BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA
A. Hati
Hati merupakan salah satu organ terbesar di dalam tubuh dengan berat sekitar 1500 gram. Hati terletak dalam rongga perut sebelah kanan, berwarna merah kecokelatan dengan konsistensi lunak (Wibowo, 2008). Bagian atas hati berbentuk cembung, terletak di bawah kubah kanan diafragma. Bagian bawah hati berbentuk cekung, di bawahnya terdapat ginjal kanan, lambung, pankreas, dan usus (Baradero, Daydrit, dan Siswadi, 2008).
Gambar 1. Anatomi hati (Watson, 2014).
Hati dibagi menjadi dua lobus utama, kiri dan kanan (gambar 1). Permukaan atas berbentung cembung dan terletak di bawah diafragma sedangkan permukaan bawah tidak rata dan memperlihatkan lekukan fisura transversus. Permukaannya dilintasi berbagai pembuluh darah yang keluar masuk hati. Fisura
longitudinal memisahkan lobus kanan dan kiri permukaan bawah, sedangkan ligamen falsiformis memisahkan lobus kanan dan kiri permukaan atas. Hati dibagi mejadi empat lobus (kanan, kiri, kaudata, dan kuadrata) yang terdiri atas lobulus. Lobulus ini berbentuk polihedral (segi banyak) yang terdiri atas sel hati berbentuk kubus, dan cabang-cabang pembuluh darah yang diikat bersama oleh jaringan hati (Pearce, 2009).
Di dalam lobulus terdapat sel-sel hati (hepatosit) yang tersusun seperti lapisan-lapisan plat. Pada setiap segi dari lobules terdapat cabang-cabang vena porta, arteri hepatika, dan kanalikuli empedu. Di antara deretan sel-sel hati terdapat sinusoid yang membawa darah dari cabang-cabang vena porta dan arteri hepatika ke vena hepatika. Pada dinding sinusoid terdapat sel-sel fagosit yang disebut sel Kupffer. Sel Kupffer ini memiliki fungsi utama menelan eristrosit, leukosit yang mati, mikroorganisme, dan benda asing yang masuk dalam hati (Baradero, dkk., 2008).
Hati mempunyai peranan penting dan memiliki berbagai macam fungsi di dalam tubuh. Fungsi-fungsi utama hati, yaitu membantu menjaga keseimbangan glukosa darah (metabolisme karbohidrat), membantu pembentukan protein terutama albumin, membantu metabolisme protein (tempat menyusun asam amino menjadi protein, memproduksi sebagian besar protein plasma, memproduksi faktor pembekuan darah, mengubah amonia menjadi urea), penyimpanan vitamin/zat besi, memproduksi dan mensekresikan empedu, membantu metabolisme lemak (memproduksi dan merombak kolesterol menjadi garam empedu), serta mendetoksifikasi zat-zat beracun dalam tubuh (Sargent, 2009).
2. Jenis kerusakan hati
a. Steatosis
Steatosis merupakan akumulasi lemak pada hepatosit yang menunjukkan
terjadinya kerusakan hati pada banyak kasus penyakit hati. Steatosis dikategorikan menjadi dua, yaitu makrovesikular dan microvesikular. Steatosis makrovesikular terjadi ketika satu atau beberapa droplet lemak hampir mengisi hepatosit sedangkan mikrovesikular terjadi ketika ditemukan sejumlah droplet kecil yang membuat hepatosit tampak berbusa. Steatosis pada orang dewasa umumnya terjadi karena penyakit hati alkoholik (Kelly, 2008). Selain itu, steatosis juga dapat disebabkan oleh hepatotoksin karbon tetraklorida. Hepatotoksin karbon tetraklorida menyebabkan steatosis makrovesikular (Rubin, Strayer and Rubin, 2011).
b. Nekrosis
Nekrosis (kematian sel) dapat terjadi karena cedera sel langsung, gangguan fungsi intraseluler, atau cedera langsung oleh sistem imun yang dimediasi oleh kerusakan membran. Nekrosis hati dapat disebabkan oleh alkohol, CCl4, brombenzena, dan berilium. Alkohol menyebabkan nekrosis periportal (zona 1) karena alkohol dehidrogenase yang diangkut oleh darah kontak pada daerah ini. Nekrosis mid zona (zona 2), disebabkan oleh berilium. Nekrosis zona 3 (nekrosis sentrilobular) disebabkan oleh aktivitas metabolisme senyawa toksin seperti CCl4/brombenzena pada daerah tersebut (Duffus and Worth, 1996).
c. Kolestasis
Kolestasis adalah penurunan atau penyumbatan aliran empedu yang dapat menyebabkan kulit dan putih mata tampak berwarna kuning, kulit, urine gelap, serta tinja dapat berwarna terang dan berbau busuk. Pada orang yang mengalami kolestasis, aliran empedu (cairan pencernaan yang dihasilkan oleh hati) terganggu di beberapa titik antara sel-sel hati dan usus dua belas jari (segmen pertama dari usus kecil). Ketika aliran empedu terhenti, pigmen bilirubin (produk limbah yang terbentuk ketika sel-sel darah merah tua atau rusak dipecah) lolos ke dalam aliran darah dan menumpuk. Hal ini dapat terjadi karena gangguan hati, saluran empedu, dan pankreas (Porter, 2009)
d. Sirosis
Sirosis adalah bentuk kerusakan akhir dari penyakit hati yang disebabkan oleh berbagai penyebab. Penyebab yang paling umum adalah hepatotoksin seperti alkohol, infeksi hepatitis virus, dan gangguan empedu primary sclerosing
cholangitis (PSC). Kondisi ini ditandai dengan disfungsi hepatosit dengan
pembentukan jaringan fibrosa, diikuti oleh nodul regeneratif (Mahkad, Hoey, Lakkaraju and Bhuskute, 2012).
3. Hepatotoksin
Senyawa atau obat-obat yang dapat menyebabkan kerusakan hati diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:
a. Hepatotoksin intrinsik
Senyawa yang memiliki efek hepatotoksik hampir pada seluruh populasi yang terpejankan senyawa tersebut. Senyawa ini bergantung pada dosis pemberian. Contohnya: parasetamol, karbon tetraklorida, dan alkohol.
b. Hepatotoksin idiosinkratik
Senyawa yang memiliki efek hepatotoksik pada sebagian kecil populasi yang terpejankan senyawa tersebut. Beberapa bergantung pada dosis pemberian, dan frekuensi kejadiannya sangat jarang. Contoh-contoh zat termasuk isoniazid, sulfonamida, valproat, dan fenitoin
(Friedman and Keeffe, 2012). 4. ALT-AST
Aminotransferase adalah enzim-enzim yang mengkatalisis konversi
α-ketoacid menjadi asam amino melalui transfer dari satu residu amino. Aspartat
aminotransferase (AST) mengkatalisis transfer residu 2-amino dari aspartat menjadi 2-oksoglutarat, menghasilkan glutamat dan oksaloasetat. Alanin aminotransferase (ALT) mengkatalisis transfer residu amino dari alanin 2-oksoglutarat, membentuk glutamat dan piruvat (Dancygier, 2010). Kisaran normal AST adalah 0-40 IU/L, sedangkan ALT adalah 0-45 IU/L. Pemeriksaan kadar ALT dan AST dapat digunakan sebagai indikator kerusakan atau kematian sel hati yang sedang terjadi (Dickerson, 2006).
Serum normal aminotransferase mencerminkan pergantian sel fisiologis. Pada penyakit hati peningkatan serum bukan terjadi karena peningkatan sintesis enzim, tetapi karena manifestasi peningkatan pelepasan enzim yang disebabkan
oleh kematian sel hati atau kerusakan hati dengan peningkatan permeabilitas membran hepatoseluler. Oleh karena itu, ALT dan AST dapat digunakan sebagai indikator yang sensitif dari kerusakan hepatoselular. ALT dan AST digunakan sebagai parameter diagnostik dasar untuk menilai dan memantau penyakit hati. ALT adalah indikator yang relatif spesifik penyakit hati, yang hadir dalam cedera sel bahkan kecil (Dancygier, 2010).
ALT sebagian besar ditemukan di hati, aktivitas ALT di hati lebih spesifik, yaitu sepuluh kali lipat aktivitas di jantung atau otot rangka. Pada tingkat selular, ALT di simpan dalam sitosol hepatosit sedangkan AST di dalam mitokondria (70%) dan sitoplasma (30%) (Dancygier, 2010). Pada kasus ekstrahepatik (infark miokard, gangguan otot, dan trauma) yang menyebabkan peningkatan transaminase harus dikesampingkan, terutama AST. Rasio AST : ALT > 1 biasanya menunjukkan kerusakan hati yang diinduksi alkohol dan rasio AST : ALT < 1 menunjukkan kerusakan hati yang disebabkan virus. Tingkat transaminase tertinggi ditemukan pada hepatitis akut (AST dan ALT> 10x upper
limit of normal (ULN). Pada jaundice obstruktif, tingkat transaminase selalu naik,
tetapi umumnya tetap pada tingkat <10 x ULN. Tingkat transaminase yang cukup tinggi dapat menunjukkan berbagai penyakit hati yang disebabkan oleh alkohol, obat yang menginduksi kerusakan hati, hepatitis kronis yang disebabkan virus, sirosis hati, dan kongesti hati (Siegenthaler, 2007).
5. Evaluasi kerusakan hati
Evaluasi kerusakan hati dapat dilakukan dengan beberapa cara di laboratorium, yaitu:
a. Uji aktivitas enzim serum
Evaluasi dilakukan dengan mengukur aktivitas enzim pada serum aminotransferase, alkalin fosfatase, laktat dehidrogenase. Pengujian aktivitas enzim menggambarkan fungsi hati. Serum aminotransferase merupakan indikator yang sensitif dari cedera pada sel-sel hati dan berguna dalam mendeteksi penyakit hati akut seperti hepatitis. Alanin aminotransferase (ALT), aspartat aminotransferase (AST), dan gamma - glutamil transferase (GGT) adalah tes yang paling sering digunakan dari kerusakan hati. Aktivitas ALT akan meningkat pada gangguan hati dan dapat digunakan untuk memantau hepatitis, sirosis, dan efek dari pengobatan yang mungkin beracun untuk hati. Serum AST ada dalam jaringan yang memiliki aktivitas metabolik yang tinggi. Oleh karena itu, AST akan meningkat saat terjadi kerusakan atau kematian jaringan organ seperti jantung, hati, otot rangka, dan ginjal. Meskipun tidak spesifik untuk penyakit hati, tingkat AST dapat meningkat pada sirosis, hepatitis, dan kanker hati. Peningkatan kadar GGT berhubungan dengan kolestasis, tetapi juga dapat disebabkan oleh penyakit hati alkoholik (Smeltzer, Bare, Hinkle and Cheever, 2009).
b. Uji ekskretori hepatik
Bilirubin adalah produk ekskretori hati yang dibentuk dari katabolisme heme. Bilirubin diglukuronide dibentuk dengan bantuan konjugasi oleh hati yang kemudian dieksresikan melalui kantong empedu (Vasudevan, Srekumari, and Vaidyanathan, 2013). Pengukuran bilirubin dalam darah dan urin biasanya digunakan untuk menilai transportasi anion hati, meskipun banyak anion lain, termasuk garam empedu yang juga diangkut oleh hati (Beckett, et al., 2010).
c. Uji kadar protein serum
Hati mensintesis hampir semua protein plasma kecuali imunoglobulin. Serum albumin secara kuantitatif merupakan protein penting yang disintesis oleh hati, dan mencerminkan sejauh mana sel-sel hati masih berfungsi. Albumin memiliki waktu paruh sekitar 20 hari, sehingga dalam semua penyakit kronis hati, tingkat albumin akan menurun. Tingkat albumin normal dalam darah adalah 3,5 sampai 5 g/dL (Vasudevan, et al., 2013).
d. Biopsi liver
Biopsi hati merupakan pengambilan sejumlah kecil jaringan hati yang akan digunakan untuk pemeriksaan sel-sel hati di laboratorium. Biasanya yang paling umum adalah untuk mengevaluasi gangguan menyebar dari parenkim dan mendiagnosa ruang yang menempati lesi. Biopsi hati sangat berguna ketika temuan klinis dan uji laboratorium tidak diagnostik (Smeltzer, et al., 2009).