• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Deskripsi Hasil Penelitian (Data Primer)

2. Analisis Data, Pengujian Hipotesis dan Pembahasan

2.2 Hipotesis kedua

Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang positif, erat dan signifikan antara skor mengikuti pendidikan, pelatihan dengan kinerja guru geografi SMA/MA di Kota Bandar Lampung Tahun 2010.

Untuk menguji kebenaran hipotesis tersebut, maka dilakukan perhitungan dengan menggunakan Korelasi Product Moment antara variabel X1 yaitu skor mengikuti

pendidikan, pelatihan dengan Y yaitu kinerja guru geografi SMA/MA diperoleh koefisien korelasi rx1y = 0,009.

Untuk mengetahui tingkat keeratan hubungan antara X1 dengan Y, maka koefisien korelasi rx1y =0,009 dikonsultasikan dengan nilai r pada Tabel 7 dan diperoleh hasil bahwa tingkat keeratan hubungan X1 dengan Y adalah sangat rendah yaitu antara 0,00-0,199. Sedangkan untuk mengetahui tingkat signifikansinya koefisien korelasi rx1y dikonsultasikan dengan rtabel untuk N = 54 dengan taraf signifikansi α = 5% yaitu sebesar 0,2656. Setelah dikonsultasikan dengan rtabel ternyata rx1y yang diperoleh lebih kecil daripada rtabel (rxy = 0,009 < rtabel = 0,2656) yang berarti koefisien korelasi hasil perhitungan tersebut tidak signifikan dan tidak dapat digeneralisasikan karena rhitung < rtabel, penafsiran terhadap koefisien korelasinya sangat rendah antara skor mengikuti pendidikan, pelatihan dengan kinerja guru geografi SMA/MA di Kota Bandar Lampung.

Dari hasil uji hipotesis kedua yang telah dilakukan dapat dijelaskan bahwa koefisien korelasi rx1y sebesar 0,009 ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif antara X1 dengan Y, dengan demikian hipotesis yang kedua dalam penelitian ini yang mengatakan ada hubungan yang positif, erat dan signifikan antara skor mengikuti pendidikan, pelatihan dengan kinerja guru geografi SMA/MA di Kota Bandar Lampung Tahun 2010 dapat diterima kebenarannya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menurut prosedur ilmiah skor mengikuti pendidikan dan pelatihan tidak signifikan berhubungan dengan kinerja guru, tidaklah berarti pendidikan dan pelatihan yang telah diselenggarakan selama ini sia-sia oleh karena tidak sedikit biaya yang telah dikeluarkan.Hal tersebut

sesuai dengan pendapat Ibun (2006:1-3) menyatakan bahwa banyak pihak yang menyelenggarakan penataran, pelatihan tapi belum bisa membuktikan penataran atau pelatihan itu ada hasilnya. Selanjutnya ia mengatakan bahwa pelatihan sekalipun selama ini kurang mampu menunjukkan hasil penataran, pelatihan pada kinerja (baik pada organisasi maupun peserta) umumnya dilakukan masih terbatas pada evaluasi-evaluasi selama penataran ataupun pelatihan berlangsung.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada guru geografi SLTA di Kota Bandar Lampung Tahun 2010 dapat diketahui bahwa skor mengikuti pendidikan dan pelatihan antara guru yang satu dengan yang lain jumlahnya berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh aktif atau tidaknya guru tersebut serta ketertarikan dari guru yang bersangkutan terhadap jenis pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru mata pelajaran geografi SMA/MA di Kota Bandar Lampung aktif atau tidaknya guru mengikuti pendidikan dan pelatihan dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya: (1) waktu diselenggarakannya kegiatan pendidikan dan pelatihan bersamaan dengan jadwal mengajar di kelas, sehingga tidak bisa ditinggalkan. (2) informasi diselenggarakannya kegiatan pendidikan dan pelatihan tidak sampai kepada guru- guru yang bersangkutan. Hal inilah yang diduga menjadi penyebab rendanya guru geografi SMA/MA di Kota Bandar Lampung mengikuti pendidikan dan pelatihan. Hal ini sangat disayangkan karena dari beberapa kegiatan tersebut dapat memberikan dampak positif bagi peranan guru geografi, karena dapat menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman serta dapat meningkatkan kompetensi

pedagogik dan kompetensi profesional guru khususnya dalam pembelajaran geografi.

Berdasarkan data yang telah diperoleh dari hasil penelitian, terlihat bahwa hanya sedikit guru yang sering mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan pembelajaran geografi. Kegiatan yang hampir semua guru geografi ikuti yaitu kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Geografi (MGMP) SMA/MA. Peranan guru sangat menentukan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan formal. Untuk itu guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya dalam kerangka pembangunan. Guru mempunyai fungsi dan peran yang sangat strategis dalam pembangunan bidang pendidikan dan oleh karena itu, perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat.

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 4 menegaskan bahwa guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Untuk dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, guru wajib untuk memiliki syarat tertentu salah satu diantaranya adalah kompetensi baik kompetensi pedagogik maupun kompetensi profesional dan untuk mendapatkan itu semua dapat diperoleh dengan mengikuti berbagai macam jenis pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan pendidikan yang dapat menunjang pembelajaran.

Pendidikan dan pelatihan merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan secara sadar dan terencana sebagai usaha untuk meningkatkan mutu tenaga kependidikan

khususnya guru. Semakin sering seorang guru mengikuti pendidikan dan pelatihan, maka cenderung akan semakin meningkat kemampuannya (kinerja). Sebagaimana yang dinyatakan oleh Notoadmojo (1992:30) penataran adalah suatu proses yang akan menghasilkan suatu perubahan perilaku. Secara konkrit perubahan perilaku itu berbentuk peningkatan kemampuan mencakup kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotor, di samping itu penataranpun mempunyai tujuan tersendiri yaitu sebagai upaya untuk meningkatkan gairah, inovatif, kreatif, kompetitif, dan mampu mengembangkan kegiatan pembelajaran yang produktif (Depdiknas, 2001:1). Karoma (2007:183) menyatakan dengan penataran akan diperoleh guru yang tetap muda dalam semangat, pengetahuan dan keterampilan.. Tujuan pelatihan menurut Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1995 : 223) adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap karyawan serta meningkatkan kualitas dan produktivitas organisasi secara keseluruhan, dengan kata lain tujuan pelatihan adalah meningkatkan kinerja dan pada gilirannya akan meningkatkan daya saing.

Masih terkait dengan tujuan dan manfaat pelatihan Henry Simamora (1988:346) mengatakan tujuan-tujuan utama pelatihan, pada intinya dapat dikelompokkan ke dalam lima bidang diantaranya memperbaiki kinerja. Sedangkan manfaat pelatihan diantaranya meningkatkan kuantitas dan kualitas produktivitas (1988:349).

Dokumen terkait