Kata hibah berasal kata Arab hubuubur riih yang artinya muruuruha (perjalanan angin). Kemudian, dipakailah kata hibah dengan maksud memberikan kepada orang lain baik berupa harta ataupun bukan.25
Pemberian dalam bahasa Arab disebut al-Hibah. Kata hibah adalah bentuk masdar dari kata wahaba digunakan dalam al-Qur‟an beserta kata derivatifnya sebanyak 25 kali dalam 13 surat. Wahaba artinya memberi, dan jika subyeknya Allah berarti memberi karunia, atau menganugerahi (QS. Ali Imran, 3:8, Maryam, 19;5, 49, 50, 53).26
Adapula pendapat yang menyebutkan bahwa al-hibah diambil dari kata haba,yang berarti bangun (istaiqazha), yaitu sesuai dengan kalimat,
“terbangun dari tidurnya”. Al-hibah diartikan bangun (istiqazha), karena
“perilaku hibah bangkit untuk berbuat kebaikan setelah ia lupa akan kebaikan.”27
Sementara itu menurut syara‟ mendefinisikan hibah adalah:
َ ع
Artinya : Akad yang menjadikan kepemilikan tanpa adanya pengganti ketika masih hidup dan dilakukan secara suka rela.28
25 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalah, (Jakarta : Kencanaprenada Media). hal 157
26 Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997, hal.466.
27 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002), hal. 209.
28 Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, (Bandung : PUSTAKA SETIA), 2001, hal. 242
Pemberiaan suatu barang yang oleh seseorang kepada orang lain, untuk dijadikan hak miliknya tanpa bayaran, tanpa suatu sebab dan tanpa maksud tertentu. Hibah bisa berupa barang ataupun bisa berupa kemanfaatan. 29
Para ulama Mazhab Hambali mendefinisikan hibah sebagai pemberian kepemilikan pada suatu harta yang ada diserahkan,tanpa ada ganti dan dengan lafal yang menurut kebiasaan adalah hibah, pemberian kepemilikan dan semisalnya oleh pemilik harta. 30
Dari di atas dapat diambil pengertian bahwa hibah merupakan pemberian harta kepada orang lain tanpa imbalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dimana orang yang diberi bebeas menggunakan harta tersebut. Artinya, harta menjadi hak milik orang yang diberi. Jika disertai dengan imabalan maka yang seperti itu namanya jual beli. Jika seseorang hanya mengizinkan orang lain untuk memanfaatkan hartanya, dan tidak memberikan harta itu kepadanya, maka ini bukan hibah, melainkan pinjaman. Jika pemberian itu disertai dengan imbalan maka yang seperti ini namanya jual beli. 31
Jika dia memberikan sesuatau yang bukan harta, seperti khamar, bangkai, maka itu bukanlah hibah. Jika pemberian itu tidak dilakukan
29Moh. Syaifullah, Fiqih Sunnah Lengkap, (Surabaya: Terbit Terang) 2007, hal 396
30 Wahbah Zuhali, Fiqih al- Islam wa Adillatuhu Jilid V, (Beirut : Dar- al Fikr), 1984, hal 530
31 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalah, (Jakarta : Kencanaprenada Media). Hal 158
ketika masih hidup, tetapi baru dilakukan setelah yang memberikan harta itu meninggal, maka itu disebut wasiat. 32
Dalam hadis SAW dinyatakan :
َ ََ ً ٕ ه عَ اللهََّّه صَ اللهَ لُ س سَ نَب كَ:َ ذ نَب قَب ٍ ى عَ اللهَ ٓ ض سَ خ ش ئَب عَ ه ع َ )ِسَبخجناَياَس(َب ٍ ٕ ه عَ ت ٕ ث َٔ ََ خَّٔ ذ ٍناَ م ج ق َٔ مَّه س
Artinya : dan dari Aisyah r.a berkata bahwa Rasulullah SAW menerima hadiah dan membalasnya (HR. Bukhari)33
Al- Hibah perbuatan beramal dengan harta dari seseorang yang berhak bersikap sendiri didalam hidupnya untukm orang lain dengan harta tertentu.
Nabi SAW sering menerimanya, memberi dan menerima pemberian tersebut.
Hibah dan hadiah adalah bagian dari sunnah yang dianjurkan karena dapat melahirkan berbagai maslahat. 34
Agar pemberian itu nyata dan jelas, disyariatkan melafalkan ijab kabul, yaitu “aku berikan barang ini kepadamu.” Akan tetapi ijab kabul itu tidak disyaratkan dalam soal hadiah, sebab hadiah boleh dilakukan secara kiriman saja. Barang yang sah diberikan ialah barang yang sah pula dijual.
Demikian pula, terlarang memberi sesuatu bila terlarang pula menjualnya.
32 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah Kitab Ibadah Sepanjang Masa Jilid 4,( Depok: Fathan Media Prima), 2011, hal. 305
33Imam Al-Hafidz ibnu Hajar Al-„Asqalany, Bulughul Maram Five In One, (Lutfi Arif, Adithya Warman, Ahmad Syaikhu, Penerjemah),(Jakarta: PT Mizan Publika), hal 559
34Shalih bin Fauzan bin Abdullah al- Fauzan, Ringkasan Fikih Lengkap (Jilid I-II), (Asmuni terjemah), (Bekasi : DARUL FALAH), 2005, hal. 659
Sebutir gandum dan sebutir beras boleh diberikan, tetapi tidak boleh dijual karena tidak berharga. 35
Menurut Jumhur Ulama, hibah adalah akad yang menjadikan kepemilikan tanpa adanya pengganti ketika masih hidup dan dilakukan secara sukarela.36 Hibah yang mutlak tidak membutuhkan penukaran, baik yang semisal dengannya,lebih rendah darinya, atau lebih tinggi darinya. 37 Adapun hibah dengan makna umum mencakup hal- hal berikut ini :
1. Ibra (penghapusan hutang), yaitu penghibah utang kepada orang yang berhutang.
2. Sedekah, yaitu penghibah sesuatu yang dimaksudkan unatuk mendapatkan pahala diakhirat.
3. Hadiah, yaitu penghibahan sesuatu yang harus diberikan penukarannya oleh orang yang diberi hibah.38
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa hibah merupakan pemberian seseorang kepada orang lain dengan penuh kerelaan dan tanpa pamrih dan dilakukan semasa hidupnya.
35Abdul Aziz Muhammad Azam, Fiqih Muamalah sistem transaksi dalam fiqih islam, (Jakarta : Amzah), 2010 hal. 435
36 Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), hal. 82.
37 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah 5,( Jakarta: Pena Pundi Aksara), 2011, hal.449-450
38 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah Kitab Ibadah Sepanjang Masa Jilid 4,( Depok: Fathan Media Prima), 2011, hal. 305
B. Dasar Hukum hibah
Dasar hukum pensyariatan hibah terdapat dalam Alquran dan hadis Nabi SAW. Para ulama fiqih sepakat bahwa hukum hibah itu sunnah
Artinya :Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik
39Saifulloh Al Aziz, Fiqih Islam Lengkap Pedoman Hukum Ibadah Umat Islam Dengan Berbagai Permasalahannya, ( Suarabaya: Terbit Terang), 2005, hal. 396
Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.
2. Hadis
َ ه عَ اللهََّّه صَ اللهَ لَ ش س سَ لب قَ:َ لب قَ ً ى عَ اللهَٓ ض سَح ش ٔ ش ٌَٓ ث أَ ه ع
َ م ه سَ ََ ً ٕ
ًٕهعَقفزمَ.ًحَب شَ ه س ش ف ُ ن ََب ٍ رَ سب ج نَ ح سب جَ ن ش ق ح رَ لَ دَب م ه س مناَ ءَب س وَب َٔ:
Artinya : dari abu Hurairah Radiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “ Wahai Kaum Muslimah, janganlah sekali- kali seorang wanita meremehkan pemberian tetangganya walaupun hanya ujung kaki kambing.” (Muttafaq Alaih)40
َ يا َ سَا ُ ثب ح رَا َ دب ٍ رَ:َ لب قَ مَّه سَ ََ ً ٕ ه عَ اللهََّّه صَٓ جَّىناَ ه عَ ح ش ٔ ش ٌَٓ ث أَ ه ع
َ، د ش ف مناَ ة د لأآَ فَْ سب خ ج نا
َ ه س حَ دب ى س إ ثَّ ه ع َٔ ُ ث أ َ
َ.
Artinya: dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “ hendaklah kalian saling memberi hadiah, agar kalian saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab A;-Mufrad dan Abu Ya‟la dengan sanad hasan )41
40Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan‟ani, Subul As-Salam Syarah Buulughul Maram, (Jakarta : Darus Sunah Press),2013, hal. 556
41Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan‟ani, Subul As-Salam Syarah Buulughul Maram, (Jakarta : Darus Sunah Press),2013, hal. 552
C. Rukunَ dan Syarat- syarat Hibah 1. Rukun hibah
Hibah dilakukan dengan ijab dan kabul dengan perkataan yang menunjukan adanya proses pemberian suatu barang tanpa penukaran.
Malik dan Syafi‟i mengharuskan adanya kabul dalam hibah. Sebagian ulama dari mazhab Hanafi berpendapat, ijab saja sudah cukup.
Sementara itu, ulama mazhab Hanbali mengatakan bahwa hibah cukup dilakukan dengan penyerahana penerimaan. Nabi SAW biasanya memberi dan diberi hadiah, begitu pula dengan sahabat- sahabat beliau.
Dan mereka tidak mensyaratkan ijab dan kabul, atau sejeninya. 42 Jumhul ulama mengemukakan bahwa rukun hibah itu ada empat : a. Orang yang menghibahkan (al Wahib)
Wahib adalah pemberi hibah, yang mneghibahkan barang miliknya.
Jumhur ulama berpendapat, jika orang yang sakit memberikan hibah, kemudian ia meninggal, maka hibah yang dikeluarkan adalah sepertiga dari harta peninggalan (tirkah).
b. Penerima (Mauhub lah)
Penerima hibah adalah seluruh manusia. Ulama sepakat bahwa seseorang dibolehkan menghibahkan seluruh harta.
c. Barang yang dihibahkan (Mauhub)
Mauhub adalah barang yang dihibahkan. Objek hibah merupakan hal terpenting yang harus diperjelas dalm sebuah transaksi hibah, karena
42 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah Kitab Ibadah Sepanjang Masa Jilid 4,( Depok: Fathan Media Prima), 2011, hal. 3007
Hukum Islam sangat menekankan kejelasan dari objek akad dalam sebuah perjanjian, termasuk perjanjian hibah. Para ahli Hukum Islam mensyaratkan beberapa syarat pada obyek akad, di antaranya
d. Shighat (ijab dan qabul)
َ Para ulama berpendapat bahwa sighat ini sangat penting karena shighat menunjukan keinginan dan ridha pelaku akad. Jika ijab kabul tidak ada, maka diasumsikan pelaku akad tidak ridha melakukan akad. 43
َ Shighat adalah ijab dan qabul (serah terima), baik diungkapkan dengan ijab dan qabul atau cukup dengan ijab saja yang menunjukka qabul dari pihak lain (secara otomatis). Keinginan kedua pihak itu hal yang tidak nampak atau tersembunyi, maka harus diungkapkan dengan ijab dan qabul.
2. Syarat- syarat hibah
a. Syarat orang yang memberikan hibah
Orang yang berhak memperedarkan hartanya dan memiliki barang yang diberikan. Maka anak kecil, orang gila, dan yang menyia- nyiakan harta tidak sah memberikan harta benda mereka kepada orang lain, begitu juga wali terhadap benda yang diserahkan kepadanya. 44
43 Oni Sahroni & M. Hasanuddin, Fikih Muamalah Dinamika Teori Akad dan Implementasinya dalam Ekonomi Syariah, (Jakarta : PT Rja grafindo Persada), 2016, hal 27
44Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam (Hukum Fiqh Lengkap), (Bandung ; Sinar baru Algensindo), 1994, hal 326
Penghibah bukan orang yang dibatasi haknya, artinya orang yang cakap dan bebas bertindak menurut hukum. Penghibah itu orang dewasa, berakal dan cerdas. Tidak disyaratkan penghibah itu harus muslim. Hal ini berdasarkan hadis Bukhari yang menyatakan diperbolehkan menerima hadia dari penyembah berhala. Penghibah itu tidak dipaksa sebab hibah merupakan akad yang disyaratkan adanya kerelaan. 45
b. Syarat bagi orang yang menerima hibah
Orang yang diberi hibah benar- benar ada pada waktu diberi hibah, bila tidak ada atau diperkirakan keberadaannya misalnya masih dalam bentuk janin maka tidak sah hibah. Jika orang yang diberi hibah itu pada waktu pemberian hibah, akan tetapi ia masih kecil atau gila maka hibah itu harus diambil walinya, pemeliharaanya atau orang yang mendidiknya sekalipun ia orang asing.
c. Syarat benda yang dihibahkan
Benar- benar benda itu ada ketika akad berlangsung. Maka benda ynag wujudnya akan seperti anak sapi dalam perut ibunya atau buah yang masih belum muncul di pohon maka hukumnya batal. Para ulama mengemukan kaidah tentang harta yang dihibahkan “ segala sesuatu yang sah untuk dijual belikan sah pula untuk dihibahkan.
45 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalah, (Jakarta : Kencanaprenada Media). hal 160
1) Harta itu memiliki nilai (manfaat). Maka menurut pengikut Ahmad bin Hambal sah menghibahkan anjing peliharaan dan najis dimanfaattkan.
2) Dapat dimiliki zatnya artinya benda itu sesuatu yang biasa untuk dimiliki, dapat diterima bendanya, dan dapat diterima bendanya, dan dapat berpindah dari tangan ke tangan lainnya. Maka tidak sah menghibahkan air di sungai, ikan di laiut, burung diudara masjid atau pesantren.
3) Tidak berhubung dengan tempat milik penghibah, seperti menghibahkan tanaman, pohon atau bangunan tanpa tanahnya.
Akan tetapi yang dihibahkan itu wajib dipisahkan dan diserahkan kepada yang diberi hibah sehingga menjadi miliknya.46
d. Di samping akad dalam hibah merupakan hal terpenting yang harus dipahami. Berdasarkan Hukum Islam, akad yang berisikan tiga hal penting, diantaranya:
1) Akad merupakan keterkaitan antara ijab dan kabul yang berakibat pada timbulnya akibat hukum.
2) Akad merupakan tindakan hukum dua pihak karena akad adalah pertemuan ijab yang merepresentasikan kehendak dari satu pihak dan kabul yang menyatakan kehendak pihak lain.
46Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalah, (Jakarta : Kencanaprenada Media). hal 160
3) Akad bertujuan untuk melahirkan akibat hukum atau hukum akad (hukm al-„aqd).47
4) Tidak adanya pengaitan dengan syarat, karna hibha adalah pemberian kepemilikan dan pemberian kepemilikan tidak bisa berkaitan dengan sesuatu yang kemungkina terjadi atau tidak mungkin terjadi.
5) Tidak adanya pengaitan waktu, seperti tahun, bulan dan sebagainya, karena hibah merupakan pemberian kepemilikan terhadap benda secara mutlak yang terus menerus seperti jual beli.
48
D. Macam- macam hibah
Bermacam- macam sebutan pemberian disebabkan oleh perbedaan niat orang- orang yang menyerahkan benda. Macam- macam hibah adalah sebagai berikut :
1. ‟Umra dan raqbah a. „Umra
„Umra adalah istilah orang Arab, yaitu salah satu jenis hibah yang diberikan oleh seseorang kepada orag lain sepanjang umurnya.
Artinya jika orang yang diberi hibah meninggal, maka barang yang dihibahkan itu kembali kepada orang yang menerima hibah. 49
47Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah: Studi tentang Teori Akad dalam Fikih Muamalat, (Jakarta: PT RajaGrapindo Persada, 2007), hlm. 68-69
48 Wahbah Zuhali, Fiqih al- Islam wa Adillatuhu Jilid V, (Beirut : Dar- al Fikr), 1984, hal 530
49
Hal itu akan terjadi jika dilafazhkan dengan “ A‟martuka hadza asy-syai‟ ( aku jadikan barang ini milikmu sepanjang umurmu)” dan ungkapan- ungkapan yang serupa denganya. Orang yang mengucapkan lafazh ini disebut mu‟mir dan orang yang kepadanya lafazh ini disebut dengan mu‟mar.50
Menurut Sayyid Sabiq „umra adalah semacam hibah. Yaitu seseorang menghibahkan sesuatu kepada orang lain selama ia hidup dan jika yang diberi hibah itu meninggal, maka barang itu kembali kepada pemilik hibah. 51
Berdasarkan hadis Nabi pengembalian „umra setelah orang yang diberi itu meninggal adalah batal. Seharusnya kpeemilikaan „umra itu bersifat permanen bagi orang yang diberi „umra semasa hidupnya.
Setelah orang yang diberi „umra meninggal maka berpindah kepada ahli warisnya, jika tidak memiliki ahli waris maka diberikan kepada baitulmal. Berdasarkan hadis nabi :
َ َ
Media Prima), 2011, hal. 991Artinya: Dari Jabir َr.a bahwa Rasulullah SAW bersabda: „umra ( memberikan rumah kepada orang lain dengan ucapan: Aku berikan rumah ini kepadamu seumur hidup mu) itu menjadi milik orang yang diberi. H.R mutafaq alaih. Menurut riwayat Muslim : dan janganlah menghamburkanya, karena barang siapa yeg ber„umra maka ia menjadi milik orang yang diberi „umra selama ia hidup dan mati, dan menjadi milik keturunannya. „umra yang diperbolehkan oleh Rasulullah SAW ialah bila berkata: ia milikmu dan keturunanmu. Jika ia berkata: ia milikmu selama engkau hidup dan pemberian itu kembali kepada pemiliknya. Menurut riwayat Abu Dawud dan Nasa„i : janganla memberi ruqba (memberikan rumah kepada orang lain dengan ucapan: jika aku mati sebelummu maka rumah ini menjadi milikmu dan jika engkau mati sebelumu, maka rumah ini kembali kepadaku) dan „umra karena barang siapa yang menerima ruqba dan „umra maka ia menjadi milik ahli warisnya.52
b. Ruqbah
Sedangkan hibah dalam bentuk ruqbah adalah pemberi hibah menyatakan dan penerima hibah sama-sama mengintai kematian. Saat seseorang berkata, “Jika engkau mati sebelumku, pemberian itu tetap kembalikan kepadamu”. Syarat ini batal ka rena pemberian tetap menjadi milik orang yang diberi. Bila yang diberi meninggal dunia, maka benda-benda itu menjadi milik para ahli warisnya. Pemberian semacam ini dinamakan pemberian secara ruqbah, karena masing-masing mengintai kematian yang lain Sesungguhnya „umra yang dibolehkan oleh Rasulullah SAW ialah bahwa seseorang berkata,“Barang ini pemberian bagi engkau dan bagi ahli waris engkau”. Apabila ada yang berkata, “Pemberian itu bagi engkau selama engkau hidup‟, maka pemberian itu kembali kepada yang memiliki.” (HR. Muslim dari Jabir r.a.). Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Nasai dari Jabir, Rasulullah
52 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalah, (Jakarta : Kencanaprenada Media). hal 167
SAW bersabda, “Janganlah kamu mengatakan ruqbah dan jangan pula mengatakan „umra, maka sesuatu yang diruqbahkan atau di‟umrakan itu untuk ahli warisnya. 53
2. Pemberian Dalam Khitbah
Masalah khitbah dalam bahasa indonesi dikenal dengan pinangan dan tunangan, yang materi pembahasan yang termasuk dalam fiqih munakahat, tetapi pelaksanaan khitbah terdapat pemberian dari pihak laki- laki kepada pihak wanita. Maka persoalan ini sesungguhnya dibahas dalam masalah hibah yang merupakan bagian dari pembahasan fiqih muamalah.54
3. Hibah Bersyarat
Pada hakikatnya hibah dilakukan dengan tidak mengharapkan balasan dari manusia, baik pemberian hibah, hadiah maupun shadaqah, tetapi pemberian boleh juga dilakukan persyaratan, seperti sesorang yang berkata aku berikan ini kepadamu dengan syarat kamu serahkan pulpenmu kepadaku.55
Hibah bersyarat adalah hibah yang dihubungkan dengan suatu persyaratan. Pada dasarnya hibah adalah pemberian milik yang sebenarnya secara langsung dan sempurna kepada seorang yang menerima hibah. Oleh sebab itu bila dalam suatu hibah ditetapkan syarat-syarat tertentu, seperti pembatasan penggunaan barang hibah dan sebagainya, maka syarat-syarat yang demikian adalah syarat yang
53Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002), hal. 218
54 Ibid. hal. 214
55Ibid
tidak sah, sekalipun hibahnya sendiri adalah sah. Syarat yang demikian mengakibatkan hibah itu adalah hibah yang fasid (rusak). Karena itu kesalahan hibah itu ditangguhkan sampai ada kejernihan syaratsyarat tersebut.56
Misalnya, syarat pembatasan penggunaan barang oleh pihak penghibah kepada penerima hibah, maka syarat yang disebutkan dalam hibah tersebut tidak sah, meskipun hibahnya itu sendiri sah. 57
E. Sifat hukum hibah 1. Hukum hibah
Dasar dari ketetapan hukum hibah adalah tetapnya barang yang dihibahkan bagi mauhublah (penerima hibah) tanpa adanya pengganti.
Hukum asal hibah boleh yaitu boleh menghibahkan atau tidak menghibahkan.58 Para ulama fiqih sepakat bahwa hukum hibah boleh hal ini didasari oleh nash Al qur an dan hadis Nabi. Ayat- ayat Al Quran maupun hadis banyak menganjurkan untuk berbuat baik dengan cara tolong menolong adalah memberikan harta kepada orang lain.59 Salah satu cara pemberian harta adalah hibah. Sebagaimana dalam
56Asymuni A. Rahman, dkk. Ilmu Fiqh, (Jakarta: Depag), 1986, hal. 204
57 Asymuni A. Rahman, dkk. Ilmu Fiqh, (Jakarta: Depag), 1986, hal. 206
58 Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, (Bandung : PUSTAKA SETIA), 2001, hal. 242
59Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997, hal.466.
اَذوَإِ ۚااَُٰ َو ۡضِرَو ًِِّۡٓبذر
Artinya :Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi´ar-syi´ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (Q.S Al Maidah : 2) kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?(Q.S Al- Munafiqun : 10)
Dari dua ayat di atas dapat dipahami adanya anjuran untuk saling membantu yang salah satu bentuknya adalah hibah. Nabi SAW juga mencontohkan kepada sahabatnya berupa anjuran untuk memberikan barang hadiah kepada orang lain yang membutuhkan, karena mengandung kebaikan.60 Begitu pula Nabi menganjurkan untuk menerima hadiah yang diberikan oleh orang lain karena menolak pemberian merupakan tindakan yang tidak baik. Nabi SAW memberi dan menerima hadiah. Beliau jug memberi dan menerima pemberian. Pemberian dan hadiah termasuk sunnah yang dianjurkan karna kebaikan- kebaikan yang dikandungnya. 61
َ ع
janganlah menghina seorang tetangga jika ia memberi hadiah walaupun hanya kuku kambing. (H.R Muttafaq Alaih62)2. Sifat hukum hibah
Ulama hanafiyah berpendapat bahwa sifat kepemilikan pada hibah adalah tidak lazim. Dengan demikian, dapat dibatalkan pemberian sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW dari Abu Hanifah yang artinya :
“ pemberi hibah lebih berhak atas barang yang dihibahkan selama tidak ada pengganti.” (HR. Ibnu Majah dan Daruquthni)
60 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002), hal. 209.
61 Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, (Bandung : PUSTAKA SETIA), 2001, hal. 242
62 Ibid
Dengan demikian dibolehkan mengembalikan barang yang telah dihibahkan. Akan tetapi, dihukumi makruh sebab perbuatan itu termasuk menghina si pemberi hibah. Selain itu, yang diberi hibah harus rela. Hal ini ibaratkan adanya cacat dalam jual beli setelah barang dipegang pembeli.
Ulama Hanafiyah berpendapat ada 6 (enam) perkara yang melarang wahib mengembalikan barang telah dihibahkan, yaitu :
a. Penerima memberikan ganti;
1) Pengganti disyariatkan dalam akad. Ulama malikiyah, Hanabilah dan Syafi‟iyah menggagap hibah seperti ini sebagai jual beli dan bukan hibah.
2) Pengganti yang diakhirkan.
b. Penerima maknawi
1) Pahala dari Allah. Sedekah kepada orang fakir tidak boleh diambil lagi.
2) Pemberian dalam silahturahmi
3) Pemberian dalam hubungan suami istri
c. Tambahan yang ada pada barang yang diberikan berasal dari pekerjaan pemberi hibah.
d. Barang yang keluar dari kekuasaan penerima hibah, seperti dijual kepada orang lain.
e. Salah seorang yang berakad meninggal.
f. Barang yang dihibahkan rusak.
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa barang yang telah diberikan, jika sudah dipegang, tidak boleh dikembalikan, kecuali pemberian orang tua kepada anaknya yang masih kecil, jika belum bercampur dengan hak orang lain, seperti nikah atau anak tersebut tidak memiliki hutang. 63
F. Penarikan hibah
Pemberian yang sudah diberikan dan sudah diterima tidak boleh dicabut kembali, kecuali pemberian bapak kepada anaknya, tidak berhalangan dicabut atau diminta kembali.
Sabda Rasulullah Saw :
ٌَْلَع ُالله ىَّلَص ًِبَّنلا ْنَع ٍساَّبَع ِنْبِا َو َرَمُع ِنْبِا ْنَع ُّلِحٌَ َلَ : َلاَق َمَّلَس َو ِه
.ُهَدَل ً ِط ْعٌُ اَمٌِْف َدَلا َولا َّلَِإ اَهٌِْف َعِج ْرٌَ َّمُث َةٌَّ ِطَعلا ًَ ِطْعٌُ ْنَأ ٍمِلْسُم ٍلُجَرِل ُمِكا َحلا َو َناَّبِح نْبِا َو يِذِم ْرِتلا ُهَحَّحَص َو ةَعَب ْرَلأا َو ُدَم ْحَأ ُها َوَر .
Artinya : Ibnu Umar dan Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “ tidak halal bagi seorang muslim memberikan suatu pemberian kemudian menariknya kembali kecuali, seorang ayah yang menarik kembali apa yang diberikan kepada anaknya (HR. Ahmad dan Al Arba‟ah, dan hadis ini Shahih menurut At Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al Hakim )64 Seorang bapak dibolehkan mencabut pemberian kepada anaknya karena berhak menjaga keselamatan anaknya, juga cukup menaruh perhatian kepada (kasih sayang kepada anaknya).65
63 Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, (Bandung : Pustaka Setia), 2001, hal. 248
64 Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan‟ani, Subul As-Salam Syarah Buulughul
64 Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan‟ani, Subul As-Salam Syarah Buulughul