Berdasarkan uraian tinjauan pustaka pada bagian sebelumnya maka penulis mengetengahkan hipotesis sebagai berikut: ada pengaruh penggunaan model Kooperatif Tipe Talking Chips dalam pembelajaran Matematika siswa di kelas IV SDN 240 Baddo-Baddo.
Lambang Bilangan Romawi
Sebelum menerapkan model kooperatif talking chips
Sesudah menerapkan model kooperatif talking chips Analisis
Temuan
Tidak Berpengaruh Berpengaruh
Pembelajaran Matematika di SD
22 A. Jenis Dan Desain Penelitian
1. Jenis Penelitian
Metodologi penelitian adalah ilmu yang mempelajari cara yang digunakan untuk menyelidiki masalah yang memerlukan pemecahan. Termasuk dalam definisi ini adalah satu set prinsip-prinsip atau kriteria-kriteria yang dengannya para metologist dapat menilai kebenaran dari posedur-prosedur penelitian.
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen, yaitu suatu penelitian yang lebih menekankan analisisnya pada data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen. Penelitian eksperimen meneliti hubungan sebab akibat dengan manipulasi atau diberi perlakuan oleh peneliti, Sugiyono (2017: 72), mengungkapkan bahwa metode penelitian eksperimen merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali. Menurut Wieresman (1991: 99), mendefinisikan eksperimen adalah sebagai situasi penelitian yang sekurang-kurangnya satu variabel bebas yang disebut variabel eksperimental. Menurut Moch, Ali (1993: 134), bahwa penelitian eksperimen adalah modifikasi kondisi yang dilakukan secara sengaja dan terkontrol dalam menentukan peristiwa atau kejadian, serta pengamatan terhadap perubahan yang terjadi pada peristiwa itu sendiri.
2. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan Desain One Group Pretest and Posttest Design. Penelitian ini tidak menggunakan kelas pembanding namun sudah menggunakan tes awal sehingga besar efek atau pengaruh penggunaan model Talking Chips dapat diketahui dengan pasti.
Dalam penelitian ini, subjek penelitian terlebih dahulu diberikan tes awal (pretest) untuk mengetahui sejauh mana kemampuan awal siswa sebelum diberikan pembelajaran Matematika dengan model Talking Chips. Setelah diberikan tes awal, selanjutnya kepada siswa tersebut diberikan perlakuan, yaitu pembelajaran Matematika dengan menggunakan model Talking Chips. Setelah selesai pembelajaran yang menggunakan model Talking Chips, selanjutnya kepada semua siswa diberikan tes akhir (posttest) untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pembelajaran Matematika dengan menggunakan model Talking Chips.
Secara sederhana, desain penelitian yang digunakan dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel 3.1 Desain Penelitian One-Group Pretest-Posttest Design
Sebelum Perlakuan Sesudah
X
Keterangan:
: Nilai Pretest (Sebelum diberi perlakuan) : Nilai Posttest (Setelah diberi perlakuan)
X : Perlakuan ( pembelajaran Matematika dengan model Talking Chips)
B. Lokasi Dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IV SDN 240 Baddo-Baddo yang beralamatkan di Jl. Bandara Baru Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini diperkirakan membutuhkan waktu pelaksanaan selama satu bulan pada bulan Juli 2019.
C. Populasi Dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah himpunan keseluruhan objek yang diselidik. Menurut Sugiyono (2017: 80), pengertian populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SDN 240 Baddo-Baddo yang berjumlah 26 orang yang terdiri atas 7 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan.
Tabel 3.2 Populasi Penelitian
No
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-laki Perempuan
1 7 19 26
2. Sampel
Menurut Sugiyono sampel adalah bagian atau jumlah dan karakteritik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, missalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti akan mengambil sampel dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi.
Penelitian ini menggunakan seluruh anggota populasi sebagai sampel karena populasi kurang dari 100.
Penentuan sampel dilakukan dengan teknik purposif random sampling yaitu penelitian memilih satu kelas untuk dijadikan kelas eksperimen. Kelas yang dipilih adalah kelas IV dengan jumlah siswa 26 orang, terdiri dari 7 siswa laki-laki, dan 19 siswa perempuan. Pada kelas IV ini, siswa diberikan tes awal sebelum siswa diberi perlakuan dengan menerapkan model talking chips dan setelah itu diberikan tes akhir untuk mengetahui hasil yang akan dicapai oleh siswa.
D. Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional a. Variabel Penelitian
Menurut Sugiyono (2017: 60), variabel penelitian ini adalah sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh seorang peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi mengenai hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya, dilihat dari hubungan variabel satu dengan variabel yang lain, maka macam-macam variable dalam penelitian di bedakan menjadi variabel bebas dan variabel terikat.
1. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah model talking chips dalam pembelajaran matematika.
2. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa.
b. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Model Pembelajaran Talking Chips yang berarti pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang, masing-masing anggota kelompok membawa beberapa kartu yang telah dibagikan oleh gurunya yang berfungsi untuk menandai apabila mereka telah berpendapat dengan meletakkan kartu tersebut ke atas meja. Model pembelajaran talking chips adalah salah satu model pembelajaran kooperatif.
2. Hasil belajar adalah hal yang di lakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam pembelajaran talking chips melalui pemberian tes, khususnya pada pembelajaran Matematika kelas IV SDN 240 Baddo-Baddo Kabupaten Maros.
Hasil belajar dapat dilihat berdasarkan kegiatan observasi dan tes yang dilakukan.
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Dalam Penelitian ini, peneliti akan melakukan secara langsung di SDN 240 Baddo-Baddo Kabupaten Maros untuk mengetahui tingkah laku siswa dan
guru selama proses pembelajaran. Observasi terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui tingkah laku dan kemampuan siswa menyerap materi yang diajarkan sedangkan observasi terhadap guru dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perlakuan dapat menghasilkan perubahan.
2. Tes
Tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan nilai siswa sebelum dan setelah diberi perlakuan kemudian dibandingkan. Tes yang digunakan adalah tes esay sebanyak 10 nomor, yang penilaiannya jika benar mendapat skor tiga dan jika salah mendapat skor satu.
Dalam penelitian ini tes di bagi menjadi dua, yaitu tes awal dan tes akhir.
a. Tes awal (pretest)
Tes awal dilakukan sebelum treatment, pretest dilakukan untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh murid sebelum menggunakan metode eksperimen b. Pemberian perlakuan (Treatment)
Dalam hal ini peneliti menggunakan metode eksperimen pada pembelajaran Matematika materi Lambang Bilangan Romawi.
c. Tes Akhir (Posttest)
Setelah treatment, tindakan selanjutnya adalah posttest untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode eksperimen.
Tes yang dilakukan pada penelitian ini berupa tes tertulis. Bentuk tes yaitu esay sebanyak 10 nomor. Adapun lembar observasi, digunakan untuk mengamati keaktifan-keaktifan siswa selama kegiatan pembelajaran.
F. Instrumen Penelitian 1. Uji validitas instrumen
Validitas instrumen dapat menunjukkan bahwa hasil dari suatu pengukuran menggambarkan segi atau aspek yang diukur. Suatu instrumen yang sudah dinyatakan valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapat data penelitian adalah valid. Untuk mengetahui validitas instrumen digunakan rumus product moment. Product moment correlation adalah salah satu teknik untuk mencari korelasi variabel. Disebut product moment correlation karena hasil belajar perkalian dari mencari moment variabel yang dikorelasikan (product of the moment). Untuk mencari korelasi product moment correlation digunakan uji validitas instrumen dengan tujuan untuk mengetahui konsistensi dari instrumen sebagai alat ukur, sehingga hasil suatu pengukuran dapat dipercaya.
Hasil pengukuran dapat di percaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok-kelompok subjek yang sama (homogen) diperoleh hasil yang relatif sama. Selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah. Dalam hal ini, relatif sama berarti tetap adanya toleransi terhadap perbedan-perbedaan kecil diantara hasil beberapa kali pengukuran. Suatu instrumen pengukuran dikatakan valid jika instrumen dapat mengukur sesuatu dengan tepat apa yang hendak diukur, uji validitas instrumen dilakukan untuk menguji validitas (ketepatan).
Untuk menguji validitas tes hasil belajar digunakan rumus r pearson sebagai berikut:
Arikunto, 2015: 87 Keterangan:
N = jumlah siswa
∑𝑋𝑌 = jumlah nilai perbutir dikalikan nilai per siswa
∑𝑋 = jumlah nilai per butir
∑𝑌 = jumlah nilai per siswa 2. Uji reliabilitas instrumen
Reliabilitas berhubungan dengan ketetapan hasil pengukuran. Maksudnya suatu instrumen yang reliabel akan menunjukkan hasil pengukuran yang sama walaupun digunakan dalam waktu yang berbeda.
Pada penelitian ini akan dilakukan uji reliabilitas pada hasil belajar matematika menggunakan rumus reliabilitas sebagai berikut:
Arikunto, 2015: 122
r11 = reliabilitas yang dicari
jumlah varians skor tiap-tiap item 𝜎 2 = varians total
3. Uji tingkat kesukaran soal
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar.
Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi siswa untuk memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauannya. Untuk mencari tingkat indeks kesukaran (P) dengan rumus:
P keterangan:
P : Indeks kesukaran
B : Jumlah siswa yang menjawab soal dengan benar JS : Jumlah seluruh siswa peserta tes
Arikunto, 2015: 223 Kriteria untuk mengetahui indeks kesukaran item soal adalah:
Soal P = 0,00 – 0,30 termasuk soal sukar Soal P = 0,31 – 0,70 termasuk soal sedang Soal P = 0,71 – 1,00 termasuk soal mudah
Soal-soal yang dianggap baik, yaitu soal-soal sedang, adalah soal-soal yang mempunyai indeks kesukaran 0,30 sampai dengan 0,70.
4. Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang kurang pandai (berkemampuan rendah). Rumus yang digunakan untuk mencari daya pembeda adalah:
DP = ∑ – ∑ Keterangan:
DP : Indeks Daya Pembeda
∑ : Jumlah jawaban benar pada kelompok atas
∑ : Jumlah jawaban benar pada kelompok bawah N A : Jumlah Siswa Kelompok atas
N B : Jumlah siswa kelompok bawah
Menentukan Kelas Atas dan Kelas Bawah
Untuk menentukan banyaknya kelas atas dan bawah digunakan rumus x n
Kriteria untuk mengetahui daya pembeda butir soal adalah:
Jika DP= 0,00 – 0,20 adalah item yang jelek Jika DP = 0,21 – 0,40 adalah item yang cukup Jika DP = 0,41 – 0,70 adalah item yang baik Jika DP = 0,71 – 1,00 adalah item baik sekali DP : negatif, semuanya tidak baik.
Butir-butir soal yang baik adalah butir-butir soal yang mempunyai indeks diskriminasi 0,4 sampai dengan 0,7.