TINJAUAN PUSTAKA
2.1 LANDASAN TEORI
2.1.1 Hewan Percobaan ( Aedes aegypti)
Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan virus yang sangat berbahaya karena dapat menyebabkan penderita meninggal dalam waktu yang sangat pendek (Gandahusada, dkk., 1998).Sampai saat ini penyebaran DBD masih terpusat di daerah tropis yaitu Australia Utara Bagian Timur, Asia Tenggara, India, Afrika, Amerika Latin, dan sebagian Amerika Serikat. Namun, dengan adanya pemanasan global diperkirakan penyebarannya akan meluas sampai ke daerah-daerah yang beriklim dingin (Dentje T, 2009:64). Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang jumlah penderitanya cenderung meningkat dan penyebarannya semakin luas. Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegypti (di daerah perkotaan) dan Aedes albopictus (di daerah pedesaan) (Widoyono, 2002).
2.1.1.1 Sistematika
Urutan sistematika dari nyamuk Aedes aegypti adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Subphylum : Uniramia Kelas : Insekta Ordo : Diptera Subordo : Nematosera
Familia : Culicidae Sub famili : Culicinae Tribus : Culicini Genus : Aedes
Spesies : Aedes aegypti (Gandahusada, dkk., 1992) 2.1.1.2Morfologi dan Perilaku Aedes aegypti
Aedes aegypti biasanya berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan ukuran nyamuk rumah (Culex quinquefasciatus), mempunyai warna dasar yang hitam dan bintik-bintik putih pada bagian badannya, terutama pada kakinya dan dikenal dari bentuk morfologinya yang khas sebagai nyamuk, dan mempunyai gambaran lira yang putih pada punggungnya (Gandahusada, dkk., 1998).
Nyamuk dewasa mempunyai jarak terbang sekitar 100 meter. Setelah melakukan proses perkawinan, nyamuk dewasa betina memerlukan darah untuk bertelur. Biasanya nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 2 – 3 hari sekali dan untuk mendapatkan darah yang cukup, nyamuk betina sering menggigigit lebih dari satu orang. Nyamuk dewasa betina ini mempunyai kebiasaan menghisap darah pada siang hari pukul 09.00-12.00 dan pada sore hari pukul 15.00-17.00 (Buletin Depkes R.I, 2004). Umur nyamuk betina dewasa bisa mencapai 1 bulan, sedangkan di laboratorium dapat mencapai umur 2 bulan dan bertelur sebanyak 200-400 butir (Gandahusada, dkk., 1998).
11
2.1.1.3Siklus hidup Aedes aegypti
Masa pertumbuhan dan perkembangan nyamuk Aedes aegypti dapat dibagi menjadi empat tahap yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Nyamuk Aedes meletakkan telurnya menempel pada dinding penampungan air, sedikit di atas permukaan air. Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan sekitar 100 butir telur dengan ukuran sekitar 0,7 mm perbutir. Telur Aedes mempunyai dinding bergaris-garis dan membentuk bangunan menyerupai gambaran kain kasa (Gandahusada, dkk., 1998). Telur yang diletakkan di tempat kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6 bulan. Telur akan menetas menjadi jentik setelah sekitar 2 hari terendam air (Buletin Depkes R.I, 2004).
Gambar 2.1: Siklus Hidup Aedes aegypti
Stadium larva biasanya berlangsung 6-8 hari. Larva nyamuk Aedes aegypti mempunyai ciri-ciri antara lain adanya corong udara pada segmen terakhir, pada
segmen abdomen tidak ditemukan adanya rambut-rambut berbentuk kipas (palmatus hairs), pada corong udara terdapat pectan, sepasang rambut serta jumbai akan dijumpai pada corong (siphon), setiap sisi abdomen segmen kedelapan ada comb scale sebanyak 8-21 atau berjejer 1 sampai 3, bentuk individu dari comb scale seperti duri, sisi thorax terdapat duri yang panjang dengan bentuk kurva dan adanya sepasang rambut di kepala. Larva Aedes aegypti mempunyai pelana yang terbuka dan gigi yang berduri lateral (Gandahusada, dkk., 1998).Larva Aedes aegypti biasa bergerak-gerak lincah dan aktif, dengan gerakan-gerakan naik ke permukaan air dan turun kedasarwadah secara berulang. Larva mengambil makanan di dasar wadah, oleh karena itu larva Aedes aegypti disebut pemakan makanan di dasar.
Gambar 2.2: Larva Aedes aegypti
Terdapat 4 tingkatan (instar) larva Aedes aegypti, masing-masing tingkatan mempunyai ciri-ciri dan ketahanan yang berbeda.
13
1. Larva instar I berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm atau 1-2 hari setelah telur menetas, duri-duri (spinae) pada dada belum jelas dan corong pernafasan pada siphon belum jelas.
2. Larva instar II berukuran 2,5 – 3,5 mm atau 2-3 hari setelah telur menetas, duri-duri belum jelas, corong kepala mulai menghitam.
3. Larva instar III berukuran 4-5 mm atau 3-4 hari setelah telur menetas, duri-duri dada mulai jelas dan corong pernafasan berwarna coklat kehitaman.
4. Larva instar IV berukuran paling besar yaitu 5-6 mm atau 4-6 hari setelah telur menetas, dengan warna kepala gelap.
Kehidupan larva Aedes aegypti pada air peridukan bisa bertahan hidup sampai dengan menetas menjadi nyamuk dewasa pada kisaran pH 4,4 sampai dengan pH 9,3 (Sukamsih, 2005). Cahaya berpengaruh tidak langsung terhadap perkembangan larva. Cahaya juga akan mempengaruhi suhu dan suhu ini akan mempengaruhi perkembangan larva (Tri Suyamti, 1993). Sedangkan temperatur optimal untuk perkembangan larva ini adalah 250C–350C (Dantje T, 2009: 52, Ni Luh Putu M, 2004: 4).
2.1.1.4Tempat Perkembangbiakan Nyamuk
Tempat perkembangbiakan utama ialah tempat-tempat penampungan air berupa genangan air yang bertampung di suatu tempat atau bejana di dalam atau di sekitar rumah atau tempat-tempat umum, biasanya tidakmelebihi jarak 500 meter dari rumah. Nyamuk ini biasanya tidak dapat berkembang baik di genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah (Depkes RI, 2010).
Jenis perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dikelompokkan sebagai berikut:
a. Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari, seperti: drum, tangki reservoir, tempayan, bak mandi/ WC, dan ember.
b. Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari, seperti: tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut, dan barang-barang bekas (ban, kaleng, botol, plastik, dan lain-lain).
Tempat penampungan air alamiah seperti: lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang, dan potongan bambu.
2.1.1.5 Pengendalian terhadap nyamuk Aedes aegypti
Hingga saat ini pemberantasan nyamuk Aedes aegypti merupakan cara yang paling utama untuk memberantas penyakit DBD, hal ini dilakukan karena vaksin untuk mencegah dan obat untuk membasmi virus DBD belum tersedia. Pemberantasan ini dilakukan dengan memberantas nyamuk dewasa ataupun jentiknya (R.I. Depkes, 2005).
Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan cara penyemprotan atau fogging dengan menggunakan insektisida. Insektisida yang bisa digunakan antara lain golongan Organophospate, Carbamat, dan Pyretroid sintetic. Dalam waktu singkat penyemprotan dapat membatasi penularan. Akan tetapi pemberantasan ini harus diikuti dengan tindakan pemberantasan jentik.
Pemberantasan terhadap jentik Aedes aegypti yang dikenal dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD (PSN DBD) dilakukan dengan cara:
2.1.1.5.1 Fisik
Pemberantasan jentik Aedes aegypti yang dilakukn secara fisik yang biasanya dikenal dengan istilah 3M Plus, yaitu Menguras dan menyikat bak mandi, bak WC, dan lain-lain. Menutup tempat penampungan air rumah tangga (tempayan,
15
drum dan lain-lain). Mengubur, menyingkirkan atau memusnahkan barang-barang bekas (seperti kaleng, ban bekas dan lain lain), Plus yaitu program abatisasi. 2.1.1.5.2 Kimia
Cara memberantas jentik Aedes aegypti dengan menggunakan insektisida pembasmi jentik (larvasida) atau dikenal dengan larvasidasi. Pengendalian secara kimia ini ada dua macam yaitu dengan menggunakan senyawa kimia nabati misalnya : menggunakan ekstrak serai, ekstrak daun pandan wangi. Kemudian dengan menggunakan senyawa kimia sintetik, dan yang biasa digunakan antara lain adalah abate. Formulasinya adalah butiran pasir (sand granules), dan dosis yang digunakan 1 ppm atau 10 gram (± 1 sendok makan rata untuk tiap 100 liter air. Larvasida ini mempunyai efek residu 3 bulan.
2.1.1.5.2 Biologi
Yaitu cara lain untuk pengendalian non kimiawi dengan memanfaatkan musuh-musuh alami nyamuk. Pelaksanaan pengendalian ini memerlukan pengetahuan dasar yang memadai baik mengenai bioekologi, dinamika populasi nyamuk yang akan dikendalikan dan juga bioekologi musuh alami yang akan digunakan. Dalam pelaksanaanya metode ini lebih rumit dan hasilnya pun lebih lambat terlihat dibandingkan dengan penggunaan insektisida. Misalnya dengan memelihara ikan pemakan jentik, dengan menggunakan Bacillus thuringiensis. 2.1.2 Abate (Temephos)
2.1.2.1Abate (Temephos)
Abate (temephos) merupakan salah satu bentuk pestisida yang digunakan untuk membunuh larva. Abate (temephos) yang biasa digunakan berbentuk butiran pasir (sand granules) dan ditaburkan ditempat yang biasa digunakan untuk
menampung air. Dosis yang biasa digunakan adalah 1 gram untuk 10 liter air. Bahan kimia ini mempunyai kemampuan untuk membunuh larva selama 3 bulan dan tidak berbahaya. Abate (temephos) mempunyai beberapa kelebihan antara lain: tidak berbahaya bagi manusia, burung, ikan dan binatang peliharaan lainnya, telah mendapatkan persetujuan dari WHO untuk digunakan pada air minum, dan abate juga tidak menyebabkan perubahan rasa, warna dan bau pada air yang diberi perlakuan. Namun dalam keadaan wabah yang memerlukan pemberantasan secara cepat, maka larvasida ini tidak bisa diharapkan sebagai pembunuh yang hebat (efektif) untuk bisa meurunkan kepadatan populasi secara cepat.
2.1.2.2Sifat-Sifat Kimia dan Fisik 2.1.2.2.1Sifat Kimia
Abate (temephos) merupakan senyawa phosphat organik yang
mengandung gugus phosphorothionate dan mempunyai rumusan sebagai berikut: S
[ (CH3O)2 P O ]2 S
Gambar 2.3: Rumus Kimia Abate (temephos) 2.1.2.2.2Sifat fisik
Abate (temephos) murni berbentuk kristal putih dengan titik lebur 30-350C, dan mudah terdegradasi apabila terkena sinar matahari sebab bersifat mengabsorbsi sinar ultraviolet (Suwasono, 1991).
17
2.1.2.3Cara Kerja Larvasida Abate
Abate (temephos) merupakan salah satu pestisida golongan senyawa phosphat organik. Pestisida yang termasuk dalam golongan ini dapat masuk melalui kulit, terhirup lewat pernapasan dan termakan lewat mulut (Suwasono, 1991). Golongan pestisida ini mempunyai cara kerja menghambat enzim cholineterase, baik pada vertebrata maupun invertebrata, sehingga menimbulkan gangguan pada aktivitas syaraf karena tertimbunnya acetylcholine pada ujung syaraf. Fungsi dari enzim cholineterase adalah menghidrolisa acetycholine menjadi cholin dan asam cuka, sehingga bila enzim tersebut dihambat maka hidrolisa acetycholine tidak terjadi sehingga otot akan tetap berkontraksi dalam waktu lama maka akan terjadi kekejangan (Suwasono, 1991).
Pada ujung saraf dari sistem saraf serangga akan dihasilkan acetycholine apabila saraf tersebut mendapatkan stimulasi atau rangsangan. Acetycholine ini berfungsi sebagai mediator atau perantara, antara saraf dan otot daging sehingga memungkinkan impuls listrik yang merangsang otot daging untuk berkontraksi. Setelah periode kontraksi selesai, maka acetycholine akan dihancurkan oleh enzim acetycholineterase menjadi choline, laktat dan air. Bila acetycholine tidak segera dihancurkan maka otot akan tetap berkontraksi dalam waktu lama sehingga akan terjadi kekejangan atau konvulsi. Dengan menggunakan abate yang merupakan salah satu dari golongan pestisida organophosphat maka enzim cholineterase akan diikat atau dihancurkan sehingga terjadi kekejangan otot secara terus menerus, dan serangga akhirnya akan mati. Jadi seperti halnya senyawa organophosphat lainnya abate juga bersifat anti cholineterase (Suwasono, 1991).
Bubuk abate (temephos) yang ditaburkan ke dalam kontainer air akan membuat lapisan pada dinding kontainer tersebut. Lapisan ini akan bertahan kurang lebih 3 bulan apabila saat menguras kontainer tersebut dinding bagian dalamnya tidak disikat, karena apabila disikat akan menyebabkan lapisan abate hilang. 2.1.3 Tanaman Serai (Andropogon nardus L)
Serai merupakan tumbuhan menahun yang termasuk jenis rumput-rumputan batangnya dapat tegak ataupun condong, kandungan kimia serai lebih banyak terdapat pada batang dan daun, dan kandungan yang paling besar yaitu sitronela sebesar 35% dan geraniol sebesar 35 - 40%.
Gambar 2.4:Tanaman serai (Andropogon nardus) 2.1.3.1Sistematika
Adapun sistematika dari tanaman serai sebagai berikut : Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae 4 Ordo : Poales
19
Suku : Graminae Genus : Andropogon
Species : Andropogon nardus L Nama umum : Serai
Kerabat dekat : Rumput jarum, akar Wangi, Palmarosa (Sri Wahyuni, 2005) 2.1.3.2 Nama Daerah
Tanaman serai di Indonesia banyak terdapat di Jawa, di tepi jalan atau di persawahan dan dikenal dengan nama sereh/ new citronella grass (Sudarsono, dkk.,2002). Nama serai di daerah lain yaitu sereue mongthi sere (Jawa Tengah), (Aceh), sere (Gayo), sangge-sangge (Batak), serai batawi (Minangkabau), sarae (Lampung), sere (Melayu), sereh (Sunda), sere (Madura), kedong witu (Sumba), naosina (Roti), humuku (timor) sare (Makassar), sare (Bugis), serai (Ambon), (Arief hariana, 2009).
2.1.3.3 Morfologi Serai (Andropogon nardus)
Serai mempunyai bentuk berupa rumput-rumputan tegak, menahun dan mempunyai perakaran yang sangat dalam dan kuat. Tingginya sekitar 50-100 cm. Batangnya dapat tegak ataupun condong, membentuk rumpun, pendek, masif, bulat dan sering kali di bawah buku-bukunya berlilin, penampang lintang batang berwarna merah. Daunnya merupakan daun tunggal, lengkap dan pelepah daunnya silindris, gundul, seringkali bagian permukaan dalam berwarna merah, ujung berlidah (ligula), helaian, lebih dari separuh menggantung, remasan berbau aromatik. Susunan bunganya malai atau bulir majemuk, bertangkai atau duduk,
berdaun pelindung nyata, biasanya berwarna sama umumnya putih. Akar serabut dan berwarna putih kekuningan (Sukma Wardani, 2009).
2.1.3.4Kandungan Kimia dalam Daun dan Batang Serai
Kandungan kimia tanaman serai lebih banyak terdapat pada batang dan daun. Batang dan daun serai yang dihaluskan, lalu dicampur dengan pelarut akan menghasilkan minyak atsiri yang mengandung senyawa sitral, sitronela, geraniol, mirsena, nerol, farsenol methil heptenon, dan dipentena (Arief Hariana, 2009).
Menurut Asep Candra Abdillah (2004) dalam Sri wahyuni (2005) kandungan kimia serai lebih banyak terdapat pada batang dan daun, yaitu senyawa sitral, sitronela, geraniol, mirsena, nerol, farsenol methil heptenon, dan dipentena. Kandungan yang paling besar adalah sitronela yaitu sebesar 35% dan geraniol sebesar 35 - 40%. Serai mengandung senyawa berbentuk padat dan berbau khas. Salah satu senyawa yang dapat membunuh nyamuk adalah sitronela. Sitronela mempunyai sifat racun (desiscant), menurut cara kerjanya racun ini seperti racun kontak yang dapat memberikan kematian karena kehilangan cairan secara terus-menerus sehingga tubuh kekurangan cairan.
2.1.3.5 Daerah Distribusi, Habitat, dan Budidaya
Tanaman serai Jawa tumbuh pada berbagai tanah yang memiliki kesuburan cukup. Tanah yang memiliki iklim lembab dengan curah hujan teratur menghasilkan minyak dengan kualitas tinggi. Daerah yang beriklim panas dengan cukup sinar matahari dan curah hujan tiap tahun merupakan syarat utama untuk menghasilkan daun dan minyak sereh yang baik. Kekeringan yang berkepanjangan atau curah hujan yang berlebihan akan merusak tanaman serai.