• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKIBAT PERALIHAN TANAH

4.2 Hilangnya Kepemilikan

Seiring berjalannya waktu, manusia semakin memiliki kebutuhan yang lebih banyak. Bukan hanya kebutuhan primer, namun juga kebutuhan sekunder yang mereka inginkan untuk menunjang kehidupan dan juga gengsi. Begitupun dengan yang terjadi pada masyarakat Suku Melayu Desa Nagakisar. Mereka juga memiliki keinginan dan kebutuhan yang banyak dan biaya hidup yang semakin lama semakin mahal.

Seperti keluarga Pak Syamsul. Mereka adalah keluarga yang cukup terpandang karena beberapa faktor. Selain para buyutnya yang berjasa karena telah menjadi bagian dalam membuka jalan dan membangun Desa Nagakisar, buyut Pak Syamsul, menurut beliau adalah seorang pendekar yang disegani karena memiliki kemampun beladiri yang hebat dan petarung yang terlatih.

“Atok-Atoknya atok dulu itu pendekar. Kan habis dia sama kawan-kawannya bukak jalan buat bukak kampung, dia itulah termasuk pendekar. Karena dia ada ilmunya. Pandai bela diri.

Jadi orang pun segan sama dia. Dan alhamdullillah, jadi terikut sama keluarga atok sekarang. Karena sampai sekarang pun, walaupun atok udah nggak ada lagi tanahnya, walaupun cuma berapa rante lha itu yang tersisa, alhamdullillah orang-orang Desa sini masih segan lha sama atok. Ya insyaallah juga nanti klo atok udah nggak ada, sama anak-anak atok pun atok harap orang ini juga nggak macam-macam.”

Universitas Sumatera Utara

75 Seperti yang disampaikan Pak Syamsul, Beliau tidak lagi memiliki banyak tanah seperti dahulu. Karena tanah yang beliau miliki sedikit demi sedikit telah dijual kepada pendatang. Dan juga karena ada yang menawar tanahnya dengan harga tinggi, maka Pak Syamsul pun menjualnya.

Pak Syamsul menjual tanahnya tersebut tidak dengan serta merta sekali habis langsung jual. Ia menjualnya sedikit demi sedikit yang tanpa beliau sadari juga semakin lama semakin habis. Biasanya mereka memakai kata “rantai” untuk menggambarkan sebidang tanah yang kurang dari 1 hekatre.

Dengan dijualnya tanah warisan milik Pak Syamsul, tentu saja hal ini kemudian mempengaruhi kepemilikan tanah yang tidak lagi berada di tangan suku Melayu. Kepemilikan tanah yang tidak lagi didminasi oleh penduduk asli Desa Nagakisar yang bersuku Melayu.

Meskipun Pak Syamsul mengatakan bahwa ia menyelas telah menjual tanahnya apalagi dengan orang yang bukan penduduk asli sana, Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Selain karena kebutuhan yang mengharuskan Pak Syamsul menjual tanah, tanah yang dijual oleh Pak Syamsul juga ditawar dengan harga tinggi oleh pembelinya.

“Ya kalo ditanyak, apa pentingnya tanah sawah itu untuk atok, ya penting. Karena kan darisana juga atok hidup. Dari sana jugak lah atok bisa nabung sedikit-sedikit untuk biaya sekolah anak-anak atok. Ya pasti penting. Udah gitu kalo pun nak icha tanyak, pentingnya tanah bagi kita orang Melayu..

ya penting nak. Kan tadi atok udah cerita-cerita jugak. Kek mana uyut atok itu punya tanah, supaya anak cucunya nanti nggak kekurangan. Tapi apalah lagi mau dibilang, kebutuhan

Universitas Sumatera Utara

76 aslinya ini orang Melayu semua. Mana ada sini orang Batak, orang Jawa, orang Madura. Disini ya penduduk aslinya orang Melayu. Kalo atok ditanyak, agak sedih atok, agak miris lha.

Kita (orang melayu) yang punya tanah, kita yang punya kampung, tapi kita yang nggak bisa pertahanin tanah kita kan.

Salahnya ya dikiata-kita jugak. Kenapa harus dijual kalo cuma untuk qeqah (aqiqah) anak, ngawinkan, apalagi, segala macam itu lah. Lagian yang mau belik itu pun, dia nawarnya dengan harga tinggi. Jadi tergoda jugak lha atok sama yang lain-lain yang jual tanah itu kan..haha”

Begitulah pengakuan Pak Syamsul tentang sedikit rasa penyesalan yang Ia rasakan. Bahkan, apa yang Ia sampaikan kepada Peneliti, menurutnya, mungkin bisa mewakili hampir seluruh perasaan orang-orang kampung. Orang-orang yang dulunya terpandang, tapi sekarang sudah tidak lagi. Karena mereka tidak lagi memiliki tanah seperti dulu.

Mirisnya, seperti apa yang disampaikan oleh Pak Syamsul, bahwa, penyesalan terbesarnya adalah karena cepat tergiur atau tegoda dengan harga tinggi yang ditawarkan oleh pembeli, namun juga Ia dan penduduk Desa tidak dapat mempertahankan harkat dan martabat orang Desa Nagakisar. Dan hampir 80% yang tidak memiliki tanah.

Lain lagi cerita oleh Bu Saniah. Ia dan saudara laki-lakinya sampai saat ini tidak memiliki keinginan untuk berdamai karena kedua belah pihak merasa sama-sama benar dan sama-sama mempertahankan ke-akuan mereka bahkan setelah tanah itu dijual dan tidak lagi ada pada mereka.

Universitas Sumatera Utara

77 Sampai saat ini, tanah-tanah yang dulunya dimiliki oleh keluarga Bu Saniah, sudah berada ditangan orang lain. Termasuk juga berada di tangan kepala Desa Nagakisar sendiri, pak Mangudut Hasugian yang notabenenya bukan suku Melayu. Tetapi pak Mangudut mampu menjadi tuan tanah di tanah Melayu. Bahkan Ia memegang jabatan sebagai kepala Desa .

Orang-orang yang membeli tanah dari penduduk kampung, bukanlah orang yang tinggal dan menetap di Desa tersebut. Melainkan oang yang datang dan pergi untuk mencari tanah. Orang-orang elit yang ingin membeli tanah untuk mengumpulkan harta. Sama seperti yang dilakukan oleh Pak Syamsul dan peduduk Desa yang lain.

Seakan menjadi tradisi yang terkonstruksi, penjualan tanah di Desa Nagaksiar terjadi begtu saja. Setiap ada pembeli oraang yang datang dengan tujuan untuk membeli tanah, penduduk sana tidak menawarkan tanah mereka untuk dibeli. Tetapi pembeli tersebut lah yang bertanya apakah ada tanah yang dijual atau tanah mereka ingin dijual. Kemudian pembeli menawar dengan harga yang tinggi.

Karena kebutuhan yanga menurut mereka banyak, mereka pun rela untuk menjual tanahnya. Bahkan, yang tidak memiliki kebutuhan sekalipun, rela menjual tanahnya hanya supaya mendapatkan uang yang ditawarkan oleh pembeli tesebut. Dan tentu saja uang itu kemudian mereka tabung untuk selanjutnya digunakan kembali. Ada yang

Universitas Sumatera Utara

78 mempergunakan uangnya untuk mengadakan acara tertentu, tapi ada juga yang mempergunakan kembali uangnya untuk membali tanah lagi.

Tetapi, terlepas dari apapun faktor yang menyebabkan penjualan tanah milik orang Desa asli Nagakisar yang dalam hal ini adalah suku Melayu, tetap saja menurut informan peneliti, tanah bagi mereka adalah aset penting unutk menopang hidup mereka dan anak-anak keturunan mereka kelak. Hanya saja tidak begitu dihargai dan di kelola dengan jerih payah.

Bagi penduduk kampung, selama ada tanah, berarti ada harta dan aset yang bisa mereka gunakan atau mereka jual. Yang penting mereka tidak lagi memiliki hutang-piutang kepada orang lain. Begitupun dengan yang terjadi pada keluarga Syamsul.

Dan dari sekian banyak faktor yang menyebabkan hilangnya hak waris atas tanah sawah itu menjadi penyebab bahwa tanah-tanah Desa Nagakisar tidak memiliki lagi tuan rumah bagi tanah mereka sendiri.

Semuanya sudah berada pada pihak yang bukan berasal dari Desa Nagakisar.