A. Teori Terkait
1. Hipotesis Kuznets U Terbalik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Terkait
1. Hipotesis Kuznets U Terbalik
Kuznets (1901-1985) tercatat sebagai salah satu peneliti awal yang membahas kesenjangan. Bentuk rangkaian perubahan longitudinal (antar waktu) atas distribusi pendapatan (yang diukur berdasarkan koefisien gini) sejalan dengan pertumbuhan pendapatan per kapita. Dengan memakai data antar negara (cross-section) dan data dari sejumlah survei/observasi di setiap negara (time
series), evolusi kesenjangan dalam distribusi pendapatan pada awalnya
didominasi oleh apa yang disebut konsep Kuznets U Terbalik.
Profesor Simon Smith Kuznets, peraih nobel dalam bidang ekonomi pada tahun 1971, menemukan relasi antara kesenjangan pendapatan dan tingkat pendapatan perkapita. Kuznets mengemukakan bahwa saat periode-periode awal pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan cenderung memburuk, atau dengan kata lain ketimpangan yang tinggi. Akan tetapi, saat periode-periode berikutnya, hal tersebut akan membaik.
Proses transisi pertumbuhan ekonomi menurut Kuznets dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu terkonsentrasinya kapital pada sekelompok orang berpendapatan tinggi serta pergeseran struktur ekonomi dari sektor pertanian tradisional menuju sektor industri modern.
Kuznets berasumsi bahwa kelompok berpendapatan tinggi memberi kontribusi modal yang besar, sementara modal dari kelompok lainnya sangat kecil. Perbedaan kemampuan modal akan mempengaruhi konsentrasi peningkatan proporsi pemasukan dalam kelompok berpendapatan tinggi, ceteris
12
meningkatkan kesejahteraan kelompok pendapatan tinggi, kemudian akan memperbesar kesenjangan pendapatan dalam suatu negara.
Gambar 2.1 Kurva Kuznets U Terbalik
Koefisien Gini
Sumber: Todaro, 2004
Pendapatan Perkapita
Pada saat awal proses pembangunan, atau sering disebut sebagai periode perkembangan ekonomi oleh Kuznets, pendapatan perkapita dan koefisien gini akan meningkat. Pada tahap ini, lapangan kerja terbatas, setiap orang akan berebut meraih pekerjaan, namun tingkat upah yang diterima dan tingkat produktivitas saat bekerja terhitung tinggi sehingga hanya sebagian orang yang memiliki penghasilan lebih. Selain itu, sektor industri modern yang tengah mengalami pertumbuhan jauh lebih pesat daripada sektor pertanian tradisional yang relatif stagnan atau konstan sehingga makin memperlebar ketimpangan pembangunan. Ketimpangan tersebut ditandai dengan naiknya pendapatan perkapita dan koefisien gini.
Pembangunan yang bertumbuh pesat akan mencapai puncaknya pada tingkat tertentu atau pada tahap ekonomi industri. Setelah mencapai pucuk, pembangunan tetap tumbuh namun terjadi penurunan ketimpangan saat terjadi pergeseran struktur ekonomi dari tahap ekonomi industri menuju tahap pertanian tradisional sehingga menyebabkan pembangunan yang lebih merata.
13 2. Ketimpangan Pembangunan
Pertumbuhan ekonomi akan menghasilkan perbaikan distribusi pendapatan bila memenuhi sedikitnya dua syarat, yaitu memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan produktivitas (Rahardja dan Manurung, 2002). Apabila tidak memenuhi syaratnya, trade off atau pertukaran antara memilih distribusi pendapatan atau pertumbuhan ekonomi akan terjadi.
Nicholas Kaldor (1960) menyatakan bahwa semakin tidak merata pola distribusi pendapatan, semakin tinggi pula laju pertumbuhan ekonomi karena orang kaya memiliki rasio tabungan yang lebih tinggi daripada orang-orang miskin sehingga akan meningkatkan aggregate saving rate yang diikuti oleh peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Berbeda dengan ketimpangan distribusi pendapatan yang memperlihatkan ketimpangan antar kelompok masyarakat, ketimpangan pembangunan antar wilayah melihat perbedaan tingkat pembangunan antar wilayah. Sehingga, hal yang dipersoalkan bukan antara kelompok miskin atau kelompok kaya, melainkan antara wilayah maju dengan wilayah terbelakang.
Setiap daerah tidak memiliki kapasitas yang setingkat dalam pembangunan, dan ketika pembangunan dimulai di beberapa daerah, hambatan regional mungkin terlalu besar untuk menstimulus pertumbuhan ke daerah lain yang kurang beruntung. Selama hambatan perdagangan dan faktor aliran (perubahan teknologi dan komunikasi) tetap ada, ketimpangan regional makin terasa meningkat.
Masalahnya tidak sesederhana itu. Teori Myrdal tentang efek balik, kepedulian Hirschman dengan dualisme dan polarisasi, dan tebakan "empiris" Kuznets yang lebih berhati-hati menunjukkan bahwa bahkan aliran faktor internal mungkin tidak selalu sama dalam model klasik. Sebaliknya, saat tahap awal pembangunan nasional, ketimpangan regional justru meningkat lebih tajam karena sejumlah efek ketimpangan (Williamson, 1965).
14
Myrdal dalam Jhingan (2012) mengatakan bahwa ketimpangan pembangunan diciptakan oleh motif profit dalam sistem kapitalis yang membuat aktivitas ekonomi terpusat pada wilayah-wilayah yang memiliki harapan laba tinggi sehingga wilayah lain menjadi terlantar. Wilayah pusat kegiatan ekonomi tersebut kemudian merangsang investasi dan menyerap para tenaga kerja muda serta aktif yang berasal dari daerah kurang maju sehingga memperbesar
backwash effect atau dampak balik.
Selain dampak balik, perekonomian yang maju di daerah tertentu juga bisa menciptakan dampak sebar atau spread effect, yaitu saat permintaan yang meningkat di daerah maju akan meningkatkan permintaan tambahan berupa hasil industri rumah tangga, hasil pertanian, dan hasil industri barang konsumsi yang diproduksi oleh wilayah miskin. Myrdal menjelaskan pembangunan ekonomi menghasilkan operasi sebab-akibat sirkuler yang mewujudkan si kaya semakin untung dan si tertinggal semakin terbelakang dan terhambat, sehingga dampak balik (backwash effects) lebih besar daripada dampak sebar (spread
effects).
Sjafrizal (2017) mendefinisikan ketimpangan pembangunan wilayah adalah perbedaan distribusi pembangunan ekonomi antara wilayah satu dengan wilayah lainnya secara horizontal dan vertikal yang menyebabkan ketimpangan pembangunan ekonomi wilayah. Lebih lanjut, Sjafrizal menjelaskan beberapa faktor utama penyebab atau pemicu ketimpangan pembangunan wilayah, diantaranya:
1. Perbedaan kandungan sumber daya alam.
Perbedaan yang sangat besar dalam kandungan sumber daya alam yang dimiliki tiap wilayah dapat memicu terjadinya ketimpangan pembangunan antarwilayah. Perbedaan ini mempengaruhi aktivitas produksi terhadap wilayah yang bersangkutan. Wilayah yang mempunyai sumber daya alam yang lumayan banyak bisa membuat produk lebih banyak dengan biaya relatif murah, sehingga merangsang percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah.
15
Wilayah lain yang memiliki sumber daya alam yang sedikit memakan biaya produksi barang dan jasa menjadi lebih tinggi serta daya saing menjadi lemah, sehingga hal ini akan membuat pertumbuhan ekonomi daerah menjadi lebih lambat. Oleh demikian, perbedaan sumber daya alam ini bisa mendorong ketimpangan pembangunan antar wilayah menjadi lebih tinggi.
2. Perbedaan kondisi demografis.
Perbedaan tingkat pertumbuhan dan struktur penduduk, tingkat kesehatan dan pendidikan; kondisi ketenagakerjaan, kebiasaan, tingkah laku, dan etos kerja yang dipegang oleh masyarakat merupakan faktor demografis yang bisa mendorong terjadinya ketimpangan. Wilayah dengan kondisi demografis yang lebih baik cenderung mempunyai produktivitas kerja yang lebih tinggi. Hal ini mendorong peningkatan investasi yang kemudian selanjutnya akan meningkatkan penyediaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi wilayah. Jika kondisi demografis daerah kurang baik, maka tingkat produktivitas kerja masyarakat rendah. Hal ini kurang menarik bagi investor sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi lebih lambat.
3. Kurang lancarnya mobilitas barang dan jasa.
Mobilitas barang dan jasa mencakup aktivitas perdagangan produk dan migrasi masyarakat antar wilayah. Mobilitas yang terhambat akan menyebabkan tidak terdistribusinya kelebihan produksi suatu wilayah dengan baik, sehingga barang tersebut tidak dapat dijual ke wilayah lain yang membutuhkan. Begitu pula yang terjadi pada migrasi masyarakat. Migrasi yang kurang lancar dapat berdampak terjadinya kelebihan tenaga kerja pada suatu wilayah akibat gagal terserap oleh wilayah lain. Akibatnya, daerah terbelakang sulit mendorong proses pembangunannya.
4. Perbedaan konsentrasi kegiatan ekonomi wilayah.
Pertumbuhan ekonomi wilayah cenderung tumbuh lebih cepat terhadap wilayah dengan pusat aktivitas ekonomi yang cukup besar. Kondisi ini akan mendorong proses pembangunan wilayah melalui peningkatan penyediaan
16
lapangan kerja yang dapat menimbulkan kenaikan pendapatan masyarakat. Sebaliknya, apabila konsentrasi kegiatan ekonomi terhadap suatu daerah relatif rendah, selanjutnya akan mendorong terjadinya pengangguran serta rendahnya tingkat pendapatan masyarakat.
Konsentrasi kegiatan ekonomi bisa diawali dengan faktor-faktor, yaitu lebih meratanya fasilitas tranportasi baik transportasi laut, transportasi darat, dan transportasi udara, terdapatnya sumber daya alam yang lebih banyak di suatu daerah, kemudian yang terakhir yaitu kondisi demografis dengan kualitas yang lebih baik serta kuantitas yang lebih cukup.
5. Alokasi dana pembangunan antarwilayah.
Investasi adalah salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi. Wilayah yang mempunyai alokasi dana investasi atau dapat menarik investasi lebih banyak cenderung akan memiliki pertumbuhan ekonomi wilayah yang lebih cepat. Kondisi tersebut akan mendorong pembangunan daerah tersebut melalui lebih banyak penyediaan lapangan kerja serta peningkatan pendapatan per kapita. Sebaliknya, apabila investasi swasta dan investasi pemerintah yang masuk ke suatu daerah ternyata lebih rendah, maka pembangunan daerah dan aktivitas ekonominya kurang berkembang dengan baik.
Gambar 2.2 Kurva Ketimpangan Wilayah
Ketimpangan Wilayah
Tingkat Pembangunan Nasional
17
Selain itu, kesenjangan pembangunan antarwilayah yang terjadi selama ini terutama disebabkan oleh: a) distorsi pengelolaan sumber daya alam, b) distorsi perdagangan antarwilayah, dan c) distorsi sistem perkotaan-perdesaan.
Distorsi sistem perkotaan-perdesaan menggambarkan terjadinya kegagalan fungsi hierarki sistem kota. Hal ini menimbulkan over-concentration pertumbuhan di wilayah kota tertentu, khususnya di kota metropolitan dan besar. Pada segi lain, pertumbuhan perdesaan dan kota-kota lain relatif lebih tertinggal. Idealnya, interaksi dan keterkaitan yang positif baik antar tipologi kota maupun antara perdesaan dengan perkotaan sebagai suatu sistem perkotaan-perdesaan. Berdasarkan sudut pandang di atas, perkotaan-perdesaan adalah satu kontinum (Daryanto, 2003).
Ketimpangan menghambat pengentasan kemiskinan. Ketidaksetaraan pendapatan memengaruhi laju pertumbuhan yang memungkinkan pengurangan kemiskinan (Ravallion, 2004). Pertumbuhan menjadi kurang efisien dalam menurunkan kemiskinan di negara dengan tingkat ketimpangan awal yang tinggi atau di mana pola distribusi pertumbuhan lebih baik bagi non-miskin. Selain itu, ekonomi secara berkala mengalami guncangan dari berbagai jenis yang merusak pertumbuhan, ketimpangan yang lebih tinggi membuat proporsi populasi yang lebih besar rentan terhadap kemiskinan (Dabla et al, 2015).
Perbedaan potensi pada setiap wilayah membuat setiap wilayah mempunyai kebijakan dan caranya tersendiri dalam meningkatkan perekonomian daerahnya, sehingga ketimpangan ini berimbas pada tingkat kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Yang menjadi masalah ialah bukan pada perbedaan antar daerah, melainkan terdapat kecondongan melebarnya ketimpangan atau perbedaan yang terjadi sebagai dampak dari kebijakan pembangunan (Yunisti, 2012). Akses terhadap kebutuhan hidup dasar akan sulit dijangkau oleh penduduk miskin yang akan menyebabkan lingkaran kemiskinan tiada akhir dan akan diturunkan kepada generasi selanjutnya.
18 3. Ukuran Ketimpangan
Pengukuran ketimpangan didasarkan dari kategori yang diberlakukan oleh Bank Dunia (BPS). Bank Dunia mengelompokkan penduduk ke dalam tiga kelompok sesuai dengan besarnya pendapatan, antara lain:
a. 40% penduduk dengan pendapatan rendah b. 40% penduduk dengan pendapatan menengah c. 20 % penduduk dengan pendapatan tinggi
Ketimpangan pendapatan diukur dengan persentase jumlah pendapatan dari kelompok berpendapatan 40% terendah dibandingkan dengan total pendapatan seluruh penduduk. Adapun kategori ketimpangan ditentukan dengan menggunakan kriteria seperti berikut.
a. Apabila proporsi total pendapatan penduduk yang termasuk kategori 40% terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk kurang dari 12%, maka dikategorikan ketimpangan pendapatan tinggi.
b. Apabila proporsi total pendapatan penduduk yang termasuk kategori 40% terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk kurang dari 12-17%, maka dikategorikan ketimpangan pendapatan sedang/menengah.
c. Apabila proporsi total pendapatan penduduk yang termasuk kategori 40% terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk kurang dari 17%, maka dikategorikan ketimpangan pendapatan rendah.
Untuk mengukur ketimpangan, ada beberapa cara yang dapat digunakan dengan alat ukur ketimpangan, diantaranya:
a. Kurva Lorenz, mengukur ketimpangan berdasarkan bentuk kurva distribusi pendapatan.
b. Rasio Gini, mengukur ketimpangan berdasarkan luas kurva Lorenz. c. Generalized Entropi Measure (GEM) atau Indeks Theil.
d. Indeks Williamson, alat ukur ketimpangan dengan koefisien variasi. e. Konsep PDRB Per Kapita Relatif
19 a. Kurva Lorenz
Kurva Lorenz adalah kurva yang berbentuk dua dimensi (2D). Sumbu vertikal menggambarkan kumulatif persentase dari jumlah pendapatan, sementara sumbu horizontal menggambarkan kumulatif persentase dari populasi yang mempunyai pendapatan.
Dalam keadaan pembagian yang merata sempurna, kurva akan berbentuk garis diagonal dengan derajat 45. Kurva Lorenz akan selalu konveks jika rerata pendapatan adalah positif sehingga kurva tidak akan turun. Namun, kurva akan cekung jika rerata pendapatan adalah negatif sehingga kurva menaik.
Gambar 2.3 Kurva Lorenz
Sumber: Yunisti, 2012 b. Rasio Gini
Ratio antara daerah ketimpangan dalam kurva Lorenz dengan daerah ketimpangan sempurna merupakan ukuran ketimpangan pembagian pendapatan yang dikemukaan oleh Gini, yang biasa disebut dengan Rasio Gini. Umumnya, ukuran Rasio Gini yang digunakan adalah
πΊπ = 1 β β πππ π₯ (πΉπ
π+ πΉπ
πβ1)
π20 GR = Koefisien Gini
Fci = frekuensi kumulatif dari total pengeluaran di kelas pengeluaran ke-i Fci-1 = frekuensi kumulatif dari total pengeluaran di kelas pengeluaran ke-i (1-i) Fpi = frekuensi penduduk dalam kelas pengeluaran ke-
Koefisien Gini bernilai antara 0-1. Jika koefisien Gini bernilai 0 mempunyai arti pemerataan sempurna (setiap orang mendapat porsi dari pendapatan yang sama), sedangkan apabila bernilai 1 mempunyai arti ketimpangan sempurna (satu orang / kelompok tertentu di suatu wilayah menikmati semua pendapatan dalam wilayah tersebut).
c. Indeks Theil
Dibandingkan dengan ukuran ketimpangan yang lain, Indeks Theil memiliki kelebihan yaitu bisa didekomposisi menjadi ketimpangan dalam kelompok tersendiri (Within-Group) serta ketimpangan antar kelompok (Between-Group). Oleh demikian, kita bisa mengamati dengan lebih kentara tentang fenomena ketimpangan yang terjadi dalam distribusi pendapatan.
Meskipun dalam melihat ketimpangan pendapatan, Indeks Theil mampu memberikan gambaran kondisi ketimpangan yang ada, Indeks Theil mampu memecahkan permasalahan instrinsik yang ada dalam ketimpangan pendapatan regional (Akita, 2001). Nilai Indeks Theil ini berselang antara 0-1, artinya jika nilai Indeks Theil mendekati 0 (nol), maka ketimpangan sangat kecil atau sebaliknya, jika nilai Indeks Theil mendekati 1 (satu), maka ketimpangan semakin besar.
Tp = β π β π (π
πππ) log (
π
πππ
β
π
πππ
β )
Keterangan:Y = Jumlah PDRB perkapita seluruh Provinsi j Yi = PDRB perkapita Kabupaten/Kota i di Provinsi j
21 N = Jumlah penduduk seluruh Provinsi
Nij = Jumlah penduduk Kabupaten/Kota i di Provinsi j
Jika Tpi adalah ukuran ketimpangan pendapatan antar provinsi, maka
Tpi = β π (π
πππ
π) log (
π
πππ
πβ
π
πππ
πβ )
d. Indeks WilliamsonJeffrey G. Williamson meneliti hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan pada tingkat regional di suatu negara. Williamson memakai data tabel silang dari 24 negara. Temuan dari penelitian tersebut bahwa negara dengan ketimpangan pendapatan wilayah terbesar selalu diikuti oleh sekelompok negara dengan tingkat pendapatan perkapita menengah, ketimpangan wilayah yang relatif kecil ditemukan baik di negara yang pertumbuhan ekonominya tinggi ataupun negara belum berkembang.
Williamson menjelaskan hipotesis U Terbalik dalam lingkup wilayah. Peningkatan ketimpangan wilayah terjadi ketika pendapatan perkapita meningkat, kemudian akan bertahan dalam jangka waktu tertentu, lantas menurun. Williamson menyatakan dalam studinya bahwa masalah mendasar pada tahap awal pertumbuhan ekonomi adalah dualisme ekonomi yang dikenal dengan masalah utara-selatan. Pada tahap lanjut, pertumbuhan ekonomi akan ditemukan dengan hilangnya perbedaan antara utara-selatan dan adanya suatu langkah cepat menuju pemusatan wilayah.
Formula ini fondasinya adalah coefficient of variation, yaitu standar deviasi dibagi dengan rerata yang lazim digunakan untuk mengukur suatu perbedaan.
IW
=
ββ(Yi β Y
)2
fi/n
Y
22 IW = Indeks Williamson
Y = PDRB per kapita rata-rata seluruh daerah Yi = PDRB per kapita daerah
n = Jumlah penduduk seluruh wilayah fi = Jumlah penduduk wilayah
Jika IW mendekati 1 (satu) mempunyai arti sangat timpang dan bila Vw mendekati 0 (nol) mempunyai arti sangat merata. Kriteria dalam Indeks Williamson (IW) secara rinci dijelaskan sebagai berikut.
a. 0 < IW β€ 0,4 termasuk dalam kategori tingkat ketimpangan rendah. b. 0,4 < IW β€ 0,5 termasuk dalam kategori tingkat ketimpangan menengah. c. 0,5 < IW < 1 termasuk dalam kategori tingkat ketimpangan tinggi. e. Konsep PDRB Per Kapita Relatif
Konsep PDRB perkapita relatif menggunakan formulasi yang digunakan pada penelitian Jaime Bonet (2006). Rumusnya adalah sebagai berikut.
Iit = |PDRB Kapita Kab/Kotaππ‘
PDRB Kapita Provinsiππ‘ β 1| Keterangan:
Iit = Ketimpangan antar kabupaten/kota i tahun t PDRB Kapita Kab/Kotait = PDRB perkapita kabupaten/kota i tahun t PDRB Kapita Provinsit = PDRB perkapita provinsi i tahun t
Berdasarkan formulasi tersebut, kesetaraan sempurna terjadi saat PDRB perkapita kabupaten/kota sama dengan PDRB perkapita provinsi. Bonet (2006) mengemukakan bila hasil perhitungan pendapatan perkapita relatif kurang dari nol atau mendekati nol, maka semakin kecil ketimpangan dan menunjukkan tingkat pemerataan. Akan tetapi, bila hasilnya lebih dari satu atau mendekati satu, maka ketimpangan antar wilayah semakin besar.
23 4. Sumber Daya Alam
Sebagai modal dasar, sumber daya alam harus mampu dimanfaatkan sepenuhnya, namun dengan menggunakan cara yang tidak merusak. Bahkan sebaliknya, cara yang digunakan wajib dipilih yang dapat mengembangkan dan memelihara sumber daya alam agar modal dasar tersebut manfaatnya makin besar untuk pembangunan berkelanjutan di masa mendatang (Soerjani, 1987).
Salah satu mandat Bank Dunia dari konferensi Bretton Woods ialah mendorong pembangunan ekonomi jangka panjang dan pengentasan kemiskinan dengan menyediakan keuangan dan dukungan teknis untuk membantu negara-negara yang mereformasi sektor-sektor tertentu atau melaksanakan proyek yang spesifik, seperti membangun fasilitas kesehatan dan sekolah, memerangi penyakit, menyediakan listrik dan air, serta melindungi lingkungan.
Suparmoko (2002) menjelaskan lingkungan memiliki tiga fungsi utama, yaitu: a. Sebagai sumber bahan mentah yang dapat diolah di berbagai sektor ekonomi
untuk memenuhi kebutuhan manusia; b. Sebagai tempat pengolah limbah alami; dan
c. Sebagai pemberi jasa atau pelayanan langsung kepada manusia seperti pantai dan pemandangan yang indah dengan memberikan kesenangan melalui kegiatan pariwisata dan rekreasi; sungai sebagai prasarana transportasi air, hutan sebagai paru-paru dunia.
Berdasarkan pengamatan dan data lingkungan yang ada di Indonesia dan di banyak negara, terbukti bahwa ketiga fungsi utama lingkungan itu telah menyusut, yaitu sebagai pemasok sumber daya alam (bahan mentah) untuk sektor industri pengolahan maupun untuk pertanian telah merosot jauh.
Hilang atau berkurangnya ketersediaan sumber daya tersebut akan berdampak sangat besar bagi keberlangsungan hidup umat manusia di muka bumi ini. Sumber daya alam seperti ikan, hutan, dan lainnya adalah sumber daya yang tidak saja mencukupi kebutuhan hidup manusia, akan tetapi juga
24 Sumber Daya Alam Skala Waktu Pertumbuhan Stok (exhaustible) Habis dikonsumsi Minyak, Gas, Batubata Dapat didaur ulang Besi, Tembaga, Aluminium Alur (renewable)
Ada titik kritis Ikan, Hutan, Tanah Tidak ada titik
kritis Udara, Pasang surut, Angin Kegunaan Akhir SD Material Material Metalik Emas, Besi, Aluminium Material Nonmetalik Tanah, Pasir, Air
SD Energi Energi Energi Surya,
Angin, Minyak memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap kesejahteraan suatu bangsa (wealth of nation). Oleh demikian, permasalahan mendasar yang berhubungan dengan pengelolaan sumber daya alam adalah bagaimana mengelola sumber daya alam tersebut agar menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi manusia dengan tidak mengorbankan kelestarian sumber daya alam itu sendiri (Fauzi, 2004).
Gambar 2.4 Klasifikasi Sumber Daya Alam
Sumber: Fauzi, 2004
Hanley et al. (1997) menyarankan penggunaan pengukuran moneter dengan cara menghitung unit cost, harga riil, dan rente ekonomi dari sumber daya. Hal ini dilakukan karena timbulnya kesimpulan keliru terhadap kelemahan dalam pengukuran fisik yang seolah sisa ekonomis sumber daya menjadi panjang dan sumber daya alam tak lagi langka.
a. Pengukuran berdasarkan harga riil
Pengukuran ini merupakan standar pengukuran kelangkaan dalam ilmu ekonomi. Meski diterima sebagai standar pengukuran, pengukuran dengan harga riil mempunyai kelemahan. Distorsi pasar yang diakibatkan oleh intervensi
25
pemerintah bisa saja menyebabkan harga sumber daya naik. Sebagai contoh, kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mengurangi subsidi menyebabkan harga BBM naik, tapi harga ini bukan karena produksinya berkurang, melainkan karena intervensi pemerintah.
b. Pengukuran berdasarkan unit cost
Pengukuran ini didasarkan pada prinsip jika sumber daya mulai langka, biaya untuk mengekstraksinya menjadi semakin besar. Sebagai contoh, jika nelayan mulai menyadari bahwa ikan sudah mulai susah ditangkap, maka ia harus melaut ke daerah lebih jauh yang menyebabkan biaya tenaga kerja per produksi meningkat.
Salah satu kelebihan dari penggunaan pengukuran ini adalah adanya aspek perubahan teknologi dalam produksi. Ada beberapa catatan yang harus diperhatikan dalam pengukuran unit cost. Pertama, sulitnya mengagresikan kapital untuk memperoleh unit pengukuran kapital yang tepat. Kedua, substitusi antar biaya sering terjadi manakala biaya satu jenis input lebih mahal sehingga pelaku akan menggantinya dengan input yang lain. Ketiga, unit cost kurang baik karena lebih didasarkan informasi masa lalu.
c. Pengukuran berdasarkan rente kelangkaan (scarcity rent)
Peningkatan nilai scarcity rent menunjukkan tingkat kelangkaan sumber daya alam. Scarcity rent didefinisikan sebagai selisih antara harga per unit output dengan biaya ekstraksi marjinal atau sering disebut juga net price. Pengukuran ini didasarkan pada prinsip yang tak jauh berbeda dengan pengukuran harga riil, namun yang diukur ialah harga bersih atau net price.
Keterkaitan antara sumber daya alam dan aktivitas ekonomi akan terjadi bagi keberlangsungan dan ketersediaan sumber daya alam. Sumber daya alam menghasilkan barang dan jasa untuk proses industri yang berbasis sumber daya alam maupun dikonsumsi langsung oleh rumah tangga. Dari proses industri, barang dan jasa dihasilkan yang kemudian dapat dikonsumsi oleh rumah tangga. Kegiatan konsumsi oleh rumah tangga dan produksi oleh industri menghasilkan
26
limbah yang dapat didaur ulang. Proses daur ulang ini ada yang kembali langsung kepada lingkungan dan alam, juga ada yang balik ke industri seperti daur ulang kertas. Sebagian komponen dari limbah ini akan menjadi residual yang akan kembali ke alam atau lingkungan tergantung kemampuan kapasitas penyerapan atau asimilasinya. Secara alur, peristiwa tersebut dapat dilihat pada