BAB III METODE PENELITIAN
G. Hipotesis Statistik
Ha : µA > µB Keterangan :
µA = rata-rata hasil belajar biologi siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (teams games tournament) Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa
Aktivitas siswa selama pembelajaran menunjukan bahwa, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa seperti mendengarkan atau memperhatikan guru pada saat penyajian materi. Mencatat hal-hal penting tentang informasi yang didapat pada proses pembelajaran, membaca, dan mengerjakan tugas. Saling bekerjasama selama proses pembelajaran dan menjaga kekompakan dalam belajar serta dalam diskusi sehingga dapat memecahkan masalah dan mempresentasikan kerja kelompok. Aktivitas siswa yaitu dalam bentuk sikap dan perhatian dalam kegiatan belajar guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut.
Dalam kegiatan pembelajaran ini telah nampak kegiatan pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pusat kegiatan belajar mengajar (student centered). Sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan pendorong siswa belajar lebih giat. Hasil penelitian menunjukkan, pertama mayoritas siswa beraktivitas dalam pembelajaran. Kedua, aktivitas pembelajaran didominasi oleh siswa. Ketika mayoritas siswa mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru melalui pembelajaran kooperatif maka proses pembelajaran berpusat pada siswa dan menunjukkan bahwa siswa antusias dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ini.
Menerapkan model TGT pada proses pembelajaran mendorong kelas menjadi lebih aktif karena menggunakan permainan. Siswa menjadi berani tampil dalam mengungkapkan pendapatnya. Sedangkan kesan yang diperlihatkan di kelas menunjukkan bahwa kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan dan dapat terlatih memecahkan contoh permasalahan melalui kegiatan diskusi kelompok. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Charlton, Williams
dan McLaughlin bahwa pembelajaran dengan games dapat membuat siswa lebih aktif dan merasa senang untuk belajar. Pembelajaran tersebut terlihat menarik ketika penjelasan guru dikombinasikan dengan games sehingga penyampaian materi menjadi lebih cepat tersampaikan.95
Sedangkan kendala yang dihadapi dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT diantaranya yaitu pada saat pembelajaran melalui tahapan TGT guru merasa kesulitan dalam mengorganisasikan waktu. Dalam melaksanakan tahapan kegiatan diskusi dan mengerjakan LKS masih dihadapi dengan kendala siswa masih belum fokus. Kemudian pada tahapan presentasi hasil diskusi, siswa masih kurang terbiasa tampil menyampaikan pendapatnya di depan kelas.
Peningkatan hasil belajar yang dimiliki oleh siswa dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT, tentu tidak terlepas dari keterlibatan siswa yang lain dalam kelompok dimana mereka berkumpul. Berdasarkan pengertian tentang pembelajaran kooperatif. Para siswa berkumpul dalam sebuah kelompok dengan jumlah anggota antara 4-5 oranng dengan karakteristik (tingkat kemampuan, jenis kelamin, suku, ras, dan lain-lain) yang heterogen. Hal ini yang perlu difahami bahwa dalam pembelajaran kooperatif, terdapat hal-hal positif seperti hubungan saling menguntungkan, semangat kerja kelompok. Semangat kompetisi dan komunikasi yang efektif antara anggota kelompok. Dengan hal-hal tersebut, sudah tentu para siswa akan belajar dengan senang, karena tidak dilakukan dibawah tekanan. Hal ini sesuai dengan beberapa ciri dari pembelajaran kooperatif, yaitu: (a) setiap anggota memiliki peran, (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa, (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman sekelompoknya, (d) guru membantu mengembangkan keterampilan interpersonal kelompok, (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan. Selain itu, dalam pembelajaran koopertaif, terdapat tiga konsep sentral
95
Charlton, B., Williams, R. L dan McLaughlin, T.F. 2005. Educational Games: A Technique to Accelerate the Acquisition of Reading Skills of Children with Learning Disabilities. International Journal of Special Education. Volume 20, Number 2, page 66-72.
yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil
B. Hasil Belajar Biologi Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Hasil belajar biologi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat diketahui dengan uji pretest yang dilakukan terhadap kedua kelompok yang bertujuan untuk mengukur pengetahuan awal siswa mengenai pelajaran biologi pada konsep sistem gerak. Setelah setiap kelas mulai diberlakukan model yang berbeda, posttest baru dilakukan dengan tujuan untuk mengukur sejauh mana peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Gambaran umum tentang data-data yang telah diperoleh meliputi nilai maksimum, nilai minimum, nilai rata-rata, median, modus, dan standar deviasi.
Hasil pretes kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat pada tabel 4.1. berikut :
Tabel 4.1
Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Data Statistik Pretes
Kontrol Eksperimen Mean 36,24 34,24 Nilai Tertinggi 56 52 Nilai Terendah 20 16 Median 36 36 Modus 28 34 Standar Deviasi 9,18 8,42
Keterangan : mean (nilai rata-rata),median (nilai tengah), modus (nilai sering muncul), kontrol (kelas menggunakan model konvensional), Ekperimen ( kelas menggunakan model TGT)
Berdasarkan hasil pretes siswa kelompok eksperimen dan hasil pretes siswa kelompok kontrol, terlihat adanya perbedaan diantara kedua kelompok tersebut untuk kelompok kontrol didapatkan nilai rata-rata yaitu 36,24, nilai tertinggi 56, nilai terendah 20, nilai tengah 36, nilai paling banyak muncul 28, dan dengan standar deviasi 9,18. Sedangkan pada kelompok eksperimen didapatkan nilai rata-rata 34,24, nilai tertinggi 52, nilai terendah 16, nilai tengah 36, nilai paling banyak muncul 34, dan dengan standar deviasi 8,42.
Hasil postes kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 4.2. berikut :
Tabel 4.2
Hasil Postest Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Data Statistik Postes
Kontrol Eksperimen Mean 51,06 72,82 Nilai Tertinggi 64 96 Nilai Terendah 32 44 Median 52 72 Modus 52,60,64 72 Standar Deviasi 9,35 12,01
Keterangan : mean (nilai rata-rata),median (nilai tengah), modus (nilai sering muncul), kontrol (kelas menggunakan model konvensional), Ekperimen ( kelas menggunakan model TGT)
Berdasarkan hasil postes siswa kelompok eksperimen dan hasil postes siswa kelompok kontrol, terlihat adanya peningkatan nilai dari kedua kelompok tersebut dibandingkan dengan nilai pretes, untuk kelompok kontrol didapatkan nilai rata-rata yaitu 51,06, nilai tertinggi 64, nilai terendah 32, nilai tengah 52, nilai paling banyak muncul 52,60,64 dan dengan standar deviasi 9,35. Sedangkan pada kelompok eksperimen didapatkan nilai rata-rata 72,82, nilai tertinggi 96, nilai terendah 44, nilai tengah 72, nilai paling banyak muncul 72, dan dengan standar deviasi 12,01.
Hal ini juga didukung dalam penelitian yang dilakukan oleh Micheal M van Wyk dimana terjadi peningkatan signifikan terhadap hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran TGT.96 Penelitian lain yang dilakukan oleh Noviana Dini Rahmawati membuktikan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe TGT pada materi pokok system persamaan linear.97
Penelitian model pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam pembelajaran biologi pada konsep sistem gerak menunjukkan hasil yang signifikan. Hal ini terbukti dari hasil uji t. Penghitungan Uji-t pada taraf signifikan 0,05 (5%) menujukkan bahwa thitung > ttabel, maka hipotesis nihil (Ho) ditolak yaitu 8,33 > 2,03 yang dalam arti membuktikan bahwa hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang diajar tanpa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada konsep sistem gerak. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa terdapat pengaruh signifikan dalam penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap hasil belajar.98
Dari hasil penghitungan uji normalitas didapat Lhitung (kelas eksperimen)
sebesar – 0,1033 dan Lhitung (kelas kontrol) sebesar – 0,0999 dengan Ltabel sebesar
0,1594. Dengan demikian, Lhitung< Ltabel, maka hipotesis nol (Ho) diterima, yaitu
kedua data hasil penelitian berdistribusi normal.
Hasil penghitungan uji homogenitas didapat Fhitung < Ftabel, yaitu Fhitung =
1,64992 sedangkan Ftabel = 1,798. Hal ini berarti pada taraf signifikansi α = 0,05
96
Micheal M van Wyk, The Effects Of Teams-Games-Tournaments On Achievement, Retention, And Attitudes Of Economics Education Students, Dublin, Ireland 2010 EABR & ETLC Conference Proceedings.
97
Noviana Dini Rahmawati, Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Teams Games Tournament (TGT) Dan Numbered Heads Together (NHT) Pada Materi Pokok Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Ditinjau Dari Aktivitas Belajar Siswa Smp Negeri Se-Kabupaten Grobogan, Prosiding Seminar Nasional Matematika Prodi Pendidikan Matematika, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 24 Juli 2011
98
Nuril Milati, “ Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Tgt (Teams Games Turnament) Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah Ar-Rahmah Jabung Malang”, Skripsi Universitas islam negeri Maulana Malik ibrahim Malang, 2009.
(5%) Ho diterima. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kedua sampel tersebut berasal dari populasi yang homogen.
C. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Terhadap Hasil Belajar Siswa
Untuk melihat pengaruh pembelajaran kooperatif tipe TGT dilakukan pretest dan posttest. Pretest yang dilakukan terhadap kedua kelompok bertujuan untuk mengukur pengetahuan awal siswa mengenai pelajaran biologi pada konsep Sistem Gerak. Setelah setiap kelas mulai diberlakukan model yang berbeda, posttest baru dilakukan dengan tujuan untuk mengukur sejauh mana peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap hasil belajar siswa. Perbandingan skor pretest dari kedua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan menerapkan analisis statistik tercermin bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (Tabel 2-8), dan kedua kelompok itu hampir sama sehubungan dengan prestasi dalam pemahaman tentang konsep sistem gerak. Selain itu, perbandingan antara rata-rata skor pretest siswa kelompok eksperimen dan kontrol pada pemahaman konsep sistem gerak, tingkat pemahaman evaluatif pemahaman pada konsep sistem gerak tidak signifikan pada 0,05 tingkat (Tabel 3-5). Ini berarti bahwa tingkat pencapaian dalam konsep sistem gerak pemahaman kedua kelompok sebelum memulai percobaan itu hampir sama.
Perbedaan skor rata-rata hasil belajar setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan yang tidak menggunakan pendekatan TGT cukup signifikan yaitu 72,82 untuk skor rata-rata hasil belajar yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan 51,06 untuk skor rata-rata hasil belajar yang tidak menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT.
Tingginya nilai rata-rata disebabkan karena pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Pembelajaran kooperatif tipe TGT juga memberikan kesempatan kepada guru untuk menggunakan kompetisi dalam suasana yang konstruktif. Para siswa menyadari bahwa kompetisi merupakan sesuatu yang selalu mereka hadapi setiap saat, tetapi TGT memberikan mereka peraturan dan strategi untuk bersaing sebagai individu setelah menerima bantuan dari teman mereka. Mereka membangun ketergantungan atau kepercayaan dalam tim asal mereka yang memberikan kesempatan untuk merasa percaya diri ketika mereka bersaing dalam turnamen.
Selama proses pembelajaran berlangsung guru melakukan pembelajaran sesuai dengan tahapan-tahapan pada model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Guru berperan sebagai fasilisator, sehingga proses pembelajaran membuat siswa antusias dan mengikuti pembelajaran dengan baik.
Pada tahap pengajaran atau menyampaikan pelajaran guru membuat siswa penasaran dengan fenomena yang terkait dengan materi sistem gerak. Guru memberikan siswa sebuah pertanyaan yang dapat menggali keingintahuan siswa terhadap fenomena yang sedang dipelajari. Selain itu guru pun di dalam proses menyampaikan materi dapat mengaitkan fakta-fakta yang terjadi di sekitar dengan materi yang dipelajari. sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik siswa untuk belajar dengan lebih baik, sementara dalam proses menyampaikan pelajaran siswa dapat mengembangkan pengetahuan dengan baik, pada tahap ini siswa mampu menjawab pertanyaan yang disampaikan guru dengan baik, akan tetapi dalam tahap ini masih terdapat siswa yang tidak memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru.
Tahapan belajar tim diakomodasikan dengan menggunakan lembar kerja siswa ( LKS ). Siswa mendiskusikan setiap soal-soal atau permasalahan yang diajukan guru dalam LKS tersebut secara kelompok. Kemudian, masing-masing anggota kelompok melakukan presentasi tentang konsep yang sudah mereka diskusikan secara bergantian. Pada saat kondisi tersebut siswa secara tidak langsung melakukan sebuah proses pembelajaran mengenai hasil yang telah mereka temukan pada saat diskusi dengan kelompoknya masing-masing dan dapat menjelaskan konsep yang mereka temukan dengan menggunakan kalimat mereka sendiri. Sehingga siswa merasakan sebuah pembelajaran yang mereka sendiri menemukan konsep tentang materi yang sedang dipelajari. Oleh karena itu, pemahaman dan pengetahuan siswa tentang materi menjadi semakin meningkat.
Tahap ketiga setelah pengajaran dan belajar tim dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah turnamen. Sebelum sampai pada tahap ini siswa sudah tertarik dengan materi pelajaran dan mulai mengerti proses pembelajaran menggunakan TGT, hal tersebut memudahkan guru untuk dapat mengarahkan siswa membangun pengetahuan mereka secara mandiri. Pada tahap inilah peran guru sebagai fasilisator yang membimbing sekaligus mendorong dan mengarahkan siswa untuk dapat menggali pengetahuan mereka secara mandiri melalui turnamen, siswa selama mengikuti turnamen dapat melaluinya dengan baik dan berusaha untuk menjawab setiap pertanyaan yang ada di dalam kartu soal.
Pada tahap keempat yaitu rekognisi, dalam tahap ini guru dan siswa bekerjasama memeriksa poin-poin turnamen yang terdapat pada lembar skor permainan. Lalu, memindahkan poin-poin turnamen dari setiap siswa tersebut ke lembar rangkuman timnya masing-masing, dan guru menentukan tim yang meraih poin terbesar. Guru dan siswa pada tahap akhir pembelajaran teams games tournament ini dapat melewatinya dengan baik, guru berhasil mendorong siswa untuk berpartisipasi di dalam turnamen dan secara sadar maupun tidak pemahaman mereka terhadap konsep sistem gerak semakin meningkat. Peningkatan pengetahuan serta pemahaman siswa tentang materi terlihat setelah diadakannya postes dengan hasil rata-rata 72,82 dari skor tertinggi 96. Hal ini
sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan rata-rata kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif lebih tinggi.99 Data dari perhitungan N-Gain pun menunjukkan hal yang positif yaitu untuk kelas kontrol diperoleh rata-rata nilai N-Gain sebesar 0,21 yang termasuk kategori rendah. Pada kelas eksperimen diperoleh rata-rata nilai N-Gain sebesar 0,58 yang termasuk kategori sedang. Kategori rata-rata nilai N-Gain untuk kedua kelas berbeda, hal ini menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol.
Sesuai dengan kajian teori yang telah dipaparkan pada BAB II bahwa pembelajaran kooperatif tipe TGT mampu meningkatkan hasil belajar, hal ini terbukti dengan hasil penelitian yang telah diperoleh. Secara umum penelitian ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Wirabuana. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian ini dapat menjawab semua permasalahan yang telah dirumuskan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe TGT ( teams games tournament) berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
D. Keterbatasan Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan selama satu bulan ditemukan beberapa keterbatasan penelitian antara lain: model pembelajaran kooperatif tipe TGT memerlukan waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional, serta peneliti belum sepenuhnya menguasai model pembelajaran kooperatif tipe TGT.
99
Restika Parendrarti, “ Aplikasi model pembelajaran kooperatif tipe TGT ( teams-games-tournament) dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI ipa sma muhammadiyah 2 surakarta tahun ajaran 2008/2009”, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2009.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Model pembelajaran kooperatif tipe tim games tournament TGT berpengaruh terhadap hasil belajar biologi siswa di SMP Wirabuana Bogor. Hal dibuktikan dengan nilai rata-rata pretest 34,24 menjadi 72,82 pada post test kelas eksperimen, sementara kelas kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe TGT mendapatkan nilai dengan rata-rata sebesar 36,24 pada pretest menjadi 51,06 pada post test. Berdasarkan pada hasil analisis uji t membuktikan bahwa nilai t hitung > t tabel. Dengan demikian model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh terhadap hasil belajar biologi pada konsep sistem gerak.
B. Saran
Berdasarkan hasil yang diperoleh peneliti selama proses penelitian dan juga analisis terhadap hasil yang telah diperoleh, maka terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai saran, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa sehingga dapat digunakan sebagai salah satu alternative model pembelajaran oleh guru di dalam kelas.
2. Para pengajar diharapkan memiliki banyak kreatifitas dalam memberikan pernyataan dan mengarahkan siswa selama pembelajaran. Dalam hal ini, komunikasi yang efektif antara guru dan siswa selama pembelajaran sangat ditekankan agar suasana belajar yang menyenangkan dapat diwujudkan. 3. Para pengajar diharapkan mengusai kelas dan dapat membuat media dan
sarana pembelajaran lebih menarik, sehingga prose belajar mengajar di dalam kelas tidak terasa monoton dan membuat siswa merasa bosan.
DAFTAR PUSTAKA
Ali dkk. 2010. A Comparison of Cooperative Learning Model on Academic Achievement. J. Appl. Sci., 7(1): 137-140. http://scialert.net/pdfs/jas/2007/137-140.pdf
Amanah, 2012. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament), http://amanahtp.wordpress.com/2011/11/20/model-pembelajaran-kooperatif-tipe-tgt-teams-games-tournaments/.diakses pada tanggal 23 Januari.
Amstrong, Thomas. 2011. The Best Schools Mendidik Siswa Menjadi Insan Cendikia Seutuhnya: Penerjemah Lovely dan Mursid Widjanarko. Bandung : Kaifa.
Arikunto, Suharsimi dan Safrudin. Cepi. 2009. Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT.Rineka Cipta.
Armstrong et al. 2010. Cooperative Learning inIndustrial-Sized Biology Classes. Life Sci. Educ., 6: 163-171.
Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.
Baharuddin dan Nurwahyuni, Esa. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.
Brown Douglas. Teaching by Principles An Interactive Approach. 2000. Pearson Education Company. San Fransisco State University.
Charlton, B., Williams, R. L dan McLaughlin, T.F. 2005. Educational Games: A Technique to Accelerate the Acquisition of Reading Skills of Children with Learning Disabilities. International Journal of Special Education. Volume 20, Number 2.
Departemen Pendidikan Nasioal, Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Biologi untuk Sekolah Menengah Tingkat Atas. Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Biologi untuk Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Strategi Pembelajaran MIPA.
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Djamarah dan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar.Jakarta Rineka Cipta. Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rineka Cipta.
E. Weinstein dan Shao-Wei Wu, Readiness Assessment Tests versus Frequent Quizzes: Student Preferences. International Journal of Teaching and Learning in Higher Education 2010, Volume 21, Number 2, 181-186 ISSN 1812-9129.
Ekocin, 2012. Model Pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT )
http://ekocin.wordpress.com/2011/06/17/model-pembelajaran-teams-games tournaments-tgt-2/ diakses pada tanggal 12 Januari.
Gloriani, Yusida. 2008. Pendekatan Pembelajaran Konstruktivisme dengan Teknik Cooperative Learning di Sekolah. Equilibrum.Vol.4.No.8.
Hadiwinata, N.L dan Inggried. 2011. Tantangan Mengajar di Era Digital.http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/25/12231064/Tantangan .Mengaar.di.Era.Digital. diakses 25 Oktober.
Handayani, Fitri KD. 2010. Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Game
Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII
SMP Negeri 1 Purwodadi Kabupaten Pasuruan Pada Materi Keragaman
Bentuk Muka Bumi. Jurnal Penelitian Kependidikan. no. 2.
Hui Ling Eileen K, A Teacher’s Personal Reflection On The Usage Of Cooperative Learning Strategies In Teaching Primary School Science, Jurnal Penyelidikan Tindakan Tahun 2010, Jilid 1/ Kerjasama IPBL dengan PPG Sri Aman dan PPDK Serian, JPN Sarawak di bawah KPKIPBL.
Isjoni, 2007. Saatnya Pendidikan Kita Bangkit. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kurniasari, Ani. 2006. Komparasi Hasil Belajar Antara Siswa yang Diberi
Metode TGT (Teams Games Tournaments) dengan STAD (Student Teams Achievement Division) Kelas X Pokok Bahasan Hidrokarbon. Skripsi UniversitasNegeri Semarang.
Kusumaningsih, Leonard. KD. 2009. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Gamestournaments (TGT) Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Biologi Pada Konsep Sistem Pencernaan Manusia, Jurnal Ilmiah Exacta Vol. 2 NO.1. Universitas Indraprasta PGRI.
Lie Anita. 2008. Cooperative Learning : Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang ruang kelas, Jakarta : PT. Grasindo.
Ling Eileen K.H,A teacher’s personal reflection On the usage of cooperative learning strategies in teaching primary school science. Eileen Kee: A teacher’s personal reflection on the usage of cooperative learning strategies in teaching primary school science, ms 12-28.
Milati, Nuril. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Tgt (Teams Games Turnament) Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah Ar-Rahmah Jabung Malang. Skripsi Universitas islam negeri Maulana Malik ibrahim Malang.
Muchith, M.S. Pembelajaran Kontekstual. 2008. Semarang: Rasail Media Group. Mundilarto, Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Sains. Cakrawala
Pendidikan Jurnal Ilmiah Pendidikan. 2004. No. 1, Tahun XXIII, Februari.
Noornia, Anton. 2001. Penerapan Pembelajaran Kooperatif dengan Metode STAD pada Pengajaran Perse di Kelas VI SD Islam Al Ma'arif 02 Singosari, Tesis tidak diterbitkan. Malang: UM.
O’Mahony Mag, Teams-Games-Tournament (Tgt) Cooperative Learning and Review, NABT Conference 14 October 2010.
Parendrarti, Restika. 2009. Aplikasi model pembelajaran kooperatif tipe TGT (teams-games-tournament) dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI ipa sma muhammadiyah 2 surakarta tahun ajaran 2008/2009. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Richards, JC. Approaches and Methods in Language Teaching. 2001. Cambridge University Press.