Pendahuluan
Latar Belakang
Penelitian mengenai agens hayati untuk meningkatkan pertumbuhan dan pengendalian penyakit HDB pada tanaman padi, khususnya bidang ilmu dan teknologi benih, telah dilakukan IPB bekerjasama dengan beberapa instansi terkait (Ilyas et al. 2008; Ilyas et al. 2013). Rangkaian penelitian yang telah dilakukan menghasilkan beberapa informasi terkait dengan jenis bakteri, teknik, konsentrasi, serta frekuensi aplikasi agens hayati B. subtilis 5/B, P. diminuta A6 dan
Aeromonas sp. F112 (Ilyas et al. 2008, 2013; Budiman 2009; Yukti 2009; Agustiansyah et al. 2010, 2011, 2013a, 2013b; Lizansari 2013; Zamzami et al.
2014; Khodar et al. 2016).
Perlakuan benih dengan B. subtilis 5/B atau P. diminuta A6 dilaporkan mampu mengendalikan Xoo yang menginfeksi benih dan meningkatkan pertumbuhan bibit padi (Agustiansyah 2010). Bakteri B. subtilis 5/B dan P. diminuta A6 memiliki kompatibilitas sehingga dapat digunakan secara bersamaan untuk mendapatkan pengaruh positif yang lebih optimal (Palupi 2012). Kedua jenis rizobakteri ini dapat diaplikasikan pada benih padi terinfeksi Xoo melalui
matriconditioning. Matriconditioning adalah pengendalian hidrasi benih melalui penggunaan carrier berupa media padat lembab dengan potensial matriks rendah (Khan et al. 1992). Integrasi matriconditioning dengan bakteri agens hayati disebut juga biomatriconditioning (Ilyas 2006). Matriconditioning benih dengan penambahan B. subtilis 5/B dan P. diminuta A6 mampu menekan kejadian penyakit HDB pada bibit padi (Lizansari 2013).
Lahan persawahan seringkali mengandung inokulum Xoo dari sisa pertanaman sebelumnya, aliran air irigasi, atau gulma terinfeksi. Hal tersebut menyebabkan infeksi Xoo dapat terjadi di semua fase pertumbuhan tanaman. Ilyas
et al. (2013) menduga perlakuan benih melalui matriconditioning dengan
B. subtilis 5/B + P. diminuta A6 saja belum cukup efektif untuk mengatasi Xoo
sehingga harus diikuti dengan perendaman akar bibit dengan agens hayati yang sama. Selain itu, penyemprotan daun dengan agens hayati juga dinilai perlu diterapkan karena Xoo tidak hanya dapat menular melalui benih dan tanah, tapi juga udara. Kemampuan agens hayati dalam pengendalian penyakit tanaman diindikasikan melalui penurunan intensitas penyakit. Menurut Kranz (1988) intensitas penyakit dapat dihitung dengan tolok ukur kejadian atau keparahan penyakit. Intensitas penyakit adalah persentase tanaman berpenyakit dari suatu contoh atau populasi pengamatan, tanpa mempertimbangkan tingkat keparahan penyakit tersebut. Keparahan penyakit adalah persentase luasan gejala penyakit pada jaringan tanaman.
Lizansari (2013) melaporkan perendaman akar bibit dalam suspensi
B. subtilis 5/B + P. diminuta A6 kerapatan 108 cfu mL-1 selama 60 menit efektif menurunkan keparahan penyakit HDB pada fase vegetatif. Zamzami (et al. 2014)
15
melaporkan perlakuan matriconditioning + B. subtilis 5/B + P. diminuta A6 dilanjutkan dengan penyemprotan tanaman dengan agens hayati isolat bakteri F112 kerapatan 108 cfu mL-1 pada 7 dan 9 MSP (minggu setelah pindah tanam) dengan dosis 519 mL ha-1 cenderung menurunkan keparahan HDB. Penelitian Khodar et al. (2016) menunjukkan penyemprotan suspensi isolat F112 kerapatan 4.5 108 cfu mL-1 dengan dosis 300 L ha-1 meningkatkan bobot gabah kering ubinan. Hasil identifikasi yang dilakukan pada percobaan sebelumnya menunjukkan isolat F112 adalah Aeromonas sp.
Beberapa metode aplikasi yang telah dilakukan menunjukkan potensi pemanfaatan bakteri B. subtilis 5/B, P. diminuta A6 dan Aeromonas sp. F112 sebagai agens hayati, namun belum nyata meningkatan produksi benih dan pengendalian HDB. Kombinasi metode aplikasi agens hayati diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih optimal. Penelitian untuk menentukan metode aplikasi terbaik perlu dilakukan untuk mencari metode paling efektif dalam meningkatkan produksi dan mutu benih yang dihasilkan.
Efektivitas agens hayati dalam pengendalian HDB perlu dibandingkan dengan bakterisida yang terbukti mampu menghambat pertumbuhan Xoo. Bakterisida dengan bahan aktif streptomisin sulfat 20% lebih efektif menghambat pertumbuhan Xoo dibandingkan tembaga oksida 56%. Integrasi perlakuan benih melalui matriconditioning dengan bakterisida (bahan aktif streptomisin sulfat 20%) konsentrasi 0.2% nyata meningkatkan daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, bobot kering, mereduksi populasi Xoo terbawa benih (Rachmawati 2009) serta meningkatkan produksi benih di lapangan (Zamzami et al. 2014). Sementara itu, perendaman akar bibit dan penyemprotan daun di lapangan dengan jenis dan konsentrasi bakterisida yang sama tidak memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan agens hayati dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman dan menurunkan tingkat keparahan penyakit HDB (Lizansari 2013; Zamzami et al. 2014). Berdasarkan hal tersebut,
matriconditioning + bakterisida (streptomisin sulfat 20%) konsentrasi 0.2% digunakan sebagai perlakuan bakterisida pembanding bagi aplikasi agens hayati. Tujuan
Membandingkan pengaruh metode aplikasi agens hayati melalui perlakuan
matriconditioning benih, perendaman akar bibit, penyemprotan daun, serta kombinasi dua dan tiga perlakuan tersebut terhadap intensitas penyakit HDB, pertumbuhan tanaman serta produksi dan mutu benih padi.
Bahan dan Metode Waktu dan Tempat
Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2014 sampai Agustus 2015. Persiapan, perbanyakan, pembuatan suspensi bakteri, verifikasi ulang koleksi bakteri, dan uji populasi Xoo terbawa benih dilakukan di Laboratorium Fisiologi dan Kesehatan Benih Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH) IPB. Percobaan di lapangan dilakukan di Balai Besar Padi Instalasi Kebun Percobaan Muara, Bogor. Pengukuran kadar air dan bobot 1000 butir dilakukan di Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura,
16
Depok. Pengujian daya berkecambah dan indeks vigor dilakukan di Laboratorium Pengujian Benih Departemen AGH IPB.
Benih Sumber
Benih padi yang digunakan adalah benih bersertifikat varietas IR64 kelas Benih Dasar, diperoleh dari BB Padi, Sukamandi. Benih hasil panen bulan Maret 2014. Daya berkecambah benih yang tercantum pada label adalah 89%. Benih telah mengalami penyimpanan selama 6 bulan di ruangan berpendingin udara (AC) sebelum digunakan.
Penyediaan Biakan Murni Bakteri
Bakteri yang digunakan adalah B. subtilis 5/B, P. diminuta A6 dan
Aeromonas sp. F112 sebagai agens hayati dan Xoo sebagai patogen. Semua biakan bakteri tersebut merupakan koleksi Laboratorium Fisiologi dan Kesehatan Benih Dept. AGH IPB yang digunakan pada penelitian sebelumnya (Ilyas et al. 2008; Agustiansyah 2013a; Zamzami et al. 2014; Lizansari 2013; Khodar et al.
2016). Isolat Xoo sebagai patogen berasal dari lingkungan tempat percobaan akan dilakukan. Peremajaan dan perbanyakan bakteri dilakukan dengan membiakkan bakteri media yeast dextrose calcium carbonate agar (20 g CaCO3, 20 g glukosa, 10 g ekstrak ragi, 15 g agar, dan 1 L akuades) untuk Xoo, nutrient agar (5 g
panceatic digest of gelatin, 3 g kaldu daging, 15 g agar, dan 1 L akuades) untuk B. subtilis 5/B dan Aeromonas sp. F112, atau King’s B (20 g protease pepton, 1.5 g K2HPO4 , 15 mL gliserol, 20 g agar, dan 1 L akuades) untuk P. diminuta A6.
Bakteri B. subtilis 5/B dan P. diminuta A6 dikoleksi dalam bentuk freeze drying sehingga perlu dilarutkan. Satu ampul B. subtilis 5/Bdan P. diminuta A6 masing-masing dilarutkan dengan 10 mL akuades steril sehingga diperoleh tingkat pengenceran 10-1. Pengenceran berseri dilakukan sampai 10-7. Suspensi tingkat pengenceran 10-7 diteteskan pada media agar dengan volume 100 L, kemudian disebar secara merata. Inkubasi dilakukan selama 2 hari pada kondisi kamar. Koloni tunggal yang terbentuk dibiakkan kembali pada media baru untuk diperbanyak. Aeromonas sp. F112 dan Xoo dikoleksi dalam agar miring. Pemurnian dilakukan dengan cara penggoresan berseri sehingga diperoleh koloni tunggal. Koloni tunggal yang terbentuk dibiakkan kembali pada media baru untuk diperbanyak.
Percobaan Pendahuluan
Percobaan pendahuluan dilakukan untuk mengetahui kelayakan dan informasi awal bahan uji yang digunakan dalam penelitian. Percobaan meliputi
verifikasi patogenisitas bakteri Xoo, hipersensitifitas bakteri agens hayati
B. subtilis 5/B, P. diminuta A6 dan Aeromonas sp. F112, antagonisme agens hayati terhadap Xoo, serta uji mutu benih sumber.
Verifikasi ulang koleksi bakteri 1. Uji patogenisitas Xoo
Suspensi Xoo dibuat dengan cara melarutkan 10 ose biakan Xoo
berumur 48 jam dalam 100 mL akuades steril. Gunting dicelupkan ke dalam suspensi Xoo lalu digunakan untuk memotong ujung daun tanaman padi varietas IR64 yang ditanam dalam pot dan berumur sekitar 8 minggu. Patogenisitas Xoo masih tinggi apabila dalam waktu 2-5 hari daun hasil pemotongan menunjukkan gejala HDB.
17
2. Uji antagonisme agens hayati terhadap Xoo
Uji antagonisme terhadap Xoo dilakukan melalui pengamatan zona hambat pertumbuhan. Bakteri Xoo dibiakkan dengan cara menyebar 100 μL suspensi Xoo pada cawan petri berisi media nutrient agar secara merata. Potongan kertas saring steril (diameter 5 mm) dicelupkan dalam masing- masing suspensi agens hayati (satu ose biakan bakteri dalam 10 mL akuades steril) lalu diletakkan pada cawan petri berisi media nutrient agar yang telah diinokulasi Xoo, kemudian diinkubasi pada kondisi kamar selama 5 hari. Pengamatan dilakukan pada hari kelima dengan melihat pembentukan lingkaran zona hambatan oleh agens hayati yang terjadi disekitar kertas saring. Agens hayati dianggap masih memiliki sifat antagonis yang baik apabila dapat menghasilkan zona hambat disekitar kertas saring.
3. Uji hipersensitifitas
Tanaman tembakau berumur sekitar bulan 4 digunakan sebagai tanaman indikator. Masing-masing suspensi agens hayati diambil dengan jarum suntik steril volume 1 mL dan diinokulasikan pada daun tembakau hingga terlihat zona basah pada mesofil. Tanaman tersebut kemudian diinkubasi selama 24- 48 jam. Reaksi positif ditunjukkan apabila bagian daun yang diinokulasi mengalami nekrosis.
4. Uji kompatibilitas rizobakteri
Uji kompatibilitas dilakuklan dengan metode dual culture. Potongan kertas saring steril (diameter 5 mm) dicelupkan dalam suspensi B. subtilis 5/B (satu ose biakan bakteri dalam 10 mL akuades steril) lalu diletakkan pada cawan petri berisi media nutrient agar yang telah disebar 100 L P. diminuta
A6. Sebagai pembanding dilakukan juga pengujian dengan cara yang sama, namun dengan menukar posisi antara bakteri B. subtilis 5/B dan P. diminuta
A6. Biakan tersebut kemudian diinkubasi pada kondisi kamar selama 5 hari. Pengamatan dilakukan pada hari kelima dengan melihat pembentukan lingkaran zona hambat disekitar kertas saring. Kedua rizobakteri bersifat kompatibel apabila tidak menghasilkan zona hambat disekitar kertas saring. Pengujian mutu benih sumber
1. Daya berkecambah
Pengujian daya berkecambah benih dilakukan dengan metode uji kertas digulung, didirikan dalam plastik pada suhu 25 oC, menggunakan empat ulangan (setiap ulangan terdiri atas 100 butir benih). Pengamatan dilakukan dua kali, yaitu pada 5 hari setelah tanam (HST) dan 14 HST. Kecambah dikategorikan tumbuh normal apabila seluruh struktur penting seperti akar, koleoptil, dan daun primer berkembang sempurna atau menunjukkan sedikit kerusakan yang dapat diterima (ISTA 2014). Nilai daya berkecambah dihitung menggunakan rumus berikut:
a a r am a i a g ita am 100
Keterangan: KN I = Kecambah yang tumbuh normal pada hari pengamatan pertama (5 HST). KN II = Kecambah yang tumbuh normal pada pengamatan kedua (14 HST)
18
2. Indeks vigor
Pengujian indeks vigor benih dilakukan bersamaan dengan pengujian daya berkecambah, namun pengamatan hanya dilakukan berdasarkan jumlah benih yang telah tumbuh normal pada hari pengamatan pertama (5 HST). Nilai indeks vigor dihitung dengan menggunakan rumus berikut:
s vigor am a orma a a i a g ita am 100
3. Populasi Xoo terbawa benih
Uji kuantitatif bakteri terbawa benih dilakukan dengan menggunakan metode grinding (Zamzami 2013) yang dimodifikasi. Sebanyak 10 g benih disterilisasi permukaan dengan cara merendam benih selama 1 menit pada larutan natrium hipoklorit (NaOCl) 1%, kemudian dibilas dengan air steril tiga kali. Benih kemudian digerus dan ditambahkan akuades steril 90 mL. Hasil gerusan diinkubasi di dalam lemari pendingin (suhu sekitar 4 oC) selama 2 jam. Suspensi yang terbentuk diencerkan secara bertingkat sampai 10-4. Kemudian suspensi yang telah diencerkan dituangkan dan disebar merata sebanyak 100 μL ke cawan petri yang berisi media yeast dextrose calcium carbonate agar. Setelah diinkubasi selama 5 hari pada suhu kamar, koloni Xoo yang terbentuk diamati dan dihitung jumlah koloninya (colony forming unit/ cfu). Koloni Xoo berbentuk bulat, cembung, berwarna kuning keputih-putihan sampai kuning tua.
um a o o i fu g 1 um a o o i a g iamati 10
i g at g ra a g igu a a
Percobaan Utama
Penyediaan suspensi bakteri patogen dan agens hayati
Perbanyakan bakteri dilakukan dengan membiakkan bakteri pada media
yeast dextrose calcium carbonate agar (Xoo), nutrient agar (B. subtilis 5/B dan
Aeromonas sp. F112) serta King’s B (P. diminuta A6). Suspensi agens hayati dibuat dengan cara melarutkan masing-masing biakan murni bakteri berumur 48 jam dengan akuades steril hingga diperoleh suspensi bakteri dengan kerapatan 108-109 cfu mL-1. Kerapatan 108-109 cfu mL-1 diperoleh dengan cara melarutkan satu ose bakteri dalam 10 mL akuades steril.
Peningkatan populasi Xoo terbawa benih pada benih sumber
Benih sumber digunakan apabila hasil uji pendahuluan memenuhi persyaratan mutu (daya berkecambah minimal 80%). Peningkatan populasi Xoo
pada benih sumber dilakukan melalui inokulasi buatan. Benih direndam dalam suspensi Xoo (108-109 cfu mL-1) selama 24 jam pada suhu 25 oC lalu dikeringanginkan selama 12 jam pada kondisi kamar (Agustiansyah et al. 2010). Perlakuan matriconditiong benih, perendaman akar bibit, dan penyemprotan daun dengan agens hayati
Matriconditioning benih menggunakan arang sekam steril halus (lolos saringan 0.5 mm) sebagai carrier. Arang sekam halus digunakan sebagai carrier
karena bersifat porus dan tidak menimbulkan toksik (Fiana 2010), dan terbukti dapat dilakukan dan memberikan hasil yang baik bagi perkecambahan benih
19
apabila diintegrasikan dengan pestisida (Rachmawati 2009; Fiana 2010) atau suspensi bakteri agens hayati (Agustiansyah et al. 2010, 2011, 2013b; Sutariati dan Khaeruni 2013; Zamzami et al. 2014; Permatasari 2015; Khodar et al. 2016). Nisbah bahan untuk matriconditioning adalah benih : arang sekam : larutan pelembab yaitu 1.0 : 0.8 : 1.2 (g : g : mL) (Ilyas et al. 2008). Perlakuan bakterisida (matriconditioning + bakterisida) dilakukan dengan larutan pelembab berupa suspensi bakterisida (berbahan aktif streptomisin sulfat 20%) konsentrasi 0.2%, dilanjutkan inkubasi selama 6 jam. Perlakuan biomatriconditioning merupakan
matriconditioning dengan larutan pelembab berupa campuran suspensi B. subtilis
5/B dan P. diminuta A6 perbandingan 1:1, dilanjutkan dengan inkubasi selama 30 jam. Inkubasi dilakukan pada suhu 25 oC (Zamzami et al. 2014).
Perlakuan perendaman akar bibit dengan agens hayati dilakukan pada bibit padi berumur 19 hari setelah semai (HSS). Bibit dicabut dari persemaian kemudian akar bibit direndam dalam campuran suspensi B. subtilis 5/B dan P. diminuta A6 dengan perbandingan 1:1. Perendaman akar bibit dilakukan selama 60 menit sebelum dipindah tanam ke sawah (Lizansari 2013).
Penyemprotan daun dengan agens hayati dilakukan menggunakan sprayer
pada tanaman berumur 60 HSS dan 80 HSS pada pagi hari saat cuaca cerah. Penyemprotan dilakukan menggunakan suspensi bakteri Aeromonas sp. F112 dengan dosis 300 L ha-1 (Khodar et al. 2016).
Percobaan 2a. Aplikasi agens hayati pada benih untuk memacu pertumbuhan bibit di persemaian
Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor (perlakuan benih) digunakan untuk membandingkan pengaruh aplikasi agens hayati pada benih terhadap daya tumbuh benih dan pertumbuhan bibit di persemaian sampai saat pindah tanam.
Percobaan terdiri atas tiga taraf, yaitu 1) kontrol (tanpa perlakuan), 2) matriconditioning + bakterisida, dan 3) biomatriconditioning
(matriconditioning + B. subtilis 5/B + P. diminuta A6). Percobaan terdiri atas empat kelompok, setiap unit percobaan menggunakan 100 butir benih.
Kotak plastik yang telah dilubangi pada beberapa tempat di bagian alas dan tepinya disiapkan sebagai wadah semai. Kotak diisi tanah persemaian yang telah di pupuk dengan NPK Phonska dosis 50 g m-2 (rekomendasi Instalasi Kebun Percobaan Muara). Benih disemai pada kotak (100 butir/kotak) dan diletakkan pada lahan persemaian yang relatif homogen dan terbuka. Penyiraman dilakukan sesuai kebutuhan, tidak sampai membuat media tergenang. Sebagai perlindungan terhadap hama burung dan belalang, bagian atas dan samping persemaian dilindungi dengan jaring.
Pengamatan dilakukan terhadap daya tumbuh benih dan keragaan bibit saat pindah tanam dengan tolok ukur sebagai berikut:
1. Daya tumbuh benih
Daya tumbuh benih (%) dihitung berdasarkan persentase benih yang telah tumbuh menjadi kecambah normal pada 14 HSS di persemaian. Penghitungan dilakukan terhadap 100 contoh benih per unit percobaan. 2. Tinggi bibit
Tinggi bibit (cm) diukur pada saat bibit akan dipindah tanam (19 HSS). Pengukuran dilakukan pada bagian pangkal batang sampai pucuk daun
20
tertinggi, dilakukan terhadap lima contoh bibit yang diambil secara acak per unit percobaan.
3. Panjang akar bibit
Panjang akar bibit (cm) diukur pada saat bibit akan dipindah tanam (19 HSS). Pengukuran dilakukan pada bagian pangkal batang sampai ujung akar, dilakukan terhadap lima contoh bibit yang diambil secara acak per unit percobaan.
4. Bobot kering bibit
Bobot kering bibit (g) dilakukan terhadap lima contoh bibit yang diambil secara acak saat akan dipindah tanam (19 HSS) per unit percobaan. Bobot kering diukur dengan cara menimbang bibit yang telah dikeringkan dalam oven bersuhu 80 oC selama 24 jam.
Data hasil pengamatan dianalisis ragam dengan taraf kepercayaan 95%, dan jika terdapat pengaruh perlakuan dilakukan uji lanjut secara DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) dengan taraf nyata 5%.
Percobaan 2b. Aplikasi agens hayati untuk memacu pertumbuhan tanaman, mengendalikan hawar daun bakteri dan meningkatkan produksi benih padi di lapangan
Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) satu faktor (aplikasi agens hayati) digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan agens hayati terhadap pertumbuhan tanaman setelah pindah tanam ke sawah, perkembangan HDB, komponen hasil, sampai mutu benih hasil produksi. Percobaan terdiri atas sembilan taraf yaitu 1) kontrol (tanpa perlakuan), 2) matriconditioning + bakterisida, 3) biomatriconditioning (matriconditioning + B. subtilis 5/B + P. diminuta A6 [BM]), 4) perendaman akar bibit dengan B. subtilis 5/B + P. diminuta A6 (RA), 5) penyemprotan daun dengan Aeromonas sp. F112 (SD), 6) BM + RA, 7) BM + SD, 8) RA + SD, dan 9) BM + RA + SD. Percobaan terdiri atas tiga kelompok, setiap unit percobaan terdiri atas 30 rumpun contoh yang dipilih secara acak pada 2 MSP.
Benih disemai pada lahan persemaian yang relatif homogen pada tanah terbuka, gembur, datar, dan tidak tergenang air. Pemupukan dengan NPK Phonska dilakukan sehari sebelum benih disemai dengan dosis 50 g m-2. Lahan persemaian ditutupi oleh jaring sebagai perlindungan terhadap hama burung dan belalang. Pindah tanam bibit dilakukan pada umur 19 HSS (hari setelah semai).
Lahan sawah dipersiapkan 2-3 minggu sebelum pindah tanam, dengan cara membalikkan tanah, membenamkan sisa-sisa pertanaman sebelumnya, membajak, serta membuat 27 unit percobaan berukuran 6 m 5 m. Bibit ditanam pada unit percobaan dengan jarak tanam 25 cm 25 cm sebanyak dua bibit per lubang tanam. Pemeliharaan tanaman meliputi penyulaman maksimal 2 MSP, penyiangan gulma, pengairan (mulai pindah tanam sampai 8 MSP secara berselang, fase berbunga sampai pengisian benih lahan diairi 2-5 cm, dua minggu sebelum panen sampai panen lahan dikeringkan), pemupukan (150 kg ha-1 SP-36 + 150 kg ha-1 NPK Phonska pada 1 MSP, 150 kg ha-1 NPK Phonska + 100 kg ha-1 Urea pada 4 MSP, 100 kg ha-1 Urea pada 8 MSP), dan pengendalian hama dengan pestisida (bahan aktif saponin dengan dosis 20 kg ha-1 pada 1 MSP dan bahan aktif fipronil
21
dengan dosis 500 mL ha-1 pada 3, 6, dan 8 MSP). Panen dilakukan pada 15 MSP dan hasil panen dijemur di bawah sinar matahari selama 3 hari mulai pukul 08.00 sampai 12.00 hingga diperoleh gabah kering giling (GKG [kadar air + 14%]).
Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan tanaman, perkembangan penyakit HDB, komponen hasil, dan mutu benih hasil produksi di lapangan. Penghitungan komponen hasil menggunakan GKG. Benih merupakan gabungan dari gabah bernas semua rumpun contoh pada setiap unit percobaan. Tolok ukur pengamatan adalah sebagai berikut:
1. Tinggi tanaman
Tinggi tanaman (cm) diukur pada tanaman padi yang telah dipindah tanam ke sawah. Tinggi dihitung pada 1- 8 MSP. Pengukuran dilakukan pada bagian pangkal batang sampai pucuk daun tertinggi setiap rumpun contoh. 2. Jumlah anakan per rumpun
Jumlah anakan setiap rumpun contoh dihitung pada 2, 4, 6, dan 8 MSP. 3. Bobot kering tanaman per rumpun
Pengukuran bobot kering tanaman per rumpun (g) dilakukan pada lima rumpun yang dipilih secara acak (selain rumpun contoh) untuk setiap unit percobaan. Bobot kering tanaman diamati pada 2, 4, 6 dan 8 MSP. Tanaman dicabut sampai ke akarnya dan dibersihkan dari tanah yang melekat. Tanaman yang sudah dibersihkan kemudian dioven dengan suhu 80 °C selama 24 jam kemudian ditimbang bobotnya.
4. Kejadian penyakit HDB
Pengamatan dilakukan pada 5 dan 12 MSP. Tingkat kejadian (%) dihitung berdasarkan persentase jumlah rumpun contoh yang menunjukkan gejala HDB.
5. Keparahan penyakit HDB
Pengamatan dilakukan terhadap semua rumpun contoh pada 12 MSP. Tingkat keparahan penyakit HDB diamati berdasarkan persentase luas daun terserang dibandingkan luas total permukaan daun menggunakan tolok ukur indeks keparahan. Perhitungan indeks keparahan dilakukan menurut Khaeruni
et al. (2014) melalui rumus berikut:
s ara a v 100
Keterangan: n = jumlah tanaman dari tiap kategori serangan, v = kategori serangan, N = jumlah tanaman yang diamati, Z = nilai kategori tertinggi, kategori serangan= 0: tidak ada serangan, 1: skala kerusakan 1–5%, 3: skala kerusakan 6-12%, 5: skala kerusakan 13-25%, 7: skala kerusakan 26–50%, 9: skala kerusakan > 50% 6. Bobot gabah total per rumpun
Bobot gabah total per rumpun (g) dilakukan dengan menimbang gabah total (bernas dan hampa) yang dihasilkan setiap rumpun contoh.
7. Bobot gabah bernas per rumpun
Bobot gabah bernas per rumpun (g) dilakukan dengan menimbang gabah bernas yang dihasilkan setiap rumpun.
22
8. Persentase gabah bernas
Persentase gabah bernas dihitung pada setiap unit percobaan dengan rumus:
rs tas ga a r as o ot ga a tota o ot ga a r as
100
9. Bobot 1000 butir benih
Penghitungan bobot 1000 butir (g) dilakukan menurut ISTA (2014). Setiap unit percobaan diambil secara acak sebanyak delapan ulangan (setiap ulangan terdiri atas 100 butir benih [gabah bernas]). Setiap 100 butir benih ditimbang dan dicatat hasilnya. Ragam, simpangan baku, dan koefisien keragaman di hitung menggunakan rumus berikut:
im a ga a u ∑ 2 1 ∑ 2
Keterangan: N adalah ulangan, dan x adalah berat 100 butir tiap ulangan
im a ga a u √ agam ;
o isi ragama ata rata rat 100 utir im a ga a u 100
Benih padi tergolong chaffy grass seed, sehingga koefisien keragaman tidak boleh lebih dari 6.0. Bobot 1000 butir ditetapkan dengan mengalikan nilai rata-rata bobot 100 butir dari delapan ulangan dengan 10.
10. Daya berkecambah benih
Pengujian daya berkecambah benih dilakukan dengan metode uji kertas digulung, didirikan dalam plastik pada suhu 25 oC, menggunakan empat ulangan (setiap ulangan terdiri atas 100 butir benih) per unit percobaan. Pengamatan dilakukan dua kali, yaitu pada 5 HST dan 14 HST. Kecambah dikategorikan tumbuh normal apabila seluruh struktur penting seperti akar, koleoptil, dan daun primer berkembang sempurna atau menunjukkan sedikit kerusakan yang dapat diterima (ISTA 2014). Nilai daya berkecambah dihitung menggunakan rumus berikut:
a a r am a i a g ita am 100
Keterangan: KN I = Kecambah yang telah tumbuh normal pada hari pengamatan pertama (5 HST). KN II = Kecambah yang telah tumbuh normal pada hari pengamatan kedua (14 HST)
11. Indeks vigor benih
Pengujian indeks vigor benih dilakukan bersamaan dengan pengujian daya berkecambah. Nilai indeks vigor dihitung dengan menggunakan rumus:
s vigor am a orma a a i a g ita am 100
12. Populasi Xoo terbawa benih
Uji kuantitatif bakteri terbawa benih diuji denganmenggunakan metode
23
disterilisasi permukaan dengan cara merendam benih selama 1 menit pada larutan NaOCl 1%, kemudian dibilas dengan air steril tiga kali. Benih kemudian digerus dan ditambahkan akuades steril 90 mL. Hasil gerusan diinkubasi pada lemari pendingin (suhu sekitar 4 oC) selama 2 jam. Suspensi yang terbentuk diencerkan secara bertingkat sampai 10-4. Kemudian suspensi yang telah diencerkan dituangkan dan disebar merata sebanyak 100 μL ke cawan petri yang telah berisi media yeast dextrose calcium carbonate agar. Setelah diinkubasi selama 5 hari pada suhu kamar, koloni Xoo yang terbentuk diamati dan dihitung jumlah koloni yang terbentuk (cfu).
um a o o i fu g 1 um a o o i a g iamati 10