• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIPOTERMI PADA BAYI

Dalam dokumen Skenario 1 - Perdarahan Post Partum (Halaman 33-40)

Keterangan : Obs : observasi FT : fototerapi TT : transfusi tukar Bil : bilirubin

3.7. Pencegahan

 Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya paling sedikit 8-12 kali perhari untuk beberapa hari pertama

 Tidak memberikan cairan tambahan rutin seperti dekstrose atau air pada bayi yang mendapat ASI dan tidak mengalami dehidrasi.

Menghindari obat yang dapat meningkatkan hiperbilirubinemia pada bayi pada masa kehamilan dan kelahiran, misalnya sulfafurazol, novobiotin, oksitosin

Bila memungkinkan, skrining golongan darah ibu dan ayah sebelum lahir. Bila ada riwayat bayi kuning dalam keluarga periksa G6PD

Pencegahan infeksi

3.8. Komplikasi

Ensefalopati hiperbilirubinemia (bisa terjadi kejang, malas minum, letargi dan dapat berakibat pada gangguan pendengaran, palsi serebralis).

3.9. Prognosis

Baik, bila ditangani dengan tepat. Buruk bila timbul kern ikterus. Kern ikterus adalah sindrom neurologik yang disebabkan oleh menumpuknya bilirubin indirek dalam sel otak.

IV. HIPOTERMI PADA BAYI

1. Definisi

1. Definisi

Berat badan (gram)

Konsentrasi bilirubin indirek (mg/dL)

5-7 7-9 10-12 12-15 15-20 > 20 >25 < 1000 FT TT 1000 - 1500 Obs. Ulang Bil. FT TT 1500 - 2000 Obs. Ulang Bil. FT TT 2000 - 2500 Obs. Obs. Ulang Bil. FT TT > 2500 Obs. Bil. FT TT

34 Bayi hipotermi adalah bayi dengan suhu badan di bawah normal Adapun suhu normal bayi adalah 37,5 °C. Suhu normal pada neonatus 36,5-37,5°C (suhu ketiak).

2. Etiologi

1)Jaringan lemak subkutan tipis.

2)Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar. 3)Cadangan glikogen dan brown fat sedikit.

4)BBL (Bayi Baru Lahir) tidak mempunyai respon shivering (menggigil) pada reaksi kedinginan.

5)Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang beresiko tinggi mengalami hipotermi.

3. Patofisiologi

Mekanisme terjadinya Hipotermia: Hipotermia pada bayi baru lahir timbul karena penurunan suhu tubuh yang dapat terjadi melalui:

1. Radiasi : Yaitu panas tubuh bayi memancar kelingkungan sekitar bayi yang lebih dingin, misal : BBL diletakkan ditempat yang dingin.

2. Evaporasi : Yaitu cairan/air ketuban yang membasahi kulit bayi menguap, misal : BBL tidak langsung dikeringkan dari air ketuban.

3. Konduksi : Yaitu pindahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langsung kontak dengan permukaan yang lebih dingin, misal : popok/celana basah tidak langsung diganti.

4. Konveksi : Yaitu hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara sekeliling bayi, misal : BBL diletakkan dekat pintu/jendela terbuka.

4. Klasifikasi

Bila seluruh tubuh bayi terasa dingin maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang (suhu 32-36°C). Disebut hipotermi berat bila suhu <32°C, diperlukan termometer ukuran rendah (low reading thermometer) yang dapat mengukur sampai 25°C.

a. Gejala Hipotermi Bayi Baru Lahir - Bayi tidak mau minum atau menetek - Bayi tampak lesu atau mengantuk saja - Tubuh bayi teraba dingin

- Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi mengeras(Skleremia)

b. Tanda-Tanda Hipotermi Sedang (Stress Dingin) - Aktifitas berkurang, letargis

35 - Kulit berwarna tidak rata

- Kemampuan menghiisap lemah - Kaki teraba dingin

c. Tanda-Tanda Hipotermi Berat (Cedera Dingin) - Sama dengan hipotermi sedang

- Bibir dan kuku kebiruan - Pernafasan lambat - Pernafasan tidak teratur - Bunyi jantung lambat

- Selanjutnya mungkin timbul hipoglikemi dan asidosis metabolic d. Tanda-Tanda Stadium Lanjut Hipotermi

- Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang - Bagian tubuh lainnya pucat

- Kulit memgeras dan timbul kemerahan pada punggung, kaki dan tangan (Sklerema)

5. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil pengukuran suhu tubuh.

Gejala hipotermia:

1. Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi kurang aktif, letargis, hipotonus, tidak kuat menghisap ASI dan menangis lemah.

2. Pernapasan megap-megap dan lambat, denyut jantung menurun.

3. Timbul sklerema : kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung, tungkai dan lengan.

4. Muka bayi berwarna merah terang

5. Hipotermia menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarahan terutama pada paru-paru, ikterus dan kematian.

6. Penatalaksanaan

Penilaian Hipotermi Bayi Baru Lahir

a. Gejala Hipotermi Bayi Baru Lahir

 Bayi tidak mau minum atau menetek  Bayi tampak lesu atau mengantuk saja  Tubuh bayi teraba dingin

 Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi mengeras(Skleremia)

b. Tanda-Tanda Hipotermi Sedang (Stress Dingin)  Aktifitas berkurang, letargis

 Tangisan lemah

 Kulit berwarna tidak rata

 Kemampuan menghiisap lemah  Kaki teraba dingin

36 c. Tanda-Tanda Hipotermi Berat (Cedera Dingin)

 Sama dengan hipotermi sedang  Bibir dan kuku kebiruan  Pernafasan lambat  Pernafasan tidak teratur  Bunyi jantung lambat

 Selanjutnya mungkin timbul hipoglikemi dan asidosis metabolic d. Tanda-Tanda Stadium Lanjut Hipotermi

 Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang  Bagian tubuh lainnya pucat

 Kulit memgeras dan timbul kemerahan pada punggung, kaki dan tangan (Sklerema)

Pengelolaan Menurut Indarso, F (2001) menyatakan bahwa pengelolaan bayi hipotermi :

(1)Bayi cukup bulan

 Letakkan BBL pada Radiant Warner.

 Keringkan untuk menghilangkan panas melalui evaporasi.  Tutup kepala.

 Bungkus tubuh segera.

 Bila stabil, dapat segera rawat gabung sedini mungkin setelah lahir bayi dapat disusukan.

(2)Bayi sakit

 Seperti prosedur di atas.

 Tetap letakkan pada radiant warmer sampai stabil. (3)Bayi kurang bulan (prematur)

 Seperti prosedur di atas.

 Masukkan ke inkubator dengan servo controle atau radiant warner dengan servo controle.

(4)Bayi yang sangat kecil

 Dengan radiant warner yang diatur dimana suhu kulit 36,5 °C.  Tutup kepala.

 Kelembaban 40-50%.

 Dapat diberi plastik pada radiant warner. -Dengan servo controle suhu kulit abdomen 36, 5°C. Dengan dinding double. – Kelembaban 40-50% atau lebih

37 (bila kelembaban sangat tinggi, dapat dipakai sebagai sumber infeksi dan kehilangan panas berlebihan). Bila temperatur sulit dipertahankan, kelembaban dinaikkan.

Tindakan Pada Hipotermia Segera hangatkan bayi, apabila terdapat alat yang canggih seperti inkubaator gunakan sesuai ketentuan. Apabila tidak tersedia inkubator cara ilmiah adalah menggunakan metode kangurucara lainnya adalah dengan penyinaran lampu.

a.HipotermiaSedang

1) Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering,bersih,dapat hangat

2) Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru bila ibu dan bayi berada dalamsatuselimut atau kain hangaat yang diserterika terlebih

dahulu.Bilaselimut atau kain mulai mendingin,segera ganti denganselimut/ kain yang hangat.

3) Ulangi sampai panas tubuh ibu mendingin, segera ganti dengan selimut /kain yang hangat.

4) Mencegah bayi kehilangan panasdengan cara : a)Memberi tutup kepala/ topi bayi b)Mengganti kain/ popok bayi yang basah dengan yang kering dan hangat

b.HipotermiBerat

1. Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering,b ersih, dan hangat

2. Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru, bila perlu ibu dan bayi berada dalam satu selimut atau kain hangat

3. Bila selimut atau kain mulai mendingin. Segera ganti dengan selimut atau lainnya hangatulangisampai panas tubuh ibu menghangatkan tubuh bayi

4. Mencegah bayi kehilangan panasdengan cara : a)Memberi tutup kepala/ topi kepala b)Mengganti kain/ pakaian/ popok yang basah dengan yang kering atau hangat 5. Biasanya bayi hipotermi menderita hipoglikemia. Karena itu ASI sedini mungkin

dapat lebihseringselama bayi menginginkan.Bila terlalu lemah hingga tidak dapat atau tidak kuat menghisap ASI. Beri ASI dengan menggunakan NGT. Bila tidak tersedia alat NGT. Beri infus dextrose 10% sebanyak 60 ±80 ml/kg/liter

38

Metode Kangguru

Gambar.4. Metode kangguru

Bayi yang mengalami hipotermia biasanya mudah sekali meninggal. Tindakan yang harus dilakukan adalah segera kontak langsung kulit ibu dengan kulit bayi (skin to skin contact) atau yang disebut metode kangguru. Suhu ibu merupakan sumber panas yang efisien dan murah. Kontak erat dan interaksi ibu-bayi akan membuat bayi merasa nyaman dan aman, serta meningkatkan perkembangan psikomotor bayi sebagai reaksi rangsangan sensoris dari ibu ke bayi.

Keuntungan yang di dapat dari metode kanguru bagi perawatan bayi :

39 b. Menstabilkan suhu tubuh, denyut jantung, dan pernafasan bayi

c. Meningkatkan pertumbuhan dan berat badan bayi dengan lebih baik d. Mengurangi strea pada ibu dan bayi

e. Mengurangi lama menangis pada bayi f. Memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi g. Meningkatkan produksi asi

h. Menurunkan resiko terinfeksi selama perawatan di rumah sakit i. Mempersingkat masa rawat di rumah sakit

Kriteria bayi untuk metode kanguru :

 Bayi dengan berat badan ≤ 2000 gr

 Tidak ada kelainan atau penyakit yang menyertai.  Refleks dan kordinasi isap dan menelan yang baik .  Perkembangan selama di inkubator baik .

 Kesiapan dan keikut sertaan orang tua, sangat mendukung dalam keberhasilan.

Cara Melakukan Metode Kanguru:

 Beri bayi pakaian, topi, popok dan kaus kaki yang telah dihangatkan lebih dahulu

 Letakkan bayi di dada ibu, dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu dan pastikan kepala bayi sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisikan bayi dengan siku dan tungkai tertekuk, kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan kepala agak sedikit mendongak..

 Dapat pula memakai baju dengan ukuran lebih besar dari badan ibu,dan bayi diletakkan diantara payudara ibu, baju ditangkupkan, kemudian ibu memakai selendang yang dililitkan di perut ibu agar bayi tidak terjatuh.

 Bila baju ibu tidak dapat menyokong bayi , dapat digunakan handuk atau kain lebar yang elastik atau kantong yang dibuat sedemikian untuk menjaga tubuh bayi.

 Ibu dapat beraktivitas dengan bebas, dapat bebas bergerak walau berdiri,duduk, jalan, makan dan

mengobrol. Pada waktu tidur, posisi ibu

setengah duduk atau dengan jalan meletakkan beberapa bantal dibelakang punggung ibu.  Bila ibu perlu istirahat, dapat digantikan oleh ayah atau orang lain.

 Dalam pelaksanaannya perlu diperhatikan persiapan ibu, bayi, posisi bayi,pemantauan bayi, cara pemberian asi, dan kebersihan ibu dan bayi

7. Pencegahan Hipotermia

Pencegahan hipotermia merupakan asuhan neonatal dasar agar BBL tidak mengalami hipotermia. Disebut hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 36,50C. Suhu normal pada neonatus adalah 36,5 – 37,50C pada pengukuran suhu melalui ketiak BBL mudah sekali terkena hipotermia, hal ini disebabkan karena :

1) Pusat pengaturan panas pada bayi belum berfungsi dengan sempurna 2) Permukaan tubuh bayi relatif luas

40 3) Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas

4) Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dari pakaiannya agar ia tidak kedinginan.

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk pencegahan hipotermi adalah mengeringkan bayi segera mungkin, menutup bayi dengan selimut atau topi dan menenmpatkan bayi di atas perut ibu (kontak dari kulit ke kulit). Jika kondisi ibu tidak memungkinkan untuk menaruh bayi di atas dada (karena ibu lemah atau syok) maka hal-hal yang dapat dilakukan :

1) Mengeringkan dan membungkus bayi dengan kain yang hangat 2) Meletakkan bayi didekat ibu

3) Memastikan ruang bayi yang terbaring cukup hangat. 8. Komplikasi

Beberapa komplikasi yang dapat timbul akibat hipotermia: hipoglikemia karena kekurangan cadangan glikogen. Asidosis metabolik disebabkan vasokonstriksi perifer dengan metabolisme anaerobik dan asidosis. Hipoksia dengan kebutuhan oksigen yang meningkat, gangguan pembekuan, dan perdarahan pulmonal dapat menyertai hipotermia berat. Schok dengan akibat penurunan tekanan arteri sistemik, penurunan volume plasma, dan penurunan cardiac output. Apnea dan perdarahan intra ventrikuler.

V. AGAMA

Dalam dokumen Skenario 1 - Perdarahan Post Partum (Halaman 33-40)

Dokumen terkait