TANJUNGMARULAK KOTA TEBING TINGGI
3. HASIL UNIVARIAT
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Pelatihan Kader
Posyandu
Pelatihan n %
Tidak 15 37,5
Ya 25 62,5
Jumlah 40 100,0
Tabel 1 dapat dilihat bahwa mayoritas kader Posyandu yang pernah mengikuti pelatihan sebanyak 25 orang (62,5%).
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Pembinaan Kader
Posyandu
Pembinaan n %
Kurang 5 12,5
Cukup 14 35
Baik 21 52,5
Jumlah 40 100,0
Tabel 2 dapat dilihat bahwa mayoritas responden mendapatkan pembinaan yang baik sebanyak 21 orang (52,5%).
Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Insentif pada
Kader Posyandu
Insentif n %
Cukup 8 20,0
Memuaskan 32 80,0
Jumlah 40 100,0
Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa mayoritas responden menyatakan insentif yang diterima memuaskan sebanyak 32 orang (80%).
Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Kinerja Kader
Posyandu Kinerja Kader
Posyandu n %
Kurang 9 22,5
Cukup 14 35
Baik 17 42,5
Jumlah 40 100,0
Tabel 4 dapat dilihat bahwa mayoritas responden yang memiliki kinerja baik sebanyak 17 orang (42,5%).
30
Tabel 5. Hubungan Pelatihan, pembinaan, dan insentif dengan Kinerja Kader Posyandu Variabel Kinerja
baik Kinerja
cukup Kinerja
kurang Presentasi
(%) p-value
Pelatihan 25 8 7 100 0,000
Total 40
Tabel 5 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 40 orang responden (100%) yang mengikuti pelatihan, 8 orang (32%) memiliki kinerja yang cukup dan 17 orang (68%) memiliki kinerja yang baik. Hasil uji statistik didapatkan p Value (=0,000) < α (=0,05), artinya Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pelatihan dengan kinerja kader Posyandu di Puskesmas Tanjung Marulak.
Tabel 6. Hubungan Pembinaan dengan Kinerja Kader Posyandu dengan Kinerja Kader Posyandu
Variabel Kinerja
baik Kinerja
cukup Kinerja
kurang Presentas i (%)
p-value Pembinaa
n 21 9 10 100 0,019
Total 40
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 40 orang responden (100%) yang mendapat pembinaan yang baik, 2 orang (9,5%) memiliki kinerja yang kurang, 9 orang (42,9%) memiliki kinerja yang cukup, dan 10 orang (47,6%) memiliki kinerja yang baik. Hasil uji statistik didapatkan p Value (=0,019) < α (=0,05), artinya Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pembinaan dengan kinerja kader Posyandu di Puskesmas Tanjung Marulak
Tabel 7. Hubungan Kinerja dengan Kinerja Kader Posyandu dengan Kinerja Kader Posyandu
Intensif Kinerja
baik Kinerja
cukup Kinerja
kurang Presentasi
(%) p-value
Memuaskan 20 12 8 100 0,009
Total 40
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 40 orang responden (100%) yang menyatakan insentif yang didapatkan memuaskan, 4 orang (12,5%) memiliki kinerja yang kurang, 12 orang (37,5%) memiliki kinerja yang cukup, dan 16 orang (50%) memiliki kinerja yang baik. Hasil uji statistik didapatkan p Value (=0,009) < α (=0,05), artinya Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan insentif dengan kinerja kader Posyandu di Puskesmas Tanjung Marulak.
4. PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 40 orang responden (100%) yang mengikuti pelatihan, 8 orang (32%) memiliki kinerja yang
cukup dan 17 orang (68%) memiliki kinerja yang baik. Hasil uji statistik didapatkan p Value (=0,000) < α (=0,05), artinya Ho ditolak dan Ha
31 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pelatihan dengan kinerja kader Posyandu di Puskesmas Tanjung Marulak.
Pelatihan adalah suatu upaya kegiatan yang dilaksanakan untuk
meningkatkan kemampuan,
pengetahuan, keterampilan teknis dan dedikasi kader (Depkes, 2005).
Keberhasilan kegiatan Posyandu sangat bergantung pada partisipasi secara aktif dari kader yang bertugas di Posyandu dengan sukarela mengelola Posyandu di wilayahnya masing-masing. Kurangnya pelatihan dan pembinaan untuk meningkatkan keterampilan yang memadai bagi kader menyebabkan kurangnya pemahaman terhadap tugas kader, lemahnya informasi serta kurangnya koordinasi antara petugas Puskesmas dengan kader dalam pelaksananan kegiatan Posyandu sebagai penyelenggaran pelayanan profesional untuk membimbing kader agar mampu memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara optimal. (Depkes, 2009). Penelitian Wirapuspita (2013) di Puskesmas Wonorejo Samarinda menyimpulkan bahwa ada hubungan pelatihan dengan kinerja kader (p=0,018). Pelatihan kader dapat memberikan kesempatan untuk belajar keterampilan, menerima pendidikan dan berinteraksi dengan staf profesional yang lebih tinggi.
Menurut asumsi peneliti, kurang baiknya kinerja kader disebabkan karena tidak meratanya pelatihan yang diterima oleh kader Posyandu dan masih ada kader yang belum pernah mengikuti pelatihan. Perlunya pelatihan di berikan bagi kader Posyandu secara berkelanjutan minimal satu kali dalam setahun, agar kader merasa mampu dan memiliki potensi diri, apabila
masyarakat memerlukan bantuan dalam memecahkan masalah kesehatan di lingkungan tempat tinggalnya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 21 orang responden (100%) yang mendapat pembinaan yang baik, 2 orang (9,5%) memiliki kinerja yang kurang, 9 orang (42,9%) memiliki kinerja yang cukup, dan 10 orang (47,6%) memiliki kinerja yang baik.
Hasil uji statistik didapatkan p Value (=0,019) < α (=0,05), artinya Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pembinaan dengan kinerja kader Posyandu di Puskesmas Tanjung Marulak. Upaya pembinaan kader yang dilakukan oleh petugas kesehatan juga memegang peranan penting untuk meningkatkan keterampilan kader dalam melaksanakan tugasnya. Menurut Sukiarko (dalam Zainiah, 2014) menyebutkan bahwa pembinaan kader merupakan sarana penting dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader karena akan sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu. Penelitian Bangun (2011) di
Puskesmas Medan Amplas
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pembinaan kader dengan kinerja kader Posyandu.
Peningkatan pembinaan bagi kader sangat penting untuk dilakukan, karena berhubungan dengan evaluasi hasil kegiatan Posyandu. Pembinaan merupakan suatu cara agar pembina Posyandu dapat memberikan pembelajaran tentang peningkatan kualitas kerja Posyandu yaitu mulai dari kegiatan sebelum dan sesudah buka Posyandu, serta hambatan yang ada dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu.
Menurut asumsi peneliti, banyak responden yang menyatakan pembinaan
32 kader baik dan cukup karena mereka memperoleh penyuluhan tentang Posyandu dan petugas Puskesmas mampu memberikan contoh yang baik dalam kegiatan Posyandu. Pembinaan ini dilakukan Puskesmas dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan Posyandu. Pembinaan yang kurang diperoleh responden pada penelitian ini adalah tidak adanya teguran apabila kader tidak melakukan kegiatan Posyandu dengan baik dan Puskesmas tidak mengkomunikasikan hasil evaluasi dari kegiatan Posyandu kepada kader. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 32 orang responden (100%) yang menyatakan insentif yang didapatkan memuaskan, 4 orang (12,5%) memiliki kinerja yang kurang, 12 orang (37,5%) memiliki kinerja yang cukup, dan 16 orang (50%) memiliki kinerja yang baik. Hasil uji statistik didapatkan p Value (=0,009)
< α (=0,05), artinya Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan insentif dengan kinerja kader Posyandu di Puskesmas Tanjung Marulak. Wisnuwardani (2012) menyatakan bahwa faktor insentif merupakan salah satucara meningkatkan kinerja kader Posyandu.Jika kegiatan Posyandu dimulai, makakader harus bekerja penuh dari pagi hinggaserangkaian kegiatan Posyandu selesai. Padahalpada saat kegiatan Posyandu para kader harusmeninggalkan pekerjaan utama mereka sepertipekerjaan rumah tangga dan pekerjaan lainyang penghasilannya jauh lebih besar.
5. KESIMPULAN
Kesimpulan pada penelitian ini yaitu:
1. Ada hubungan pelatihan dengan kinerja kader dengan nilai p (=0,000),
2. ada hubungan pembinaan dengan kinerja kader dengan nilai p (=0,019),
3. ada hubungan insentif dengan kinerja kader dengan nilai p (=0,009).
Diharapkan kepada Puskesmas Tanjung Marulak sebagai fasilitator bagi kader Posyandu hendaknya memberikan pelatihan dan pembinaan secara berkala agar dapat membantu kader dalam melaksanakan program-program kerja posyandu. Dan juga diharapkan kepada kader Posyandu agar dapat lebih meningkatkan kinerjanya dalam melakukan kegiatan Posyandu dan juga agar berperan lebih aktif, karena Posyandu adalah dari, oleh, dan untuk masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2005. Pedoman Pengelolaan Posyandu, Cetakan ke 1. Jakarta.
_________. 2008. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
_________. 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta.
Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi.
2014. Laporan Kinerja Tahunan Pemerintah Kota Tebing Tinggi Tahun 2015.
Mubarak, W. I. & Chayatin, N.
2009.Ilmu Kesehatan Masyarakat Teori dan Aplikasi. Jakarta:
Salemba Medika.
Purnomo, G. A. 2014. Pengaruh Pelatihan Kader Tentang
33 Posyandu Terhadap Kemampuan Pengelolaan Posyandu.
Skripsi.Yogyakarta: Ilmu Keperawatan STIKes ‘Aisyiyah.
Soedirman. (2016).Hubungan Beban Kerja Perawat Ruang Operasi dengan Kejadian Low Back Pain pada Perawat Ruang Operasi Di RSUD Yogyakarta. Tesis.
Yogyakarta: Politeknik Kesehatan. Kementerian Kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI. 2011.
Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu. Jakarta