BAB II KAJIAN PUSTAKA
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. A. Hasil Penelitian
1.2. Hasil Wawancara Siklus I
Berdasarkan wawancara peneliti dengan siswa yang tergolong kelompok berhasil menyelesaikan tugas, berpendapat bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia menggunakan pendekatan kontekstual sangat mengasyikkan, karena mereka merasa menemukan pengalaman baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya yaitu mendengar dan menyimak dengan sunggguh-sungguh suatu masalah dari tape. Pendekatan kontekstual mendorong mereka menjadi lebih bebas dan berani mengungkapkan ide atau pendapat, belajar bekerjasama dalam menyelesaikan suatu tugas.
Sementara yang termasuk kelompok siswa yang kurang berhasil menyelesaikan tugas, berpendapat bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia
55
menggunakan pendekatan kontekstual telah berhasil menggugah semangatnya untuk berusaha berlatih mendengar dan menyimak dengan sungguh-sungguh, tetapi mereka masih mengalami hambatan dalam diri yaitu kecenderungan untuk bermain, mengganggu teman, dan bersifat santai dalam mengikuti proses pembelajaran.
2.1. Hasil Siklus Kedua
Pada pertemuan pertama proses kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan kontekstual akan dilaksanakan di luar lingkungan kelas (halaman sekolah). Pada siklus II pertemuan pertama dikerjakan secara induvidu dalam kelompok (kelompok besar yang terdiri atas 6 anak). Materi pokok yang akan dibahas adalah melakukan pengamatan dan membuatan laporan. Siswa melakukan pengamatan dan menulis laporan berdasarkan apa yang diamati kelompoknya. Pada pertemuan kedua penekanan pembelajaran pada aspek berbicara. Dengan materi pokok yang akan dibahas adalah melakukan tanya jawab dengan narasumber.
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I di atas maka dalam pelaksanaan siklus II peneliti lebih mendorong dan memotivasi siswa kepada kemampuan bertanyajawab dan partisipasi siswa dalam kelompok tanpa mengurangi pengamatan peneliti terhadap kerjasama siswa dalam kelompok. Hal ini dilakukan peneliti dengan memberikan tugas secara induvidu dalam kelompok dan terus mendorong dan memotivasi siswa untuk berani bertanya dan menjawab pertanyaan tanpa merasa malu dan takut salah.
Setelah peneliti melakukan proses pembelajaran secara langsung dan pengamatan terhadap kemampuan bertanya siswa, partisipasi siswa dalam kelompok, dan kerjasama siswa dalam kelompok maka hasil refleksinya dapat diperoleh sebagai berikut;
a. Kemampuan bertanya dan menjawab siswa telah mengalami peningkatan dan memenuhi kriteria yang telah ditentukan atau yang diharapkan peneliti. Pada siklus pertama kemampuan bertanya siswa yang berjumlah 20 anak atau (57%) meningkat pada siklus kedua menjadi 28 anak atau (80%). Sedangkan kemampuan menjawab siswa pada siklus pertama berjumlah 22 anak atau (62%) meningkat pada siklus kedua menjadi 29 anak atau (82%).
b. Partisipasi siswa dalam kelompok telah mengalami peningkatan dan telah memenuhi kriteria yang ditentukan atau yang diharapkan peneliti. Pada siklus pertama keaktifan siswa mengikuti kegiatan kelompok dari 22 anak atau (62%) meningkat pada siklus kedua menjadi 28 anak atau (80%). Sedangkan partisipasi siswa dalam kelompok pada siklus pertama dari 21 anak atau (60%) meningkat pada siklus kedua menjadi 29 anak atau (82%). Hampir setiap anggota kelompok terlibat aktif dalam kerja kelompok.
c. Pada siklus pertama kerjasama siswa dalam kelompok telah mengalami peningkatan dan telah memenuhi kriteria yang ditentukan atau diharapkan peneliti pada siklus I. Pada siklus pertama siswa yang saling mambantu dalam menyelesaikan tugas kelompok 26 anak atau (74%) meningkat pada siklus kedua menjadi 30 anak atau (85%). Sedangkan siswa yang menghargai pendapat teman
57 dalam diskusi kelompok pada siklus pertama 28 anak atau (80%) meningkat pada siklus kedua menjadi 30 anak atau (85%).
Berdasarkan uraian hasil penelitian siklus pertama dan siklus kedua di atas, maka peneliti membuat perbandingan siklus pertama dengan siklus kedua yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel perbandingan Siklus I dengan siklus II
Siklus I (orang) Siklus II (orang) Perbandingan Peningkatan (%) 1.Kemampuan bertanya jawab; a. Kemampuan mengajukan pertanyaan:20 orang b. Kemampuan menjawab pertanyaan: 22 orang 2. Partisipasi siswa dalam
kelompok
a. Aktif mengikuti kegiatan kelompok: 22 orang b. Partisipasi dalam kerja
kelompok: 21 orang 3. Kerjasama kelompok a. Saling membantu menyelesaikan tugas kelompok: 26 orang b. Menghargai teman dalam berdiskusi: 28 orang. 1. Kemampuan bertanya jawab; a.Kemampuan mengajukan pertanyaan:28 orang b. Kemampuan menjawab pertanyaan: 29 orang 2. Partisipasi siswa dalam
kelompok
a. Aktif mengikuti kegiatan kelompok: 28 orang b. Partisipasi dalam kerja
kelompok: 29 orang 3. Kerjasama kelompok a. Saling membantu menyelesaikan tugas kelompok: 30 orang b. Menghargai teman dalam berdiskusi: 30 orang 1.Kemampuan bertanya jawab a. Kemampuan mengajukan pertanyaan: 17 % b.Kemampuan menjawab pertanyaan: 20 % 2. Partisipasi siswa dalam
kelompok a. Aktif mengikuti kegiatan kelompok: 17 % b. Partisipasi dalam kelompok: 22 % 3. Kerjasama kelompok a. Saling membantu menyelesaikan tugas kelompok: 11 % b. Menghargai teman dalam berdiskusi: 5 %
Tabel Perbandingan Keadaan Awal dengan Siklus II
Keadaan Awal Siklus II (orang) Perbandingan Peningkatan (%)
1. Kemampuan bertanya;
jumlah siswa yang berani bertanya maupun menjawab pertanyaan adalah 14 anak. 2. Partisipasi siswa dalam kelompok: jumlah siswa yang aktif maupun berpartisipasi dalam kelompok adalah 13 anak. 3. Kemampuan siswa bekerjasama: jumlah siswa yang mampu bekerja sama dalam kelompok 15 anak. 1.Kemampuan bertanya jawab; a. Kemampuan mengajukan pertanyaan:28 orang b. Kemampuan menjawab pertanyaan: 29 orang 2. Partisipasi siswa dalam
kelompok
a. Aktif mengikuti kegiatan kelompok: 28 orang b. Partisipasi dalam kerja
kelompok: 29 orang 3. Kerjasama kelompok a. Saling membantu menyelesaikan tugas kelompok: 30 orang b. Menghargai teman dalam berdiskusi: 30 orang 1.Kemampuan bertanya jawab a.Kemampuan mengajukan pertanyaan: 40 % b. Kemampuan menjawab pertanyaan: 42 % 2.Partisipasi siswa dalam
kelompok
a.Aktif mengikuti kegiatan kelompok: 42 % b. Partisipasi dalam kelompok: 45 % 3. Kerjasama kelompok a. Saling membantu menyelesaikan tugas kelompok: 42 % b. Menghargai teman dalam berdiskusi: 42 %
2.2. Hasil Wawancara Siklus II
Hasil wawancara pada siklus kedua dari kelompok siswa yang berhasil menyelesaikan tugas, berpendapat bahwa pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan pendekatan kontekstual sangat menyenangkan dan meningkatkan sikap antusiasme mereka karena merasa lebih rileks dan senang dalam melaksanakan tugas pengamatan terhadap lingkungan sekolah dan melakukan
59
wawancara terhadap seorang narasumber. Tampaknya adanya sikap mereka untuk berlatih lebih keras.
B. Pembahasan
Setelah melakukan kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan pendekatan kontekstual dan melakukan pengamatan terhadap aspek kemampuan bertanya jawab, partisipasi siswa dalam kelompok serta kerjasama siswa dalam kelompok, maka diperoleh hasil bahwa adanya peningkatan dari masing-masing aspek tersebut.
Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus pertama, aspek kemampuan bertanya jawab siswa, mengalami peningkatan dari 38% (keadaan awal) menjadi 57% untuk siswa yang mengajukan pertanyaan, dan 62% untuk siswa yang mampu menjawab pertanyaan yang diberikan guru mau pun dari siswa lain. Pada aspek partisipasi siswa dalam kelompok mengalami peningkatan dari 36% (keadaan awal) meningkat menjadi 62% untuk siswa yang aktif mengikuti kegiatan kelompok, dan 60% untuk siswa yang berpartisipasi dalam kelompok. Selanjutnya pada aspek kerjasama kelompok mengalami peningkatan dari 41% (keadaan awal) meningkat menjadi 74% untuk siswa yang saling membantu dalam menyelesaikan tugas kelompok, dan 80% untuk siswa yang menghargai teman dalam diskusi kelompok.
Dengan melihat indikator keberhasilan yang akan dicapai peneliti pada siklus pertama (lihat tabel indikator keberhasilan) maka pada aspek kemampuan bertanya jawab dan partisipasi siswa dalam kelompok belum mengalami
peningkatan sesuai yang diharapkan peneliti. Agar indikator tersebut dapat tercapai, peneliti melakukan perbaikan proses pembelajaran yang dilakukan di luar kelas dengan memberi tugas kepada masing-masing anggota kelompok. Hal ini dimaksud agar setiap anggota kelompok terlibat secara aktif dalam proses kegiatan pembelajaran.
Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus kedua, aspek kemampuan bertanya jawab siswa, mengalami peningkatan yakni pada siklus pertama kemampuan bertanya siswa adalah 57% meningkat pada siklus kedua menjadi 80 %, dan kemampuan menjawab siswa pada siklus pertama adalah 62% meningkat pada siklus kedua menjadi 82%. Pada aspek partisipasi siswa dalam kelompok mengalami peningkatan dan telah memenuhi kriteria yang ditentukan atau yang diharapkan peneliti. Pada siklus pertama keaktifan siswa mengikuti kegiatan kelompok adalah 62% meningkat pada siklus kedua menjadi 80%. Sedangkan partisipasi siswa dalam kelompok pada siklus pertama adalah 60% meningkat pada siklus kedua menjadi 82%. Hampir setiap anggota kelompok terlibat aktif dalam kerja kelompok. Kemudian pada aspek kerjasama siswa dalam kelompok telah mengalami peningkatan dan telah memenuhi kriteria yang ditentukan atau diharapkan peneliti pada siklus I. Pada siklus pertama siswa yang saling mambantu dalam menyelesaikan tugas kelompok adalah 74% meningkat pada siklus kedua menjadi 85%. Sedangkan siswa yang menghargai pendapat teman dalam diskusi kelompok pada siklus pertama adalah 80% meningkat pada siklus kedua menjadi 85%.
61
Dengan melihat hasil yang dicapai pada siklus II di atas, maka indikator keberhasilan dan kriteria yang diharapkan peneliti sudah tercapai yaitu bahwa tingkat keterlibatan siswa kelas V SD Kanisius Kadirojo berada pada kriteria tinggi. Hal ini dapat dilihat dari hasil peningkatan setiap siklus (siklus I dan siklus II).
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh di atas maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan pendekatan kontekstual mampu meningkatkan keterlibatan siswa kelas V SD Kanisius Kadirojo - Purwomartani – Kalasan - Yogyakarta. Meningkatnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia juga berdampak pada meningkatnya prestasi belajar siswa akan pelajaran Bahasa Indonesia.
62 BAB VI PENUTUP
Bab ini membahas tiga hal. Ketiga hal tersebut, yaitu kesimpulan, saran dan keterbatasan penelitian. Kesimpulan, saran dan keterbatasan penelitian itu dapat diuraikan sebagai berikut.
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dalam bab-bab sebelumnya, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang peneliti beri judul: Peningkatan Keterlibatan Siswa Pada Aspek Berbicara dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia melalui Pendekatan Kontekstual bagi Siswa Kelas V SD Kanisius Kadirojo -Purwomartani - Kalasan -Yogyakarta, Tahun Ajaran 2008/2009 dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pendekatan kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan siswa setiap hari.
2. Berdasarkan perolehan hasil pengamatan peneliti dari keadaan awal hingga siklus pertama dan siklus kedua mengalami peningkatan, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa penggunaan pendekatan kontekstual dalam
63
pembelajaran bahasa Indonesia ternyata terbukti dapat meningkatkan keterlibatan siswa kelas V SD Kanisius – Kadirojo – Purwomartani – Kalasan – Yogyakarta Tahun Pelajaran 2008/2009.
3. Pengunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ternyata mendapat tanggapan atau respon yang sanggat positif dari siswa karena dianggap sangat menarik, membantu siwa untuk lebih berani mengeluarkan ide atau pendapat dalam diskusi kelompok, belajar bekerjasama, dan belajar menghargai pendapat teman.
B. Saran
1. Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan pendekatan kontekstual sangat membantu siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, yang mana siswa dilatih untuk bekerjasama, menghargai pendapat teman, serta mendorong siswa untuk berani mengeluarkan pendapat, ide, pikiran, gagasan, maka disarankan agar guru hendaknya menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual.
2. Sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya berupa buku paket tetapi juga memanfaatkan lingkungan sekitar siswa sebagai sumber belajar, untuk itu disarankan agar guru hendaknya memanfaatkan lingkungan sekitar siswa sebagai sumber belajar sehingga siswa dengan mudah memahami materi yang dipelajari dan mampu mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam bernalar, berkomunikasi, mengungkapkan pikiran dan perasaan, untuk itu siswa hendaknya dituntut untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga dapat menguasai, memahami dan menerapkan keterampilan bahasa dalam hidup sehari-hari.