• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

F. Hipotesis Penelitian

F. Hipotesis Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan hipotesis penelitian asosiatif yaitu:

Terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara kemampuan manajemen waktu dengan kebiasaan prokrastinasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Prembun Tahun Ajaran 2017/2018.

S

43

BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam bab ini dipaparkan mengenai jenis dan desain penelitian, tempat dan waktu penelitian, subjek penelitian, variabel penelitian, teknik dan instrumen pengumpulan data, validitas dan rehabilitas instrumen, dan teknik analisis data.

A. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan teknik korelasi. Furchan (2004: 415-418) menjelaskan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survey dirancang untuk memperoleh informasi dengan mengumpulkan data yang relatif terbatas dari kasus-kasus yang relatif besar jumlahnya. Sifat deskriptif dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang korelasi antara manajemen waktu dengan kebiasaan prokrastinasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Prembun Tahun Ajaran 2017/2018.

Penelitian korelasi ini berhubungan dengan penilaian antara dua atau lebih fenomena. Jenis penelitian ini biasanya melibatkan ukuran statistik tingkat atau derajat hubungan, yang disebut dengan korelasi (Syamsudin & Damiyanti: 2011).

44 B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Prembun, yang berlokasi diJl.Wadaslintang Km 6, Prembun, Kebumen.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini direncanakan mulai dari bulan Oktober tahun 2017 sampai dengan selesai.

C. Subjek Penelitian

Menurut Sugiyono (2012) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Prembun Tahun Ajaran 2017/2018. Jumlah keseluruhan siswa kelas VIII adalah140 siswa.

45

D. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan dua variabel penelitian, yaitu:

1. Variabel Bebas.

Variabel yang mempengaruhi disebut dengan variabel penyebab, variabel bebas atau independent variable (X). dalam penelitian ini variabel bebas adalah kemampuan manajemen waktu.

2. Variabel Tergantung

Variabel akibat disebut juga dengan variabel tak bebas, variabel tergantung, variabel terkait atau dependent variable (Y).

46

Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah kebiasaan prokrastinasi belajar.

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan teknik korelasi. Menurut Gay (dalam Sukardi, 2004:166) penelitian korelasi adalah salah satu penelitian ex-postfacto karena biasanya peneliti tidak memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari keberadaan hubungan dan tingkat hubungan variabel yang direfleksikan dalam koefisien korelasi.

Alat penelitian adalah suatu pedoman tentang wawancara atau pengamatan atau daftar pertanyaan yang dipersiapkan untuk mendapatkan informasi dari responden (Gulo, 2002). Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang mengungkap frekuensi manajemen waktu dan frekuensi kebiasaan prokrastinasi belajar siswa. Kuesioner yang dipakai dalam penelitian ini termasuk kuesioner tertutup. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang berisi pertanyaan atau pernyataan yang telah disertai dengan pilihan-pilihan jawaban, yaitu sangat sesuai, sesuai, tidak sesuai dan sangat tidak sesuai (Furchan, 2004). Kuesioner ini disusun dengan bentuk skala bertingkat model Likert. Skala Likert adalah jenis skala yang digunakan untuk mengukur varibel penelitian. Variabel yang diukur dengan skala Likert dijabarkan menjadi indikator variabel yang kemudian dijabarkan kembali sebagai titik tolak penyusunan item-item instrumen.

47

Modifikasi skala Likert dengan meniadakan jawaban yang berada di tengah, hal tersebut dikakukan bedasarkan alasan yang dikemukakan oleh Hadi (1991) yaitu : 1) bisa diartikan ganda, belum bia memutuskan, netral, atau ragu-ragu. 2) bisa menimbulkan kecenderungan untuk memilih jawaban tengah (central tendency effect). 3) tidak dapat melihat kecenderungan jawaban responden kea rah sering atau sangat jarang. Pertanyaan atau pernyataan pada kuesioner dibagi menjadi dua bagian, yaitu favorable dan unfavorable.

Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari dua bagian. Pertama adalah Kuesioner Kemampuan Manjemen Waktu dan kedua Kuesioner Kebiasaan Prokrasinasi Belajar. Penjelasan lebih rinci mengenai skoring kedua kuesioner tersebut adalah sebagai berikut

48

Tabel 2.

Norma Skoring Kuesioner Kemampuan Manajemen Waktu dan Kebiasaan Prokrastinasi Belajar

Altern

Kuesioner disusun berdasarkan aspek-aspek variabel kemampuan manajemen waktu dan variabel kebiasaan prokrastinasi belajar. Operasionalisasi objek penelitian ini dijabarkan lebih jauh dalam kostruk instrumen, dapat dilihat pada tabel berikut:

49

Tabel 3.

Kisi-kisi Instrumen Kemampuan Manajemen Waktu

N

a. Mempunyai tujuan kegiatan atau tugas yang akan dilakukan

1 2 2

b. Menentukan kebutuhan yang akan dicapai

3 4 2

c. Mengidentifikasi tugas atau kegiatan yang penting dan tidak penting maupun tugas atau kegiatan yang diprioritaskan

5, 6

7 3

d. Menyisihkan lebih banyak waktu pada tugas atau kegiatan yang diprioritaskan

a. Membuat jadwwal harian (Cheklist)

10 ,11

2 b. Mambuat jadwal harian,

mingguan, dan bulanan

a. Keyakinan mengenai kemampuan mempengaruhi waktu yang dihabiskan

17 18 2

b. Menggunaan waktu secara efesien 19 20 2

c. Mengelola stress akibat terlalu banyak aktivitas pada waktu bersamaan

21 22 2

d. Bersikap asertif terhadap ajakan teman untuk bersantai-santai

a. Menggunakan catatan penggunaan waktu (buku catatan mengenai waktu yang sudah terpakai)

25 26 2

b. Mengevaluasi penggunaan waktu 27 ,28

2

50

Tabel 4.

Kisi-kisi Kuesioner Prokrastinasi

N

a. Takut salah saat mengerjakan tugas

1 2 2

b. Cemas saat mengikuti pelajaran

3 4 2

2

Self-depreciation

a. Menyalahkan diri ketika melakukan kesalahan

5 6 2

b. Tidak bergairah mengerjakan tugas

b. Menghindar untuk

mengerjakan tugas individu

a. Memilih melakukan hal yang menyenangkan

13 14 2

b. Enggan untuk meninggalkan hal yang membuat nyaman

15 16 2

5

Disorg aniasi waktu

a. Tidak mampu mengatur waktu 17 18 2

b. Tidak mampu menentukan prioritas kegiatan

19 20 2

6

Disorg anisasi

a. Lingkungan rumah yang kurang mendukung

21 22 2

b. Tidak adanya dukungan orang tua

23 24 2

51

b. Sulit menentukan kapan harus mulai mengerjakan tugas

a. Tidak dapat menolak ajakan teman

29 30 2

b. Tidak dapat menolak kegiatan yang bersifat mendadak

a. Rasa tidak suka tehadap teman sekelompok

33 34 2

b. Memilih tugas yang di berikan oleh guru tertentu

a. Tekanan saat menggerjakan tugas yang sulit

37 38 2

b. Kelelahan dengan banyaknya aktivitas

39 40 2

F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Alat pengumpul data harus memenuhi persaratan validitas dan reliabbilitas (Azwar, 2008: 5)

1. Validitas

Validitas berasal dari kata validity yang memiliki arti ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya

52

(Azwar, 2009: 5). Item kuesioner berdasarkan aspek-aspek dari variabel kemampuan manajemen waktu dan perilaku prokrastinasi belajar. Jenis validitas yang digunakan adalah validitas isi (content validity). Validitas isi adalah validitas yang diestimasi dengan pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional. Isi tidak hanya menunjukan bahwa tes tersebut harus komperhensif isinya akan tetapi harus memuat isi yang relevan an tidak keluar dari batasan tujuan ukur (Azwar, 2009: 45). Validitas isi tidak dapat dinyatakan dalam bentuk angka namun pada pengesahan yang berdasarkan pada pertimbangan yang biasa diberikan oleh sejumah ahli (Furchan, 2007: 296).

Dalam pelaksanaanya peneliti meminta pendapat ahli yaitu Dr.

Gendon Barus, M.Si selaku dosen pembimbing. Setelah itu kuisioner diuji coba, dalam hal ini dipilih kelas VIII A dan B SMPN 2 Prembun sebagai subjek uji coba instrumen. Validitas empirik kemudian diolah dengan teknik statistik korelasi dengan rumus sebagai berikut:

๐‘Ÿ

๐‘ฅ๐‘ฆ =

๐‘โˆ‘๐‘‹๐‘Œ โˆ’ โˆ‘๐‘‹ โˆ‘๐‘Œ

โˆš{๐‘โˆ‘๐‘‹

2

โˆ’ โˆ‘๐‘‹

2

}{๐‘โˆ‘๐‘Œ

2

โ€“ (โˆ‘๐‘Œ)

2

}

Keterangan:

๐‘Ÿ

๐‘ฅ๐‘ฆ= korelasi skor-skor total kuesioner dan total butir-butir

N = jumlah subjek

53

X = skor item kuesioner

Y = skor total butir-butir koesioner

XY = hasil perkalian antara skor X dan skor Y Pengujian dilakukan menggunakan program SPSS (Statistic Programme for Social Sience). Perhitungan dilakukan dengan patokan 0,30, apabila koefesien korelasinya > 0,30maka item yang bersangkutan dinyatakan valid, namun apabila koefesien korelasinya <

0,30 maka item tersebut dinyatakan tidak valid (Sugiyono, 2012).

54

Tabel 5.

Rincian Item Valid dan Tidak Valid Variabel Kemampuan Manajemen Waktu

N

a. Mempunyai tujuan kegiatan atau tugas yang akan dilakukan

1 2 2 -

b. Menentukan kebutuhan yang akan dicapai

3 4 2 -

c. Mengidentifikasi tugas atau kegiatan yang penting dan tidak penting maupun tugas atau kegiatan yang diprioritaskan

5 ,6

7 2 1

d. Menyisihkan lebih banyak waktu pada tugas atau kegiatan yang diprioritaskan

a. Membuat jadwwal harian (Cheklist)

1 0,11

- 2 -

b. Mambuat jadwal harian, mingguan, dan bulanan

c. Menggunakan buku agenda 1

5

a. Keyakinan mengenai kemampuan mempengaruhi

b. Menggunaan waktu secara efesien

55 (Perceived

control of time)

c. Mengelola stress akibat terlalu banyak aktivitas pada waktu bersamaan

d. Bersikap asertif terhadap ajakan teman untuk bersantai-santai

a. Menggunakan catatan penggunaan waktu (buku catatan mengenai waktu yang sudah terpakai)

b. Mengevaluasi penggunaan waktu

56

Tabel 6.

Rincian Item Valid dan Tidak Valid Variabel Prokrastinasi Belajar

a. Menyalahkan diri ketika melakukan kesalahan

b. Menghindar untuk mengerjakan tugas individu maupun kelompok

1

a. Memilih melakukan hal yang menyenangkan

b. Enggan untuk meninggalkan hal yang membuat nyaman

a. Tidak mampu mengatur waktu 1

7

1 8

1 1

b. Tidak mampu menentukan prioritas kegiatan

a. Lingkungan rumah yang kurang mendukung

b. Tidak adanya dukungan orang tua 2 3

a. Bingung kapan harus belajar 2 5

2 6

2 -

b. Sulit menentukan kapan harus mulai mengerjakan tugas

a. Tidak dapat menolak ajakan teman 2 9

3 0

2 -

b. Tidak dapat menolak kegiatan yang bersifat mendadak

a. Rasa tidak suka tehadap teman sekelompok

b. Memilih tugas yang di berikan oleh guru tertentu

57

a. Tekanan saat menggerjakan tugas yang sulit

b. Kelelahan dengan banyaknya aktivitas

Reliabilitas merupakan terjemahan dari kata reliability yang berasal dari kata rely dan ability (Azwar, 2009: 4). Reliabilitas merupakan derajat konsistensi instrumen yang bersangkutan (Arifin, 2011: 248). Pengujian reabilitas pada instrumen menggunakan reliabilitas internal consistensi, yaitu pengujian reliabilitas yang dilakukan melalui cara mengujicobakan instrumen sekali saja kemudian data yang telah diperoleh dianalisis dengan SPSS.

Reliabilitas dilakukan untuk mengukur sejauh mana pengukuran itu dapat memberikan hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subjek belum mengalami perubahan, atau dengan kata lain sejauh mana pengukuran itu dapat dipercaya. Hal paling penting untuk syarat kualifikasi suatu instrumen pengukuran ialah konsistensi, keajegan atau tidak berubah-ubah. Perhitungan reliabilitas kuesioner menggunakan program komputer yaitu SPSS, dilakukan dengan cara menghitung koefesien korelasi skor item gasal

58

dan skor genap dengan menggunakan teknik Product Moment dari Pearson. Hasil yang diperoleh dari perhitungan Product Moment gasal genap kemudian dikoreksi dengan formula Spearman-Brown (Sugiyono, 2013: 185) sebagai berikut:

๐‘Ÿ

๐‘–๐‘–

=

2 ๐‘ฅ ๐‘Ÿ๐‘”๐‘”

1+ ๐‘Ÿ๐‘”๐‘”

Keterangan:

๐‘Ÿ

๐‘–๐‘– = koefesien reabilitas instrumen

๐‘Ÿ

๐‘”๐‘” = koefesien korelasi skor belahan gasal-genap

59

Hasil perhitungan indeks reliabilitas dikonskultasikan dengan kriteria Guilford (Masidjo, 1995: 209) sebagai berikut:

Tabel 7.

Melalui kriteria di atas, hasil reliabilitas kuesioner variabel kemampuan manajemen waktu dan variabel kebiasaan prokrastinasi belajar tersaji dalam tabel berikut:

60

Tabel 8.

Hasil Uji Reliabilitas

Kuesioner Kemampuan Manajemen Waktu

Berdasarkan hasil perhitungan indeks reliabilitas kuesioner kemampuan manajemen waktu dan selanjutnya dikonsultasikan dengan kriteria Guilford, dapat disimpulkan bahwa indeks reliabilitas kuesioner kemampuan manajemen waktu tergolong tinggi yaitu 0,718.

61

Tabel 9.

Hasil Uji Reliabilitas

Kuesioner Kebiasaan Prokrokrastinasi Belajar

Berdasarkan hasil perhitungan indeks reliabilitas kuesioner kebiasaan prokrastinasi belajar dan selanjutnya dikonsultasikan dengan kriteria Guilford, dapat disimpulkan bahwa indeks reliabilitas kuesioner kebiasaan prokrastinasi belajar tergolong tinggi yaitu 0,864.

G. Teknik Analisis Data

Sugiyono (2011: 207), mengatakan bahwa analisis data merupakan kegiatan mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, serta melakukan

62

perhitungan untuk menjawab rumusan masalah. Berikut merupakan langkah-langkah teknik analisis data yang ditempuh dalam penelitian ini:

1. Menentukan Skor dan Pengolahan Data

Dalam menentukan skor dan pengolahan data langkah langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Setiap item diberi skor sesuai dengan norma skoring yang sudah tersedia yaitu untuk variabel kemampuan manajemen waktu, b. pada pernyataan favorable skor yang digunakan untuk jawaban

sangat sesuai adalah 4, untuk jawaban sesuaiadalah 3, untuk jawaban tidak sesuai adalah 2, dan untuk jawaban sangat tidak sesuai adalah 1. Pada pernyataan unfavorable, skor yang digunakan untuk jawaban sangat sesuai adalah 1, untuk jawaban sesuai adalah 2, untuk jawaban tidak sesuai adalah 3, dan untuk jawaban sangat tidak sesuai adalah 4. Sedangkan untuk variabel kebiasaan prokrastinasi belajar, pada pernyataan favorable skor yang digunakan untu jawaban sangat sesuai adalah 1, untuk jawaban sesuai adalah 2, untuk jawaban tidak sesuai adalah 3, dan untuk jawaban sangat tidak sesuai adalah 4.

Pada pernyataan unfavorable, skor yang digunakan untuk jawaban sangat sesuai adalah 4, untuk jawaban sesuai adalah 3,

63

untuk jawaban tidak sesuai adalah 2, dan untuk jawaban sangat tidak sesuai adalah 1.

c. Membuat tabulasi data dan menghitung frekuensi setiap nilai berdasarkan skor setiap item.

d. Menghitung jumlah skor dari masing-masing subjek. Skor yang diperoleh tersebut dapat memberikan petunjuk tingkat kemampuan manajemen waktu dan kebiasaan prokrastinasi belajar.

e. Menghitung jumlah skor tiap item dari kedua variabel sehingga yang diperoleh dapat menjadi petunjuk bahwa terdapat item-item tertentu yang skornya rendah dan item-item yang skornya tinggi.

f. Menghitung persentase pada tiap frekuensi (banyaknya subjek) dengan cara membagi banyaknya subjek pada tiap frekuensi dengan banyaknya subjek seluruhnya (N) dikalikan 100.

2. Menentukan Kategori

Pengkategorian tingkat kemampuan manajemen waktu dan kebiasaan prokrastinasi belajar disusun berdasarkan model distribusi normal. Tujuan kategorisasi ini adalah menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut kontinum berdasarkan atribut yang diukur (Azwar, 2009: 107).

64

Kontinum jenjang pada penelitian ini adalah dari rendah sampai tinggi.

Norma kategorisasi disusun berdasar pada norma kategorisasi yang disusun oleh Azwar (2009:108). Tingkat kemampuan manajemen waktu dan prokrastinasi belajar pada siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018 terdiri atas tiga kategori: tinggi, sedang, dan rendah dengan norma kategorisasi sebagai berikut:

Tabel 10.

Kategorisasi Skor

Tingkat Kemampuan Manajemen Waktu dan Kebiasaan Prokrastinasi Belajar

65 Keterangan:

Skor maksimum teoritik: Skor tertinggi yang diperoleh subjek peneltian berdasarkan perhitungan skala

Skor minimum teoritik: skor terendah yang diperoleh subjek penelitian berdasarkan perhitungan skala

Standar deviasi (ฯƒ/sd): Luas jarak rentangan yang dibagi dalam 6 satuan deviasi sebaran

Mean teoritik (ยต): rata-rata teoritik skor maksimum dan minimum

Kategori di atas diterapkan sebagai patokan dalam pengelompokan tinggi rendah kemampuan manajemen waktu dan prokrastinasi belajar siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018, dengan jumlah item kemampuan manajemen waktu= 23, dan jumlah item prokrastinasi belajar=

35, diperoleh unsur perhitungan capaian skor subjek sebagai berikut:

a. Perhitungan capaian skor subjek variabel kemampuan manajemen waktu:

Skor maksimal teoritk : 92 Skor minimum teoritik : 23

Luas jarak : 92-23=69

Standar deviasi (ฯƒ/sd) : 69:6=11

66

Mean teoritik (ยต) : (92+23):2=57

Hasil perhitungan data skor subjek disajikan dalam norma kategorisasi tingkat kemampuan manajemen waktu siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018, tersaji dalam tabel berikut:

Tabel 11.

Kategori Tingkat Kemampuan Manajemen Waktu Siswa Kelas VIII SMPN 2 Prembun

b. Perhitungan capaian skor subjek variabel prokrastinasi belajar:

Skor maksimal teoritk : 140 Skor minimum teoritik : 35

Luas jarak : 140-35= 105

Standar deviasi (ฯƒ/sd) : 105:6= 17

67

Mean teoritik (ยต) : (140+35):2= 87

Hasil perhitungan data skor subjek disajikan dalam norma kategorisasi tingkat prokrastinasi belajar siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018, tersaji dalam tabel berikut:

Tabel 12.

Kategori Tingkat Kebiasaan Prokrastinasi Belajar Siswa Kelas VIII SMPN 2 Prembun

Tahun Ajaran 2017/2018 Norma/Kriter

Hasil kategorisasi tingkat kemampuan manajemen waktu dan kebiasaan prokrastinasi belajar, selanjutnya diuji ketepatannya dengan membandingkan skor mean empirik dengan skor mean teoritik data penelitian. Mean teoritik merupakan rata-rata skor alat penelitian. Mean teoritik diperoleh dari angka yang menjadi titik tengah alat pengukuran

68

penelitian. Sedangkan mean empirik, merupakan rata-rata skor data penelitian yang diperoleh dari angka yang merupakan rata-rata data penelitian.

c. Mencari kategorisasi tinggi rendahnya skor item-item variabel kemampuan manajemen waktu dan prokrastinasi belajar secara keseluruhan dengan menggunakan N= 70. Perhitungannya sebagai berikut:

Skor maksimal teoritk : 280 Skor minimum teoritik : 70

Luas jarak : 280-70 =210

Standar deviasi (ฯƒ/sd) : 210:6 =35 Mean teoritik (ยต) : (280+70):2=175

Hasil perhitungan data skor item disajikan dalam norma kategorisasi tinggi rendahnya skor item-item kemampuan manajemen waktu dan prokrastinasi belajar siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018, tersaji dalam tabel berikut:

69

Tabel 13.

Penggolongan Tinggi Rendahnya Skor Item Kemampuan Manajemen Waktu dan

Prokrastinasi Belajar Norma/Kriter

ia Skor

Rentan g Skor

K ategori

ยต+1ฯƒ <X

210<X T

inggi

ยต-1ฯƒ <Xโ‰ค ยต+1ฯƒ

140<Xโ‰ค

210

S edang

Xโ‰ค ยต-1ฯƒ Xโ‰ค140 R

endah

70 3. Uji Hipotesis

Menguji hipotesis menggunakan uji korelasi dengan rumus r Pearson Product Moment (Sugiyono, 2013: 255), dengan bantuan program SPSS.

Formula;

๐‘Ÿ

๐‘ฅ๐‘ฆ =

๐‘ โˆ‘ ๐‘‹๐‘Œ โˆ’(โˆ‘ ๐‘‹ )(โˆ‘ ๐‘Œ)

{๐‘ โˆ‘ ๐‘‹2 โˆ’ (โˆ‘ ๐‘‹ )2}{๐‘ โˆ‘ ๐‘Œ2 โ€“ (โˆ‘ ๐‘Œ)2}

Keterangan:

๐‘Ÿ

๐‘ฅ๐‘ฆ

=

korelasi skor-skor total kuesioner dan total butir-butir

N

=

jumlah subjek

X

=

skor total kemampuan manajemen waktu Y

=

skor total kebiasaan prokrastinasi

XY

=

hasil perkalian antara skor X dan skor Y

71

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini di paparkan tentang hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.

A. Hasil Penelitian

1. Tingkat Kemampuan Manajemen Waktu Siswa Kelas VIII SMPN 2 Prembun Tahun Ajaran 2017/2018.

Untuk dapat mengetahui tinggi rendahnya tingkat manajemen waktu pada subjek, dilakukan kategorisasi pada skala kemampuan manajemen waktu. Norma kategorisasi disusun berdasarkan pada norma kategorisasi yang disusun oleh Azwar (2009:108). Tingkat kemampuan manajemen waktu siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018 dapat dibedakan menjadi tiga kategori: tinggi, sedang dan rendah. Penjelasan tentang kategorisasi dapat dilihat pada tabel berikut:

72

Tabel 14.

Kategorisasi Skor Tingkat Kemampuan Manajemen Waktu Siswa Kelas VIII SMPN 2 Prembun Tahun Ajaran 2017/2018

Norma/Krit

Tabel di atas menunjukkan bahwa terdapat 48 orang (68,57%) siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018 yang terindentifikasi memiliki kemampuan manajemen waktu yang tinggi. Terdapat 22 orang (31,43%) siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018 yang memiliki kemampuan manajemen waktu yang teridentifikasi sedang, dan tidak terdapat siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018 yang memiliki kemampuan manajemen waktu yang teridentifikasi rendah.

73

2. Penggolongan Skor Item Tingkat Kemampuan Manajemen Waktu pada Siswa Kelas VIII SMPN 2 Prembun Tahun Ajaran 2017/2018

Penggolongan skor item tingkat kemampuan manajemen waktu pada siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018 ditentukan dengan menggunakan kategori Azwar (2010: 107-108). Peneliti menggunakan data empiris dalam proses kategorisasi dimana kategorisasi tersebut menggunakan data yang diperoleh dari lapangan. Hasil penggolongan item dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

74

Tabel 15.

Penggolongan Skor

Item Tingkat Kemampuan Manajemen waktu

Norma/Kri

teria Skor Rentang Skor ajaran 2017/2018 yang tergolong dengan kategorisasi tinggi, 15 nomor item (65,22%) kemampuan manajemen waktu dengan kategorisasi sedang, dan tidak terdapat nomor item kemampuan manajemen waktu dengan kategori rendah.

75

3. Tingkat Kebiasaan Prokrastinasi Belajar Siswa Kelas VIII SMPN 2 Prembun Tahun Ajaran 2017/2018.

Penulis melakukan kategorisasi untuk dapat mengetahui tinggi rendahnya kebiasaan prokrastnasi belajar pada subjek. Kategorisasi disusun berdasarkan pada norma kategorisasi yang disusun oleh Azwar (209: 108).

Tingkat kebiasaan prokrastinasi belajar pada siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu: tinggi, sedang, dan rendah, kategorisasi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 16.

Kategorisasi Skor Tingkat Prokrastinasi Belajar Siswa Kelas VIII SMPN 2 Prembun Tahun Ajaran 2017/2018

Norma/Krite

76

Tabel di atas menujukkan bahwa, terdapat 1 orang (1,43%) siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018 yang teridentifikasi memiliki tingkat prokrastinasi belajar tinggi. Sedangkan terdapat 32 orang (45,71%) siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018 yang teridentifikasi memiliki kebiasaan prokrastinasi belajarnya sedang, dan terdapat 37 orang (52,86%) siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018 yang kebiasaan prokrastinasi belajarnya teridentifikasi rendah.

4. Penggolongan Skor Item Tingkat Kebiasaan Prokrastinasi Belajar pada Siswa Kelas VIII SMPN 2 Prembun Tahun Ajaran 2017/2018.

Penggolongan skor item tingkat kebiasaan prokrastinasi belajar pasa siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018 ditentukan dengan menggunakan kategorisasi Azwar (2010: 107-108). Peneliti menggunakan data empiris dalam proses kategorisasi, dimana kategorisasi tersebut menggunakan data yang diperoleh dari lapangan. Hasil penggolongan item dapat dilihat pada tabel berikut ini;

77

Tabel 17.

Penggolongan Skor Item

Tingkat Kebiasaan Prokrastinasi Belajar

Norma/Krit

Dari tabel 17 tampk bahwa total skor item kebiasaan prokrastinasi belajar siswa kelas VIII SMPN 2 Prembun tahun ajaran 2017/2018 ialah, terdapat 25

78

nomor item (71,43%) dengan kategori sedang, 10 nomor item (28,57%) dengan kategorisasi rendah dan tidak ada nomor item yang teridentifikasi memiliki tingkat skor dengan kategori tinggi.

Hasil kategorisasi tingkat kemampuan manajemen waktu dan kebiasaan prokrastinasi belajar kemudian diuji ketepatan dengan cara membandingkan skor mean empirik dengan skor mean teoritik data penelitian. Perincian data penelitian dapat dilihat dalam tabel berikut:

79

Tabel 18.

Deskripsi Data Penelitian Kemampuan Manajemen Waktu dan

Kebiasaan Prokrastinasi Belajar

Pada tabel deskripsi data hasil penelitian menunjukkan bahwa pada skor teoritik kemampuan manajemen waktu, item berjumlah 23 dengan skor 1, 2, 3, dan 4 dengan nilai minimum 23 dan nilai maksimum 92. Rentang skor untuk

80

skala ini adalah 92 โ€“ 23 = 69, sedangkan SD (ฯƒ) = 69 : 6 = 11, dan mean teoritik (ยต) = (23 + 92) : 2 = 57. Pada tabel di atas, skala kemampuan manajemen waktu memiliki skor mean empirik sebesar 67,63 dan skor mean teoritik sebesar 57.

Hasil tersebut bila dibandingkan menunjukkan bahwa skor mean empirik lebih besar dari pada skor mean toritik, yaitu 67,63 > 57. Selisih antara itu adalah 10,63 yang lebih besar dari SD empirik yaitu 6,241. Hasil ini menunjukkan bahwa rata-rata subjek memiliki kemampuan manajemen waktu yang tinggi.

Sedangkan pada kebiasaan prokrastinasi belajar menunjukkan bahwa pada skor teoritik kebiasaan prokrastinasi belajar, item berjumlah 35 dengan skor 1, 2, 3, dan 4 dengan nilai minimum 35 dan nilai maksimum 140. Rentang skor untuk skala ini adalah 140 โ€“ 35 = 105, sedangkan SD (ฯƒ) = 105 : 6 = 17, dan mean teorits (ยต) = (35 + 140) : 2 = 87. Pada tabel di atas, skala kebiasaan prokrastinasi belajar memiliki skor mean empirik sebesar 77,84 dan skor mean teoritik sebesar 87. Hasil tersebut bila dibandingkan menunjukkan bahwa skor mean empirik lebih kecil dari pada skor mean toritik, yaitu 77,84 < 87. Selisih antara itu adalah -9,16 yang lebih kecil dari SD empirik yaitu 11,946. Hasil ini menunjukkan bahwa rata-rata subjek memiliki kebiasaan prokrastinasi belajar yang rendah.

5. Uji Hipotesis

Peneliti melakukan penelitian dengan cara meneliti dua variabel, variabel yang diteliti adalah hubungan antara kemampuan manajemen waktu

81

dengan kebiasaan prokrastinasi belajar pada siswa kelas VIII SMPN 2

dengan kebiasaan prokrastinasi belajar pada siswa kelas VIII SMPN 2

Dokumen terkait