• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : EKSISTENSIALISME JEAN PAUL SARTRE DAN SOREN

C. Perempuan Bercadar

1. Hijab

27

C. Perempuan Bercadar

Sejarah munculnya pemakaian cadar berasalkan dari mitos lama yang ada pada keyakinan Yahudi, yakni perempuan yang sedang haid. Perempuan haid diyakini sebagai pembawa mara bahaya bagi semua pekerjaan, baik dalam pendidikan, pertanian, politik dan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Sehingga bagi siapa saja perempuan yang sedang haid maka harus diasingkan dari tempat tinggalnya. Tempat pengasingan yang ditempati adalah gubuk di ladang, karena jauhnya dari pemukiman warga. Selama berada di gubug, perempuan haid dilarang untuk keluar dari pengasingan dan dilarang melakukan hubungan suami istri. Solusi yang diberikan kepada perempuan yang sedang haid untuk dapat keluar kemana saja yakni dengan pemakaian cadar atau kerudung, hal tersebut adalah sebagai tanda bagi perempuan. Kejadian itu muncul pertama kali di Negara New Guenia dan berkembang di Negara-negara lainnya. Bagi di dunia Islam, pemakaian cadar muncul sebelum turun ayat mengenai pemakaian cadar dan itu dijadikan sebagai budaya di wilayah Arab. Sehingga ketika ayat tersebut turun menjadi kontroversi serta pandangan dari para ulama mengenai cara pemakaian bercadar yang tepat.46 Dengan begitu, penulis mempunyai tiga dasaran sebagai memahami dari pemaknaan cadar, yakni sebagai berikut :

1. Hijab

46 Nasaruddin Umar, “Perspektif Jender dalam Islam”, Paramadina , Vol. 1, No. 1 (Juli, 1998), 123.

28

Hijab bagi perempuan muslimah memiliki arti pakaian yang menutupi aurat tanpa memamerkannya dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Sedangkan istilah harfiyahnya hijab adalah penutup, ditujukan kepada alatnya, alat sebagai penutup. Alasan hijab menurut pandangan filosofis adalah menutupi seluruh tubuh yang mengandung munculnya keganasan syahwat pada laki-laki, dengan begitu mempunyai tujuan untuk melumpuhkannya. Hijab bukanlah sebuah dinding yang menutupi dirinya dari semuanya melainkan hijab untuk mensucikan ruh dan mendisiplinkan akhlak serta mempunyai ciri khas tersendiri dalam berhubungan dengan lawan jenisnya. Batasan aurat yang dimiliki perempuan bila hendak keluar rumah yakni pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan muka, yang mana tidak menimbulkan perhatian, tidak berlebihan, serta berbicara dengan nada yang biasa-biasa saja.47 Dalam surat al-Ah}za>b ayat 53 menjelaskan:























































































47

29























































Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki

rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah Nabi wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah”.48

Menurut Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan bahwa sebelum ayat di atas turun, pada zaman jahiliyah belum adanya aturan sopan santun atau etika yang mengatur hubungan antar sesama maupun kepada tuan rumahnya. Orang-orang keluar masuk di dalam rumah sehingga dapat informasi apa saja yang ada di dalamnya, termasuk di dalam rumah Nabi yang mana Nabi merupakan orang terhormat dan terpandang. Sehingga Nabi malu untuk melakukan aktifitas apapun, untuk itu Allah menurunkan ayat ini agar manusia dapat menjaga etikanya kepada Nabi khususnya. Demikian pula dengan isteri-isteri Nabi, yang sudah dianggap oleh orang beriman sebagai ibu-ibu

48

30

mereka, tetapi ada saja dari mereka yang masih menyapanya dengan mudahnya. Sehingga perlu adanya aturan, agar semua teratur.49

Orang yang mudah sekali tersentuh dalam masalah ini adalah Umar bin Khattab. Sebelum ayat diatas turun, Umar pernah menyampaikan kepada Nabi:

Ya Rasul Allah! Isteri-isteri tuan masuk saja, lalu lalang menemui mereka. Mereka ada orang yang baik-baik dan ada juga orang yang tidak baik. Alangkah baiknya kalau mereka tuan beri berupa hijab (dinding), lalu turunlah ayat hijab (dinding). Dan pernah aku katakan kepada isteri-isteri Nabi yang mengganggu beliau karena mereka cemburu: “Mudah-mudahan saja, jika kalian ini beliau talak semua, Tuhan akan mengganti untuknya dengan isteri-isteri yang lebih baik dari kalian.” Maka sama bunyinya dengan perkataan itu.50

Maka bertepatan dengan pernikahan Nabi dengan Zainab binti Jahasy, Nabi membuat acara walimah (jamuan makan atas pernikahannya) serta mengundang semua orang untuk datang, lalu makan minum atas jamuan yang sudah Nabi sediakan. Setelah mereka selesai makan dan minum, banyak dari mereka yang masih saja duduk-duduk dan asyik membicarakan hal-hal lainnya, sedangkan Nabi hendak beranjak untuk meninggalkan tempat, namun mereka tidak berdiri. Akhirnya Nabi terus berdiri, dari mereka ada yang berdiri, ada yang masih duduk-duduk. Nabi meninggalkan tempat, mereka pun juga meninggalkan tempat. Akhirnya Nabi menurunkan ayat mengenai hijab, dan tertutuplah orang-orang itu diantara Nabi dan mereka.51

49 Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XXII (Jakarta: PT Pustaka Panjimas, 1982), 76.

50 Ibid., 77.

51

31

Makna hijab bagi Hamka adalah dinding, yang mana dapat membedakan antara orang laki-laki dan perempuan, serta dapat membedakan antara orang yang beriman serta tidak beriman. Sedangkan orang yang beriman dapat mengatur dirinya menjadi orang yang sholeh maupun sholehah. Sehingga bila ingin bertemu Nabi meminta izin terlebih dahulu, sedangkan bila ingin menemui istrinya meminta izin juga terlebih dahulu serta berbicaranya dibelakang dinding. Dan itu merupakan suci bagi kami (bagi Nabi dan isteri-isterinya) dan bagi mereka (bagi orang yang beriman serta orang yang melakukannya).52

Menurut Hamka makna dari “Dan tidak boleh kamu menyakiti

(hati) Rasulullah.” Yang mana Nabi adalah pimpinan besar yang

sangat dihormati begitu pula isteri-isteri Nabi yang harus juga dihormati. “dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya

selama-lamanya sesudah Nabi wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah”. Yakni bahwa bagi siapapun untuk

tidak menikahi isteri Nabi setelah Nabi meninggal bahkan sampai isteri-isterinya meninggal satu persatu. Karena semua isteri-isterinya ridha dengan qodho qodharnya Allah serta mereka telah memilih Allah, Rasul, hari akhirat dan tidak lagi menginginkan dunia serta perhiasan yang ada di dalamnya. Mereka percaya dengan janji Allah yang mana bila mereka beriman beserta keluarganya maka kelak akan

52

32

dipertemukan di akhirat. Hudzaifah bin al-Yaman pernah berkata kepada isterinya bahwa untuk tidak menikahi siapapun ketika suaminya meninggal, karena kelak akan dipertemukan dengan suaminya yang terakhir.53

Menurut Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk aturan dalam kehidupan Nabi, yakni adab bertamu di rumah Nabi khususnya serta boleh atau tidaknya untuk menikahi isteri Nabi setelah Nabi meninggal. Menurut sahabat Nabi, Anas Ibn Malik ra., yang ikut serta dalam pernikahan Nabi dengan Zainab binti Jahesy, telah mempersiapkan hidangan makanan untuk para tamu undangan. Akan tetapi setelah mereka makan, dalam riwayat ini masih ada tiga orang yang masih duduk serta asyik ngobrol satu dengan yang lainnya. Nabi memasuki serta keluar ke kamar „Aisyah dengan tujuan agar tamu yang ada di rumah Nabi segera meninggalkan tempat, akan tetapi belum juga dari mereka meningggalkan tempat, lalu Nabi keluar masuk lagi ke kamar para isterinya, tidak begitu lama tamu itu meniggalkan tempat. Lalu Nabi membuat hijab di rumahnya, dan turunlah ayat ini.54

Dalam tafsirnya, Shihab memetakan antara ayat satu dengan ayat lainnya, dengan tujuan agar mudah dalam memahaminya. Sebuah ayat mengatakan ( ٍاًا ييرظاً ريغ ماعط ىلا ) yang mempunyai arti kecuali bila

kamu diizinkan untuk (datang) ke hidangan dalam ayat tersebut

53 Ibid., 81.

54 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an Volume 11 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 309.

33

mempunyai maksud bahwa ketika Nabi atau orang lain yang mengundang tamu untuk datang di acaranya (yang berupa acara makan), maka diwajibkan datang dengan tepat waktu. Karena sebelum maupun sesudah datangnya ayat tersebut, dari sahabat Nabi sendiri ketika berkunjung untuk acara makan yang sudah diizinkan oleh Nabi, mereka pulang terlambat ketika waktu pulang atau datang lebih awal sebelum makanannya matang (sehingga pemilik rumah, terburu-buru untuk mematangkan masakan). Sehingga Nabi menegaskan untuk datang tepat waktu agar tamu yang sudah datang agar tidak menunggu tamu lainnya yang belum datang.55

Al-Biqa‟i menafsirkan kata ( اولخدت لا وٌهاء ييرلا اهيا اي ) yang artinya

Wahai orang yang beriman, janganlah kalian memasuki (rumah), yang

mana di dalamnya mempunyai maksud bahwa ditujukan kepada orang yang beriman akan tetapi orang beriman sudah memenuhi etika yang dimaksudkan ayat tersebut. Sehingga yang perlu digaris bawahi adalah kata (ييرلا) yang ditujukan kepada orang yang belum beriman. Selanjutnya kata ( ىذؤي ) yakni diizinkan, sedangkan kata ( لنك ) yang

mempunyai arti diundang ke. Keduanya mempunyai isyarat bahwa adanya undangan dalam sebuah acara dan adanya izin, maka bila diundang harus memperhatikan kapan waktunya diundang untuk datang, sehingga tidak seenaknya datang walau diundang. Sedangkan mengartikan pada larangan untuk menikahi isteri Nabi setelah Nabi

55

34

meninggal, al-Qurtubi menafsirkan bahwa ada orang munafik yang mengatakan “Kalau Muhammad meninggal maka saya akan kawini „Aisyah”. Sehingga larangan itu berlaku untuk semuanya.56

Menurut Abd. Kahar dalam tesisnya yang mengutip dari karya Muhammad Nashiruddin al-Albaniy mengatakan bahwa al-Albaniy pada ayat di atas mempunyai artian berbeda dari para ulama yang lain, bahwa bila keduanya antara al-Ah}za>b ayat 53 dan 59 disandingkan, maka keduanya terdapat adanya keganjalan. Karena bagi al-Albaniy kedua ayat tersebut memaksakan bahwa jilbab adalah sebagai pemakaian cadar, akan tetapi dalam konteks yang berbeda. Al-Albaniy menjelaskan bahwa surat al-Ah}za>b ayat 59, konteksnya adalah perempuan ketika keluar rumah diwajibkan untuk memakai jilbab dan tidak menutup mukanya sedangkan pada surat al-Ah}za>b ayat 53, konteksnya adalah bahwa perempuan yang ada di dalam rumah dibolehkan untuk melepas jilbabnya (kepala dalam keadaan telanjang tanpa jilbab), akan tetapi jika menemui laki-laki yang bukan mahramnya diharapkan untuk menutup hijabnya, yang mana hijab sebagai penutup dirinya dengan lawan jenis dan berbincangnya dibelakang dinding, agar auratnya tidak dilihat oleh laki-laki tersebut.57

Menurut Syaikh al-Fauzan jika dibenturkan dengan masa Nabi, maka ada dua bagian yang perlu untuk diketahui. Pertama, sebelum

56

Ibid., 311.

57 Abd. Kahar, “Hukum Jilbab dalam Pandangan Muhammad Nashiruddin al-Albaniy dan

Muhammad Sa‟id al-„Asymawiy”, (Tesis—Prodi Hukum Islam/Konsentrasi Fiqih Program

35

turunnya ayat mengenai hijab, banyak perempuan yang membuka wajahnya dan tidak mewajibkan untuk menutupnya. Kedua, setelah turunnya ayat di atas, maka Nabi mewajibkan kepada isteri, puteri-puteri Nabi dan para perempuan mukmin untuk mengulurkan jilbabnya yang mana sesuai dengan perintah Allah berdasarkan ayat di atas. Setelah mengetahui ayat tersebut, maka mereka memakai pakaian hitam dan tidak menampakkan wajahnya kecuali satu mata saja untuk melihat jalan. Baginya hidup di dunia Arab Saudi sangatlah bersyukur, karena kebanyakan dari mereka masih melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah serta Sunnah yang Rasulullah berikan dan itu merupakan aturan yang benar.58

Dokumen terkait