LUAR SISTEM DAS (HILIR)
F. Metode Perhitungan Evapotranspirasi Acuan (ETo)
IV. KARAKTERISTIK DAS SEPARI
4.1. Hidrometeorologi DAS Separi
Untuk mengetahui fluktuasi debit air dan iklim (curah hujan, suhu, kelembaban, radiasi matahari, dan kecepatan angin) di DAS Separi, kabupaten Kutai Kartanegara, propinsi Kalimantan Timur, maka Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Timur dan Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Bogor telah memasang stasiun pengamat tinggi muka air otomatis (AWLR/Automatic Water Level Recorder) di sungai Separi sebagai titik keluaran (outlet) DAS Separi pada koordinat X=514.115 dan Y=9.968.976 yang berlokasi di desa Bukitpariaman (Separi L-V), kecamatan Tenggarong Seberang, kabupaten Kutai Kartanegara. Selain itu, untuk mengetahui distribusi hujan wilayah yang masuk ke DAS Separi, maka dilakukan pemasangan stasiun iklim otomatis (AWS/Automatic Weather Station) di tiga lokasi, yakni : 1) AWS Separi, 2) AWS Lempake, dan 3) AWS Marang Kayu. Stasiun iklim (AWS) Separi terletak pada koordinat X=513.007 dan Y=9.970.080 yang berada di desa Bukitpariaman (Separi L-V), kecamatan Tenggarong Seberang, kabupaten Kutai Kartanegara. Stasiun iklim (AWS) Lempake terletak pada koordinat X=520.338 dan Y=9.950.845 yang berada di desa Lempake, kecamatan Samarinda Utara, kotamadya Samarinda. Stasiun iklim (AWS) Marang Kayu terletak pada koordinat X=546.117 dan Y=9.985.262 yang berada di desa Marang Kayu, kecamatan Muarabadak, kabupaten Kutai Kartanegara.
Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik tanah (kelas tekstur tanah) dan geomorfologi DAS (geometrik dan morfometrik) terhadap karakteristik unit hidrograf, maka dilakukan pemasangan stasiun pengamat tinggi muka air semi-otomatis di tiga lokasi, yakni : 1) Sub DAS Separi-Badin, 2) Sub DAS Separi-Soyi, dan 3) Sub DAS Separi-Usup. Selain itu juga dilakukan
pemasangan stasiun penakar hujan semi-otomatis didaerah Seleko – Separi pada koordinat X=520.237 dan Y=9.970.080. Posisi geografis stasiun pengamat tinggi muka air otomatis (AWLR) pada masing-masing outlet di 3 Sub DAS Separi dan DAS Separi, serta stasiun iklim otomatis (AWS) disajikan pada Tabel 6 dan Gambar 12.
Tabel 6. Posisi geografis stasiun pengamat tinggi muka air otomatis (AWLR) dan stasiun iklim otomatis (AWS) DAS Separi
No. Stasiun Status Alamat Ketinggian
X Y (m)
1 Separi AWLR Separi (L-V) 514.115 9.968.976 10
2 Soyi AWLR Separi (L-V) 515.566 9.969.503 17
3 Badin AWLR Separi (L-V) 516.135 9.968.942 16
4 Usup AWLR Separi (L-V) 518.775 9.967.581 20
5 Separi AWS Separi (L-V) 513.007 9.970.113 12
6 Seleko Hujan Separi (L-V) 520.237 9.970.080 21
7 Lempake AWS Lempake 520.338 9.950.845 16
8 Marang Kayu AWS Marang Kayu 546.117 9.985.262 13
Posisi Geografis
Keterangan : AWLR = Automatic Water Level Recorder dan AWS = Automatic
Weather Station
4.2. Iklim
Karakteristik iklim (curah hujan, suhu, kelembaban, radiasi matahari, dan kecepatan angin) DAS Separi digambarkan dari 3 stasiun iklim, yakni stasiun iklim Separi, Lempake, dan Marang Kayu, dan secara spasial (ruang) terbagi dalam tiga wilayah, yaitu : 1) wilayah 1 yang digambarkan dari stasiun iklim (AWS) Separi, 2) wilayah 2 yang digambarkan dari stasiun iklim (AWS) Lempake, dan 3) wilayah 3 yang digambarkan dari stasiun iklim (AWS) Marang Kayu. Pewilayah iklim secara spasial di DAS Separi didasarkan pada metode Thiessen, dan karena metode ini memiliki asumsi bahwa keragaman iklim antara stasiun iklim di Separi dengan stasiun Lempake maupun stasiun Marang Kayu memiliki hubungan yang linear dan tidak ada pengaruh orografis dari stasiun-stasiun iklim tersebut. Hal ini dikarenakan pada daerah ini merupakan daerah dengan relief
datar sampai berbukit dan ketinggian <250 m dpl (di atas permukaan laut). Peta pewilayah iklim DAS Separi dapat dilihat pada Gambar 13.
Gambar 12. Peta posisi geografis stasiun iklim (AWS) dan pengamat tinggi muka air (AWLR) di DAS Separi
Berdasarkan Gambar 13, pola curah hujan di DAS Separi didominasi pola sekuen curah hujan A (Trojer, 1976) dan zona agroklimat D2 (Oldeman, 1975). Berdasarkan analisis pola curah hujan metode Trojer (1976) dan Oldeman (1975) dapat memberikan gambaran yang jelas antara puncak periode basah yakni pada bulan Desember sampai dengan Maret dan puncak periode kering pada bulan Juli sampai dengan Agustus (Gambar 13 dan Tabel 7). Selain itu, di DAS Separi ini juga memiliki tipe hujan basah (B) sampai dengan sangat basah (A) (Schmidt dan Ferguson, 1951). Hal ini membuktikan bahwa kejadian banjir yang terjadi di bagian hilir DAS Separi (Gambar 1) akan terjadi pada bulan Desember
sampai dengan Maret dan kejadian kekeringan akan terjadi pada bulan Juli sampai dengan Agustus. Hal ini didukung dari hasil penelitian Heriansyah (2004), bahwa kekurangan air di daerah Separi terjadi pada bulan Juli sampai dengan Agustus. AWS Separi 0 50 100 150 200 250 300
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Bulan Hu ja n & E T P ( m m ) 28.40 28.60 28.80 29.00 29.20 29.40 29.60 29.80 30.00 30.20 30.40 Suhu (o C ) Curah Hujan ETP Suhu
1. Pola Sekuen Hujan (Trojer, 1976) A 2. Zona Agriklimat (Oldeman, 1975)
Jumlah BB (>200 mm) 4 Jumlah BK (<100 mm) 2 Zona Agroklimat D2 Periode masa tanam 10 bulan 3. Tipe Hujan (Schmidt & Ferguson, 1951) Jumlah BB (>100 mm) 10 Jumlah BK (<60 mm) 1 Q (%) 10 Tipe Hujan B (Basah)
AWS Lempake 0 50 100 150 200 250 300 350
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Bulan Hu ja n & E T P (m m ) 28.80 29.00 29.20 29.40 29.60 29.80 30.00 30.20 30.40 30.60 Suhu ( o C ) Curah Hujan ETP Suhu
1. Pola Sekuen Hujan (Trojer, 1976) A 2. Zona Agriklimat (Oldeman, 1975)
Jumlah BB (>200 mm) 5 Jumlah BK (<100 mm) 2 Zona Agroklimat C2 Periode masa tanam 10 bulan 3. Tipe Hujan (Schmidt & Ferguson, 1951)
Jumlah BB (>100 mm) 10 Jumlah BK (<60 mm) 0 Q (%) 0 Tipe Hujan A (Sangat Basah)
AWS Marang Kayu
0 50 100 150 200 250 300 350
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Bulan H u ja n & E TP ( mm) 28.00 28.20 28.40 28.60 28.80 29.00 29.20 29.40 29.60 29.80 Su hu ( o C ) Curah Hujan ETP Suhu
1. Pola Sekuen Hujan (Trojer, 1976) A
2. Zona Agriklimat (Oldeman, 1975)
Jumlah BB (>200 mm) 7
Jumlah BK (<100 mm) 2
Zona Agroklimat B2
Periode masa tanam 10 bulan
3. Tipe Hujan (Schmidt & Ferguson, 1951)
Jumlah BB (>100 mm) 10
Jumlah BK (<60 mm) 0
Q (%) 0
Tipe Hujan A (Sangat Basah)
AWS Separi 0 50 100 150 200 250 300
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Bulan Hu ja n & E T P ( m m ) 28.40 28.60 28.80 29.00 29.20 29.40 29.60 29.80 30.00 30.20 30.40 S uhu ( oC ) Curah Hujan ETP Suhu
1. Pola Sekuen Hujan (Trojer, 1976) A 2. Zona Agriklimat (Oldeman, 1975)
Jumlah BB (>200 mm) 4 Jumlah BK (<100 mm) 2 Zona Agroklimat D2 Periode masa tanam 10 bulan 3. Tipe Hujan (Schmidt & Ferguson, 1951) Jumlah BB (>100 mm) 10 Jumlah BK (<60 mm) 1 Q (%) 10 Tipe Hujan B (Basah)
AWS Lempake 0 50 100 150 200 250 300 350
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Bulan H u ja n & ET P ( m m ) 28.80 29.00 29.20 29.40 29.60 29.80 30.00 30.20 30.40 30.60 S uhu ( oC ) Curah Hujan ETP Suhu
1. Pola Sekuen Hujan (Trojer, 1976) A 2. Zona Agriklimat (Oldeman, 1975)
Jumlah BB (>200 mm) 5 Jumlah BK (<100 mm) 2 Zona Agroklimat C2 Periode masa tanam 10 bulan 3. Tipe Hujan (Schmidt & Ferguson, 1951)
Jumlah BB (>100 mm) 10 Jumlah BK (<60 mm) 0 Q (%) 0 Tipe Hujan A (Sangat Basah)
AWS Marang Kayu
0 50 100 150 200 250 300 350
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Bulan H u ja n & E TP ( mm) 28.00 28.20 28.40 28.60 28.80 29.00 29.20 29.40 29.60 29.80 Su hu ( o C ) Curah Hujan ETP Suhu
1. Pola Sekuen Hujan (Trojer, 1976) A
2. Zona Agriklimat (Oldeman, 1975)
Jumlah BB (>200 mm) 7
Jumlah BK (<100 mm) 2
Zona Agroklimat B2
Periode masa tanam 10 bulan
3. Tipe Hujan (Schmidt & Ferguson, 1951)
Jumlah BB (>100 mm) 10
Jumlah BK (<60 mm) 0
Q (%) 0
Tipe Hujan A (Sangat Basah)
AWS Separi 0 50 100 150 200 250 300
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Bulan Hu ja n & E T P ( m m ) 28.40 28.60 28.80 29.00 29.20 29.40 29.60 29.80 30.00 30.20 30.40 S uhu ( oC ) Curah Hujan ETP Suhu
1. Pola Sekuen Hujan (Trojer, 1976) A 2. Zona Agriklimat (Oldeman, 1975)
Jumlah BB (>200 mm) 4 Jumlah BK (<100 mm) 2 Zona Agroklimat D2 Periode masa tanam 10 bulan 3. Tipe Hujan (Schmidt & Ferguson, 1951) Jumlah BB (>100 mm) 10 Jumlah BK (<60 mm) 1 Q (%) 10 Tipe Hujan B (Basah)
AWS Lempake 0 50 100 150 200 250 300 350
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Bulan H u ja n & ET P ( m m ) 28.80 29.00 29.20 29.40 29.60 29.80 30.00 30.20 30.40 30.60 S uhu ( oC ) Curah Hujan ETP Suhu
1. Pola Sekuen Hujan (Trojer, 1976) A 2. Zona Agriklimat (Oldeman, 1975)
Jumlah BB (>200 mm) 5 Jumlah BK (<100 mm) 2 Zona Agroklimat C2 Periode masa tanam 10 bulan 3. Tipe Hujan (Schmidt & Ferguson, 1951)
Jumlah BB (>100 mm) 10 Jumlah BK (<60 mm) 0 Q (%) 0 Tipe Hujan A (Sangat Basah)
AWS Marang Kayu
0 50 100 150 200 250 300 350
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Bulan H u ja n & E TP ( mm) 28.00 28.20 28.40 28.60 28.80 29.00 29.20 29.40 29.60 29.80 Su hu ( o C ) Curah Hujan ETP Suhu
1. Pola Sekuen Hujan (Trojer, 1976) A
2. Zona Agriklimat (Oldeman, 1975)
Jumlah BB (>200 mm) 7
Jumlah BK (<100 mm) 2
Zona Agroklimat B2
Periode masa tanam 10 bulan
3. Tipe Hujan (Schmidt & Ferguson, 1951)
Jumlah BB (>100 mm) 10
Jumlah BK (<60 mm) 0
Q (%) 0
Tipe Hujan A (Sangat Basah)
Gambar 13. Peta pewilayah iklim DAS Separi, kabupaten Kutai Kartanegara, propinsi Kalimantan Timur
Tabel 7. Pewilayahan iklim berdasarkan analisis data iklim tahun 2001 - 2005 di DAS Separi
Waktu Hujan ETo Musim Hujan ETo Musim Hujan ETo Musim
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm)
Januari 240 90 Basah 212 84 Basah 284 96 Basah
Februari 213 91 Basah 129 88 Basah 202 95 Basah
Maret 221 101 Basah 324 93 Basah 245 105 Basah
April 183 91 Basah 245 88 Basah 221 97 Basah
Mei 153 90 Basah 206 83 Basah 207 90 Basah
Juni 118 85 Basah 184 79 Basah 194 84 Basah
Juli 99 91 Basah 99 83 Basah 96 90 Basah
Agustus 40 100 Kering 89 87 Basah 75 103 Kering
September 122 91 Basah 188 81 Basah 122 99 Basah
Oktober 141 97 Basah 111 93 Basah 131 105 Basah
Nopember 185 84 Basah 217 81 Basah 212 92 Basah
Desember 226 87 Basah 189 85 Basah 295 89 Basah
4.3. Topografi
Topografi merupakan perbedaan tinggi atau bentuk wilayah suatu daerah yang termasuk di dalamnya adalah perbedaan kecuraman dan bentuk lereng. Gambaran kondisi topografi suatu DAS sangat penting dalam kaitannya dengan laju aliran permukaan dan erosi. Kondisi topografi DAS Separi dengan luas
233,66 km2 (23.366,36 Ha) dapat digambarkan secara detail berdasarkan empat
bagian daerah transek, yaitu : 1) bagian daerah transek 1 atau transek yang dilakukan secara horisontal di bagian hulu dari DAS Separi, 2) bagian daerah transek 2 atau transek yang dilakukan secara horisontal di bagian tengah dari DAS Separi, 3) bagian daerah transek 3 atau transek yang dilakukan secara horisontal di bagian hilir dari DAS Separi, dan 4) bagian daerah transek 4 atau transek yang dilakukan secara vertikal dari hulu sampai hilir dari DAS Separi (Gambar 14).
Berdasarkan Gambar 14, kondisi topografi di DAS Separi secara umum pada bagian tengah DAS (mulai bagian hulu sampai hilir) adalah dataran sampai bergelombang dengan bentuk lahan (landform) bukit-bukit kecil dan pola perbukitan, serta dibatasi oleh punggung-punggung bukit yang curam. Kelerengan pada daerah dataran adalah 0-3% dan daerah bergelombang 3-12%. Peta kelerengan DAS Separi disajikan pada Gambar 15. Kondisi topografi DAS yang banyak didominasi oleh dataran pada bagian tengah menunjukkan bahwa sebenarnya kejadian banjir di bagian hilir dari DAS Separi tidak dipengaruhi oleh faktor topografi, tetapi sangat dipengaruhi oleh faktor lainnya, seperti : alih fungsi penggunaan lahan dan menurunnya kapasitas tampung badan sungai akibat erosi dan sedimentasi. Dampak negatif alih fungsi penggunaan lahan adalah menurunnya kapasitas tanah dalam memegang air, sehingga berdampak lanjutan terhadap meningkatnya aliran permukaan tanah (banjir) pada musim
penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hal ini didukung dari hasil penelitian Mahe, et al. (2005), bahwa akibat alih fungsi penggunaan lahan hutan menjadi non hutan dari 43% pada tahun 1965 menjadi 13% pada tahun 1995 di DAS Nakambe, Burkina-Faso berdampak negatif terhadap menurunnya kapasitas tanah memegang air 33-62%, sehingga berdampak lanjutan terhadap meningkatnya volume aliran permukaan (runoff) sebesar 60%. Selain itu, hasil penelitian Mahe, et al. (2005) juga menunjukkan bahwa dampak negatif akibat alih fungsi penggunaan lahan hutan menjadi non hutan adalah penurunan jumlah curah hujan tahunan sebesar 20%.
Transek 1 Transek 2 Transek 3 Transek 4 U Transek 1 Transek 2 Transek 3 Transek 4 Transek 1 Transek 2 Transek 3 Transek 4 U Outlet
Gambar 15. Peta kelerengan DAS Separi, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
4.4. Tanah
Berdasarkan peta tanah skala 1:50.000 (PUSLITTANAK, 1994), DAS
Separi dengan luas sekitar 233,66 km2 (23.366,36 Ha) memiliki 27 satuan peta
tanah (SPT). Berdasarkan dari 27 SPT tersebut, jenis tanah terbagi dalam 3 kelompok ordo tanah, yaitu : 1) Entisol, 2) Inceptisol, dan 3) Ultisol. Peta jenis tanah skala 1:50.000 disajikan pada Gambar Lampiran 1 dan karakteristik fisik tanah disajikan pada Tabel Lampiran 1.
Entisol di DAS Separi yang mendominasi pada SPT 12 adalah Tropaquents dan terletak pada daerah dasar lembah atau jalur-jalur sungai dengan relief datar. Luas tanah Entisol ini adalah 3.331 Ha atau 14% dari total luas DAS. Menurut Ismangun, et al. (1997), Entisol merupakan tanah yang belum mempunyai perkembangan penampang. Karakteristik tanah Entisol di daerah penelitian adalah tekstur tanah liat, kadar C organik sedang, permeabilitas tanah
agak lambat, dan kedalaman efektif tanah sekitar 63 cm. Berdasarkan karakteristik fisik tanah seperti tekstur tanah yang didominasi oleh liat tinggi dan permeabilitas tanah yang agak lambat, maka tanah Entisol di DAS Separi di klasifikasikan dalam kelompok tanah C menurut metode SCS (1996: dalam Neitsch, et al., 2001). Hal ini menunjukkan bahwa tanah Entisol ini memiliki laju infiltrasi yang lambat sehingga memiliki aliran permukaan (runoff) yang tinggi. Selain itu, berdasarkan karakteristik tanah lainnya seperti kemampuan tanah memegang air tanah yang cukup tinggi yakni 42% (Tabel Lampiran 1) menunjukkan bahwa tanah Entisol ini juga memiliki kemampuan untuk menyediakan air di musim kemarau. Secara umum, besarnya kemampuan tanah memegang air dipengaruhi oleh tekstur tanah, kandungan bahan organik, struktur tanah, dan kondisi permukaan tanah.
Inceptisol di DAS Separi yang mendominasi pada SPT 7, 8, 9, 10, 14, 18, 19, 22, dan 26 adalah Dystropepts dan Tropaquepts. Secara umumnya Inceptisol di daerah penelitian terletak pada daerah bergelombang sampai berbukit (SPT 9, 10, 14, 18, 19, 22, dan 26) dan sebagian kecil terletak pada daerah datar (7 dan 8) (Gambar Lampiran 1 dan Tabel Lampiran 1). Luas tanah Inceptisol ini adalah 4.492 Ha atau 19% dari total luas DAS. Inceptisol merupakan tanah yang sedikit mengalami perkembangan penampang dan dicirikan dengan sedikit adanya pengumpulan liat di lapisan bawah (Soil Survey Staff, 1999). Karakteristik tanah Inceptisol pada daerah bergelombang sampai berbukit adalah tekstur tanah mulai dari pasir, lempung berpasir, lempung berdebu, dan lempung liat berpasir, kadar C organik rendah sampai sedang, permeabilitas tanah sedang sampai cepat, dan kedalaman efektif tanah lebih dari 80 cm. Karakteristik tanah Inceptisol pada daerah datar adalah tekstur tanah mulai dari liat berdebu, kadar C organik sangat rendah sampai rendah, permeabilitas tanah sedang sampai cepat, dan kedalaman efektif tanah lebih dari 70 cm. Berdasarkan karakteristik
fisik tanah seperti tekstur tanah yang didominasi oleh Lempung berpasir dan permeabilitas tanah sedang sampai cepat pada daerah bergelombang sampai berbukit, maka tanah Inceptisol di DAS Separi di klasifikasikan dalam kelompok tanah B menurut metode SCS (1996: dalam Neitsch, et al., 2001). Untuk daerah datar di klasifikasikan dalam kelompok tanah C. Hal ini menunjukkan bahwa tanah Inceptisol pada daerah bergelombang sampai berbukit memiliki laju infiltrasi yang sedang sehingga memiliki aliran permukaan (runoff) agak rendah, sedangkan pada daerah datar memiliki laju infiltrasi yang lambat dan memiliki aliran permukaan (runoff) tinggi. Selain itu, berdasarkan karakteristik tanah lainnya seperti kemampuan tanah memegang air tanah yang agak rendah menunjukkan bahwa tanah Inceptisol ini memiliki kemampuan yang agak terbatas dalam menyediakan air di musim kemarau.
Ultisol di DAS Separi yang mendominasi pada SPT 1, 2, 3, 4, 5, 6, 11, 13, 15, 16, 17, 20, 21, 23, 24, 25, dan 27 adalah Paleudults, Plinthudults, dan Hapludults. Secara umumnya Ultisol di daerah penelitian terletak pada daerah bergelombang sampai berbukit (SPT 1, 2, 3, 4, 5, 6, 13, 15, 16, 17, 20, 21, 23, 24, 25, dan 27) dan sebagian kecil terletak pada daerah datar (11) (Gambar Lampiran 1 dan Tabel Lampiran 1). Luas tanah Ultisol ini adalah 15.543 Ha atau 67% dari total luas DAS. Ultisol merupakan tanah yang telah mempunyai perkembangan penampang dan dicirikan oleh adanya peningkatan liat yang cukup memenuhi syarat sebagai argilik dan memiliki kejenuhan basa kurang dari 35% pada lapisan bawah (Soil Survey Staff, 1999; Ismangun, et al., 1997). Karakteristik tanah Ultisol pada daerah bergelombang sampai berbukit adalah tekstur tanah mulai dari lempung berdebu, lempung berliat dan liat, kadar C organik sangat rendah sampai sedang, permeabilitas tanah agak lambat sampai sedang, dan kedalaman efektif tanah lebih dari 60 cm. Karakteristik tanah Ultisol pada daerah datar adalah tekstur tanah liat, kadar C organik rendah,
permeabilitas tanah agak lambat, dan kedalaman efektif tanah lebih dari 80 cm. Berdasarkan karakteristik fisik tanah seperti tekstur tanah yang didominasi oleh lempung berdebu, lempung berliat dan liat, dan permeabilitas tanah agak lambat sampai sedang pada daerah datar dan bergelombang sampai berbukit, maka tanah Ultisol di DAS Separi di klasifikasikan dalam kelompok tanah C menurut metode SCS (1996: dalam Neitsch, et al., 2001). Hal ini menunjukkan bahwa tanah Ultisol pada daerah datar dan bergelombang sampai berbukit memiliki laju infiltrasi yang lambat sehingga memiliki aliran permukaan (runoff) tinggi. Selain itu, berdasarkan karakteristik tanah lainnya seperti kemampuan tanah memegang air tanah yang sedang menunjukkan bahwa tanah Ultisol ini memiliki kemampuan yang cukup dalam menyediakan air di musim kemarau.
Untuk mengetahui pengaruh karakteristik fisik tanah terhadap laju infiltrasi dan karakteristik unit hidrograf (respon hidrologis), maka dilakukan pengamatan profil tanah pada tiap jenis penggunaan lahan di masing-masing Sub DAS (Sub DAS Separi-Badin, Sub DAS Separi-Soyi, dan Sub DAS Separi-Usup). Peta pengamatan profil tanah pada masing-masing jenis penggunaan lahan disajikan pada Gambar 16 dan untuk karakteristik tanah pada masing-masing profil tanah disajikan pada Tabel Lampiran 2.