HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Histopatologi Ginjal
dan segmen tebal loop henle dibagian medula. Hal ini dikarena kebutuhan energi yang tinggi, sedangkan aliran darah dan suplai oksigen relatif kecil yang masuk ke dalam medula (Cotran et al. 1989 dan Cheville 1999).
Pengamatan histopatologi pada ginjal menunjukkan adanya perubahan pada kelompok kontrol dan perlakuan. Perubahan yang terjadi meliputi degenerasi hidropis dan lemak maupun nekrosa. Penghitungan jumlah sel epitel tubulus yang mengalami lesio antara kelompok kontrol dan perlakuan dilakukan pada 5 bidang pandang. Hasil analisis statistik persentase sel epitel tubulus ginjal dapat dilihat pada Tabel 10 dan Tabel 11.
Tabel 10 Persentase lesi sel epitel tubulus ginjal mencit jantan. Persentase (%)
Kelompok Degenerasi Hidropis Degenerasi lemak Nekrosa Normal HS Kontrol 69.88 ± 5.03a 1.27 ± 0.33b 13.76 ± 1.37a 15.09 ± 6.74 HS 0.1 a 57.95 ± 5.02a 0.00 ± 0.00a 13.64 ± 6.52a 27.42 ± 3.45 HS 0.2 a 71.60 ± 1.82a 0.00 ± 0.00a 18.98 ± 2.25a 9.49 ± 3.72 HS Madu a 59.63 ± 1.38a 0.00 ± 0.00a 21.29 ± 2.44a 18.09 ± 1.49a Keterangan: Huruf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan adanya perbedaan yang
nyata (p<0.05) antar kelompok perlakuan.
Tabel 11 Persentase lesi sel epitel tubulus ginjal mencit betina. Persentase (%)
Kelompok Degenerasi Hidropis Degenerasi Lemak Nekrosa Normal HSKontrol 70.48 ± 1.05ab 2.43 ± 2.59a 17.10 ± 1.63a 9.99 ± 3.17 HS 0.1 a 63.12 ± 5.08a 0.00 ± 0.00a 13.82 ± 7.20a 23.06 ± 9.89 HS 0.2 a 81.93 ± 9.06b 0.61 ± 1.06a 6.79 ± 7.15a 10.67 ± 6.95 HS Madu a 71.06 ± 8.00ab 0.45 ± 1.21a 12.14 ± 2.63a 16.84 ±8.59a Keterangan: Huruf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan adanya perbedaan yang
nyata (p<0.05) antar kelompok perlakuan.
Gambar 11 Gambaran histopatologi sel tubulus ginjal dengan perlakuan ekstrak minyak jintan hitam (Nigella sativa)berupa degenerasi hidropis (panah hijau), degenerasi lemak (panah biru), nekrosa piknosis (panah merah), nekrosa karyorheksis (panah hitam) dan sel tubulus normal (panah kuning). Pewarnaan HE. Bar: 50 µm.
Pemberian Ekstrak minyak jintan hitam memberikan efek yang lebih baik dibandingkan dengan mencit kelompok kontrol. Kelompok perlakuan memiliki rataan sel normal yang lebih tinggi dibandingkan dengan rataan jumlah sel normal pada kelompok perlakuan kontrol (Tabel 10 dan Tabel 11), walaupun secara statistik nilainya tidak berbeda nyata. Pada kelompok perlakuan HS 0.2 mencit jantan mengalami penurunan bila dibandingkan dengan kelompok kontrol, walaupun tidak berbeda nyata. Penurunan ini bisa dikarenakan oleh daya tahan tubuh dan status imun masing-masing hewan berbeda, sehingga efek habbatussauda belum berpengaruh. Peningkatan sel epitel tubulus normal kemungkinan karena kandungan dari habbatussauda. Salah satu kandungannya adalah betakaroten yang berperan dalam pemeliharaan sel-sel epitel, menstabilkan radikal berinti karbon, pertumbuhan secara umum dan metabolisme (Ide 2010). Selain itu habbatussauda juga mengandung tokoferol yang berfungsi dalam pemeliharaan membran sel (Sandjaja 2009). Khasiat dalam pemeliharaan sel epitel ini kemungkinan dapat menyebabkan nilai rataan sel tubulus normal kelompok perlakuan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Perubahan yang terjadi pada sel tubulus meliputi degenerasi hidropis, degenerasi lemak, dan nekrosa pada epitel tubulus (Gambar 11). Hasil pada Tabel 10 dan 11 menunjukkan bahwa degenerasi hidropis pada kelompok perlakuan HS 0.2 ml pada mencit jantan dan mencit betina lebih tinggi walaupun tidak berbeda
nyata (p>0.05) dibandingkan kelompok kontrol. Degenerasi hidropis terjadi sebagai respon terhadap iskemia dan keracunan. Korteks renalis merupakan bagian yang paling sensitif terhadap hipoksia (iskemia) terutama tubulus proksimal. Iskemia dapat terjadi karena keracunan zat kimia sehingga aliran oksigen ke sel tubulus ginjal menjadi berkurang. Mitokondria membutuhkan oksigen untuk fosforilasi oksidasi dan pembentukan adenosin trifosfat (ATP). Sel membutuhkan ATPase untuk mengaktifkan pompa natrium-kalium dalam pengaturan keluar masuknya ion. Pada saat sel-sel kekurangan ATP, maka sel tidak dapat mempertahankan fungsinya, misalnya fungsi pemindahan natrium keluar dan kalium kedalam sel melalui pompa natrium-kalium (Corwin 2001). Iskemia dan keracunan mengakibatkan pompa ion natrium-kalium rusak sehingga kadar natrium dan tekanan osmotik di dalam sel meningkat dan terjadi penarikan air ke dalam sel. Pada keadaan ini sitoplasma membengkak akibat akumulasi cairan diantara matriks sel dan retikulum endoplasma. Secara mikroskopis sel-sel terlihat mengandung ruangan-ruangan jernih yang mengelilingi inti tetapi tidak sejernih glikogen atau lemak (Cheville 1999). Perubahan ini bersifat reversible, sehingga sel dapat kembali normal jika penyebabnya dihentikan.
Degenerasi hidropis yang terjadi pada kelompok kontrol kemungkinan terjadi akibat adanya pengaruh lingkungan yang memungkinkan mencit terpapar agen penyakit yang non spesifik, sedangkan degenerasi hidropis yang terjadi pada kelompok perlakuan selain karena pengaruh lingkungan, kemungkinan akibat senyawa yang terkandung di dalam habbatussauda. Setiap senyawa kimia pada dasarnya bersifat racun dan kejadian keracunan dapat terjadi karena pengaruh dosis dan cara pemberian (Darmansjah 1995; Selly dan Maronpot 1999).
Perubahan pada sel tubulus ginjal juga memperlihatkan adanya degenerasi lemak (Gambar 11). Hasil pada Tabel 10 dan Tabel 11 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol dibandingkan dengan semua kelompok perlakuan serta tidak berbeda nyata (p>0.05) pada mencit betina dan berbeda nyata (p<0.05) pada mencit jantan. Degenerasi lemak merupakan penimbunan abnormal dari trigliserida dalam sel parenkim. Ditandai dengan adanya vakuola-vakuola lemak kecil di sitoplasma epitel tubulus ginjal sehingga jaringan tampak jernih.
Penyebabnya dapat bermacam-macam seperti toksin, malnutrisi protein, diabetes mellitus, obesitas, dan anoksia (Sudiono et al. 2001). Degenerasi lemak bisa disebabkan oleh komponen alkaloid yang terkandung di dalam ekstrak minyak jintan hitam yaitu nigellin yang bersifat toksik sehingga menghambat kerja enzim yang terlibat dalam metabolisme lipid intraseluler (El Tahir dan Ashour 1993).
Bahan toksik seperti saponin dan tanin yang terkandung di dalam habbatussauda juga diduga menjadi penyebab terjadinya perubahan berupa degenerasi lemak pada sel epitel tubulus (Mashhadian dan Rakhshandeh 2005; Al-Jabre et al. 2003). Penurunan jumlah sel epitel tubulus yang mengalami degenerasi lemak bisa dikarenakan kandungan dari jintan hitam dapat memelihara fungsi dari glomerulus dan sel epitel tubulus ginjal. Hal ini disebabkan oleh karena kandungan dari habbatussauda berupa betakaroten yang berperan dalam pemeliharaan sel-sel epitel, menstabilkan radikal berinti karbon, pertumbuhan secara umum dan metabolisme (Ide 2010).
Pada pengamatan mikroskopis sediaan histopatologi organ sel epitel tubulus ginjal selanjutnya ditemukan perubahan yaitu nekrosa (Gambar 11). Tabel 10 menunjukkan bahwa kelompok mencit jantan dengan perlakuan HS madu memiliki jumlah epitel tubulus yang mengalami nekrosa lebih tinggi walaupun tidak berbeda nyata (p>0.05) dibandingkan dengan kelompok kontrol dan kelompok HS 0.1, sedangkan pada Tabel 11 menunjukkan bahwa kelompok mencit betina kontrol memiliki jumlah sel epitel tubulus yang mengalami nekrosa lebih tinggi dan tidak berbeda nyata (p>0.05) dibandingkan dengan semua kelompok perlakuan lainnya. Nekrosis pada sel epitel tubulus terjadi pada semua perlakuan, nekrosis dapat terjadi karena bahan-bahan toksik yang masuk ke ginjal melalui aliran darah tersebut. Penyebab umum nekrosis tubular, yang berarti kerusakan sel epitel tubulus adalah iskhemia berat dan suplai oksigen dan zat makanan ke sel epitel tubulus yang tidak kuat dan racun, toksin, atau pengobatan yang merusak sel-sel epitel tubulus (Guyton dan Hall 1996). Sel-sel epitel tubulus yang mengalami nekrosa intinya terlihat gelap dan mengalami kariokreksis (Gambar 11).
Berdasarkan Tabel 10 dan Tabel 11 diketahui bahwa terdapat penurunan sel epitel tubulus yang mengalami nekrosa pada semua kelompok perlakuan pada mencit betina, sedangkan pada mencit jantan menunjukkan peningkatan jumlah sel epitel tubulus ginjal yang mengalami nekrosa bila dibandingkan dengan kelompok kontrol walaupun semua kelompok perlakuan pada mencit jantan dan betina tidak berbeda nyata (p>0.05) terhadap kelompok kontrol. Peningkatan sel epitel tubulus mencit jantan yang mengalami nekrosa bisa disebabkan oleh kandungan dari jintan hitam berupa saponin dan tanin yang merupakan senyawa bioaktif yang bersifat zat toksik (Mashhadian dan Rakhshandeh 2005; Al-Jabre et al. 2003).
Saponin dan tanin merupakan bahan yang bersifat toksik yang dapat menghambat pengangkutan oksigen oleh darah ke organ ginjal sehingga kerusakan pada sel epitel tubulus proksimal menjadi maksimal (Hopkins dan Huner 2004; Reid dan Roberts 2005). Nekrosa yang terjadi signifikan dengan naiknya dosis. Semakin naik dosis yang diberikan mengakibatkan nekrosa yang terjadi juga semakin besar. Terlalu tingginya dosis Nigella sativa yang digunakan pernah dilaporkan menyebabkan efek toksik yaitu penurunan jumlah trombosit tikus (Zaoui et al. 2002).
Peningkatan sel epitel tubulus yang mengalami nekrosa pada mencit jantan berbanding lurus dengan peningkatan sel epitel tubulus normalnya. Hal ini bisa disebabkan terjadinya regenerasi sel epitel tubulus. Menurut Carlton dan McGavin (1995) sel epitel tubulus yang mengalami nekrosa masih bisa beregenerasi untuk pemulihan fungsi ginjal bila penyebab kerusakan dihentikan dan membran basalis tubulus masih utuh.
Pada Tabel 10 dan Tabel 11 menunjukkan adanya peningkatan jumlah sel normal epitel tubulus proksimal ginjal mencit jantan dan betina pada kelompok HS madu dan tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini dikarenakan kandungan dari habbatussauda dan kandungan madu bekerja secara sinergis. Kombinasi dari habbatussauda dan madu memiliki efek hepatoprotektif yang lebih besar dan memiliki efek tambahan yang bermanfaat dalam meningkatkan fungsi ginjal (Al-Ameen et al. 2011).
Degenerasi dan kematian sel yang terjadi pada kelompok kontrol mencit jantan dan betina kemungkinan terjadi akibat adanya pengaruh lingkungan dan pretreatment yang memungkinkan mencit terpapar infeksi penyakit, sedangkan degenerasi yang terjadi pada kelompok perlakuan selain karena pengaruh pretreatment, kemungkinan akibat senyawa yang terkandung dalam Habbatussauda. Kemungkinan juga disebabkan oleh kondisi imunitas setiap mencit berbeda-beda dan mencit yang digunakan bukan mencit Spesific Pathogen Free (SPF).
Peningkatan jumlah sel-sel yang mengalami kerusakan seperti degenerasi hidropis, degenerasi lemak dan sampai kematian sel karena adanya radikal bebas yang tinggi. Radikal bebas merupakan suatu kelompok bahan kimia dengan reaksi jangka pendek yang memiliki satu atau lebih elektron bebas, baik berupa atom maupun molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan pada lapisan luarnya (Droge 2002). Pada kondisi hiperkolesterolemia diduga terjadi kelainan metabolisme dalam tubuh yang kemungkinan akan dihasilkannya radikal bebas. Kelainan metabolisme ini kemungkinan akan mengakibatkan terganggunya keseimbangan sistem oksidan (radikal bebas) (Handayani 2009). Kerusakan sel tubulus ginjal dan sel hepatosit dapat dicegah dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung antioksidan.
Menurut penelitian-penelitian sebelumnya jintan hitam dikenal mengandung antioksidan. Jintan hitam mengandung Thymoquinone yang dapat mencegah terjadinya kerusakan sel akibat radikal bebas (El-Dakhakhny et al. 2002). Mengkonsumsi ekstrak minyak jintan hitam juga mengikuti aturan pemakaian dengan tidak mengkonsumsinya dengan dosis yang berlebihan. Untuk memelihara kesehatan atau pengobatan penyakit ringan, dosis atau aturan minum habbatussauda pada manusia adalah 40-80 mg/kg BB per hari, untuk penyakit tergolong sedang diberikan dengan dosis 100-200 mg/kg BB per hari, sedangkan untuk penyakit berat diberikan dosis 200-300 mg/kg BB per hari (Hendrik 2011). Pada mencit dosis yang digunakan adalah 0.1 ml/ekor/hari pada dosis pencegahan, sedangkan 0.2 ml/ekor/hari pada dosis pengobatan selama dua bulan menunjukkan adanya peningkatan hepatosit dan sel epitel tubulus normal.
BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan
Ekstrak minyak jintan hitam tidak bersifat toksik dan secara keseluruhan tidak meningkatkan lesio pada sel hepatosit dan sel epitel tubulus.
5.2 Saran
1. Perlu dilakukan penelitian dengan waktu yang lebih lama untuk melihat efek dari ekstrak minyak jintan hitam (Nigella sativa) bila dikonsumsi dalam jangka panjang.
2. Perlu dilakukan penelitian pengaruh pemberian ekstrak minyak jintan hitam (Nigella sativa) dengan menggunakan hewan model SPF (Spesific Pathogen Free).
3. Perlu dilakukan penelitian pengaruh pemberian ekstrak minyak jintan hitam (Nigella sativa) dengan menggunakan hewan model yang mengalami gangguan hati dan ginjal.