HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3. Hasil Analisis Asumsi Regresi Klasik (BLUE / Best Linier Unbiased Estimator )
4.3.3. Uji Hipotesis Secara Parsial
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas Kredit Modal Kerja (X1), Tingkat Inflasi (X2), Pendapatan Perkapita (X3),dan Jumlah Tenaga Kerja (X4). Hasil penghitungan tersebut dapat dilihat dalam analisis sebagai berikut :
Tabel 9 : Hasil Analisis Variabel Kredit Modal Kerja (X1), Tingkat Inflasi (X2), Pendapatan Perkapita (X3),dan Jumlah Tenaga Kerja (X4) terhadap Pertumbuhan Industri kecil (Y).
Variabel t hitung t tabel r
2
Parsial
Kredit Modal Kerja (X1) 7,076 2,228 0,833
Tingkat Inflasi (X2) 1,454 2,228 0,174
Pendapatan perkapita (X3) 11,948 2,228 0,935
Jumlah Tenaga Kerja (X4) 13,641 2,228 0,948
Variabel terikat : Pertumbuhan Industri Kecil Sumber: Lampiran 3 dan 6
Selanjutnya untuk melihat ada tidaknya pengaruh masing-masing variabel terhadap variable terikatnya, dapat dianalisa melalui uji t dengan ketentuan sebagai berikut :
Pertumbuhan Industri Kecil (Y)
Langkah-langkah pengujian :
i. Ho : 1 = 0 (tidak ada pengaruh) Hi : 1 0 (ada pengaruh) ii. = 0,05 dengan df = 4 iii. t hitung = ) (β Se β 1 1 = 7,076
iv. level of significani = 0,05/2 (0,025) berarti t tabel sebesar 2,228
v. pengujian
Gambar 8
Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial Faktor Kredit Modal Kerja (X1) terhadap Pertumbuhan Industri Kecil (Y)
2,228 -2,228
Daerah Penerimaan Ho
Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho
7,076
Sumber : lampiran 3
Berdasarkan pehitungan diperoleh t-hitung sebesar 7,076 > t-tabel sebesar 2,228 Ho ditolak, pada level signifikan 5 %, sehingga secara parsial Faktor Kredit Modal Kerja (X1) berpengaruh secara nyata dan negatif terhadap Pertumbuhan Industri Kecil (Y). Hal ini didukung juga dengan nilai signifikasi dari Kredit Modal Kerja (X1) sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05.
yang artinya bahwa Kredit Modal Kerja (X1) secara parsial mampu menjelaskan variabel terikat Pertumbuhan Industri Kecil (Y) sebesar 83,3 %, sedangkan sisanya 16,7 % tidak mampu dijelaskan oleh variabel tersebut.
b) Pengaruh secara parsial antara Tingkat Inflasi (X2) terhadap Pertumbuhan Industri Kecil (Y)
Langkah-langkah pengujian :
i. Ho : 2 = 0 (tidak ada pengaruh) Hi : 2 0 (ada pengaruh) ii. = 0,05 dengan df = 4 iii. t hitung = ) (β Se β 2 2 = 1,454
iv. level of significani = 0,05/2 (0,025) berarti t tabel sebesar 2,228 v. pengujian
Gambar 9
Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial faktor Tingkat Inflasi (X2) terhadap Pertumbuhan Industri Kecil (Y)
Daerah Penerimaan Ho
Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho
1,454 2,228
-2,288
Sumber : Lampiran 3
Berdasarkan pehitungan diperoleh t-hitung sebesar 1,454 < t tabel sebesar 2,228 maka Ho diterima dan Hi di tolak, pada level signifikan 5 %, sehingga secara parsial Faktor Tingkat Inflasi (X ) tidak berpengaruh
didukung juga dengan nilai signifikasi dari Tingkat Inflasi (X2) sebesar 0,176 yang lebih besar dari 0,05.
Nilai r2 parsial untuk variabel Tingkat Inflasi sebesar 0,174 yang artinya bahwa Tingkat Inflasi (X2) secara parsial mampu menjelaskan variabel terikat Pertumbuhan Industri Kecil (Y) sebesar 17,4 %, sedangkan sisanya 82,6 % tidak mampu dijelaskan oleh variabel tersebut.
c) Pengaruh secara parsial antara Pendapatan Perkapita (X3) terhadap Pertumbuhan Industri Kecil (Y)
Langkah-langkah pengujian :
i. Ho : 3 = 0 (tidak ada pengaruh) Hi : 3 0 (ada pengaruh) ii. = 0,05 dengan df = 4 iii. t hitung = ) (β Se β 3 3 = 11,948
iv. level of significani = 0,05/2 (0,025) berarti t tabel sebesar 2,228 v. pengujian
Gambar 10
Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial Pendapatan Perkapita (X3) terhadap Pertumbuhan Industri Kecil (Y)
2,228 11,948 - 2,228 Daerah Penerimaan Ho Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho Sumber : Lampiran 3
sebesar 2,228 maka Ho ditolak dan Hi diterima, pada level signifikan 5 %, sehingga secara parsial Faktor Pendapatan Perkapita (X3) berpengaruh secara nyata positif terhadap Pertumbuhan Industri Kecil (Y).hal ini didukung juga dengan nilai signifikasi dari Pendapatan Perkapita (X3) sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05.
Nilai r2 parsial untuk variabel Pendapatan Perkapita sebesar 0,935
yang artinya Pendapatan Perkapita (X3) secara parsial mampu
menjelaskan variabel terikat Pertumbuhan Industri Kecil (Y) sebesar 93,5 %, sedangkan sisanya 6,5 % tidak mampu dijelaskan oleh variabel
umlah Tenaga Kerja (X4) terhadap (Y)
vi. H ruh)
h) tersebut.
d) Pengaruh secara parsial antara J Pertumbuhan Industri Kecil
Langkah-langkah pengujian : o : 4 = 0 (tidak ada penga Hi : 4 0 (ada pengaru vii. = 0,05 dengan df = 4 viii. t hitung = ) (β Se 4 4 = 13,641 β
Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial Jumlah Tenaga Kerja (X4) terhadap Pertumbuhan Industri Kecil (Y)
S
x. pengujian
Gambar 11
umber : Lampiran 3
Berdasarkan pehitungan diperoleh t-hitung sebesar 13,641 > t tabel sebesar 2,228 maka Ho di tolak dan Hi di terima, pada level signifikan 5 %, sehingga secara parsial Faktor Jumlah Tenaga Kerja (X4) berpengaruh secara nyata positif terhadap Pertumbuhan Industri Kecil (Y). hal ini didukung juga dengan nilai signifikasi dari Jumlah Tenaga Kerja (X4) sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05.
Nilai r parsial untuk variabel Jumlah Tenaga Kerja sebesar 0,948
yang artinya Jumlah Tenaga Kerja (X4) secara parsial mampu
menjelaskan variabel terikat Pertumbuhan Industri Kecil (Y) sebesar 94,8 %, sedangkan sisanya 5,2 % tidak mampu dijelaskan oleh variabel tersebut.
Kemudian untuk mengetahui variabel mana yang berpengaruh paling dominan empat variabel bebas terhadap Pertumbuhan Industri Kecil
2 2,228 13,641 - 2,228 Daerah Penerimaan Ho Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho
Perkapita (X3), dan Jumlah Tenaga Kerja (X4) dapat diketahui dengan koefisien determinasi parsial yang paling besar, dimana dalam
atau sebesar 94,8 %.
4.3.4 Pemb
ng berarti dapat meningkatkan atau m
a barang dan jasa juga akan turun maupun naik tetapi
adap Pertumbuhan Indust
melihat
perhitungan ditunjukkan oleh variabel Jumlah Tenaga Kerja dengan koefisien determinasi parsial (r2) sebesar 0,948
ahasan
Dengan melihat hasil regresi yang didapat maka peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk Pertumbuhan Industri Kecil:
Kredit Modal Kerja berpengaruh secara nyata (signifikan) terhadap Pertumbuhan Industri Kecil. Hal ini disebabkan karena dengan pemberian kredit yang diberikan kepada industri sangat rendah ya
enambah modal sehingga tersedianya modal yang mencukupi maka
aktivitas pengusaha kecil meningkat yang pada akhirnya akan menambah tingkat pertumbuhan industri kecil di Sidoarjo.
Tingkat Inflasi tidak berpengaruh secara nyata (tidak signifikan) terhadap Pertumbuhan Industri Kecil. Hal ini disebabkan apabila tingkat inflasi turun maupun naik maka harga – harg
hal tersebut tidak mempengaruhi permintaan masyarakat akan barang dan jasa meningkat dikarenakan masih banyaknya kebutuhan yang lain yang lebih penting atau lebih di dahulukan.
Pendapatan Perkapita berpengaruh nyata (signifikan) terh
sehingga nantinya akan menambah pertumbuhan industri kecil.
Jumlah Tenaga Kerja berpengaruh nyata (signifikan) terhadap Pertumbuhan Industri Kecil. Hal ini disebabkan karena dengan penyediaan tenaga kerja yang banyak dan memiliki kemampuan baik kualitas dan kuantitas dalam menjalankan proses dan mengelola produksi maka akan meningkatkan kegiatan produksi sehingga pertumbuhan industri kecil juga akan meningkat.