• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.2. Hasil Wawancara

Dari hasil wawancara diperoleh pengalaman tentang penatalaksanaan manajemen aktif kala III oleh ketiga partisipan yang meliputi pengertian, cara penatalaksanaan manajemen aktif kala III, manfaat penatalaksanaan manajemen aktif kala III dan masalah yang dihadapi bidan selama melaksanakan penatalaksanaan manajemen aktif kala III.

1. Pengertian Manajemen Aktif Kala III

Manajemen aktif kala III merupakan serangkaian tiga tindakan yang dilakukan membantu proses persalinan pengeluaran uri dengan tujuan mengurangi resiko terjadinya perdarahan pada ibu. Hal ini dinyatakan oleh tiga partisipan

27

“Manajemen aktif kala III itu adalah penatalaksanaan atau penanganan pada fase pengeluaran uri dimana dengan memberikan suntikan oksitosin, penjepitan dan pemotongan tali pusat dan penegangan tali pusat terkendali sambil pemijatan pada daerah, maka akan mempersikit / mengurangi perdarahan”

(Partisipan A)

“Ya…. Menurut pendapat saya manajemen aktif kala III itu serangkaian tindakan pemberian oksitosin sebesar 10 IU, penegangan tali pusat terkendali dan masase pada fundus uteri setelah plasenta dilahirkan”

(Partisipan B)

“Manajemen aktif kala III itu memberikan tiga tindakan segera setelah bayi keluar yaitu

penyuntikan oksitosin, penjepitan tali pusat dan penegangan tali pusat terkendali

sekaligus masase pada fundus uteri setelah plasenta dilahirkan”

(Partisipan B)

2. Pengalaman Bidan Cara Melaksanakan Manajemen Aktif Kala III

Tata cara pelaksanaan manajemen aktif kala III dilakukan setelah bayi keluar di kala II diawali dengan memberi suntikan oksitosin, penegangan tali pusat terkendali dan mesase pada fundus uteri (JNPK-KR, 2004).

2.1. Pemberian suntikan oksitoksin

Pemberian suntikan oksitoksin dilakukan segera setelah bayi keluar. Namun sebelumnya dilakukan pemeriksaan kembali pada uterus untuk memastikan tidak adanya undiagnosed twin atau tidaka ada janin kedua yang dilahirkan. Hal ini dapat dilihat pernyataan partisipan berikut.

28

“Setelah bayi keluar pada kala II ya? Kemudian kita periksa apakah ada janin kedua, jika tidak ada janin kedua kemudian kita suntik Sintosinon / Oksitosin 2 mg. Kemudian setelah itu baru kita lakukan……….”

(Partisipan A)

“Setelah janin keluar kita periksa ada janin kedua/tidak/kembar. Kemudian kita suntik oksitosin IM tidak melalui drip lagi”

(Partisipan B)

“….yang pertama setelah bayi lahir terlebih dahulu kita palpasi abdomen apakah ada janin kedua atau tidak kalau tidak apabila tidak ada kita menyuntikkan oksitosin…”

(Partisipan C)

2.2. Penegangan Tali Pusat Terkendali

Penegangan tali pusat terkendali dilakukan apabila terdapat tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu dilihat dari perubahan tinggi fundus, tali pusat memanjang dan adanya semburan darah tiba-tiba. Kemudian dilakukan proses penegangan tali pusat. Sebagaimana dapat dilihat dari pernyataan dua partisipan berikut.

“Klem kita pindahkan 5 cm dari vulva ya. Kemudian dari pangkalnya, kemudian kita regangkan dengan tangan pada klem pada tali pusat itu, kemudian tangan kiri berada di atas simfisis. Kemudian kita lakukan gerakan dorso kranial.

29

“……..pertama yaitu melakukan peregangan tali pusat terkendali dimana satu tangan kita melakukan dorongan ke arah fundus atau dorsal kranial pertama tanda-tanda pelepasan plasenta itu dilihat dari perubahan bentuk dan tinggi fundus uterinya…. kedua tali pusat semakin memanjang dan adanya semburan darah tiba-tiba dari vagina…”

(Partisipan C)

2.3. Rangsangan Taktil (Pemijatan) Fundus Uteri

Pemberian mesase pada bagian fundus dilakukan untuk merangsang

kontrtaksi uterus yang mencegah terjadinya perdarahan yang berlebihan. Hal ini dapat dilihat pernyataan partisipan berikut.

“Nah masase ini dilakukan setelah lepasnya plasenta… kontak langsung tangan kita dengan perut ibu sambil melakukan putaran-putaran agar merangsang kontraksi uterus. pengalaman saya lakukan lebih kurang 5 sampai 10 menit kalau memang dia normal pasti dia akan keluar…”

(Partisipan A)

“kita lakukan penekanan, sedikit penekananlah pada fundus …kita lakukan masase dengan searah jarum jam di atas simpisis Guna masase untuk merangsang kontraksi uteus, kemudian ya…. kalau kontraksinya bagus berarti tidak terjadi perdrahan”

30

3. Pengalaman Bidan tentang Manfaat Melaksanakan Manajemen Aktif Kala III

Manfaat dilaksanakan manajemen aktif kala III disesuikan dengan tujuan dilaksanakan manajemen ini yaitu untuk menghasilkan kontraksi uterus yang efektif sehingga dapat mempersingkat waktu kala III persalinan dan mengurangi kehilangan darah/ perdarahan serta mengurangi terjadinya retensio plasenta. Berikut pernyataan partisipan;

“…ya itu tadi untuk mengurangi perdarahan, salah satu karena dia lebih bagus dan lebih baik dariapda penanganan secara fisiologis, seperti yang kita ketahui kan ditunggukan….kala III nya lebih singkat, lebih baguslah. perdarahan lebih sedikit, kemudian perlengketan uri itu ya hampir enggak pernahlah ya…”

(Partisipan A)

“manajemen aktif kala III antara lain yaitu kala III persalinan itu bisa dilakukan lebih singkat ya…. yang kedua mengurangi jumlah kehilangna darah serta mengurangi kejadian retensio plasenta…”

(Partisipan B)

“yaa…manfaatnya udah jelaslah, wqktunya lebih singkat kita tidak perlu menungu seperti cara fisiologis, trus mencegah terjadinya retensio plasenta dan yang terkahir mengurangi kehilangan darah terlalu banyak”

31

Manajemen aktif kala III dapat mengurangi terjadinya kejadian perlengketan plasenta yang biasanya banyak terjadi pada pelaksanaan manajemen fisiologis. Seperti yang dinyatakan oelh partisipan berikut;

“seperti pengalaman yang sudah kita lihat sehari-hari plasenta itu lebih cepat lepas kemudan dia jarang terjadi perlengketan karena meningkatkan peristaltik uterus itu sendiri ya kan… hampir enggak pernahlah ya, enggak ada belum pernah kita alami setelah mengikuti APN. Tetapi sebelumnya dulu ya perdarahan ada yang urinya lengket ada yang gitulah…”

(Partisipan A)

Namun penatalaksanaan manajemen aktif kala III memiliki kelemahan atau kerugian yaitu metode ini memerlukan persediaan oksitoksin dan peralatan injeksi dan sterilisasi serta dapat menggangu proses fisiologi normal. Hal ini dinyatakan oleh partisipan berikut:

“metode ini memerlukan ketersediaan oksitosin, alat-alat untuk injeksi dan sterilisasi yang mungkin tidak disediakan di beberapa fasilitas, menganggu proses fisiologis normal maksudnya otot uterus atau miometrium itu dapat berkontraksi mengikuti berkurangnya ukuran rongga uterus secara tiba-tiba setelah lahirnya bayi tanpa kita melakukan suntikan oksitosin”

(Partisipan B)

4. Masalah-masalah yang dihadapi Bidan Selama Melakukan Manajemen Aktif Kala III

Selama melaksanakan manajemen aktif kala III ini hampir seluruh partisipan tidak mengalami masalah yang berarti. Namun kemungkinan

32

munculnya permasalahan tersebut, seorang bidan mesti siap dengan memberikan pertolongan pertama pada pasiennya. Sebagaimana yang dinyatakan oleh partisipan berikut:

“apabila 5 sampai 10 menit plasenta tidak lahir terjadi retensio plasenta, dilakukan dengan cara memilih putting susu ibu supaya kontraksi uterus tetap ada dan itu bisa membuat plasenta lahir. Atau apabila juga tidak ada, mungkin plasenta itu tertahan dengan adanya kandung kemih yang penuh. biasanya kita lakukan kateter, dan apabila juga plasenta tidak lahir setelah kita menyuntikan oksitoksin kedua kalinya”

(Partisipan A)

“Biasanya ya, jika sudah dikasih sintosinon perlengketan itu biasanya nggak akan terjadi karena langsung merangsang (apa namanya…..) kontraksi uteus, tapi kalaupun terjadi kan ada satu – satu (kalaupun terjadi ya…. Kita lakukan manual (pengeluaran plasenta secara manual)”

(Partisipan B)

“kalau terjadi perlengketan…kitaakan pasang infus dulu kemudian baru dilakukan manual plasenta kepada ibu.nah kita ambil penjemputan mungkin saja plasenta itu tidak keluar karena terjadinya jenis plasenta akreta yang menghambat lahir secara normal”

(Partisipan C)

Dokumen terkait