• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI DAN KAJIAN PUSTAKA

D. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah tentang pemanfaatan abu terbang sebagai bahan tambah untuk pembuatan mortar semen portland dan kapur dengan cara diuji kuat tekan dan serapan airnya. Hipotesis yang ditarik adalah:

Ada pengaruh penambahan abu terbang terhadap mortar dengan bahan ikat semen portland dan kapur terhadap kuat tekan dan serapan air pada komposisi campuran bahan dengan perbandingan tertentu.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Populasi

Populasi adalah semua individu yang nantinya akan dikenai generalisasi penelitian yang diperoleh dari sampel (Sutrisno Hadi, 1975: 220). Populasi dalam di dalam penelitian ini adalah;

a. Mortar yang menggunakan dengan komposisi bahan 1PC : 1KP : 8PS b. Mortar yang menggunakan dengan komposisi bahan 0,9PC : 0,1AT : 1KP :

8PS.

c. Mortar yang menggunakan dengan komposisi bahan 0,8PC : 0,2AT : 1KP : 8PS.

d. Mortar yang menggunakan dengan komposisi bahan 0,7PC : 0,3AT : 1KP : 8PS.

e. Mortar yang menggunakan dengan komposisi bahan 0,6PC : 0,4AT : 1KP : 8PS.

Keterangan:

PS : Pasir

PC : Portland cement (Semen portland) AT : Abu terbang

KP : Kapur

Dari 5 macam komposisi perlakuan, masing-masing komposisi dibuat 7 buah benda uji untuk uji kuat tekan dan 5 buah benda uji untuk pengujian serapan air. Pengujian dilaksanakan pada saat benda uji berumur 56 hari ((SNI 03-6468-2000, 2002: 270).

B. Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi, sebagai contoh yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 1985: 1).

Sampel semen, pasir, kerikil diambil dari pengecer bahan bangunan yang diambil secara acak, sedangkan sampel abu terbang didapatkan dari PT. Varia Usaha Beton di Sayung, Demak.

Penelitian ini menggunakan sampel yang berupa benda uji kubus berukuran sisi 50 mm untuk uji kuat tekan tekan dan uji serapan air (SNI 03-6882-2002, 2002: 210), sedangkan yang terdiri atas satu kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan. Kelompok kontrol adalah mortar yang menggunakan bahan ikat semen dan kapur (1PC : 0AT : 1KP), sedangkan kelompok perlakuan dibagi menjadi empat, yaitu: (1) mortar yang menggunakan komposisi abu terbang sebesar 10% (0,9PC : 0,1AT : 1KP); (2) mortar yang menggunakan komposisi abu terbang sebesar 20% (0,8PC : 0,2AT : 1KP); (3) mortar yang menggunakan komposisi abu terbang 30% (0,7PC : 0,3AT : 1KP); (4) mortar yang menggunakan komposisi abu terbang 40% (0,6PC : 0,4AT : 1KP)

C. Bahan Susun Mortar

Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Air

Air yang digunakan dalam penelitian diambil dari jaringan air bersih dari Laboratorium Bahan Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang.

b. Semen

Semen yang digunakan adalah semen portland type I produksi PT.

Semen Gresik kemasan 50 kg.

c. Pasir

Pasir yang digunakan dalam penelitian adalah pasir Muntilan kabupaten Magelang.

d. Kapur

Kapur yang digunakan adalah kapur tohor yang lolos ayakan 0,6 mm.

e. Abu terbang

Abu terbang yang digunakan adalah abu terbang produksi PT. Tjiwi Kimia Putra yang didistribusikan pada PT. Varia Usaha Beton di Sayung Kabupaten Demak.

D. Variabel Penelitian

Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdapat 3 buah variabel, yaitu;

a. Variabel bebas

Variabel bebas yang dipakai dalam penelitian ini adalah prosentase bahan tambahan berupa subtitusi abu terbang terhadap kuat tekan dan serapan air pada mortar.

b. Variabel terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kuat tekan dan serapan air pada mortar untuk waktu pengerasan yang sama yang diperoleh dari hasil pengujian benda uji pada umur 56 hari.

c. Variabel kontrol

Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan dilihat konstan sehingga peneliti dapat melakukan penelitian bersifat membandingkan (Sugiyono, 1992: 20). Sebagai variabel kontrol dalam penelitian ini adalah bahan-bahan pembuatan mortar, alat-alat pengujian mortar, tempat pengujian mortar (laboratorium) yang mana hal-hal tersebut harus diperlakukan sama pada setiap perlakuan.

E. Metode Pengumpulan Data

Data merupakan keterangan-keterangan mengenai variabel yang akan diteliti. Penggunaan metode dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperoleh data yang obyektif.

Metode penelitian merupakan cara atau pendekatan yang akan di tempuh dalam melaksanakan penelitian eksperimen atau non eksperimen Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang akan dilaksanakan di Laboratorium Bahan Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang. Metode eksperimen digunakan untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab akibat dan besar hubungan sebab akibat tersebut dengan cara memberikan perlakuan-perlakuan tertentu pada beberapa kelompok eksperimen dan menyediakan kontrol pembanding (Nazir, 1983: 75).

F. Tahapan dan Prosedur Penelitian

Penelitian ini direncanakan dengan beberapa tahapan pekerjaan. Tahapan-tahapan tersebut meliputi:

a. Tahap persiapan, meliputi penyiapan bahan dan peralatan untuk penelitian.

Persiapan dan pemeriksaan bahan susun mortar dilaksanakan di Laboratorium Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang. Bahan susun mortar tersebut adalah; semen portland, kapur, pasir Muntilan dan abu terbang dari PT. Varia Usaha Beton produksi PT. Tjiwi Kimia Putra. Sedangkan air yang digunakan dalam penelitian adalah air dari instalasi air bersih di laboratorium.

b. Tahap pengujian bahan, tahap ini berfungsi untuk mengetahui karakteristik dari masing-masing bahan susun mortar.

c. Tahap pembuatan benda uji mortar, meliputi perhitungan dan penimbangan berat masing-masing bahan, pengadukan bahan, uji sebar mortar dan pengecoran pada cetakan.

d. Tahap perawatan, dilakukan dengan merendam benda uji mortar selama 56 hari atau ditutup dengan karung basah.

e. Tahap pengujian benda uji, baik itu pengujian kuat tekan dan serapan air pada mortar.

f. Tahap analisis data, yaitu tahap pengolahan data-data hasil penelitian.

g. Tahap pengambilan kesimpulan.

G. Peralatan Penelitian a. Ayakan

a. Ayakan dengan berturut-turut 4,8 mm; 2,40 mm; 1,2 mm; 0,6 mm; 0,3 mm; 0,15 mm yang dilengkapi dengan tutup, pan dan alat penggetar.

b. Ayakan nomor 4,8 mm dan 0,84 mm digunakan untuk pengujian kapur.

c. Ayakan nomor 0,074 digunakan untuk pemeriksaan abu terbang.

b. Timbangan, digunakan untuk menimbang bahan susun adukan mortar dan benda uji.

c. Gelas ukur, digunakan untuk mengukur banyaknya air yang akan digunakan untuk adukan mortar.

d. Stop watch, digunakan untuk pengukuran waktu pengujian.

e. Piknometer, digunakan untuk mengukur berat jenis bahan-bahan susun mortar.

f. Oven, digunakan untuk memanaskan dan mengeringkan bahan-bahan susun mortar dan benda uji.

g. Desikator, digunakan untuk mendinginkan bahan dan benda uji setelah dikeluarkan dari oven.

h. Ember aduk dan cetok, digunakan untuk mengaduk mortar.

i. Cetakan kubus mortar, digunakan untuk mencetak benda uji kubus mortar.

j. Jangka sorong dan siku-siku, digunakan untuk mengukur semua dimensi bahan dan benda uji.

k. Universal Testing Machine, digunakan untuk menguji kuat tekan mortar.

l. Bak rendam, digunakan untuk merendam benda uji selama masa perawatan benda uji.

H. Pemeriksaan dan Pengujian Bahan Susun Mortar

Sebelum bahan-bahan susun mortar digunakan, bahan-bahan tersebut diperiksa dan diteliti. Berikut ini adalah pemeriksaan terhadap-masing-masing bahan.

a. Semen portland

Dalam penelitian ini, pemeriksaan semen hanya dilakukan dengan pemeriksaan visual. Semen diamati warna dan kehalusan butirnya, kemudian jika terdapat gumpalan maka gumpalan semen tersebut dihancurkan sehingga butirannya benar-benar halus.

b. Kapur

Pemeriksaan kapur adalah dengan pemeriksaan visual sebagaimana pemeriksaan pada semen. Pemeriksaan lainnya adalah pemeriksaan berat jenis kapur, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

- Ambil sampel kapur secara acak, kemudian kapur tersebut dikeringkan dalam waktu 24 jam sampai benar-benar kering.

- Ambil sampel tersebut menjadi 2 bagian dengan berat masing-masing bagian 10 – 15 gram.

- Timbang masing-masing piknometer (W1 gram), pastikan piknometer dalam keadaan kering saat ditimbang. Tandai masing-masing piknometer tersebut agar tidak terjadi kesalahan memasukkan data.

- Masukkan sampel kapur ke dalam piknometer dengan hati-hati, jangan ada yang tertumpah, kemudian timbang piknometer + kapur tadi (W2 gram).

- Tuangkan air ke dalam piknometer sedikit-demi sedikit hingga menutupi atau membasahi semua kapur yang ada, kira-kira ½ dari piknometer.

Goyang-goyangkan piknometer agar semua sampel terbasahi oleh air, namun jangan ada yang tertumpah.

- Tutup piknometer dan diamkan selama 2 – 24 jam.

- Setelah didiamkan, hilangkan gelembung udara yang ada dengan merebusnya di atas kompor, setelah gelembung udaranya hilang, dinginkan sehingga suhunya sama dengan suhu ruangan. Tambahkan air lagi sampai memenuhi piknometer dan keringkan permukaan piknometer.

- Timbang piknometer (W3 gram), kemudian ukur suhunya (to C).

- Buang air dan sampel kapur yang ada dalam piknometer kemudian bersihkan, selanjutnya isi piknometer dengan air destilasi yang bersih hingga penuh. Usahakan tenggang waktunya tidak terlalu lama sehingga suhunya bisa dipertahankan. Keringkan permukaan piknometer dengan kain atau lap.

- Timbang piknometer berisi air (W4 gram) - Hitung berat jenis sampel yang ada.

c. Abu terbang

Pemeriksaan abu terbang adalah dengan pemeriksaan visual sebagaimana pemeriksaan pada semen dan kapur. Pemeriksaan lainnya adalah pemeriksaan berat jenis abu terbang, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

- Ambil sampel abu terbang secara acak, kemudian abu terbang tersebut dikeringkan dalam waktu 24 jam sampai benar-benar kering.

- Ambil sampel tersebut menjadi 2 bagian dengan berat masing-masing bagian 10 – 15 gram.

- Timbang masing-masing piknometer (W1 gram), pastikan piknometer dalam keadaan kering saat ditimbang. Tandai masing-masing piknometer tersebut agar tidak terjadi kesalahan memasukkan data.

- Masukkan sampel abu terbang ke dalam piknometer dengan hati-hati, jangan ada yang tertumpah, kemudian timbang piknometer + abu terbang tadi (W2 gram).

- Tuangkan air ke dalam piknometer sedikit-demi sedikit hingga menutupi atau membasahi semua abu terbang yang ada, kira-kira ½ dari piknometer.

Goyang-goyangkan piknometer agar semua sampel terbasahi oleh air, namun jangan ada yang tertumpah.

- Tutup piknometer dan diamkan selama 2 – 24 jam.

- Setelah didiamkan, hilangkan gelembung udara yang ada dengan merebusnya di atas kompor, setelah gelembung udaranya hilang, dinginkan sehingga suhunya sama dengan suhu ruangan. Tambahkan air lagi sampai memenuhi piknometer dan keringkan permukaan piknometer.

- Timbang piknometer (W3 gram), kemudian ukur suhunya (to C).

- Buang air dan sampel abu terbang yang ada dalam piknometer kemudian bersihkan, selanjutnya isi piknometer dengan air destilasi yang bersih hingga penuh. Usahakan tenggang waktunya tidak terlalu lama sehingga

suhunya bisa dipertahankan. Keringkan permukaan piknometer dengan kain atau lap.

- Timbang piknometer berisi air (W4 gram) - Hitung berat jenis sampel yang ada.

d. Pasir

1. Pemeriksaan berat jenis pasir

Langkah-langkah pemeriksaan berat jenis pasir adalah sebagai berikut:

- Keringkan pasir dalam oven dengan suhu 110o C sampai beratnya tetap, selanjutnya pasir didinginkan pada suhu ruang dengan menggunakan desikator. Pasir tersebut kemudian di rendam air selama 24 jam.

- Setelah 24 jam, air rendaman pasir dibuang dengan hati-hati agar butiran pasir tidak terbuang, menebarkan pasir dalam talam, kemudian dikeringkan di udara panas dengan cara membolak-balik pasir sampai kering.

- Masukkan pasir dalam pikonometer seberat 500 gram, kemudian masukkan air ke dalam piknometer hingga mencapai 90% isi piknometer. Putar dan guling-gulingkan piknometer sampai tidak terlihat gelembung udara di dalamnya. Jika ada gelembung udara, buang gelembung tadi dengan menggunakan pipet.

- Tambahkan air kembali pikknometer dengan air sampai batas 90%

kemudian ditimbang beratnya (Bt).

- Rendam piknometer dalam air dan ukur suhunya untuk penyesuaian perhitungan dengan suhu standar 25o C.

- Pasir dikeluarkan dan dikeringkan dalam oven dengan suhu 110o C sampai beratnya tetap kemudian didinginkan dalam desikator, timbang beratnya (Bk).

2. Pemeriksaan gradasi pasir

Langkah-langkah pemeriksaan gradasi pasir adalah sebagai berikut:

- Keringkan pasir dalam oven dengan suhu 110o C sampai beratnya tetap.

- Keluarkan pasir dari oven didinginkan dalam desikator selama 3 jam.

- Menyusun ayakan sesuai dengan urutannya, ukuran terbesar diletakkan di atas yaitu 4,8 mm; 2,4 mm; 1,2 mm; 0,6 mm; 0,3 mm dan 0,15 mm.

- Memasukkan pasir dalam ayakan paling atas, tutup dan ayak dengan cara digetarkan selama 10 menit kemudian diamkan pasir selama 5 menit agar pasir tersebut mengendap.

- Pasir yang tertinggal dalam masing-masing ayakan ditimbang beserta wadahnya..

- Gradasi pasir yang didapat dengan cara menghitung komulatif prosentase butir-butir pasir yang lolos pada masing-masing ayakan.

Nilai modulus halus pasir dihitung dengan menjumlahkan prosentase kumulatif butir yang tertinggal kemudian dibagi seratus.

3. Pemeriksaan kadar lumpur pasir

Langkah-langkah pemeriksaan kadar lumpur pasir adalah sebagai berikut:

- Mengambil contoh pasir yang lolos ayakan no. 200 (0,075mm) telah kering oven selama 24 jam dengan suhu 110o C, timbang beratnya kira-kira 100 gram (G1).

- Mencuci pasir dengan air bersih yaitu dengan menuangkan pasir ke dalam gelas ukur yang berisi air yang mencapai 200 cc. Kemudian goyang-goyangkan (kocok) gelas ukur hingga air dan pasir tercampur, selanjutnya diamkan selama 1 menit dan air dibuang.

- Percobaan ini diulang-ulang sampai air benar-benar jernih dan bersih.

- Kemudian pasir di taruh di cawan dan dikeringkan dalam oven selama 24 jam selanjutnya ditimbang beratnya (G2).

e. Air

Pemeriksaan terhadap air dilakukan secara visual, yaitu air harus bersih, tidak mengandung lumpur, minyak dan garam sesuai dengan persyaratan air minum. Air yang digunakan dalam penelitian ini adalah air dari laboratorium Jurusan Teknik Sipil UNNES.

I. Tahap Perancangan Adukan

Ada 3 tahapan dalam perancangan adukan ini, yaitu;

a. Perhitungan dan penimbangan bahan susun mortar

Dalam tahap ini semua bahan dihitung dan kemudian ditimbang sesuai kebutuhan dari masing-masing komposisi campuran yaitu semen portland, kapur, abu terbang, pasir dan air. Perbandingan komposisi campuran dari bahan susun mortar adalah menggunakan perbandingan berat, sehingga kebutuhan bahan ditentukan dengan berat sesuai kebutuhan masing-masing variasi komposisi campuran.

b. Pembuatan pasta mortar

Langkah-langkah dalam pembuatan pasta mortar adalah sebagai berikut:

- Setelah masing-masing bahan ditimbang, bahan kemudian diaduk dalam keadaan kering hingga homogen dalam bak adukan. Langkah ini dilakukan agar pencampuran bahan-bahan tersebut bisa lebih mudah dan merata sehingga diharapkan mendapat hasil yang merata.

- Tuangkan air ke dalam bak adukan dengan merata, kemudian aduk hingga didapatkan adukan yang merata.

- Diamkan selama kurang lebih 1 menit, di dalam bak adukan, kemudian aduk kembali hingga benar-benar tercampur merata.

c. Uji sebar pasta mortar

Syarat diameter rata-rata (dr) dari hasil uji sebar adalah 1 – 1,15 kali diameter semula (ds). Diameter cincin meja uji sebar adalah 100 mm, jadi

diameter rata-rata maksimum yang diijinkan adalah 115 mm. Langkah-langkah dalam uji sebar mortar adalah sebagai berikut:

- Setelah pasta mortar sudah diaduk dan siap digunakan, siapkan alat uji sebar mortar.

- Letakkan cincin sebar di atas meja sebar, lalu isi dengan pasta mortar hingga kurang lebih ½ dari cincin, padatkan dengan alat pemadat kurang lebih 20 kali tumbukan. Pengisian dilakukan dalam 2 lapis, setiap lapis harus dipadatkan.

- Ratakan permukaan atas mortar dalam cincin sebar dan bersihkan mortar yang menempel pada sisi luar cincin dan pada meja sebar.

- Angkat cincin sebar perlahan-lahan sehingga di atas meja sebar terbentuk kerucut terpancung.

- Meja sebar digetarkan sebanyak 25 kali selama 15 detik dengan tinggi jatuh meja ½ inchi atau 12,7 mm.

- Ukur diameter bawah mortar di atas meja sebar, minimal dari 4 arah yang berbeda, lalu hitung diameter rata-rata (dr) mortar.

- Jika hasil diameter rata-rata mortar lebih dari 115 mm, maka pengujian diulangi dengan menambah atau mengurangi pemakaian air dalam mortar.

J. Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Mortar a. Pembuatan benda uji mortar

Setelah uji sebar dilakukan tahap selanjutnya adalah pembuatan benda uji mortar. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut;

- Mortar di aduk sebagaimana langkah-langkah saat pembuatan pasta mortar.

- Mortar dimasukkan ke dalam cetakan kubus, pengisian cetakan dilakukan sebanyak 2 lapis dan setiap lapis dipadatkan 32 kali dengan alat pemadat.

Pencetakan kubus mortar harus dimulai paling lama 2 ½ menit setelah pengadukan.

- Ratakan permukaan kubus mortar dengan menggunakan sendok perata.

- Simpan cetakan kubus-kubus mortar tersebut di tempat yang lembab selama 24 jam.

- Setelah itu cetakan dibuka dan kubus-kubus tersebut dikumpulkan dan ditandai untuk masa perawatan benda uji.

b. Perawatan benda uji mortar

Perawatan benda uji mortar dilakukan selama 56 hari dengan merendamnya dalam air atau menyimpannya di tempat yang lembab. Masa perawatan diperkirakan sekitar 56 hari karena mortar tersebut menggunakan bahan tambah pozolan, di mana masa pengikatan pozolan lebih lambat jika dibandingkan dengan masa pengikatan semen portland biasa. Benda uji baru ditiriskan atau diangkat paling tidak 1 hari sebelum pengujian.

K. Pengujian Mortar a. Uji kuat tekan

- Masing-masing benda uji diukur panjang, lebar, tingginya dan ditimbang beratnya.

- Letakkan benda uji pada mesin uji tekan secara simetris.

- Jalankan mesin tekan dengan penambahan berat yang konstan. Perhatikan jarum manometer yang menunjukkan kenaikan kuat tekan yang terjadi.

- Lakukan pembebanan sampai benda uji hancur (beban maksimum), kemudian baca beban maksimum yang dapat ditahan benda uji dengan melihat jarum manometer.

- Lakukan pembebanan sampai benda uji hancur (beban maksimum), kemudian baca beban maksimum yang dapat ditahan benda uji dengan melihat jarum manometer.

b. Uji serapan air

- Mortar yang telah berumur 56 hari dimasukkan oven dengan suhu 110o C selama 24 jam.

- Setelah dioven, mortar kemudian ditimbang beratnya (W1 gram).

- Kemudian mortar direndam air selama 24 jam.

- Setelah 24 jam, mortar diangkat dan dibiarkan kering udara kemudian ditimbang beratnya (W2).

L. Analisis Data Hasil Pengujian

Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini dengan analisis regresi. Analisis regresi ini digunakan untuk menyelidiki hubungan atau

keterkaitan masing-masing variabel, yaitu hubungan variabel bebas dan variabel terikat. Hubungan yang didapat nantinya dinyatakan dalam persamaan matematik yang menyatakan hubungan fungsional antara variabel-variabel dan diharapkan dapat menyimpulkan populasi secara umum (Sudjana, 1996: 310).

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Bahan Susun Mortar dan Pembahasan 1. Air

Air yang digunakan dalam penelitian adalah air dari laboratorium Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang. Air diperiksa secara visual yang menandakan bahwa air yang digunakan layak untuk membuat adukan mortar. Air jernih tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa sehingga memenuhi syarat yang ditetapkan oleh SK SNI-S04-1989-F (1989:23).

2. Semen portland

Semen yang digunakan adalah semen portland jenis I produksi PT.

Semen Gresik dengan kemasan 50 kg/zak. Semen yang digunakan saat penelitian tidak menggumpal dan dalam keadaan kering sehingga semen layak digunakan sebagai bahan penelitian.

3. Pasir

Pasir yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasir Muntilan yang didapatkan dari toko bangunan terdekat dengan laboratorium tempat dilaksanakannya penelitian. Pasir Muntilan digunakan dalam penelitian ini karena secara umum mutu pasir tersebut memenuhi syarat untuk dapat

0.00

Berat butir lolos ayakan (%) Batas

Atas Batas baw ah Pasir Muntilan

digunakan sebagai bahan bangunan, walaupun demikian tetap perlu di adakan pemeriksaan mengenai mutu pasir tersebut. Berikut ini adalah hasil pemeriksaan yang dilakukan.

a. Kadar lumpur

Berdasarkan hasil 2 kali pemeriksaan yang dilakukan kadar lumpur pasir Muntilan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 3,707%

sehingga pasir memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan bangunan karena menurut SNI 03-6821-2002 (2002: 172) kadar lumpur maksimum yang diijinkan adalah 5%.

b. Gradasi pasir

Hasil pemeriksaan pasir Muntilan bahwa modulus kehalusan pasir adalah 2,96 sehingga telah memenuhi syarat yang ditetapkan SNI 03-6821-2002 (2002: 172) yakni dengan modulus halus 2,0 sampai 3,0.

Hasil pemeriksaan gradasi pasir Muntilan menunjukkan bahwa pasir masuk dalam kategori sebagai pasir adukan/mortar. Grafik 4.1 berikut ini adalah grafik hasil pemeriksaan gradasi pasir Muntilan.

Gambar 4.1. Grafik Uji Gradasi Pasir Muntilan

c. Berat jenis pasir

Pemeriksaan berat jenis pasir Muntilan dilakukan sebanyak 2 kali dan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa berat jenis pasir tersebut adalah 2,69. Berat jenis pasir Muntilan secara umum berkisar antara 2,5 sampai dengan 2,70 untuk beton normal dengan kuat tekan 15-40 MPa (Tjokrodimulyo, 1996), jadi pasir yang diperiksa tersebut masih memenuhi syarat sebagai bahan susun mortar.

4. Abu terbang

Abu terbang yang digunakan dalam penelitian ini adalah abu terbang produk atau sisa pembakaran PT. Tjiwi Kimia Putra yang didistribusikan pada PT. Varia Usaha Beton. Abu terbang terlebih dulu diperiksa sebelum digunakan sebagai bahan penelitian yaitu untuk bahan susun mortar.

a. Warna dan kehalusan abu terbang

Abu terbang yang diperiksa ternyata dapat lolos seluruhnya pada ayakan 0,075 mm dan jika diperhatikan dan dipegang/dirasakan dengan tangan abu terbang memiliki butiran yang lebih halus dari semen. Abu terbang tersebut berwarna coklat kehitaman.

b. Berat jenis abu terbang

Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan, abu terbang yang digunakan dalam penelitian ini memiliki berat jenis rata-rata 2,129. Jadi berat jenis abu terbang lebih rendah dari berat jenis semen portland.

c. Klasifikasi abu terbang

Berdasarkan hasil pemeriksaan, abu terbang produksi PT. Tjiwi Kimia Putra distribusi PT. Varia Usaha Beton ini termasuk abu terbang kelas F (lihat lampiran 13). Hal ini didasarkan pada kadar SiO2 (oksida silika) yang mencapai 48,31%, kadar Al2O3 (alumunium) sebesar 29,48%

dan Fe2O3 (besi) sebesar 8,28%, dengan kandungan oksida silika, alumunium dan besi sudah mencapai lebih dari 70%.

5. Kapur

a. Kehalusan kapur

Kapur yang digunakan dalam adalah kapur tohor kelas I, maka sesuai persyaratan berat kapur yang tertinggal di atas ayakan bujur sangkar dengan diameter 0,88 mm harus kurang dari 5%. Kapur yang digunakan dalam penelitian ini hanya kapur yang lolos pada ayakan 0,85 mm sehingga sudah memenuhi syarat kapur tohor kelas I.

b. Berat jenis kapur

Berat jenis rata-rata dari hasil pemeriksaan pada lampiran 3 adalah 2,068. Jadi dari hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa berat jenis kapur ternyata lebih rendah dari berat jenis abu terbang, semen

Berat jenis rata-rata dari hasil pemeriksaan pada lampiran 3 adalah 2,068. Jadi dari hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa berat jenis kapur ternyata lebih rendah dari berat jenis abu terbang, semen

Dokumen terkait