• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hepatitis virus akut

Dalam dokumen Referat Hepatitis Virus Akut (Halaman 29-38)

LAPORAN KASUS

ANAMNESIS Autoanamnesis

A: Hepatitis virus akut

 Tirah baring  Diet hepar  IVFD Nacl 0,9% 20 tpm  Inj.metoclopramide 1amp/8jam/iv  Omeprazole 40mg/12jam/iv  Maxiliv 2x1  Sistenol 3x1 (KP) P:

- Cek IgM Anti HAV - Tes widal

- Cek Urinalisis - Rencana konsul GEH

30 7/10/2013 T: 90/60 mmHg N :100x/menit P:20x/menit S: 36,7ºC

Perawatan hari ke-2

S : mata kuning (+), Nyeri Ulu hati (+), Demam (-)

BAK : Kesan Lancar, warna kuning pekat

BAB : Biasa, warna kuning O: SS/GK/CM

Kep: Anemis (-), ikterus (+), sianosis (-)

DVS : R-2cm H2O

Thorax: Rh (-/-), Wh (-/-) Cor: BJ I/II murni reguler Abd: H/L TTB, NT (-), peristaltic (+) N

Ext: edema (-)

A: Hepatitis virus akut

 Tirah baring  Diet hepar  IVFD asering 20 tpm  Inj.metoclopramide 1amp/8jam/iv  Maxiliv 2x1  Sistenol 2x1 (KP) P: - kontrol GOT/GPT /Albumin/bil.total/ bil/direct

- Tes IgM Anti HAV - Tes widal

- USG abdomen - Rencana konsul GEH

8/10/2013

T: 90/60 mmHg N :84x/menit P:22/menit S: 36,8ºC

Perawatan hari ke-3

S : mata kuning (-), nyeri ulu hati (-), demam (-)

BAK : Kesan Lancar, warna kuning pekat

BAB : belum hari ini O: SS/GK/CM

Kep: Anemis (-), ikterus (+), sianosis (-), DVS : R-2cm H2O Thorax: Rh (-/-), Wh (-/-) Cor: BJ I/II murni reguler Abd: H/L TTB, NT (+)

epigastrium, peristaltik (+) kesan Normal  Tirah baring  Diet hepar  IVFD asering 20 tpm  Inj.metoclopramide 1amp/8jam/iv (KP)  Omeprazole 40 mg/12jam/iv  Maxiliv 2x1  Sistenol 2x1 (KP) P:

- tunggu hasil kontrol GOT/GPT/Albumin/ bil.total/ bil/direct, tes IgM Anti HAV,Tes

31 Ext: edema (-)

A: Hepatitis virus akut

widal

- USG abdomen - Rencana konsul GEH

9/10/2013 T: 120/60 mmHg N :76x/menit P:20x/menit S: 36,5ºC

Perawatan hari ke-4

S : mata kuning (+), nyeri ulu hati (-)

Demam (-)

BAK : Kesan Lancar, warna kuning pekat

BAB : Biasa, warna kuning O: SS/GK/CM

Kep: Anemis (-), ikterus (+), sianosis (-)

DVS : R-2cm H2O

Thorax: Rh (-/-), Wh (-/-) Cor: BJ I/II murni reguler Abd: H/L TTB, NT (-), peristaltik (+) kesan Normal Ext: edema (-) Hasil lab : Bil.total : 6,11 mg/dl Bil.direk : 4,51md/dl GOT : 174 U/L GPT : 404 U/L

USG Abdomen : tidak tampak kelainan

A: Hepatitis virus akut

 Tirah baring  Diet hepar  IVFD asering 20 tpm  Lansoprazole 20 mg 2x1  Maxiliv 2x1  Sistenol 2x1 (KP) P:

- tunggu hasil urinalisisTes IgM Anti HAV,Tes widal - Rencana konsul GEH

32 10/10/2013 T:120/70mmHg N :80x/menit P:20x/menit S: 36,5ºC

Perawatan hari ke-5

S : mata kuning (+), nyeri ulu hati (+), Demam (-)

BAK : Kesan Lancar, warna kuning pekat

BAB : Biasa, warna kuning O: SS/GK/CM

Kep: Anemis (-), ikterus (+), sianosis (-), DVS : R-2cm H2O Thorax: Rh (-/-), Wh (-/-) Cor: BJ I/II murni reguler Abd: H/L TTB, NT (-), peristaltik (+) kesan Normal Ext: edema (-)

A: Hepatitis virus akut

 Tirah baring  Diet hepar  Aff Infus  Maxiliv 2x1  Sistenol 2x1 (KP) P:

- tunggu hasil urinalisis, Tes IgM Anti HAV,Tes widal

- Cek GOT/GPT - Boleh rawat jalan dan

kontrol poli

IX. RESUME

Seorang wanita, 21 tahun, masuk rumah sakit dengan keluhan mata kuning mulai diperhatikan sejak 2 hari terakhir ini. Demam (-), riwayat demam (+) 2 minggu yang lalu tidak terus-menerus,terutama malam hari dan menurun jika diberi obat penurun demam, menggigil (-). Pasien juga mengeluh nyeri ulu hati yang dialami sejak 1 minggu SMRS memberat 3 hari terakhir. Nyeri dirasakan hilang timbul muncul terutama setelah makan dan nyeri tidak menjalar ke daerah lain. Mual (+),muntah (+) jika pasien makan. Riwayat muntah terakhir tadi malam berisi sisa makanan dan cairan. Nafsu makan menurun. Pasien sempat di opname 1 minggu yang lalu dan didiagnosis dengan demam thypoid BAB: tidak teratur,warna kecoklatan, BAK: lancar, warna coklat pekat seperti teh

Pada pemeriksaan fisis didapatkan pasien sakit sedang, gizi kurang serta komposmentis.Tekanan darah 100/70 mmHg dan nadi 88x/menit,

33 pernapasan 20x/menit dan suhu dalam batas normal. Pada pemeriksaan fisis didapatkan konjunctiva ikterus (+/+), nyeri tekan (+) daerah epigastrium. Pada pemeriksaan laboratorium peningkatan kadar bilirubin total, bilirubin direk, SGOT, SGPT dan penurunan kadar albumin.

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang lainnya, maka pasien ini didiagnosis dengan Hepatitis virus akut

X. DISKUSI

Pada anamnesis didapatkan demam 2 minggu SMRS demam tidak terus menerus, dan demam menurun jika minum obat penurun panas. Demam mengacu pada peningkatan suhu tubuh akibat dari infeksi atau peradangan. Sebagai respon terhadap invasi mikroba, sel darah utih mengeluarkan suatu zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen yang menyebabkan pengeluaran prostaglandin yang meningkatkan termostat di hipotalamus sehingga menimbulkan demam.

Pasen juga mulai juga mengaku mata terlihat kuning. Ikterus atau jaundice adalah perubahan warna kulit, sklera mata, atau jaringan lainnya seperti membran mukosa yang menjadi kuning karena pewarnaan oleh bilirubin yang meningkat konsentrasinya dalam sirkulasi darah. Timbulnya jaundice pada pasien maka harus dipikirkan penyebabnya yang dapat terjadi akibat proses di pre-hepatik, intra-hepatik, dan post-hepatik. Penyebab ikterus pre-hepatik adalah hemolisis, sindrom Gilbert, sindrom Crigler-Najjar. Semua penyakit tersebut memiliki kesamaan dimana terdapat hiperbilirubinemia indirek. Penyebab ikterus intra-hepatik adalah hepatitis, keracunan obat, penyakit hati karena alkohol, dan penyakit hepatitis autoimun. Penyebab ikterus post-hepatik adalah batu duktus koledokus, kanker pankreas, striktur pada duktus koledokus, karsinoma duktus koledokus, dan kolangitis sklerosing. Pada pasien ini terjadi ikterus akibat proses di intra hepatik sehingga memberikan keluhan mata berwarna kuning.

34 Keluhan nyeri ulu hati yang namun terus menerus tetapi tidak menjalar, mual dan muntah sering di temukan pada pasien hepatitis. Buang air kecil lancar namun berwarna coklat seperti air teh ini biasanya di temukan pada ikterus intra-hepatik yang diantaranya penyebabnya adalah hepatitis.

Pada pasien didapatkan hasil pemeriksaan penunjang SGOT : 355 u/L, SGPT 824 u/L. SGOT dikeluarkan kedalam darah ketika hati rusak dan level SGOT darah dihubungkan dengan kerusakan sel hati. Hati dapat dikatakan rusak bila jumlah enzim tersebut dalam plasma lebih besar dari kadar normalnya, seperti pada hepatitis akibat virus. SGPT adalah enzim yang terdapat dalam hepatosit. Ketika sel-sel hati mengalami kerusakan maka ALT akan bocor ke sirkulasi darah sehingga terdeteksi dan terjadi peningkatan kadar ALT.

Pada pasien juga di dapatkan bilirubin total: 10,1 mg/dl yang artinya melebihi batas normal. Metabolisme bilirubin melalui empat langkah yaitu produksi, transportasi, konyugasi, dan ekresi. Bilirubin diproduksi dari hasil pemecahan heme yaitu bagian dari hemoglobin yang nantinya membentuk bilirubin indirek kemudian diikat oleh albumin untuk ditransportasi ke hepar yang bertanggungjawab atas clearance dari bilirubin melalui proses konjugasi agar lebih larut air untuk disekresi ke empedu kemudian diekskresi ke lumen usus. Bakteri usus mereduksi bilirubin terkonyugasi menjadi serangkaian senyawa yang dinamakan sterkobilin atau urobilinogen. Zat-zat ini menyebabkan feses berwarna coklat. Dalam usus bilirubin direk ini tidak diabsorpsi; sebagian kecil bilirubin direk dihid-rolisis menjadi bilirubin indirek dan direabsorpsi. Siklus ini disebut siklus enterohepatis. Sekitar 10% sampai 20% urobilinogen mengalami siklus entero-hepatik, sedangkan sejumlah kecil diekskresi dalam kemih. Kadar bilirubin total akan meningkat ketika ada kelainan pada empat tahap metabolisme tersebut diantaranya yaitu pada pasien hepatitis.

35 Diagnosis banding yang pertama adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Salmonella thypi atau Salmonella parathypi A, B, atau C. Penyakit ini ditularkan lewat saluran pencernaan. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan yang terlama adalah 30 hari jika infeksi melalui minuman. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat. Kemuadian menyusul gejala klinis yang biasa ditemukan yaitu demam, pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung >7 hari , Bersifat febris remitten dan suhu tidak terlalu tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat tiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua, penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga. Tetapi pada pasien mengalami gejala demam tidak mengarah ke tifoid pasien mengalami demam yang demam tidak terus menerus.

Pada demam tifoid terdapat gangguan pada system saluran pencernaan yang diantaranya pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah, lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya kemerahan. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan limfa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan konstipasi, akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare. Diagnosis dapat di lakukan pemeriksaan biakan empedu untuk menemukan Salmonella typhii dan pemeriksaan Widal. Kedua pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pada waktu masuk dan setiap minggu berikutnya. Walau gejala-gejala klinis tidak mengarah ke demam tifoid tetapi perlu dilakukan pemeriksaan widal pada pasien ini untuk menyingkirkan dugaan demam tifoid

Diagnosis banding berikutnya adalah hepatitis tifosa yang merupakan komplikasi dari demam tifoid. Pada hepatitis tifosa keadaan dimana

36 demam tifoid disertau gejala-gejala ikterus, hepatomegali dan kelainan test fungsi hati dimana didapatkan peningkatan SGPT, SGOT dan bilirubin darah. Pada pemeriksaan histopatologi hati didaptkan nodul tifoid dan hiperplasi sel kuffer.

Diagnosis banding selanjutnya adalah malaria, Malaria adalah penyakit infeksi dengan demam priodik, yang disebabkan oleh Parasit Plasmodium dan ditularkan oleh sejenis nyamuk Anopheles , pada malaria Terjadi demam periodik yang di selingi hari tanpa demam dan terdapat gejala klasik yaitu terjadinya “Trias Malaria” secara berurutan menggigil, demam, berkeringat. Yang pertama yaitu periode menggigil biasanya disertai kulit kering dan dingin, penderita sering membungkus diri dengan selimut atau sarung dan pada saat menggigil sering seluruh badan bergetar dan gigi-gigi saling terantuk, pucat sampai sianosis seperti orang kedinginan. Periode ini berlangsung 15 menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperatur. Kedua yaitu periode panas disertai muka merah, kulit panas dan kering, nadi cepat dan panas tetap tinggi sampai 400C atau lebih, respirasi meningkat, nyeri kepala, nyeri retroorbital, muntah-muntah, dapat terjadi syok. Periode ini lebih lama dari fase menggigil, dapat sampai 2 jam atau lebih. Yang ketiga yaitu Periode berkeringat. Penderita berkeringat mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh, sampai basah, temperature turun, penderita merasa capai. Tipe demam seperti ini tidak di temukan pada pasien.

Pada pemeriksaan fisik biasanya di temukan gejala anemia pada malaria, yang di sebabkan oleh penghancuran eritrosit yang berlebihan. Eritrosit pada pasien malaria juga tidak dapat hidup lama, pada malaria juga di temukan gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam sumsum tulang. Pada pasien ini tidak ditemukan gejala anemia dan kadar pemeriksaan hemoglobin juga dalam batas normal.

Ikterus juga sering terdapat pada pasien malaria berat disebabkan oleh lisisnya sel darah merah yang berlebihan. Ikterus ini dapat terjadi pada destruksi sel darah merah yang berlebihan dan hati dapat

37 mengkonjugasikan semua bilirubin yang dihasilkan. Pada pasien tidak di temukan tanda gejala malaria berat keadaan umum masih tampak baik.

38

Dalam dokumen Referat Hepatitis Virus Akut (Halaman 29-38)

Dokumen terkait