• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

C. Hipotesis

Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kompetensi kepribadian guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar.

2. Kompetensi sosial guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini ada tiga yaitu kompetensi kepribadian guru sebagai variabel bebas (X1) dan kompetensi sosial guru sebagai variabel bebas (X2) serta hasil belajar bahasa Indonesia sebagai variabel terikat (Y).

2. Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasi atau penelitian yang ingin mengetahui hubungan pengaruh antara tiga variabel. Oleh karena itu, untuk memperoleh data yang akurat sesuai dengan masalah penelitian ini dirancang secara deskriptif kuantitatif yang desain atau model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian yang bersifat korelasi dengan pola sebagai berikut:

X1 : Kompetensi kepribadian guru (variabel bebas) X2 : Kompetensi sosial guru (variabel bebas)

Y : Hasil belajar bahasa Indonesia siswa (variabel terikat) X1

X2

Y

62

B. Definisi Operasional Variabel

Untuk menjelaskan penelitian ini perlu dijelaskan variabel yang terdapat dalam penelitian ini. Namun, terlebih dahulu dijelaskan beberapa istilah berikut.

1. Kompetensi kepribadian guru merupakan kompetensi yang berkaitan dengan perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpancar dari perilaku sehari-hari. Indikator yang harus diteliti yaitu: (a) penampilan sikap dalam menjalankan tugas, (b) pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, dan (c) kepribadian, nilai, sikap hidup ditampilkan dalam upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.

2. Kompetensi sosial guru merupakan kemampuan guru untuk memahami dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat dan mampu mengembangkan tugas sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Indikator yang harus diteliti yaitu: (a) interaksi guru dengan siswa, (b) interaksi guru dengan kepala sekolah, (c) interaksi guru dengan rekan kerja, (d) interaksi guru dengan orang tua siswa, dan (e) interaksi guru dengan masyarakat.

3. Hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh murid dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan yang diwujudkan dengan hasil belajar yang didapat oleh siswa.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Menurut Sugiyono (2003: 55), populasi atau universe adalah jumlah keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya akan diduga. Berdasarkan pengertian ini, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar sebanyak 230 orang.

Tabel 1. Keadaan Populasi

Sumber: Dokumentasi SMP Negeri 31 Makassar

2. Sampel

Menurut Sugiyono (2003: 56), sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi dengan menggunakan cara-cara tertentu.

Berdasarkan definisi tersebut dan mengingat jumlah populasi dalam penelitian ini cukup banyak, serta keterbatasan penulis baik dari segi dana dan waktu, maka penelitian ini hanya menggunakan penelitian sampel.

Karena populasinya sudah diketahui, maka untuk mendapatkan sampel (n) dalam populasi, akan digunakan rumus Slovin (Sugiyono, 2003:56), sebagai berikut:

1 2 kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir (error) antara ±1% s.d ±10%. Dalam penelitian ini digunakan 10% (0,10).

Dari rumus tersebut dapat diketahui besaran sampel dari siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar yang menjadi responden adalah sebagai

Instrumen dalam penelitian ini berupa kuesioner. Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data secara

tidak langsung karena peneliti tidak bertanya jawab secara langsung (Syaodih, 2005). Kuesioner ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspons oleh siswa.

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data melalui penelitian lapangan dilakukan dengan cara observasi ke lokasi penelitian. Teknik yang digunakan dengan cara ini adalah:

1. Angket (kuesioner), teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui penyebaran angket kepada siswa yang menjadi sampel. Angket ini berisi pertanyaan-pertanyaan tentang identitas responden dan variabel-variabel penelitian untuk mencari informasi yang lengkap dari permasalahan yang dibahas. Sasaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah menghasilkan jawaban responden yang terstruktur untuk diolah dan dianalisis lebih lanjut untuk menguji hipotesis penelitian.

Variabel yang diukur adalah kompetensi kepribadian guru, kompetensi sosial guru, dan hasil belajar siswa.

2. Tes, menggunakan butir soal/instrumen soal untuk mengukur hasil belajar siswa.

F. Teknik Analisis Data

Metode analisis data adalah suatu metode yang digunakan untuk mengolah hasil penelitian guna memperoleh simpulan. Adapun metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda.

Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh kompetensi guru (X1) dan kompetensi sosial guru (X2) terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa (Y).

= + + +

Keterangan:

Y : Hasil belajar bahasa Indonesia siswa.

X1 : Kompetensi kepribadian guru X2 : Kompetensi sosial guru

b1 : Koefisien regresi kompetensi kepribadian guru b2 : Koefisien regresi kompetensi sosial guru a : Konstanta

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini menjawab rumusan untuk memberikan jawaban atas rumusan masalah pada penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh kompetensi kepribadian guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar, mendeskripsikan pengaruh kompetensi sosial guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar, dan mendeskripsikan penerapan kompetensi kepribadian dan sosial guru terhadap hasil belajar siswa kelas VIII terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar. Setelah data terkumpul, maka selanjutnya data dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan inferensial untuk mengetahui gambaran setiap variabel.

1. Deskripsi Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar yang berjumlah 70 orang, maka peneliti dapat mengumpulkan data hasil belajar bahasa Indonesia siswa melalui dokumentasi nilai. Adapun data hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar adalah sebagai berikut:

68

Tabel 4.1 Distribusi dan Presentase Skor Hasil Belajar Keterampilan Menyimak Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar

Interval nilai Kategori Frekuensi presentase

0 - 55 Sangat Rendah 9 12,86

56 - 65 Rendah 22 31,43

66 - 75 Sedang 10 14,29

76 - 85 Tinggi 22 31,43

86 - 100 Sangat Tinggi 7 10

Jumlah 70 100

Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa hasil belajar menyimak dari 70 siswa kelas VIII Negeri 31 Makassar, sekitar 9 orang atau 12,86% yang berada dalam kategori sangat rendah, 22 orang atau 31,43% nilainya berada dalam kategori rendah, 10 orang atau 14,29% nialainya berada dalam kategori sedang, 22 orang atau 31,42% nilainya berada dalam kategori tinggi dan 9 orang atau 12,86% yang nilainya berada dalam kategori sangat tinggi. Untuk hasil belajar keterampilan berbicara dapat dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini.

Tabel 4.2 Distribusi dan Presentase Skor Hasil Belajar Keterampilan Berbicara Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar

Interval nilai Kategori Frekuensi presentase

0 - 55 Sangat Rendah 20 28,57

56 - 65 Rendah 18 25,71

66 - 75 Sedang 13 18,57

76 - 85 Tinggi 19 27,14

86 - 100 Sangat Tinggi 0 0

Jumlah 70 100

Tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa hasil belajar berbicara dari 70 siswa kelas VIII Negeri 31 Makassar, sekitar 20 orang atau 28,57% yang berada dalam kategori sangat rendah, 18 orang atau 25,71% nilainya berada dalam kategori rendah, 13 orang atau 18,57% nialainya berada dalam kategori sedang, 19 orang atau 27,14% nilainya berada dalam kategori tinggi dan tak seorangpun yang nilainya berada dalam kategori sangat tinggi. Untuk hasil belajar membaca cerpen dapat dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini.

Tabel 4.3 Distribusi dan Presentase Skor Hasil Belajar Membaca Cerpen Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar

Interval nilai Kategori Frekuensi presentase

0 - 55 Sangat Rendah 9 12,86

56 - 65 Rendah 12 17,14

66 - 75 Sedang 32 45,71

76 - 85 Tinggi 9 12,86

86 - 100 Sangat Tinggi 8 11,43

Jumlah 70 100

Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa hasil kegiatan membaca cerpen dari 70 siswa kelas VIII Negeri 31 Makassar, sekitar 9 orang atau 12,86% yang berada dalam kategori sangat rendah, 12 orang atau 17,14% nilainya berada dalam kategori rendah, 32 orang atau 45,71%

nialainya berada dalam kategori sedang, 9 orang atau 12,86% nilainya berada dalam kategori tinggi dan 8 orang atau 11,43% yang nilainya berada dalam kategori sangat tinggi.

Untuk hasil belajar keterampilan menulis cerpen dapat dilihat pada tabel 4.4 di bawah ini.

Tabel 4.4 Distribusi dan Presentase Skor Hasil Belajar Keterampilan Menulis Cerpen Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar Interval nilai Kategori Frekuensi presentase

0 - 55 Sangat Rendah 0 0

Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa hasil kegiatan menulis cerpen dari 70 siswa kelas VIII Negeri 31 Makassar, tak seorangpun siswa yang berada dalam kategori sangat rendah, 4 orang atau 5,71% nilainya berada dalam kategori rendah, 48 orang atau 68,57% nialainya berada dalam kategori sedang, 16 orang atau 22,86% nilainya berada dalam kategori tinggi dan 2 orang atau 2,86% yang nilainya berada dalam kategori sangat tinggi.

Tabel 4.5

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar Interval Frekuensi Persentase

Tabel distribusi frekuensi data hasil belajar bahasa Indonesia siswa di atas, menunjukkan bahwa frekuensi tertinggi berada pada interval 82 – 85 dengan frekuensi 26 orang dan persentase 37,1%, sedangkan frekuensi terendah pada interval 90 – 93 dan 94 – 97 dengan frekuensi masin-masing 3 orang dan persentase sebesar 4,3%.

2. Deskripsi Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil Lampiran 2 maka dapat diketahui karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin sebagaimana pada tabel berikut.

Tabel 4.6 Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Persen (%)

Laki-laki 30 42,8

Perempuan 40 57,2

Total 70 100

Dari tabel di atas diketahui bahwa jumlah responden (siswa) dengan jenis kelamin laki-laki yakni sebanyak 30 orang (42,8%) dan jumlah responden jenis kelamin perempuan yakni sebanyak 40 orang (57,2%).

Jumlah responden keseluruhan sebanyak 70 orang. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang paling banyak adalah perempuan.

B. Analisis Deskriptif Variabel Penelitian dan Indikatornya Analisis deskriptif variabel penelitian dan indikatornya dikelompokkan (dikategorikan) berdasarkan nilai rata-rata (mean) dari kualitas variabel penelitian dan indikatornya. Adapun pengelompokannya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.7 Kategori Nilai Rata-rata (Mean) Instrumennya Adapun deskripsi tersebut akan diuraikan berikut ini.

1. Deskripsi Variabel Kompetensi Kepribadian Guru

Variabel kompetensi kepribadian terdiri atas 5 item pernyataan (unsur). Adapun deskripsi item pernyataan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.8 Deskripsi Item Pernyataan Variabel Kompetensi Kepribadian Guru

Dari tabel di atas dapat diuraikan tanggapan responden siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar terhadap kuesioner kompetensi kepribadian guru yang diberikan sebagai berikut:

a. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 1 bahwa guru “Bertindak sesuai dengan norma agama, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia”, tidak ada responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 5 orang menyatakan cukup setuju, 55 orang menyatakan setuju dan 10 orang menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden terhadap pernyataan 1 adalah 4,07, ini berarti guru dalam hal item pernyataan 1 berada dalam kategori kompeten.

b. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 2 bahwa guru “Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat”, tidak ada responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 7 orang menyatakan cukup setuju, 48 orang menyatakan setuju dan 15 orang menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden terhadap pernyataan 2 adalah 4,11, ini berarti guru dalam hal item pernyataan 2 berada dalam kategori kompeten.

c. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 3 bahwa guru “Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa”, tidak ada responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 4 orang menyatakan cukup setuju, 55 orang menyatakan setuju dan 11 orang menyatakan sangat setuju.

Rata-rata tanggapan responden terhadap pernyataan 3 adalah 4,10, ini berarti guru dalam hal item pernyataan 3 berada dalam kategori kompeten.

d. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 4 bahwa guru “Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri”, tidak ada responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 1 orang menyatakan cukup setuju, 58 orang menyatakan setuju dan 11 orang menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden terhadap pernyataan 4 adalah 4,14, ini berarti guru dalam hal item pernyataan 4 berada dalam kategori kompeten.

e. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 5 bahwa guru “Bertindak sesuai dengan norma agama, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia”, tidak ada responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 4 orang menyatakan cukup setuju, 57 orang menyatakan setuju dan 9 orang menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden terhadap pernyataan 5 adalah 4,07, ini berarti guru dalam hal item pernyataan 5 berada dalam kategori kompeten.

Dari uraian di atas di tunjukkan bahwa dari 5 unsur yang digunakan untuk mengukur variabel kompentensi kepribadian guru, yang paling tinggi nilai rata-ratanya adalah “Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri” sebesar 4,14 dengan kategori kompeten.

2. Deskripsi Variabel Kompetensi Sosial Guru

Variabel kompetensi sosial terdiri atas 4 item pernyataan. Adapun deskripsi item pernyataan sebagaimana tertera pada tabel berikut ini.

Tabel 4.9 Deskripsi Item Pernyataan Variabel Kompetensi Sosial Guru

Item Pernyataan

Dari tabel di atas dapat diuraikan tanggapan responden siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar terhadap kuesioner kompetensi sosial guru yang diberikan sebagai berikut:

a. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 1 bahwa guru “Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi”, tidak ada responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 7 orang menyatakan cukup setuju, 59 orang menyatakan setuju dan 4 orang menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden terhadap pernyataan 1 adalah 3,96, ini berarti guru dalam hal item pernyataan 1 berada dalam kategori kompeten.

b. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 2 bahwa guru “Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat”, tidak ada responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 9 orang menyatakan cukup setuju, 53 orang menyatakan setuju dan 8 orang menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden terhadap pernyataan 2 adalah 3,99, ini berarti guru dalam hal item pernyataan 2 berada dalam kategori kompeten.

c. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 3 bahwa guru “Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya”, tidak ada responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 7 orang menyatakan cukup setuju, 53 orang menyatakan setuju dan 10 orang menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden

terhadap pernyataan 3 adalah 4,04, ini berarti guru dalam hal item pernyataan 3 berada dalam kategori kompeten.

d. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 4 bahwa guru “Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan dalam bentuk lain”, tidak ada responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 12 orang menyatakan cukup setuju, 51 orang menyatakan setuju dan 7 orang menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden terhadap pernyataan 4 adalah 3,93, ini berarti guru dalam hal item pernyataan 4 berada dalam kategori kompeten.

Dari uraian di atas ditunjukkan bahwa dari 4 unsur yang digunakan untuk mengukur variabel kompentensi sosial, yang paling tinggi nilai rata-ratanya adalah “Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya” sebesar 4,04 dengan kategori kompeten.

3. Analisis Regresi Berganda

Untuk mengetahui pengaruh kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial terhadap hasil belajar bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar, maka dilakukan uji regresi linear berganda. Analisis regresi linier berganda digunakan karena variabel bebas dalam penelitian ini lebih dari satu, yaitu kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Berikut hasil uji regresi linier berganda yang dilakukan.

Tabel 4.10. Rangkuman Hasil Analisis Regresi Berganda

Sumber : Data primer diolah, 2014

Berdasarkan hasil uji regresi yang dilakukan, dapat dibuat persamaan sebagai berikut:

Y = 21,073 + 1,673X1 + 1,711X2

Artinya:

a = 21,073, artinya apabila kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial guru dalam keadaan konstan/tetap, maka hasil belajar bahasa Indonesia siswa adalah sebesar 21,07.

b1 = 1,673, artinya apabila kompetensi kepribadian meningkat 1 persen, maka hasil belajar bahasa Indonesia siswa akan meningkat sebesar 1,673 persen.

b2 = 1,711, artinya apabila kompetensi sosial meningkat 1 persen, maka hasil belajar bahasa Indonesia siswa akan meningkat sebesar 1,711 persen.

Berdasarkan hasil pengujian di atas dapat diketahui bahwa nilai koefisien regresi untuk kompetensi kepribadian guru bernilai positif 1,673.

Pengaruh positif yang diberikan kompetensi kepribadian guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa adalah signifikan. Hal ini dapat diketahui dari nilai t hitung > t tabel (3,024 > 0,610) dan nilai p = 0,008 (<

0,05). Hal ini berarti bahwa kompetensi kepribadian guru dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa. Nilai koefisien regresi untuk kompetensi sosial guru bernilai positif 1,711. Pengaruh positif yang diberikan kompetensi sosial guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa adalah signifikan. Hal ini dapat diketahui dari nilai t hitung > t tabel (2,301 > 1,995) dan nilai p = 0,025 (< 0,05). Hal ini berarti bahwa kompetensi sosial guru dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa.

Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini terbukti, yaitu

“Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan kompetensi kepribadian guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa positif dan kompetensi kepribadian guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa”.

Untuk mengetahui keeratan hubungan antara variabel kompetensi kepribadian guru (X1) dan kompetensi sosial guru (X2) dengan hasil belajar bahasa Indonesia siswa (Y), maka dilakukan uji korelasi. Dari Tabel 4.6 di atas didapat nilai korelasi (R) sebesar 0,611 dengan nilai P = 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat dan signifikan antara variabel kompetensi kepribadian guru (X1) dan kompetensi sosial guru (X2) dengan hasil belajar bahasa Indonesia siswa (Y).

Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi variabel bebas dalam menjelaskan variasi variabel terikat.

Dari tabel 4.6 di atas diperoleh koefisien determinasi (R2) sebesar 0,611 (61,1%). Ini berarti bahwa variasi variabel terikat hasil belajar bahasa Indonesia siswa (Y) dapat dijelaskan oleh variabel kompetensi kepribadian guru (X1) dan kompetensi sosial guru (X2) sebesar 58,4%, sedangkan sisanya 41,6% dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar variabel yang diteliti.

C. Pembahasan

Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kompetensi kepribadian guru dan kompetensi sosial guru terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar.

Berikut adalah pembahasan masing-masing untuk variabel kompetensi kepribadian guru dan kompetensi sosial guru.

1. Pengaruh Kompetensi Kepribadian Guru terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa

Berdasarkan hasil analisis data dengan bantuan program SPSS 22 diperoleh nilai beta untuk variabel kompetensi kepribadian guru sebesar 0,435 (atau 43,5%). Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian guru memberi kontribusi sebesar 43,5% dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar. Semakin baik atau kompeten guru dalam kompetensi kepribadiannya maka diharapkan semakin baik pula hasil belajar bahasa Indonesia siswa.

Hal ini sejalan dengan pendapat Roqib dan Nurfuadi (2009:119) bahwa guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyenangkan dan akan lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga belajar siswa berada pada tingkat optimal. Hal ini sejalan pula dengan pendapat Noddings (dalam Stronge, 2013: 25-26) bahwa kebahagiaan guru dapat memengaruhi iklim kelas, dan dengan demikian memengaruhi para murid. Selain itu, pengaruh psikologis guru pada para murid telah dikaitkan dengan prestasi murid pada berbagai studi efektivitas.

Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan sumber daya manusia. Kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati nasihat/ucapan/perintahnya) dan “ditiru” (dicontoh sikap dan perilakunya). Kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan belajar anak didik.

Zakiah Darajat (dalam Syah, 2000: 225-226) menegaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan anak didiknya terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).

Karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan guru dalam menggeluti profesinya adalah meliputi fleksibilitas kognitif dan keterbukaan psikologis. Fleksibilitas kognitif atau keluwesan ranah cipta merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Guru yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan adanya keterbukaan berpikir dan beradaptasi.

Selain itu, ia memiliki resistensi atau daya tahan terhadap ketertutupan ranah cipta yang prematur dalam pengamatan dan pengenalan. Surya (dalam Uno, 2008:138) menyebut kompetensi kepribadian ini sebagai kompetensi personal, yaitu kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri.

2. Pengaruh Kompetensi Sosial Guru terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa

Berdasarkan hasil analisis data dengan bantuan program SPSS 22 diperoleh nilai beta untuk variabel kompetensi sosial guru sebesar 0,368 (atau 36,8%). Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi sosial guru memberi kontribusi sebesar 38,6% dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar. Semakin baik atau kompeten guru dalam kompetensi sosialnya maka diharapkan semakin baik pula hasil belajar bahasa Indonesia siswa.

Kompetensi sosial guru merupakan kemampuan guru untuk memahami dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat

dan mampu mengembangkan tugas sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Lebih dalam lagi kemampuan sosial ini mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru.

Kompetensi sosial guru berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam bekomunikasi dengan masyarakat di sekitar sekolah dan

Kompetensi sosial guru berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam bekomunikasi dengan masyarakat di sekitar sekolah dan

Dokumen terkait