• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Hijauan tergolong rumput

a. Delingu (Dianella ensifolia sp)

Hijauan delingu (Gambar 12) merupakan jenis rumput yang mempunyai tinggi 50 cm. Daunnya mempunyai pelepah dan panjang seperti daun jagung. Hijauan ini terdapat dalam jumlah banyak di lahan gambut, areal pertanian masyarakat, dipinggir jalan, dan di pinggir sepanjang sungai.

b. Gajihan (Poaceae)

Gajihan (Gambar 13) termasuk jenis rumput yang tumbuh subur pada rawa, bila tanah tergenang air, rumput gajihan ini akan tumbuh dengan cepat mengikuti ketinggian air. Tumbuh tegak lurus dengan batang bulat dan beruas, mempunyai daun kecil dan meruncing.

Gambar 13 Hijauan lahan gambut gajihan (Poaceae). c. Kawatan (Panicum SP)

Kawatan (Gambar 14) merupakan jenis rumput dengan bentuk batang bulat kecil, mempunyai batang berbaring dan menjalar, akar keluar dari buku-bukunya, daun berpelepah agak panjang dan runcing.

Gambar 14 Hijauan lahan gambut kawatan (Panicum SP). d. Kumpai (Dianella nemorosa Lam)

Hijauan kumpai (Gambar 15) mempunyai batang beruas, berbentuk bulat dan berongga, memiliki daun yang panjang. Tanaman ini banyak tumbuh di rawa,

sangat subur apabila musim hujan dan rawa tergenang yang ditandai dengan batangnya yang besar.

Gambar 15 Hijauan lahan gambut kumpai (Dianella nemorosa Lam). 3. Hijauan tergolong pohon

a. Jambuan (Eugenia sp)

Jambuan (Gambar 16) tergolong pohon dengan batang berkayu dengan ketinggian mencapai 2.5 m. Daun bertangkai dengan permukaan licin dan mengkilap, mempunyai aroma seperti buah jambu.

Gambar 16 Hijauan lahan gambut jambuan (Eugenia sp). b. Bakauan (Ficus hirta Vahl)

Hijauan bakauan (Gambar 17) termasuk jenis pohon dengan batang berkayu dengan ketinggian dapat mencapai 2.5 m, daun bertangkai. Permukaan daun berbulu dan kasar, mempunyai biji bulat berwarna hijau dan bila sudah tua berwarna kuning. Bakauan banyak terdapat pada tanah berbatu dan hidup di pinggir sepanjang sungai.

Gambar 17 Hijauan lahan gambut bakauan (Ficus hirta Vahl). c. Perupukan (Lophopetalum multinervium)

Hijauan perupukan (Gambar 18) tergolong pohon dengan batang berkayu yang memiliki ketinggian mencapai 5 m. Hijauan ini memiliki daun berwarna hijau dan mengkilap, mempunyai buah berwarna hijau kecil.

Gambar 18 Hijauan lahan gambut perupukan (Lophopetalum multinervium). d. Geronggang (Cratoxylon glaucum)

Hijauan geronggang (Gambar 19) termasuk pohon dengan ketinggian mencapai 3 meter, batang bergetah, daun berukuran kecil dengan ujung meruncing dan tepi daun merata. Batang geronggang sangat disukai oleh ternak kambing, dan hijauan ini banyak ditemukan mati dan mengering karena kulit batangnya dimakan oleh ternak

Hasil analisa nutrisi mineral beberapa vegetasi yang dapat dijadikan sebagai pakan ternak dapat dilihat pada Tabel 6. Kandungan Ca untuk hijauan lahan gambut berkisar antara 0.32-2.85%. Hijauan lahan gambut mengandung mineral Ca yang normal, hal ini karena kadar Ca dalam tanah rendah dan kapasitas tukar kation tanah gambut juga rendah hal ini sesuai dengan pernyataan Hilakore (1997) bahwa pada tanah dengan KTK rendah dengan kadar mineral Ca yang rendah akan lebih banyak menyediakan unsur Ca bagi tanaman dibandingkan dengan tanah dengan mineral Ca tinggi dengan KTK yang tinggi. Sasendok mengandung kadar mineral Ca tertinggi dibandingkan hijauan yang lain, kandungan Ca hijauan lahan gambut sasendok ini lebih tinggi dari pada rumput gajah 0.63% (Kardaya 2000), rumput lapangan 0.45% (Rayburn 2006), rumput alfalfa 1.47 (Dahlin 2006). Tabel 6 Komposisi kimia hijauan lahan gambut Kalimantan Tengah

Hijauan BK (%) Protein (%) Ca (%) P (%) Mg (%) Zn (ppm) Sasendok 20.54 9.12 2.85 0.18 0.76 12.99 Delingu 18.04 7.56 0.83 0.12 0.53 5.72 Pakis 15.92 10.98 1.10 0.11 1.06 11.12 Aseman 16.4 7.05 1.92 0.06 0.41 19.00 Gajihan 14.89 7.34 0.56 0.15 1.02 3.55 Kelakai 16.43 11.65 0.82 0.33 0.83 17.43 Gerongga ng 15.49 0.84 0.14 0.19 9.25 Bajakah 13 1.33 0.06 0.43 14.82 Jambuan 12.55 1.74 0.10 0.62 14.98 Bentisan 20.77 1.15 0.13 0.84 16.56 Perupukan 18.46 1.65 0.07 0.77 16.08 Karamunting 16.33 0.60 0.08 0.45 9.212 Lombokan 13.4 1.55 0.08 0.34 24.17 Kawatan 14.1 0.38 0.14 0.21 40.30 Kumpai 14.1 0.32 0.21 0.67 4.79 R. Gajah* 21.00 9.22 0.63 0.18 0.13 31 *) Kardaya (2000)

Kandungan posfor untuk hijauan lahan gambut berkisar antara 0.06-0.21%, kandungan posfor sasendok sama dengan kandungan rumput gajah 0.18%, namun kandungan posfor hijauan lahan gambut secara keseluruhan lebih rendah dari pada rumput lapangan 0.38%, dan alfalfa 0.24% (Dahlin 2006). Kandungan Mg hijauan

lahan gambut rata-rata 0.61%, nilai ini lebih tinggi dari rumput gajah yaitu 0.13% (Kardaya 2000). Kandungan Mg hijauan lahan gambut dalam taraf normal hal ini karena kandungan Mg dalam tanah dalam jumlah yang cukup, kandungan Mg hijauan lahan gambut dapat memenuhi kebutuhan ternak. Kandungan Zn hijauan lahan gambut berkisar antara 3. 55-40.30 ppm, rumput gajah 31 ppm.

Pons (2005) menyatakan bahwa hijauan dapat dijadikan sebagai pakan ternak apabila mengandung zat makanan yang dapat mencukupi kebutuhan ternak. Hijauan lahan gambut mengandung zat mineral yang rendah namun bila berbagai hijauan dicampur, ada kemungkinan terjadi suplementa cy effect satu dengan yang lainnya, sehingga defisiensi tidak terjadi.

Performan Kambing yang Diberi Hijauan Lahan Gambut yang Terpilih

Konsumsi Pakan

Dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa konsumsi hijauan segar maupun bahan kering dipengaruhi oleh perlakuan (P<0.05). Pada Tabel 7 diperlihatkan bahwa dari segi konsumsi hijauan segar, hijauan delingu, pakis, dan aseman menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap gajihan dan sasendok. Hal ini mungkin dise babkan oleh palatabilitas yang tinggi pada sasendok. Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Herlinae (2003) bahwa kambing yang digembalakan di lahan gambut dan dibiarkan memilih makanannya ternyata hijauan yang paling tinggi palatabilitas adalah sasendok kemudian delingu. Menurut Arnold (1981), konsumsi pakan antara lain ditentukan oleh palatabilitas. Konsumsi pakan dipengaruhi terutama oleh faktor kualitas pakan, kebutuhan energi ternak, tingkat kecernaan pakan (Parakkasi 1995). Makin baik kualitas paka nnya, makin tinggi konsumsi pakan dari seekor ternak.

Tabel 7 Performan kambing yang mengkonsumsi hijauan lahan gambut Hijauan

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan Konsumsi Pakan ( g/hr)

Bahan Kering Kecernaan BK (%) Kecernaan BO (%) PBB (g/hari)

Efiesiensi Penggunaan Pakan

629.92b 68.34b 67.05c 90 0.14b 422.32a 46.60a 43.81a 50 0. 12b 354.22a 47.52a 47.05ab 60 0.18c 385.69a 56.84ab 57.00bc 30 0.08a 387.91a 54.34a 53.45ab 70 0. 18c

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05)

Konsumsi bahan kering tertinggi terdapat pada hijauan sasendok dan yang terendah pada pakis (Gambar 20). Hijauan sasendok memperlihatkan konsumsi bahan kering tertinggi disamping karena konsumsi bahan segarnya yang tinggi juga disebabkan oleh kandungan bahan kering yang tinggi dibandingkan hijauan lainnya . Pada penelitian ini konsumsi bahan kering hijauan lahan gambut, sasendok, delingu, pakis, aseman, dan gajihan adalah masing-masing 3.15, 2.11, 1.77, 1.93, dan 1.94% dari berat badan. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan yang dilaporkan Luginbuhl and Poore (2005) bahwa kambing mengkonsumsi bahan kering pakan 5-7% dari berat badan, 3.5-5.0% (Peterson 2005). Tapi serupa yang dilaporkan NRC (1995a) konsumsi bahan kering pada kambing kacang 2-3% dari berat badan. 629.92 422.31 354.22 385.69 387.91 0 100 200 300 400 500 600 700

Konsumsi Bahan Kering

(g/ekor/hari)

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan Hijauan Lahan Gambut

Gambar 20 Tingkat konsumsi bahan kering kambing ka cang.

Rendahnya konsumsi pada hijauan gajihan dan pakis mungkin disebabkan oleh rendahnya palatabilitas, namun gajihan menunjukkan efiesiensi pakan yang tinggi dibandingkan hijauan lain (lihat keterangan efisiensi pakan). Menurut Dewi

(2004) hijauan pakis mengandung serat kasar yang tinggi, bersifat bulky dalam saluran pencernaan, sehingga jumlah yang dikonsumsi menjadi lebih rendah.

Koefisien Cerna Bahan Kering dan Bahan Organik

Kecernaan bahan kering dari masing-masing hijauan disajikan pada Tabel 7. Dari uji sidik ragam menunjukkan bahwa kecernaan bahan kering dipengaruhi oleh hijauan (P<0.05). Kecenderungan rendahnya koefesien cerna pada hijauan pakis mungkin disebabkan oleh konsumsi yang rendah, juga disebabkan oleh tingginya kandungan serat kasar yaitu 48.18%. Van soest (1982) menyatakan bahwa hijauan yang memiliki kandungan serat kasar yang rendah dianggap tinggi nilai nutrisinya dan dinyatakan pula kandungan serat kasar akan berbeda-beda komposisinya pada setiap spesies hijauan.

Dari uji sidik ragam menunjukkan bahwa kecernaan bahan organik dipengaruhi oleh hijauan (P<0.05). Ini menunjukkan bahwa kecernaan bahan organik dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kandungan serat kasar, lignin, ADF dan zat antinutrisi. Kandungan serat kasar yang tinggi dapat menyebabkan zat-zat makanan yang terdapat pada makanan yang dimakan tidak dapat diserap dengan baik dan dikeluarkan lagi melalui feses.

Pertambahan Bobot Badan

Pertambahan bobot badan merupakan salah satu cerminan kualitas pakan yang diberikan kepa da ternak. Pada ternak muda pertambahan bobot badan merupakan salah satu tujuan penting yang ingin dicapai. Kelebihan makanan yang berasal dari kebutuhan hidup pokok akan digunakan untuk meningkatkan bobot badan.

Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa rataan pertambahan bobot badan kambing dari semua hijauan berkisar antara 30–90 g/ekor/hari. Pertambahan bobot badan tertinggi dicapai pada kambing yang mendapat pakan sasendok yaitu 90 g/ekor/hari (Gambar 21). Hasil ini lebih besar dibandingkan yang dilaporkan Merkel et al. (1999) bahwa kambing yang mendapat pakan hanya hijauan dengan lama merumput 6.5 jam/hari memberikan pertambahan bobot badan 35.7 g/ekor/hari.

Pertambahan bobot badan secara keseluruhan sudah ideal kecuali hijauan aseman, hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono (2003) bahwa pertambahan bobot badan ideal kambing adalah 40-50 g/ekor/hari. Selanjutnya menurut NRC (1985a) bahwa kambing pada berat badan 20 kg pertambahan berat badan minimal 50 g/hari. Walaupun pemberian pakan hijauan lahan gambut seperti sasendok, delingu, pakis dan gajihan dapat menunjukkan pertambahan bobot badan melebihi yang dinyatakan NRC, namun tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan.

0 20 40 60 80 100

Pertambahan Bobot Badan (g/ekor/hari)

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan

Hijauan Lahan Gambut

Gambar 21 Pertambahan bobot badan kambing kacang yang mengkonsumsi hijauan lahan gambut.

Efisiensi Penggunaan Pakan

Efisiensi penggunaan pakan adalah rasio antara pertambahan bobot badan yang dihasilkan ternak dan jumlah konsumsi pakan. Pada Tabel 7 rataan efisiensi pakan terendah diperoleh pada hijauan aseman yaitu 0.08. Hal ini mungkin disebabkan oleh pe rtambahan bobot badan kambing yang mengkonsumsi hijauan aseman sangat rendah (paling rendah dari kelima hijauan yang diamati). Sedangkan rataan efisiensi penggunaan pakan yang paling tinggi pada hijauan gajihan yaitu 0.18, mungkin disebabkan oleh tingkat konsumsi bahan kering yang rendah dengan pertambahan bobot badan yang cukup baik.

Pada penelitian ini efisiensi penggunaan pakan pada kambing kacang yang diberi hijauan lahan gambut mencapai 0.18 (Gambar 22). Angka ini masih lebih tinggi dari pada efisiensi penggunaan pakan pada kambing angora (0.08), dan

kambing kasmir sebesar 0.126 (Jia et al. 1995). Selanjutnya menurut Simanihuruk (2005) efisiensi penggunaan pakan pada kambing kacang yang mengkonsumsi pakan pelet komplit adalah 0. 115– 0.144.

Menurut Herlinae (2003) kambing kacang yang digembalakan di lahan gambut Kalimantan Tengah efisiensi penggunaan pakan berkisar antara 0.289- 0.707. Rendahnya efisiensi penggunaan pakan dalam penelitian ini karena pertambahan bobot badan yang rendah, hal ini mungkin karena hewan dikandangkan dengan hijauan yang ditentukan sehingga kambing tidak mendapat kebebasan memilih hijauan lahan gambut untuk dikonsumsi dan kebutuhan kambing untuk pertumbuhan belum mencukupi.

0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12 0.14 0.16 0.18 0.2

Efesiensi Penggunaan Pakan

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan

Hijauan Lahan Gambut

Gambar 22 Efisiensi penggunaan pakan pada kambing yang mengkonsumsi hijauan lahan gambut.

Metabolisme Mineral pada Kambing Kacang

Kalsium (Ca)

Metabolisme kalsium pada kambing kacang yang mengkonsumsi hijauan lahan gambut yang terpilih dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Metabolisme mineral kalsium pada kambing kacang (g/ekor /hari) Hijauan Lahan Gambut

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan Konsumsi 17.93d 3.54b 3.89b 7.40c 2.21a Ekskresi Melalui Feses 1.53b 0.73a 0.94a 1.77b 0.80a Absorbsi 16.40c 2.82a 2.96a 5.62b 1.41a Ekskresi Melalui Urine 0.16a 0.143a 0.21ab 0.29b 0.11a Retensi 16.25c 2.67a 2.75a 5.34b 1.29a

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05)

Konsumsi Kalsium

Dari uji sidik ragam menunjukkan bahwa konsumsi mineral kalsium sangat dipengaruhi oleh hijauan (P<0.01) (Tabel 8). Jumlah konsumsi mineral kalsium untuk hijauan sasendok, delingu, pakis, aseman, dan gajihan masing-masing adalah 17.93, 3.54, 3.89, 7.40, dan 2.21 g/ekor/hari (Gambar 23). Konsumsi mineral Ca pada penelitian ini melebihi kebutuhan kambing yang direkomendasikan oleh NRC (1985b) untuk kambing bobot badan 20 kg yaitu 1 g Ca per hari. Ransum atau hijauan pakan penelitian ini mengandung mineral Ca yang sangat tinggi yaitu berkisar 0.83-2.85% sedangkan rekomendasi NRC (1985b) bahwa kebutuhan kambing akan Ca adalah 0.20-0.80% dari bahan kering pakan.

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

Konsumsi Ca

(g/ekor/hari)

Sasendok Delingu Pakis AsemanGajihan

Hijauan Lahan Gambut

Gambar 23 Tingkat konsumsi kalsium hijauan lahan gambut pada kambing kacang. Kandungan kalsium dalam ransum sangat tinggi dibandingkan dengan posfor maka imbangan Ca:P sangat luas, imbangan Ca:P yang direkomendasi adalah 2:1. Umumnya ruminan lebih tahan terhadap nisbah Ca:P yang lebih luas dibanding monogastrik (Parakkasi 1995). Tetapi Ca:P yang terlampau lebar menurunkan penampilan hewan yang seda ng tumbuh. Kandungan P yang sangat tinggi dapat mengikat Ca menjadi bentuk yang sukar larut sehingga menghambat

absrobsi Ca dan P. Perbandingan Ca:P di atas 7:1 dapat menekan pertambahan bobot badan (Piliang 2004).

Ekskresi Kalsium

Hasil uji sidik ragam (Tabel 8) ekskresi kalsium melalui feses menunjukkan perbedaan yang nyata antar hijauan (P<0.05). Ekskresi mineral Ca melalui feses (Gambar 24) yang tertinggi pada hijauan gajihan yaitu mencapai 36% dan yang terendah pada hijauan sasendok yaitu 10%, hal ini menandakan penyerapan kalsium tertinggi terjadi pada kambing yang mengkonsumsi hijauan sasendok.

0 5 10 15 20 25 30 35 40

Eksresi Melalui Feses (%)

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan hijauan lahan Gambut

Gambar 24 Ekskresi mineral kalsium melalui feses kambing yang mengkonsumsi hijauan lahan gambut Kalimantan Tengah.

Pada Tabel 8 menunjukkan bahwa ekskresi Ca melalui urine dipengaruhi oleh hijauan (P<0.05). Pada hijauan aseman yang paling tinggi pengeluaran Ca melalui urine namun secara persentase (dari jumlah konsumsi Ca) yang paling tinggi ekskresi melalui urine adalah kambing yang mengkonsumsi hijauan pakis (Gambar 25).

Ekskresi Ca sangat kecil melalui urine karena ginjal sangat efektif dalam melakukan proses penyerapan kembali dari kalsium tersebut. Ca yang diekskresi ini dapat berasal dari bahan makanan dan Ca endogenus. Kalsium bahan makanan merupakan kalsium yang tidak dapat diserap oleh tubuh dan kemungkinan berikatan dengan zat lain seperti oksalat atau fosfat membentuk senyawa kompleks yang sukar larut.

0 1 2 3 4 5 6

Ekskresi Kalsium Melalui

Urine (%)

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan Hijauan Lahan Gambut

Gambar 25 Ekskresi mineral kalsium melalui urine kambing yang mengkonsumsi hijauan lahan gambut Kalimantan Tengah.

Absorbsi Kalsium

Absorbsi Ca dalam tubuh ternak terjadi dalam usus halus yang berasal dari makanan. Kalsium masuk ke dalam tubuh akan diubah oleh cairan lambung menjadi kalsium klorida (CaCl2) yang akan terurai menjadi ion Ca dan kemudian

diserap di bagian proksimal dari duodenum. Pada Gambar 26 tingkat absorbsi mineral Ca mencapai 90% pada hijauan sasendok dan yang paling rendah pada gajihan yaitu 34.71%. Menurut Parakkasi (1995) penyerapan mineral Ca pada hewan ruminansia yang mengkonsumsi rumput mencapai 51% dan 49% (Haenlein 2006b) . Selanjutnya ia mengatakan bahwa penyerapan Ca lebih banyak pada hewan yang mengkonsumsi sedikit Ca dan sebaliknya penyerapan Ca akan menurun bila hewan mengkonsumsi banyak Ca dan hewan sedang defiesiensi vitamin D.

0 30 60 90 120 Absorbsi Ca (%)

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan Hijauan lahan gambut

Gambar 26 Tingkat absorbsi mineral kalsium hijauan lahan gambut Kalimantan Tengah pada kambing kacang.

Neraca Kalsium

Retensi mineral kalsium pada kambing kacang dipengaruhi oleh hijauan lahan gambut (P<0.05) (Tabel 8). Retensi mineral Ca yang tertinggi terdapat paada hijauan sasendok yaitu mencapai lebih dari 90% (Gambar 27).

Homeostasis Ca diatur secara hormonal, bila Kadar Ca yang rendah dalam plasma darah, maka hormon paratiroid disekresi yang bertujuan untuk merangsang produksi cholecalciferol. Vitamin D tersebut merangsang produksi protein yang akan mengikat Ca dalam usus. Bersama -sama dengan hormon paratirod,

cholecalciferol tersebut meningkatkan reabsorbsi Ca dari tulang. Bila kadar Ca

meningkat, maka kalsitonin akan dibentuk dan produksi hormon paratiroid akan dihambat, dan dengan demikian penyerapan Ca dan resorpsi tulang akan diperlambat.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Retensi Ca (%)

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan Hijauan Lahan Gambut

Gambar 27 Tingkat retensi mineral kalsium hijauan lahan gambut Kalimantan Tengah pada kambing kacang.

Menurut Piliang (2004) kekurangan konsumsi mineral Ca dapat menyebabkan terjadi resorpsi tulang sehingga dapat menyebabkan kerapuhan tulang apabila tingkat defiesiensi sangat besar. Namun apabila konsumsi mineral Ca sangat tinggi dapat menyebabkan penurunan pertambahan bobot badan, dapat menekan penggunaan protein, lemak, mineral posfor, magnesium, zat besi, seng, dan mangan. Dalam penelitian ini kelebihan konsumsi mineral Ca belum menunjukkan tanda -tanda keracunan, hal ini dapat kita lihat bahwa kambing yang mengkonsumsi hijauan sasendok menghas ilkan pertambahan bobot badan yang sangat tinggi yaitu 90 g/ekor/hari.

Posfor (P)

Metabolisme posfor pada kambing kacang yang mengkonsumsi hijauan lahan gambut Kalimantan Tengah yang terpilih dapat dilihat pada Tabel 9.

Hijauan Lahan Gambut

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan Konsumsi 1.55d 0.89bc 0.77b 0.58a 0.96c Ekskresi Melalui Feses 0.11 0.12 0.13 0.13 0.13 Absorbsi 1.45d 0.77bc 0.64b 0.45a 0.82c Ekskresi Melalui Urine 0.008 0.006 0.008 0.008 0.008 Retensi 1.44d 0.76bc 0.64b 0.43a 0.82c

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05)

Konsumsi Posfor

Dari uji sidik ragam menunjukkan bahwa konsumsi mineral posfor dipengaruhi oleh hijauan (P<0.05). Konsumsi posfor yang tertinggi terdapat pada hijauan sasendok dan yang terendah pada aseman (Tabel 9). Hal ini dikarenakan kandungan posfor hijauan sasendok paling tinggi dibandingkan dengan hijauan lain, dan juga karena konsumsi hijauan sasendok yang paling tinggi.

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 Konsumsi Posfor (g/ekor/hari)

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan

Hijauan Lahan Gambut

Gambar 28 Tingkat konsumsi mineral posfor pada kambing yang diberi hijauan lahan gambut.

Konsumsi mineral posfor selama penelitian adalah 1.55, 0. 89, 0. 77, 0.58, dan 0. 96 g/ekor/hari masing-masing untuk sasendok, delingu, pakis, aseman, dan gajihan (Gambar 28). Jumlah konsumsi posfor untuk kambing yang direkomendasikan oleh NRC (1985b) adalah 0.7 g/ekor/hari. Jumlah konsumsi mineral posfor terpenuhi untuk kebutuhan kambing pada hijauan lahan gambut kecuali hijauan aseman. Hijauan lahan gambut mengandung mineral posfor 0.06-

0.18% BK. NRC (1985a) menyatakan kebutuhan mineral posfor pada kambing adalah 0. 16-0.36% BK. 0 5 10 15 20 25

Ekskresi P melalui Feses (%)

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan Hijauan Lahan Gambut

Gambar 29 Ekskresi mineral posfor melalui feses kambing yang mengkonsumsi hijauan lahan gambut Kalimantan Tengah.

Ekskresi Posfor

Dari uji sidik ragam menunjukkan bahwa ekskresi mineral P melalui feses dan melalui urine tidak dipengaruhi oleh hijauan (Tabel 9). Jumlah ekskresi mineral P melalui feses sangat tinggi terjadi pada kambing yang mengkonsumsi hijauan aseman yaitu mencapai 25% (Gambar 29). Hal ini menandakan bahwa jumlah absorbsi mineral P pada hijauan aseman sangat rendah.

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4

Ekskresi P melalui Urine (%)

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan Hijauan Lahan Gambut

Gambar 30 Ekskresi mineral posfor melalui urine kambing yang mengkonsumsi hijauan lahan gambut Kalimantan Tengah.

Absorbsi Posfor

Dalam penelitian ini jumlah konsumsi mineral posfor sangat rendah namun tingkat absorbsi mineral posfor pada kambing mencapai 90% untuk hijauan sasendok dan yang terendah pada hijauan aseman yaitu 80% (Gambar 31). Menurut Parakassi (1995) bahwa absorbsi mineral P pada ternak ruminansia sekitar 85%, 65% Haenlein (2006b). Rendahnya penyerapan posfor dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya karena ketersedian mineral posfor hijauan yang rendah, juga disebabkan oleh tingginya kandungan Ca dalam hijauan (Huber et al. 2002). Selanjutnya ia mengatakan bahwa interaksi dengan mineral lain juga memepengaruhi penyerapan mineral P, seperti tingginya kandungan Fe, Al dan Mg dalam ransum akan mengganggu absorbsi P dengan jalan membentuk senyawa posfat yang tak larut.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Absorbsi P (%)

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan Hijauan Lahan Gambut

Gambar 31 Tingkat absorbsi mineral posfor hijauan lahan gambut Kalimantan Tengah pada kambing kacang.

Neraca Posfor

Dari uji sidik ragam menunjukkan bahwa retensi mineral P dipengaruhi oleh hijauan (P<0.01). Retensi mineral posfor terda pat pada kambing yang mengkonsumsi hijauan sasendok yaitu 90%. Hal ini menandakan pemanfaatan mineral posfor hijauan lahan gambut sangat efesien.

Berbeda dengan Ca dimana terdapat pengaturan dalam metabolisme absorbsi, maka pengaturan status posfor dalam tubuh diatur oleh mekanisme ekskresi melalui urine. Jumlah posfor yang diekskresi melalui feses yaitu posfor yang tidak diabsorbsi dan endogenus relatif sedikit. Vitamin D dan hormon paratiroid (Parthyroid Hormon, PTH) mempengaruhi kecepatan reabsorbsi posfor dari ginjal, sedangkan PTH meningkatkan ekskresi posfor melalui urine.

Kekurangan mineral posfor ditandai dengan turunnya pertumbuhan, nafsu makan aneh yaitu mengkonsumsi segala benda seperti kayu, tanah (pica), berpengaruh pada reproduksi antar lain tidak ada estrus, tingkat konsepsi yang rendah, menurun produksi air susu (Parakkasi 1995). Selanjutnya Haenlein (2006b) menambahkan bahwa kekurangan mineral P pada kambing dapat menyebabkan terjadi abortus 15% dibandingkan kambing yang cukup mengkonsumsi mineral P dan kematian bayi meningkat 50%.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Retensi P (%)

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan Hijauan Lahan Gambut

Gambar 32 Tingkat retensi mineral posfor hijauan lahan gambut Kalimantan Tengah pada kambing kacang

Magnesium (Mg)

Metabolisme mineral magnesium pada kambing kacang yang mengkonsumsi hijauan lahan gambut Kalimantan Tengah yang terpilih dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Metabolisme mineral magnesium pada kambing kacang yang mengkonsumsi hijauan lahan gambut Kalimantan Tengah (g/ekor/hari)

Hijauan Lahan Gambut

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan Kons umsi 4.87c 2.28a 3.81b 1.77a 4.02bc Ekskresi Melalui Feses 0.47b 0.30a 0.52b 0.41ab 0.45b Absorbsi 4.39c 1.98a 3.29b 1.35a 3.56b Ekskresi Melalui Urine 0.96 0.99 1.46 1.29 0.77 Retensi 3.43c 0.99ab 1.82b 0.058a 2.79c

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05)

Konsumsi Magnesium

Dari uji sidik ragam menunjukkan bahwa konsumsi mineral magnesium dipengaruhi oleh hijauan (P<0.05) (Tabel 10). Konsumsi mineral Magnesium

selama penelitian adalah 4. 87, 2. 28, 3.81, 1.77, dan 4.02 g/ekor/hari untuk masing masing hijauan lahan gambut yaitu sasendok, delingu, pakis, aseman, dan gajihan (Gambar 33). Angka ini sesuai yang dilaporkan Haenlein (2006b) bahwa konsumsi mineral magnesium pada kambing adalah 1.8-5.5 g/ekor/hari.

Kandungan Mg dalam hijauan lahan gambut berkisar antara 0.41-1.06. Kebutuhan Mg ransum yang direkomendasi adalah 0.05-0.25% (NRC 1985a) 0.12-0.18% (Manchen 2005). Hijauan lahan gambut mengandung kadar mineral Mg dapat memenuhi kebutuhan mineral magnesium bagi kambing kacang.

0 0.51 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 Konsumsi Mg (g/ekor/hari)

Sasendok Delingu Pakis Aseman Gajihan

Hijauan Lahan Gambut

Gambar 33 Tingkat konsumsi magnesium pada kambing yang diberi hijauan lahan gambut Kalimantan Tengah.

Ekskresi Magnesium

Dari uji sidik ragam menunjukkan bahwa ekskresi dalam feses kambing kacang dipengaruhi oleh hija uan (P<0.05) (Tabel 10). Ekskresi mineral Mg dalam feses tertinggi terdapat pada hijauan sasendok. Hal ini dikerenakan jumlah konsumsi hijauan sasendok yang tinggi dan juga karena kandungan Mg hijauan sasendok paling tinggi dibandingkan dengan hijauan lain .

Magnesium yang berasal dari makanan akan diekskresi dalam feses dengan jumlah yang cukup banyak (Gambar 34). Mekanisme homeostatik utama dalam mengatur kadar magnesium adalah melalui ginjal. Ginjal mampu untuk secara efesien mereabsorbsi magnesium jika konsumsi magnesium rendah dalam makanan

Dokumen terkait