• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

H. Perbandingan Trigonometri

I. Hipotesis

kerangka berpikir.

Bab III dalam skripsi ini, mengenai metode penelitian yang mencakup

jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subjek dan objek penelitian,

variabel penelitian, rancangan pembelajaran, bentuk data, instrumen

penelitian, validitas, prosedur pengumpulan data, metode analisis data, serta

prosedur pelaksanaan penelitian.

Bab IV memaparkan pelaksanaan penelitian, hasil penelitian, analisis,

serta pembahasan dari penelitian.

9

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Belajar dan Pembelajaran

1. Pengertian Belajar

Belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh setiap orang.

Seseorang dapat dikatakan belajar jika terjadi proses kegiatan yang dapat

mengakibatkan perubahan tingkah laku pada dirinya yang diperoleh

melalui pengalaman, proses stimulus respon, pembiasaan, peniruan,

pemahaman dan penghayatan, serta melalui aktivitas individu mencapai

sesuatu yang inginkan. Menurut Ahmadi dan Supriyono (1991:121),

belajar didefinisikan sebagai berikut: “Belajar ialah suatu proses usaha

yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku

yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu

sendiri dalam interaksi dengan lingkungan”.

Menurut Prayitno (2009:203), belajar adalah upaya untuk menguasai

sesuatu yang baru. Konsep ini mengandung dua hal pokok, yaitu: (a) usaha

untuk menguasai, dan (b) sesuatu yang baru. Usaha menguasai merupakan

aktivitas belajar yang sesungguhnya dan sesuatu yang baru merupakan

hasil yang diperoleh dari aktivitas belajar itu.

Beberapa pakar pendidikan yang dikutip oleh Agus Suprijono

(2009:2-3) mendefinisikan belajar sebagai berikut:

a. Gagne

Belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai

seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan

diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah.

b. Cronbach

Learning is shown by a change in behavior as a result of experience.

(Belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman).

c. Geoch

Learning is change in performance as a result of practice. (Belajar

adalah perubahan performance sebagai hasil latihan).

d. Morgan

Learning is any relatively permanent change in behavior that is a result of past experience. (Belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat

permanen sebagai hasil dari pengalaman).

Beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan suatu pengertian belajar

yaitu suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk mendapatkan

pengalaman baru atau pengetahuan baru.

2. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan proses interaksi siswa dengan guru agar

memperoleh ilmu dan pengetahuan atau sesuatu yang lebih baik. Winkel

(1991) mendefinisikan pembelajaran sebagai pengaturan dan penciptaan

kondisi-kondisi ekstern sedemikian rupa, sehingga menunjang proses

11

Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran

merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber

belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran ditekankan pada

kegiatan belajar siswa melalui usaha-usaha yang terencana dalam

memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar.

Menurut Gagne (1977) dikutip oleh Siregar dan Nara (2011:12),

Instruction as a set of external events design to support the several processes of learning, which are internal. Pembelajaran adalah

seperangkat peristiwa-peristiwa eksternal yang dirancang untuk

mendukung beberapa proses belajar yang sifatnya internal. Lebih lanjut

Gagne (1985) mengemukakan pembelajaran yang lebih lengkap:

Instruction is intended to promote learning, external situation need to be arranged to activate support and maintain the internal processing that constitutes each learning event. Pembelajaran yang dimaksudkan untuk

menghasilkan belajar, situasi eksternal harus dirancang sedemikian rupa

untuk mengaktifkan, mendukung, dan mempertahankan proses internal

yang terdapat dalam setiap peristiwa belajar.

Beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan suatu pengertian

pembelajaran, yaitu suatu perencanaan yang sengaja dirancang oleh guru

untuk siswa agar terjadi proses belajar pada diri siswa. Dalam

pembelajaran dan belajar tidak terlepas dari mengajar, sehingga proses

belajar, mengajar, dan pembelajaran selalu bersama-sama. Karena ketika

B. Teori Belajar Piaget

Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu

perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak

berurutan melalui empat tahap. Urutan tahap itu tetap bagi setiap orang,

namun usia kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap tahap

berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing

individu.

Tahap perkembangan kognitif yang dikemukakan Piaget adalah sebagai

berikut:

1. Tahap Sensori Motor (dari kelahiran-umur 2 tahun)

Pada tahap ini, pengalaman yang diperoleh melalui perbuatan fisik

(gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra). Awalnya

pengalaman itu bersatu dengan dirinya, ini berarti bahwa suatu objek itu

ada bila ada pada penglihatannya. Perkembangan selanjutnya ia mulai

berusaha untuk mencari objek yang asalnya terlihat kemudian menghilang

dari pandangannya. Akhir dari tahap ini ia mulai mencari objek yang

hilang dan tidak terlihat perpindahannya. Objek mulai terpisah dari dirinya

dan bersamaan dengan itu konsep objek dalam struktur kognitifnya mulai

matang.

2. Tahap Pra-Operasional (umur 2-7 tahun)

Pada tahap ini, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata

dan gambar-gambar. Pemikiran simbolis melampaui hubungan sederhana

anak-13

anak prasekolah dapat secara simbolis melukiskan dunia, menurut Piaget,

mereka masih belum mampu untuk melaksanakan apa yang Piaget sebut

“operasi (operations)” – tindakan mental yang diinternalisasikan yang memungkinkan anak-anak melakukan secara mental apa yang sebelumnya

dilakukan secara fisik.

3. Tahap Operasi Konkret (umur 7-11 tahun)

Pada tahap ini, anak kini mengembangkan kemampuan untuk

mempertahankan (konservasi), kemampuan mengelompokkan secara

memadai, melakukan pengurutan (mengurutkan dari yang terkecil sampai

paling besar dan sebaliknya), dan menangani konsep angka. Tetapi, selama

periode ini proses pemikiran diarahkan pada kejadian riil yang diamati

oleh anak. Anak dapat melakukan operasi problem yang agak kompleks

selama problem itu konkret dan tidak abstrak.

4. Tahap Operasi Formal (umur 11 tahun-dewasa)

Pada tahap ini, anak-anak sudah mampu melakukan penalaran

dengan menggunakan hal-hal yang abstrak. Penggunaan benda-benda

konkret tidak diperlukan lagi. Anak mampu bernalar tanpa harus

berhadapan dengan objek atau peristiwanya langsung. Penalaran yang

terjadi dalam struktur kognitifnya telah mampu hanya dengan

menggunakan simbol-simbol, ide-ide, abstraksi, dan generalisasi. Selain

itu, karakteristik lain dari anak pada tahap ini telah memiliki kemampuan

berfikir kombinatorial, yaitu kemampuan menyusun kombinasi-kombinasi

ini tidak lagi berhubungan dengan ada-tidaknya benda-benda konkret,

tetapi berhubungan dengan tipe berfikir.

Menurut Piaget, perkembangan struktur kognitif yang dimiliki

seseorang itu dikarenakan adanya proses asimilasi dan akomodasi. Definisi

asimilasi adalah proses mendapatkan informasi dan pengalaman baru yang

langsung menyatu dengan struktur mental yang sudah dimiliki seseorang.

Akomodasi adalah proses mestrukturkan kembali mental dan sebagai

akibatnya akan timbul informasi dan pengalaman yang baru.

Dari klasifikasi di atas, siswa kelas X SMA termasuk pada tahap

operasi formal. Siswa mampu berpikir dengan cara yang lebih abstrak dan

logis, sehingga pemikirannya lebih idealistis. Anak pada tahap ini tidak lagi

berhubungan dengan ada-tidaknya benda-benda konkret, tetapi berhubungan

dengan tipe berfikir. Menurut observasi yang telah peneliti lakukan

sebelumnya, kenyataannya masih banyak siswa hanya sekedar menghafalkan

rumus-rumus saja tanpa mengetahui konsep materi tersebut. Hal ini

dimungkinkan pemahaman yang ditangkap siswa masih kurang, maka

dibutuhkan pemahaman ulang. Dan pemahaman yang kurang tersebut dapat

dibantu dengan penggunaan alat peraga pada pembelajaran matematika.

Alat peraga sebagai alat bantu dalam pemahaman materi yang dapat

memproses kembali pemahaman yang sebelumnya menjadi lebih baik,

sehingga akan menghasilkan pemahaman yang baru. Dengan adanya alat

peraga sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran matematika, siswa dapat

15

digunakan mengajak siswa untuk dapat menemukan sendiri serta meyakinkan

siswa akan bentuk dari rumus-rumus yang telah dipelajari siswa. Untuk

memantapkan rumus-rumus tersebut, selain pengetahuan yang telah siswa

miliki sebelumnya diperlukan alat peraga yang membantu siswa memahami

konsep matematika tersebut.

C. Teori Bruner

Jerome Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa belajar matematika

akan lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep

dan struktur-struktur yang terbuat dalam pokok bahasan yang diajarkan,

disamping hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan stuktur-struktur.

Dengan mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahan yang

sedang dibicarakan, anak akan memahami materi yang harus dikuasainya itu.

Ini menunjukkan bahwa materi yang mempunyai suatu pola atau struktur

tertentu akan lebih mudah dipahami dan diingat anak.

Bruner mengemukakan bahwa dalam proses belajarnya anak melewati 3

tahap, yaitu:

1. Tahap Enaktif

Tahap ini anak secara langsung terlihat dalam memanipulasi

(mengotak-atik) objek. Anak diajarkan dengan menggunakan

2. Tahap Ikonik

Tahap ini kegiatan yang dilakukan anak berhubungan dengan

mental, yang merupakan gambaran dari objek-objek yang

dimanipulasinya. Anak tidak langsung memanipulasi objek seperti

yang dilakukan siswa dalam tahap enaktif.

3. Tahap Simbolik

Tahap ini anak memanipulasi simbol-simbol atau lambang-lambang

objek tertentu. Anak tidak lagi terkait dengan objek-objek pada

tahap sebelumnya. Siswa pada tahap ini sudah mampu

menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek riil.

Bruner, melalui teorinya, mengungkapkan bahwa dalam proses belajar

anak sebaiknya diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat

peraga). Melalui alat peraga yang ditelitinya itu, anak akan melihat langsung

bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang

sedang diperhatikannya itu. Keteraturan tersebut kemudian oleh anak

dihubungkan dengan keterangan intuitif yang telah melekat pada dirinya.

Pada penelitian ini menggunakan alat peraga sebagai alat bantu siswa

dalam pemahaman materi yang disampaikan oleh pengajar. Dengan

menggunakan alat peraga siswa dapat berinteraksi dengan siswa lainnya.

Siswa diajak untuk dapat menemukan sendiri serta meyakinkan siswa akan

bentuk dari rumus-rumus yang dipelajarinya.

17

D. Ranah Kognitif Bloom

Pada tahun 1956 Benyamin Bloom menyampaikan gagasannya berupa

taksonomi tujuan pendidikan dengan menyajikannya dalam bentuk hierarki.

Tujuan penyajian ke dalam bentuk sistem klasifikasi hierarki ini dimaksudkan

untuk mengkategorisasi hasil perubahan kognisi pada diri siswa sebagai hasil

sebuah pembelajaran. Bloom dalam taksonominya, yang selanjutnya disebut

Taksonomi Bloom, hanya memasukkan perubahan-perubahan mental yang

dapat terukur dan teramati. Perubahan-perubahan yang dimaksud di atas

antara lain adalah berkaitan dengan pemecahan masalah, testing, dan

pengamatan. Melalui gagasannya, Bloom menyediakan rujukan yang dapat

digunakan oleh guru (matematika) untuk memformulasikan tujuan-tujuan

pembelajaran, memilih metode mengajar, dan pendesainan tes serta aktivitas

belajar siswa.

Taksonomi Bloom yang dimaksud terdiri atas:

1. Pengetahuan (Knowledge)

yaitu, kemampuan mengingat akan hal-hal yang telah dipelajari dan

disimpan dalam ingatan, yang dapat digali pada saat dibutuhkan

melalui bentuk mengingat kembali. Hal itu dapat meliputi metode,

kaidah, prinsip, dan fakta.

2. Pemahaman (Comprehension)

yaitu, kemampuan untuk menangkap/memahami arti dari mata

kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti

tentang sesuatu.

3. Penerapan (Application)

yaitu, kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode

untuk menyelesaikan masalah kehidupan yang nyata pada suatu

kasus atau problem yang konkret dan baru. Ini meliputi penerapan

dalam hal-hal seperti aturan, metode, konsep, prinsip, dan teori.

4. Analisis (Analysis)

yaitu, kemampuan untuk memilah bahan ke dalam bagian-bagian

atau menyelesaikan sesuatu yang kompleks ke bagian yang lebih

sederhana sehingga struktur organisasi dapat dimengerti.

5. Sintesis (Synthesis)

yaitu, kemampuan untuk memadukan konsep, sehingga

menemukan konsep baru. Bagian-bagian ini dihubungkan satu

sama lain sehingga tercipta suatu bentuk baru.

6. Evaluasi (Evaluation)

yaitu, kemampuan untuk mengambil keputusan untuk memberikan

penilaian atau pertimbangan terhadap suatu materi pelajaran sesuai

tujuannya. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi di antara ranah-ranah

kognitif yang lain, karena ia melibatkan ranah-ranah lain, dari

mulai pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, hingga

19

Dalam Revised Taxonomy, Anderson dan Krathwohl (2001) melakukan

revisi pada ranah kognitif Bloom. Revisi yang mereka lakukan mencakup

beberapa perubahan antara lain:

1. Mengingat

yaitu, meningkatkan ingatan atas materi yang disajikan dalam

bentuk yang sama seperti yang diajarkan. Indikator-indikatornya

adalah mengenali, mendaftar, menggambarkan, mengidentifikasi,

menamakan, meletakkan, dan menemukan.

2. Mengerti/Memahami

yaitu, mampu membangun arti pesan pembelajaran, termasuk

komunikasi lisan, tulisan maupun grafis. Indikator-indikatornya

adalah menafsirkan, mencontohkan, merangkum, menyimpulkan,

menyatakan kembali, mengklasifikasikan, membandingkan, dan

menjelaskan.

3. Memakai/Menerapkan

yaitu, menggunakan prosedur untuk mengerjakan latihan maupun

memecahkan masalah. Indikator-indikatornya adalah menjalankan,

melaksanakan, menggunakan, dan menyelesaikan.

4. Menganalisis

yaitu, memecah bahan-bahan ke dalam unsur-unsur pokoknya dan

menentukan bagaimana bagian-bagian saling berhubungan satu

sama lain dan kepada keseluruhan struktur. Indikator-indikatornya

5. Mengevaluasi

yaitu, membuat pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar

tertentu. Indikator-indikatornya adalah memeriksa, membuat

dugaan, mengkritisi, melakukan percobaan, menilai, menguji,

mendeteksi, dan memonitor.

6. Mencipta

yaitu, membuat suatu produk yang baru dengan mengatur kembali

unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam suatu pola atau struktur

yang belum pernah ada sebelumnya. Indikator-indikatornya adalah

mendesain, mengkonstruksi, merencanakan, menghasilkan,

menemukan, menciptakan, dan membuat.

Menurut Bloom, pemahaman siswa akan lebih baik bila keterampilan

berpikir siswa dalam enam jenjang tersebut ikut serta, yaitu mulai dari

tingkatan yang paling dasar ke tingkatan yang lebih tinggi. Prinsip

matematika yang diajarkan adalah dari bentuk sederhana kemudian sulit atau

dari yang abstrak kemudian konkret. Penggunaan alat peraga pada

pembelajaran membantu siswa untuk dapat melakukan aktivitas mengingat,

memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan.

E. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang dimiliki siswa setelah

ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar yang terungkap dari proses

21

Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada

guru tentang kemajuan belajar siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan

belajar melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru

dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik

untuk keseluruhan kelas maupun individu.

Menurut Howard Kingsley dikutip oleh Nana Sudjana (1989:45), hasil

belajar dibagi menjadi tiga macam hasil belajar, yaitu: (a) keterampilan dan

kebiasaan; (b) pengetahuan dan pengertian; (c) sikap dan cita-cita, yang

masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum

sekolah. Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Hasil belajar

tesebut terjadi terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa

dampak pengajaran dan dampak pengiring. Kedua dampak tersebut

bermanfaat bagi guru dan siswa (Dimyati & Mudjiono, 2006:20).

Menurut Hudojo (1988:144), dalam kegiatan mental, orang menyusun

hubungan-hubungan antara bagian-bagian informasi yang telah diperoleh

sebagai pengertian. Karena itu orang menjadi memahami dan menguasai

hubungan-hubungan tersebut sehingga orang itu dapat menampilkan

pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang dipelajari; inilah

merupakan hasil belajar. Menurut Suprijono (2009:5-7), hasil belajar adalah

pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi,

dan keterampilan.

Beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan suatu pengertian hasil

mengikuti serangkaian proses belajar. Hasil belajar yang terungkap dari

proses belajar siswa, yaitu berupa keterampilan siswa, pengetahuan siswa dan

sikap siswa.

F. Pengertian Keefektifan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988:219) keefektifan adalah

„keberhasilan‟ (tt usaha, tindakan). Keefektifan yang dimaksud dalam

penelitian ini adalah keberhasilan dalam penggunaan alat peraga Trigamaster

dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan perbandingan

trigonometri. Jadi diharapkan dengan keberhasilan penggunaan alat peraga

dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Suatu pembelajaran dikatakan efektif apabila pembelajaran tersebut

dapat mencapai tujuan pembelajaran secara cepat dan tepat. Keefektifan

pembelajaran dapat dilihat secara kuantitatif dengan melihat adanya

peningkatan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Selain dilihat secara

kuantitatif, dapat dilihat juga secara kualitatif yaitu melihat keterlibatan siswa

dalam proses pembelajaran. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Kartika

Budi (2001:48) yang menekankan bahwa efektivitas pembelajaran lebih

mengacu kepada proses dan hasil.

Pada penelitian ini, keefektifan yang dimaksud adalah keterlibatan

siswa dalam proses pembelajaran dan hasil belajar yang dicapai siswa

mengalami peningkatan. Tingkat keefektifan dalam pembelajaran dipengaruhi

23

metode dan strategi pembelajaran. Karena apabila metode dan strategi yang

digunakan baik dan tepat maka semakin efektif pula tujuan pembelajaran

yang akan dicapai, sehingga hasil belajar yang dicapai semakin meningkat.

Beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan suatu pengertian keefektifan

adalah keberhasilan dalam penggunaan alat peraga Trigamaster pada pokok

bahasan perbandingan trigonometri sebagai strategi pembelajaran matematika

yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

G. Alat Peraga

Menurut Piaget, siswa kelas X sudah tidak membutuhkan alat peraga

sebagai alat bantu dalam belajar. Teori yang disampaikan oleh Piaget

bertentangan dengan kenyataan yang ada di sekolah. Siswa di sekolah masih

membutuhkan alat bantu untuk memahami materi pelajaran yang

disampaikan oleh pengajar. Karena prinsip matematika diajarkan dari bentuk

yang sederhana kemudian kompleks.

1. Alat Peraga

Untuk meningkatkan ketertarikan siswa dalam belajar matematika,

diperlukan kreatifitas dalam menyajikan materi pelajaran. Salah satunya

yaitu pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga. Alat

peraga merupakan bagian dari media. Alat peraga dalam pembelajaran

merupakan media yang digunakan sebagai perantara dalam membantu

alat peraga merupakan strategi pembelajaran dalam metode penemuan

ataupun permainan.

Menurut Darhim (1992:6) alat peraga pengajaran matematika dapat

didefinisikan sebagai suatu alat peraga yang penggunaannya diintegrasikan

dengan tujuan dan isi pengajaran yang telah dituangkan dalam Garis Besar

Program Pengajaran (GBPP) bidang studi matematika dan bertujuan untuk

mempertinggi mutu kegiatan belajar mengajar. Menurut Djoko Iswadji

(Pujiati, 2004:3) alat peraga matematika adalah seperangkat benda konkret

yang dirancang, dibuat, dihimpun atau disusun secara sengaja yang

digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan

konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika. Penggunaan alat peraga

juga dapat membantu siswa dalam menunjukkan bagaimana rumus-rumus

yang siswa dapatkan itu terbentuk.

Fungsi khusus dari media pendidikan matematika (alat peraga)

antara lain sebagai berikut (Darhim, 1992:12):

a. Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi;

b. Untuk meningkatkan hasil proses belajar mengajar;

c. Untuk membangkitkan minat belajar siswa;

d. Untuk membuat konsep matematika abstrak yang dapat disajikan dalam

bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami, dimengerti, dan dapat

disajikan sesuai dengan tingkat-tingkat berpikir siswa;

e. Untuk membantu daya tilik siswa dalam memahami sesuatu, idea yang

25

f. Untuk membantu melihat hubungan antara konsep-konsep dalam

matematika dengan alam sekitar;

g. Dapat dijadikan sebagai objek penelitian untuk menyempurnakan

nilai-nilai atau manfaat dari alat itu sendiri; dan

h. Untuk menghindari terjadinya verbalisme.

Beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan suatu pengertian alat

peraga merupakan suatu media pendidikan yang dapat membantu siswa

dalam menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep matematika

yang disampaikan oleh pengajar dan mempertinggi mutu kegiatan belajar

mengajar matematika agar hasil proses belajar meningkat.

2. Alat Peraga Trigamaster

a. Spesifikasi Alat Peraga

Alat peraga Trigamaster adalah alat untuk membaca nilai-nilai

perbandingan trigonometri. Alat peraga tersebut berupa papan yang

terbuat dari gabus/karton, kertas milimeterblock, dua busur, dan

benang. Pada kertas millimeterblock digambar lingkaran dengan

jari-jari 10 satuan (per kotak = 1 satuan) dan koordinat Cartesius. Kertas

tersebut ditempelkan pada gabus kemudian tempelkan busur di dalam

b. Gambar Alat Peraga

Gambar 2.1.

c. Cara Penggunaan Alat Peraga

1) Jari-jari lingkaran pada alat peraga ini = 10 kotak (10 satuan).

2) Tariklah benang pada alat peraga tepat dengan sudut yang

ditanyakan sampai memotong batas lingkaran (ukuran besar sudut

dibantu dengan adanya busur pada alat ini).

3) Berilah titik dengan menggunakan pensil pada titik perpotongannya

kemudian tariklah sisa benang tegak lurus dengan sumbu x.

4) Bacalah panjang sisi-sisi segitiga yang terbentuk, yaitu membaca

panjang x, y, dan r.

5) Setelah menemukan panjang sisi-sisinya, kemudian masukkan

angka-angka tersebut ke dalam rumus-rumus perbandingan

27

d. Operasional Alat Peraga

Gambar 2.2.

1) Membaca Nilai-Nilai Perbandingan Trigonometri pada Sinus.

Untuk membaca nilai-nilai perbandingan pada sinus dibutuhkan

panjang y dan r. Dimana jari-jari lingkaran pada alat ini adalah 10

satuan, sehingga:

2) Membaca Nilai-Nilai Perbandingan Trigonometri pada Cosinus.

Untuk membaca nilai-nilai perbandingan pada cosinus dibutuhkan

panjang x dan r. Dimana jari-jari lingkaran pada alat ini adalah 10

satuan, sehingga:

3) Membaca Nilai-Nilai Perbandingan Trigonometri pada Tangen.

Untuk membaca nilai-nilai perbandingan pada tangen dibutuhkan

panjang y dan x. Dimana jari-jari lingkaran pada alat ini adalah 10

satuan, sehingga:

Untuk menentukan nilai-nilai perbandingan dari cosecan, secan dan

cotangen menggunakan langkah-langkah yang sama serta

menggunakan rumus-rumus perbandingan yang sesuai.

H. Perbandingan Trigonometri

1. Pengertian Trigonometri

Trigonometri (dari bahasa Yunani trigonon = tiga sudut dan metro =

mengukur) adalah sebuah cabang matematika yang berhadapan dengan

sudut segitiga dan fungsi trigonometrik seperti sinus, cosinus, dan tangen.

Dokumen terkait