• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.2. Hipotesis Penelitian

Menurut (Kuncoro,2003), hipotesis merupakan jawaban sementara yang disusun oleh peneliti, yang kemudian akan diuji kebenarannya melalui penelitian yang akan dilakukan.

Hipotesis yang dirumuskan berdasarkan uraian sebelumnya adalah: „Penerapan Anggaran Berbasis Kinerja, Pertanggungjawaban Belanja dan Audit Intern Berpengaruh Terhadap Kualitas Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) SKPD baik secara simultan maupun parsial di lingkungan Pemerintah Kabupaten Padang Lawas‟.

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang direncanakan adalah penelitian kausal dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian kausal berguna untuk mengukur hubungan antara variabel riset, atau untuk menganalisis bagaimana pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya (Umar, 2003). Penelitian ini menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variabel dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik dengan menggunakan analisis regresi linier berganda.

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Padang Lawas, dengan jangka waktu penelitian dari bulan November 2012 sampai dengan bulan Desember 2012.

4.3. Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2007).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang ada di kabupaten Padang Lawas sebanyak 39 responden, sekaligus

dijadikan sample dalam penelitian ini, sehingga metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode survey/sensus dengan rincian SKPD sebagai berikut :

Sekretariat 3

Sedangkan rincian SKPD masing-masing dapat dilihat pada table 4.1 dibawah ini dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 4.1. Populasi dan Sampel Penelitian No Satuan Kerja Perangkat Daerah

1 Sekretariat Daerah

2 Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 3 Sekretariat KORPRI

4 Dinas Pendidikan 5 Dinas Kesehatan

6 Dinas Pekerjaan Umum dan Pertambangan Energi 7 Dinas Perhubungan

8 Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil 9 Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi 10 Dinas Pemuda dan Olahraga

11 Dinas Pendapatan Keuangan dan Asset Daerah 12 Dinas Pertanian

13 Dinas Kehutanan dan Perkebunan 14 Dinas Perikanan dan Peternakan

15 Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan 16 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah 17 Badan Lingkungan Hidup

18 Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana 19 Badan Penanggulangan Bencana Daerah

20 Badan Kepegawaian Daerah

21 Badan Pelayanan Perizinan Terpadu

22 Badan Pemberdayaan Masyarakat Daerah dan Pemerintahan Desa 23 Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan 24 Inspektorat

25 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sibuhuan

27

No Satuan Kerja Perangkat Daerah

26 Kantor Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat 27 Kantor Satuan Polisi Pamong Praja

28 Kecamatan Barumun

29 Kecamatan Barumun Tengah 30 Kecamatan Batang Lubu Sutam 31 Kecamatan Huristak

32 Kecamatan Hutaraja Tinggi 33 Kecamatan Lubuk Barumun 34 Kecamatan Sosa

35 Kecamatan Sosopan 36 Kecamatan Ulu Barumun

37 Kecamatan Aek Nabara Barumun 38 Kecamatan Sihapas Barumun 39 Kecamatan Barumun Selatan

Sumber : Pemerintah Kabupaten Padang Lawas

4.4. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data primer berupa daftar pertanyaan atau kuesioner yang menggali persepsi dari setiap pimpinan atau kepala SKPD. Data diperoleh dengan cara meminta setiap kepala SKPD yang ada di Pemerintahan Kabupaten Padang Lawas untuk mengisi kuesioner yang akan dibagikan.

Kuesioner dikirim dalam satu tahap dengan jangka waktu selama 2 minggu, setelah waktu yang ditentukan selesai, penulis mengevaluasi kuesioner yang dikembalikan atau dikirim kembali. Jika tidak dikembalikan maka penulis akan mengirim kembali ke responden dengan jangka waktu selama 2 minggu untuk tahap kedua, setelah waktu yang ditentukan selesai, maka penulis mulai melakukan pengolahan data.

Kuesioner Anggaran Berbasis Kinerja dikembangkan sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, kuesioner ini akan menghasilkan data interval

(TS=tidak setuju) dan skor 1 (STS=sangat tidak setuju).

Kuesioner Pertanggungjawaban Belanja dikembangkan oleh peneliti dari Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, kuesioner ini akan menghasilkan data interval dengan skor 5 (SS=sangat setuju), skor 4 (S=setuju), skor 3 (N=netral), skor 2 (TS=tidak setuju) dan skor 1 (STS=sangat tidak setuju).

Kuesioner Audit Intern dikembangkan oleh peneliti dari Peraturan Menteri Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 25 Tahun 2012 tentang Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Instansi Pemerintah, kuesioner ini akan menghasilkan data interval dengan skor 5 (SS=sangat setuju), skor 4 (S=setuju), skor 3 (N=netral), skor 2 (TS=tidak setuju) dan skor 1 (STS=sangat tidak setuju).

Kuesioner Kualitas Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) SKPD mengadopsi SK LAN No. 239/IX/6/8/2003 tahun 2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan LAKIP mengenai kualitas LAKIP, kuesioner ini akan menghasilkan data interval dengan skor 5 (SS=sangat setuju), skor 4 (S=setuju), skor 3 (N=netral), skor 2 (TS=tidak setuju) dan skor 1 (STS=sangat tidak setuju).

Selanjutnya berdasarkan kuesioner yang telah disusun dan dirumuskan secara matang, kuesioner disampaikan ke masing-masing responden dengan tujuan untuk memperoleh data. Secara umum, konstruksi di dalam kuesioner diukur dengan menggunakan skala Likert yang berisi lima poin, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).

29

4.5. Definisi Operasional dan Metode Pengukuran Variabel 4.5.1. Variabel Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah, uraian teoritis dan hipotesis yang diajukan, variabel penelitian terdiri dari variabel terikat (dependent variable) dan variabel bebas (independent variable). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat/variabel dependen adalah „Kualitas Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) SKPD‟ sedangkan yang menjadi variabel bebas/variabel independen adalah „Penerapan Anggaran Berbasis Kinerja‟, „Pertanggungjawaban Belanja‟ dan „Audit Intern‟.

4.5.2. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Sugiyono (2007) mengatakan “definisi operasional memungkinkan sebuah konsep yang bersifat abstrak dijadikan suatu yang operasional sehingga memudahkan penelitian dalam melakukan pengukuran”. Beberapa konsep dapat langsung dipecah dan ditemukan elemen-elemen perilaku yang dapat diukur, tetapi banyak konsep yang tidak dapat langsung ditemukan elemen-elemen perilakunya, tetapi lewat beberapa dimensi dulu.

Pengukuran variabel dalam penelitian ini menggunakan skala interval.

Menurut Erlina dan Mulyani (2007) “skala interval adalah skala pengukuran yang menyatakan kategori, peringkat dan jarak konstruk yang diukur tetapi tidak menggunakan angka nol sebagai titik awal perhitungan dan bukan angka absolut”.

Untuk memberikan gambaran yang jelas dan memudahkan pelaksanaan penelitian ini, maka perlu diberikan definisi operasional atas variabel-variabel yang akan diteliti. Definisi operasional atas setiap variabel dalam penelitian ini

1. Kualitas Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) SKPD (Y) yang merupakan variabel dependen, adalah laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip pelaporan yang baik menurut LAN dan BPKP (2000). Variabel ini akan diukur berdasarkan persepsi responden tentang meliputi yaitu relevan, akurat, handal, konsisten, dapat diperbandingkan, diverifikasi/ditelusuri), tepat waktu, dapat dimengerti, dan mengikuti standar laporan yang ditetapkan sesuai dengan peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

2. Anggaran Berbasis Kinerja yang merupakan variabel independen, adalah anggaran yang disusun dengan menghubungkan output atau hasil apa yang ingin dicapai, mengidentifikasi input, ouput, dan outcome yang dihasilkan dengan dilaksanakannya suatu aktivitas atau kegiatan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Variabel ini akan diukur berdasarkan persepsi responden tentang anggaran yang disusun meliputi: (1) hubungan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dengan Renja-SKPD, (2) hubungan antara Renja SKPD dengan RKA-SKPD, (3) identifikasi input dari kegiatan,(4) identifikasi output dari kegiatan dan (5) identifikasi outcome dari kegiatan.

3. Pertanggungjawaban Belanja (X2)

Pertanggungjawaban Belanja yang merupakan variabel independen, adalah bukti-bukti pengeluaran atas pelaksanaan suatu kegiatan dan bukti pengeluaran selain kegiatan seperti pembayaran gaji dapat dipertanggungjawabkan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Variabel ini

31

akan diukur apakah bukti-bukti pengeluaran atas belanja telah memenuhi prinsip-prinsip yang lengkap dan sah.

4. Audit Intern (X3)

Audit Intern yang merupakan variabel independen, adalah pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dilakukan oleh Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) dengan melakukan dengan melakukan penilaian evaluasi atas bagian dari Akuntabilitas Instansi Pemerintah yaitu pelaporan kinerja. Variabel ini akan diukur berdasarkan persepsi responden tentang pemenuhan pelaporan kinerja berupa LAKIP yang baik.

Ringkasan definisi operasional dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini:

Tabel 4.2. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Variabel Penelitian Definisi Operasional Pengukuran Variabel Skala Pengukuran Variabel Dependen

Kualitas LAKIP SKPD (Y)

laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip pelaporan yang baik

Relevan, akurat/ handal, konsisten/dapat diperban-dingkan, verifikasi/ di-telusuri, tepat waktu, dapat dimengerti, dan mengikuti standar laporan yang ditetapkan sesuai dengan peraturan Perundang-undangan

Interval

Variabel Independen Anggaran Berbasis Kinerja (X1)

Anggaran yang disusun dengan menghubungkan output atau hasil apa yang ingin dicapai, mengidentifikasi input, output dan outcome yang dihasilkan dengan dilaksanakannya suatu aktivitas atau kegiatan.

Diukur berdasarkan persepsi responden tentang anggaran yang disusun, meliputi:

1. Menghubungkan antara Rencana Kerja Pemerintah Daerah

Variabel Penelitian Definisi Operasional Pengukuran Variabel Skala bukti-bukti pengeluaran belanja atas pelaksanaan suatu kegiatan dan dan bukan kegiatan

Diukur berdasarkan persepsi responden tenta-ng seberapa jauh bukti-bukti pengeluaran atas belanja telah memenuhi prinsip-prinsip yang lengkap dan sah, serta dapat diuji kebenarannya secara formil dan materil Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) dengan melakukan penilaian atas evaluasi bagian dari Akuntabilitas Instansi Pemerintah yaitu pelaporan kinerja.

efektifitas pelaksanaan audit intern terhadap pemenuhan pelaporan, penyajian informasi kinerja, dan pemanfaatan informasi kinerja.

Interval

4.6. Model Analisis

Berdasarkan hipotesis yang diajukan, maka model penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3+e Di mana:

Y = Kualitas Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) SKPD

β0 = konstanta

β1, β2, β3 = koefisien regresi

X1 = Anggaran Berbasis Kinerja (ABK) X2 = Pertanggungjawaban Belanja X3 = Audit Intern

e = error term

33

4.7. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini selain uji kualitas data berupa uji validitas dan reliabilitas juga uji asumsi klasik. Masing-masing metode analisis data tersebut dijelaskan sebagai berikut.

4.7.1. Uji Validitas dan Reliabilitas

Sebelum dilakukan uji validitas dan realibilitas, peneliti melakukan pra-test atas butir instrument/pernyataan/pertanyaan atas variabel independen

„Pertanggungjawaban Belanja‟, „Audit Intern‟ dan „Kualitas LAKIP‟, karena variabel independen tersebut baru pertama sekali diadopsi oleh peneliti pada penelitian yang pertama sekali ini, sedangkan variabel independen „Anggaran Berbasis Kinerja‟ diadopsi dari peneliti sebelumnya oleh Tubagus (2010) yang berjudul “Penerapan Anggaran Berbasis Kinerja dan Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah (SIPKD) berpengaruh terhadap Kinerja SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Simalungun”. Setelah dilakukan pra-test maka dilakukan uji validitas dilakukan untuk menilai sejauhmana suatu alat ukur diyakini dapat digunakan untuk mengukur item pertanyaan/pernyataan dalam kuesioner. Valid berarti item-item yang digunakan dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2007).

Teknik yang digunakan dalam mengukur validitas item pertanyaan/pernyataan dalam kuesioner adalah dengan menggunakan Corrected Item-Total Correlation. Kriterianya jika r-hitung > dari r-tabel maka skor butir pertanyaan/pernyataan kuesioner dinyatakan valid, tetapi sebaliknya jika r-hitung

< dari r-tabel maka skor butir pertanyaan/pernyataan kuesioner dinyatakan tidak

valid.

Sedangkan uji reliabilitas dilakukan untuk mengukur tingkat konsistensi antara hasil pengamatan dengan hasil instrumen pada waktu yang berbeda.

Reliabilitas berarti suatu nilai yang menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama (Umar, 2003).

Teknik yang digunakan dalam mengukur reliabilitas item pertanyaan/pernyataan dalam kuesioner adalah dengan menggunakan koefisien cronbach alpha. Kriteria dinyatakan reliabel jika memiliki nilai koefisien cronbach alpha lebih besar dari 0,6 (Nunnally, 1978).

4.7.2. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik merupakan persyaratan dalam pengujian statistik parametrik dengan teknik analisis regresi linier berganda. Dengan pengujian ini dapat dilihat apakah koefisien statistik yang diperoleh benar-benar merupakan penduga parameter yang dapat dipertanggungjawabkan. Uji asumsi klasik ini dapat berupa uji normalitas, uji multikolinieritas dan uji heteroskedastisitas.

4.7.2.1. Uji normalitas

Uji normalitas dimaksudkan untuk menguji kenormalan data dan dideteksi dengan melihat penyebaran data pada sumbu diagonal dari grafik atau dapat juga dengan melihat histogram dari residualnya.

Teknik yang digunakan dalam mengukur pengujian normalitas data dilakukan dengan menguji Kolmogorov-Smirnov. Kriterianya adalah sebagai berikut :

35

1. Jika nilai signifikansi atau probabilitasnya > dari 0,05 maka distribusi data adalah normal.

2. Jika nilai signifikansi atau probabilitasnya < dari 0,05 maka distribusi data adalah tidak normal.

4.7.2.2. Uji multikolinieritas

Uji multikolinieritas dimaksudkan untuk menguji apakah ditemukan atau tidak korelasi diantara variabel-variabel bebas/variabel independen.

Teknik yang digunakan dalam mengukur pengujian agar dapat dilihat ada tidaknya multikolinieritas dengan melihat angka colinierity statistic yang ditunjukkan oleh nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan nilai tolerance. Jika nilai VIF > dari 10 dan nilai tolerance < dari 0,1 maka variabel bebas yang ada memilki masalah multikolinieritas (Lubis et.al, 2007).

4.7.2.3. Uji heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variabel dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Teknik yang digunakan dalam mengukur pengujian dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya pola tertentu (bergelombang, melebar kemudian menyempit) pada grafik plot (scatter-plot) antara nilai prediksi variabel terkait (ZPRED) dengan residualnya (SRESID).

Kriterianya adalah berdasarkan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas, dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadinya

heteroskedastisitas.

4.7.3. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari variabel bebas baik secara simultan maupun parsial terhadap variabel terikat.

Teknik pertama yang digunakan dalam mengukur pengujian dilakukan dengan pengujian secara simultan dilakukan dengan uji F, dengan kriteria menggunakan α 5% di mana jika F-hitung > dari F-tabel sebesar 3,275 dan tingkat signifikansi < dari 0,05 maka pengaruh yang terjadi signifikan, maka hipotesis yang diajukan dapat diterima. Selanjutnya dilakukan pula penilaian terhadap setiap variabel bebas untuk mengetahui variabel bebas apa yang memberikan pengaruh paling signifikan.

Teknik kedua yang digunakan dalam mengukur pengujian dilakukan dengan Pengujian ini dilakukan dengan uji t atau sering disebut uji parsial.

Kriterianya adalah tingkat pengaruh yang signifikan juga didasarkan pada α 5%

dengan ketentuan dimana jika t-hitung > dari t-tabel sebesar 2,345 dan tingkat signifikansi < dari 0,05 maka pengaruh yang terjadi signifikan, sebaliknya jika t-hitung < dari t-tabel maka pengaruhnya tidak signifikan.

4.7.4. Pengujian Koefisien Determinasi (R2)

Nilai R pada dasarnya mengukur seberapa besar hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Nilai R2 maupun nilai adjusted R2 merupakan koefisien determinasi yang menunjukkan seberapa jauh kemampuan variabel bebas yang ada dalam model menerangkan variasi varibel terikat yang ada. Jika nilai koefisien determinasi mendekati satu berarti variabel-variabel bebas

37

memberikan hampir seluruh informasi yang dibutuhkan untuk menerangkan variasi variabel terikat.

Jika variabel bebas lebih dari satu, maka sebaiknya untuk melihat kemampuan variabel bebas menerangkan varibel terikat yang digunakan adalah nilai adjusted R2.

BAB V

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1. Deskripsi Data

Penelitian ini dilakukan dengan cara menggali persepsi setiap pimpinan SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Padang Lawas sehubungan dengan pengaruh penerapan anggaran berbasis kinerja, pertanggungjawaban belanja dan audit intern berpengaruh terhadap kualitas laporan akuntabilitas kinerja pemerintah (LAKIP) SKPD.

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui kuesioner dan dilakukan satu tahap, yaitu dengan cara mendistribusikan sebanyak 39 (tiga puluh sembilan) kuesioner kepada responden yang merupakan pimpinan SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Padang Lawas yaitu sebanyak 39 SKPD, yang terdiri dari 3 Sekretariat, 12 Dinas, 8 Badan, 1 Inspektorat, 1 RSU, 2 Kantor, dan 12 Kecamatan. Dari 39 (enam puluh enam) kuesioner yang dibagikan yang kembali adalah sebanyak 37 (tiga puluh juta) kuesioner dan yang cacat tidak ada.

Sehingga kuesioner yang dapat digunakan dalam menganalisis data hanyalah sebanyak 37 (tiga puluh tujuh) kuesioner. Deskripsi distribusi kuesioner dapat dilihat pada Tabel 5.1.

39

Tabel 5.1. Distribusi Kuesioner

No. Uraian

Jumlah

SKPD Sebar Kembali Tidak Baik Rusak Kembali

1 Sekretariat 3 3 2 0 1

2 Dinas 12 12 11 0 1

3 Badan 8 8 8 0 0

4 Inspektorat 1 1 1 0 0

5 Rumah Sakit Umum 1 1 1 0 0

6 Kantor 2 2 2 0 0

7 Kecamatan 12 12 12 0 0

Jumlah 39 39 37 0 2

5.1.1. Deskripsi Lokasi

Lokasi penelitian ini dilakukan pada jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ada di lingkungan Pemerintah Kabupaten Padang Lawas dengan jumlah 39 SKPD sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Kabupaten Padang Lawas dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembentukan Daerah Otonomi Kabupaten Padang Lawas dalam lingkungan Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Padang Lawas merupakan kabupaten yang terletak di Provinsi Sumatera Utara dengan posisi antara 00 57‟ 8” - 10 32‟ 56”

Lintang Utara dan 990 25‟ 7” - 1000 11‟ 1” Bujur Timur dan berbatasan dengan 4 kabupaten tetangga yaitu: Kabupaten Padang Lawas Utara, Mandailing Natal, Rokan Hulu Provinsi Riau dan Pasaman Provinsi Sumatera Barat. Luas wilayah Kabupaten Padang Lawas adalah 3.842,74 km2 (384,274 ha). Secara administrasi Pemerintahan Kabupaten Padang Lawas terdiri dari 12 kecamatan, 303 desa dan 1 kelurahan.

5.1.2. Karakteristik Penelitian

Berdasarkan data penelitian yang telah dikumpulkan, maka diperoleh data tentang demografi responden penelitian yang terdiri dari: (1) Tingkat pendidikan, (2) pangkat dan golongan, (3) lama bekerja dan (4) diklat yang diikuti. Tabel 5.2 sampai 5.5 menyajikan ringkasan demografi responden.

Tabel 5.2. Tingkat Pendidikan Responden

No. Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase (%)

1 SLTA 0 0

2 D3 2 5,40

3 S1 29 78,38

4 S2 6 16,22

5 S3 0 0

Jumlah 37 100,00

Tingkat pendidikan responden relatif tinggi, hal ini dapat dilihat bahwa hanya 2 orang saja atau 5,40% dari responden yang memiliki tingkat pendidikan D3, sedangkan sisanya sebanyak 29 orang atau 78,38% memiliki tingkat pendidikan S1 dan 6 orang atau 16,22% pada tingkat pendidikan S2.

Tabel 5.3. Pangkat/Golongan Responden

No. Pangkat/Golongan Frekuensi Persentase (%)

1 Penata (III) 9 24,32

2 Pembina (IV) 28 75,68

Jumlah 37 100

Dari Tabel 5.3 di atas terlihat bahwa pangkat/golongan responden didominasi oleh golongan IV. Dari jumlah 37 responden sebanyak 28 orang atau 75,68% memiliki golongan IV dan sisanya sebanyak 9 orang atau 24,32%

memiliki golongan III.

41

Tabel 5.4. Lama Bekerja Responden

No. Lama Bekerja (Tahun) Frekuensi Persentase (%)

1 0 – 5 1 2,70

2 6 – 10 2 5,40

3 11 – 15 0 0,00

4 16 – 20 9 24,32

5 21 keatas 25 67,57

Jumlah 37 100

Berdasarkan Tabel 5.4 di atas lama bekerja para responden didominasi oleh responden yang telah memiliki masa kerja lebih dari 20 tahun yaitu sebanyak 27 orang atau 43,55% sedangkan responden dengan masa kerja sampai dengan 10 tahun adalah responden yang terkecil dengan jumlah 2 orang atau 3,22%.

Tabel 5.5. Kursus/Diklat/Bimtek di Bidang Pengelolaan Keuangan No. Kursus/Diklat/Bimtek Frekuensi Persentase (%)

1 Tidak Pernah 7 18,92

2 Minim Sekali 18 48,65

3 Pernah 8 21,62

4 Sering 3 8,11

5 Sangat Sering 1 2,70

Jumlah 37 100,00

Berdasarkan Tabel 5.5 di atas responden yang „pernah‟ mengikuti kursus/

diklat/bimtek di bidang pengelolaan keuangan daerah adalah responden terbanyak dengan jumlah 18 orang atau 48,65% sedangkan responden yang „sangat sering‟

mengikuti kursus/diklat/bimtek di bidang pengelolaan keuangan daerah adalah responden yang terkecil dengan jumlah 1 orang atau 2,70%.

5.2. Analisis Data

5.2.1.Pengujian Validitas dan Reliabilitas Data

Sebelum dilakukan uji validitas dan realibilitas, peneliti melakukan

pra-„Pertanggungjawaban Belanja‟, „Audit Intern‟ dan „Kualitas LAKIP‟, karena variabel independen tersebut baru pertama sekali diadopsi oleh peneliti pada penelitian yang pertama sekali ini, terhadap kuesioner responden yang masuk pada tahap pertama sebanyak 18 responden, hasil pra-test menunjukkan bahwa data valid dan reliabel.

Setelah dilakukan pra-test maka peneliti melakukan uji coba tes validitas dan reabilitas pada data responden termasuk kuesioner sebanyak 18 responden yang disertakan pada pra-test. Uji coba dilakukan terhadap 37 responden dan hasilnya menunjukkan data valid dan reliable,

5.2.1.1. Uji validitas

Pengujian validitas instrumen/kuesioner dengan menggunakan software statistik berupa SPSS (Statistical Product and Service Solutions). Nilai validitas dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Correlation dengan kriteria: jika r-hitung > dari r-tabel maka skor butir pertanyaan/pernyataan kuesioner dinyatakan valid, tetapi sebaliknya jika r-hitung < dari r-tabel maka skor butir pertanyaan/pernyataan kuesioner dinyatakan tidak valid. Berdasarkan hasil uji validitas dapat disimpulkan bahwa seluruh item pertanyaan/pernyataan untuk mengukur masing-masing varibel penelitian dinyatakan valid. Hal ini dapat dilihat bahwa r-hitung > dari r-tabel, di mana nilai r-tabel untuk sampel sebanyak 37 adalah 0,316, sebagaimana terlihat pada Tabel 5.6.

43

Tabel 5.6. Uji Validitas Variabel

Variabel Butir Instrumen r-hitung r-tabel Ket.

Kualitas LAKIP SKPD (Y)

Dalam penyusunan LAKIP telah memenuhi prinsip-prinsip pelaporan yang baik harus yaitu:

a. Relevan (berhubungan dengan tujuan dari suatu organisasi dan tergantung dari kegunaan dari informasi itu.

b. Akurat dan handal (informasi bebas dari kesalahan angka dan sebagainya dan tepat) c. Konsisten/dapat

diperbandingkan

d. Verifikasi/ditelusuri (bisa diuji kebenarannya seperti dapat ditelusuri ke data

g. Prinsip lingkup pertanggung-jawaban

yang dibuat harus lebih besar manfaatnya daripada biaya untuk menyusun laporan LAKIP tersebut)

0,382 0,316 Valid

j. Mengikuti standar laporan yang ditetapkan sesuai dengan peraturan

Variabel Butir Instrumen r-hitung r-tabel Ket.

(Renja-SKPD) telah menjabar-kan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

b. Program dan Kegiatan di dalam Renja SKPD telah diakomodir kedalam Rencana Kerja Anggaran SKPD (RKA-SKPD).

0,748 0,316 Valid

c. Dalam penyusunan RKA-SKPD, rencana pengeluaran telah dihubungkan dengan hasil yang akan dicapai.

0,700 0,316 Valid

d. Dalam penyusunan RKA-SKPD, indikator kinerja masukan (input) telah diidentifikasi dengan baik.

0,839 0,316 Valid

e. Dalam penyusunan RKA-SKPD, indikator kinerja keluaran (output) telah diidentifikasi dengan baik.

0,840 0,316 Valid

f. Dalam penyusunan RKA-SKPD, indikator kinerja hasil (outcome) belanja telah didukung oleh dokumen pembayaran yang lengkap.

0,664 0,316 Valid

b. Dalam mempertanggung-jawabkan pengeluaran belanja telah didukung oleh dokumen pembayaran yang sah, ditandatangani oleh pejabat yang terkait atas pengeluaran belanja tersebut.

0,664 0,316 Valid

Audit Intern (X3) a. Audit intern atas evaluasi pelaporan kinerja yang dituangkan dalam LAKIP telah mencakup evaluasi terhadap pemenuhan pelaporan yang mencakup LAKIP telah disusun, LAKIP telah disampaikan tepat waktu dan LAKIP menyajikan

informasi mengenai

pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU)

0,833 0,316 Valid

b. Audit intern atas evaluasi pelaporan kinerja yang dituangkan dalam LAKIP telah

0,819 0,316 Valid

45

Variabel Butir Instrumen r-hitung r-tabel Ket.

mencakup evaluasi terhadap penyajian informasi kinerja yang mencakup Lakip menyajikan informasi pencapaian sasaran yang bersifat outcome, Lakip menyajikan informasi kinerja yang diperjanjikan, Lakip menyajikan evaluasi dan analisis capaian kinerja, LAKIP menyajikan pembandingan data kinerja yang memadai antara realisasi tahun ini

mencakup evaluasi terhadap penyajian informasi kinerja yang mencakup Lakip menyajikan informasi pencapaian sasaran yang bersifat outcome, Lakip menyajikan informasi kinerja yang diperjanjikan, Lakip menyajikan evaluasi dan analisis capaian kinerja, LAKIP menyajikan pembandingan data kinerja yang memadai antara realisasi tahun ini

Dokumen terkait