• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Lampiran 6. Hasil Wawancara Asisten Apoteker

Question No.: 1.1 Apakah Anda mengetahui tentang Medication Error (ME)? Tolong jelaskan pengertian ME!

Response:

Respondent ID 1 : Kesalahan obat

Respondent ID 2 : Kesalahan yang kita (AA) lakukan. Kesalahan bukan karena disengaja karena ada faktor-faktor yang mempengaruhi seperti ramai dan kurangnya SDM.

Respondent ID 3 : Tahu. Kesalahan dalam pelayanan obat

Respondent ID 4 : Kesalahan obat

Respondent ID 5 :Tahu. Kesalahan dalam pengobatan

Respondent ID 6 : Kesalahan yang dibuat karena tidak memenuhi prosedur (kesalahan yang melakukan).

Question No.: 2.1 Sebutkan contoh ME yang pernah terjadi di RS ini dalam 6 bulan terakhir!

Response:

Respondent ID 1 : Ada. Contoh : salah nama pasien (nama depan sama, nama belakang beda. Obat yang diberikan tertukar. Kemudian dicari kembali dan ketahuan. Ibunya dipanggil lagi.) Mengambil obat dengan mg salah. Obat 200 mg tertukar dengan 100mg. Tapi kesalahan ini belum keluar sampai ke pasien (potensi).

Respondent ID 2 : Ada. Keliru nama. Nama hampir sama. Obat sudah dibawa pulang. Pasien A diberikan obat untuk pasien B. Terjadi pada bulan Juli awal. Pasien tidak bisa dilacak.

Respondent ID 3 : Ada tapi jarang.

Contoh : -Ada ibu mengembalikan pro lacta for mother seharusnya dia mendapatkan prolacta for baby (bentuknya berbeda).

-Obat tertinggal atau jumlahnya kurang. Biasanya ditangani apoteker jika tidak ada akan

ditangani AA

Respondent ID 4 : obat salah (mg salah), salah mengentry (tetapi tidak sampai ke pasien)

Respondent ID 5 : -Obat tertukar. Contoh : terjadi pada resep pagi, obat A diambil oleh

pasien B. A datang ingin mengambil obat A tapi tidak ada, yang ada adalah obat B. Ibu yang A dibuatkan obat yang baru. Sedangkan yang B tidak bisa dilacak tapi tetap disiapkan obat untuk B tapi tidak diambil.

- Salah bentuk sediaan . Contoh : obat puyer dibuat kapsul diserahkan ke pasien tapi sudah menjelaskan ke pasien.

Respondent ID 6 : Kesalahan dalam memberi harga dan kesalahan membaca obat (tidak sampai ke tangan pasien). Obat tertukar. Obat salep A diberikan pasien B. Pasien sadar karena namanya berbeda. Pasien A menelepon Bethesda. Pengatasan yang dilakukan adalah membuatkan obat A lagi lalu diantarkan ke A kemudian mencari obat A yang sudah diserahkan ke B.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 6. Hasil Wawancara Asisten Apoteker

Question No.: 2.2 Apakah selama ini ada komplain dari pasien mengenai ME yang terjadi?

Response:

Respondent ID 1 : Ada. Kebanyakan pasien tidak marah, malah kadang-kadang obat yang kurang diingatkan oleh pasien.

Respondent ID 2 : Tidak tahu

Respondent ID 3 : Mungkin. Tetapi ibu yang mengembalikan tidak marah

Respondent ID 4 : mg salah. Pasien dikejar untuk membenarkan kesalahan

Respondent ID 5 : Belum pernah.

Respondent ID 6 : Komplain dari rawat inap. Obat tertukar sudah diminum 1.Pasien sadar. Perawat tahu ketika menuliskan resep putih ke kartu kuning. Lalu dibetulkan (obat ditukar). Pasien dari dokter anak pernah mengalami ME tetapi tidak tahu pasti.

Question No.: 2.3 Apakah pernah terjadi ME yang berakibat fatal?

Response:

Respondent ID 1 : Tidak ada

Respondent ID 2 : Ada karena salah dosis

Respondent ID 3 : tidak ada

Respondent ID 4 : Pernah. Pasien sakit parah diberi obat. Entah karena obatnya atau bukan tetapi pasien bertambah parah kemudian opname. Obatnya dextiome.

Respondent ID 5 : Belum pernah.

Respondent ID 6 : Tidak ada

Question No.: 2.4 Apakah selama ini ada kesalahan dalam hal pembacaan resep? Dalam hal apa sajakah? Berikan contohnya!

Response:

Respondent ID 1 : Pernah. mg, nama obat dan jumlah obat

Respondent ID 2 : sering. Karena tidak jelas di bagian nama obat dan nominal (misal : berapa mg)

Respondent ID 3 : Ada. jumlah obatnya, dokter menulis mencurigakan sehingga kemudian menghubungi dokter, dan mg (tapi jarang terjadi)

Respondent ID 4 : Pernah salah baca. Pada bagian nama obat (Flagil dan Flagistatin). Pada bagian jumlah obat dan kekuatan (mg) kurang jelas

Respondent ID 5 : -Pernah membaca resep salah. Contoh : salah membaca obat dan salah mengambil obat (primperan com diberi primperan). Sudah diminum 1. -Dari dokter anak, kesalahan signa, daktarin oral gel 3 x1 cth padahal seharusnya dioleskan 3x sehari. AA menelpon ke dokter dan ternyata dioleskan 3x sehari . Obat belum sampai ke tangan pasien.

-Rifampisin dan pehadoxin dengan signa 1x1pagi dan histrin cobazym dengan signa 1x1sore. ditulis pagi dan pagi kemudian diteleponkan dokter

-Dokter THT , tulisannya sulit dibaca , ditelepon menjawab lupa - dokter anak pernah ada tulisannya tidak jelas tetapi mau menjelaskan

Lampiran 6. Hasil Wawancara Asisten Apoteker

Respondent ID 6 : Sering. Dalam hal nama obat, mg (contoh: Qten ada 2 macam biasa dan 100mg).

Question No.: 2.5 Pernahkah ada kesalahan dalam pengambilan obat? Sebutkan contohnya!

Response:

Respondent ID 1 : Pernah. Contoh : Celebrex 200 mg diambilkan Celebrex 100mg

Respondent ID 2 : Pernah. Contoh : pengambilan obat yang salah karena letaknya berdekatan dan terburu-buru

Respondent ID 3 : Pernah. Obat mirip. Ada yang mengembalikan salah tempat. Jadi yang mengambil salah.

Respondent ID 4 : Pernah karena jarak letak obat dekat sehingga bisa tertukar

Respondent ID 5 : Pernah. Primperan com diambilkan primperan

Respondent ID 6 : Pernah tetapi tidak sampai ke tangan pasien. Ketahuan di pemeriksaan ulang. (Qten 100mg diberi Qten biasa) tertukar. Ketika akan menyerahkan ketahuan salah, lalu dibetulkan. Medixon (5) dan metil prednisolon (10) tertukar.

Question No.: 2.6 Pernahkah ada kesalahan dalam penyerahan obat? Berikan contohnya!

Response:

Respondent ID 1 : Pernah. Contoh : Nama aneh sehingga salah memanggil. Pernah labelnya salah.

Respondent ID 2 : Pernah. Nama yang dipanggil tidak salah tetapi orang yang mengambil beda. Salah berbicara, seharusnya 1x1

Respondent ID 3 : Salah memanggil sehingga tidak ada yang maju. Label 1x1 dibaca 2x1 pernah

Respondent ID 4 : Pernah . Salah memanggil nama.

Respondent ID 5 : Pernah.

Contoh: -Kapsul diracik, dibutuhkan kapsul besar sekali, kemudian dibagi 2, yang meracik lupa memberi tahu.Di resep ditulis 3x1 dengan jumlah obat 30. Tapi AA menyadari karena obat banyak sekali kemudian dijelaskan ke pasien bahwa minumnya 3x2.

- Salah memanggil nama orang. Ibu Suprihatin ada 2 lembar resep hanya diberi harga 1 lembar yang satu lembar belum dihargai. Kemudian ada resep Ibu Suprihati dari dokter lain.

Respondent ID 6 : Nama tidak pernah salah

Question No.: 3.1 Menurut Anda apa sajakah penyebab terjadinya ME dalam pelayananan resep?

Response:

Respondent ID 1 : terlalu tergesa-gesa, kurang teliti, lelah, ramai, dan tulisan dokter

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 6. Hasil Wawancara Asisten Apoteker

Respondent ID 2 : SDM kurang, keadaan ramai sehingga terburu-buru.

Respondent ID 3 : ramai dan human error

Respondent ID 4 : Tulisan dokter tidak jelas dan AA sedang lelah, sakit dan lengah.

Respondent ID 5 : Tulisan dokter sulit dibaca, tulisan dokter tidak jelas. Pernah ada dari dokter kulit, bahan A dan B tidak bisa bercampur (pecah).

Respondent ID 6 : kurang konsentrasi (resep dokter yang dibaca bila tidak konsentrasi bisa salah seperti yekaflu dan yekapon) dan tergesa-gesa karena ramai dan ditunggu.

Question No.: 3.2 Menurut Anda pada bagian kerja pembaca resep manakah yang paling berpotensial menyebabkan medication error? Mengapa?

Response:

Respondent ID 1 : Pada saat penyerahan obat karena pada saat penyerahan obat itu mencakup semua proses yang telah dilakukan.

Respondent ID 2 : Penyerahan obat. Penyerahan merupakan yang akhir karena dari awal, proses dilakukan banyak orang. Etiket paling sering dilihat.

Respondent ID 3 : Yang menghargai (bagian validasi) salah. Karena validasi merupakan awal. ia harus tahu keseluruhan. Jika validasi salah, bagian etiket belum tentu tahu.

Respondent ID 4 : Bagian entry karena yang pertama kali membaca. Jika salah dan tidak bertanya kesalahan akan bisa sampai belakang. Karena yang meracik kadang-kadang tidak memeriksa lagi.

Respondent ID 5 : Yang meracik dan yang mengambilkan obat. Kalau racikan, jika ramai tidak sempat dicek ulang. Jika mengambil kadang tertukar yang atqas dan yang bawah. Harus ada kalkulator saat meracik untuk mengecek kerja computer.

Respondent ID 6 : Pemberian harga(validasi) karena merupakan titik awal dari segalanya. Jika validasi salah, pelabelan juga bisa ikut salah, pengambilan obat hanya melihat label sehingga bisa salah. Ketahuan ketika dicek ulang.

Question No.: 3.3 Apakah selama ini sering terdapat banyak penulisan resep yang tidak jelas? Pada bagian mana (singkatan, nama obat, angka, desimal, atau satuan)?

Response:

Respondent ID 1 : Ada. dari dokter THT (jika ditelepon dijawab lupa) Jika dari dokter anak, tidak ada.

Respondent ID 2 : ya

Respondent ID 3 : Sering. bagian jumlah obat, mg (jarang)

Respondent ID 4 : Nama obat, jumlah, dan mg

Respondent ID 5 : Ada. Bagian nama obat, mg/ desimal (ofloxasin 500 mg padahal yang tersedia 400 mg), obat-obat baru (tulisannya tidak jelas), obat dicopi resep, pasien mencari keman-mana tidak mendapatkan obatnya. kembali lagi ke RS dan akhirnya obatnya diganti.

Lampiran 6. Hasil Wawancara Asisten Apoteker Respondent ID 6 : Nama obat

Question No.: 3.4 Apakah penulisan dokter yang buruk dapat menjadi penyebab timbulnya ME? Apakah pernah terjadi di RS ini?

Response:

Respondent ID 1 : Ya. Dari dokter anak tidak ada.

Respondent ID 2 : dapat. Dokter dihubungi, tetapi dokter lupa menulis apa. Pada dokter anak jarang terjadi.

Respondent ID 3 : bisa

Respondent ID 4 : Ya. Kadang-kadang dokter salah tulis

Respondent ID 5 : mempengaruhi

Respondent ID 6 : Ya

Question No.: 3.5 Menurut Anda apakah resep yang diserahkan selama ini sudah cukup lengkap?

Response:

Respondent ID 1 : Tidak. Sering tidak ada nama pasien (jika tidak ada label) dan kurang signa

Respondent ID 2 : Resep belum cukup lengkap. kurang tanggal, paraf, mg → dosis (jarang terjadi), dan nama dokter

Respondent ID 3 : Tidak lengkap. Kurang tanggal, jumlah obat dan mg (jarang)

Respondent ID 4 : Kadang-kadang lengkap. kadang-kadang tidak. Mg tidak jelas, nama pasien juga tidak jelas dan tidak ditempeli stiker.

Respondent ID 5 : Pernah tidak lengkap. Sekarang sedang digalakkan pencantuman nomor telepon pasien. Kurang tanggal (pada dokter anak), stiker kadang tidak valid (umur tidak tepat), ditulis nona padahal sedang hamil.

Respondent ID 6 : Nomor rekam medik tidak semuanya ada. Jadi ketika akan memasukkan data harus meminjam kuitansi atau kartu periksa.

Question No.: 3.6 Menurut Anda, informasi apa sajakah yang harus diberikan pada saat penyerahan obat?

Response:

Respondent ID 1 : Aturan pakai, cara penyimpanan, dan terima kasih

Respondent ID 2 : Aturan minum (tidak diminum bersamaan), tempat penyimpanan, cara pakai

Respondent ID 3 : Cara minum (sebelum makan atau sesudah makan), jam-jam minum (seperti obat antivirus), jenis obat (misal : obat panas, obat antibiotik), cara pakai obat

Respondent ID 4 : Aturan minum, cara minum/ cara makan, kegunaan, keterangan

misalnya bila perlu (prn) → bila pasien bertanya

Respondent ID 5 : Cara minum obat (diminum, dioleskan, diteteskan), aturan minum, cara pakai, jika pasien bertanya menjawab pertanyaan pasien.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 6. Hasil Wawancara Asisten Apoteker

Respondent ID 6 : Obat ada berapa item, jenis obat (antibiotik), aturan minum (jam 6.00 dan 14.00, tiap 8 jam), fungsi obat(analgetik) jika perlu saja, simpan di lemari es (jangan di freezer), sirup yang sudah dioplos diberitahu kalau sudah dioplos, jika sirup ada 2 botol (sama obatnya) diberitahu dihabiskan dulu salah satu.

Question No.: 3.7 Ada target waktu yang harus dicapai dalam pelayanan resep. Apakah waktu tersebut sudah dirasa cukup?

Response:

Respondent ID 1 : Target waktu cukup asal SDM memadai. Pada kenyataannya SDM kurang memadai.

Respondent ID 2 : Target waktu untuk racikan 45 menit, nonracikan 15 menit. Jika hanya satu resep yang masuk, target waktu tersebut cukup tetapi bila masuknya ramai-ramai (bersamaan) tidak cukup.

Respondent ID 3 : Tidak membuat tertekan. Bekerja secepatnya. Masalahnya dokter praktek bersamaan sehingga kesannya lama.

Respondent ID 4 : Target waktu bukan beban, yang penting pasien cepat dapat obat. Target waktu kadang tidak cukup , jika 2 lembar resep walaupun obat paten tetap tidak cukup.

Respondent ID 5 : Target waktu dirasa cukup jika SDM mencukupi tapi untuk farmasi timur atas tidak cukup target waktunya. Di atas banyak racikan, AA kurang, reseptir cukup. Adanya target waktu tidak mempengaruhi. Jalan sesuai kenyataan (jika ditanya pasien berapa lama, jika ramai menjawab sesuai keadaan). racikan banyak yang antri dan kerja harus sesuai prosedur.

Respondent ID 6 : Target waktu sudah cukup. Target waktu tidak membuat buru- buru. Untuk 1 resep 15 menit cukup. tapi bila menumpuk akan ada jeda waktu sehingga lebih lama. Jeda waktu yang membuat lama.

Question No.: 3.8 Apakah banyaknya pasien dan tekanan dalam pekerjaan dapat menyebabkan timbulnya ME?

Response:

Respondent ID 1 : Patokan waktu membuat terburu-buru. Jika ramai, membuat bingung sehingga dapat terjadi ME.

Respondent ID 2 : Ya. kurang SDM, kondisi AA lelah, dan terburu-buru dapat berpotensi ME

Respondent ID 3 : Berpotensi. Jika ramai, sedangkan orang kurang.

Respondent ID 4 : Tidak

Respondent ID 5 : Ya, jika ramai pasien terburu-buru, mengganggu konsentrasi

Respondent ID 6 : Ya. Jika ramai dan tidak ada teman apalagi pasien bertanya- tanya

terus, membuat pusing.

Question No.: 4.1 Upaya apa sajakah yang selama ini telah dilakukan RS Bethesda dalam mencegah terjadinya ME?

Lampiran 6. Hasil Wawancara Asisten Apoteker Response:

Respondent ID 1 : Pengecekan ulang dan ketelitian

Respondent ID 2 : Lebih hati-hati, yang mengontrol dan menyerahkan berbeda petugas

Respondent ID 3 : Satu resep tidak hanya dilayani satu orang, 1 resep dilayani 5 orang

(validasi, label, pengambilan obat, cek ulang, penyerahan) untuk mencegah ME.

Respondent ID 4 : Saling memeriksa. Ada pemberitahuan ke pasien melalui spanduk dan kantong plastic untuk mengecek ulang obat dan etiket.

Respondent ID 5 : - ada cek ulang

- cek dan ricek (tapi di atas kurang orang sehingga tidak mungkin cek dan ricek, takut mengganggu konsentrasi yang lain)

-BO3 memberi motivasi untuk diri sendiri

-meletakkan sususan obat yang mirip agak dijauhkan

Respondent ID 6 : dibuat prosedur, di farmasi dibuat protap. Menjalani protap dapat menghindari ME. Protap = menerima resep , mencap, menulis jam, entry, membaca satu per satu.

Question No.: 4.2 Bagaimana tindakan Anda bila terjadi kesalahan penulisan resep, tulisan tidak jelas, tidak terbaca, dan resep tidak lengkap?

Response:

Respondent ID 1 : 1. bertanya ke yang lebih senior, atau ke beberapa orang 2. bertanya ke apoteker

3. bertanya ke dokter (telepon)

4. Jika dokter tidak bisa dihubungi, telepon ke hp dokter

Respondent ID 2 : 1.bertanya kepada sesama AA

2. menghubungi dokter. Jika dokter lupa atau tidak bisa dihubungi, resep ditunda, meminta nomor telepon pasien untuk dihubungi lagi

Respondent ID 3 : Bertanya ke teman (AA), jika tidak bisa bertanya ke apoteker, jika tidak tahu bertanya kepada dokter. Jika dokter tidak bisa dihubungi melihat status (rekam medik).

Respondent ID 4 : 1.bertanya kepada teman, 2.menelepon ke dokter (ke hp), 3.bertanya ke pasien atau melihat status

Respondent ID 5 : -tanya ke teman-teman (AA) jika signa atau obat tidak jelas -ke klinik (kalu bisa diselesaikan melalui perawat (misal : jika tidak ada no rekam medik atau stiker, nama pasien tidak jelasa dan nama pasien susah)

-Signa tidak jelas bertanya ke dokter (misal 1/2 dan 1 1/2) -di bawah bisa bertanya apoteker sedangkan di atas tidak

Respondent ID 6 : 1. tanya kepada teman-teman (AA) 2. tanya KSP / kalahar (kepala pelaksana harian)

3. bertanya ke dokter. Jika dokter tidak ada, pinjam status. Jika tidak terbaca tetap menunggu dokter. Pasien diberitahu untuk menunggu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 6. Hasil Wawancara Asisten Apoteker

Question No.: 4.3 Apakah selama ini Anda mengalami masalah dalam upaya pencegahan ME tersebut?

Response:

Respondent ID 1 : Ada. dalam memeriksa dari entry (pengetikan di komputer) sampai mengambilkan obat. Misal : 10 dientry 12

Respondent ID 2 : Ada. kurangnya SDM dan dokter susah dihubungi

Respondent ID 3 : Jika malam hanya ada 2 petugas. Dokter tidak dapat dihubungi atau lupa sehingga harus ke klinik.

Respondent ID 4 : Sering. Dokter lupa sehingga harus ke klinik bertanya kepada dokter. Pada dokter anak tidak pernah

Respondent ID 5 : Ada. Copi resep (ketika mondok askeskin, obatnya adalah amino steril 6 %, pasiennya harus membeli sendiri, nama dokter di copi resep salah tertulis dr. Hari. Menelepon dokter tidak bisa. menelepon apotek luar RS tetapi tidak ada yang mengangkat.Kemudian ditelepon dari pusat nama dokternya adalah Hendro W. Dokter ditelepon akhirnya obatnya diganti panamin G.

Respondent ID 6 : Tidak ada. Selama ini tidak ada masalah dengan dokter. Tipe salah seorang dokter anak, obatnya tidak mau diganti.

Question No.: 5.1 Bagaimana cara Anda mengatasi ME yang telah terjadi?

Response:

Respondent ID 1 : Lapor apoteker supaya tahu. Kemudian menelepon pasien dan memberi tahu yang benar (jika bisa dilakukan AA, dilakukan oleh AA)

Respondent ID 2 : 1. konsultasi ke apoteker sebagai langkah awal 2. telepon dokter

3. telepon pasien

Respondent ID 3 : Pasien biasanya ditelepon oleh apoteker, kalau apoteker tidak ada dilakukan oleh AA. Jika AA yang salah, obat akan diantar ke pasien

Respondent ID 4 : Pasien sakit parah karena farmasi salah memberi obat. Obat dihentikan dokter diganti dengan obat lain.

Respondent ID 5 : - Mencari no telp melalui RM lalu telepon ke pasien. tanya pasien bisa ke Bethesda lagi tidak, memberi tahu bila ada obat yang kurang atau salah.

- Jika tidak berat sekali masalahnya ditangani sendiri. Contoh : pasien mendapat 2 resep, yang satu sudah selesai dilayani yang lain belum, masih menunggu. Yang sudah selesai sudah diberikan, ketika resep yang tersisa tadi diberikan pasien sudah tidak ada. Pasien ditelepon diberitahu tetapi ternyata yang menerima telepon adalah temannya. Jadi hanya dititipi pesan. Jika fatal seperti kekurangan Clavamox,harus apoteker sendiri yang

mengatasi.

- Kalau tidak ada apoteker, AA yang mengatasi tapi kalau apoteker ada akan lebih enak

Respondent ID 6 : Jika salah obat, pasien diberitahu obatnya jangan diminum. Mencari resep, obat dibetulkan, lapor KSP/ kalahar. Jika pasien tidak marah

Lampiran 6. Hasil Wawancara Asisten Apoteker

diselesaikan sendiri. tapi jika pasien marah dan obat fatal, diselesaikan KSP/kalahar (jika timbul masalah besar)

Question No.: 5.2 Apakah Anda mengalami masalah selama usaha pengatasan tersebut?

Response:

Respondent ID 1 : Ada tapi pasien tidak sangat marah

Respondent ID 2 : -pasien marah

-pada resep tertulis 10 sedangkan obat hanya ada 5. Padahal sudah dibuat kuitansi dengan jumlah obat 10. Pasien marah jika pasien mau, kuitansi diganti atau obat dipesankan. Kadang obat yang dipesankan dapat diantarkan ke pasien atau pasien akan ditelepon dari pihak RS (jika bisa AA maka AA yang akan menelepon) untuk mengambil kekurangan obat.

Respondent ID 3 : Obat tidak ada, kemudian memesan obat, obat tidak datang- datang. Jadi pasien menelpon obatnya tidak datang.

Respondent ID 4 : Jarang ada pasien yang marah-marah

Respondent ID 5 : Pernah komunikasi dengan dokter kurang baik.Jadi menyalahkandan marah-marah. Dogmatil tab 6 (2x1/2) diambilkan yang biasa bukan yang forte bentuk kapsul. AA bertanya kepada dokter bahwa yang diberikan dogmatil tab tapi dokter berkata dogmatil forte.

Respondent ID 6 : Tidak, jika sudah lapor mengikuti petunjuk atasan.

Question No.: 6.1 Menurut Anda, upaya perbaikan apa sajakah yang perlu dilakukan dalam usaha pencegahan dan pengatasan ME?

Response :

Respondent ID 1 : -program yang ada di komputer dibuat lebih cepat (kemajuan teknologi)

- SDM yang ada dilatih untuk peningkatan pelayanan dan ditambah SDM baru

Respondent ID 2 : SDM diperbanyak, jadwal dokter tidak dibuat bersamaan terutama yang banyak obat racikan, pemberian tugas khusus bagi setiap orang (seperti ada petugas di bagian etiket, racikan), dan jika sore ada AA senior supaya ada yang bertanggung jawab

Respondent ID 3 : lebih teliti, sesuai dengan BO3 (baca obat ketika mengambil, meletakkan, dan mengembalikan) membaca resep ketika melayani bertanya ke teman (AA) atau apoteker jika tidak tahu.

Respondent ID 4 : menambah komputer, saling waspada diri, kalau kurang jelas bertanya kepada yang lain.

Respondent ID 5 : Apoteker selalu standby dan mudah dihubungi. Terkadang jaga sore atau hari libur tidak ada apoteker sehingga bingung bila menemui masalah tidak ada yang memberi pertimbangan. Fasilitas ditingkatkan , misal: telepon langsung ke luar karena menelpon lewat operator lama.

Respondent ID 6 : Sistem komputer diperbaiki. Sering barang ada tetapi di system tidak ada sehingga salah memberi harga. Dibuat online dari rekam medis

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 6. Hasil Wawancara Asisten Apoteker

dan farmasi sehingga bias langsung tahu data semua pasien (mempercepat pelayanan).

Question No.: 6.2 Menurut Anda, sumbangan apa saja yang telah Anda lakukan untuk menunjang pencegahan dan pengatasan ME?

Response:

Respondent ID 1 : lebih bekerja keras dan punya kepribadian

Respondent ID 2 : Pelayanan semaksimal mungkin. Resep racikan didahulukan obat/ resep dari klinik diambilkan dahulu obatnya sehingga pelayanan lebih cepat.

Respondent ID 3 : Melayani harus sebaik-baiknya. Melayani harus dengan sukacita (senang melakukannya) sehingga pekerjaan menjadi lebih baik

Respondent ID 4 : membaca lebih jelas dan kerja yang maksimal

Respondent ID 5 : lebih meningkatkan konsentrasi, lebih teliti, jika melayani obat racikan harus konsentrasi tidak mau diganggu. Mengkalkulator ulang atau cek ulang untuk obat racikan. cek sendiri sampai 2x apalagi untuk anak dan yang diminum.

Respondent ID 6 : Konsentrasi saat sedang bekerja, bekerja dengan hati-hati, berusaha ketika sedang bekerja mengesampingkan urusan yang lain, dan melakukan cek dan ricek dengan teman.

Dokumen terkait