• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

4. Hasil wawancara dengan guru

kadang sulit dipahami (banyak materi hafalan, materi bersifat abstrak, banyak nama ilmiah).

b. 90% responden menyatakan mengalami kesulitan dalam belajar IPA Biologi selama ini. Beberapa diantaranya kesulitan pada penggunaan nama ilmiah dan istilah asing, sedangkan responden lain menyatakan kesulitan pada materi pewarisan sifat (perhitungan) dan materi sistem organ (abstrak).

c. 90% responden menggunakan metode membaca, hafalan dan pemahaman untuk mempelajari nama ilmiah, istilah asing, materi yang bersifat abstrak, dan materi yang berkaitan dengan perhitungan.

d. Dalam menerima materi IPA Biologi yang disampaikan oleh guru, mereka menyatakan terkadang mudah diterima yaitu pada materi-materi tertentu karena menggunakan metode dan media yang menarik (praktikum, pengamatan langsung di alam) dan terkadang sulit diterima (memahami materi yang bersifat abstrak hanya melalui metode ceramah, melakukan perhitungan pada materi pewarisan sifat)

e. 70% responden mengatur waktu belajar mereka yaitu waktu malam hari (di rumah) dan ketika ada pelajaran IPA Biologi di sekolah.

4. Hasil wawancara dengan guru

Wawancara dilakukan untuk mengetahui kesulitan siswa dalam mempelajari IPA Biologi. Pertanyaan dalam wawancara meliputi kendala yang dihadapi guru dalam pembelajarn IPA Biologi, hubungan guru dengan siswa, metode dan media pembelajaran yang digunakan, sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran IPA Biologi, serta ranah penilaian yang dilakukan oleh guru IPA Biologi.

Dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap guru IPA, dinyatakan bahwa kesulitan siswa dalam pembelajaran karena input siswa rendah, kurang konsentrasi dan pasif dalam KBM sehingga siswa sulit dalam memahami materi IPA Biologi. Hubungan guru selama ini bersifat seperti teman (asah, asih dan asuh). Metode yang digunakan oleh guru yaitu metode kooperatif dengan media sebagai mediator untuk pemahaman, misalnya: charta dan torso. Guru melakukan 3 ranah penilaian, yaitu afektif, kognitif, dan psikomotorik. Selain itu, guru juga memanfaatkan LKS, buku paket, lingkungan, dan spesimen sebagai sumber belajar IPA Biologi. Sarana dan prasarana cukup memadai untuk menunjang pembelajaran IPA Biologi selama ini. Kemudian guru juga menyatakan faktor yang mempengaruhi pembelajaran IPA Biologi yaitu meliputi media dan metode pembelajaran, serta sarana dan prasarana.

B. Pembahasan

Pada penelitian ini, tes identifikasi dilakukan dalam 3 tahap dengan tujuan untuk mendapatkan data yang lebih valid dan akurat. Skor dari ketiga tahap dijumlahkan berdasarkan jenis soal , yaitu 15 soal tentang penulisan nama ilmiah, 30 soal tentang penggunaan istilah asing, 15 soal tentang materi yang berkaitan dengan perhitungan, dan 15 soal uraian tentang konsep/materi yang bersifat abstrak. Hal ini dilakukan untuk memudahkan perhitungan dalam tabulasi data hasil tes. Kesulitan-kesulitan yang sering dihadapi siswa SMP dalam mempelajari IPA Biologi, antara lain kesulitan dalam memahami konsep-konsep Biologi, kesulitan dalam membaca kalimat dan istilah asing serta kesulitan dalam

48

menggunakan alat-alat percobaan/praktikum Biologi. Hal ini juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun eksternal dari siswa (Habiburrahman 1990). Siswa masih mengalami kesulitan dalam belajar IPA Biologi terutama pada penulisan nama ilmiah, pemahaman konsep/materi yang bersifat abstrak, penggunaan istilah asing serta materi yang berkaitan dengan perhitungan (materi tentang pewarisan sifat).

a)Kesulitan dalam penulisan nama ilmiah.

Sebanyak 25 dari 28 siswa mengalami kesulitan dalam penulisan nama ilmiah, karena perolehan nilai <65. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa yang mengalami kesulitan, sebagian besar dari mereka masih mengalami kesulitan dalam hal penulisan nama ilmiah karena mereka masih menggunakan metode hafalan saat belajar, bukan memahami dengan membiasakan membaca dan mengulang-ulang. Selain itu, penyebab kesulitan dalam hal penulisan nama ilmiah diantaranya: (1) pengejaan, (2) beda antara tulisan dengan bacaan, (3) jarang menggunakan dan (4) tidak memahami maknanya (riwayat/asal mula nama ilmiah). Ketepatan penerapan strategi serta penggunaan media juga sangat berpengaruh terhadap pemahaman siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPA Biologi, selama ini guru hanya menerapkan metode kooperatif dengan memanfaatkan media yang ada (buku, charta dan torso). Dalam hal penulisan nama ilmiah, perlu diterapkan strategi yang mampu meningkatkan hasil belajar dan kreativitas siswa, misalnya saat pembelajaran guru dan siswa membiasakan mengucapkan atau mencatat nama ilmiah, menjelaskan histori dari nama ilmiah (misalnya alba = putih).

Pada pengisian angket, 12 dari 25 siswa ini menyatakan merasa kesulitan dalam penulisan nama ilmiah, sedangkan 13 siswa yang lain merasa tidak mengalami kesulitan, tetapi pada kenyataannya nilai yang mereka peroleh <65 (belum tuntas). Hal ini menunjukan 13 siswa yang berkesulitan belajar ini belum mampu mengenali jenis kesulitan belajar mereka, terutama pada materi IPA Biologi, sehingga perlu penanganan khusus dari guru IPA Biologi yaitu dengan melakukan pengajaran remedial dan konseling individual dari guru BK.

b)Kesulitan dalam penggunaan istilah asing.

Sebanyak 22 dari 28 siswa mengalami kesulitan penggunaan istilah asing dalam ilmu Biologi, karena perolehan nilai <65. Pada pengisian angket, 14 dari 22 siswa ini menyatakan merasa kesulitan dalam penggunaan istilah asing. 8 siswa yang lain merasa tidak mengalami kesulitan, tetapi pada kenyataannya nilai yang mereka peroleh <65 (belum tuntas). Hal ini menunjukan 8 siswa yang berkesulitan belajar ini belum mampu mengenali jenis kesulitan belajar mereka, terutama pada materi IPA Biologi, sehingga perlu penanganan khusus dari guru IPA yaitu dengan melakukan pengajaran remedial dan konseling individual dari guru BK.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa yang mengalami kesulitan, sebagian besar dari mereka masih mengalami kesulitan dalam hal penggunaan istilah asing karena mereka masih menggunakan metode hafalan saat belajar, bukan memahami dengan membiasakan membaca dan mengulang-ulang. Kesulitan dalam penggunaan istilah asing meliputi: (1) pengertian/makna istilah tersebut, (2) ejaan dan tulisan dari bahasa asing. Ketepatan penerapan strategi serta penggunaan media juga sangat berpengaruh terhadap pemahaman siswa.

50

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPA Biologi, selama ini guru hanya menerapkan metode kooperatif dengan memanfaatkan media yang ada (buku, charta dan torso). Dalam hal penggunaan istilah asing dalam ilmu Biologi, perlu diterapkan strategi yang mampu meningkatkan hasil belajar dan kreativitas siswa, misalnya saat pembelajaran guru dan siswa membiasakan mengucapkan atau mencatat istilah asing, menjelaskan histori dari istilah asing, Penggunaan kamus Biologi juga sangat penting untuk mengurangi kesulitan siswa dalam penggunaan istilah asing.

c) Kesulitan dalam hal materi yang berkaitan dengan perhitungan.

Data penelitian yang diperoleh (Tabel 13) menunjukkan dari 28 siswa, sebanyak 26 siswa mengalami kesulitan dalam hal materi yang berkaitan dengan perhitungan, yaitu materi pewarisan sifat. Pada pengisian angket, 2 dari 26 siswa ini menyatakan mengalami kesulitan dalam hal yang berkaitan dengan perhitungan, sedangkan 24 siswa yang lain merasa tidak mengalami kesulitan, tetapi pada kenyataannya nilai yang mereka peroleh <65 (belum tuntas). Hal ini menunjukan 24 siswa yang berkesulitan belajar ini belum mampu mengenali jenis kesulitan belajar mereka, terutama pada materi IPA Biologi, sehingga perlu penanganan khusus dari guru IPA Biologi yaitu dengan melakukan pengajaran remedial dan konseling individual dari guru BK.

Kesulitan siswa disebabkan karena materi pewarisan sifat selain membutuhkan pemahaman, juga ketelitian dan ketepatan dalam menentukan hasil persilangan. Terdapat anggapan bahwa ilmu Biologi tidak identik dengan perhitungan, sehingga ketika siswa dihadapkan pada materi yang berkaitan

dengan perhitungan, siswa akan merasa kesulitan. Dalam hal ini, berdasarkan rata-rata nilai ulangan harian, 28 siswa ini hanya mengalami kesulitan pada pelajaran IPA Biologi saja, tidak mengalami kesulitan pada pelajaran Matematika karena nilai Matematika mereka sudah tuntas (>65). Hal ini menunjukkan kemampuan berhitung mereka tidak lemah.

Berdasarkan hasil wawancara, siswa belum mempunyai metode belajar untuk mengatasi kesulitan perhitungan pada materi pewarisan sifat, sehingga diperlukan strategi pembelajaran untuk mengatasi kesulitan perhitungan pada materi pewarisan sifat diantaranya dengan menggunakan diagram garpu atau diagram papan catur untuk menyelesaikan soal-soal perhitungan pada materi pewarisan sifat.

d)Kesulitan pada konsep/materi yang bersifat abstrak.

Data penelitian yang diperoleh (Tabel 14) menunjukkan sebanyak 25 dari 28 siswa mengalami kesulitan dalam hal pemahaman konsep/materi yang bersifat abstrak. Pada pengisian angket, 4 dari 25 siswa ini menyatakan merasa kesulitan pada konsep/materi yang bersifat abstrak, sedangkan 21 siswa yang lain merasa tidak mengalami kesulitan, tetapi pada kenyataannya nilai yang mereka peroleh <65 (belum tuntas). Hal ini menunjukan 21 siswa yang berkesulitan belajar ini belum mampu mengenali jenis kesulitan belajar mereka, terutama pada materi IPA Biologi, sehingga perlu penanganan khusus dari guru IPA Biologi yaitu dengan melakukan pengajaran remedial dan konseling individual dari guru BK.

Berdasarkan hasil wawancara, siswa menyatakan mengalami kesulitan pada materi-materi tentang sistem dalam kehidupan manusia (materi abstrak), mereka

52

kesulitan dalam menjelaskan suatu proses/ keadaan pada konsep Biologi. Selain itu, bentuk soal uraian juga membutuhkan keterampilan untuk menjelaskan jawaban secara sistematis. Dalam hal pemahaman materi/konsep abstrak, penggunaan media sangat penting, karena media mampu mengkonkretkan materi yang bersifat abstrak, misalnya penggunaan CD interaktif, kit percobaan, torso, dan sebagainya.

Dalam hal penulisan nama ilmiah, penggunaan istilah asing, materi yang berkaitan dengan perhitungan, dan materi/konsep yang bersifat abstrak secara berturut-turut sebanyak 3, 4, 2, dan 3 dari 28 memperoleh nilai >65. Secara akademik, siswa tersebut memiliki kemampuan yang lebih, hal ini ditandai dengan perolehan nilai >65 setelah diadakan tes identifikasi, tetapi selama ini nilai rata-rata ulangan harian IPA Biologi mereka tergolong rendah (<65). Kondisi ini menunjukkan bahwa siswa tersebut mengalami kesulitan belajar karena pada dasarnya mereka mempunyai kemampuan di atas normal, tetapi prestasinya tergolong rendah. Kesulitan belajar bukan hanya merupakan masalah instruksional atau paedagogis saja, tetapi pada dasarnya merupakan masalah psikologis. Dikatakan demikian karena karena kesulitan belajar berakar pada aspek-aspek psikologi terutama gangguan kepribadian dan penyesuaian diri. Hal ini sesuai dengan pendapat Rosyidan (1998) dalam Mulyadi (2008), bahwa siswa yang memiliki tingkat potensi intelektual di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah (under achifier) dikatakan mengalami kesulitan belajar.

Berdasarkan hasil wawancara, 80% siswa menyatakan menyukai pelajaran IPA Biologi, tetapi mereka masih mengalami kesulitan pada beberapa materi

tertentu, sehingga hasil belajar mereka rendah. Hal ini menunjukkan faktor minat kurang berpengaruh terhadap kesulitan belajar mereka. Berdasarkan hasil angket, faktor yang paling mempengaruhi ketuntasan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA Biologi adalah faktor internal, yaitu lingkungan masyarakat (tingkat ekonomi dan pendidikan masyarakat) dengan persentase sebesar 79,3%. Hampir 70% masyarakat di Desa Kalongan dan sekitarnya bermata pencaharian sebagai buruh tani/pabrik dan mumnya masyarakat di lingkungan mereka adalah lulusan SMA. Kondisi ini sangat mempengaruhi ketuntasan hasil belajar IPA Biologi pada siswa. Hal ini sependapat dengan Sartono Kartodirdjo (1988) dalam Zuhri (2009) yang menyatakan bahwa faktor-faktor penghambat yang mempengaruhi pendidikan keluarga ada beberapa macam, yaitu:

1) Rendahnya tingkat pendidikan orang tua 2) Kehidupan sosial kemasyarakatan

3) Kehidupan ekonomi yang dimiliki orang tua

4) Terbatasnya pengetahuan tentang asli kecerdasan emosional yang sesungguhnya

5) Kurangnya waktu, perhatian hubungan yang kurang harmonis dalam kehidupan rumah tangga

6) Tayangan televisi yang kurang mendidik

7) Kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar tempat tinggal

Adapun faktor internal yang paling mempengaruhi ketuntasan hasil belajar IPA Biologi yaitu kebiasaan belajar dengan persentase sebesar 73,3%. Sebagian besar siswa belum mempunyai waktu dan jadwal belajar yag baik serta tidak

54

adanya kebiasaan mempelajari materi sebelum dan setelah pembelajaran. Perlu adanya stimulus yang mampu meningkatkan kinerja siswa dalam belajar, misalnya dengan pemberian tugas. Sesuai dengan pernyataan Sunawan (2009), bahwa siswa akan mampu mengelola waktu belajar, meningkatkan dukungan dari orangtua dalam kegiatan belajar siswa, dan menstruktur kegiatan belajar tambahan siswa melalui pemberian tugas yang efetif dari guru. Dalam kondisi inilah tugas dapat bermanfaat dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hasil wawancara dengan guru IPA menyatakan bahwa selama ini kesulitan yang dihadapi guru dalam pembelajaran adalah sikap pasif siswa dan guru menyatakan kalau input siswa juga sangat mempengaruhi perkembangan belajar siswa.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPA Biologi, metode yang diterapkan di kelas adalah metode kooperatif dengan memanfaatkan media yang ada (buku, charta, dan torso). Ketepatan penerapan strategi serta penggunaan media sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dalam suatu proses pembelajaran, misalnya untuk mengatasi kesulitan dalam hal pemahaman konsep yang bersifat abstrak diperlukan media (CD interaktif, torso). Sedangkan untuk mengatasi kesulitan dalam hal penulisan nama ilmiah dan penggunaan istilah asing diperlukan kebiasaan mengucapkan/menulis dan pemahaman tentang asal mula nama ilmiah/istilah asing tersebut, serta pengunaan kamus Biologi. Untuk mempermudah dalam menentukan hasil perhitungan dalam materi pewarisan sifat dengan menggunakan diagram garpu atau diagram papan catur. Hal ini sesuai dengan pendapat Sunawan (2009) yang menyatakan bahwa guru yang tidak menggunakan metode pengajaran yang variatif sesuai dengan kebutuhan siswa

dalam mempelajari suatu materi pelajaran, seperti hanya ceramah tanpa diikuti metode lain, membuat siswa tidak mendapatkan penguasaan materi pelajaran yang memadai.

Berdasarkan hasil angket siswa (lampiran 13), dapat diketahui bahwa faktor ekstern yang paling mempengaruhi ketuntasan hasil belajar siswa adalah lingkungan masyarakat (pendidikan dan tingkat ekonomi masyarakat) dan faktor intern yaitu kebiasaan belajar siswa. Setelah dikonsultasikan dengan Tabel kriteria deskriptif, maka dari 28 siswa yang nilainya belum mencapai KKM (≤65), 3 siswa (10,71%) memiliki tingkat kesulitan belajar yang tinggi, 6 siswa (21,43%) memiliki tingkat kesulitan belajar yang cukup tinggi, 17 siswa (60,71%) memiliki tingkat kesulitan belajar yang rendah, dan 2 siswa (7%) tidak mengalami kesulitan belajar.

56

BAB V

Dokumen terkait