BAB III HASIL PENELITIAN
D. Hasil Wawancara dengan Konsumen di SPBU 44.507.06 Pasar Sap
Konsumen dalam menanggapi praktek pembulatan harga jual di SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga memberikan pendapat yang berbeda- beda, sebagian besar konsumen merelakan pembulatan dan hanya sedikit konsumen yang tidak merelakan uang pembulatan tersebut.
Bagi konsumen yang merelakan praktik pembulatan harga jual BBM di SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga menyatakan bahwa:
mempercepat waktu antrian. Maka akan memudahkan operator dan konsumen agar tidak terjadi penumpukan antrian kendaraan konsumen dan mempercepat waktu transaksi.
2. Konsumen merasa tidak dirugikan karena jumlah nominal uang yang dibulatkan tidak mencapai Rp. 1000.
3. Pelayanan dan fasilitas SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga sudah cukup baik, bagi konsumen praktik pembulatan harga bukan merupakan kendala untuk tidak melakukan pengisian di SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga.
Konsumen yang tidak merelakan uang pembulatan harga jual BBM berpendapat bahwa:
1. Pembulatan harga yang dilakukan oleh operator SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga merugikan konsumen karena uang kembalian tersebut adalah hak konsumen yang harus dikembalikan dan merupakan kelebihan bagi operator.
2. Operator SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga tidak pernah mengkonfirmasi tentang selisih harga yang tertera di mesin pengisian dengan harga yang harus dibayarkan, serta operator tidak pernah mengkonfirmasi tentang kerelaan konsumen terhadap praktik pembulatan tersebut.
3. Uang pembulatan merupakan kerugian bagi konsumen karena operator tidak pernah menjelaskan alokasi dana pembulatan tersebut, apakah untuk donasi atau untuk kepentingan operator atau perusahaan.
Bapak Hadi sebagai salah satu konsumen SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga yang melakukan pembelian full tank dalam wawancara menyatakan bahwa:
“Saya membeli full tank dan di mesin menunjukkan harga Rp. 14.350 dan operator menyuruh saya untuk membayar Rp. 15.000. Harganya dibulatkan sampai lebih dari Rp. 500, masa SPBU tidak punya uang receh lima ratus, pembulatan harganya terlalu banyak.” (Wawancara, Hadi, 5 Juli 2018)
BAB IV ANALISIS DATA
A. Analisis Hukum Islam Terhadap Praktik Pembulatan Harga Jual BBM (Studi Kasus SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga)
Jual beli adalah salah satu sarana manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam Hukum Islam jual beli mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi, sehingga jual beli itu dapat dikatakan sah oleh
syara‟. Apabila syarat dan rukun tidak terpenuhi maka jual beli tersebut menjadi tidak sah atau fasid.
Di samping syarat-syarat dan rukun jual beli yang ditentukan, para ulama fiqh juga mengemukakan beberapa syarat lain, yaitu berkaitan dengan syarat sah jual beli. Para ulama fiqh menyatakan bahwa jual beli baru dianggap sah apabila jual beli itu terhidar dari cacat, seperti kriteria barang yang diperjualbelikan itu diketahui, baik jenis, kualitas, maupun kuantitasnya, jumlah harga jelas, jual beli itu tidak mengandung unsur paksaan, unsur tipuan, mudharat, serta adanya syarat-syarat lain yang membuat jual beli itu rusak.
Nilai-nilai Islami yang dapat dijadikan dasar dalam menjalankan kegiatan ekonomi adalah saling jujur, yaitu keadaan dimana semua pihak baik pelaku usaha maupun konsumen mengetahui informasi terhadap barang tersebut, baik kualitas, jumlah dan takaran barang, dan harga barang.
Pada dasarnya semua kegiatan mu‟amalah diperbolehkan dalam Hukum Islam kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Praktik pembulatan harga jual BBM yang dilakukan oleh SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga boleh dilakukan, apabila tidak ada yang merasa dirugikan atau dizholimi antara pihak-pihak yang berakad maupun orang lain.
Allah SWT berfirman dalam Q.S an-Nisa ayat 29 yang berbunyi:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu.”
Dalam ketentuan ayat diatas menjelaskan bahwa sesungguhnya dasar dari jual beli adalah saling rela diantara kedua belah pihak. Dalam ayat tersebut juga menjelaskan bahwa kegiatan jual beli merupakan salah satu usaha untuk mencukupi kebutuhan hidup yang sangat dianjurkan, tetapi dengan cara-cara yang dibenarkan oleh agama.
Para ulama sepakat landasan untuk terwujudnya suatu akad adalah timbulnya sikap yang menunjukkan kerelaan atau persetujuan kedua belah pihak untuk merealisasikan kewajiban di antara mereka. Hal tersebut
menunjukkan bahwa akad harus menggunakan lafal yang menunjukkan kerelaan dari masing-masing pihak untuk melakukan transaksi jual beli.
Dalam praktiknya, beberapa konsumen SPBU berpendapat bahwa mereka setuju atau merelakan pembulatan harga yang dilakukan oleh operator SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga. Menurut beberapa konsumen praktik pembulatan harga merupakan hal yang wajar, karena untuk mempermudah kinerja operator dan mempercepat antrian kendaraan, sehingga antrian kendaraan tidak menumpuk dan konsumen bisa lebih cepat untuk melanjutkan perjalanannya. Alasan lain yaitu karena nominal uang yang dibulatkan tergolong sedikit dan dirasa tidak terlalu merugikan konsumen.
Praktik pembulatan harga yang terjadi di SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga dapat diperbolehkan oleh Hukum Islam ketika unsur kerelaan atau „an taradin terpenuhi antara konsumen dan operator SPBU. Konsumen merelakan uang kembalian pembelian BBM tersebut hanya untuk menghindari kesulitan yang dialami oleh operator SPBU, karena pada saat ini uang receh Rp. 100, Rp. 200 dan Rp. 500 terkadang susah ditemukan. Seperti pendapat yang dikemukakan oleh pihak operator yaitu kurang tersedianya uang perak dengan nominal kecil.
Cara yang digunakan oleh para pihak untuk menunjukkan kerelaan diantara mereka adalah operator SPBU menunjukkan harga yang telah dibulatkan dan konsumen langsung membayarkan sejumlah uang yang ditawarkan oleh operator.
Dalam praktik pembulatan harga ada beberapa konsumen yang tidak setuju atau tidak rela, tetapi mereka tidak komplain secara langsung kepada pihak SPBU. Konsumen menyatakan bahwa pembulatan harga yang dilakukan oleh operator SPBU dapat merugikan konsumen, berarti ada unsur ketidakrelaan di salah satu pihak. Apabila salah satu pihak tidak saling rela maka jual beli antara konsumen dan operator SPBU tersebut tidak sah.
Menurut beberapa konsumen yang tidak setuju, praktik pembulatan harga merupakan kelebilan atau tambahan keuntungan bagi operator. Menurut penulis, keuntungan lebih tersebut mengandung unsur ketidakadilan, karena takaran atau timbangan tidak sesuai dengan nominal uang yang dibayarkan, hal ini telah dijelaskan dalam al-Quran surat al- An‟am ayat 152:
Artinya: “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali
dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. yang demikian itu diperintahkan Allah
kepadamu agar kamu ingat.”
Praktik pembulatan harga oleh operator SPBU juga mengandung unsur paksaan, karena tidak tersedianya uang pecahan kecil untuk uang kembalian, maka operator dengan terpaksa secara sepihak harus membulatkan harganya, tanpa mengkonfirmasi kepada konsumen terlebih dahulu, jual beli dalam hal tersebut adalah tidak sah.
B. Analisis Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Terhadap Praktik Pembulatan Harga Jual BBM (Studi Kasus SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga)
Jual beli menurut pasal 1457 Burgerlijk Wetboek adalah, suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan.
Perjanjian dapat dianggap sah oleh hukum apabila memenuhi beberapa syarat tertentu. Dalam pasal 1320 KUHPerdata untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3. Suatu hal tertentu atau adanya obyek;
Dalam pasal 1320 KUHPerdata di atas, nomor 1 dan 2 merupakan syarat subyektif, dan apabila syarat subyektif tidak terpenuhi maka perjanjian dapat dibatalkan oleh salah satu pihak. Sedangkan nomor 3 dan 4 merupakan syarat obyektif, apabila syarat obyektif tidak terpenuhi maka perjanjian batal demi hukum.
Dalam jual beli tentunya sebelum terjadi transaksi, kedua belah pihak sepakat terlebih dahulu mengenai jumlah barang dan jumlah harga yang harus dibayarkan oleh konsumen. Pada praktik pembulatan harga di SPBU operator menentukan jumlah harga yang harus dibayarkan oleh konsumen tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu ketika terjadi pembulatan harga, dengan alasan tidak tersedianya uang pecahan dengan nominal selisih harga yang dibulatkan.
Bagi beberapa konsumen yang setuju atau rela terhadap praktik pembulatan harga, transaksi jual beli antara operator dan konsumen SPBU tersebut adalah sah hukumnya, karena syarat perjanjian yang terdapat pada pasal 1320 KUHPerdata yaitu kesepakatan sudah terpenuhi diantara keduanya. Sedangkan bagi konsumen yang tidak setuju atau tidak rela, praktik pembulatan harga oleh operator SPBU dapat digolongkan sebagai paksaan sebab konsumen tidak dinyatakan keikhlasan maupun persetujuannya atas pembulatan yang dilakukan operator sehingga uang tersebut diberikan secara tidak sukarela melainkan dilakukan sepihak oleh operator, sehingga secara tidak langsung ada paksaan.
Pembulatan harga yang dilakukan oleh operator SPBU juga melanggar SOP (Standar Operasional Prosedur) Pertamina Way, yaitu memberikan bukti pembayaran dan jumlah kembalian yang pas sesuai dengan jumlah pembelian, menghitung dan mengkonfirmasi uang yang diterima di hadapan konsumen. Sebenarnya pihak manajemen SPBU sudah melakukan brifing kepada operator setiap pergantian shift untuk melaksanakan SOP dengan baik dan benar, tetapi pihak manajemen tidak bisa selalu mengawasi setiap operator. Pihak manajemen SPBU menyatakan bahwa kalau masih ada operator yang melakukan hal-hal yang merugikan konsumen maka akan memberikan sanksi pertama berupa teguran lisan atau peringatan, sanksi kedua apabila peringatan pertama pelanggaran masih dilakukan adalah skorsing atau peliburan paksa, dan sanksi yang terakhir yaitu pemberhentian kerja operator oleh pihak manajemen SPBU.
Perlindungan Konsumen menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 pasal 1 adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Dengan adanya perlindungan hukum maka akan meminimalisir adanya kejahatan- kejahatan pelaku usaha terhadap konsumen, karena tujuan perlindungan konsumen sebagaimana yang tercantum pada pasal 3 Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang diantaranya a) meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri; b) mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara
menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa; c) meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen; d) menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi; e) menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha; f) meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.
Pembulatan harga di SPBU tidak sesuai dengan asas perlindungan konsumen yaitu asas keadilan. Asas keadilan maksudnya agar partisipasi rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan kewajibannya secara adil.
Mengenai hak-hak yang harus didapatkan oleh konsumen, pihak SPBU atau dalam transaksi langsung dengan konsumen yaitu operator tidak dapat memenuhi hak konsumen dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8 tahun 1999 pasal 4 (b) hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan; (g) hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
Untuk memenuhi hak-hak konsumen, maka pelaku usaha mempunyai kewajiban yang harus dilaksanakan. Sedangkan dalam praktik pembulatan harga jual BBM di SPBU, operator SPBU tidak menjalankan kewajibannya sbagai pelaku usaha sebagaimana Pasal 7 Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang menjadi kewajiban pelaku usaha diantaranya c) memperlakukakn atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; g) memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.
Praktik pembulatan harga jual BBM di SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga ditinjau dari Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dalam kasus ini jumlah harga atau uang kembalian yang dibulatkan cenderung sedikit, akan tetapi tindakan ini dapat dikategorikan sebagai tindakan yang membuat konsumen merasa tidak nyaman karena mau tidak mau konsumen harus menyetujui pernyataan operator SPBU yang melakukan pembulatan harga. Kurang tersedianya uang receh tidak bisa dijadikan alasan oleh operator SPBU untuk melakukan pembulatan harga, karena sudah menjadi kewajiban pelaku usaha dalam hal ini pihak SPBU harus selalu menyediakan uang receh untuk uang kembalian kepada konsumen.
Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, kerelaan atau keikhlasan seseorang menjadi dasar suatu kontrak atau perjanjian dapat terjadi, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah tidak boleh ada suatu sebab tertentu dalam menjalani suatu hak. Selaras dengan tujuan dari adanya Undang-Undang Perlindungan Konsumen ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha.
Atas dilanggarnya hak-hak konsumen dan kewajiban pelaku usaha yang tidak dijalankan dalam praktik pembulatan harga jual BBM di SPBU 44.507.06 tersebut di dalam pasal 45 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, dimana setiap konsumen yang merasa dirugikan sedangkan pelaku usaha tidak bersedia bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan, konsumen dapat menggugat pelaku usaha melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum. Penyelesaian sengketa dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan para pihak. Di dalam pasal 46 Undang-Undang Perlindungan Konsumen disebutkan juga bahwa gugatan dapat dilakukan oleh seorang konsumen atau ahli warisnya atau bisa juga sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama.
Gugatan yang diajukan oleh masyarakat atau sekelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama, yang disebut gugatan
Saks dikenal dengan class action. Gugatan kelompok dapat diajkan oleh pihak yang berkepentingan langsung selaku salah seorang anggota kelompok yang dirugikan, yang mewakili kelompok yang sama-sama dirugikan. Tetapi gugatan kelompok dapat diajukan juga oleh pihak yang secara langsung dirugikan seperti misalnya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). (Mertokusumo, 2006:71)
Pengaduan konsumen juga dapat ditempuh dengan cara, melakukan gugatan melalui Badan Perlindungan Konsumen Nasional, Lembaga Konsumen Swadaya Masyarakat dan Badan Penyelesaian Konsumen dimana ini di luar pengadilan atau juga dapat melakukan gugatan melalui pengadilan umum.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Dari seluruh pembahasan dan analisis yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Pembulatan harga jual di SPBU adalah praktik pembulatan harga yang dilakukan oleh operator. Terjadi apabila konsumen membeli BBM full tank dengan uang cash dan mesin pengisian menunjukkan harga Rp. 14.350 maka pihak SPBU menyuruh konsumen untuk membayar Rp. 15.000 dengan alasan tidak tersedianya uang receh.
2. Analisis Hukum Islam dalam praktek pembulatan harga jual BBM di SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga terhadap konsumen yang merelakan uang kembalian dibulatkan adalah jual beli sah, karena memenuhi syarat suka sama suka atau „an taradin yang dimuat dalam al-Quran surat an-Nisa ayat 29. Sedangkan Analisis Hukum Islam dalam praktek pembulatan harga jual BBM di SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga terhadap konsumen yang tidak merelakan uang kembaliannya, maka transaksi jual beli tidak sah. Dikarenakan dalam sistem pembulatan harga mengandung unsur paksaan oleh pelaku „an
taradin yang merupakan dasar dari jual beli tidak dapat terpenuhi, pembulatan harga jual juga mengandung unsur ketidak adilan karena takaran atau timbangan tidak sesuai denga jumlah harga yang dibayarkan.
3. Analisis Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen terhadap konsumen yang menyepakati pembulatan harga adalah sah antara keduanya, karena konsumen tidak merasa hak-hak konsumen dalam pasal 4 Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tersebut dilanggar oleh pelaku usaha atau operator SPBU. Sedangkan Analisis Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dalam praktik pembulatan harga jual BBM terhadap konsumen yang tidak menyepakati pembulatan harga tidak dianggap sah oleh hukum karena tidak sesuai dengan asas perlindungan konsumen yaitu asas keadilan, dan tidak memenuhi syarat subyektif perjanjian pada KUHPerdata pasal 1320 yaitu kesepakatan.
B. Saran
1. Bagi pihak manajemen SPBU untuk memberikan sanksi-sanksi yang tegas kepada operator yang masih melakukan praktik pembulatan harga.
2. Bagi pelaku usaha agar memenuhi hak-hak konsumen dan melaksanakan kewajiban sebagai pelaku usaha sebagaimanaya yang tercantum dalam Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
3. Bagi pelaku usaha khususnya operator SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga sebaiknya ketika melakukan pembulatan harga jual mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada konsumen, agar unsur kerelaan atau an taradin dapat terpenuhi.
4. Bagi konsumen agar menjadi konsumen yang cerdas serta aktif memperhatikan hak-hak dan kewajibannya yang tercantum dalam Undang-Undang Konsumen No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dan apabila saat transaksi terjadi pembulatan harga dan tidak merelakan uang kembaliannya dibulatkan maka seharusnya meminta kembali uang kembalian yang pas dan tidak langsung membayarnya.
5. Bagi konsumen SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga apabila ingin melakukan transaksi jual beli BBM sebaiknya membeli dengan nominal uang yang pas, tidak membeli dengan full tank agar tidak dirugikan.
6. Bagi konsumen yang merasa masih dirugikan oleh pelaku usaha dan pelaku usaha tidak bersedia bertanggung jawab agar mengajukan gugatan class action dengan konsumen lain yang berkepentingan sama ke pengadilan umum.
DAFTAR PUSTAKA
Asyhadie, Zaeni. 2005. Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya di Insonesia.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Aziz, Abdul. 2010. Fiqh Muamalah Sistem Transaksi dalam Islam. Jakarta: AMZAH
Azwar, Saifuddin. 2011, Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Departemen Agama Republik Indonesia. 1989. Al-qur‟an dan Terjemahnya.
Semarang: Toha Putra.
Dewi, Eli Wuria. 2015. Hukum Perlindungan Konsumen. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Hidayat, Enang. 2015. Fiqih Jual Beli. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Huda, Qomarul. 2011. Fiqh Muamalah. Yogyakarta: Teras.
Mardani. 2013. Hukum Perikatan Syariah di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika. Mertokusumo, Sudikno. 2006. Hukum Acara Perdata Indonesia. Yogyakarta:
Liberty Yogyakarta.
Nawawi, Ismail. 2012. Fikih Muamalah Klasik dan Kontemporer. Bogor: Ghalia Indonesia.
Power Point Refresh SPBU Pasti Pas Reborn.
Sabiq, Sayyid. Penerjemah Kamaluddin A. Marzuki. 1987. Fikih Sunnah.
Bandung: PT Alma‟arif
Saebani, Beni Ahmad. 2008. Metode Penelitian. Bandung: CV. Pustaka Setia. Salim H.S. 2014. Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak. Jakarta:
Sinar Grafika.
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga. 2008. Pedoman Penulisan Skripsi dan Tugas Akhir. Salatiga: STAIN Salatiga Press.
Setiawan, I Ketut Oka. 2016. Hukum Perikatan. Jakarta: Sinar Grafika Subekti. 1995. Aneka Perjanjian. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti
Subekti, dan R. Tjitrosudibio. 2004. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Jakarta: PT Pradnya Paramita.
Sujarweni, V. Wiratna. 2014. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: PT. Pustaka Baru.
Syahputra, Aditya Maulana. 2018. Perlindungan Konsumen Atas Hak Uang Kembalian dalam Perjanjian Jual Beli pada Supermarket di Yogyakarta.
Skripsi tidak diterbitkan di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Undang Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Lampiran 1:
DAFTAR PERTANYAAN UNTUK PELAKU USAHA 1. Sejak kapan anda bekerja di SPBU?
2. Apa jabatan anda?
3. Apa yang anda ketahui tentang sistem pembayaran di SPBU? Bagaimana peraturannya di SPBU?
4. Bagaimana ketika konsumen membeli BBM dengan full tengki yang nominalnya jarang sekali genap?
5. Apakah ketika terjadi pembayaran yang tidak genap, antara karyawan dan konsumen melakukan akad saling merelakan?
6. Bagaimana sistem pembulatan harga yang berlaku di SPBU ini? Apakah terjadi karena alasan sedikitnya ketersediaan uang receh?
7. Ada berapa karyawan di SPBU?
8. Ada berapa konsumen rata rata setiap harinya? 9. Apa saja kendala dalam pekerjaan anda?
Lampiran 2:
DAFTAR PERTANYAAN UNTUK KONSUMEN
1. Apakah anda mengetahui adanya pembulatan harga ketika anda membeli BBM dengan full tank?
2. Apakah anda pernah mendapatkan informasi tentang pembulatan harga? 3. Apakah ketika terjadi pembayaran atas pembulatan harga antara anda dan
operator SPBU melakukan akad saling merelakan?
4. Sepengetahuan anda bagaimana sistem pembulatan harga yang diberlakukan di SPBU ini?
5. Apabila anda setuju terhadap praktik pembulatan harga, apa alasannya? 6. Apakah anda merasa dirugikan dengan adanya pembulatan harga uang
kembalian?
Lampiran 3:
Foto Wawancara dengan Supervisor SPBU 44.507.06 Pasar Sapi Salatiga