HCV adalah virus RNA yang digolongkan dalam flavivirus. HCV sekarang dikenali sebagai penyebab hampir semua kasus yang didapat secara parenteral dari apa yang sebelumnya dikenal sebagai hepatitis non-A, non-B. Virus belum diisolasi tetapi telah diklon dengan menggunakan teknologi DNA rekombinan. merupakan virus RNA kecil terbungkus lemak diameternya sekitar 30-60 nm diklasifikasikan sebagai genus
tersendiri dalam famili Flaviviridae. Virus menularkan dalam bentuk produk darah dalam hal ini tranfusi darah atau produk-produk darah, penggunaan obat intravena, dan kontak social.1,2,6
Gambar 7. Virus hepatitis C II.5.2 Epidemiologi
WHO memperkirakan ada sekitar 160 juta pengidap hepatitis C di seluruh dunia. Prevalensi tertinggi ditemukan di Negara seperti Mesir, Bolivia, Burundi, Camerun, Guinea, Rwanda, Tanzania. Di Inggris dan wales memperkirakan individu usia 15-59 tahun dengan anti-HCV positif. Sekitar 75% nya akan menjadi infeksi yang kronik.2,3,4
Masa inkubasinya adalah 7-9 minggu (kisaran 2-24 minggu). Penelitian ekeperimental telah memastikan adanya sekitar 1% sampai 3% dari seluruh populasi umum dewasa sehat. Faktor risiko penting untuk penularan HCV di AS adalah penggunaan obat-obat intravena (40%), tranfusi (10%) dan pajanan pekerjaan dan seksual (10%). Sisa 40% penderita belum diketahui faktor risiko yang terkait kecuali bila ibu terinfeksi HIV atau mempunyai HCV RNA yang tinggi. Walaupun uji HCV telah membuat tranfusi darah jauh lebih aman, uji darah mungkin menyebabkan hanya penurunan sedang pada kasus HCV karena tranfusi mencakup hanya sebagian kecil infeksi HCV. Serosurvei populasi besar di Amerika serikat menunjukan sekitar 1% populasi dewasa mempunyai bukti adanya infeksi HCV sebelumnya. Meskipun frekuensi hepatitis C akibat tranfusi darah telah menurun sebagai akibat dari skrining darah donor, frekuensi keseluruhan dari hepatitis C tetap sama, terutama karena meningkatnya cara penularan yang lain terutama penggunaan obat
intra vena. Infeksi yang menetap dihubungkan dengan hepatitis kronik, sirosis, kanker hati.1,2,3,4
Gambar 8. Perjalanan serologis hepatitis C
Cara Penularan
Virus hepatitis C (VHC) dapat ditularkan melalui beberapa cara, antara lain melalui parenteral, kontak personal (intrafamilial), transmisi seksual dan transmisi perinatal (vertical). Penularan secara parenteral, kecuali melalui transfusi, dapat terjadi melalui jarum suntik pada pengguna obat-obatan dan petugas kesehatan. penularan secara parenteral merupakan penularan yang utama, 80% pasien dengan hepatitis kronis pasca transfusi penyebabnya adalah hepatitis C. Hampir setiap anak yang mendapat transfusi darah atau produk darah dari donor yang mengadung anti VHC, akan terinfeksi VHC. Risiko makin tinggi bila mendapat transfusi berulang dari donor yang multiple (leukemia, talasemia) atau mendapat produk darah yang diperoleh dari beberapa donor sekaligus (hemofilia). Meskipun infeksi VHC adalah penyebab utama hepatitis akibat transfusi, cukup banyak penderita hepatitis C yang ternyata tidak pernah memperoleh transfusi darah.1,2,4,5
Penularan infeksi VHC dapat juga terjadi pada penderita yang mendapat hemodialisis atau transplantasi organ. Penularan melalui hubungan seksual atau cairan tubuh sangat jarang dilaporkan beberapa peneliti.Transmisi intrafamilial adalah penularan yang terjadi dalam
keluarga yang salah satu anggota keluarganya menderita hepatitis C. Transmisi perinatal dari ibu ke anak yang dilahirkan dilaporkan sangat jarang dan dianggap tidak setinggi transmisi perinatal pada hepatitis virus B, pada bayi yang lahir dari ibu dengan RNA VHC positif. Risiko penularan meningkat bila disertai adanya HIV (human immunodeficiency virus). Transmisi vertical tidak terjadi bila titer RNA VHC kurang dari 10 copieslml. Sebaliknya transmisi terjadi pada 36% bayi bila kadar RNA-VHC > 10 copies/ml.2,3,4
Penularan VHC melalui air susu ibu sangat jarang, karena pada ASI dari ibu pengidap VHC yang dalam kolostrumnya mengandung RNA-VHC positif, tidak satupun bayinya terinfeksi dengan VHC sampai bayi berumur 1 tahun.1,2,3
II.5.3 Patologi
Pola cedera akutnya serupa dengan pola cedera akut virus hepatitis lain. Pada kasus, kelompok atau folikel virus hepatitis lain. Pada kasus kronis, kelompok atau folikel limfoid pada saluran porta terlihat sendirian atau sebagai bagian dari infiltrasi radang umum saluran.2,4,6
II.5.4 Patogenesis
HCV tampak menyebabkan cedera terutama melalui mekanisme sitopatik, tetapi cedera yang diperantarai imun juga dapat terjadi. Komponen sitopatik tampak ringan, karena bentuk akut adalah sitopatik tampak ringan, karena bentuk akut adalah khas paling kurang berat dari semua infeksi virus hepatitis; HCV jarang fulminan.2.3.4.7
Pola dari infeksi hepatitis akut sama dengan virus hepatotropik lainnya. HCV mempunyai kemampuan menimbulkan infeksi kronis yang tergantung pada infeksi non-sitopatik terhadap sel hati dan respon imunologis dari host. Seperti pada infeksi virus lainnya, eradikasi HCV melibatkan antibodi parenteral (neutralizing antibodies) terhadap virus yang beredar dalam sirkulasi dan aktivasi sel T sitotoksik untuk merusak sel yang terinfeksi dan menghambat replikasi intraselular melalui pelepasan sitokin. HCV dapat menghindar dari aktivitas antibodi penetral dengan cara mutasi komposisi antigeniknya. Mekanisme ini dapat menyebabkan timbulnya kuasi spesies yakni dalam sirkulasi seorang penderita terdapat virus yang homogen tetapi mempunyai variasi imunologis yang menyebabkan rfikasi dari antibodi penetral turun. HCV mungkin juga menurunkan respon imun antivirus dengan cara infeksi langsung pada sel
limfoid dan mengganggu produksi interferon. Kerusakan hepatoselular masih menjadi pertanyaan. Diduga terjadi melalui efek sitopatik dengan ditemukannya perubahan degeneratif yang disertai infiltrasi sel radang. Genotip HCV 1b mungkin lebih bersifat sitopatik daripada genotip yang lain. Mekanisme sitotoksisitas yang diperantarai sel (cell mediated cytotoxicity) diduga juga berperan dalam kerusakan sel hati, yang ditunjukkan dengan ditemukannya sel T sitotoksik yang bereaksi dengan HLA kelas I dan core beserta antigen envelope HCV pada serum penderita HCV kronis. Infeksi HCV juga dihubungkan dengan gangguan imunologis seperti krioglobulinemia, vaskulitis, glomerulonefritis, artritis, dan tiroiditis. Kejadian ini tergantung dari lamanya stimulasi virus terhadap sistem imun yang menyebabkan timbulnya reaksi antibodi monoklonal dan pembentukan kompleks imun dari IgG dan IgM atau karena HCV langsung menyerang jaringan limfoid. Reaksi ini mungkin juga menimbulkan limfoma. 1,2,5,
II.5.5 Manifestasi klinis
HCV merupakan hepatitis virus yang paling mungkin menyebabkan infeksi kronis. Sekitar dua pertiga infeksi pasca tranfusi clan sekitar sepertiga kasus sporadik didapat dimasyarakat akan menjadi kronis. Khas, pola fluktuasi kenaikan kadar aminotransaminase kronis lazim. HCV kronis akan memburuk menjadi sirosis pada hanya sekitar setengah penderita, atau sekitar 25% dari mereka semua yang pada mulanya terinfeksi. Karsinoma hepatoseluler primer dapat berkembang pada penderita dengan sirosis, tetapi HCV kurang efektif daripada HBV dalam menyebabkan karsinoma hepatoseluler primer. Karsinoma hepatoseluler akibat HCV mungkin akibat dari radang kronis dan nekrosis bukannya pengaruh onkogenik virus.2.3,5
Masa inkubasi dari infeksi hepatitis C antara 6-7 minggu (antara 2 minggu-6 bulan). Gambaran klinisnya pada anak-anak tidak dapat dibedakan dari infeksi hepatitis A dan hepatitis B. Sebagian besar pasien anak yang terinfeksi tana gejala (asimtomatik). Gejala biasanya mulai timbul pada onset yang lebih lanjut. Ikterus terjadi pada 25% pasien dan peningkatan ALT pada serum secara umum lebih rendah daripada infeksi hepatitis B. Hepatitis fulminant dapat terjadi, tetapi sangat jarang. Anak dengan penyakit imunodefisiensi memiliki perjalanan penyakit yang lebih hebat dan cepat. HCC (hepatocellular Carcinoma) ditemukan pada sebagian kecil pasien yang sebelumnya menderita penyakit hati kronik, tetapi belum didapatkan data yang tepat. Infeksi yang persisten ditemukan pada 85% pasien yang terinfeksi saat kelahiran, meskipun tidak
ditemukan hasil yang spesifik pada pemeriksaan biokimia. Hepatitis kronik terjadi pada 70% pasien dan sirosis pada 20% pasien.5,6,7
Hepatitis C akut menunjukkan pada awal infeksi sampai 6 bulan sesudahnya. Sekitar 60-80% dari orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala selama proses akut. Kadang-kadang jika ada gejala, biasanya ringan dan non spesifik seingga sulit untuk mendiagnosis hepatitis C. Klinis dari hepatitis C akut/kronik hampir sama dengan virus hepatitis lainnya. Gejala dari infeksi hepatitis C akut/kronik yang belum berkomplikasi :8
Nafsu makan berkurang Fatigue
Nyeri abdomen Ikterus
Gatal-gatal
Gejala yang menyerupai flu (flu like symdrome)
Infeksi HCV merupakan 20% bagian dari hepatitis akut di Amerika Serikat. Perkiraan masa inkubasi sekitar 7 minggu, yakni antara 2-30 minggu. Anak maupun dewasa yang terkena infeksi biasanya tidak menunjukkan gejala yang spesifik, sehingga dapat dikatakan bahwa diagnosis hepatitis C fase akut sangat jarang.1,2,3,6
Tidak kurang dari 85% penderita hepatitis C akut berkembang menjadi kronis. Mekanisme mengenai mengapa virus masih tetap ada atau persisten setelah infeksi akut belum diketahui. Sebagian besar penderita tidak sadar akan penyakitnya, selain gejala minimal dan tidak spesifik seperti rasa lelah, mual, mialgia, rasa tidak enak pada perut kanan atas, gatal-gatal dan penurunan berat badan. Beberapa penderita menunjukkan gejala-gejala ekstrahepatik yang adpaat mengenai organ lain seolah-olah tidak berhubungan dengan penyakit hati. Gejala ekstrahepatik bisa meliputi gejala hematologis, autoimun, mata, persendian, kulit, ginjal, paru dan sistem saraf. Sekitar 30% penderita menunjukkan kadar ALT serum yang normal sedangkan yang lainnya meningkat sekitar 3 kali harga normal. Kadar bilirubin dan fosfatase alkali serum biasanya normal kecuali pada fase lanjut.1,2,3 Hepatitis fulminan jarang terjadi. Ketika hepatitis C sudah berkembang menjadi sirosis maka terjadi penurunan fungsi hepar dan peningkatan tekanan dalam sirkulasi hepar (hipertensi portal), gejala yang terlihat :5,6,7
Ascites
Tendensi untuk memar dan berdarah Nyeri pada tulang
Varises Steatorrhea Ikterus
Perkiraan insidens karsinoma hepatoselular sekitar 0,25-1,2 juta kasus baru setiap tahun, sebagian besar berasal dari penderita dengan sirosis. Risiko terjadinya karsinoma hepatoselular pada penderita sirosis karena hepatitis C kronis diperkirakan sekitar 1%-4%.1,2,3
II.5.6 Diagnosis
Manifestasi klinis hepatitis C yang tidak spesifik dan seringkali asimtomatik, menyebabkan sulit untuk menegakan diagnosis hepatitis C oleh karena itu dilakukan uji diagnosis yang terdiri :
1. Uji serologi, untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap VHC 2. Uji molekuler, untuk mendeteksi adanya genom RNA VHC
Uji serologi dilakukan dengan cara enzyme immuno-assay (EIA) dan sebagai tes konfirmasi dipakai cara recombinant immunoblot assay (RIBA) uji molekuler di pakai cara polymerase chain reaction (PCR), Nucleic Acid Tests (NATs). Pemeriksaan yang sensitif adalah cara RIBA.
II.5.7 Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah mengeliminasi virus dan mencegah progresifitas penyakit menjadi sirosis maupun karsinoma hepatoselular. Saat ini rekomendasi dari FDA adalah pengobatan dengan kombinasi interferon dan ribafirin. Dosis interferon adalah 3 MU/m2 3x dalam seminggu. Dosis Ribafirin adalah 8,12 atau 15 mg/kgBB/hari. Pada penderita hepatitis C kronis yang mengalami koinfeksi dengan HIV, konsentrasi virus lebih tinggi dan gambaran histologis cenderung lebih progresif, maka pemberian pegilated interferon bersama Ribafirin diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih baik.1,2,3
II.5.8 Komplikasi
Risiko hepatitis fulminan adalah rendah pada HCV, tetapi risiko hepatitis kronis paling tinggi pada virus hepatitis. Perjalanan kronik biasa adalah ringan walaupun terjadi sirosis; pemantauan jangka lama menunjukan bahwa mortalitas keseluruhan orang-orang dengan HCV akibat tranfusi tidak berbeda dengan mortalitas control non infeksi. Interferon alfa-2b tersedia untuk pengobatan hepatitis kronis pada orang-orang umur 18 tahun atau lebih tua dengan penyakit hati kompensata yang mempunyai riwayat pemajanan darah atau produk- produk darah atau yang antibody HCVnya positif atau keduanya.2,3,4
II.5.9 Pencegahan
Tidak tersedia vaksin, dan mungkin tidak dikembangkan karena penelitian binatang memberi kesan bahwa infeksi HCV tidak menimbulkan imunitas protektif; individu yang sama dapat terinfeksi beberapa kali dengan virus yang sama. Ig tidak terbukti bermanfaat. Ig yang dibuat di AS tidak mengandung antibody terhadap HCV karena donor darah dan plasma diskrin untuk anti-HCV, dan pengeluaran orang-orang HCV positif dari kumpulan donor dianjurkan.2,3
II.6 HEPATITIS D