• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

H. Kerangka Pikir

I. Hipotesis

Sehubungan dengan masalah yang dikemukakan diatas, maka penulis mengemukakan hipotesis sebagai berikut:” Penerapan analisis Break Event Point merupakan cara tepat yang dilakukan oleh perusahaan sebagai alat bantu perencanaan laba.

PT.PERKEBUNAN NUSANTARA XIV (Persero) PABRIK GULA TAKALAR

PERENCANAAN LABA PENJUALAN

METODE ANALISIS BREAK EVENT POINT

HASIL LAPORAN LABA RUGI PERUSAHAAN

24 BAB III

METODE PENELITIAN A. Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Gula Takalar Desa Pa’rappunganta Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar. Sedangkan jangka waktu penelitian hingga perampungannya diperkirakan kurang lebih dua bulan.

B. Metode Pengumpulan Data

Penulis mengumpulkan data serta keterangan yang diperlukan dalam penyunan proposal maka penelitian ini menggunakan penelitian Studi Khusus (Case study Method) dan pengumpulan data melalui penelitian, sebagai berikut:

1. Penelitian pustaka (library research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan jalan mengadakan secara langsung terhadap beberapa buku sebagai bahan pustaka, serta karangan ilmiah yang erat kaitannya dengan masalah diatas. Dan ditambah pula bahan kuliah yang ada hubungannya dengan pembahasan proposal ini.

2. Penelitian lapangan (Field reserch), yaitu penelitian yang dilakukan dengan jalan mengadakan kunjungan secara langsung kepada objek penelitian yang telah ditetapkan. Untuk mengumpulkan data lapangan yang diperlukan, digunakan tehnik yaitu; Observasi, yaitu mengadakan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian. Dan interview, yaitu tanya jawab yang dilakukan dengan pimpinan perusahaan dan beberapa staf yang langsung menangani bidangnya.

C. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data

Jenis data yang akan digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut:

a. Data kualitatif yaitu data yang diperolehdari hasil perusahaan berupa keterangan-keterangan atau informasi baik secara lisan maupun tulisan yang terdiri atas gambaran umum perusahaan dan struktur organisasi.

b. Data kuantitatif yaitu data yang diperoleh dari perusahaan yang diteliti berupa angka-angka yakni volume penjualan serta harga jual yang ditetapkan oleh perusahaan dan dapat digunakan untuk pembahasan lebih lanjut yang dibutuhan dalam penelitian ini.

2. Sumber Data

Sumber Data yang akan digunakan dalam penyususnan skripsi ini adalah sebagai berikut:

a. Data Primer yaitu data yang diperoleh dengan mengadakan pengamatan secara langsung berdasarkan observasi dan wawancara dengan beberapa staf, pegawaiatau karyawan untuk disesuaikan dengan bahasan skripsi ini.

b. Data Sekunder yaitu data yang diperolah dengan jalan mengumpulkan dokumen-dokumen atau arsip-arsip serta informasi lainnya yang ada hubungannya dengan masalah yang akan diteliti.

26

D. Metode Analisis

Metode analisi datayang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriftif kuantitatif yaitu dengan memberikan gambaran tentang Break Event Pointsebagai perencanaan laba penjualan pada PT. Perkebunan Nusantara

XIV (Persero) Pabrik Gula Takalar. Rumus Matematik yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

a. Break Event Point dalam unit (Khasmir,2012:340) BEP (dalam unit)

Dimana :

BEP : Analisis titik impas (Break Event Point) FC : Biaya tetap (Fixed Cost)

VC : Biaya variabel persatuan (Variable Cost) P : Harga jual persatuan (Price)

b. Break Event Point dalam rupiah (Khasmir,2012:341) BEP (dalam rupiah)

FC : Biaya tetap (Fixed Cost)

VC : Biaya variabel ( Variable Cost ) P : Harga jual persatuan (Price) S : Jumlah penjualan ( Sales Volume )

27 A. Sejarah Berdirinya Pabrik Gula Takalar

Pendirian Pabrik Gula Takalar diawali oleh keputusan pemerintah untuk mengambil alih proyek pembangunan Pabrik Gula Takalar dengan SK Menteri Pertanian No.689/Kprs/81 tanggal 11 agustus 1981 PT. Berdasarkan SK Gubernur Kepala daerah tingkat 1 Sulawesi selatan No.102/2/1982, Pabrik Gula Takalar memperolah cadangan lahan seluas 11.500 Ha yang terdapat di Kabupaten Takalar dengan luas 6000 Ha, Kabupaten Gowa dengan luas 3.500 Ha, Dan Kabupaten Jeneponto dengan luas 2.000 Ha.

Peletakan batu pertama pada pembangunan pabrik pada tanggal 19 November 1982 dilakukan oleh bapak Gubernur Datil Sulawesi Selatan Pembangunan pada bulan November 1982 dan selesai bilan Agustus 1984 dengan menghabiskan dana sebesar Rp 63,5 Milyar yang terdiri dari Valuta Asing sebesar Rp 22,8 Milyar dan dana lokal sebesar Rp 40,7 Milyar. Pembangunan Pabrik Gula Takalar selesai pada tanggal 23 Desember 1984 dengan penyerahan Certicate Of Completion dan untuk performance Test Dilaksanakan tanggal 15 sampai 11 agustus 1985 yang telah mampu menghasilkan gula kwalitas super iorhigh sugar (SHS1) dan telah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 23 Desember 1987.

28

B. Status Pelimpahan ke PT. Perkebunan XXXXII (Persero)

Berdasarkan peraturan pemerintah No.5 tahun 1991, Pabrik Gula Takalar bersama dengan Pabrik Gula yang ada di Sulawesi Selatan termasuk Pabrik Gula Camming dan Pabrik Gula Bone semuanya yang dikelolah oleh PT. Perkebunan XX (Persero) digabung menjadi satu unit usaha yang berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Yang disebut PT. Perkebunan XXXII (Persero). Pendirian perusahaan perseroan dilakukan di jakarta didepan Notaris Imam Fatimah, SH yang dilaksanakan pada tanggal 25 September 1991. Modal dasar persero sebesar Rp 150 Milyar sedangkan modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh adalah Rp 130 Milyar.

Keberadaan PT. Perkebunan XXXII (Persero) sebagai BUMN baru di Sulawesi Selatan akan memberi peluang terutama dalam bentuk penggalian potensi-potensi ekonomiyang selama ini sebelum digarap,pengembangan, dan pembukaan lapangan tenaga kerja baru.

C. Status Pelimpahan ke PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero)

Berdasarkan peraturan pemerintah No.19 tahun 1996, Pabrik Gula Takalar bersama dengan pabrik gula yang ada di Sulawesi Selatan termasuk Pabrik Gula Camming dan Pabrik Gula Bone semuanya yang dikelolah oleh PT.

Perkebunan XXXII (Persero), PT. Bina Mulya Ternak (Persero) dilebur menjadi suatu perusahaan perseroan baru dengan nama PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero), dengan dilakukannya peleburan seperti yang tersebut diatas, maka segala hak dan kewajiban , kekayaan dan karyawan dari PT. Perkebunan XXXIV (Persero), PT. Perkebunan XXII (Persero), PT. Perkebunan XXXII (Persero), PT.

Bina Mulya Ternak (Persero) menjadi PT. Perkebunan XIV (Persero). Pendirian PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) dilKUKn di jakarta didepan notaris Harun Kamal SH, yang dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 1996. Banyaknya saham pada PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Sebanyak 112.500 lembar saham prioritas dan 22.500 lembar saham biasa atau seluruhnya senilai Rp 135 Milyar.

D. Letak Pabrik Gula Takalar

Pabrik Gula Takalar di desa pa’rappunganta. Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar sekitar 33 Km dari Mkassar. Sesuai SK Gubernur Kepala Daerah Tingakat I Sulawesi Selatan No. Tanggal 4 Februari 1982, pengadaan lahan pabrik gula takalar seluas 11.500 Ha, yang terdiri dari 6.000 Ha yang terletak di kabupaten Takalar, 3.500 Ha yang terletak di kabupaten Gowa, 2000 Ha yang terletak di kabupaten Jeneponto.

E. Visi dan Misi Pabrik Gula Takalar 1. Visi

Menjadi perusahaan agribisnis dan agroindustri di kawasan Timur Indonesia yang kompetetif, mandiri,dan memberdayakan ekonomi rakyat.

2. Misi

a. Menghasilkan produk utama berupa gula yang berdaya saing tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik atau internasional.

30

b. Mengelolah bisnis dengan tehnologi akrab lingkungan yang memberikan konstribusi nilai kepada produk dan mendorong pembangunan berwawasan lingkungan.

c. Melalui kepemimpinan, teamwork, inovasi dan sumber daya manusia yang kompeten dalam meningkatkan nilai secara terus menerus kepada shareholder dan stakeholder.

d. Menempatkan Sumber Daya Manusia sebagai pilar utama penciptaan nilai (Value Creation) yang mendorong perusahaan tumbuh dan berkembang bersama mitra strategis.

F. Struktur Organisasi Pabrik Gula Takalar

Organisasi merupakan suatu kerangka hubungan yang berstruktur berisi tentang wewenang, tanggung jawab, serta pembagian tugas untuk menjalankan suatu fungsi tertentu. Susunan organisasi pabrik gula takalar adalah sebagai berikut:

1. General Manger

Bagian atministrator pabrik gula takalar bertugas:

a. Merencanakan dan menetapkan kebijaksanaan dalam pengelolaan perusahaan sesuai yang ditetapkan direksi.

b. Memimpin, mengendalikan dan mengkoordinir secara fisik pelaksanaan tugas bagian tata usaha dan keuangan, pengolahan, instalasi dan tanaman agar tercapai kesatuan.

2. Kepala Bagian Tata Usaha dan Keuangan

Kepala bagian tata uasaha dan keuangan pabrik gula takalar bertugas:

a. Menjalangkan kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan general manager dalam bidang tata usaha dan keuangan sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Direksi.

b. Menjalankan kebijaksanaan dan rencana kerja yang ditetapkan administratur dalam bidang tata usaha dan keuangan sesuai yang ditetapkan Direksi.

c. Membantu administratur secara aktif dalam menyusun dan mengendalikan rencana kerja dan rencana anggaran belanja perusahaan dibidang tata usaha dan keuangan perusahaan.

3. Kepala Bagian Tanaman

Kepala bagian tanaman bertugas melaksanakan kebijaksanaan dan rencana kerja yang ditetapkan oleh administratur dibidang tanaman dan sesuai yang ditetapkan oleh Direksi.

a. Membantu General Manager dalam menyususn rencana kerja dan rencana anggaran belanja pada bagian tanaman.

b. Bertanggung jawab penuh atas kelancaran tanaman dari segi produksi dan produktivitas tanaman.

4. Kepala Bagian Instalasi

Kepala bagian instalasi bertugas:

a. Melaksanakan kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan oleh administrator di bidang instalasi pabrik gula, sesuai yang telah ditetapkan oleh direksi dengan berdaya guna dan berhasil guna.

b. Bertanggung jawab penuh atas kelancaran instalasi secara tepat.

32

c. Membantu secara aktif general manager dalam menyusun rencana kerja dan rencana anggaran belanja dibidang instalasi pabrik gula.

5. Kepala Bagian Pabrikasi/Pengolahan Kepala bagian pabrikasi/pengolahan

a. Memimpin, merencanakan, mengkoordinir serta mengawasi pelaksanaan semua kegiatan bidang pengolahan sesuai kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan oleh general manager dan direksi

b. Brtanggung jawab atas pelaksanaan fungsi pengolahan dan tertimbang sampai menjadi gula ditimbang agar dapat mencapai mutu produksi secara efektif dan efisien.

6. Kepala Bagian SDM Umum

Kepala bagian SDM umum bertugas:

a. Melaksanakan kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan oleh general manager dibidang SDM pabrik gula, sesuai yang telah ditetapkan oleh direksi dengan berdaya guna dan berhasil guna.

b. Bertanggung jawab penuh atas kelancaran SDM secara tepat.

c. Membantu secara aktif general manager dalam menyusun rencana kerja dan rencana anggaran belanja dibidang SDM pabrik gula.

7. Sistem Kepegawaian a. Sistem kerja

Sistem kerja pada pabrik gula takalar terbagi atas dua kelompok kerja yaitu;

1) Sistem kerja pada luar masa giling (LMG)

Semua karyawan mempunyai jadwal kerja dari hari senin sampai hari sabtu dengan jam kerja sebagai berikut:

Senin-sabtu: 07.00-15.00 Masuk kerja 2) Sistem Kerja Dalam Masa Giling (DMG)

a) Karyawan yang etrmasuk dalam golongan ini mempunyai jadwal kerja dari hari senin sampai dengan minggu dan dibagi selama 3 Shift.

b) Karyawan pelaksana/musiman, jadwal kerjanya:

Shift pagi : 07.00-15.00 Shift siang : 15.00-23.00 Shift malam : 23.00-07.00

c) Pengawas dan pembantu pengawas, jadwal kerjanya Shift pagi : 06.00-14.00

Shift siang : 14.00-22.00 Shift malam :22.00-06.00 d) Dinas harian, jadwal kerjanya:

Tabel 4.1 Jadwal kerja karyawan

Senin –Kamis 07.00-15.00 Masuk kerja

Jumat 07.00-12.00 Masuk kerja

Sabtu 07.00-15.00 Masuk kerja

Sumber: data yang diolah

34

b. Sistem upah

Sistem upah di pabrik gula takalar dibagi dalam tiga bagian:

1) Upah Bulanan

Upah bulanan ini diberikan kepada karyawan tetap dan besarnya tergantung pada golongan kerja tingkat kepegawaian. Upah ini dittapkan sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh perusahaan.

2) Upah Harian

Upah ini diberikan kepada karyawan tidak tetap yang biasanya terdiri dari pekerja harian.

3) Upah Lembur

Upah ini diberikan kepada karyawan yang bekerja lebih dari delapan jam kerja satu hari.

c. Keselamatan Kerja

Hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan kerja di pabrik gula Takalar untuk sekarang ini antara lain:

1) Penyediaan fasilitaskesehatan seperti poliklinik 2) Pembagian pakaian kerja, helm dan sarung tangan

3) Pembagian susu untuk operatoryang bekerja di cane yard, sekrap, belerang, pH meter dan tukang las.

4) Mencegah dan mengendalikan timbulnya polusimisalnya pengelolaan blotong menjadi kompos dan pengelolaan air limbah di kolam IPAL 5) Penyediaan perlengkapan alat pemadam kebakaran.

d. Kesejahteraan Karyawan

Pada pabrik gula takalar beberapa kesejahteraan karyawan telah disediakan antara lain yaitu fasilitas perumahan, fasilitas olahraga, fasilitas peribadatan, fasilitas koperasi, fasilitas pendidikan dan kesehatan.

1) Tenaga Kerja Tetap : 493 orang 2) Tenaga Kerja Tidak Tetap : 285 orang

Struktur Organisasi PT. Perkebunan NusantaraXIV (Persero) Pabrik Gula Takalar

Gambar 4.1: stuktur organisasi perusahaan Administratur

36 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Sumber Dan Penggunaan Modal Kerja PT. Pabrik Gula Takalar

Menyusun analisa sumber dan penggunaan dana dalam artian modal kerja atau statement of courses and uses of working capital, maka modal kerja yang dimaksud adalah modal kerja neto yaitu selisih antara current asset(aktiva lancar) dengan current liabilities(hutan lancar).

Dimana perubahan-perubahan current account tidak akan mempengaruhi besarnya modal kerja yang dapat mempengaruhi perubahan modal kerja adalah non current account yaitu perubahan aktiva tetap, hutang jangka panjang dan modal.

Bagi manajer keuangan analisa sumber dan penggunaan modal kerja merupakan alat analisa financial yang sangat penting, disamping alat analisa financial lainnya. Tujuan dari analisa tersebut adalah untuk mengetahui bagaimana dana digunakan dan dibelanjai. Laporan sumber-sumber dan penggunaan modal kerja suatu perusahaan juga sangat penting artinya bagi bank dalam penilaian permintaan kredit yang diajukan kepadanya.

Sebagai langkah awal untuk memudahkan dalam penyusunan analisa sumber-sumber dan penggunaan modal kerja adalah menyusun work sheet yang disusun atas dua neraca dari dua saat waktu.Laporan

tersebut menggambarkan perubahan dari masing-masing elemen neraca antara dua periode dan setiap perubahan elemen tersebut mencerminkan adanya sumber dan penggunaan modal kerja.

Lebih jelasnya dapat dilihat pada rasio likuiditas, aktivitas, sumber dan penggunaan modal kerja selama periode 2013-2015 dapat dilihat pada perhitungan rasio keuangan sebagai berikut:

PT. Pabrik Gula Takalar

Rasio Likuiditas Dan Aktivitas Tahun 2013-2015

I. RASIO LIKUIDITAS

38

Aktiva Lancar - Hutang Lancar

2013 = 185.616.000.000

2015 = 230.144.320.000.000

302.936.480.000 - 228.705.240.000

= 3,10

4 Short Term Turnover = Harga Pokok Penjualan Hutang Jangka Pendek

5 LongTerm Turnover = Harga Pokok Penjualan

Hutang Jangka Panjang

2013 = 275.630.000.000

235.435.000.000

= 1,17

2014 = 190.270.000.000

479.488.800.000

=

0,40

2015 = 217.407.870.300

526.095.111.360

= 0,41

Sumber: Laporan Keuangan PT. Perkebunan Nusantara XIV Pabrik Gula Takalar, diolah 2016

Deskripsi kinerja PT. Perkebunan Nusantara XIV Pabrik Gula Takalar berdasarkan ratio likuiditas dan aktivitas selama periode 2013-2015 dapat diuraikan secara partial sebagai berikut:

1. Ratio likuiditas ( Current Ratio/Rasio Lancar )

Kinerja perusahaan ini bila dilihat pada rasio lancer menunjukkan kinerja yang cukup baik, dimana pada tahun 2014 dan 2015 perusahaan dapat menjamin kewajiban jangka pendek dari aktiva lancar masing-masing sebesar 1,40% atau perusahaan dapat menyisihkan modal kerja bersih sebesar 40% dari aktiva lancer pada tahun 2013 dan 32% pada tahun 2014. Namun bila dilihat pada kondisi rasio lancar pada tahun 2013 menunjukkan kinerja yang kurang baik, dimana perusahaan hanya mampu menjamin kewajiban lancarnya hanya sebesar 52% atau perusahaan mengalami kekurangan modal kerja bersih atas aktiva lancar sebesar 48%.

40

2. Rasio Perputaran ( Turnover Ratio )

a. Total Assets Ratio ( Perputaran Total Assets )

Kinerja perusahaan bila dilihat dari rasio perputaran aktiva, menunjukkan kinerja yang cukup baik, dimana pada tahun 2013 perusahaan memanfaatkan 61% dari total aktiva untuk menciptakan pendapatan. Namun pada tahun 2013-2015, kinerja perusahaan ditinjau dari rasio ini cinderung mengalami penurunan yang signifikan, dimana perusahaan hanya memanfaatkan 48% (2014) dan 49% (2015) untuk menciptakan pendapatan. Dengan kata lain, terdapat investasi menganggur atau tidak dimanfaatkan untuk menciptakan pendapatan sebesar 52%

(2014) dan 51% (2015). Kondisi ini terjadi sebagai dampak dari meningkatnya kebutuhan modal kerja perusahaan atas hutang jangka panjang dan kerugian yang dialami perusahaan.

b. Networking Capital Turnover Ratio(Rasio Perputaran Modal Kerja Bersih) Berdasarkan rasio ini, pengelolaan modal kerja bersih relative baik (tahun 2014-2015) meskipun pada tahun 2013 menggambarkan kurang baiknya kinerja perusahaan atas dasar rasio ini (-3,31 kali) sebagai dampak dari kerugian yang dialami perusahaan. Namun pada tahun 2014 dan 2015, rasio perputaran modal kerja bersih yang dicapai perusahaan masing-masing sebesar 2,68 kali (2014) dan 3,40 kali (2015). Namun rasio ini masih dikategorikan kurang baik, sebab perusahaan masih membutuhkan waktu yang relative lama untuk memperoleh modal kerja dari penjualan, sehingga terdapat indikasi perusahaan masih mengalami keterikatan

terhadap utang (hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang) apabila perusahaan ini selama tiga tahun terakhir mengalami kerugian.

c. Short Term Debt Turnover Ratio (Rasio Perputaran Hutang Jangka Pendek)

Kinerja perusahaan atas rasio ini menunjukkan kinerja yang sangat kurang baik, dimana perusahaan belum mampu memaksimalkan penggunaan hutang jangka pendek untuk menciptakan harga pokok penjualan yang diubah menjadi kas dengan nilai masing-masing sebesar 0,95 kali (2013), 0,98 kali (2014), dan 0,95 kali (2015). Ini mengindikasikan perusahaan belum berupaya mengoptimalkan seluruh huang jangka pendek untuk menciptakan pendapatan, apalagi perusahaan selama beberapa periode kinerja belum mampu menciptakan laba yang diharapkan dapat menurunkan nilai ketergantungan perusahaan terhadap hutang jangka pendek.Gambaran rasio ini mengindikasikan perusahaan mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya kurang baik 360 hari kerja atau perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat jatuh tempo.

d. Long Term Debt Ratio (Rasio Perputaran Jangka Panjang)

Berdasarkan hasil perhitungan kinerja perusahaan berdasarkan rasio ini menunjukkan perusahaan selama 2 (dua) tahun terakhir (2014-2015) hanya mampu memanfaatkan hutang jangka panjang sebesar 0,40 kali (40%) pada tahun 2014 dan 0,41 kali (41%) pada tahun 2015 untuk menciptakan pendapatan atau terdapat investasi menganggur atas

42

dasarhutang jangka panjang sebesar 60% (2014) dan 59% (2015). Kondisi ini sebagai dampak penggantian baru mesin dan peralatan/perlengkapan pabrik yang sudah tua/rusak (umur aktiva sudah diatas nilai ekonomis dan atau dire-evaluasi nilai aktiva tetap).Sehingga dengan adanya penggantian aktiva produksi (yang masih sementara dalam pemasangan instalasi), maka untuk sementara mesin hanya berproduksi 50%-60% dari kapasitas produksi.

Diketahui bahwa apabila rasio ini tinggi mengindikasikan rendahnya tingkat likuiditas, sedangkan rasio rendah mengindikasin tingkat likuiditas yang tinggi. Berdasarkan uraian di atas, terlihat dari tahun 2014-2015 PT. Pabrik Gula Takalar memiliki rasio total aktiva terhadap modal kerja bersih paling rendah, artinya mengindikasikan PT.

Pabrik Gula Takalar berdasarkan rasio ini memiliki tingkat likuiditas yang rendah. Hal ini berarti bahwa pengelolaan modal kerja yang kurang baik atas aktiva, modal kerja jangka pendek dan hutang (hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang).

Untuk mengetahui lebih jelas manajemen modal kerja PT.

Perkebunan Nusantara XIV Pabrik Gula Takalar, dapat dilihat pada table 5.2 sumber dan penggunaan modal kerja di bawah ini:

TABEL 5.2

Sumber Dan Penggunaan Modal Kerja Periode 31 Desember 2013 S/D 31 Desember 2015 PT. Perkebunan Nusantara XIV Pabrik Gula Takalar

31 DESEMBER 2013 S/D 31 DESEMBER 2014 KODE

AKUN SUMBER MODAL KERJA NILAI KODE

AKUN PENGGUNAAN MODAL KERJA NILAI

300.2 400.1 400.3

Sumber Modal Kerja Berasal dari:

Kenaikan Hutang jangka Panjang Kenaikan RK antar unit, kudir. Dan Eks BPPG

Penurunan Nilai Rugi Usaha Tahun Berjalan Kenaikan Nilai saldo Rugi Usaha

Bertambahnya Modal Kerja

JUMLAH 370.066.800.000 JUMLAH 370.066.800.000

31 DESEMBER 2014 S/D 31 DESEMBER 2015 KODE

AKUN SUMBER MODAL KERJA NILAI KODE

AKUN PENGGUNAAN MODAL KERJA NILAI

300.1 300.2

Sumber Modal Kerja Berasal dari:

Kenaikan Hutang jangka Pendek

Penurunan RK antar unit, Kudir, dan Eks BPPG

Kenaikan Nilai saldo Rugi Usaha Kenaikan Nilai Rugi Usaha Tahun Berjalan

JUMLAH 81.493.551.360 JUMLAH 81.493.551.360

Sumber: PT. Pabrik Gula Takalar, Data dioalah, 2016

44

Laporan sumber dan penggunaan modal kerja digunakan untuk mengetahui hasil-hasil kerja aktivitas keuangan pada perusahaan dalam satu periode tertentu dan untuk melihat penyebab-penyebab terjadinya perubahan modal kerja serta untuk mengetahui dari mana sumber modal kerja diperoleh dan untuk apa modal kerja tersebut digunakan.

Berdasarkan table 5.2 di atas perusahaan mengalami kenaikan modal kerja sebesar Rp. 299.368.800.000,-. Peningkatan modal kerja pada PT. Pabrika Gula Takalar disebabkan oleh adanya kenaikan RK antar unit, kudir dan ekes BPPG Rp. 15.837.000.000.-, dan menurunnya kerugian tahun 2014 sebesar Rp.

110.176.000.000,-. Dengan menurunnya nilai aktiva pendek dan aktiva tetap, meningkatnya hutang jangka panjang, meningkatnya saldo rugi, maka perusahaan memiliki peningkatan modal kerja sebesar Rp. 299.368.000.000,-

Dilihat dari sisi penggunaan modal kerja terlihat perusahaan kurang mempertimbangkan prinsip-prinsip pembelanjaan, dimana sumber dana jangka panjang dipergunakan untuk membiayai modal kerja jangka pendek. Sehingga untuk alokasi penggunaan lain yang juga dapat kurang mendukung peningkatan operasional perusahaan seperti penambahan modal aktiva tetap jumlahnya relative besar, bahkan untuk membiayai alokas-alokasi lain mengakibatkan meningkatnya kebutuhan modal kerja. Dengan adanya peningkatan modal kerja tersebut akan menunjang kelancaran jalannya operasional perusahaan, seperti terlihat pada laporan sumber modal kerja dapat menutupi penggunaan modal kerjanya yang dapat menunjang perusahaan meningkatkan operasionalnya.

Berdasarkan analisis di atas, penggunaan modal kerja yang paling baik terlihat pada PT. Pabrik Gula Takalar pada tahun 2014 dan 2015, dimana penggunaanya diutamakan untuk pembayaran hutang perusahaan. Penambahan aktiva tetap dapat menunjang perusahaan untuk meningkatkan operasionalnya yang nantinya diharapkan meningkatkan pula pendapatan perusahaan, sedangkan pembagian deviden dapat meningkatkan kejahteraan pemilik saham dan pembayaran hutang perusahaan akan mengurangi resiko beban yang dapat ditimbulkan oleh hutang tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara dan deskripsi kualitatif laporan tahunan PT.

Pabrik Gula Takalar tahun 2013-2015 diperoleh penjelasan secara detail bahwa kenaikan tersebut terutama disebabkan peningkatan asset lancer berupa persediaan dan asset tidak lancer (investasi baru). Realisi investasi tahun 2014 sebesar Rp.

17.667 juta atau 38% dari RKAB dan 74% disbanding tahun 2013, disebabkan KI dari Bank BRI tidak cair dalam tahun 2014. Realisasi biaya produksi tahun 2014 sebesar RP. 259.764 juta atau 99% dari RKAP dan 103% dibandingkan tahun 2103, terutama disebabkan kenaikan biaya pembibitan, panen dan angkutan, pengolahan dan pengemasan terkait peningkatan produksi tebu dan hasil jadi.

Beban usaha sebesar Rp. 39.594 juta atau 112% dari RKAP dan 71% disbanding tahun 2013 antara lain disebabkan Kantor Kuasa Direksi PT. Perkebunan Nusantara X (Persero), Makassar diganti menjadi Kantor Penghubung dan karyawan PT. RNI (Persero) ditarik dari PG Takalar bulan April 2014. Beban lain-lain sebesar Rp. 15.550 juta atau 559% dari RKAP dan 447% dibandingkan tahun 2013, disebabkan kenaikan iuran tambahan Dapenbun sebagaimana

46

perjanjian yang telah ditandatangani bahwa pendaan pengelolaan pabrik gula berasal dari kredit Bank BRI. Dalam tahun 2014 kredit yang cair sebesar Rp. 20.

782 juta pada akhir tahun 2014, sehingga PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) memberikan dana talangan untuk operasional pabrik gula sebesar Rp. 152.591 juta. Hasil usaha tahun 2014 mengalami kerugian sebesar 39.508 juta dari sasaran RKAP laba Rp. 26.450 juta dan menurun disbanding tahun lalu rugi sebesar Rp.

782 juta pada akhir tahun 2014, sehingga PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) memberikan dana talangan untuk operasional pabrik gula sebesar Rp. 152.591 juta. Hasil usaha tahun 2014 mengalami kerugian sebesar 39.508 juta dari sasaran RKAP laba Rp. 26.450 juta dan menurun disbanding tahun lalu rugi sebesar Rp.

Dokumen terkait