberikan sumbangan efektif sebesar 16.32%, dan dukungan penghargaan memberikan sumbangan efektif sebesar 11.76% terhadap kebahagiaan pada mustahiq. Sedangkan variabel optimisme memberikan sumbangan efektif sebesar 15.5%. Secara bersama-sama
variabel dukungan sosial dan optimisme memberikan sumbangan efektif sebesar 45.8% terhadap kebahagiaan pada mustahiq.
e. Nilai Hipotetik dan Nilai Empirik Dukungan Sosial
Setelah melakukan uji reliabilitas alat ukur dukungan sosial diketahui bahwa terdapat 16 aitem yang layak digunakan dalam penelitian. Model skala yang digunakan adalah skala Likert dengan rentang nilai 1-5. Adapun skor minimum yang bisa diperoleh untuk skala dukungan sosial adalah 16 dan skor maksimalnya adalah 80. Hasil Perhitungan nilai hipotetik dan empirik untuk variabel dukungan sosial dapat dilihat pada tabel 4.18
Tabel 4.18
Perbandingan Nilai Hipotetik dan Empirik Dukungan Sosial Variabel Data Hipotetik Data Empirik Dukungan
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai mean empirik dukungan sosial, dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informasi, dan dukungan penghargaa lebih besar daripada nilai mean hipotetik. Nilai mean empirik dukungan sosial sebesar 66.72 dengan standar deviasi sebesar 6.022 serta mean hipotetik yaitu sebesar 48 dengan standart deviasi sebesar 10.66.
f. Nilai Hipotetik dan Nilai Empirik Optimisme
Diketahui setelah melakukan uji reliabilitas alat ukur optimisme, terdapat 11 aitem yang layak digunakan dalam penelitian. Model skala yang digunakan adalah skala Likert dengan rentang nilai 1-5. Adapun skor minimum yang bisa diperoleh untuk skala optimisme adalah 11 dan skor maksimalnya adalah 55. Hasil Perhitungan nilai hipotetik dan empirik untuk variabel optimisme dapat dilihat pada tabel 4.19
Tabel 4.19
Perbandingan Nilai Hipotetik dan Empirik Optimisme Variabel Data Hipotetik Data Empirik Optimisme
Min Max Mean SD Min Max Mean SD 11 55 33 7.33 38 55 47.17 4.050
Tabel 4.19 menunjukkan bahwa mean empirik optimisme sebesar 47.17 mean hipotetik yaitu sebesar 33, artinya mean empirik lebih besar daripada mean hipotetik.
g. Nilai Hipotetik dan Nilai Empirik Kebahagiaan
Setelah melakukan uji reliabilitas alat ukur kebahagiaan diketahui bahwa terdapat 18 aitem yang layak digunakan dalam penelitian. Model skala yang digunakan adalah skala Likert dengan rentang nilai 1-5. Adapun skor minimum yang bisa diperoleh untuk skala kebahagiaan adalah 18 dan skor maksimalnya adalah 90. Hasil Perhitungan nilai empirik dan hipotetik untuk variabel kebahagiaan dapat dilihat pada tabel 4.20
Tabel 4.20
Perbandingan Nilai Hipotetik dan Empirik Kebahagiaan Variabel Data Hipotetik Data Empirik Kebahagiaan
Min Max Mean SD Min Max Mean SD 18 90 54 12 53 90 75.67 7.194
Tabel 4.20 menunjukkan bahwa mean empirik kebahagiaan sebesar 75.67 dengan mean hipotetik sebesar 54, artinya mean empirik kebahagiaan yang dihasilkan lebih besar daripada mean hipotetik.
h. Kategorisasi Data penelitian
Norma kategorisasi yang digunakan pada variabel dukungan sosial, optimisme, dan kebahagiaan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu tinggi, sedang dan rendah, hal ini dibuat berdasarkan distribusi kurva normal dengan menggunakan rumus standar deviasi (Azwar, 2004) sebagai berikut:
Tabel 4.21
Norma Kategorisasi Dukungan Sosial
Rentang Nilai Kategori
X > mean + SD Tinggi
Mean - SD ≤ X ≤ Mean + SD Sedang
X < Mean – SD Rendah
Berikut penjelasan masing-masing kategorisasi variabel penelitian yaitu:
Tabel 4.22
Kategori Dukungan Sosial
Rentang Nilai Kategorisasi Jumlah Persentase (%)
Berdasarkan tabel 4.22 diketahui bahwa mayoritas mustahiq mendapat dukungan sosial pada kategori tinggi, yaitu sebanyak 58 orang (90.6%). Sedangkan mustahiq lainnya berada pada kategori sedang yaitu sebanyak 6 orang (9.4%).
Tabel 4.23
Kategori Dukungan Emosional
Rentang Nilai Kategorisasi Jumlah Persentase (%)
Berdasarkan tabel 4.23 diketahui bahwa mustahiq dalam kategori tinggi untuk tingkat dukungan emosional sebesar 61 orang (95.3%), sedangkan untuk kategori sedang berjumlah 3 orang (4.7%) dan untuk kategori rendah tidak ada.
Tabel 4.24
Kategori Dukungan Instrumental
Rentang Nilai Kategorisasi Jumlah Persentase (%)
Pada tabel 4.24 dapat diketahui bahwa mustahiq dalam kategori tinggi untuk tingkat dukungan instrumental berjumlah 51 orang (79.7%), sedangkan untuk kategori sedang berjumlah 13 orang (20.3%) dan untuk kategori rendah tidak ada.
Tabel 4.25
Kategori Dukungan Informasi
Rentang Nilai Kategorisasi Jumlah Persentase (%)
Berdasarkan tabel 4.25 diketahui bahwa mustahiq dalam kategori tinggi untuk tingkat dukungan informasi sebesar 46 orang (71.9%), sedangkan untuk kategori sedang berjumlah 16 orang (25.0%) dan untuk kategori rendah berjumlah 2 orang (3.1%).
Tabel 4.26
Kategori Dukungan Penghargaan
Rentang Nilai Kategorisasi Jumlah Persentase (%)
Berdasarkan tabel 4.26 diketahui bahwa mustahiq dalam kategori tinggi untuk tingkat dukungan penghargaan sebesar 60 orang (93.8%), sedangkan untuk kategori sedang berjumlah 4 orang (6.2%) dan untuk kategori rendah tidak ada.
Tabel 4.27
Kategori Skor Optimisme Rentang Nilai Kategori
Optimisme Jumlah (N) Persentase (%)
Berdasarkan tabel 4.27 diketahui bahwa mayoritas mustahiq memiliki optimisme yang tinggi yaitu sebanyak 61 (95.3%) orang. Sementara sisanya, 3 (4.7%) orang berada dalam kategori sedang.
Tabel 4.28
Kategori Kebahagiaan Rentang Nilai Kategori
Kebahagiaan Jumlah (N) Persentase (%)
Berdasarkan tabel 4.28 diketahui bahwa mayoritas mustahiq memiliki kebahagiaan dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 59 orang (92.19%) dan sebanyak 5 (7.81%) mustahiq memiliki kebahagiaan dalam kategori sedang.
Tabel 4.29
Kategori Keseluruhan Variabel
Variabel (X) Kebahagiaan (Y)
Total
Dukungan Penghargaan T 59 1 - 60
S 0 4 - 4
R - - - -
Total 64
Berdasarkan tabel 4.29 diketahui bahwa mustahiq dengan kategori tingkat kebahagiaan yang tinggi dan dukungan sosial yang tinggi berjumlah 56 orang, sedangkan untuk kategori tingkat kebahagiaan yang tinggi dan dukungan sosial yang sedang berjumlah 3 orang. Pada kategori tingkat kebahagiaan yang sedang dan dukungan sosial yang tinggi berjumlah 2 orang, sedangkan untuk kategori kebahagiaan yang sedang dan dukungan sosial yang sedang berjumlah 3 orang.
Kemudian pada tabel tersebut juga dapat diketahui jumlah mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi dan optimisme yang tinggi berjumlah 56 orang, kemudian mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang sedang dengan optimisme yang tinggi berjumlah 5 orang, dan mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang sedang dan optimisme yang sedang berjumlah 3 orang.
Melalui tabel tersebut dapat pula diketahui jumlah mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi dan dukungan emosional yang tinggi berjumlah 57 orang, mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang sedang dan dukungan emosional yang tinggi berjumlah 4 orang, lalu mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi dan dukungan emosional yang sedang berjumlah 2 orang, dan mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang sedang dan dukungan emosional yang sedang berjumlah 1 orang.
Selanjutnya, diketahui mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi dan dukungan instrumental yang tinggi berjumlah 49 orang, mustahiq dengan
tingkat kebahagiaan yang tinggi dan dukungan instrumental yang sedang berjumlah 10 orang, lalu mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang sedang dan dukungan instrumental yang tinggi berjumlah 2 orang, dan mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang sedang dan dukungan instrumental yang sedang berjumlah 3 orang.
Kemudian diketahui pula mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi dan dukungan informasi yang tinggi berjumlah 43 orang, mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi dan dukungan informasi yang sedang berjumlah 15 orang, lalu mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi dan dukungan informasi yang rendah berjumlah 1 orang, mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang sedan dan dukungan informasi yang tinggi berjumlah 3 orang, dengan tingkat kebahagiaan yang sama dan dukungan informasi yang sedang berjumlah 1 orang, sama dengan jumlah mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang sedang dan dukungan informasi yang rendah berjumlah 1 orang.
Selanjutnya, pada tabel tersebut dikethui pula jumlah mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi dan dukungan penghargaan yang tinggi berjumlah 59 orang, dengan tingkat kebahagiaan yang sama namun tingkat dukungan penghargaan yang diterima pada kaetgori sedang berjumlah 9 orang, lalu mustahiq dengan tingkat kebahagiaan yang sedang dan dukungan penghargaan yang tinggi berjumlah 1 orang dan mustahiq dengan tingkat kebhagiaan yang sedang dan dukungan penghargaan yang sedang berjumlah 4 orang.
4.5 Pembahasan
Hasil uji hipotesis yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dan optimisme dengan kebahagiaan pada mustahiq. Melalui analisis multiple regression diperoleh nilai p
< .05 atau p = .000 < .05, dan nilai koefesien korelasi ganda sebesar 0.677.
Berdasarkan hail perhitungan tersebut, dapat dikatakan bahwa hubungan yang terjadi antara dukungan sosial dan optimisme dengan kebahagiaan termasuk dalam kategori hubungan yang kuat. Sehingga, semakin tinggi dukungan sosial dan optimisme yang dimiliki mustahiq, maka akan semakin tinggi kebahagiaan yang dirasakan.
Hasil penelitian ini didukung oleh Farzaee (2012) yang berpendapat bahwa terdapat hubungan yang positif antara dukungan sosial dengan kebahagiaan para murid, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin baik dukungan sosial yang diterima seseorang, maka akan semakin bahagia. Dukungan sosial yang diterima oleh mustahiq berupa dukungan emosional, instrumental, informasional, dan penghargaan dari pihak sekolah ataupun lembaga akan dapat meningkatkan rasa optimis dalam diri mustahiq, sehingga akan menuju kepada kebahagiaan.
Pernyataan di atas di dukung oleh Seligman (2006) bahwa dukungan sosial yang baik membuat individu menjadi lebih optimis, dikarenakan individu tersebut merasa yakin bahwa bantuan atau dukungan yang dibutuhkan akan selalu tersedia.
Dengan demikian, optimisme yang dimiliki mustahiq juga dapat membantu mustahiq untuk hidup lebih bahagia. Hal ini didukung oleh pernyataan Lyubomirsky dan Kristin (2003) yang menjelaskan bahwa aktivitas yang dapat
meningkatkan kebahagiaan seseorang ialah optimis. Gorsy dan Panwar (2016) menyatakan bahwa kebahagiaan sangat terkait dengan optimisme pada wanita yang bekerja.
Hasil analisis regresi linear menunjukkan nilai koefesien determinasi (R2) sebesar .458, hal ini menunjukkan bahwa variabel dukungan sosial dan optimisme dapat menjelaskan variasi dari variabel kebahagiaan sebesar 45.8% dan 54.2%
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti, religiusitas atau agama, pernikahan, kesehatan, pekerjaan dan sebagainya. Hal ini didukung dengan pernyataan Danty (2016) bahwa dukungan sosial yang diberikan memiliki peranan dalam mewujudkan kebahagiaan pada mustahiq.
Mustahiq dapat dikatakan bahagia dalam hidupnya ketika merasa puas akan dirinya dan keseluruhan aspek hidupnya seperti, kesehatan, pertemanan, keluarga, keuangan dan sebagainya, serta merasakan afek positif. Keadaan mustahiq yang belum mampu mencukupi kebutuhannya, dengan adanya bantuan melalui lembaga zakat dan pihak sekolah yang memberikan dukungan berupa beasiswa, perhatian penilaian positif terhadap kepada mustahiq, membuat mustahiq merasa dihargai dan dicintai. Kajian parenting dan keagaamaan yang diberikan oleh pihak lembaga dan sekolah juga membuat mustahiq menjadi lebih religius dan paham akan cara mendidik anak, sehingga menjadikan mustahiq lebih bahagia dan optimis. Hal ini sejalan dengan Seligman (2005) bahwa individu yang religius lebih bahagia.
Selanjutnya Carver (dalam Compton dan Hoffman 2013) menambahkan bahwa individu yang mempunyai rasa optimis dalam dirinya akan merasa lebih bahagia akan kepuasan hidupnya. Optimis artinya yakin pada nilai-nilai positif dan
pengaruhnya meskipun sedang menghadapi perkara yang sulit. Buah dari optmisme sendiri telah dijelaskan dalam Al-Quran surah Al-Imran ayat 139, yang mana seseorang yang optimis dalam setiap ujian atau kesulitan yang dihadapi akan memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah SWT, karena Allah sangat menyukai orang yang optimis (Sa’du, 2010).
Pada penelitian ini dapat diketahui bahwa secara keseluruhan terdapat 59 orang (92.19%) memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi, sedangkan sebanyak 5 orang (7.81%) memiliki tingkat kebahagiaan yang sedang. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa mayoritas mustahiq memiliki penilaian yang baik akan kepuasan dirinya terhadap aspek-aspek kehidupannya serta merasakan afek positif dibandingkan afek negatif. Mustahiq yang memiliki tingkat kebahagiaan pada kategori sedang berarti bahwa mustahiq memiliki penilaian yang cukup baik akan kepuasan dirinya terhadap aspek-aspek kehidupannya serta cukup merasakan afek positif dibandingkan afek negatif. Beberapa faktor yang mempengaruhi kebahagiaan mustahiq pada yang memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi ialah karena semua mustahiq telah menikah, hal ini didukung oleh Seligman (2006) yang mengatakan bahwa seseorang yang telah menikah cenderung lebih bahagia.
Faktor selanjutnya ialah usia, yang mana seluruh mustahiq sudah pada berada pada tingkat usia dewasa awal dan dewasa tengah, hal ini didukung pula oleh Seligman (2006) dan Carr (2004) bahwa semakin bertambah usia, afek negative yang dirasakan semakin melemah. Setelah faktor usia, faktor kesehatan juga mempengaruhi kebahagiaan yang dirasakan mustahiq, persepsi yang baik akan kesehatan yang dimiliki berdampak pada kebahagiaan (Seligman, 2006).
Berdasarkan hasil uji hipotesis yang kedua diketahui bahwa terdapat hubungan yang positif antara dukungan sosial dengan kebahagiaan pada mustahiq.
Melalui analisis multiple regression diperoleh nilai p < .05 atau p = .000 < .05, dan nilai koefesien korelasi sebesar 0.625, hal ini berarti semakin baik dukungan sosial yang diterima oleh mustahiq, maka akan semakin tinggi kebahagiaan yang dirasakan. Hasil penelitian ini juga didukung oleh Aumeboonsuke (2016) bahwa terdapat hubungan yang positif antara dukungan sosial dengan kebahagiaan terutama dukungan yang diberikan orangtua.
Pada penelitian ini dapat diketahui bahwa secara keseluruhan terdapat 58 orang (90.6%) memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi, sedangkan sebanyak 8 orang (9.4%) memiliki tingkat dukungan sosial yang sedang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mustahiq yang menerima zakat melalui program pemberdayaan senyum juara di SD Juara Medan memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi. Hal ini dikarenakan mustahiq merasa memiliki kedekatan emosional dengan pihak sekolah ataupun lembaga.
Mustahiq merasa dukungan sosial yang diterima baik dukungan emosional, pemberian informasi, bantuan secara langsung dan penilaian positif individu saat menghadapi masalah sangat baik. Hal ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh (Ataya dalam Urif, Herwanti, dan Huzaini, 2018) bahwa pemberian zakat diharapkan mampu memberikan ketenangan, keamanan, dan kesejahteraan.
Mustahiq yang memiliki tingkat dukungan sosial pada kategori sedang berarti para mustahiq merasa cukup dengan dukungan sosial yang diterima yang melibatkan
emosi, pemberian informasi, bantuan secara langsung dan penilaian positif individu saat menghadapi masalah.
Berdasarkan perhitungan sumbangan efektif pada dimensi dukungan sosial, diketahui bahwa dukungan informasi yang diberikan oleh pihak lembaga/pihak sekolah menjadi dukungan yang paling terasa bagi para mustahiq. Hal ini dilihat dari besar sumbangan efektif yang diberikan yaitu 16.32%. Kemudian dukungan penghargaan berada di urutan kedua dengan nilai sumbangan efektif sebesar 11.76%. Selanjutnya, dukungan instrumental berada di urutan ketiga nilai sumbangan efektif sebesar 1.32% dan terakhir dukungan emosional sebesar 0.90%, sehingga total sumbangan efektif dukungan sosial terhadap kebahagiaan sebesar 30.3%.
Melalui pemaparan persentase di atas, dapat dilihat perbedaan masing-masing sumbangan efektif dari dimensi dukungan sosial. Dukungan informasi menjadi dukungan dengan sumbangan efektif yang paling tinggi terhadap kebahagiaan pada mustahiq, dan dukungan emosional dan instrumental yang paing rendah. Hal ini dapat terjadi karena adanya faktor yang mempengaruhi efektivitas dukungan sosial, Cohen dan Syme (1985) menyatakan bahwa waktu pemberian dukungan, permasalahan yang dihadapi, waktu pemberian, jenis dukungan, lama menerima dukungan dan penerimaan dukungan dapat mempengaruhi kualitas dan efektivitas dukungan sosial yang diberikan. Dukungan emosional yang mencakup perhatian yang diterima oleh mustahiq sangat tergantung pada kepribadian mustahiq atau jenis dukungan yang diberikn dengan masalah yang dihadapi
mustahiq dalam hal ini bisa jadi mustahiq hanya ingin didengar bukan diperhatikan, ditambah dengan lama dukungan yang diberikan.
Temuan selanjutnya dukungan instrumental yang berupa bantuan secara langsung berupa beasiswa atau sekolah gratis di SD Juara Medan, tidak dirasakan secara langsung manfaatnya oleh mustahiq sebagai bantuan, layaknya pemberian modal usaha yang diberikan kepada mustahiq, hal ini didukung oleh Cohen dan Syme (1985) bahwa jenis dukungan yang diterima memiliki makna jika dukungan tersebut sesuai dengan situasi yang ada.
Uji hipotesis juga menunjukkan bahwa uji hipotesis ketiga diterima yaitu terdapat hubungan antara optimisme dengan kebahagiaan pada mustahiq terbukti, yang mana hal ini diiketahui melalui analisis yang dilakukan yakni p > .05 yaitu p
= .000 > .05. Hubungan yang ditunjukkan kedua variabel memiliki nilai korelasi yang positif, yang berarti semakin tinggi tingkat optimisme maka semakin tinggi pula kebahagiaan. Hal ini didukung oleh penelitian Ariyabuddhiphongs dan Li (2016) bahwa kebahagiaan sangat terkait dengan optimisme pada wanita buddha yang bekerja.
Diketahui bahwa secara keseluruhan terdapat 61 orang (95.3%) memiliki tingkat optimisme yang tinggi, sedangkan sebanyak 3 orang (4.7%) memiliki tingkat dukungan sosial yang sedang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan mustahiq memiliki tingkat optimisme yang tinggi. Mustahiq dengan optimisme yang tinggi berarti cenderung berpikir positif dalam memandang peristiwa atau pengalaman yang terjadi dalam hidupnya, sedangkan mustahiq dengan tingkat optimisme pada kategori sedang berarti mustahiq cukup cenderung
berpikir positif dalam memandang peristiwa dalam hidupnya. Pada penelitian ini sumbangan efektif yang diberikan oleh optimisme terhadap kebahagiaan ialah
berpikir positif dalam memandang peristiwa dalam hidupnya. Pada penelitian ini sumbangan efektif yang diberikan oleh optimisme terhadap kebahagiaan ialah