• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Prasarana di Puslit Bioteknologi LIPI Cibinong

3. Penampakan visual

4.2.5 Hidrolisis Biomassa Porphyridium cruentum

Hidrolisis biomassa Porphyridium cruentum dilakukan dengan menimbang biomassa kering Porphyridium cruentum sebanyak 1,7 gram, aquades 33,3 ml dan penambahan katalis asam yakni HNO3 0,5 N 100 ml. Konsentrasi asam yang digunakan adalah konsentrasi terbaik yang ditentukan berdasarkan

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI pengujian karbohidrat dan gula pereduksi dilakukan sebelumya terhadap hidrolisat

Porphyridium cruentum dengan jumlah biomassa yang sedikit. Kemudian hidrolisis dilakukan dengan menggunakan air mendidih suhu ± 100ºC dengan selama 1 jam. Hal tersebut selaras dengan pendapat Judoamidjojo et al., (1989) bahwa hidrolisispati dengan asam memerlukan suhu tinggi. Hidrolisis dilakukan bertujuan untuk mempermudah proses fermentasi bioetanol. Dikarenakan pada saat proses hidrolisis terjadi konversi pati menjadi komponen yang lebih sederhana. Asam akan memecah molekul pati yang berukuran besar secara acak dan menghasilkan senyawa gula sederhana, sebagian besar gula yang dihasilkan adalah gula pereduksi (Judoamidjojo et al.,1989). Proses hidrolisis dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Proses Hidrolisis Biomassa pada suhu 100ºC selama 60 menit (Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2016)

Kemudian hasil hidrolisis disentrifuge dan diambil bagian supranatan. Kemudian hasil supranatan ditambahkan larutan NaOH 20% hingga pHnya antara 4,5-5 hal tersebut dikarenakan pH optimal khamir berkisar 4,0 hingga 4,5 (Wignyanto dkk., 2001). Hal tersebut juga didukung oleh pendapat Wardani dkk., (2013) pertumbuhan optimal pada Saccharomyces cerevisiae berkisar 4,5 sampai

27 ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI 5. Proses hidrolisis. Hasil hidrolisat biomassa Porphyridium cruentum dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Hasil Hidrolisat Biomassa (Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2016) 4.2.6 Fermentasi Hasil Hidrolisis

Sebelum proses fermentasi dilakukan penyediaan stok kultur

Saccharomyces cerevisiae. Penyediaan stok kultur Saccharomyces cerevisiae

yang dilakukan di Laboratorium Mikroalga Air Tawar terdiri dari dua tahap stok kultur yaitu stok kultur dalam media agar miring yang dilanjutkan dengan media cair. Media agar dibuat dengan melarutkan media PDA (Potato Dextrose Agar) sebanyak 0,78 gram dalam 20 ml aquades. Kemudian dipindahkan pada tabung reaksi masing masing sebanyak 5 ml dan disterilkan dengan suhu 121ºC selama 15 menit dengan menggunakan autoclave. Kemudian stok kultur diinkubasi selama 1x24 jam. Alur proses pembuatan media agar miring dapat dilihat pada Lampiran 9.

Tujuan pembuatan media agar miring adalah untuk menyediakan kultur murni. Hal ini didukung oleh pendapat Cappuccino and Sherman (1998) bahwa

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI teknik pembuatan media agar miring merupakan teknik yang digunakan untuk menyimpan biakan murni. Pembuatan stok kultur Sacharomyces cerevisiae dalam media agar miring dilakukan dengan menanam sebanyak satu goresan pada jarum ose biakan murni Saccharomyces cerevisiae pada media agar miring secara zig-zag. Media cair untuk pembuatan stok kultur Saccharomyces cerevisiae

melarutkan yeast ekstrak sebanyak 0,09 gram dan pepton sebanyak 0,15 gram dalam 30 ml aquades. Media kemudian disterilkan pada suhu 121ºC selama 15 menit dengan menggunakan autoclave.

Pembuatan stok kultur Sacharomyces cerevisiae dalam media cair dilakukan dengan menanam stok kultur media agar yang telah mengalami peningkatan kepadatan sel. Kemudian stok kultur pada media cair diinkubasi selama 2x24 jam. Hal ini berdasarkan dari pendapat Supriyanto dan Wahyudi (2008) yang menyatakan bahwa 2x24 jam adalah waktu yang dibutuhkan oleh yeast untuk beradaptasi di media pertumbuhan yang baru. Proses stok kultur

Sacharomyces cerevisiae lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran 10. Hal ini sesuai dengan pendapat Amini dan Susilowati (2010), bahwa kultur yang semakin padat akan dipindahkan ke wadah yang bervolume lebih besar, Hal ini bertujuan untuk peremajaan kultur Saccharmoyces cerevisiae, agar sel khamir yang dikultur tetap dapat hidup.

Pembuatan stok kultur Saccharomyces cerevisiae dalam media cair maupun dalam media agar miring dilakukan di dalam Laminar Air Flow (LAF). Tipe yang digunakan di Laboratorium Mikroalga Air Tawar adalah Laminar Air Flow Sander Lab K.S.025, dengan jenis LAF vertikal. Hal ini berdasarkan

29 ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI pendapat Tuhuteru dkk. (2012) semua pengkulturan, baik bakteri, mikroalga, maupun eksplan tumbuhan dilakukan secara aseptik di LAF untuk meminimalisasi adanya kontaminasi. LAF berfungsi sebagai penyaring bakteri dan bahan-bahan eksogen di udara, menjaga aliran udara yang konstan di luar lingkungan, serta mencegah masuknya kontaminan ke dalam LAF. Tidak terjadinya kontaminasi dari lingkungan luar merupakan syarat pokok stok kultur, oleh sebab itu semua peralatan yang digunakan untuk kegiatan stok kultur harus disterilisasi dengan

autoclave pada suhu 121⁰C selama 15 menit. Menurut Hossain et al. (2012), penggunaan suhu 121⁰C selama 15 menit merupakan paduan suhu dan waktu yang efektif karena mampu membunuh bakteri dalam jumlah banyak dan dengan waktu yang relatif cepat. Kemudian penambahan media tumbuh dalam hasil hidrolisat sebanyak 100 ml dilakukan dengan penambahan (NH4)2SO4 0,2 gram, K2HPO4 0,1 gram, KH2PO4 0,1 gram, ZnSO4 0,02 gram, MgSO4 0,02 gram, dan yeast ektrak 0,2 gram. Hasil hidrolisat dari H2SO4 masing masing dituangkan ke tabung reaksi besar sebanyak 25 ml. Dan diinolukasikan Saccharomomyces cerevisiae sebanyak 2,5% pada masing masing tabung reaksi. Selanjutnya proses fermentasi dilakukan selama satu hari, dua hari, tiga hari dan lima hari dalam keadaan dishaker. Proses fermentasi dapat dilihat pada Gambar 6.

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Gambar 6. Proses Fermentasi Hidrolisat

(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2016)

Setiap selesai hasil fermentasi hasil rendemen etanol dihitung konsentrasi gula pereduksi dan jumlah sel Saccharomyces cerevisiae. Konsentrasi gula pereduksi dari hari pertama fermentasi hingga hari kelima fermentasi mengalami penurunan. Pada hari pertama fermentasi konsentrasi gula pereduksi 11,85 ppm, hari kedua fermentasi konsentrasi gula pereduksi -4,072 ppm, hari ketiga fermentasi konsentrasi gula pereduksi -31,34 ppm dan hari kelima konsentrasi gula pereduksi -31,54 ppm. Jumlah sel pada hari kedua meningkat dari 9,8 x 106 menjadi 3,02 x 107 dan menurun pada hari ketiga dan kelima menjadi 1,44 x 107 dan 1,3 x 107. Grafik kepadatan sel Saccharomyces cerevisiae dapat dilihat pada Gambar 8.

31 ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Penurunan sel Saccharomyces cerevisiae disebabkan karena pada awal fermentasi, gula reduksi di dalam media masih banyak sehingga proses pembelahan dan aktivitas fermentasi sel Saccharomyces cerevisiae berjalan dengan baik dan etanol yang dihasilkan juga banyak sedangkan pada hari ketiga, gula reduksi di dalam media sudah hampir habis sehingga proses pembelahan dan aktivitas fermentasi sel Saccharomyces cerevisiae terhambat yang akibatnya etanol yang dihasilkan sedikit. Selain itu penimbunan etanol berkonsentrasi tinggi hasil metabolisme Saccharomyces cerevisiae menghambat pertumbuhan dan menyebabkan kematian sel Saccharomyces cerevisiae. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Wignyanto (2001) Peningkatan jumlah sel Saccharomyces cerevisiae

diikuti dengan penurunan konsentrasi gula reduksi dan peningkatan konsentrasi etanol di dalam substrat atau media

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang yang telah dilakukan di Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit Bioteknologi-LIPI) mengenai proses produksi bioetanol dari mikroalga

Porpyridium cruentum skala laboratorium terdiri dari 4 tahap, yakni sebagai berikut

1. Penyediaan biomassa mikroalga Porpyridium cruentum dengan cara kultivasi mikroalga menggunakan media Johnson.

2. Pemanenan mikroalga Porpyridium cruentum dengan menggunakan teknik sentrifugasi.

3. Proses hidrolisis mikroalga Porpyridium cruentum. Hidrolisis dilakukan secara asam dengan menggunakan katalis HNO3.

4. Proses fermentasi hasil hidrolisis (hidrolisat) dengan menggunakan

Saccharomyces cerevisiae. 5.2 Saran

Berdasarkan rangkaian kegiatan Praktek Kerja Lapang di Puslit Bioteknologi-LIPI Proses produksi bioetanol dari mikroalga Porpyridium cruentum yang dilakukan, maka disarankan perlu adanya penambahan jumlah kultur mikroalga yang dilakukan untuk produksi bioetanol agar persediaan biomassa mikroalga kultur dapat tercukupi. Kemudian diperlukan pengoptimalan peralatan yang ada

33 ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI sehingga dapat menghasilkan rendemen bioetanol yang maksimal dan dapat meminimalisir kesalahan dalam menganalisis hasil bioetanol

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Z. 2011. Evaluasi Pembelajaran Prinsip, Teknik, Prosedur. PT Remaja. Rosdakarya. Bandung. hal 24-25.

Abuzuar, S. S., Y. D. Putra & R. E. Emargi. 2012. Koefisien Transfer Gas (KLa) pada Proses Aerasi Menggunakan Tray Aerator Bertingkat 5 (Lima). Jurnal Teknik Lingkungan UNAND, 9 (2): 155-163.

Amini, S dan R, Susilowati. 2010. Produksi biodiesel dari mikroalga

Botryococcus braunii. Squalen, 5 (1): 23-30.

Arad, S.M. & Cohen. 1989. Closed system for outdoor cultivation of

Porphyridium. Biomass, 18: 59-67.

Arad S.M. & A. Richmond. 2004. Industrial Production of Microalgal Cell-mass and Secondary Products-Species of High Potential Porphyridium sp. Di dalam Richmond A, editor. Handbook of Microalgal Culture: Biotechnology and Applied Phycology. United Kingdom. Blackwell Publishing Company. pp 56-78

Armanda, D. T. 2013. Pertumbuhan Kultur Mikroalga Diatom Skeletonema costatum (Greville) Cleve Isolat Jepara pada Medium f/2 dan Medium Conway. Bioma, 2 (1) : 49-63.

Assadad, L., B.S.B. Utomo., & R.N Sari. 2010. Pemanfaatan Mikroalga Sebagai Bahan Baku Bioetanol. Squalen. 5(2) : 51-58.

Badan Standarisasi Nasional. 1994. SNI 06-3565-1994: Alkohol Teknis Balat, M. and H. Ballat. 2009. Recent Global Production and Utilization of

Bioethanol Fuel. Applied Energy, 86 : 2273-2282.

Broto, W. dan N. Richana. 2007. Inovasi Teknologi Proses Industri Bioetanol DariKayuSkalaPedesaan.http://alitka.ibimasakti.malang.te.net.id/PDF /05BB%20Pascapanen.Bioetanol.pdf. Diakses pada tanggal 11 November 2015.

Borowitzka, M.A. 1988. Algal Growth Media And Sources Of Algal Cultures.

In : Borowitzka, M.A & L.J Borowitza (Eds) Microalga Biotechnology.Cambridge University Press: Cambridge. pp. 456-465. Budiardi, T., I. Widjaya dan D. Wahjuningrum. 2007. Hubungan Komunitas

Fitoplankton dengan Produktivitas udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Tambak Biocrete. Jurnal Akuakultur Indonesia, 6 (2) :119-125.

35 ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Cappucino, J.G., N. Sherman. 1998. Microbiology: A Laboratory Manual. 5

th

Edition. California: Benjamin/Cummings Science Publishing. pp 94. Chen, C.Y., K.L Yeh., D.J Lee & J.S Chang. 2011. Cultivation, photobioreactor

design and harvesting of microalgae for biodiesel production: A critical review. Bioresource Technology. 102 : 71-81

Eryanto, A. 2003. Suatu Pendekatan Biologi dan Manajemen Plankton dalam Budidaya Udang. PT. CPB. Surabaya. hal.36-38.

Fuentes M.M.R., G.G.A. Fernandez, J.A.S. Penrez, J.L.G Guerrero. 2000.

Biomass nutrient profiles of the microalga Porphyridium. Food Chemistry. 70: 345- 353.

Grima EM, F.G.A. Fernandez, and A.R. Medina. 2004. Downstream Processing of Cell-mass and Products. Di dalam Richmond A editor. Handbook of Microalgal Cultures: Biotechnology and Applied Phycology. United Kingdom: Blackwell Publishing Company.

Handayani N.A dan D. Ariyanti. 2012. Potensi Mikroalga Sebagai Sumber Biomassa dan Pengembangan Produk Turunannya. Teknik. 33 (2) : 58-65.

Hariyati, R. 2008. Pertumbuhan dan Biomassa Spirulina sp dalam Skala

Laboratoris. Laboratorium Ekologi dan Biosistemaatik Jurusan Biologi FMIPA Undip, BIOMA, Juni 2008. ISSN : 1410-88011. 10 (1) : 19-22 Harun, R., M. Singh, G.M. Forde, and M.K Danquah. 2010a. Bioprocess

Engineering of Microalgae to Produce a Variety of Consumer Products. Renewable and Sustainable Energy Review. 14 : 1037-1047.

Harun, R., W.S.Y. Jason, T. Cherrington, and M.K. Danquah. 2010b. Microalgal Biomass as a Cellulosic Fermentation Feedstock for Bioethanol Production. Renewable and Sustainable Energy Review. 14 : 1343-1352. Hossain, A.B.M., A. Salleh., A.N. Boyce., P. Chowdurry., and M. Naqiuddin.

2008. Biodiesel Fuel Production From Algae as Renewable Energy. American Journal. 3) : 250-254.

Isnansetyo, A. dan Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Kanisius. Yogyakarta. hal 67.

Jati, F., Johanes H., dan E.H. Vivi. 2012. Pengaruh Penggunaan Dua Jenis

Media Kultur yang Berbeda Terhadap Pola Pertumbuhan, Kandungan Protein dan Asam Lemak Omega 3 EPA (Chaetoceros gracilis). Jurnal of Aquaculture Management and Technology 1: 221 -235.

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Judoamidjojo, R. M., E.G. Said dan L. Hartoto. 1989. Biokonversi Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor. Bogor. hal 34-37. Knuckey, R.M., M.R Brown., & R.F Robert. 2006. Profuction of microalgal

concentrates by flocculation and ther assessment as aquaculture feeds. Aquaculture Enginerering. 35 : 300-313.

Kosasih, Y. 2011. Aktivitas Antibakteri Mikroalga Porphyridium cruentum Terhadap Berbagai Jenis Bakteri Patogen. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

Kulp, K. 1975. Carbohydrases Enzymes and Processing. Reed G. Editor. Academic Press. New York. pp 97-98.

Kusumawarni E. 1998. Mempelajari pengaruh intensitas terhadap pertumbuhan sel, produksi polisakarida, dan pigmen dari mikroalga Porphyridium cruentum. Skripsi. Bogor. hal 43-42

Kusumawarni E. 1998. Mempelajari pengaruh intensitas terhadap pertumbuhan sel, produksi polisakarida, dan pigmen dari mikroalga Porphyridium cruentum.. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

Lehninger, A.L. 1993. Dasar-dasar Biokimia. Terjemahan: M. Thenawidjaja. Erlangga, Jakarta. hal 45-56.

Nazir, M. 2011. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Bogor. hal 80-105.

Patil, V., K.Q. Tran and H.R. Gliserod. 2008. Towards Sustainable Production of Biofuels from Microalgae. International Journal of Molecular Science. 9 : 118-195.

Priyadarshani, I., dan B. Rath. 2012. Commercial and Industrial Applications of Microalgae a Review. Journal Algal Biomass Utilization. 3(4): 89-100.

Olaizela, M. and E. O. Duerr. 1990. Effects of Light Intensity and Quality on the Growth Rate and Photosynthetic Pigment Content of Spirulina platensis. Journal of Applied Phycology 2 : 97-104.

Sari, F. Y. A., I. M. A. Suryajaya dan Hadiyanto. 2012. Kultivasi Mikroalga

Spirulina platensis dalam Media POME dengan Variasi Konsentrasi POME dan Komposisi Jumlah Nutrien. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, 1 (1) : 487-494.

37 ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Sathasivam, R. and N. Juntawong. 2013. Modified Medium for Enhanced Growth

of Dunaliella Stains. International Journal Current Science, 5 : 67-73. Siantika, G. dan D. Hendrawandi. 2009. Efektivitas Teknik Kultur Menggunakan

Sistem Kultur Statis, Semi-Kontinyu, dan Kontinyu terhadap Produktivitas dan Kualitas Kultur Spirulina sp. Jurnal Matematika dan Sains, 14 (2) : 41-50.

Sutomo, R. Komala, E. T. Wahyuni dan M. G. L. Panggabean. 2007. Pengaruh jenis Pakan Mikroalga yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Populasi Rotifer Brachionus rotundiformis. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, 33 : 159-176.

Tuhuteru, S., M. L. Hehanussa dan S. H. T. Raharjo. 2012. Pertumbuhan dan Perkembangan Anggrek Dendrobiu manosmum pada Media Kultur In Vitro dengan Beberapa Konsentrasi Air Kelapa. Aprologia, 1 (1) : 1-12. Richmond A. 1988. Spirulina. Di dalam: Borowitzka MA dan Borowitzka LJ.

(Eds). Microalga Biotechnology. Cambridge: Cambridge University Press. Vonshak. 1988. Porphyridium. Di dalam: Borowitzka, M.A. and Borowitzka, L.J.

Macro-Algae Biotechnology. Cambridge: Cambridge University Press. Wahyudi, P. 1999. Chlorella: Mikroalga Sumber Protein Sel Tunggal. Jurnal

Sains dan Teknologi Indonesia. 1 (5) : 35-41.

Wardani, A.K., dan F.N.E Pertiwi. 2013. Produksi entanol dari tetes tebu oleh

Saccharomyces cereviseae pembentuk flok (NRRL – Y 265). Jurnal Agritech. 33 (2) : 131.

Widjaja, A. 2009. Lipid Production from Microalgae as a Promising Candidate For Biodiesel Production. Makara Teknologi. 13(1): 47-51.

Wignyanto., Suharjono., Novita. 2001. Pengaruh Konsentrasi Gula Reduksi Sari Hati Nanas dan Inokulum Saccharomyces cerevisiae Pada Fermentasi Etanol. Jurnal Teknologi Pertanian. 2 (1) : 68-77

Wirosaputro, S. 2002. Chlorella untuk Kesehatan Global, Teknik Budidaya Dan Pengolahan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Hal 76-78.

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI LAMPIRAN

Lampiran 1. Peta Lokasi PKL

39 ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Lampiran 2.Struktur Organisasi Puslit Bioteknologi LIPI

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Lampiran 3. Daftar Peralatan di Puslit Bioteknologi LIPI

No Peralatan Ukuran Fungsi Keterangan

1. Spektrofotometer UV-VIS - Digunakan untuk mengukur absorpsi radiasi gelombang elektromagnetik dari suatu sampel. Spektrofotometri UV-VIS terletak di Laboratorium Kimia Bahan Alam Puslit Bioteknologi LIPI.

2. Alat Sentrifugasi - Digunakan untuk memisahkan suatu larutan dari zat terlarutnya dengan

menggunakan gaya sentrifugal.

Alat sentrifugasi ini terletak di Laboratorium Kimia Bahan Alam Puslit Bioteknologi LIPI.

3. Autoclave - Digunakan untuk

sterilisasi

berbagai alat dan bahan yang akan digunakan untuk penelitian Autoclave ini terletak di Laboratorium Biokatalis dan Fermentasi Puslit Bioteknologi LIPI.

4. Inkubator - Digunakan untuk

tumbuh dan memelihara budaya mikrobiologi atau kultur sel.

Inkubator terletak di Laboratorium Kimia Bahan Alam Puslit Bioteknologi LIPI.

5. Shaker - Digunakan untuk

mengaduk atau mencampur suatu larutan dengan larutan yang lain

Shaker ini terletak di Laboratorium Kimia Bahan Alam Puslit Bioteknologi

41 ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI sehingga bersifat

homogen dengan gerakan satu arah.

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Lampiran 4. Daftar Gambar Peralatan di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI

Spektrofotometer UV-Vis Alat Sentrifugasi

43 ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Lampiran 5. Daftar Peralatan di Laboratorium Mikroalga Air Tawar

No Peralatan Ukuran Fungsi Keterangan

1. Botol kultur 1000 ml dan 2000 ml

Digunakan untuk mengkultur

mikroalga

Botol kultur ini dilengkapi dengan penutup botol yang terbuat dari kapas, tisu, dan slang. 2. Aerator Diameter 5-7 mm Melarutkan oksigen dalam kultur. Besar kecilnya gelembung udara yang dihasilkan dapat diatur. 3. Laminar Air Flow (LAF) - Digunakan untuk kegiatan yang bersifat steril.

Terdapat satu buah LAF.

4. Vortex - Digunakan untuk

mencampur larutan.

Alat ini terdiri dari motor listrik dan

drive shaft yang melekat pada karet. 5. Timbangan

analitik

500 mg Digunakan untuk menimbang bahan kimia.

Terdapat satu buah timbangan analitik.

6. Oven - Digunakan untuk

pengeringan alat.

Oven dioperasikan pada suhu 50oC. Terdapat satu buah oven.

7. Rak Kultur - Digunakan untuk

meletakkan botol kultur.

Rak ini dilengkapi lampu 40 W. Terdapat empat buah rak kultur, dimana tiga rak kultur digunakan untuk tempat kultur mikroalga,

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI kultur untuk stok kultur.

8. Tabung Reaksi

100 ml Digunakan untuk wadah stok kultur, atau untuk pengujian bahan tertentu.

Terdapat lebih dari 100 tabung reaksi. 9. Tabung Sentrifus 100 ml dan 250 ml Digunakan untuk sentrifugasi sampel. Terdapat 250 tabung sentrifus berukuran 100 ml, dan 30 tabung sentrifus berukuran 250 ml. 10. Mikroskop cahaya - Digunakan untuk mengetahui apakah terjadi kontaminasi pada kultur mikroalga atau tidak.

Terdapat satu buah mikroskop cahaya. 11. Tabung Erlenmeyer 250 ml, 500 ml, dan 1000 ml. Digunakan untuk pembuatan media agar.

Tabung ini terbuat dari borosilikat, sehingga dapat dipanaskan hingga suhu 200oC. 12. Magnetic Stirrer - Digunakan untuk menghomogenkan larutan.

Terdapat dua buah

45 ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Lampiran 6. Daftar Gambar Peralatan di Laboratorium Mikroalga Air Tawar

Botol Kultur Laminary Air Flow

Vortex

Timbangan Analitik

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI

Tabung Reaksi Tabung Sentrifugasi

47 ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Lampiran 7. Nilai Optical Density Porphyridium cruentum

Tanggal Hari Ke-

Nilai Optical Density Keterangan Johnson (JM) - 20 Januari 2016 1 1.361 -21 Januari 2016 2 1.55 -22 Januari 2016 3 1.597 -23 Januari 2016 4 1.678 -24 Januari 2016 5 1.746 -25 Januari 2016 8 1.942 -26 Januari 2016 9 1.913 -27 Januari 2016 10 2.023 -28 Januari 2016 11 2.097 -29 Januari 2016 12 2.544 -30 Januari 2016 13 3.141 -31 Januari 2016 14 3.386 -01 Februari 2-016 15 4.977 -02 Februari 2016 16 3.644 Panen

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Lampiran 8. Proses Kultivasi Porphyridium cruentum

200 ml kultur Porphyridium cruentum

500 ml media Johnson

Ditambah air hingga 1000 mL

Diletakkan dalam rak dan diaerasi

Dihitung OD setiap hari

Panen menggunakan Teknik Sentrifugasi (6000 rpm, 5 menit)

Pengeringan dengan freeze dry

49 ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Lampiran 9. Proses Pembuatan Media Agar Miring

Potato Dextrose Agar 0,78 gram.

Mensterilkan pada autoklaf dengan suhu 121ºC selama 15 menit.

Menambahkan aquades sebanyak 20 ml.

Memanaskan dengan api suhu 100ºC hingga mendidih.

Menuangkan pada tabung reaksi, menutup dengan kapas dan wrap.

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Lampiran 10. Proses stok kultur Saccharomyces cerevisiae

Penanaman kultur Sacharomyces cerevisiae

dari biakan murni pada media agar miring.

Inkubasi selama 1x24 Jam Pembuatan media cair dengan menimbang

pepton 0,25 gram dan yeast ekstrak 0,15 gram dalam 50 ml aquades.

Mensterilkan pada autoklaf dengan suhu 121ºC selama 15 menit

Menanam biakan Saccharomyces cerevisiae

pada media cair

51 ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LAPORAN PKL PROSES PRODUKSI BIOETANOL… AYUNANI S. PUTRI Lampiran 11. Diagram Alir Proses Produksi Bioetanol dari mikroalga

Porphyridium cruentum

Hidrolisis dengan suhu 100º C selama 1 Jam

Penetralan pH

Penambahan media tumbuh S. cerevisiae dan disterilkan

Penghitungan kepadatan sel

S. Cerevisiae

Biomassa Kering Penimbangan

Penambahan aquades dan katalis asam

Penambahan starter fermentasi S. cerevisiae

Fermentasi selama 1 hari, 2 hari, 3 hari dan 5 hari

Dokumen terkait