HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2.4 Hasil Uji Hipotesis
4.2.4.1 Hasil Uji Parsial
Uji parsial digunakan untuk melihat pengaruh variabel dependen terhadap independen secara individu atau sendiri-sendiri. Pada regresi logistik uji parsial dapat di lihat pada tabel variabel in the equationdengan syarat sebagai berikut :
a. Jika nilai signifikansi (sig.) lebih besar dari 0,05 maka variabel independen tidak memengaruhi variabel dependen secara parsial.
b. Jika nilai signifikansi (sig.) lebih kecil dari 0,05 maka variabel independen tidak memengaruhi variabel dependen secara parsial.
Hasil uji parsial dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.10 Uji Parsial Variables in the Equation
B S.E. Wald df Sig. Exp(B)
Step 1a UKPER .057 .169 .114 1 .736 1.059 REPAU 1.256 .877 2.049 1 .152 3.510 OPAUD -17.108 4.019E4 .000 1 1.000 .000 PROFT -13.320 7.384 3.254 1 .071 .000 SOLVA -3.428 2.075 2.728 1 .099 .032 LABRU 1.770 1.090 2.639 1 .104 5.870
Constant 19.610 4.019E4 .000 1 1.000 3.284E8
a. Variable(s) entered on step 1: UKPER, REPAU, OPAUD, PROFT, SOLVA, LABRU.
Berdasarkan hasil uji parsial di atas dapat dilihat bahwa nilai sig. variabel ukuran perusahaan bernilai 0,736, nilai ini lebih besar dari 0,05 yang berarti bahwa variabel ukuran perusahaan tidak memengaruhi audit delay secara parsial. Nilai sig. variabel reputasi auditor bernilai 0,152 dinama nilai ini lebih besar dari 0,05 yang bearti bahwa variabel reputasi auditor tidak berpengaruh secara parsial terhadap audit delay. Nilai sig. variabel opini audit 1,000 dimana nilai ini lebih besar dari 0,05 yang berarti bahwa variabel opini auditor tidak berpengaruh secara parsial terhadap audit delay. Nilai sig. variabel profitabilitas bernilai 0,071 dimana nilai ini lebih besar dari 0,05 yang berari bahwa variabel profitabilitas tidak berpengaruh secara parsial terhadap audit delay. Nilai sig. variabel solvabilitas bernilai 0,099 dimana nilai ini lebih besar dari 0,05 yang berarti bahwa variabel solvabilitas tidak berpengaruh terhadap audit delay. Dan nilai sig. variabel laba rugi bernilai 0,104 dimana nilai ini lebih besar dari 0,05 yang berarti bahwa variabel laba rugi juga tidak berpengaruh terhadap audit delay.
4.2.4.2 Hasil Uji Regresi Logistik
Regresi logistik digunakan pada penelitian ini dikarenakan variabel dependen yaitu audit delay menggunakan skala
kategorial. Model persamaan regresi yang terbentuk pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
AUDLEY = 19,610 +0,057UKPER + 1,256REPAUD-
17,108 OPAUD –13,320 PROFIT – 3,428
SOLVA + 1,770 LABRUG + e
Masing-masing koefisien pembentuk persamaan regresi logistik di atas dapat dilihat dari tabel 4.10 berikut ini :
Tabel 4.11
Koefisien Persamaan Regresi LogistikUji Parsial Variables in the Equation
B S.E. Wald Df Sig. Exp(B)
Step 1a UKPER .057 .169 .114 1 .736 1.059 REPAU 1.256 .877 2.049 1 .152 3.510 OPAUD -17.108 4.019E4 .000 1 1.000 .000 PROFT -13.320 7.384 3.254 1 .071 .000 SOLVA -3.428 2.075 2.728 1 .099 .032 LABRU 1.770 1.090 2.639 1 .104 5.870
Constant 19.610 4.019E4 .000 1 1.000 3.284E8 a. Variable(s) entered on step 1: UKPER, REPAU, OPAUD, PROFT, SOLVA, LABRU.
Sumber : Output SPSS
Interpretasi dari persamaan regresi logistik yang terbentuk adalah sebagai berikut :
a. Konstanta sebesar 19,610 yang berarti jikavariabel lain bernilai nol maka nilai audit delayakan tetap sebesar 19,610 b. Koefisien ukuran perusahaaan(UKPER) sebesar 0,057 yang
sebesar 1% maka akan mengurangi nilai ukuran perusahaan sebesar (UKPER) -0,057 dan variabel lain tetap.
c. Koefisien reputasi auditor (REPAUD) sebesar 1,256yang artinya jika nilai variabel ini dinaikkan sebesar 1% maka akan menaikkan nilai reputasi auditor sebesar 1,256 dan variabel lain tetap.
d. Koefisien opini audit(OPAUD) sebesar -17,108 yang artinya jika nilai variabeliniberubah sebesar 1% maka akan mengurangi nilai ukuran sebesar (OPAUD) -17,108 dan variabel lain tetap.
e. Koefisien profitabilitas (PROFIT) sebesar -13,320yang artinya jika nilai variabel ini dinaikkan sebesar 1% maka akan menaikkan nilai profitabilitas sebesar -13,320 dan variabel lain tetap.
f. Koefisien solvabilitas (SOLVA) sebesar -3,428yang artinya jika nilai variabel ini dinaikkan sebesar 1% maka akan menaikkan nilai profitabilitas sebesar -3,428 dan variabel lain tetap.
g. Koefisien laba rugi (LABRUG) sebesar 1,770yang artinya jika nilai variabel ini dinaikkan sebesar 1% maka akan menaikkan nilai profitabilitas sebesar 1,770 dan variabel lain tetap.
4.3 Pembahasan
Pada bagian ini akan disajikan interpretasi hasil pengujian statistik dengan menggunakan regresi logistik. Berdasarkan kajian teori di atas menghasilkan enam hipotesis, keenam hipotesis tersebut akan dibahas pada bagian berikut ini.
4.3.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Audit Delay
Variabel ukuran perusahaan (UKPER) secara statistik menghasilkan koefisien sebesar 0,057dengan tingkat signifikasi 0,736 yang lebih besar dari 0,05, maka nilai ini tidak berhasil mendukung hipotesis pertama (H1) yaitu ukuran perusahaan memengaruhi audit delaydan dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan (UKPER) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap audit delay. Hal ini menunjukkan berapapun besar ukuran perusahaan dalam suatu perusahaan tidak akan memengaruhi audit delay pada suatu perusahaan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Lestari (2010) yang mengatakan ukuran perusahaan tidak memengaruhi audit delay. Diperkirakan, ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap audit delaylantaran sampel merupakan perusahaan terdaftar di BEI yang diawasi investor,pengawas permodalan, dan pemerintah. Atas dasar itu, perusahaan dengan asset besarmaupun kecil mempunyai kemungkinan yang sama dalam menghadapi tekanan ataspenyampaian laporan keuangan. Kemungkinan kedua, auditor menganggap bahwadalam proses pengauditan berapapun jumlah aset
yang dimiliki tiap-tiap perusahaanakan diperiksa dengan cara yang sama, sesuai dengan prosedur dalam standarprofesional akuntan publik.
4.3.2 Pengaruh Reputasi Auditor Terhadap Audit Delay
Variabel Reputasi Auditor (REPAUD) secara statistik menghasilkan koefisien sebesar 1,256 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,152 yang lebih besar dari 0,05, maka nilai initidak dapat menerima hipotesis kedua (H2) yaitu reputasi auditor berpengaruh terhadap audit delay. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Utami (2006) yang menyatakan bahwa Hasil pengujian hipotesis 2 tidak dapat membuktikan bahwa hipotesis mendukung hubungan positif dan signifikan antara reputasi auditor dengan audit delay. Hasil dari pengujian ini tidak konsisten dengan penelitian Setiawan (2013). Hal ini dikarenakan perusahaan yang berafiliasi dengan KAP Big Four itu lebih cepat menyelesaikan audit delay daripada KAP non BigFour karena tergantung dari kondisi laporan keuangan perusahaan.
4.3.3 Pengaruh Opini Audit terhadap Audit Delay
Variabel opini audit (OPAUD) secara statistik menghasilkan koefisien negatif sebesar -17,108 dengan tingkat signifikasi 1,000 yang lebih besar dari 0,05, maka nilai ini tidak berhasil mendukung hipotesis ketiga (H3) yaitu ukuran opini audit memengaruhi audit delay dan dapat disimpulkan bahwa opini audit (OPAUD) tidak memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap audit delay. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Lestari (2010) yang mengatakan bahwa opini audit tidak mempengaruhi audit delaykarena hal tersebut merupakan bagian dari kewenangan KAP untuk memberi pernyataan. Adanya keengganan auditor untuk mengeluarkan kualifikasi dan manajemen untuk menerima hasil pengauditan, dapat terjadi dalam lingkungan yang secara struktur hukum dan profesionalitas belum terbentuk dengan baik.
4.3.4 Pengaruh Profitabilitas terhadap Audit Delay
Variabel profitabilitas (PROFIT) secara statistik menghasilkan koefisien negatif sebesar -13,320 dengan tingkat signifikasi 0,071 yang lebih besar dari 0,05, maka nilai ini tidak berhasil mendukung hipotesis ketiga (H4) yaitu profitabilitas memengaruhi audit delay dan dapat disimpulkan bahwa profitabilitas (PROFIT) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap audit delaysehingga hipotesis keempat tidak dapat diterima. Kemampuan perusahaanuntuk menghasilkan laba berdasarkan aktiva yang dimiliki ternyata tidakmempunyai pengaruh secara signifikan terhadap jangka waktu penyampaianlaporan keuangan auditan. Banyak perusahaan yang mengalami kenaikan profitnamun kenaikan itu tidak begitu besar, apalagi ada yang mengalami kerugian.Selain itu mungkin tuntutan pihak-pihak yang berkepentingan tidak begitu besarsehingga tidak memacu perusahaan untuk mengkomunikasikan laporankeuangan yang diaudit lebih cepat.Hasil ini sesuai dengan penelitian yang pernah
dilakukan oleh Yulianti (2011) di manaProfitabilitas dinyatakan tidak signifikan mempengaruhi audit delay. Hasil iniberbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan Setiawan (2006) yanghasilnya menunjukkan bahwa tingkat Profitabilitas yang lebih tinggi memacu percepatan publikasi laporan keuangan.
4.3.5 Pengaruh Solvabilitas terhadap Audit Delay
Variabel solvabilitas (SOLVA) secara statistik menghasilkan koefisien negatif sebesar -3,428 dengan tingkat signifikasi 0,099 yang lebih besar dari 0,05, maka nilai ini tidak berhasil mendukung hipotesis kelima (H5) yaitu profitabilitas memengaruhi audit delay dan dapat disimpulkan bahwa solvabilitas (SOLVA) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap audit delay,sehingga hipotesis kelima tidak dapat diterima.
Kemampuan perusahaan untuk melunasi utang-utangnya pada kenyataannya tidak secara signifikan mempengaruhi audit delay pada perusahaan Keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2014. Selain itu sesuai dengan kualitas standar pekerjaan auditor seperti yang telah diatur dalam SPAP melaksanakan prosedur audit perusahaan baik yang memiliki total utang besar dengan jumlah debtholder yang banyak atau perusahaan dengan utang yang kecil dan jumlah debtholder yang sedikit tidak akan mempengaruhi proses penyelesaian audit laporan keuangan, karena auditor yang ditunjuk pasti telah
menyediakan waktu sesuai dengan kebutuhan jangka waktu untuk menyelesaikan proses pengauditan utang (Yulianti, 2011).
4.3.6 Pengaruh Laba Rugi Terhadap Audit Delay
Variabel laba rugi (LABRUG) secara statistik menghasilkan koefisien sebesar 1,770dengan tingkat signifikasi 0,104 yang lebih besar dari 0,05, maka nilai ini tidak berhasil mendukung hipotesis kenam (H6) yaitu laba rugi memengaruhi audit delaydan dapat disimpulkan bahwa laba rugi (LABRUG) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap audit delay. Berdasarkan Hasil dari pengujian hipotesis 6 ini tidak sesuai dengan hasil yang dilakukan oleh Utami (2006). Perusahaan yang mendapatkan laba yang besar tidak ada alasan untuk menunda penerbitan laporan keuangan auditan bahkan cenderung untuk mempercepat penerbitan laporan keuangan auditan, karena perusahaan yang mengalami laba akan membuat investor menjadi senang dan calon investor akan tertarik untuk membeli saham sehingga akan menyebabkan kenaikan harga saham. Sebaliknya, perusahaan yang menderita kerugian akan berusaha memperlambat penerbitan laporan keuangan auditan. Auditor akan berhati-hati selama proses audit dalam merespon kerugian perusahaan apakah kerugian tersebut disebabkan oleh kegagalan finansial atau kecurangan manajemen. Hasil ini konsisten dengan penelitian Imam Subekti (2004), yang berhasil membuktikan bahwa laba/ rugi operasi secara signifikan tidak berpengaruh terhadap audit delay. Ini berkaitan dengan ketidakstabilan kondisi ekonomi saat ini dimana kebanyakan perusahaan yang mengalami kerugian diabaikan dalam
pelaporan keuangannya karena kerugian dianggap sebagai hal yang biasa. Jadi semakin laba suatu operasi perusahaan, maka audit delay-nya semakin pendek.
BAB V