• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Analisis Kegiatan Proses Pembelajaran Siklus II

4.4. Analisis Hasil Penelitian

4.4.4. Hasil wawancara

Hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan guru kelas pada akhir siklus II adalah sebagai berikut :

Sebelum kegiatan pembelajaran guru melakukan persiapan yaitu dengan menyiapkan materi yang akan diajarkan, Rpp dan alat peraga. Dalam kegiatan pembelajaran matematika biasanya siswa kurang antusias dan cenderung jenuh atau bosan hal tersebut ditunjukkan dengan siswa tidak pernah mengajukan pertanyaan tentang materi pelajaran matematika diluar pembelajaran matematika, akan tetapi setelah menggunakan metode simulasi pada pembelajaran matematika pokok bahasan uang siswa terlihat lebih antusias walaupun keadaan kelas menjadi lebih gaduh karena siswa lebih asik melakukan kegiatan simulasi.

67

Nilai rata-rata yang diperoleh siswa pada pokok bahasan uang adalah 49,75, hal tersebut disebabkan karena guru masih menggunakan metode konvensional dalam mengajar. Setelah menggunakan metode simulasi terjadi peningkatan terhadap nilai rata-rata siswa yaitu pada siklus I yaitu 70 dan pada siklus II 75,5.

Siswa lebih siap dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru pada pembelajaran matematika pokok bahasan uang dengan menggunakan metode simulasi dibandingkan pada saat menggunakan metode konvensional dan jawaban yang diberikan oleh siswa atas pertanyaan yang yang diajukan oleh guru tentang uang sesuai dengan yang diharapkan. Siswa terlihat sangat antusias dan merasa senang dalam proses pembelajaran karena mereka mempraktekkan secara langsung kegiatan pertukaran uang dan kegiatan jual beli.

Dalam rangka meningkatkan hasil belajar pelajaran matematika, guru juga memberikan PR kepada siswa, akan tetapi siswa lebih menyukai jika PR dikerjakan secara berkelompok dari pada individu, hal yang dilakukan guru apabila siswa tidak mengerjakan PR adalah memberikan sanksi berupa PR tambahan, hal tersebut dilakukan agar siswa tidak malas dan mengajarkan sikap disiplin serta bertanggung jawab.

Akan tetapi pembelajaran matematika tentang uang mengalami hambatan yaitu literatur yang tersedia hanya sebatas buku paket dan LKS sedangkan alat peraga yang menunjang pembelajaran belum ada contoh : uang mainan, CD pembelajajaran dan LCD. Pedoman wawancara guru dapat dilihat pada lampiran.

68 4.5. Pembahasan

Hasil observasi sebelum tindakan yang dilakukan di kelas III SDN Madyogondo 03 Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang Semester II Tahun pelajaran 2011/2012 ditemukan bahwa tingkat pemahaman siswa masih rendah, hal ini disebabkan siswa diberikan pemahaman tentang materi “Aritmatika Sosial” Pokok Bahasan “Uang” melalui metode ceramah saja yang dilakukan oleh guru, sehingga anak hanya berangan-angan belaka, tanpa memperlihatkan sesuatu atau hal yang nyata yang sering dialami oleh siswa. Proses pembelajaran sebelum tindakan menunjukkan bahwa siswa masih pasif, karena tidak diberi respon yang menantang. Siswa masih bekerja secara individual, tidak tampak kreatif siswa maupun gagasan yang muncul.

Siswa terlihat jenuh dan bosan tanpa gairah karena pembelajaran selalu monoton sehingga nilai rata-rata pelajaran Matematika rendah, khususnya pada materi aritmatika sosial pokok bahasan uang. Nilai rata-rata yang didapatkan siswa sebelum tindakan adalah 49,75. Siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM=60) hanya 7 siswa atau 35% sedangkan siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal sebanyak 13 siswa atau 65%. Nilai tertinggi yang berhasil di dapatkan oleh siswa sebelum tindakan adalah 80 sedangkan nilai terendahnya adalah 30.

Adanya perbandingan yang signifikan antara jumlah siswa yang tuntas dan tidak tuntas karena siswa yang sudah mencapai ketuntasan sudah dapat menangkap materi yang disajikan oleh guru walaupun hanya dengan ceramah saja, karena ke 7 siswa ini memang mempunyai daya tangkap yang lebih

69

dibandingkan teman-temannya yang lain walaupun hanya dengan mendengarkan saja, sedangkan 13 siswa yang lain belum bisa menangkap materi yang disajikan oleh guru hanya dengan ceramah saja karena daya tangkap mereka rendah jika hanya mendengarkan saja, sehingga diperlukan tindakan sesuai dengan usia anak sekolah dasar yang masih dalam tahapan operasional konkrit (7- 11 th). Siswa akan lebih paham bila siswa dapat melihat sesuatu yang konkrit atau nyata. Hoban dan Casberque (dalam Saputro, 2004: 140) menyebutkan penggunaan simulasi dalam pembelajaran, dapat memudahkan (1) belajar dan retensi hasil belajar, (2) transfer hasil belajar, (3) pemahaman siswa, (4) pembentukan sikap, dan (5) motivasi belajar.

Teori tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu terjadi peningkatan hasil belajar, memudahkan belajar, transfer hasil belajar, pemahan siswa, pembentukan sikap serta motivasi dalam belajar.

Hasil belajar Matematika dapat dilihat dari perolehan nilai pada siklus I dan siklus II yaitu :

1. Siklus I

Nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 70. 6 siswa (30%) belum tuntas dalam pembelajaran dan 14 siswa (70%) tuntas dalam pembelajaran.

2. Siklus II

Nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 75. 2 siswa (10%) belum tuntas dalam pembelajaran dan 18 siswa (90%) tuntas dalam pembelajaran.

Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hary Pangesti dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Siswa Materi Aritmatika

70

Sosial Dengan Menggunakan Simulasi Transaksi Jual Beli”. Bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar Matematika pada siswa kelas II di SD Sambiroto 04 Semarang Tahun 2004/2005”.

Untuk mengatasi rendahnya pemahaman belajar siswa maka diperlukan pembelajaran yang berorientasi pada keadaan yang sebenarnya salah satunya dengan menggunakan pembelajaran dengan metode simulasi. Berdasarkan perolehan nilai yang didapatkan pada siklus I dan siklus II didapatkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode simulasi dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi aritmatika sosial pokok bahasan uang kelas III SDN Madyogondo 03 Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang Tahun Pelajaran 2011/2012, karena pembelajaran dengan menggunakan metode simulasi siswa dapat belajar sesuatu yang konkrit atau nyata dan sarana alat peraga berupa uang mainan juga dapat menambah aspek kegembiraan dan kesenangan bagi siswa, karena siswa dapat belajar sambil bermain. Situasi ini mendukung efektivitas proses pembelajaran yaitu dengan langsung terlibat pada aktivitas (learning by doing) siswa akan lebih memahami dan mengerti tentang sesuatu yang siswa lakukan.

Dokumen terkait