• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISA DAN PEMBAHASAN

A. Analisa Data

2. Hasil Utama Penelitian

a. Hubungan Identitas PUNK dan Konsep-diri

Penelitian ini memiliki hipotesis ada hubungan antara identitas

PUNK dengan konsep-diri pada anggota komunitas PUNK di kota Medan. Di mana komponen dari identitas PUNK, yaitu cognitive component

individu) dan emotional component berhubungan positif dengan konsep-diri pada komunitas PUNK di kota Medan. Semakin tinggi hubungan antara komponen identitas PUNK dengan konsep-diri maka konsep-diri yang dimiliki individu cenderung positif, begitu juga sebaliknya apabila semakin rendah hubungan antara komponen identitas PUNK dengan konsep-diri maka konsep-diri yang dimiliki akan cenderung negatif pada anggota komunitas PUNK tersebut.

Peneliti melakukan uji normalitas dilakukan dengan menggunakan metode One-Sample Kolmogorov-Smirnov. Data dikatakan terdistribusi normal dengan harga p > 0,05.

Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Konsep-diri

Konsep-diri

N 40

Normal Parametersa,b Mean OE-7

Std. Deviation ,987

Most Extreme Absoloute ,330 Differences Positive ,292 Negative -,330

Kolmogorov-Smirnov Z 2,085

Asymp. Sig. (2-tailed) ,000

Berdasarkan data di atas diketahui hasil uji normalitas terhadap variabel konsep-diri nilai Z = 2.085 dan p = 0.000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai p (0.000) < 0.05 maka data dari variabel konsep-diri terdistribusi secara tidak normal.

Dengan adanya salah satu variabel yaitu variabel konsep-diri berdistribusi tidak normal maka penelitian ini menggunakan analisis data

regresi logistik yang akan menjelaskan hubungan antara variabel terikat yang berupa data dikotomik/biner dengan variabel bebas yang berupa data berskala interval ataupun kategorik (Hosmer & Lemeshow, 1989).

Sebelum mengolah data lebih lanjut, dalam penelitian ini perlu dijelaskan bahwa, awalnya salah satu variabel dalam penelitian ini yaitu variabel konsep-diri merupakan data yang bersifat kontinu, yang merentang dari -10 sampai 10. Data tersebut kemudian dirubah menjadi data yang bersifat kategorikal menggunakan teknik median split dengan cara membaginya menjadi dua, yaitu menjadi konsep-diri positif (1) dan konsep-diri negatif (2).

Untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel tergantung secara bersama-sama (overall), maka terlebih dahulu harus dilakukan uji kelayakan model pada variabel.

Tabel 4. Classification

Observed

Predicted

Percentile Group of Konsep-diri Percentage Correct

1 2

Step 1 Percentile Group of Konsep-diri 1 13 5 72,2

2 7 15 68,2

Overall Percentage 70,0

Tabel di atas menunjukkan bahwa regresi logistik yang digunakan sudah cukup baik, karena dapat memprediksi 70 persen kondisi yang terjadi. Dari data tersebut kemudian dianalisa dengan menggunakan

analisa regresi logistik yang menguji hasil hipotesis penelitian. Dengan melihat hasil dari tabel berikut:

Tabel 5. Omnibus Tests of Model Coefficients

Chi-square Df Sig.

Step 1 Step 10,566 3 0,014

Block 10,566 3 0,014

Model 10,566 3 0,014

Dari tabel diatas, dipeoleh bahwa sig = 0.014 (<0.05) maka ada hubungan yang positif antara identitas PUNK dengan Konsep-diri, dimana variabel bebas mempengaruhi variabel tergantung. Kemudian dapat disimpulkan bahwa hasil dari model dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut.

Tabel 6. Variabel in the Equation

B S.E Wald Df Sig. Exp (B)

Step1 CognitiveComponent 4,170 1,715 5,909 1 ,015 64,688

EvaluativeComponent -5,649 2,128 7,046 1 ,008 ,004 EmotionalComponent ,219 1,162 ,035 1 ,851 1,244

Constant 5,952 4,423 1,811 1 ,178 384,478

Berdasarkan tabel diatas, diperoleh cognitive component sig (p) = 0.015 dan evaluative component sig = 0.008 (<0.05) maka dapat dikatakan bahwa komponen cognitive dan evaluative dari Identitas PUNK memiliki hubungan dengan mempengaruhi konsep-diri. Sedangkan Emotional component sig (p)= 0.851 (>0.05) tidak berhubungan dengan konsep-diri.

B. Pembahasan

Penelitian ini melihat hubungan identitas PUNK dengan konsep-diri pada komunitas PUNK di Kota Medan. Hipotesa dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara identitas PUNK dengan konsep-diri, apabila individu merepresentasikan komponen-komponen identitas PUNK dalam kelompoknya maka itu akan berhubungan dengan konsep-diri pada individu tersebut. Dimana semakin tinggi hubungan antara komponen identitas PUNK dengan konsep-diri maka konsep-diri yang dimiliki individu akan cenderung positif. Sebaliknya, jika semakin rendah hubungan antara komponen identitas PUNK

dengan konsep-diri maka konsep-diri yang dimiliki individu akan cenderung negatif.

Identitas PUNK memiliki beberapa komponen di dalamnya yaitu komponen cognitive, evaluative, dan emotional (Ellemerss, 1999).

Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa ada hubungan positif antara komponen evaluative (p)

= 0.015 dan evaluative component (p) = 0.008 (<0.05), sedangkan dengan komponen yang ketiga yaitu komponen emotional (p)= 0.851 (>0.05) tidak memiliki hubungan dengan konsep-diri.

Berdasarkan hasil penelitian dilakukan analisa dalam penelitian ini didapati bahwa individu yang sadar akan dirinya merupakan bagian dari kelompok, mengkategorisasikan dirinya dan berperilaku sesuai dengan anggota kelompoknya sehingga menghasilkan suatu identitas pada diri individu (Ellemers, 1999) ternyata memberikan hubungan yang positif pada konsep-diri individu, ini menjelaskan adanya hubungan positif antara

komponen cognitive dengan konsep-diri. Begitu juga dengan komponen

evaluative di mana individu yang memiliki nilai positif ataupun negatif terhadap keanggotaanya dalam kelompok (Ellemers, 1999) dengan menyadari dirinya menjadi bagian dari anggota komunitas PUNK maka identitas itu memberikan hubungan yang positif pada konsep-diri individu. Berbeda dengan komponen identitas PUNK yang ke 3 yaitu komponen emotional, pada penelitian ini menujukkan bahwa saat individu memiliki keterlibatan perasaan secara emotional terhadap kelompok, individu memiliki komitmen ataupun individu menujukkan indentitasnya sebagai anggota kelompok tidak memiliki hubungan dengan konsep-diri pada individu.

Hasil penelitian ini sedikit berbeda dengan yang dikemukakan Baron, Robert dan Donn (2000) yang mengartikan bahwa identitas sosial merupakan keseluruhan dari aspek konsep-diri individu baik itu kebanggaan diri dan harga diri individu yang berasal dari kelompok sosial mereka atau keanggotaan individu dalam kelompok secara emosional. Di mana individu yang memiliki kelekatan emosional terhadap kelompok sosialnya dan kelekatan itu muncul dari individu dengan menyadari keberadaanya dalam suatu kelompok akan memberikan konsep-diri yang positif. Selain itu Marcia (dalam Santrock, 2009) menyatakan bahwa komitmen di komunitas menunjukkan sebuah investasi pribadi dalam sebuah identitas dan bertahan dengan identitasnya dalam komunitas tersebut. Hasil penelitian ini justru menunjukkan bahwa salah satu komponen identitas PUNK yaitu komponen

emotional dimana saat individu memiliki komitmen dan menunjukkan identitasnya sebagai anggota kelompok, di mana keterlibatan emosional

individu dan komitmen afektif individu yang seharusnya kuat dalam kelompok dan akan mempengaruhi konsep-diri individu justru pada penelitian ini malah menujukkan tidak ada hubungan pada konsep-diri.

Jika ditinjau dari hasil penelitian Maria Dian (2010) yang berjudul

„Identitas diri anggota komunitas PUNK‟, menyatakan bahwa remaja yang

awalnya fokus pada pencarian identitas diri pada masa perkembangannya sehingga menjadi alasan bergabung dalam komunitas PUNK, tetapi seiring berjalannya waktu individu akan menyadari bahwa dunianya dalam komunitas

PUNK adalah dunia sementara yang dapat dijalanin individu. Kemudian hasil penelitian ini didukung dengan pernyataan Abi, Karyono & Ika (2014) di mana individu pada akhirnya akan terus berkembang dari masa remaja menuju masa dewasa, kemudian individu akan menyadari tugas dan kepentingannya yang sebenarnya pada masa dewasa yaitu antaralain dengan memiliki pekerjaan, meniti karir, menetapkan kehidupan ekonomi dan juga mencari pasangan hidup. Tuntutan tugas perkembangan inilah yang semakin menguatkan kesadaran individu pada saat beranjak dewasa dan pada akhirnya meninggalkan komunitas PUNK dan melangsungkan kehidupannya.

Selain itu, kelompok yang diteliti dalam penelitian ini adalah komunitas PUNK di kota Medan merupakan salah satu komunitas yang mencolok menjadi sorotan bagi masyarakat. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Havoe (2001) di mana masyarakat memiliki persepsi berupa pandangan positif ataupun negatif terhadap keberadaan komunitas ini ternyata memberikan dampak yang positif bagi diri individu. Dan pada umumnya masyarakat memandang komunitas PUNK itu negatif. Maka seperti yang

diungkapkan oleh Victor Gecas (1982) bahwa reaksi masyarakat adalah faktor utama yang dapat mengubah konsep-diri dan juga mempengaruhi identitas sosial yang dimiliki oleh individu. Jadi kondisi inilah yang menyebabkan komponen emotinal dari identitas PUNK tidak memiliki hubungan yang positif dengan konsep-diri.

Dengan demikian melalui penelitian ini juga dapat dijelaskan bahwa walaupun komponen dari identitas PUNK memberikan dampak yang positif pada diri individu yaitu menunjukkan adanya hubungan positif antara komponen cognitive dan evaluatif terhadap konsep-diri tidak menjadikan komunitas tersebut dipandang positif di tengah masyarakat. Dampak ataupun hubungan positif dan negatif yang ada antara hubungan identitas PUNK

dengan konsep-diri tidak dapat digeneralisasikan kepada komunitas, kelompok ataupun hal yang lain.

Penelitian ini dapat belum dapat menggambarkan secara keseluruhan bagaimana hubungan identitas PUNK dengan konsep-diri, dikarenakan hanya ditinjau dan dilihat dari satu sisi saja. Sebaiknya untuk penelitian berikutnya disarankan untuk melihat bagaimana identitas sosial berhubungan variabel lainnya misalnya dengan komitmen. Kemudian alat ukur yang digunakan juga tidak beragam. Pada penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan berbagai metode penelitian yang ada misalnya dengan metode kualitatif ataupun menggabungan dua metode yaitu kualitatif dan kuantitatif, sehingga informasi yang diperoleh dapat lebih akurat, mendetail dan lebih banyak.

Implikasi dalam penelitian ini dapat memperkaya pengetahuan mengenai keberadaan komunitas PUNK. Masyarakat dapat mengetahui dan

mengenal bagaimana keberadaan komunitas PUNK. Dan komunitas PUNK

sendiri dapat mengetahui bagaimana konsep-diri mereka menjadi anggota komunitas PUNK. Sehingga komunitas PUNK dapat memperbaharui keberadaan komunitas mereka, mungkin dengan melakukan hal-hal yang berguna dan lebih positif, tidak membuat kekacauan ataupun hal-hal negatif lainnya agar mengurangi persepsi yang negatif dari masyarakat.

BAB V

KESIMPULAN & SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian hubungan konsep-diri dengan identitas

PUNK, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep-diri memiliki hubungan yang signifikan dengan komponen identitas PUNK yaitu komponen cognitive

dan evaluative pada komunitas PUNK di kota Medan. Sedangkan komponen

emotional pada identitas PUNK tidak memiliki hubungan dengan konsep-diri individu.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti dapat memberikan saran agar penelitian ini dapat berguna bagi studi lanjutan mengenai konsep-diri dan identitas PUNK. Beberapa saran antara lain :

Dokumen terkait