• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERPADUAN SUKU BATAK DAN MINANG

C. Hilangnya Marga

Marga merupakan salah satu identitas penting dalam masyarakat adat.

Marga merupakan bagian budaya yang diturunkan dan diwariskan secara turun temurun. Ia menjadi simbol perlambang dari sebuah suku. Dengan demikian, setiap suku memiliki rasa bangga terhadap marga yang dimilikinya.

Kebanggaan itu diwujudkan dalam bentuk pencantuman marga di ujung nama asli.

Dua suku besar di Indonesia, yaitu Batak dan Minang memiliki marga.

Pada masyarakat Batak disebut Marga, sementara pada masyarakat Minang disebut Suku. Keduanya memiliki kesamaaan dalam hal arti dan maknanya, yaitu sama-sama identitas kelompok kekerabatan atau keluarga. Marga dan suku menjadi jati diri keduanya. Orang Batak merasa bangga memiliki marga dan orang Minang bangga dengan sukunya.

Di antara marga-marga pada masyarakat Batak adalah Harahap, Siregar, Hasibuan, Nasution, Lubis, Sianipar, Simanjuntak, Panjaitan, Sihombing, Purba, Tampubolon dan sebagainya. Sementara di antara suku pada masyarakat Minang seperti Piliang, Caniago, Tanjung, Koto, Damanik dan sebagainya.

187 Pada masyarakat Batak yang menganut azas atau sistem kekerabatan patriarki, marga anak diturunkan dari marga ayah. Apabila ayah memiliki marga Sihombing, maka semua anaknya diberi marga Sihombing. Misalnya, ayah bernama Muslimin Sihombing. Semua anaknya, baik laki-laki maupun perempuan diberi marga Sihombing. Misalnya Rizal Sihombing, Fadli Sihombing, Nurjannah Sihombing, Mintaito Sihombing. Pemberian marga ini dilakukan secara alami, dalam artian bahwa ketika seorang anak lahir maka dengan sendirinya ia memiliki marga yang sama dengan marga ayahnya.

Tidak ada upacara pemberian marga. Akan tetapi berbeda halnya dengan orang yang tidak memiliki darah keturunan Batak dan ia ingin mendapatkan marga Batak. Atau seseorang yang dipandang memiliki jasa kepada orang Batak seperti pejabat Negara. Terhadap mereka diadakan upacara penabalan marga dengan menyembelih kerbau.

Hal serupa juga terjadi pada masyarakat Minang. Suku ibu diturunkan secara alamiah kepada anak-anaknya, baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Jika ibu memiliki suku Piliang, maka anak-anaknya diberi suku Piliang. Misalnya ibu bernama Yulianti Piliang. Anak-anaknya juga diberi suku Piliang seperti Yurnelis Piliang, Jondri Piliang, Irfandri Piliang.

Idealnya marga dan suku yang menjadi identitas Batak dan Minang tidak boleh hilang. Namun, dalam perkawinan laki-laki Batak dan perempuan Minang terjadi pergeseran idealisme adat. Dalam pengertian bahwa ketika dua suku ini bertemu dalam lembaga perkawinan, terjadi keruntuhan identitas suku yang oleh beberapa ahli disebut sebagai integrasi.

188 Di Sumatera Utara, laki-laki Batak yang menikahi perempuan Minang dapat mempertahankan identitas sukunya. Anak-anaknya diberi marga sesuai dengan marga ayahnya. Dengan demikian, marga atau suku ibu Minang akan hilang dalam arti tidak digunakan dalam keluarga. Ini adalah bentuk dominasi budaya Batak atas budaya Minang. Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas kesukuan bahkan sistem adat dan budaya akan hilang manakala ia hidup di tengah-tengah adat dan budaya yang lain. Di Sumatera Utara, suku Minang adalah minoritas di mana jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan suku Batak sebagai suku dengan penduduk terbanyak di provinsi ini.

Oleh karena itu, suku yang merupakan identitas Minang akan terputus ketika perempuan Minang menikah dengan laki-laki Batak.

Keruntuhan sistem budaya ini juga terjadi pada laki-laki Batak yang menikah dengan perempuan Minang di Sumatera Barat. Budaya suku Minang mendominasi budaya suku Batak. Oleh karena itu, dalam beberapa kasus, pada keluarga di mana laki-laki Batak yang menikahi perempuan Minang, justeru marga yang dipakai adalah marga/suku isteri, bukan suami. Dengan demikian anak-anak mereka diberi suku yang sama dengan suku ibunya, padahal suaminya adalah orang Batak yang seharusnya marga anak-anaknya adalah sesuai dengan marga ayahnya. Namun karena orang Batak di Sumatera Barat adalah minoritas, maka dominasi adat dan budaya Minang atas budaya Batak tidak dapat dihindari. Dalam perkawinan yang demikian, maka identitas marga Batak akan terputus karena tidak diturunkan kepada anak-anak mereka.

189 Selain perkawinan laki-laki Batak dengan perempuan Minang, kehilangan marga juga terjadi pada kasus laki-laki Minang menikahi perempuan Batak. Marga dan suku keduanya akan hilang karena tidak dipakai dalam menentukan garis keturunan. Marga/suku ayah yang berdarah Minang tidak dipakai dalam keluarga yang bersifat matrilineal dan marga/suku ibu tidak digunakan pada keluarga yang berifat patrilineal. Dengan demikian ayah Minang dan ibu Batak sama-sama tidak menurunkan marga/suku kepada anak-anak mereka sehingga anak-anak-anak-anak mereka tidak memiliki marga/suku.

190 BAB VIII

P E N U T U P

H. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitianyang dilakukan, peneliti memperoleh beberapa kesimpulan, yaitu:

1. Budaya suku Batak di Sumatera Barat saat ini masih eksis terutama dalam hal perkawinan. Masyarakat suku Batak yang tinggal di Sumatera Barat menjaga dan melestraikan budaya Batak meskipun dalam beberapa hal tidak sama persis seperti budaya suku Batak di daerah asalnya, yaitu Sumatera Utara. Pertemuan budaya Batak dan Minang di Sumatera Barat menghasilkan bentuk yang khas, di mana pada sebagian kasus, laki-laki yang menikah dengan perempuan Minang kehilangan identitas sukunya.

Implikasi dari perkawinan tersebut adalah perubahan sistem kekerabatan yang seharusnya adalah patrilineal berubah menjadi matrilineal. Selain itu, lamaran dilakukan oleh pihak perempuan Batak terhadap laki-laki Minang di mana seharusnya pihak laki-lakilah yang melamar. Dampak lainnya adalah marga laki-laki/ayah tidak diturunkan kepada anak-anak padahal seharusnya dalam keluarga Batak, anak mengikuti marga ayah. Hal demikian terjadi karena dominasi budaya Minang atas minoritas suku Batak di Sumatera Barat. Oleh orang Batak di Sumatera Barat menyebutnya sebagai bentuk adaptasi terhadap budaya lokal, dan oleh peneliti menyebutnya sebagai keruntuhan identitas suku.

191 2. Budaya suku Minang di Sumatera Utara masih bertahan meskipun dalam mengalami perubahan. Sistem kekerabatan matriarki sebagai jati diri orang Minang tidak dapat bertahan ketika perempuan Minang menikah dengan laki-laki Batak di Sumatera Utara. Dominasi suku Bata katas minoritas suku Minang sangat kuat. Padahal seharusnya marga/suku perempuan Minanglah yang diturunkan kepada anak-anak sebagaimana ketentuan adat Minang. Selain itu, dalam sebagian adat Minang, pihak yang melamar dalam perkawinan adalah pihak perempuan. Namun di Sumatera Utara ketentuan adat ini tidak berlaku. Yang meminang adalah laki-laki Batak kepada perempuan Minang. Konsekuensi lain dari perkawinan campuran laki-laki Batak dan perempuan Minang ini adalah hilangnya marga/suku Ibu perempuan. Dalam ketentuan adat Minang, suku ditentukan oleh garis keturunan perempuan. Namun ketentuan ini tidak berlaku di Sumatera Utara khusus pada keluarga suami Batak dan isteri Minang. Masyarakat Minang menyebutnya sebagai bentuk dari adaptasi budaya dan sekaligus wujud dari pepatah di ma bumi dipijak disitu langik dinjunjuang. Dalam perspektif sosiologi, proses demikian disebut sebagai amalgamasi. Peneliti menyebutnya dengan keruntuhan identitas budaya.

I. Saran-saran

Berdasarkan hasil penelitian ini peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Perantau orang Batak di Sumatera Barat hendaknya mempertahankan adat dan budaya Batak. Upaya yang mungkin dilakukan adalah menggunakan