• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.8 Hipotesa

Hipotesa dalam penelitian ini adalah :

H0 : Suspensi hati Unta (Camelus dromedarius L) tidak mempunyai efektivitas pada pola pernapasan Marmut jantan.

H1 : Suspensi hati Unta (Camelus dromedarius L) mempunyai efektivitas pada pola pernapasan Marmut jantan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Unta (Camelus dromedarius L)

Tinjauan hewan uji pada penelitian ini yaitu hati Unta yang meliputi beberapa aspek yaitu klasifikasi hewan Unta, deskripsi hewan Unta, keistimewaan Unta, dan khasiat hati Unta.

Gambar 2.1 Hewan Unta (Camelus dromedarius L) dan hati Unta kering. (Ustazamin, 2012)

2.1.1 Klasifikasi Hewan

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata Kelas : Mammalia

Ordo : Artiodactyla Family : Camelidae

Genus : Camelus Linnaeus

Spesies : Camelus bacrianus , Camelus dromedarius.

(Lilis, 2007)

2.1.2 Deskripsi Unta (Camelus dromedarius L)

Unta adalah hewan berkuku besar dari Afrika-Asia. Ada dua spesies Unta yaitu Unta berpunuk satu (Camelus dromedarius) dan Unta berpunuk dua (Camelus bactrianus). Nama dromedari sebenarnya diperuntukkan bagi ras khusus yang digunakan sebagai hewan tunggangan. (Lonnizal, 2013)

Hewan Unta mencapai tinggi 3 m dan tinggi pundak 2,20 m. Kakinya panjang, dan lehernya yang panjang dan bungkuk. Telinganya kecil, matanya berbulu mata panjang dan hidungnya dapat ditutup sebagai perlindungan terhadap pasir yang berterbangan. Kakinya terdiri atas dua jari yang terikat pada telapak dengan suatu lipatan kulit. Pada dada dan persendiannya terdapat bantalan kapalan. Rumus giginya ialah 1.1.3.3/ 3.1.2.1. Karena bibirnya berdaging tebal dan di sebelah mulutnya ada papila-papila panjang, maka Unta dapat memakan makanan keras dan berduri.

Hampir semua jenis tanaman kering dimakannya. Sewaktu makanan melimpah, dipunuknya ditimbun persediaan lemak. (Lonnizal, 2013)

Unta dromedarius lebih langsing dari pada Unta baktria dan berbulu lebih pendek. Warnanya juga lebih bervariasi. Tak jarang ada hewan berbercak putih, tetapi Unta dromedarius yang putih seluruhnya paling disukai. Pada Unta jantan terdapat kantung tenggorokan yang digelembungkan bila ada betina. Seekor Unta dromedarius dapat bertahan terhadap sangat berkurangnya air, lebih dari sepertiga berat badan dapat hilang. Unta dapat hidup lebih lama tanpa air daripada hewan manapun. Air dihisap dari jaringan dan sel-sel, sedangkan kadar serum darah hampir konstan, sehingga darah tetap bersirkulasi tanpa halangan. (Lonnizal, 2013)

Unta baktria yang dijinakkan bertubuh lebih berat dan berbulu lebih panjang daripada Unta dromedarius terutama di atas kepala, tengkuk, bahu dan punuk-punuknya. Warnanya umumnya coklat tua mulus, namun dikenal juga yang berwarna coklat muda bahkan putih. Unta baktria sangat tahan terhadap iklim dingin. Kulit bulu saljunya tebal sekali dan Unta berganti bulu pada musim semi. Unta baktria liar di gurun berpasir Mongolia berbeda karena warna gurunnya yang seragam, kulit bulunya yang lebih tipis, punuk-punuk lebih kecil, perkembangan yang lemah dari kapalan di kaki dan tak adanya kapalan di dada. (Lonnizal, 2013)

Punuk yang dapat mencapai berat maksimal 40 kg, dapat dianggap sebagai persediaan energi. Seekor Unta dromedarius tidak minum untuk hari depannya, melainkan sebenarnya untuk masa lampaunya. Unta minum air hanya sebanyak yang hilang sejak pengisian terakhir, oleh karena berkeringat, buang air kecil, dan buang air besar. Secara relatif, Unta hanya kehilangan sedikit air, terutama oleh karena suhu tubuhnya berubah-ubah. Unta dromedari yang haus dapat menaikkan suhu badannya dengan 60C tanpa menderita demam. Pada musim salju dan bila hewan ini tidak sedang haus, variasi suhu badan sehari-hari hanya 20C. Bulu tebalnya juga memberika perlindungan baik supaya tidak kehilangan panas. (Lonnizal, 2013)

2.1.3 Keistimewaan Hewan Unta (Camelus dromedarius L)

Keistimewaan Unta (Camelus dromedarius L) dapat dilihat dari sistem-sistem yang dimilkinya, keistimewaan tersebut diantaranya :

1) Sistem Pencernaan

Unta (Camelus dromedarius L) mampu menghabiskan 30-50 kg makanan dalam satu hari, dalam situasi yang sulit binatang ini mampu hidup selama satu bulan dengan hanya mengkonsumsi makanan 2 kg rumput per hari. Punuk Unta (Camelus dromedarius L) mampu menyimpan sekitar 40 kg lemak, hal ini menjadikan Unta (Camelus dromedarius L) mampu berjalan berhari-hari di gurun pasir tanpa makanan apapun. Kebanyakan makanan di gurun pasir adalah kering dan berduri. Namun sistem pencernaan pada Unta (Camelus dromedarius L) telah diciptakan sesuai dengan kondisi yang sulit ini. Gigi dan mulut binatang ini telah dirancang untuk memungkinkannya memakan duri tajam dengan mudah. Perutnya memiliki desain khusus tersendiri sehingga cukup kuat untuk mencerna hampir semua tumbuhan di gurun pasir. Unta (Camelus dromedarius L) memiliki bibir yang sangat kuat dan mirip karet yang menjadikannya mampu memakan duri yang cukup tajam untuk merobek kulit yang tebal sekalipun. Di samping itu, Unta (Camelus dromedarius L) memiliki perut dengan empat bilik, serta sistem pencernaan yang sangat kuat yang mampu mencerna apa saja yang dimakan unta (Camelus dromedarius L). Ciri-ciri ini sangat sesuai bagi binatang yang hidup di iklim sangat kering. (Verhoeven, 2011)

2) Sistem Ekskresi

Sebagian besar binatang akan mati keracunan ketika urea yang terakumulasi dalam ginjal mereka berdifusi ke dalam darah. Akan tetapi Unta (Camelus

dromedarius L) mampu memaksimalkan penggunaan air dan zat-zat makanan dengan cara mengalirkan urea berulang-ulang ke liver. Struktur darah dan sel Unta (Camelus dromedarius L) sangatlah unik dan khas sehingga binatang ini mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama tanpa air di padang pasir.

(Verhoeven, 2011) 3) Sistem Sirkulasi

Dinding sel pada Unta (Camelus dromedarius L) memiliki struktur khusus yang mampu mencegah hilangnya air secara berlebihan. Tambahan lagi, adanya komposisi tertentu pada darah Unta (Camelus dromedariu L) mencegah terjadinya pengurangan laju sirkulasi darah pada saat kadar air dalam tubuh Unta (Camelus dromedarius L) menurun hingga batas minimum. Terdapat pula enzim albumin yang membantu daya tahan Unta terhadap rasa haus. Enzim ini terdapat dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan pada makhluk hidup yang lain. Ketika Unta (Camelus dromedarius L) yang mampu berjalan tanpa minum dalam waktu lama ini menemukan sumber air, Unta (Camelus dromedarius L) akan menyimpannya. Unta (Camelus dromedarius L )mampu meminum air sebanyak sepertiga berat badannya dalam waktu sepuluh menit. Ini berarti seratus tiga puluh liter dalam sekali minum dan tempat penyimpanannya adalah punuk Unta (Camelus dromedarius L). (Verhoeven, 2011)

4) Sistem Pernapasan

Ketika bernapas di padang pasir yang panas , sistem respirasi Unta (Camelus dromedarius L) menyisakan sedikit bekas uap air di dinding rongga hidungnya.

Bahkan uap air yang keluar dari paru-parunya akan diserap kembali oleh tubuh

Unta melalui sel khusus yang terdapat di rongga hidungnya. Berkat sistem pernapasan yang demikian, Unta (Camelus dromedarius L) mampu bernapas panjang saat berjalan jauh di gurun. Angin gurun yang muncul tiba-tiba biasanya menjadi pertanda kedatangan badai pasir. Butiran pasir menyesakkan nafas dan membutakan mata. Tapi, Allah telah menciptakan sistem perlindungan khusus pada Unta (Camelus dromedarius L) sehingga ia mampu bertahan terhadap kondisi sulit ini. (Verhoeven, 2011)

5) Sistem Reproduksi

Hewan Unta betina mulai masuk masa kawin yaitu pada umur 3 tahun, sedangkan jantan pada usia 5 atau 6 tahun. Peristiwa kopulasi terjadi selama 7-35 menit. Usia kehamilan Unta betina yaitu 15 bulan dan masa asuh anak 1-2 tahun. Musim kawin Unta yaitu pada musim dingin dan puncaknya pada musim hujan. (Verhoeven, 2011)

6) Sistem Gerak

Sistem gerak Unta (Camelus dromedarius L) terdiri atas tulang, sendi, dan otot.

Ketiganya bekerja sama membentuk sistem gerak. Sistem gerak inilah yang memberi bentuk tubuh, sebagai alat gerak, jalan, dan berlari serta melakukan berbagai aktivitas lainnya. Telapak kaki yang lebar menahannya dari tenggelam ke dalam pasir, dan berfungsi seperti pada sepatu salju. Kaki yang panjang menjauhkan tubuhnya dari permukaan pasir yang panas membakar di bawahnya. (Verhoeven, 2011)

7) Sistem Endokrin

Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Sistem endokrin disusun oleh kelenjar-kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin mensekresikan senyawa kimia yang disebut hormon. Hormon merupakan senyawa protein atau senyawa steroid yang mengatur kerja proses fisiologis tubuh. Pada hewan vertebrata mayoritas jenis hormonnya mirip dengan manusia. (Verhoeven, 2011)

8) Sistem Koordinasi

Sistem Koordinasi merupakan sistem saraf (pengaturan tubuh) berupa penghantaran impul saraf ke susunan saraf pusat, pemrosesan impul saraf dan perintah untuk memberi tanggapan rangsangan atau sistem yang mengatur kerja semua sistem organ agar dapat bekerja secara serasi. Sistem koordinasi pada hewan meliputi sistem saraf beserta indera dan sistem endokrin (hormon).

Sistem saraf merupakan sistem yang khas bagi hewan, karena sistem saraf ini tidak dimiliki oleh tumbuhan. Sistem saraf yang dimiliki oleh hewan berbeda-beda, semakin tinggi tingkatan hewan semakin komplek sistem sarafnya.

(Verhoeven, 2011) 9) Sistem Saraf

Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistem ini meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan kerja seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor dan efektor. Reseptor adalah satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh. Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan terhadap rangsangan. Contohnya otot dan kelenjar. Sistem saraf

terdiri dari jutaan sel saraf (neuron). Fungsi sel saraf adalah mengirimkan pesan (impuls) yang berupa rangsang atau tanggapan. Sistem saraf pada mamalia, secara general memiliki tingkat perkembangan yang lebih tinggi dari kelas lain.

Serebrum berukuran lebih besar jika dibandingkan keseluruhan bagian otak.

Serebellum juga berukuran lebih besar dan berlobus lateral 2 buah. Lobus optikus ada 4 buah, setiap bagian lateralnya dibagi oleh alur transversal menjadi lobus anterior dan posterior. Otak (Encephalon) terdiri dari beberapa bagian yang hampir sama dengan vertebrata yang lain, seperti prosencephalon, lobus opticus, cerebellum dan medulla oblongata. (Verhoeven, 2011)

10) Keistimewaan Lain

Tubuh Unta (Camelus dromedarius L) tertutupi oleh rambut lebat dan tebal.

Ini melindunginya dari sengatan sinar matahari dan suhu padang pasir yang dingin membeku setelah matahari terbenam. Beberapa bagian tubuhnya tertutupi sejumlah lapisan kulit pelindung yang tebal. Lapisan-lapisan tebal ini ditempatkan di bagian-bagian tertentu yang bersentuhan dengan permukaan tanah saat Unta duduk di pasir yang amat panas. Ini mencegah kulit Unta agar tidak terbakar. Lapisan tebal kulit ini tidaklah tumbuh dan terbentuk perlahan-lahan, tapi Unta (Camelus dromedarius L) memang terlahir demikian. Desain khusus ini memperlihatkan kesempurnaan penciptaan Unta. Kelopak mata Unta (Camelus dromedarius L) melindungi matanya dari dari debu dan butiran pasir.

Namun, kelopak mata ini juga transparan atau tembus cahaya, sehingga Unta (Camelus dromedarius L) tetap dapat melihat meskipun dengan mata tertutup. Bulu matanya yang panjang dan tebal khusus diciptakan untuk mencegah masuknya debu ke dalam mata. Terdapat pula disain khusus pada

hidung Unta (Camelus dromedarius L). Ketika badai pasir menerpa, Unta menutup hidungnya dengan penutup khusus. (Verhoeven,2011)

2.1.4 Khasiat Hati Unta (Camelus dromedarius L)

Hati Unta (Camelus dromedarius L) mengandung senyawa kitotefin yang berfungsi menstabilkan membran sel matosit yang dapat membetuk antibody pada tubuh. Antibody ini melekat pada sel matosit yang bisa mencegah pecahnya membran. Pecahnya membran bisa membuat otot-otot polos saluran napas berkontraksi,sehingga saluran napas menyempit. Hati Unta (Camelus dromedarius L) juga bisa dikonsumsi oleh semua kalangan dan semua umur baik anak-anak, remaja, dewasa ataupun lansia. Selain memang dikonsumsi seperti hati hewan lain, yaitu seperti hati Sapi atau hati Kambing, hati Unta ternyata juga berkhasiat sebagai obat. Unta (Camelus dromedarius L) hidup dipadang pasir yang kondisi airnya relatif sedikit serta udaranya yang berdebu, tetapi Unta kuat hidup di daerah tersebut.

Sehingga hati Unta (Camelus dromedarius L) mempunyai kekuatan tersendiri serta mempunyai manfaat yang baik untuk menyembuhkan penyakit ataupun untuk manfaat kesehatan. Beberapa manfaat dari hati Unta (Camelus dromedarius) yaitu sebagai berikut:

1) Mengobati Penyakit Asma

Penyakit asma merupakan penyakit yang berhubungan dengan saluran pernapasan. Penyakit asma sering disebut dengan penyakit sesak napas. Orang yang menderita penyakit asam akan dengan tiba-tiba mengalami sesak napas jika

asma ini sedang menyerang. Bahaya penyakit asma yang parah, jika sampai tidak tertolong maka bisa menyebabkan kematian.. Hati Unta memang lebh sulit dicari karena hanya ada di negara-negara yang menjadi habitat unta yaitu gurun pasir, sehingga harganya juga lebih mahal. Tetapi jika melihat dan membuktikan khasiatnya untuk sebagai obat maka akan tertarik untuk mengobati penyakit asma dengan hati Unta tersebut. Hati Unta ada yang basah dan ada yang kering, tetapi biasanya lebih banyak dijual dengan keadaan sudah kering agar bisa awet. Cara mengkonsumsi hati Unta (Camelus dromedarius L) untuk penyakit asma maka bisa dengan menggoreng hati Unta dengan menggunakan sedikit minyak atau bisa dengan dipanggang. Kemudian haluskan hati Unta (Camelus dromedarius L) menjadi bubuk. (Verhoeven, 2011)

2) Mengobati Rasa Lelah

Hati Unta (Camelus dromedarius L) juga mempunyai manfaat untuk bisa mengatasi lelah. Kandungan kaya akan manfaat gizi di dalamnya mampu menggantikan energi yang hilang dalam didalam tubuh sehingga akan kembali lagi. Untuk mengobati rasa lelah maka cara mengkonsumsinya dengan menggoreng hati Unta (Camelus dromedarius L) lebih baik hati Unta (Camelus dromedarius L) yang basah. (Verhoeven, 2011)

3) Menambah Energi

Selain sebagai obat penyakit asma yang ampuh, hati Unta (Camelus dromedarius L) ternyata juga bisa menambah energi pada tubuh. Kandungan lemak serta gizi yang ada didalam hati Unta (Camelus dromedarius L) mampu menambah energi tubuh sehingga tubuh akan lebih kuat dan sehat. Untuk menambah energi maka bisa mengkonsumsi hati Unta (Camelus dromedarius L) sesuai dengan selera

anda, bisa di goreng lalu dijadikan bubuk seperti mengobati penyakit asma, bisa digoreng saja lalu dimakan atau bisa juga digoreng lalu diseduh dengan air hangat, tunggu beberapa menit sampai air berubah warna agak hitam, kemudian minum air seduhan. (Verhoeven, 2011)

4) Mengobati Batuk

Hati Unta (Camelus dromedarius L) juga mempunyai manfaat lain yaitu untuk mengobati batuk. Batuk memang penyakit yang tidak membahayakan, tetapi jika dibiarkan akan mengganggu kegiatan dan aktifitas sehari-hari serta melelahkan karena sering batuk menjadikan tenggorokan sakit dan gatal. (Verhoeven, 2011)

2.2 Sistem Pernapasan 2.2.1 Tinjauan Anatomi

Pernapasan secara harfiah yaitu pergerakan oksigen (O2) dari atmosfer menuju ke sel dan keluarnya karbon dioksida (CO2) dari sel ke udara bebas. Pemakaian O2

dan pengeluaran CO2 diperlukan untuk menjalankan fungsi normal sel dalam tubuh, tetapi sebagian besar sel-sel tubuh kita tidak dapat melakukan pertukaran gas-gas langsung dengan udara, karena sel-sel tersebut letaknya sangat jauh dari tempat pertukaran gas tersebut. Karena itu, sel-sel tersebut memerlukan struktur tertentu untuk menukar maupun untuk mengangkut gas-gas tersebut. (Wilson, 2005)

Proses pernapasan terdiri dari beberapa langkah dan terdapat peranan yang sangat penting dari sistem pernapasan, sistem saraf pusat, serta sistem kardiovaskular. Pada dasarnya, sistem pernapasan terdiri dari suatu rangkaian saluran udara yang terdiri dari suatu rangkaian saluran udara yang menghantarkan udar luar agar bersentuhan dengan membran kapiler alveoli, yaitu pemisah antara sistem

pernapasan dengan sistem kardiovaskular. Pergerakan udara masuk dan keluar dari saluran udara disebut ventilasi atau bernapas. Sistem saraf pusat memberikan dorongan ritmik dari dalam untuk bernapas, dan secara refleks merangsang thoraks dan otot-otot diafragma, yang akan memberikan tenaga pendorong gerakan udara.

Sistem kardiovaskular menyediakan pompa, jaringan pembuluh dan darah yang diperlukan untuk mengangkut gas-gas antara paru dan sel-sel tubuh. Hb yang berfungsi baik dalam jumlah cukup diperlukan untuk mengangkut gas-gas tersebut.

Funsi yang cukup baik dari semua sistem ini penting untuk respirasi sel. Malfungsi dari setiap komponen dapat mengganggu pertukaran dan pengangkutan gas, dan dapat sangat membahayakan proses-proses kehidupan. (Wilson, 2005)

Sistem pernapasan mammalia khususnya manusia terdiri dari bagian saluran udara dan bagian pernapasan. Bagian saluran udara terdiri dari hidung (nasus), tekak (pharynx), jakun (larynx), tenggorok (trachea), Cabang tenggorok (bronkhus), ranting tenggorok (bronkhiolus). Bagian pernapasan merupakan tempat terjadinya pengambilan O2 oleh darah dan pelepasan CO2 oleh darah. Bagian pernapasan terdiri dari bronkhioli respiratori, kantung alveolus / dukti alveoli, alveolus. Organ pernapasan utama adalah paru-paru. (Wilson, 2005)

Gambar 2.2 Sistem Respirasi Pada Manusia (Campbell, 1999)

Berikut adalah struktur histologi dari bagian-bagian saluran pernapasan : 1) Hidung

Hidung adalah bagian yang paling menonjol di wajah, yang berfungsi menghirup udara pernapasan, menyaring udara, menghangatkan udara pernapasan, juga berperan dalam resonansi suara. Rongga hidung (cavum nasi) memiliki sepasang lubang di depan untuk masuk udara, disebut nares dan sepasang lubang di belakang untuk menyalurkan udara yang dihirup masuk ke tenggorokan, disebut choanae. Rongga hidung sepasang kiri kanan, dibatasi di tengan oleh sekat yang dibina atas tulang rawan dan tulang. (Pearce, 1993)

Dinding rongga ditunjang oleh tulang rawan dan tulang. Lantai, di depan terdiri dari tulang langit-langit, di belakang berupa langit-langit lunak. Atap juga ditunjang oleh tulang rawan sebagian dan sebagian lagi oleh tulang. Dari tiap dinding ada tiga tonjolan tulang ke rongga hidung, disebut conchae.

(Pearce, 1993)

Rongga hidung dibagi atas 4 daerah Vestibula, Atrium, Daerah pembauan, Daerah pernapasan. Vestibula adalah bagian depan rongga, atrium adalah bagian tengah. Daerah pembauan berada pada conchae yang atas, sedangkan daerah pernapasan terletak pada dua conchae yang bawah. Rongga hidung dilapisi oleh tunica mukosa. Kecuali di bagian depan vestibula sampai ke nares. Di sini dilapisi oleh kulit yang strukturnya sama dengan kulit wajah.

Epidermis dibina atas jaringan epitel berlapis menanduk, ada bulu, kelenjar minyak bulu, dan kelenjar peluh. Pada vestibula itu ada bulu yang keras, disebut vibrissae. (Pearce, 1993)

Tunica mukosa sendiri dibina atas jaringan epitel berlapis semu bersilia.

Di daerah pembauan epitel bersilia itu memiliki struktur dan fungsi khusus, yaitu sabagai indera bau. Diantara sel epitel batang bersilia tersebar banyak sel goblet. Pada lamina propria banyak terdapat simpul vena, simpul limfa dan kelenjar lendir. Tidak ada bulu, kelenjar minyak bulu maupun kelenjar peluh.

Kelenjar lendir itu disebut kelenjar Bowman. Tunica mukosa melekat ketat ke periosteum atau perichondrium di bawahnya. (Pearce, 1993)

Sekeliling rongga hidung ada empat rongga berisi udara yang berhubungan dengannya, disebut sinus paranasal. Keempat sinus itu berada pada tulang-tulang Frontal, Maxilla, Ethmoid, Sphenoid. Sinus dilapisi oleh tunica mucosa juga, seperti yang melapisi rongga hidung. Hanya saja lebih tipis dan sel-selnya lebih kecil-kecil serta sedikit mengandung kelenjar lendir.

Lamina propria tidak terliahat dengan jelas. (Pearce, 1993)

2) Tekak( Pharynx )

Daerah simpangan saluran napas dan saluran makan. Dibedakan atas tiga daerah yaitu daerah hidung (naso-pharynx) adalah bagian pertama pharynx kebawah, dilanjutkan dengan bagian oral organ ini yaitu oro-pharynx, daerah mulut (oro-pharynx), daerah jakun (laryngeo-pharynx). Di daerah mulut lapisan muscularis-mucosa dari tunica mucosa digantikan oleh serat elastis yang rapat dan tebal. Tunica submucosa hanya ada di dinding daerah hidung dan dekat ke kerongkongan. Di tempat lain tunica mukosa melekat langsung ke gumpal otot lurik sekitar leher. Lapisan serat elastis yang ada pada bagian bawah tunica mucosa itu berpaut rapat dan berjalin dengan jaringan interstisial otot. (Pearce, 1993)

Lamina propria tunica mucosa terdiri dari jaringan ikat rapat yang berisi jala serat elastis yang halus. Di daerah mulut dan jakun tunica mukosa dilapisi oleh jaringan epitel berlapis banyak dan mengelupas, sedang atapnya dibina atas jaringan epitel batang berlapis bersilia, dengan banyak sel goblet. Pada lamina propria, dibawah lapisan serat elastis, banyak terdapat kelenjar lendir.

(Pearce, 1993)

3) Jakun ( Larynx )

Gerbang trakea ini ditunjang oleh beberapa keping tulang rawan hialain dan elastis, jaringan ikat, serat otot lurik, dan dilapisi sebelah kelumen oleh tunica mucosa. Tunica mucosa itu memiliki kelenjar lendir. Keping tulang rawan yang menunjang jakun ialah tiroid, krikoid, epiglotis, aritenoid, kornikulat, kuneiform. Permukaan depan dan sebelah belakang epiglotis dan pita suara diselaputi epitel berlapis mengelupas. Didaerah lain yaitu dasar epiglotis, trakea dan bronkhus, epitel itu bersilia. (Pearce, 1993)

Pada tunica mucosa banyak sel goblet. Kelenjar lendir disini tergolong jenis tubulo-acinus. Sedikit kuncup rasa terdapat tersebar pada bagian bawah epiglotis. Pita suara berisi ligamen tiro-aritenoid, yang mengandung serat elastis dan dibagian sisisnya silengkapi serat otot lurik tiro-aritenoid. Ditengah ditutup dengan tunica mucosa yang tipis dari epitel berlapis mengelupas.

(Pearce, 1993)

4) Tenggorok ( Trakhea )

Saluran napas ini menghubungkan larynx dengan paru. Histologi dinding tenggorok dapat dibedakan atas tiga lapis, yaitu tunica mucosa, tunica

muscularis, tunica adventitia. Permukaan kelumen diselaputi tunica mucosa, dengan epitel batang berlapis semu dan bersilia, menumpu pada lamina basalis yang tebal. Pada selaput epitel banyak terdapat sel goblet. Lamina propria berisi banyak serat elastis dan kelenjar lendir yang kecil-kecil. Kelenjar terletak sebelah atas lapisan serat elastis. Dibagian posterior tenggorok kelenjar itu menerobos masuk tunica muscularis. Pada lamina propria terdapat pula pembuluh darah dan pembuluh limfa. Tunica muscularis sendiri sangat tipis dan tidak terlihat dengan jelas. (Pearce, 1993)

Tunica adventitia juga tidak terlihat secara jelas, dan berintegrasi dengan jaringan penunjang yang terdiri dari tulang rawan dibawahnya. Tulang rawan di bawah tunica adventitia itu tersusun dalam bentuk cincin-cincin hialin bentuk huruf C. Cincin inilah yang menunjang tenggorok pada sebelah samping dan ventral. Sedangkan dibagian dorsal tenggorok, ditempat itu adalah bagian terbuka cincin, terdapat serat otot polos yang susunannnya melintang terhadap poros tenggorok. Serat otot itu melekat kepada kedua ujung cincin,

Tunica adventitia juga tidak terlihat secara jelas, dan berintegrasi dengan jaringan penunjang yang terdiri dari tulang rawan dibawahnya. Tulang rawan di bawah tunica adventitia itu tersusun dalam bentuk cincin-cincin hialin bentuk huruf C. Cincin inilah yang menunjang tenggorok pada sebelah samping dan ventral. Sedangkan dibagian dorsal tenggorok, ditempat itu adalah bagian terbuka cincin, terdapat serat otot polos yang susunannnya melintang terhadap poros tenggorok. Serat otot itu melekat kepada kedua ujung cincin,

Dokumen terkait