LAPORAN HASIL PERJALANAN DINAS
III. HASIL YANG DICAPAI
1. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI siap memfasilitasi Pemerintah Daerah (Pemda) yang bermaksud merencanakan kerjasama dengan berbagai negara.
2. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menginformasikan akan ada sinergi perencanaan agar maksimal membantu Pemda, dapat berkenan berbagi kegiatan khususnya kerja sama dengan negara-negara luar negeri di Asia Pasific, Afrika, dan Eropa.
3. Kementerian Luar Negeri siap membantu menggabungkan inovasi-inovasi dari dalam negeri dan luar negeri agar menjadi suatu kesatuan yang bermanfaat bagi negara kita maupun negara luar.
4. Saat ini ada 131 perwakilan Indonesia di Kemenlu dan mereka siap memfasilitasi dan mendukung Pemda dalam mewujudkan kerjasam dengan luar negeri dan berharap ada sinergi perencanaan agar maksimal membantu Pemda.
5. Pemerintah Daerah mendukung langkah Kemenlu untuk ikut terlibat dalam perencanaan kerjasama luar negeri yang dirancang oleh pemda karena semakin meningkatkan kerjasama luar negeri yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Daerah.
6. Langkah Kemenlu tersebut sangat penting untuk Revitalisasi atau mengaktifkan kerjasama yang sudah ada, memperluas bidang yang dikerjasamakan dan menambah mitra kerjasama.
7. Memperkuat kerjasama apa yang sudah berjalan, bahwasanya kerjasama lintas sektor kerjasama dibidang pendidikan,kebudayaan pun ujungnya akan ke pariwisata, dari Turis dan berakhir ke investasi.
IV. KESIMPULAN
Melalui Forum Koordinasi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dengan Pemerintah Daerah ini untuk mengoptimalkan kerja sama yang sudah ada, serta terus menjaga kepuasan para investor. Strategi ini dinilai sangat strategis untuk meningkatkan kerja sama luar negeri, khususnya di bidang investasi.
“The best marketing is your happy customer. Kami punya prinsip, cara terbaik untuk memasarkan Investasi adalah dengan menjaga kepuasan investor yang sudah ada,” dengan menjaga kepuasan atau disebut revitalisasi ini, maka para investor akan memberikan testimonial terbaik kepada jaringan atau network-nya. Hal ini akan membantu tersebarnya potensi suatu daerah, sekaligus berpeluang mendatangkan investor baru.
Selain menjaga kepuasan investor, juga meminta pemda untuk menyinkronkan program kerja sama luar negeri yang ada di pemda, dengan Kementerian Luar Negeri RI. Melalui sinkronisasi ini, diharapkan dapat mengoptimalkan program kerjasama yang dilakukan pemda.
Demikian laporan hasil perjalanan dinas ini disampaikan, mohon petunjuk dan arahan lebih lanjut.
LAPORAN HASIL PERJALANAN DINAS
I. PENDAHULUAN
1. Dasar Hukum :
Surat Kepala pusat Fasilitasi Kerja Sama Sekreyariat Jenderal Kementerian Dalam Neeri Nomor : 005/1138/02 tanggal 01 Juli 2019.
2. Maksud dan Tujuan :
Dalam rangka menghadiri Bimbingan Teknis Kerja Sama Sister dengan tema “Peningkatan dan Revitalisasi Kerja Sama Sister City/Province yang dilakukan oleh pemerintah daerah dengan pemerintah daerah di luar negeri” pada tanggal 10 s.d 12 Juli 2019 bertempat di Hotel Novotel Jakarta Mangga Dua Square Jl.
Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta Utara.
II. KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN
Dalam rangka menghadiri Bimbingan Teknis Kerja Sama Sister dengan tema “Peningkatan dan Revitalisasi Kerja Sama Sister City/Province yang dilakukan oleh pemerintah daerah dengan pemerintah daerah di luar negeri” dihadiri oleh 61 (enam puluh satu) Sekretaris Daerah Provinsi dan Kab/Kota.
III. HASIL YANG DICAPAI :
1. Pemerintah daerah dapat melakukan kerja sama sister city/province sebagai salah satu langkah dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pemerintah daerah dengan lebih memperhatikan aspek hubungan antara Pemerintah Pusat dengan Daerah dan antar daerah untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, dan kekhasan suatu daerah dalam kerangka NKRI.
2. Diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh stakeholders di daerah mulai dari OPD terkait sebagai pelaksana kerja sama sister city/province hingga DPRD, mengingat kerja sama sister city/province dapat dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan oleh DPRD dan pemerintah pusat yang secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri.
3. Pelaksanaan kerja sama sister city/province hendaknya dapat direncanakan secara detail melalui suatu rencana kerja sama/action plan, agar penandatanganan MoU kerja sama tidak sekedar kegiatan seremonial dan dapat memberikan manfaat yang opimal bagi pemerintah daerah.
4. Adapun prinsip-prinsip penyusunan naskah kerja sama internasional antara lain sejalan dengan politik luar negeri dan kebijakan luar negeri pemerintah Indonesia, sesuai kewenangan pemerintah daerah, tidak bertentangan dengan hukum dan peraturan perundang-undangan nasional, serta kerja sama tidak disalahgunakan sebagai akses yang dapat mengganggu stabilitas dan keamanan dalam negeri.
5. Saat ini terdapat 17 sister city/province arrangements yang telah dikukuhkan dengan MoU yaitu Jakarta-Tokyo, Yogyakarta-Kyoto, Surabaya-Kochi (Kitakyushu dan Kobe), Medan-Ichikawa, Jawa Timur-Osaka Prefecture dan Papua-Yamagata Prefecture. Selain itu terdapat juga beberapa kerja sama sister yang dilakukan oleh pemerintah daerah dengan pemerintah daerah di luar negeri terlebih khusus di negara-negara kawasan asia timur dan pasifik antara lain Korea, RRT, Australia, cook island dan new caledonia.
6. Revitalisasi kerja sama sister dilakukan untuk menggiatkan kembali berbagai program dan kegiatan yang sebelumnya telah dilaksanakan agar sesuai dengan dinamika, kebutuhan dan arah pembangunan serta kebijakan terkini. Selain itu, revitalisasi penting untuk dilakukan karena memberikan semangat dan energi baru pengaktifan kerja sama karena ditandatangani oleh kepala daerah yang baru (sedang aktif menjabat) serta mempunyai willingness yang kuat untuk meningkatkan hubungan kerja sama sister tersebut dengan obyek kerja sama yang lebih fokus dan terarah.
7. Langkah-langkah persiapan revitalisasi kerja sama sister dapat dilakukan melalui evaluasi dan analisa kerja sama yang berjalan, pematangan roadmap kerja sama yang berjalan melalui pembahasan dan koordinasi bersama perangkat daerah, memetakan kembali potensi dan peluang kerja sama kebutuhan dan kewenangan daerah, komunikasi dan koordinasi kembali yang aktif dengan mitra pemda di luar negeri dan dapat meminta dukungan Kemendagri dan perwakilan RI di luar negeri.
8. Pemerintah daerah agar berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Dalam Negeri selaku koordinator pemerintah daerah, dalam rangka mendorong “one gate policy“ melalui Pusat Fasilitasi Kerja Sama, untuk mapping potensi daerah, serta penatausahaan kerja sama pemerintah daerah dengan pemerintah daerah di luar negeri yang efektif dan efisien.
9. Selain itu, Kementerian Dalam negeri juga perlu melakukan monitoring dan evaluasi secara intensif, bersama dengan kementerian/lembaga terkait, untuk mengidentifikasi permasalahan/hambatan dalam pelaksanaan kerja sama, serta pelaporan kerja sama antara pemerintah daerah dan pemerintah daerah di luar negeri, sehingga dapat diketahui perkembangan kerja sama yang telah dilaksanakan oleh pemerintah daerah.
10. Dalam rangka mereplikasi praktik baik kerja sama sister city/province dengan pihak luar negeri, pemerintah daerah dapat melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah di dalam negeri untuk mempercepat pembangunan dalam rangka meningkatkan inovasi daerah dan pelayanan publik yang lebih baik.
IV. PENUTUP :
Demikian laporan hasil perjalanan dinas ini disampaikan, mohon petunjuk dan arahan lebih lanjut.
LAPORAN HASIL PERJALANAN DINAS
I. PENDAHULUAN a. Dasar Hukum :
Surat Perintah Tugas dari Kepala Biro Pemerintahan Sekretariat Daerah Provinsi Banten Nomor : 090/682-Pem/2018 Tanggal 16 Agustus 2019.
b. Maksud dan Tujuan
Dalam rangka menghadiri Acara Rapat Koordinasi dan Evaluasi Kerja Sama Sister.
II. KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN
Menghadiri Acara Rapat Koordinasi dan Evaluasi Kerja Sama Sister yang dilaksanakan pada tanggal 21-22 Agustus 2019 bertempat di Hotel Trans Studio Bandung Jl. Gatot Subroto No. 289, Kota Bandung Jawa Barat.
III. HASIL YANG DICAPAI
Hasil dari pelaksanaan Rapat Evaluasi Kerja Sama Sister City/Province, antara lain :
1. Kegiatan rapat evaluasi kerja sama sister city/province dimaksudkan untuk mengetahui pencapaian kerja sama pemda dengan pihak luar negeri. Selain itu untuk mengetahui mana kerja sama sister yang perlu dilakukan pembaharuan untuk menyesuaikan MoU dengan peraturan peraturan perundang-undangan yang baru dan lebih memfokuskan kembali bidang-bidang kerja sama yang aktif dilakukan selama ini.
2. Pemerintah daerah dapat melakukan kerja sama dengan pihak luar negeri melalui kerja sama sister city/province, dengan memperhatikan kewenangan, kebutuhan, potensi dan prioritas daerah serta memperhatikan kapasitas/kemampuan sumber daya daerah yang ada dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat, pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat, dan people to people contact.
3. Salah satu syarat pelaksanaan kerja sama pemerintah daerah dengan pihak luar negeri adalah saling menguntungkan. Untuk itu pemerintah daerah dapat mengkaji dengan baik keuntungan yang akan diperoleh sebelum melakukan kerja sama dengan pihak luar negeri.
4. Dalam rangka pelaksanaan kerja sama dengan pihak luar negeri harus memperhatikan 4 (empat) prinsip kerja sama yaitu aman secara politis, yuridis, teknis, dan keamanan.
5. Pembaharuan kerja sama sister province antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Queensland, Australia diawali saat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersurat kepada Premier Queensland tentang Jateng masih menghendaki perpanjangan MoU Sister Province. Setelah mendapat tanggapan dari Pihak Queensland, maka Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan semua tahap kerja sama sister sesuai PP 28 Tahun 2018 hingga pada tanggal 6 Agustus 2019 melakukan penandatanganan pembaharuan MoU tersebut.
6. Terdapat beberapa kerja sama sister yang aktif dilakukan antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Pemerintah Daerah di Luar Negeri yang dianggap perlu dilakukan pembaharuan atau revitalisasi antara lain Fujian, RRT, Chungcheongbuk-do, Korea, dan Siem Reap, Kamboja.
7. Revitalisasi dilakukan untuk menggiatkan kembali berbagai program dan kegiatan yang sebelumnya telah direncanakan atau dilaksanakan agar sesuai dengan kebutuhan dan arah kebijakan terkini, dan dengan terbitnya PP 28 Tahun 2018 tentang Kerja Sama Daerah memberikan peluang dan dinamika baru kepada pemerintah daerah dalam menjalankan kerja sama luar negeri baik yang telah berjalan atau yang sedang direncanakan.
8. Adapun kendala dalam pelaksanaan kerja sama sister city/province antara lain kurangnya komunikasi, tidak berlanjut karena rendahnya sense of ownership, minimnya pemahaman daerah tentang peraturan kerja sama luar negeri, tidak tertib administrasi terkait regulasi,
penyampaian laporan tidak tepat waktu, dan penandatanganan MoU hanya seremonial belaka.
9. Sebagai tindak lanjut dari Rapat Evaluasi Kerja Sama Sister City/Province, maka akan dilakukan langkah-langkah:
a. Meningkatkan pemahaman aparatur pemerintah daerah dan satuan kerja di Kementerian Dalam Negeri mengenai mekanisme dan pemanfaatan kerja sama sister city/province.
a. Meningkatkan sarana informasi terkait kebijakan dan peraturan nasional yang mendukung percepatan pembangunan daerah melalui kerja sama antara pemerintah daerah dengan pemerintah daerah di luar negeri.
b. Mengidentifikasi dan menggali potensi serta peluang kerja sama sister city/province dengan pemerintah luar negeri, sehingga setiap kerja sama yang dilakukan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya sebagai daya ungkit pembangunan di daerah serta dapat terjaga keberlanjutannya.
IV. KESIMPULAN
Melalui kerangka kerja sama sister city/province, diperoleh peningkatan hubungan masyarakat atau “people to people contact”, antara pemerintah daerah di Indonesia dengan pemerintah daerah di luar negeri, dalam rangka mempererat hubungan kerja sama antar bangsa, dan meningkatkan hubungan diplomasi Pemerintah Indonesia dengan negara-negaradi dunia. Di samping itu, kerjasama sister city/province dapat dijadikan sebagai salah satu alternative bagi pemerintah daerah agar mendapatkan solusi untuk bekerjasama dalam pembangunan dan penataan daerahnya, baik antar pemerintah daerah administratif maupun antar masyarakatnya.
Demikian laporan hasil perjalanan dinas ini disampaikan, mohon petunjuk dan arahan lebih lanjut.
I.