Hindari Aborsi dan Pergaulan
Bebas
A. Pengertian Aborsi
Aborsi adalah menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah “abortus”. Berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum GLEHULNHVHPSDWDQXQWXNEHUWXPEXK-DGLDERUVLGDSDWGLGH¿QLVLNDQ
sebagai pengeluaran janin dari rahim, sebelum janin tersebut mampu untuk meneruskan hidupnya sendiri.
Sumber: (http://www.syahidah.web.id/2013/01/subhanallah-inilah-foto-janin-di-dalam.html)
Gambar 6.1 Janin berusia 8 minggu, embrio yang berkembang pesat dilindungi dengan baik oleh kantung amnion,
Menurut Kartono Muhammad, aborsi dapat dibedakan dengan
infanticide atau pembunuhan bayi. Aborsi ditujukan bagi usia kandungan
lima bulan ke bawah atau usia 20 minggu. Bila di atas lima bulan, kandungan itu sudah ada tengkorak dan tulang, maka termasuk dalam pembunuhan
(infanticide). Pada kandungan lima bulan ke bawah hanya berupa gumpalan
daging, atau hanya berupa darah kental yang nyaris tidak meninggalkan bekas apabila digugurkan. Sedangkan kandungan lima bulan ke atas telah berbentuk tengkorak dan tulang sehingga pembusukannya memerlukan proses walaupun sudah dikuburkan.
Usia kandungan di atas lima bulan tersebut dikatakan sudah viable. Artinya dengan bantuan teknologi sudah dapat hidup di luar rahim tanpa plasenta. Penghilangan nyawanya dengan cara apa pun, di dalam maupun di luar rahim, tidak lagi dapat disebut sebagai tindakan aborsi, tetapi pembunuhan bayi.
Aborsi dalam terminologi kesehatan adalah penghentian kehamilan di bawah 28 minggu. Setelah periode ini, janin dianggap mampu hidup dan setiap terjadi pengeluaran dari janin ini dapat berarti janin yang hidup atau lahir mati.
Menjadi pertanyaan dan persoalan kita, apakah dengan perbedaan antara aborsi dan infanticide itu, maka yang dimaksud dengan aborsi itu bukan termasuk pembunuhan? Kapankah kandungan tersebut sudah disebut sebagai makhluk? Apakah yang termasuk dalam kategori pembunuhan makhluk manusia?
B. Macam-Macam Aborsi
Dalam dunia kedokteran dikenal 3 macam aborsi, yaitu:
a. Aborsi Spontan/Alamiah. Aborsi spontan/alamiah berlangsung tanpa tindakan apapun. Sebagian besar disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma.
b. Aborsi Buatan/Sengaja. Aborsi Buatan/Sengaja adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun sipelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak).
c. Aborsi Terapeutik/Medis: Aborsi Terapeutik/Medis adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi memiliki penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa.
Ayo Menanya
Buatlah pertanyaan-pertanyaan terkait hasil pengamatan melalui membaca teks/gambar atau hal lainnya tentang aborsi di bawah.
1. ...? 2. ...? 3. ...?
C. Sebab Aborsi
Banyak alasan atau sebab yang melatarbelakangi dilakukannya aborsi. Hasil penelitian selama ini menunjukkan kesalahan apabila kita menganggap bahwa kehamilan yang tidak dikehendaki selalu dihubungkan dengan akibat pergaulan bebas terutama yang terjadi pada remaja. Padahal masih banyak sikap di masyarakat kita sendiri yang mendorong perempuan untuk terpaksa melakukan aborsi. Sikap yang ditanamkan sesungguhnya memang mempunyai latar belakang yang berbeda seperti:
a. Keluarga yang tidak siap karena memiliki ekonomi pas-pasan sehingga cenderung bersikap menolak kelahiran anak.
b. Masyarakat cenderung menyisihkan dan menyudutkan wanita yang hamil di luar nikah. Wanita selalu disalahkan, tidak ditolong atau dibesarkan jiwanya tetapi malah ditekan dan disudutkan sehingga
c. Ada aturan perusahaan yang tidak memperbolehkan karyawatinya hamil (meskipun punya suami) selama dalam kontrak dan apabila diketahui hamil akan dihentikan dari pekerjaannya.
d. Pergaulan yang sangat bebas bagi remaja yang masih duduk di bangku sekolah, misal SMA, mengakibatkan “kecelakaan” dan menyebabkan kehamilan. Karena merasa malu, dengan teman-temannya, takut kalau kesempatan belajarnya terhenti dan barangkali masa depannya pun menjadi buruk. Ditambah dengan tekanan masyarakat yang menyisihkan sehingga akhirnya ia melakukan aborsi supaya dapat tetap mempertahankannya eksistensi di masyarakat dan dapat melanjutkan sekolah.
e. Dari segi medis diketahui umur reproduksi sehat antara 20-35 tahun. Apabila seorang wanita hamil di luar batasan umur itu akan masuk dalam kriteria risiko tinggi. Batasan ini sering menakutkan, sehingga perempuan yang mengalaminya lebih menjurus menolak kehamilannya dan pada akhirnya akan melakukan aborsi.
f. Pandangan sebagian orang bahwa tanda-tanda kehidupan janin antara lain adanya detak jantung yakni umur sekitar tiga bulan. Maka hal ini akan memicu seorang wanita yang mengalami suatu masalah akan melakukan aborsi dengan alasan usia bayi belum sampai 3 bulan. g. Praktik aborsi adalah fenomena yang timbul karena perubahan nilai
di masyarakat. Sama halnya dengan praktik pelacuran, praktik aborsi tidak dapat diantisipasi dengan hanya bentuk pelarangan semata. h. Selama ini indikasi medis yang dipakai sebagai dasar diizinkannya
aborsi hanya didasarkan pada kesehatan badan/keselamatan jiwa dan PHQJDEDLNDQ NRQVHS GH¿QLVL NHVHKDWDQ VHFDUD NHVHOXUXKDQ VHKDW ¿VLNVHKDWSVLNLVGDQVHKDWVRVLDO3DGDKDOVHEDJDLPDQDWHUFDQWXP dalam UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992 yang dimaksud dengan kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Ayo Mengekplorasikan
Carilah sumber data berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang telah GLDMXNDQDWDXKDVLOLGHQWL¿NDVLWHQWDQJDERUVL\DQJPHUXSDNDQWLQGDNDQ yang tidak bermoral!
D. Akibat Aborsi
Tindakan aborsi merupakan praktik yang penuh risiko. Risiko ini muncul mulai dari pendarahan, infeksi, perferasi atau tembusnya rahim karena alat, hingga kematian karena pendarahan yang terlalu banyak. Aborsi juga dapat mengakibatkan kemandulan karena infeksi dari penghisapan rahim menjadikan saluran indung telur tertutup. Di samping itu juga akan mengakibatkan rusaknya alat reproduksi sang ibu.
Aborsi merupakan perbuatan jahat atau tidak baik. Aborsi adalah suatu tindakan pembunuhan. Mereka yang telah melakukan tindak kejahatan dan akan mendapatkan akibat di kemudian hari, baik dalam kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Dalam Culakammavibhanga Sutta: “Seorang pria dan wanita yang membunuh makhluk hidup, kejam dan gemar memukul serta membunuh tanpa belas kasihan kepada makhluk hidup, akibat perbuatan yang telah dilakukannya itu ia akan dilahirkan kembali sebagai manusia di mana saja ia akan bertumimbal lahir, umurnya tidaklah akan panjang”.
Dalam kitab Petavatthu dalam Sattaputtakhadakapetavatthuvannana (cerita Peta pemangsa tujuh putra). Seorang wanita istri pertama yang memiliki rasa iri hati dengan dengan istri kedua dari suaminya yang telah hamil sehingga menyuruh orang bayaran untuk menggugurkan kandungan yang sudah berusia 3 bulan. Akibat dari kehendak dan perbuatannya secara tidak langsung (melalui perantara) istri pertamanya setelah meninggal terlahir di alam peta yang memangsa 7 putranya, berbau busuk, dan dikerumuni lalat.
Bagi mereka yang menyediakan jasa aborsi tidak resmi tentu akan mendapat ganjaran menurut hukum negara, setelah melalui proses peradilan berdasarkan bukti-bukti yang ada. Ini sebagai akibat dari perbuatan (karma)
keinginan jahat, maka kasusnya menjadi pelanggaran kriminal dan pihak yang melakukannya dapat dituntut dan dihukum. Indonesia sudah mempunyai undang-undang yang mengatur soal aborsi, yakni pasal 346 KUHP. Pasal ini mengancam kaum perempuan yang menggugurkan kandungannya dengan hukuman maksimal 4 tahun penjara.
Ayo Mengasosiasikan
Diskusikan dengan teman-temanmu untuk menganalisis data tentang aborsi. Coba kamu kaitkan perbuatan tersebut dengan Hukum Sebab Akibat Perbuatan/Hukum Karma!
E. Aborsi dan Agama Buddha
Aborsi dalam pandangan medis maupun agama yang dikembangkan di masyarakat adalah satu, aborsi identik dengan pembunuhan. Inilah yang kemudian diadopsi di dalam substansi hukum sebagaimana yang diatur lewat KUHP. Dalam pandangan medis abortus yang diperbolehkan adalah abortus berdasarkan indikasi medis DERUWXVDUWL¿FLDOLVWKHUDSLFXV selebihnya aborsi yang dilakukan tanpa indikasi medis dikategorikan sebagai abortus kriminal
(abortus provocatus criminalis).
Aborsi adalah suatu tindakan pengguguran kandungan atau membunuh makhluk hidup yang sudah ada dalam rahim seorang ibu. Hal ini karena sudah terjadi kehidupan di dalam rahimnya. Syarat terjadinya kehidupan manusia menurut pandangan agama Buddha yaitu adanya pertemuan antara sel sperma dan sel telur (mata pitaro hoti). Pertemuan tersebut terjadi pada masa subur
(mata utuni hoti), dan adanya kesadaran penerus (gadhabo paccuppatthito)
dalam siklus kehidupan baru yang merupakan kelanjutan dari kesadaran ajal
(cuti citta), yang memiliki energi karma. Oleh karena itu jika dilakukan aborsi
berarti melakukan pembunuhan makhluk hidup (manusia).
Buddha menyatakan dalam Mahatanhasankhaya Sutta bahwa karena adanya tiga sebab terjadinya perwujudan (kehamilan) yaitu 1) senggama antara wanita dan pria, 2) wanita dalam masa subur, dan 3) masuknya gandhabha (kesadaran yang bertunimbal lahir). Apabila salah satu sebab tidak terpenuhi tidak akan terjadi kehamilan.
Dikatakan melakukan pembunuhan karena telah memenuhi syarat-syarat perbuatan membunuh. Suatu pembunuhan telah terjadi bila terdapat lima faktor sebagai berikut: a) ada makhluk hidup (pano); b) mengetahui atau menyadari ada makhluk hidup (pannasanita;) c) Ada kehendak (cetana) untuk membunuh (vadhabacittam); d) ada usaha untuk melakukan pembunuhan
(upakkamo); e) makhluk itu mati karena tindakan pembunuhan (tena maranam).
Kasus aborsi yang sering terjadi hendaknya menjadi pelajaran bagi semua pihak. Bagi para remaja tidak menyalahartikan cinta sehingga tidak melakukan perbuatan salah yang melanggar sila. Bagi pasangan yang sudah berumah tangga mengatur kelahiran dengan program yang ada dan bagi pihak-pihak lain yang terkait tidak mencari penghidupan dengan cara yang salah sehingga melanggar hukum, norma, dan ajaran agama. Mudah-mudahan masyarakat luas dan umat Buddha pada khususnya dapat memahami hal ini sehingga tidak terjerumus pada perbuatan buruk yang merugikan diri sendiri dan makhluk lain.