• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hipotesis

Dalam dokumen SKRIPSI PADLI (Halaman 42-94)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

H. Hipotesis

Mengacu pada rumusan masalah, maka dalam hal ini penulis mengemukakan hipotesis sebagai berikut:

Diduga bahwa keberadaan pasar modern berpengaruh negatif terhadap hasil penjualan pedagang tradisional di pasar sentral pekkabata polewali kabupaten polewali mandar.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Data yang dibutuhkan dalam penulisan skripsi ini, diperoleh melalui penelitian pada Pedagang Tradisional Pasar sentral Polewali di Kabupaten Polman yang terletak di Jln.Ahmad Yani, dan Pasar Modern Giant Super market yang berlokasi di jln. Ahmad Yani di Kabupaten Polman.

Waktu yang digunakan dalam penelitian ini kurang lebih 2 (dua) bulan yaitu januari, sampai februari 2015.

B.Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti (Sugiono, 2011: 117). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pedagang dan pembeli yang terdapat di pasar tradisional Sentral Polewali di Kabupaten Polman.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono, 2011: 81).Untuk mendapat informasi dari setiap anggota populasi, peneliti harus menentukan sampel yang sejenis atau yang bisa mewakili populasi dalam jumah tersendiri.

Penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini dengan penggunaan simple random sampling yakni pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi (Bambang dan Lina, 2008:123). Jumlah sampel yang di pilih dalam penelitian ini sebanyak 30 orang.

C. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis data yaitu:

a. Data Kuantitatif

Data kuantitatif yaitu data yang diperoleh berupa angka-angka atau data kualitatif yang dibuat dalam bentuk angka.

b. Data kualitatif yaitu data yang diperoleh dari pasar yang berbentuk kata, kalimat, skema, dan gambar.

Sumber Data ialah tempat atau orang dimana data diperoleh.Sedangkan data adalah fakta yang dijaring berdasarkan kerangka teoritis tertentu.adapun sumber data yang digunakan dala penelitian ini adalah sebagai berikut:

3. Data primer yaitu data hasil wawancara langsung dengan bagian yang menangani pasar maupun responden.Dalam penelitian ini data diperoleh dari pasar maupun langsung dari konsumen yang menjadi calon pembeli pasar Sentral Polewali di Kabupaten Polman.

4. Data sekunder,yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumbernya tetapi melalui perantara. Data sekunder yang digunakan dalam peneniltian ini adalah dari bahan-bahan bacaan berupa buku, majalah,

literature, surat kabar dan informasi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Kajian pustaka (Library Research) yaitu metode pengumpulan data dengan cara mempelajari, menelaah literatur, laporan, dan dokumen-dokumen yang relevans dengan masalah yang akan diteliti.

2. Penelitian lapangan (Field Research) yaitu mengumpulkan data dilapangan dengan jalan:

a. Angket (Quistionnaire)

Angket adalah daftar pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diberikan kepada responden untuk dijawab. Tujuan penyebaran angket adalah untuk mencari informasi yang lengkap mengenai variabel atau masalah yang diteliti.

b. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu metode pencarian dan pengumpulan data mengenai hal-hal atau berupa catatan resmi, transkip, buku, laporan, media massa, dan sebaginya. Dokumentasi ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan data dengan cara mengambil gambar atau informasi penting dari objek penelitian.

E. Analisis Penelitian

Dalam penelitian ini analisis yang digunakan adalah analisis komparatif yaitu analisis mengenai perbandingan jumlah hasil penjualan pedagang sebelum ada pasar modern dengan sesudah ada pasar modern.

F. Definisi Operasional Variabel

Untuk menghindari kekeliruan pandangan terhadap pengertian yang sebenarnya dari judul skripsi ini maka penulis menjelaskan pengertian dari beberapa variable yaitu:

1. Pasar adalah tempat terjadinya jual beli yang dilakukan oleh penjual dan pembeli pada waktu dan tempat tertentu.

2. Pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli secara langsung yang disertai proses tawar-menawar.

3. Pasar modern adalah tempat terjadinya proses jual beli yang pelayanannya dilakukan mandiri dan harga barang tidak bisa ditawar.

4. Pasar sentral pekkabata adalah pasar induk yang telah ditetapkan oleh pemerintah tingkat II kabupaten Polewali Mandar yang berlokasi di kecamatan polewali kabupaten polman.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Sejarah Singkat Pasar Sentral Pekkabata Polewali Di Kabupaten Polman.

Unit pasar Sentral Pekkabata Polewali didirikan pada zaman belanda sebagai pasar tradisional yang dikelolah pemda Tk.II Kabupaten Polman yang letaknya di jalan Muhammad Yamin dan kurang lebih 2 ha luasnya, pada tahun 1995 resmi menjadi dinas pengelolaan pasar pada pemda Tk.II Kabupaten Polman.

Unit pasar Sentral Pekkabata Polewali dibawah naungan perusahaan daerah POLMAN adalah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bergerak dalam pengelelaan pasar. Perusahaan daerah diselenggarakan atas azas ekonomi perusahaan dalam kesatuan sistem pembinaan ekonomi Indonesia berdasarkan pancasila yang menjamin kelangsungan demokrasi yang berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan masyrakat .

Tugas pokok perusahaan daerah pada unit pasar Sentral Pekkabat Polewali Di Kabupaten Polman adalah melaksanakan pelayanan umum dalam perpasaran dalam membina perdagangan pasar, ikut membantu penerapan stabilitas harga dan kelancanran distribusi pasar dan fasilitas pasar untuk mewujudkan dan meningkatkan pelayanan umum kepada masyarakat dalam upayanya memenuhi kebutuhan jasa sarana dan prasarana serta fasilitas penunjang lainnya di bidang pasar sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah dalam rangka pengembangan dan pembangunan daerah.

2. Struktur Organisasi

Salah satu syarat untuk mendukung berhasilnya pengelolaan unit pasar Sentral Pekkabat Polewali adalah adanya struktur organisasi yang baik sehingga organisasi yang bersangkutan tidak hanya mampu mempertahankan eksistensinnya, akan tetapi tangguh melakukan penyusuaian dan perubahan yang diperlukan sehingga organisasi semakain meningkat efektivitasnya dan produktifiasnya disertai pembagian tugas dan tanggung jawab kepada masing-masing karyawan perusahaan merupakan pendorong bagi penerapan prinsip integrasi, koordinasi dalam pengelolaan organisasi.

Struktur organisasi unit Pasar Sentral Polewali berbentuk organisasi line (garis) yang mana hubungan antra bagian yang lainnya masing-masing mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk melaksanakan tujuan organisasi yang bertujuan untuk mengarahkan, mengkordinasikan dan mengendalikan berbagai kegiatan yang ada di level bawah.

Struktur organisasi unit pasar sentral polewali terdiri dari 1. Kepala unit pasar sentral pekkabata polewali.

2. Petugas pengarcis pasar 3. Petugas pengamanan pasar 4. Petugas pembersih pasar

Untuk lebih jelasnya hubungan antara karyawan dan aktivitas karyawan terhadap seluruh pekerjaan yang melaksanakan dapat dilihat pada bentuk organisasi yang tersusun seperti pada skema beriku.

STRUKTUR ORGANISASI PASAR SENTRAL PEKKABATA POLEWALI KABUPATEN POLEWALI MANDAR

Petugas pengarcis pasar petugas pengamanan pasar petugas pembersih pasar

Gambar 2: Struktur Organisasi Pasar Pekkabata Tugas dan Tanggung Jawab Masing-Masing Unit:

a .Kepala unit pasar sentral pekkabata polewali

1) Membentuk direktur utama dalam mengkoordinasikan tugas-tugas penyelenggaraan keuangan, pelaksanaan retrebusi, menjaga kebersihan dan ketertiban dan pemulihan pasar.

2) Mengkoordinasikan pelaksanaan pemugutan retrebusi pengelolaan pasar yang menjadi tanggung jawabnya.

3) Mengkoordinir pelaksanaan tugas di bidang pegawai, keuangan dan perlengkapan pasar.

4) Mengkoordinir pelaksanaan pembukuan atas segala macam pungutan sesuai jenis pungutan yang telah ditetapkan.

5) Mengawasi pelaksanaan tugas penertiban di dalam lingkungan pasar.

KEPALA PASAR

PEMDA KAB. POLMAN

6) Melaksanakan amanat yang diberikan oleh direktur utama perusahaan daerah pasar.

b. Petugas pengarcis pasar s Tugas dan tanggung jawab

1) Membantu kepala unit pasar dalam bidang pembukuan atas segala macam pungutan baik, bulanan, retrebusi, maipun pugutan lainnya.

2) Membuat/menyelenggarakan buku registrasi terhadap wajib retrebusi membukukan jumlah karcis yang diterima dan yang digunakan oleh kolektor dilapangan sebagai pertanggung jawaban.

3) Membuat daftara sewa tempat sesuai los, membuat daftar pembukuan penerimaan dan tunggakan serta melaksanakan penagihan terhadap penuggak pembayaran sewa tempat setiap bulannya.

4) Membuat laporan bulanan, kwartal dan tahunan tentang pendapatan penerimaan dan penyetoran retrebusi.

5) Melaksanakan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh kepala unit pasar.

c. Petugas pengamanan pasar

1) Aspek administrasi memegang peranan yang sangat penting dalam operasionalnya pada unit pasar pa’baengbaeng yang menyangkut pelayanan administrasi unit kerja dalam lingkungan unit pasar.

2) Membantu kepala unit pasar dalam kepegawaian, kemampuan, pembinaan organisasi serta dalam urusan rumah tangga.

3) Memberikan sarana dan pertimbangan kepada kepala unit pasar terhadap tindakan yang perlu diambil dibidang tugasnya.

4) Melaksanakan tugas-tugas yang dilaksanakan oleh kepala unit pasar.

d. Urusan kebersihan, ketertiban dan pelayanan

1) Menciptakan rasa aman dan tertib yang dirasakan oleh, pedagang dari pengunjung pasar.

2) Menghidarkan pedagang dan pengunjung dari pencopetan, perampokan, penganiayaan, pemerasan dari pihak penjahat.

3) Adanya penempatang pedagang kakai lima (PKL) yang tidak menlanggar pedagang, adanya tempat dagangan yang rapih dan tertib sehingga tidak mengganggu lalu lintas barang dan pengunjung pasar.

4) Terhindaranya pedagang dari gangguan kebakaran yang dapat memusnahkan tempat usaha dan barang pada pedagang.

5) Terciptannya parkir kendaraan yang tertib dan rapi, sehingga serasi, teratur dan enak dipandang mata.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Setelah penulis melakukan penelitian terhadap 30 pedagang di pasar tradisional Pekkabata Polewali, dengan rincian 10 orang pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar, 10 orang pedagang pakaian, dan 10 orang pedagang sayur, maka penulis memperoleh hasil Seperti Terlihat Pada Tabel 1,.2,.dan 3 Berikut:

1. Pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar

Tabel 4.1 Perbandingan rata-rata pendapatan pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar per-bulan sebelum dan sesudah adanya pasar moderen.

No Pedangang

Pasar Pendapatan Sebelum Ada

Pasar Moderen Pendapatan Sesudah Ada Pasar Moderen 1. Pedagang 1 Rp. 1.300.000/ bulan Rp. 1.200.000/ bulan 2. Pedagang 2 Rp. 1.800.000/ bulan Rp. 1.600.000/ bulan 3. Pedagang 3 Rp. 1.600.000/ bulan Rp. 1.400.000/ bulan 4. Pedagang 4 Rp. 1.300.000/ bulan Rp. 1.100.000/ bulan 5. Pedagang 5 Rp. 1.500.000/ bulan Rp. 1.200.000/ bulan 6. Pedagang 6 Rp. 1.500.000/ bulan Rp. 1.300.000/ bulan 7. Pedagang 7 Rp. 1.600.000/ bulan Rp. 1.300.000/ bulan 8. Pedagang 8 Rp. 1.500.000/ bulan Rp. 1.200.000/ bulan 9. Pedagang 9 Rp. 1.700.000/ bulan Rp. 1.500.000/ bulan 10. Pedagang 10 Rp. 1.300.000/ bulan Rp. 1.100.000/ bulan Rata - Rata Rp. 1.500.000/ bulan Rp. 1.300.000/ bulan

Sumber: hasil Koesioner Setelah Diolah, 2015

2. Pedagang Pakaian

Tabel 4.2 Perbandingan rata-rata pendapatan pedagang pakaian per-bulan sebelum dan sesedah adanya pasar moderen.

N

O Pedagang Pasar Pendapatan Sebelum

Ada Pasar Moderen Pendapatan Sesudah Ada Pasar Moderen 1. Pedagang 1 Rp. 15.000.000/ bulan Rp. 15.000.000/ bulan 2. Pedagang 2 Rp. 15.000.000/ bulan Rp. 16.000.000/ bulan 3. Pedagang 3 Rp. 12.000.000/ bulan Rp. 11.000.000/ bulan 4. Pedagang 4 Rp. 10.000.000/ bulan Rp. 12.000.000/ bulan 5. Pedagang 5 Rp. 12.000.000/ bulan Rp. 11.000.000/ bulan 6. Pedagang 6 Rp. 15.000.000/ bulan Rp. 15.000.000/ bulan 7. Pedagang 7 Rp. 10.000.000/ bulan Rp. 12.000.000/ bulan 8. Pedagang 8 Rp. 12.000.000/ bulan Rp. 11.000.000/ bulan 9. Pedagang 9 Rp. 15.000.000/ bulan Rp. 15.000.000/ bulan 10. Pedagang 10 Rp. 15.000.000/ bulan Rp. 15.000.000/ bulan Rata-rata Rp. 12.800.000/ bulan Rp. 12.800.000/ bulan

Sumber: hasil Koesioner Setelah Diolah, 2015

3. Pedagang Sayur

Tabel 4.3 Perbandingan rata-rata pendapatan pedagang sayur-sayuran per-bulan sebelum dan sesudah adanya pasar moderen.

NO Pedagang Pasar Pendapatan Sebelum

Ada Pasar Moderen Pendapatan Sesudah Ada Pasar Moderen 1. Pedagang 1 Rp. 1.500.000/ bulan Rp. 1.400.000/ bulan 2. Pedagang 2 Rp. 1.500.000/ bulan Rp. 1.500.000/ bulan 3. Pedagang 3 Rp. 1.500.000/ bulan Rp. 1.600.000/ bulan 4. Pedagang 4 Rp. 1.600.000/ bulan Rp. 1.500.000/ bulan 5. Pedagang 5 Rp. 1.500.000/ bulan Rp. 1.600.000/ bulan 6. Pedagang 6 Rp. 1.500.000/ bulan Rp. 1.600.000/ bulan 7. Pedagang 7 Rp. 1.500.000/ bulan Rp. 1.600.000/ bulan 8. Pedagang 8 Rp. 1.500.000/ bulan Rp. 1.600.000/ bulan 9. Pedagang 9 Rp. 1.400.000/ bulan Rp. 1.500.000/ bulan 10. 0Pedagang 10 Rp. 1.500.000/ bulan Rp. 1.500.000/ bulan Rata-rata Rp. 1.500.000/ bulan Rp. 1.540.000/ bulan Sumber: hasil Koesioner Setelah Diolah, 2015

Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata pendapatan setiap bulan pedagang tradisional di pasar sentral pekkabata polewali yakni pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar, pedagang pakaian, serta pedagang sayur diperoleh hasil yang bervariasi antar para pedagang. Berikut pembahasan gambaran hasil penelitian perbandingan pandapatan pedagang tradisional di pasar Sentral Pekkabata Polewali :

1. Pedagang Buah dan Makanan Tradisional Khas Mandar

Dari sepuluh orang pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar yang penulis wawancarai terlihat pendapatan antar pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar yang bervariasi. Pedagang 1, sebelum adanya pasar moderen memiliki pendapatan rata-rata Rp. 1.500.000/ bulan, namun setelah adanya pasar moderen pendapatan pedagang menurun menjadi rata-rata Rp. 1.300.000/ bulan. Hal berbeda pada pedagang 2, rata-rata pendapatan pedagang 2 sebelum adanya pasar moderen adalah sebesar Rp.

2.000.000, dan setelah adanya pasar moderen pendapatannya berkurang menjadi rata-rata Rp. 1.800.000/ bulan.

Namun setelah penulis melakukan penjumlahan rata-rata pendapatan 10 pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar yang menjadi narasumber, dengan memakai rumus sederhana yaitu jumlah pendapatan 10 pedagang di bagi 10, maka diperoleh hasil rata-rata pendapatan pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar setiap bulan sebelum hadirnya pasar moderen sebesar Rp. 1.500.000/ bulan, dan setelah hadirnya pasar moderen rata-rata pendapatan pedagang sebesar Rp. 1.300.000/ bulan.

Artinya pendapatan pedagang tradisional yakni pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar mengalami penurunan rata-rata Rp. 200.000/ bulan.

Hal ini disebabkan di pasar moderen yakni Alfa Mart dan Alfa Midi tersebut juga menyediakan buah sebagai barang dagangan, namun tidak semua jenis buah yang dijual pedagang buah di pasar sentral pekkabata polewali tersebut tersedia di pasar moderen, oleh karenanya perubahan penurunan pendapatan

pedagang buah tidak begitu mengalami pengaruh yang besar. Disamping itu pedagang buah di pasar sentral pekkabata polewali juga memiliki variasi barang dagangan yakni dengan menjual makanan tradisional khas mandar yang bisa mengimbangi penurunan minat konsumen buah di pasar sentral.

(M. Amir.TP, 51 Tahun, pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar).

Berdasarkan hasil penelitian terhadap pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar, penulis memiliki anggapan bahwa pendapatan pedagang tersebut tidak memiliki pengaruh yang besar akan hadirnya pasar moderen, sebab rata-rata pendapatan pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar sebelum hadirnya pasar moderen yakni Rp. 1.500.000 setiap bulannya jika dihitung dalam pendapatan perharinya maka diperoleh hasil yakni sebesar Rp. 50.000 perhari, dan setelah hadirnya pasar moderen rata-rata pendapatan pedagang sebesar Rp. 1.300.000 setiap bulan, jika dihitung dalam pendapatan perharinya menjadi Rp. 43.333. Artinya pendapatan perharinya mengalami penurunan hanya sebesar Rp. 7.000.

2. Pedagang pakaian

Untuk pedagang pakaian, rata-rata pendapatan setiap bulan para pedagang juga terlihat bervariasi. Pedagang 1 sebelum hadirnya pasar moderen rata-rata penghasilan setiap bulan mencapai Rp. 15.000.000/ bulan, dan setelah hadirnya pasar moderen rata-rata pendapatan pedagang tetap yakni sebesar Rp. 15.000.000/ bulan. Pedagang 2 justru sedikit mengalami kenaikan yakni sebelum hadirnya pasar moderen rata-rata pendapatan

pedagang 2 sebesar Rp. 15.0000.000/ bulan, namun setelah hadirnya pasar moderen pendapatan menjadi rata-rata sebesar Rp. 17.00.000/ bulan. Artinya pedagang 2 mengalami peningkatan rata-rata pendapatan sebesar Rp.2.000.000/ bulan. Akan tetapi pedagang 3 justru mengalami penurunan pendapatan, yaitu rata-rata pendapatan sebelum hadirnya pasar moderen sebesar Rp. 15.000.000/ bulan, dan setelah hadinya pasar moderen rata-rata pendapatan pedagang 3 menjadi sebesar Rp. 14.000.000/ bulan. Artinya rata-rata pendapatan setiap bulan pedagang 3 mengalami penurunan yakni sebesar Rp. 1.000.000/ bulan. Akan tetapi setelah penulis melakukan penjumlahan rata-rata kesepuluh pedagang pakaian yang menjadi narasumber dengan menggunakan rumus sederhana yaitu jumlah pendapatan 10 pedagang dibagi 10, maka diperoleh hasil rata-rata pendapatan pedagang tradisional yakni pedagang pakaian sebelum hadirnya pasar moderen sebesar Rp. 15.000.000/

bulan, dan setelah hadirnya pasar modedern rata-rata pendapatan pedagang pakaian sebesar Rp. 15.000.000/ bulan. Hal ini berarti rata-rata pendapatan pedagang pakaian tidak mengalami perubahan dan tidak berpengaruh setelah kehadiran pasar moderen. Hal ini disebabkan bahwa di pasar moderen yakni Alfa Mart dan Alfa Midi tersebut tidak menyediakan barang dagangan berupa pakaian (Irman, 38 tahun pedagang pakaian).

3. Pedagang sayur

Hasil penelitian untuk pedagang sayur diperoleh gambaran rata-rata pendapatan para pedagang yang juga bervariasi, sebagian pedagang mengalami peningkatan pendapatan dan sebagian lagi mengalami penurunan

pendapatan, bahkan ada pedagang yang memiliki pendapatan yang tetap.

Pedagang 1, rata-rata pendapatan sebelum hadirnya pasar moderen sebesar Rp. 1.500.000/ bulan, dan setelah hadirnya pasar moderen rata-rata pendapatan sebesar Rp. 1.400.000, artinya pedagang 1 memiliki penurunan pendapatan sebesar Rp.100.000. Berbeda dengan hasil yang diperoleh dari pedagang 2, sebelum hadirnya pasar moderen rata-rata pendapatan sebesar Rp. 1.500.000/ bulan dan setelah hadirnya pasar moderen pendapatan pedagang 2 tersebut tetap yakni sebesar Rp. 1.500.000/ bulan. Hasil yang berbeda pula diperoleh dari pedagang 3, yakni rata-rata pendapatan pedagang 3 sebelum hadirnya pasar moderen sebesar Rp. 1.500.000/ bulan dan setelah hadirnya pasar moderen pendapatannya meningkat menjadi Rp. 1.600.000/

bulan. Ini berarti rata-rata pendapatan pedagang 3 mengalami peningkatan sebesar Rp. 100.000/ bulan. Namun setelah penulis melakukan penjumlahan rata-rata pendapatan 10 pedagang sayur yang menjadi narasumber dengan menggunakan rumus sederhana yakni jumlah pendapatan 10 pedagang di bagi 10, maka diperoleh hasil, rata-rata pendapatan pedagang sayur sebelum hadirnya pasar moderen sebesar Rp. 1.500.000/ bulan dan setelah hadirnya pasar moderen rata-rata pendapatan pedagang sayur menjadi sebesar Rp.

1.500.000/ bulan. Ini berati rata-rata pendapatan pedagang sayur setiap bulannya tetap. Hal ini disebabkan di pasar moderen tidak memiliki barang dagangan berupa sayur, maka konsumen untuk pedagang sayur tetap seperti sebelum hadirnya pasar moderen. (Najamiah, 40 Tahun Pedagang sayur).

Perbedaan pendapatan pedagang sayur yang bervariasi yakni ada sebagian pedagang yang mengalami peningkatan pendapatan dan sebagaian pedagang lagi justru mengalami penurunan pendapatan disebabkan beberapa faktor, seperti persaingan antar para pedagang, minat konsumen yang sedang turun, dan faktor lainnya. Perubahan pendapatan pedagang sayur bukan disebabkan hadirnya pasar moderen (Najamiah, 40 Tahun, pedagang sayur)

Dari ketiga jenis pedagang tradisional yang menjadi narasumber dalam tulisan ini didapati hasil yang bervariasi. Pedagang buah, meskipun pendapatan sedikit mengalami penurunan setelah hadirnya pasar moderen namun hal tersebut tidak memiliki pengaruh yang berati bagi pedagang, dikarenakan jumlah penurunan pendapatan setiap bulan yang hanya sebesar Rp. 200.000 tidak menurunkan semangat pedagang untuk tetap memilih berjualan buah di pasar sentral tersebut. Pedagang juga telah mengantisipasi penurunan pendapatan tersebut dengan memilih menambah variasi barang dagangan, yang tadinya sebelum hadirnya pasar moderen pedagang hanya menjual buah-buahan, namun setelah hadirnya pasar moderen padagang menambah variasi barang dagangan dengan menjual makanan tradisional khas mandar. Hal tersebut didukung oleh lokasi sekitar Pasar Sentral yang menjadi terminal bayangan jurusan Polewali-Makassar.

Sedangkan pengaruh pasar moderen terhadap pedagang tradisional di Pasar Sentral Polewali jenis pakaian dan sayur justru tidak mengalami pengaruh sama sekali. Hal ini terlihat dari pendapatan pedagang yang cenderung stabil, beberapa pedagang ada yang mengalami peningkatan

pendapatan meskipun beberapa diantara pedagang juga ada yang mengalami penurunan pendapatan. Disebabkan variasi yang berbeda tersebut penulis berpendapat bahwa pengaruh pendapatan yang bervariasi pada pedagang pakaian dan sayur tersebut bukan atas hadirnya pasar moderen, namun faktor tersebut lebih banyak disebabkan oleh pasar itu sendiri, seperti musim, minat konsumen yang sedang rendah atau bahkan faktor persaingan dagang antar pedagang itu sendiri.

Hal yang juga mendukung pendapat bahwa pasar moderen tidak memilki pengaruh terhadap pedagang tradisional di pasar sentral Polewali jenis pakaian dan sayur adalah jenis barang dagangan pakaian dan sayur tidak tersedia di pasar moderen tersebut.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian perbandingan pendapatan pedagang tradisional di Pasar Sentral Pekkabata Polewali, dan setelah penulis melakukan pembahasan hasil penelitian pada bab sebelumnya, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa dari ketiga jenis pedagang tradisional yang telah diwawancarai hanya pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar yang memiliki pengaruh terhadap pendapatan mereka. Pengaruh tersebut berupa penurunan pendapatan pedagang setiap bulannya. Namun pengaruh tersebut tidak memiliki dampak yang berarti terhadap aktivitas pedagang yang dilakukan oleh para pedagang, dilihat dari jumlah penurunan tingkat pendapatan yang cukup kecil, serta aktivitas para pedagang buah dan makanan tradisional khas mandar yang masih tetap melakukan kegiatan berdagang.

Untuk pedagang pakaian dan sayur, hadirnya pasar moderen bahkan tidak memilki pengaruh terhadap pendapatan para pedagang. Bervariasinya pendapatan antar sesama pedagang pakaian dan sayur tidak disebabkan atas hadirnya pasar moderen melainkan disebabkan faktor pasar. Selain itu tidak tersedianya barang jenis pakaian dan sayur di pasar Moderen menyebabkan konsumen pedagang pakaian dan sayur masih memilih membeli di pasar Sentral Polewali.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, maka diajukan saran-saran sebagai pelengkap terhadap hasil penelitian sebagai berikut:

1. Diharapkan pengusaha tidak mendirikan lebih banyak lagi pasar modern yang sudah cukup meresahkan para pedagang tradisional dengan tidak

memperhatikan jarak tempat berdirinya usaha tersebut.

2. Bagi pedagang (tempat penelitian) hendaknya berusaha senantiasa meningkatkan keragaman produk terutama pada ketersediaan produk secara lengkap dan berkualitas, serta memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumen, dan lebih perduli untuk menambah wawasan dalam bidang usaha ritel.

3. Bagi Pemerintah seharusnya perlu memikirkan kelangsungan hidup pedagang pasar tradisional Sentral Polewali, ini dapat diwujudkan dengan mengatur tata letak (lokasi) pasar modern dengan pasar Tradisional.

46 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Perusahaan

1. Sejarah Singkat Pasar Sentral Polewali Di Kabupaten Polman.

Unit pasar Sentral Pekkabata Polewali didirikan pada saman belanda sebagai pasar tradisional yang dikelolah pemda Tk.II Kabupaten Polman yang

Unit pasar Sentral Pekkabata Polewali didirikan pada saman belanda sebagai pasar tradisional yang dikelolah pemda Tk.II Kabupaten Polman yang

Dalam dokumen SKRIPSI PADLI (Halaman 42-94)

Dokumen terkait