• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA

A. Hibiscus sabdariffa L

Wardani, Meikawati, 2014) dan disimpulkan ada pengaruh yang bermakna berbagai konsentrasi infusa kelopak bunga rosela terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih betina galur Wistar.

c. Fatty acid composition, anti-inflammatory and analgesic activities of Hibiscus sabdariffa Linn. seeds (Ali, et al, 2014) dan disimpulkan bahwa ekstrak petroleum eter tumbuhan Hibiscus sabdariffa Linn. memiliki akivitas antiinflamasi dan analgesik yang signifikan pada model antiinflamasi akut dan kronis melalui penghambatan sintesis siklooksigenase dan prostaglandin. d. Effect of zobo drink (Hibiscus sabdariffa water extract) on the

pharmacokinetics of acetaminophen in human volunteers (Kolawole and Madeunyi, 2004) dan disimpulkan tidak ada perbedaan statistik yang signifikan (p>0,05) pada parameter absorpsi t1/2, Ka, Tmax, Cmax dan AUC

0- pada subjek yang diberi zobo sebelum pemberian parasetamol, sedangkan pada subjek yang diberi parasetamol sebelum pemberian zobo

terdapat perbedaan statistik secara signifikan (p>0,05) pada K dan t1/2

dan terjadi peningkatan ClT sebesar 11,69%.

e. Pemanfaatan Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus Sabdriffa. L) Asal Kabupaten Bandung Barat Sebagai Antiinfeksi Terhadap Beberapa Genus Bakteri Staphylococcus (Zuhrotun, Hendriani, Kusuma, 2009) dan disimpulkan bahwa ekstrak air kelopak bunga rosela memiliki aktivitas

antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus 11748, S. aureus 1135, S. epidermidis, S. warneri dan S. xylosus.

Dari penelusuran peneliti, uji ‘Pengaruh Lama Praperlakuan Infusa Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Dosis 1,25 g/kg BB sebagai Analgetika

pada Mencit Betina Galur Swiss’ belum pernah dilakukan.

3. Manfaat penelitian a. Manfaat teoretis

Hasil penelitian ini sebagai informasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang farmasi mengenai penggunaan obat tradisional yaitu infusa kelopak bunga rosela sebagai analgetika.

b. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini memberikan informasi bagi masyarakat tentang pengaruh lama praperlakuan infusa kelopak bunga rosela sebagai analgetika yang digunakan secara berkala.

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi terkait lama praperlakuan infusa kelopak bunga rosela sebagai analgetika.

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui pengaruh lama praperlakuan infusa kelopak bunga rosela dosis 1,25 mg/kg BB terhadap % proteksi.

b. Mengetahui besarnya % proteksi akibat praperlakuan infusa kelopak bunga rosela dosis 1,25 mg/kg BB selama 1, 3 dan 6 hari

c. Mengetahui lama praperlakuan infusa kelopak bunga rosela dosis 1,25 mg/kg BB yang dapat digunakan sebagai analgetika.

8

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Hibiscus sabdariffa L.

Gambar 1. Tanaman dan bunga rosela (Ismail, Ikram and Nazri, 2008) Rosela merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan tinggi 0,5-3 m dengan batang berwarna merah atau hijau dan dapat tumbuh pada daerah beriklim tropis (gambar 1) (Ismail, et al, 2008). Hibiscus sabdariffa L. dikenal umum dengan nama rosela (Indonesia), bissap (Senegal), roselle (Inggris), oseille de guinea (Perancis), dan karkadeh (Arab) (Pacôme, et al, 2014). Rosela merupakan famili Malvaceae (gambar 2). Bunga rosela yang keluar dari ketiak daun merupakan bunga tunggal dengan 8-11 helai kelopak yang berbulu, panjangnya 1 cm, pangkal saling berlekatan dan berwarna merah. Kelopak bunga ini yang sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan minuman (Maryani dan Kristiana, 2005).

Teh kelopak bunga Hibiscus sabdariffa L. merupakan minuman berasa aromatik yang menyegarkan dan dapat berfungsi sebagai pencahar ringan. Kelopak bunga Hibiscus sabdariffa L. yang kering, besar dan berwarna merah rubi dididihkan pada air untuk memperoleh teh hibiscus. Konsentrasi yang cukup

besar pada kelopak adalah oksalat, malat, sitrat, tartrat, dan asam hibiscus (Bruneton, 2008).

Gambar 2. Klasifikasi Hibiscus sabdariffa L. (Dorr, 2011)

Hibiscus sabdariffa L. biasa digunakan sebagai diuretik, pencegahan ansietas, laksatif, penyakit jantung, inflamasi pada kulit dan mukosa, pilek dan sebagai antihipertensi (Rotblatt and Ziment, 2002). Hibiscus sabdariffa L. juga digunakan sebagai agen antiseptik, astringen, afrodisiaka, sakit perut, penenang dan tonik (obat kuat). Selain itu, dapat digunakan pada penyakit hati, demam, luka, nanah dan anemia. Terdapat banyak penelitian mengenai efek farmakologi ekstrak dari berbagai bagian tumbuhan rosela seperti aktivitas hepatoprotektif, antimutagenik, antispasmodik, antikanker, sitotoksik dan antibakteri, imunomodulator, antinosiseptif, antiinflamasi dan antidiare (Ali, et al, 2014).

Penelitian Ali, et al (2014) menyatakan ekstrak petroleum eter biji

Hibiscus sabdariffa L. menghambat secara signifikan fase I dan II inflamasi. Diduga terjadi penghambatan pada enzim siklooksigenase yang berperan dalam sintesis prostaglandin. Dalam uji lainnya disebutkan injeksi asam asetat 0,6% menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan peningkatan permeabilitas vascular. Efek ini diperantarai oleh mediator inflamasi berbeda seperti histamin, prostaglandin dan leukotrien. Hasil penelitian menunjukkan pemberian oral

ekstrak petroleum eter biji Hibiscus sabdariffa L. mengurangi inflamasi peritoneal yang diduga karena kemampuannya menghambat permeabilitas pembuluh darah selama inflamasi akut.

Berbagai senyawa kimia pada tanaman rosela memiliki aktivitas berbeda-beda. Kelopak bunga rosela kaya akan asam sitrat dan pektin. Senyawa fenolik dan flavonoid memiliki aktivitas antiviral, antiinflamasi, antioksidan, sitotoksik, antihipertensi, digunakan untuk diabetes, rematik dan demam. Senyawa fenolik dapat mengobati masalah ginjal dan perut dengan aktivitas antiinflamasi. Steroid memiliki efek antiinflamasi. Saponin mampu menurunkan risiko kanker pada manusia. Tanin mampu menurunkan aktivitas proliferasi bakteri dengan memblok enzim yang berperan dalam metabolisme bakteri. Tanin berperan sebagai antioksidan. Antosianin memiliki efek kardioprotektif, hipokolesterolemia, antioksidatif dan hepatoprotektif (Mungole and Chaturvedi, 2011).

Kelopak bunga rosela kaya akan asam dan pektin. Analisis terhadap kelopak menunjukkan keberadaan protein sederhana dan mineral seperti besi, fosfor, kalsium, mangan, aluminium, magnesium, natrium dan kalium. Getah, kalsium sitrat, asam askorbat dan hibiscin klorida juga terdapat pada kelopak (tabel I) (Mahadevan, Shivali and Kamboj, 2008).

Kandungan konstituen kimia organik rosela yang dilaporkan sebelum 2003 dimasukkan dalam kompendium tanaman obat dunia. Senyawa yang terdapat pada kelopak bunga rosela (gambar 3) adalah senyawa fenolik sederhana (protocatechuic acid [PCA] dan eugenol), senyawa flavonid tipe polifenol (antosianin 3-glukosida, antosianidin; flavonol kuersetin), asam organik dan

turunannya, vitamin C (asam askorbat), B1 (tiamin) dan B2 (riboflavin), dan

karoten (-karoten) (Carvajal-Zarrabal, et al, 2012).

Tabel I. Komponen fisikokimia kelopak bunga dan daun Hibiscus sabdariffa L. segar dalam 100 g sampel (Mahadevan, et al, 2008)

Komponen Kelopak bunga segar Daun segar (%)

Kelembaban 9,2 g 86,2 Protein 1,145 g 1,7-3,2 Lemak 2,61 g 1,1 Serat 12,0 g 10 Abu 6,90 g 1 Kalsium 12,63 mg 0,18 Fosfor 273,2 mg 0,04 Besi 8,98 mg 0,0054 Karoten 0,029 mg - Tiamin 0,117 mg - Riboflavin 0,277 mg - Niasin 3,765 mg - Asam askorbat 6,7 mg -

Senyawa kimia yang utama dalam aktivitas fisiologis kelopak bunga rosela adalah antosianin dan polifenol (Carvajal-Zarrabal, et al, 2012). Antosianin banyak ditemukan pada pangan nabati yang berwarna merah, ungu, merah gelap seperti rosela. Antosianin memiliki kemampuan sebagai antioksidan. Kemampuan antioksidatif antosianin timbul dari reaktifitasnya yang tinggi sebagai pendonor hidrogen atau elektron, dan kemampuan radikal turunan polifenol untuk menstabilkan dan mendelokalisasi elektron tidak berpasangan, serta kemampuannya mengkhelat ion logam. pH suatu sistem akan sangat mempengaruhi aktivitas antioksidan antosianin. Kemampuan mendonorkan hidrogen dari antosianin meningkat pada kondisi yang semakin asam. pH mempengaruhi warna dan stabilitas antosianin. Antosianin lebih stabil pada pH asam dibanding dalam pH netral atau basa (Ariviani, 2010).

Gambar 3. Senyawa organik yang terkandung dalam kelopak bunga rosela (Carvajal-Zarrabal, et al, 2012)

Dalam dunia farmasi, daun dan bunga tanaman ini dapat disiapkan dalam bentuk infusa dan dekoksi. Kelopak digunakan sebagai pewarna dan perasa pada teh herbal. Hibiscus sabdariffa L. berasal dari daerah tropis. Konstituen utama pada Hibiscus sabdariffa L. adalah sitrat, malat, asam tartarat, asam kembang

sepatu, gossypetin, antosianin, asam miristat, asam palmitat dan tiamin (Li, 2000), flavonoid seperti sabdaretin, dan hibiscetin, saponin dan alkaloid (Johnson, et al, 2013). LD50 ekstrak kelopak Hibiscus sabdariffa L. pada tikus adalah di atas 5000 mg/kg (Ali, Wabel and Blunden, 2005).

Ekstrak etanol kelopak Hibiscus sabdariffa L. menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap sembilan isoform dengan konsentrasi ekstrak yang dihasilkan 50% penghambatan isoform CYP dan tingkat penghambatan terbesar berurutan pada enzim CYP1A2, CYP2C8, CYP2D6, CYP2E1, CYP2C19, CYP3A4, CYP2C9 dan CYP2A6. Enzim-enzim ini bertanggung jawab dalam metabolisme obat. Ekstrak ini menghambat isoform enzim CYP yang berperan dalam metabolisme obat fase pertama. Kumarin, saponin, flavonoid dan antosianin memiliki aktivitas penghambatan pada aktivitas isoform CYP (Johnson, et al, 2013).

Dokumen terkait