BAB V HASIL ANALISIS DATA
5.4 Uji Hipotesa
Untuk menguji ada tidaknya hubungan antara variabel program pemberian pinjaman modal usaha berupa Simpan Pinjam Perempuan ( variabel X ) dengan tingkat sosial ekonomi rumah tangga ( Variabel Y ), maka digunakan uji hipotesa koefisien korelasi Product Moment adalah sebagai berikut :
� = � ∑ − ∑ ∑
√{� ∑ �2− ∑ 2 }{� ∑ 2− ∑ 2}
Keterangan:
R
xy : Koefisien korelasi Product Moment N : Jumlah individu dalam sampel (N=n) X : Angka mentah untuk variabel XY : Angka mentah untuk variabel Y
Berdasarkan data dari lampiran 1, dapat diketahui jumlah product X dan Y, jumlah kuadrat dari X dan Y dan jumlah hasil kali X dan Y, dengan demikian dapat dihitung besarnya hubungan antara variabel program pemberian bantuan pinjaman modal usaha berupa dana Simpan Pinjam Perempuan ( X ) dengan variabel sosial ekonomi rumah tangga ( Y ) dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
� = � ∑ − ∑ ∑ √{� ∑ �2− ∑ 2 }{� ∑ 2− ∑ 2} � = � − � √{ − 2}{ − 2} � = − √{ − }�{ − } � = √{ }�{ } � = √ � = , � = ,
Berdasarkan penghitungan koefisien korelasi product moment, dapat diketahui bahwa korelasi antara X dan Y dengan N = 40 diperoleh nilai sebesar 0,384. Untuk menguji kebenaran hipotesa harga kritik r product moment dengan N = 40, maka harus lebih kecil atau sama dengan nilai koefisien korelasi (rxy) yang
signifikan 5 % ( taraf kepercayaan 95 % ) diperoleh harga sebesar 0,312 sedangkan harga dari koefisien korelasi yang diperoleh 0,384.
Untuk mengetahui kadar lemah kuatnya koefisien korelasi, maka diperlukan interpretasi sebagai berikut :
Tabel 5.34
Tabel Interpretasi Koefisien Korelasi
Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 – 0,199 0,20 – 0,399 0,40 – 0,599 0,60 – 0,799 0,80 – 1,0 Sangat Lemah Lemah Sedang Kuat Sangat Kuat Sumber : Sugiyono, 2005 : 212
Berdasarkan hasil penghitungan di atas, ternyata nilai koefisien korelasi (
r
xy) atau nilai hitungan lebih besar dari taraf signifikan 5 % dengan N = 40 atau nilai tabel (0,384> 0,312). Hal ini berarti bahwa program pemberian bantuan modal usaha berupa Simpan Pinjam Perempuan memberikan kontribusi terhadap tingkat sosial ekonomi rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesa alternatif (Ha) yang mengatakan “Terdapat pengaruh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan terhadap tingkat sosial ekonomi rumah tangga kelompok Simpan Pinjam Perempuan” Dapat diterima. Sedangkan hipotesa nol (Ho) yang mengatakan “Tidak terdapat pengaruh Program NasionalPemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan terhadap tingkat sosial ekonomi rumah tangga kelompok Simpan Pinjam Perempuan” tidak dapat diterima (ditolak). Selanjutnya dari koefisien determinasi yang merupakan petunjuk besarnya hasil pengukuran yang sebenarnya, makin tinggi angka korelasi maka makin rendah kesalahan penghitungan.
KP = (
r
xy)2.KP = ( , 2
KP = 0,1474 14,74 % KP = 14,74 %
Melalui hasil perhitungan diketahui bahwa nilai hitungan KP = 14,74 %. Hal ini berarti bahwa kontribusi program Simpan Pinjam Perempuan terhadap tingkat sosial ekonomi rumah tangga adalah sebesar 14,74 % sedangkan 85,26 % diperoleh dari luar kegiatan Simpan Pinjam Perempuan yaitu jumlah pendapatan rumah tangga responden.
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka pada bab ini penulis akan memberikan kesimpulan dan saran mengenai Progaram Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan terhadap sosial ekonomi keluarga. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Kegiatan Simpan Pinjam untuk Kelompok Perempuan (SPP) merupakan salah satu kegiatan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan. Kegiatan simpan Pinjam Perempuan yang ada di Desa Ononamolo II Lot ini diikuti oleh 4 kelompok dengan dana pinjaman yang digunakan untuk penambahan modal usaha adalah rata-rata 2 juta rupiah. Usaha yang dikembangkan oleh anggota kelompok adalah berternak babi ataupun ayam, bertani karet ataupun coklat, dan berdagang.
2. Berdasarkan uji hipotesa terhadap Pengaruh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan berupa pemberian bantuan modal usaha kegiatan Simpan Pinjam Perempuan terhadap sosial ekonomi rumah tangga terdapat hubungan yang lemah tapi pasti atau kurang berpengaruh karena memberikan kontribusi sebesar 14,74 %. Faktor-faktor yang menyebabkan hasil kurang berpengaruh adalah lama keanggotaan, kurangnya pengawasan dan penyuluhan dari pengelola kegiatan, kurangnya partisipasi aktif anggota, tidak sesuai kebutuhan dana pinjaman yang
didapatkan, serta faktor lain seperti adanya syarat agunan dan kurang profesional dalam pengelolaan usaha.
6.2 Saran
Hasil penelitian ini pada akhirnya mencoba memberikan masukan atau beberapa saran yang ditunjukkan kepada semua pihak yang mempunyai kepentingan. Disini peneliti mencoba memberikan saran antara lain :
1. Dari uraian permasalahan mengenai kurang berpengaruhnya program pemerintah ini, maka ditemukan kelemahan dalam pemberian dana pinjaman seperti tidak tepat sasaran penggunan, dana pinjaman yang tidak sesuai, pengelolaan usaha yang tidak profesional. Sebagai pertimbangan untuk memberhasilkan program ini, seharusnya pengelola kegiatan tetap rutin melakukan pengawasan melalui penyuluhan agar program ini tepat sasaran dan efektif. Selain itu, pengelola seharusnya memberikan dana sesuai kebutuhan dan anggota juga seharusnya meminta dan mendapatkan dana sesuai kebutuhan usaha mereka.
2. Partisipasi aktif anggota dalam mengikuti kegiatan Simpan Pinjam Perempuan ini, akan membantu pemerintah memberhasilkan program ini. program pemberdayaan ini tidak akan berhasil tanpa bantuan partisipasi aktif anggota, karena pemberdayaan mewajibkan anggota bukan sebagai objek saja melainkan juga sebagai subjek, sehingga mereka dapat mandiri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Kemiskinan
2.1.1 Pengertian Kemiskinan
Sebagai suatu kondisi, kemiskinan adalah suatu fakta dimana seseorang atau sekelompok orang hidup di bawah atau lebih rendah dari kondisi hidup layak sebagai manusia disebabkan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sementara sebagai suatu proses, kemiskinan merupakan proses menurunnya daya dukung terhadap hidup seseorang atau sekelompok orang, sehingga pada gilirannya ia atau kelompok tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak pula mampu mencapai taraf kehidupan yang dianggap layak sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia.
Secara umum, istilah miskin atau kemiskinan dapat dengan mudah kita artikan sebagai suatu kondisi yang kurang atau minim. Dalam hal ini konsep kurang maupun minim dilihat secara komparatif antara kondisi nyata kehidupan pribadi atau sekelompok orang di satu pihak dengan kebutuhan pribadi atau sekelompok orang di lain pihak. Pengertian minim disini bersifat relatif, dapat berbeda dengan rentang waktu yang berbeda. Dapat pula berbeda dengan lingkungan yang berbeda (Siagian, 2012: 2-4).
Beberapa ahli mengemukakan definisi kemiskinan :
1. Mencher (dalam Siagian, 2012: 5) mengemukakan, kemiskinan adalah gejala penurunan kemampuan seseorang atau sekelompok orang atau wilayah sehingga mempengaruhi daya dukung hidup seseorang atau
sekelompok orang tersebut, dimana pada suatu titik waktu secara nyata mereka tidak mampu mencapai kehidupan yang layak.
2. Pearce (dalam Siagian, 2012: 7) mengemukakan, kemiskinan merupakan produk dari interaksi teknologi, sumber daya alam dan modal, dengan sumber daya manusia serta kelembagaan.
3. Castells (dalam Siagian, 2012: 10) mengemukakan, kemiskinan adalah suatu tingkat kehidupan yang berada di bawah standar kebutuhan hidup minimum agar manusia dapat bertahan hidup.
2.2 Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan
Secara umum faktor-faktor penyebab kemiskinan secara kategoris dengan menitikberatkan kajian pada sumbernya terdiri dari dua bagian besar, yaitu :
1. Faktor Internal, yang dalam hal ini berasal dari dalam individu yang mengalami kemiskinan itu yang secara substansial adalah dalam bentuk kekurangmampuan, yang meliputi :
a. Fisik misalnya cacat, kurang gizi, sakit-sakitan.
b. Intelektual, seperti : kurangnya pengetahuan, kebodohan, miskinnya informasi.
c. Mental emosional atau temperamental, seperti : malas, mudah menyerah dan putus asa.
d. Spiritual, seperti : tidak jujur, penipu, serakah dan tidak displin. e. Sosial psikologis, seperti : kurang motivasi, kurang percaya diri,
f. Keterampilan, seperti : tidak memiliki keahlian yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.
g. Asset, seperti : tidak memiliki stok kekayaan dalam bentuk tanah, rumah, tabungan, kendaran dan modal kerja.
2. Faktor Eksternal, yakni bersumber dari luar diri individu atau keluarga yang mengalami dan menghadapi kemiskinan itu, sehingga pada suatu titik waktu menjadikannya miskin, meliputi :
a. Terbatasnya pelayanan sosial dasar.
b. Tidak dilindunginya hak atas kepemilikan tanah sebagai asset dan alat memenuhi kebutuhan hidup.
c. Terbatasnya lapangan pekerjaan formal dan kurang terlindunginya usaha-usaha sektor infomal.
d. Kebijakan perbankan terhadap layanan kredit mikro dan tingkat bunga yang tidak mendukung serta usaha mikro.
e. Belum terciptanya sistem ekonomi kerakyatan dengan prioritas sektor riil masyarakat banyak.
f. Sistem mobilisasi dan pendayagunaan dana sosial masyarakat yang belum optimal, seperti zakat.
g. Dampak sosial negatif dari program penyesuaian struktural (structural adjusment program).
h. Budaya yang kurang mendukung kemajuan dan kesejahteraan. i. Kondisi geografis yang sulit, tandus, terpencil atau daerah bencana. j. Pembangunan yang lebih berorientasi fisik material.
l. Kebijakan publik yang belum berpihak kepada penduduk miskin. (Siagian, 2012: 114-116)
2.2 Pemberdayaan Masyarakat dan Pembangunan Sosial 2.2.1 Pengertian Pemberdayaan Masyarakat
Makna dari Pemberdayaan Masyarakat adalah suatu proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya yang dimiliki dan yang tersedia di lingkungan sekitarnya yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraannya secara mandiri. Paradigma pemberdayaan sosial yang disusun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) oleh Pemerintah dan Dewan Permusyawaratan Rakyat (DPR) berisi 3 poin yang diprioritaskan:
1. Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 33 yaitu "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat" dan pasal 34 berbunyi "Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara."
2. Triple Tracks Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), Pro-Employment, Pro- Income, Pro-Growth dalam bentuk agenda pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja dan penghapusan kemiskinan.
3. Strategi Pemberdayaan Sosial adalah pengurangan beban pengeluaran beban pengeluaran rakyat dan peningkatan pendapatan rakyat yang diwujudkan dari Gerakan KUTABUNG (Kerja, Untung dan Tabung) Pemberdayaan sosial merupakan suatu upaya untuk membangun semangat hidup secara mandiri di kalangan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup
masing-masing secara bersama-sama. Fakta ini sekaligus menjadi pertimbangan utama untuk tidak seharusnya membuat dikotomi di antara permasalahan sosial dan ekonomi. Setiap upaya perbaikan harus dilandasi oleh komitmen individu yang kuat dan mencakup aspek intelektual, spiritual dan emosional. Sasaran yang menjadi fokus penanggulangan kemiskinan melalui strategi pemberdayaan adalah penduduk miskin yang berusia produktif, yaitu berkisar antara 15 tahun hingga 55 tahun. Penduduk miskin pada kisaran usia ini yang sehat jasmani maupun rohani merupakan sumber daya manusia yang memiliki potensi besar untuk menjadi pelaku aktif dalam pembangunan.
Secara konseptual, pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerment), berasal dari kata 'power' (kekuatan atau keberdayaan). Karenanya, ide utama pemberdayaan bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan. Kekuasaan seringkali dikaitkan dengan kemampuan kita untuk orang lain melakukan apa yang kita inginkan, terlepas dari keinginan dan minat mereka.
Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan dalam (a) memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki kebebasan (freedom), dalam arti bukan saja bebas mengemukakan pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan; (b) menjangkau sumber- sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan; dan (c) berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka (Suharto, 2009:58).
Menurut Kieffer, pemberdayaan mencakup tiga dimensi yang meliputi kompetensi kerakyatan, kemampuan sosiopolitik, dan kompetensi partisipatif. Parsons juga mengakukan tiga dimensi yang merujuk pada:
1. Sebuah proses pembangunan yang bermula dari pertumbuhan individual yang kemudian berkembang menjadi sebuah perubahan sosial yang lebih besar.
2. Sebuah keadaan psikologis yang ditandai oleh rasa percaya diri, berguna dan mampu mengendalikan diri dan orang lain.
3. Pembebasan yang dihasilkan dari sebuah gerakan sosial, yang dimulai dari pendidikan dan politisasi orang-orang lemah dan kemudian melibatkan upaya-upaya kolektif dari orang-orang lemah tersebut untuk memperoleh kekuasaan dan mengubah struktur-struktur yang masih menekan (Parsons, dalam Suharto, 2009: 63).
2.2.2 Pembangunan Sosial
Pembangunan sosial secara khusus memiliki pengertian sebagai pembangunan yang menyangkut aspek non ekonomi dan dalam rangka tercapainya hak asasi atau kehidupan warga masyarakat sesuai harkat martabatnya sebagai manusia. Dalam rumusan Pre-Conference Working Party dari International Conference of Social Welfare, pembangunan sosial diartikan sebagai aspek keseluruhan pembangunan yang berhubungan dengan relasi-relasi sosial, sistem- sistem sosial dan nilai-nilai yang berhubungan dengan hal itu (Sumarnogroho, 1984, dalam Soetomo, 2010:312). Selanjutnya, dijelaskan pula bahwa pembangunan sosial memberi perhatian kepada keseimbangan kehidupan manusia
dalam memperbaiki atau menyempurnakan kondisi-kondisi sosial mereka. Rumusan tersebut termasuk pengertian pembangunan sosial yang memiliki cakupan yang cukup luas.
Konsep pembangunan sosial juga dapat dilihat kaitannya dalam rangka mewujudkan cita-cita Negara Kesejahteraan (Welfare State). Konsep tersebut bersumber dari pemahaman tentang fungsi negara. Dalam welfare state, negara tidak lagi hanya bertugas memelihara ketertiban dan menegakkan hukum, tetapi terutama adalah meningkatkan kesejahteraan warganya (Ndraha, 1987, dalam Soetomo, 2010:313). Dalam pandangan tersebut, negara dituntut untuk berperan aktif dalam mengusahakan kesejahteraan rakyatnya, yang didorong oleh pengakuan atau kesadaran bahwa rakyat berhak memperoleh kesejahteraan sesuai harkat dan martabatnya sebagai manusia. Dalam banyak hal, hak rakyat untuk memperoleh kesejahteraan ini juga akan terkait dengan Hak-Hak Asasi Manusia. Oleh karena itu pembangunan sosial merupakan tanggung jawab negara.
2.3 Pembangunan Desa 2.3.1 Pengertian Desa
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, desa adalah kesatuan wilayah yg dihuni oleh sejumlah keluarga yg mempunyai sistem pemerintahan sendiri (dikepalai oleh seorang kepala desa); kelompok rumah di luar kota yg merupakan kesatuan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2010). Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2005 tentang Desa, desa adalah masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pembahasan mengenai “desa” dapat ditinjau dari perspektif legal, perspektif sosial dan budaya, dan perspektif ekosistem. Dari perspektif legal, pemahaman tentang desa dapat dilihat dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2001 Tentang Pedoman Umum Pengaturan Mengenai Desa yang mendeskripsikan desa dengan ciri-ciri sebagai berikut: “Kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem Pemerintahan Nasional dan berada di Daerah Kabupaten”.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa untuk memenuhi ketentuan legal tersebut, suatu desa harus mempunyai institusi pelaksana pemerintahan desa sebagai berikut:
1. Pemerintahan desa yang terdiri dari Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa sebagai penyelenggara Pemerintahan Desa (Pasal 7);
2. Pemerintah Desa terdiri dari Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan Perangkat Desa yang terdiri dari unsur pelayanan seperti Sekretariat Desa dan atau Tata Usaha; unsur pelaksana teknis lapangan; dan unsur Pembantu Kepala Desa di wilayah bagian Desa seperti Kepala Dusun (Pasal 7);
3. Badan Perwakilan Desa yang selanjutnya disebut BPD adalah sebagai lembaga legislasi dan pengawasan dalam hal pelaksanaan peraturan Desa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, dan Keputusan Kepala Desa (Pasal 1); dan
4. Lembaga Kemasyarakatan Desa adalah Lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sesuai kebutuhan desa yang merupakan mitra Pemerintah Desa dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan (Pasal 1). Berdasarkan sudut pandang sosial dan budaya, desa merupakan unit lokasi permukiman masyarakat yang paling kecil yang mempunyai tata pemerintahan dan tata sosial sendiri. Desa merupakan wilayah otonom yang lebih tua daripada unit wilayah lain di atasnya. Selain pemahaman tentang desa, dikenal juga pemahaman tentang kawasan dan kawasan perdesaan. Berdasarkan sudut pandang ekosistem, maka pemahaman tentang desa akan lebih tepat dijelaskan apabila menggunakan istilah kawasan perdesaan. Dengan demikian hubungan antara pemahaman desa ditinjau dari sudut pandang ekosistem dengan pemahaman tentang kawasan perdesaan akan menemukan benang merahnya.
Desa merupakan suatu unit ekosistem yang paling kecil namun sangat kompleks. Suatu desa yang mempunyai ekosistem yang lengkap pada dasarnya merupakan suatu kawasan biologis yang mandiri, karena hal ini tidak terlepas dari faktor alasan pemilihan suatu desa menjadi tempat hunian (habitat) dari sekelompok masyarakat. Kehadiran manusia pada suatu lokasi dan kemudian memilihnya menjadi lokasi hunian sangat erat kaitannya dengan potensi dan daya dukung suatu tempat itu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang mendiami lokasi tersebut.
Dengan demikian, desa pada awalnya merupakan tempat untuk hidup. Jika kemudian terdapat tata pemerintahan yang mengatur peri-kehidupan masyarakat desa, hal tersebut merupakan upaya untuk melestarikan potensi dan daya dukung
suatu tempat agar layak dihuni. Dalam cara pandang terhadap desa dari sudut pandang desa sebagai kawasan perdesaan, maka suatu desa dapat dicirikan sebagai berikut:
1. Desa merupakan tempat bersemainya sistem ekologi yang memungkinkan suatu area tertentu mempunyai sumberdaya yang dibutuhkan oleh penghuninya. Dalam aspek ini, penghuni suatu kawasan perdesaan sangat menggantungkan potensi alam yang terdapat dalam lokasi tersebut, seperti sumber air baik berupa mata air, sungai, atau danau. Oleh karena itu, aspek konservasi sumberdaya yang berada di suatu kawasan perdesaan menempati derajat kepentingan yang tinggi. Tanpa adanya konservasi, maka suatu kawasan perdesaan tidak akan lestari.
2. Desa menyediakan area yang memungkinkan penghuninya melakukan suatu kegiatan yang dapat memberikan penghuninya sarana kehidupan. Dalam aspek ini, penghuni suatu kawasan perdesaan melakukan kegiatan bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kegiatan bercocok tanam merupakan kegiatan utama yang menghiasi wajah kegiatan penghuni kawasan perdesaan. Tanpa kegiatan bercocok tanam sebagai kegiatan utama penghuni kawasan perdesaan, maka suatu kawasan perdesaan akan kehilangan karakternya sebagai kawasan perdesaan.
3. Penghuni kawasan perdesaan juga melakukan kegiatan lain yang masih berhubungan dengan urusan bercocok tanam, seperti mengatur saluran dan pembagian air, pemeliharaan lahan bercocok tanam, pengolahan hasil cocok tanam, penyimpanan hasil cocok tanam, dan seterusnya. Dengan kata lain, desa menjadi wahana bagi para penghuninya untuk melakukan kegiatan lain
yang berhubungan dengan kegiatan utama di perdesaan. Hal ini mengharuskan para penghuni kawasan perdesaan menciptakan tata kelola desa yang merupakan embrio pemerintahan desa (Wrihatnolo, 2009). Tipologi menggambarkan tipe atau pola, ataupun sebagai pencerminan model berdasarkan kemiripan atau keserupaan ciri-ciri dan potensi dan kondisi sumber daya (alam, manusia, dan buatan) yang dimiliki oleh suatu desa, dapat pula dikaitkan dengan aspek topografinya, kegiatan ekonomi daerah yang dominan, kemampuan keswadayaan masyarakat, dan lainnya.
Pertama, tipologi desa dapat dilakukan berdasarkan aspek topografinya, maka tipologi desa dibagi sekurang-kurangnya menjadi empat, yaitu : (1) desa daerah pegunungan, (2) desa dataran tinggi, (3) desa dataran rendah, dan (4) desa (pesisir) pantai.
Kedua, tipologi desa didasarkan pada kegiatan pokoknya atau yang menonjol, maka dapat dibuat tipologi desa sebagai berikut : (1) desa agrobisnis, (2) desa agropolitan, (3) desa pariwisata, dan (4) desa non pertanian.
Ketiga, tipologi desa dapat pula dilakukan berdasar kemampuan keswadayaannya, meliputi : (1) desa swadaya (tradisional), (2) desa swakarya (transisional) dan (3) desa swasembada
Keempat, tipologi desa dapat pula dibedakan yaitu : (1) desa maju, (2) desa kurang maju, (3) desa berpenduduk padat, dan (4) desa terisolasi atau desa perbatasan.
Kelima, tipologi desa dapat dilihat pula dari keterikatan antara dua variabel/faktor misalnya : (1) antara tingkat kemakmuran (yang dicerminkan oleh tingkat pendapatan per kapita masyarakat) dan kemampuan berkembangnya suatu
daerah perdesaan yang diperlihatkan oleh tingkat pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto-nya (PDRB).
Keenam, tipologi desa (daerah) dapat pula dikelompokkan berdasarkan keterkaitan antara potensi pertumbuhan dengan ketersediaan prasarana dan sarana pembangunan perdesaan. Potensi pertumbuhan meliputi sumber daya penduduk dan sumber daya alam yang dicerminkan oleh kegiatan-kegiatan sektoral dan sub sektoral di daerah perdesaan yang bersangkutan (sub sektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan). Sedangkan prasarana pembangunan meliputi ketersediaan jaringan jalan dan irigasi, dan sarana pembangunan mencakup fasilitas pelayanan ekonomi (pasar, terminal, sarana angkutan, bank, koperasi, dan lainnya) dan fasilitas pelayanan sosial (fasilitas pendidikan seperti sekolah dan fasilitas kesehatan, misalnya Puskemas, Puskemas Pembantu, Klinik Keluarga, dan lainnya) (Adisasmita, 2006 : 73-75).
2.3.2 Pembangunan Desa
Disadari bahwa pembangunan perdesaan telah banyak dilakukan sejak dari dahulu hingga sekarang, tetapi hasilnya belum memuaskan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan. Pembangunan perdesaan seharusnya dilihat bukan hanya sebagai objek tetapi juga sebagai subjek pembangunan.
Pembangunan perdesaan harus dilihat sebagai : (1) upaya mempercepat pembanguan perdesaan melalui penyediaan prasarana dan sarana untuk memberdayakan masyarakat, dan (2) upaya mempercepat pembangunan ekonomi daerah efektif dan yang kokoh.
Pembangunan perdesaan bersifat multi aspek oleh karena itu perlu di analisis/ secara lebih terarah dan serba keterkaitan dengan bidang sektor, dan aspek diluar perdesaan (fisik dan non fisik, ekonomi dan non ekonomi, sosbud dan non spasial). Pembahasan berikut ini meliputi berbagai aspek yang terkait dengan kebijaksanaan dan strategi pembangunan perdesaan.
2.3.2.1 Tujuan Pembangunan Desa
Tujuan pembangunan perdesaan jangka panjang adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan secara langsung melalui peningkatan kesempatan kerja, kesempatan berusaha dan pendapatan berdasarkan pendekatan bina lingkungan, bina usaha dan bina manusia, dan secara tidak langsung adalah meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi pembangunan nasional. Tujuan pembangunan perdesaan jangka pendek adalah untuk meningkatkan efektifitas dan efesiensi dalam kegiatan ekonomi dan pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya alam.
Tujuan pembangunan perdesaan secara spasial adalah terciptanya kawasan perdesaan yang mandiri, berwawasan lingkungan, selaras, serasi, dan bersinergi dengan kawasan-kawasan lain melalui pembangunan holistik dan berkelanjutan untuk mewujudkan masyarakat yang damai, demokratis berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera.
2.3.2.2 Sasaran Pembangunan Desa
1. Peningkatan produksi dan produktifitas 2. Percepatan pertumbuhan
3. Peningkatan keterampilan dalam berproduksi dan pengembangan lapangan kerja dan lapangan usaha produktif
4. Peningkatan prakarsa dan partisipasi masyarakat 5. Perkuatan kelembagaan.
Pembangunan perdesaan yang dilaksanakan harus sesuai dengan masalah