AIDS adalah suatu kumpulan gejala penyakit kerusakan sistem kekebalan tubuh, bukan penyakit bawaan tetapi didapat dari hasil penularan. Penyakit ini disebabkan oleh human immunodecficiency virus (HIV). Penyakit ini telah menjadi masalah internasional karena dalam waktu yang relatif singkat terjadi peningkatan jumlah pasien dan semakin melanda banyak negara, sampai saat ini belum ditemukan vaksin atau obat yang relatif efektif untuk AID sehingga menimbulkan keresahan didunia. Sejarah dimulai HIV/AIDS dimulai ketika tahun 1979 di amerika serikat ditemukan seorang gay muda dengan dua orang.
Di indonesia HIV pertama kali dilaporkan di bali pada april 1987 (terjadi pada orang belanda) pada tahun 1999 terdapat 635 kasus HIV dan 183 kasus baru AIDS. Mulai tahun 2000-2005 terjadi peningkatan kasus HIV dan AIDS secara signifikan di indonesia. Kasus AIDS tercatat tahun 2000 255 orang, meningkat menjadi 316 orang pada tahun 2003, dan meningkat cepat menjadi 2638 orang pada tahun 2005. Dari data tersebut, DKI jakarta memiliki jumlah penderita terbesar, di ikuti oleh jawa timur, papua, jabar, dan bali. Peningkatan ini disebabkan oleh semakin
membaiknya sistem diagnostik kasus dengan klinik voluntary counseling and testing(VCT).
Waktu paruh virus (virion half-life) berlangsung cepat. Sebagian besar virus akan mati, tetapi karena mulai awal infeksi, replikasi virus berjalan sangat cepat dan terus menerus. Dalam sehari sekitar 10 miliar virus dapat. Diproduksi replikasi inilah yang menyebabkan kerusakan sistem kekebalan tubuh. Tingginya
jumlah virus dalam darah ditunjukkan dengan angka viral load, sedeangkan tingkat kerusakan sistem kekebalan tubuh di tunjukan dengan angka CD4.
DNA virus yang dianggap oleh tubuh sebagai DNA sel induk akan membentuk RNA dengan fasislitas sel induk, sedangkan mRNA dalam sitoplasma akan di ubah oleh enzim protease menjadi partikel HIV. Partikel itu selanjutnya mengambil selubung dari bahan sel induk untuk dilepas sebagai virus HIV lainya.
Penyakit ini menular berbagai cara, antara lain melalui cairan tubuh seperti darah, cairan genitalia, dan ASI. Virus juga terdapat dalam saliva, air mata dan urin ( sangat rendah). HIV tidak dilaporkan terdapat dalam air mata dan keringat. Pria yang sudah disunat memiliki risiko HIV yang lebih kecil dibandingkan dengan pria yang tidak disunat.
1. Gejala klinis
a. Masa inkubasi 6 bulan-5tahun.
b. Window period selama 6-8 minggu, adalah waktu saat tubuh sudah terinfeksi oleh pemeriksaan laboratorium. c. Seseorang dengan HIV dapat bertahan sampai dengan 5
tahun. Jika tidak diobati, maka penyakit ini akan bermanifestasi sebagai AIDS.
d. Gejala klinis muncul sebagai penyakit yang tidak khas seperti:
Diare kronis
Kandidiasis mulut yang luas
Pneumonia carinii
7. Varisela
Menurut Widoyono (2011), menyatakan bahwa Varisela adalah infeksi virus akut yang ditandai dengan adanya vesikel pada kulit yang sangat menular. Penyakit ini disebut juga dengan chicken pox, cacar air, atau varisela zozter, meskipun penyebabnya sama. Varisela disebabkan oleh herpesvirus varicellae atau human (alpha) herpes virus-3 (HHV3), varicella-zoster-virus (VZV) yang merupakan anggota dari kelompok virus herpes. Struktur virus, antibodi yang di timbulkan, dan gambaran lesi kulit varisela sulit di bedakan dengan herpesvirus hominis (herpes simplex).
Varisela ditularkan melalui kontak langsung (cairan veksikel) dan droplet. Suatu laporan KLB di rumah sakit amerika menyatakan adanya penyebaran melalui udara. Belum ada keterangan yang jelas apakah virus bisa melayang-layang di udara. Infeksi varisela sering terjadi pada saat pergantian musim. Di negara maju terjadi pada musim dingin dan awal musim semi. Di amerika terjadi pada bulan januari sampai juni. Di indonesia varisela di duga sering terjadi pada saat pergantian musim ke musim panas atau sebaliknya.
1. Gejala dan tanda
Masa inkubasi varisela sakit 11-21 hari, dengan rata-rata 13-17 hari. Perbedaan varisela dengan herpes zsoster adalah bahwa lokasi vesikel pada herpes zoster sesuai dengan lokasi susunan saraf. Terdapat dua stadium perjalana penyakit di bagi antara dua yaitu :
1. Stadium prodromal
Dua minggu setelah infeksi akan timbul demam, malaisem, anoreksia, dan nyeri kepala.
2. Stadium erupsi
Satu atau sampai tiga hari kemudian akan muncul ruam atau makula kemerahan, papula segera berubah menjadi vesikel yang khas berbentuk seperti tetsan air, vesikel akan menjadi pustula (cairan jernih berubah menjadi keruh) yang pecah menjadi krusta dalam waktu sekitar 12 jam.
8. Flu Brung
Flu burung atau dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah Avian flu atau Avian influenza (AI). Flu burung adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dengan diameter 90-virus tersebut 120 nanometer. Virus tersebut termasuk dalam famili Orthomyxoviridae.
Secara normal, virus tersebut hanya menginfeksi ternak unggas seperti ayam, kalkun dan itik. Namun, data terakhir menyebutkan bahwa virus AI bisa menginfeksi ternak ruminasia terutama babi. Walaupun semua jenis unggas dapat terinfeksi virus yang terkenal sangat ganas ini, tetapi yang diketahui jauh lebih rentan virus adalah jenis unggas yang diternakkan secara massal seperti ayam, puyuh dan itik. Virus Avian influenza dapat berubah bentuk (bermutasi) dan bisa menyebabkan epidemi atau pandemi (Soejoedono R dan Handharyani E, 2005). Virus flu burung termasuk ke dalam genus influenza dan famili Orthomyxoviridae. Virus influenza terdiri dari beberapa tipe antara lain tipe A, B dan C. Virus flu burung merupakan virus influenza tipe A sedangkan virus influenza B dan C hanya menginfeksi manusia. Virus influenza tipe A memiliki dua jenis glikoprotein permukaan yaitu Hemaglutinin (H) dan Neuraminidase (N), kedua protein permukaan ini akan menentukan subtipe virus flu burung yang banyak jenisnya.
Virus influenza tipe A memiliki 16 subtipe H dan 9 subtipe N (DEPKES, 2007).
Penularan atau transmisi dari virus influenza secara umum dapat terjadi melalui inhalasi, kontak langsung, ataupun kontak tidak langsung. Sebagian besar kasus infeksi HPAI pada manusia disebabkan penularan virusdari unggas ke manusia (Radji M, 2006).
Penyakit flu burung ditularkan ke manusia melalui beberapa cara, antara lain kontak langsung dengan unggas atau ayam yang sakit, penularan melalui udara yang tercemar virus avian influenza, kontak dengan air liur dan kotoran ayam yang sakit. Penularan juga dapat melalui alat perternakan, baju, sepatu, sepeda yang terkontaminasi dengan virus flu burung (Kumala W, 2005).
Gejala pada penyakit ini yaitu demam, anoreksia, pusing, gangguan perrnapasan (sesak), nyeri otot, dan mungkin konjungtivitis yang terdapat pada pasien dengan riwayat kontak dengan unggas (misalnya peternak, pedagang). Gejala tersebut tidak khas dan mirip gejala flu lainnya, tetapi secara cepat gejala menjadi berat dan dapat menyebabkan kematian karena terjadi peradangan paru (penumonia). Masa inkubasinya adalah 1-3
hari.
9. Sars
Menurut Widoyono (2011), menyatakan bahwa Severe acute respiratory (SARS) atau sindrom pernapasan akut berat adalah sindrom akibat infeksi virus virus pada paru yang bersifat mendadak dan menunjukkan gejala gangguan pernapasan pada pasien yang mempunyai riwayat kontak dengan pasien SARS.
Penyakit ini muncul di provensi guandong-cina ini merupakan penyakit baru yang mengejutkan WHO. ini
disebabkan karena WHO baru mengetahui kasus ini tiga bulan kemudian pada bulan februari 2003, meskipun pemerintah setempat sudah melakukan langka-langkah penaggulangan kasus. Para ahli kesehatan berpendapat bahwa kecepatan laporan akan sangat berpengaruh terhadap upaya pengendalian epidemi oleh dunia internasional.
Pada awalnya virus menyebab SARS diduga merupakan paramyxovirus dalam perkembanganya. WHO kemudian menetapkan penyebab SARS adalah conaravirus. Banyak penelitian yang dilakukan dengan menyuntikkan conaravirus pada kera ternyata menunjukkan gejala dan tanda yang sama dengan pasien SARS manusia. Semua coronavirus membentuk suatu protein nukleokapsid (N). Protein ini meningkat RNA dan membentuk suatu nukleokapsid yang berbentuk seperti sekrup, dan mungkin saja di libatkan Dalam sintesis RNA.
Penularan penyakit ini terjadi melalui droplet (batuk, bersin atau bicara) dari pasien yang telah terinfeksi virus. Selain itu, kontak erat dengan pasien juga dapat menularkan penyakit dengan mekanisme yang belum diketahui secara pasti. Kontak erat menurut WHO adalah mereka yang merawat, hidup bersama dengan pasien. Penularan melalui droplet dapat terjadi jika jarak terjadi jika jarak dengan pasien sekitar dua meter. Virus diketahui senang berada pada mukosa saluran napas. Seperti penyakit yang disebabkan oleh virus lainya, SARS mempunyai masa inkubasi 3-10 hari dengan rata-rata 7 hari. Dengan demikian, apabila terjdi KLB, pengamatan ketat terhadap lokasi kasus dilakukan selama 14 hari setelah kasus terakhir dinyatakan sembuh.
10. Polio
Poliomyelitis berasal dari kata yunani, polio berarti abu-abu, dan myelon yang berarti saraf perifer, sering juga disebut paralisis infantil. Poliomielitis atau sering disebut polio. Polio adalah penyakit akut yang menyerang sistem saraf perifer yang disebabkan oleh virus polio. Gejala utama penyakit ini adalah kelumpuhan. Kelumpuhan biasanya berkurang sampai hilang, akan tetapi dapat menetap setelah 60
hari yang akan menyebabkan kecacatan.
Penularan polio sangat berhubungan dengan konsekuensi dampak sosial dan ekonomi suatu negara. Sejarah penyakit ini diketahui dengan di temukanya gambaran seorang anak yang berjalan dengan tongkat dimana sebelah kaki mengecil pada lukisan artefak mesir kuno pada tahun 1403-1365 sebelum masehi.
Virus polio termasuk genus enterovirus. Terdapat tiga tipe yaitu 1,2 dan 3. Ketiga tipe virus tersebut bisa menyebabkan kelumpuhan. Tipe 1 adalah tipe yang paling mudah diisolasi, di ikuti tipe 3, sedangkan tipe 2 paling jarang di isolasi. Tipe yang sering menyebabkan wabah juga adalah tipe 2 dan 3. Didalam bebas, virus polio dapat bertahan hingga 48 jam pada musim kemarau dan dua minggu pada musim hujan. Didalam usus manusia, virus dapat bertahan hidup sampai dua bulan. Virus polio bertahan terhadap sabun, deterjen ,alkohol, eter, dan klorofom, tetapi virus ini akan mati dengan pemberian formaldehida 0,3%, klorin, pemanasan, dan sinar ultraviolet.
Masa inkubasi polio biasanya 7-14 hari dengan rentan 3-35 hari. Manusia merupakan satu-satunya reservoir dan merupakan sumber penularan. Virus ditularkan antara manusia
melalui rute oro-fekal. Penularan melalui sekring faring dapat terjadi bila keadaan higiene sanitasinya baik sehingga tidak memungkinkan terjadinya penularan oro-fekal. Virus polio dapat menyerang semua golongan usia dengan tingkat kelumpuhan yang bervariasi. Kelumpuhan yang terjadi sekitar 1% saja. Dari semua kelumpuhan, 90% akan sembuh dengan sendirinya dan sekitar 10% akan mengalami kelumpuhan menetap.
Gejala awal biasanya terjdi selama1-4 hari, yang kemudian menghilang. Gejala lain yang bisa muncul adalah nyeri tenggorokan, rasa tidak enak di perut, demam ringan, lemas, dan nyeri kepala ringan. Gejala klinis yang mengarah pada kecurigaan seranagan virus polio adalah adanya demam dan kelumpuhan akut. Kaki biasanaya lemas tanpa gangguan saraf perasa. Kelumpuhan biasa terjadi pada tungkai bawah, asimetris, dan dapat menetap selamanya yang bisa disertai gejala nyeri kepala dan muntah (Widoyono, 2011).
11. Flu Baru H1N1
Menurut Widoyono (2011), menyatakan bahwa Flu baru H1N1 adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan manusia yang di sebabkan oleh virus invluenza A. Penyakit ini sering di sebut sebagai flu babi karena kasus pertama yang menyerang manusia berasal dari baby atau di
sebut juga sebagai flu meksiko karena di temukan pertama kali di meksiko. Penyakit ini kemudian menyerang dari manusia ke manusia. WHO akhirnya mengumumkan namanya adalah flu baru H1N1 mengingat bahwa hampir semua kasus pada manusia bersal dari manusia, bukan lagi dari babi. Penularan dari manusia ini di sebabkan karena perubahan sifat virus yang
Virus influenza strain A sebenarnya adalah virus yang sering menyerang hewan dan hanya sedikit atau hanya terkadang menyerang manusia. Virus strain A ini berbeda dengan strain B dan C yang inang alamiahnya memang manusia. Virus ini mempunyai tonjolan glikoprotein hemaglutinin (H) dan enzim neuraminidase (N). H berfungsi sebagai antigen utama dan alat perekat ke membran sel yang bterinfeksi. Agar virus bisa masuk ke dalam sel inang. Enzim neuraminidase juga berfungsi membantu virus untuk melepaskan diri dari sel inang dan memungkinkan virus untuk menyebar keseluruh tubuh.
Spektrum inang virus influenza tipe A sangat luas, mulai dari unggas, babi, sapi, kuda, ferret, anjing laut, sampai paus. Para ahli melaporkan bahwa sifat genetik virus flu tipe A relatif tidak stabil terhadap faktor yang mempengaruhi, sehingga perubahan sifat virus mungkin bisa terjadi, misalnya virus yang sebelumnya hanya menyerang hewan ternyata bisa juga menyerang manusia.
Masa inkubasinya adalah 3-5 hari dengan masa infeksi 1 hari sebelum sakit hingga 7 hari sesudah sakit. Penularan terjadi melalui droplet yang berasal dari batuk, bersin, ludah, atau percikan ludah saat berbicara, sehingga kewaspadaan harus ditingkatkan di daerah yang padat penduduk. Penularan akan lebih cepat pada ruangan tertutup, seperti bu sekolah dan ruang kelas. Di daerah yang bercuaca dingin dan berkelembapan udara rendah, virus dapat bertahan berjam-jam
di luar tubuh manusia.
Ada beberapa gejala dan tanda pada penyakit flu baru H1N1, penyakit ini mempunyai gejala yang mirip dengan gejala influenza pada umumnya, yaitu demam leibh dari 38oC,
nyeri tenggorokan, batuk, pilek, dan bersin-bersin, gangguan pernapasan lain hingga sesak napas, bisa terjadi gejala tambahan sperti (lesu dan letih), mungkin bisa disertai oleh gejala tidak khas sperti mual, muntah, atau diare.
2.2.3 PenyakitInfeksiOlehParasit 1. Malaria
Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyrakat di Indonesia karena angka morbiditasnya dan mortalitasnya yang masih tinggi terutama di daerah luar jawa dan bali. Di daerah transmigrasi yang terdapat campuran penduduk yang berasal dari daerah yang endemik dan yang tidak endemik malaria, masih sering terjadi ledakan kasus atau wabah yang menimbulkan banyak kematian.
Malaria disebabkan oleh parasit sporozoa Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina infeksi. Sebagaian besarnya nyamuk anopheles akan mengigit pada waktu senja atau malam hari, pada beberapa jenis nyamuk puncak gigitannyaa dalah tengah malam sampai fajar.
Masa inkubasi malaria sekitar 7-30 hari tergantung spesiesnya. P. falciparun memerlakukan waktu 7-14 hari, P. vivaxdan P. ovale 8-14 hari, sedangkan P. malariaememerlukan 7-30 hari. Masa inkubasi ini dapat memanjang karena berbagai factor seperti pengobatan dan pemberian profilaksis dengan dosis yang tidak ade kuat.
Diagnosis malaria ditegakkan berdasarkan gejalan klinis, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis pasti dibuat dengan ditemukannya parasit malaria dalam
2. Penyakit cacing
Menurut Widoyono (2011), menyatakan bahwa Penyakit yang disebabkan oleh cacing tambang banyak menyerang daerah tropis dan subtropis. Endemisitas tergantung dari kondisi larva dan lingkungan seperti daerah agraris dengan kelembaban dan suhu yang sesuai bagi perkembangan telur cacing dan larva.
Terdapat 3 spesies cacing tambang yang menyebabkan penyakit, yaitu necatoramericanus, ancylostomadoudenale, dan Ancylostomsaceylonicum. Cacing ini mampu memperoduksi 10.000-20.000 telur perhari, dengan ukuran telur adalah 64-76 mm x 36-40 mm. A. Doudenale berukuran sedikit lebih besar daripada N. Americanus, dengan kemampuan menghasilkan 10.000-25.000 telur sehari dan ukuran telur 56-60 mm x 36-40 mm.
Penularannya penyakit ini, cacing dewasa hidup dan bertelur di dalam 1/3 atas usus halus, kemudian keluar melalui tinja. Telur akan berkembang menjadi larva ditanah yang sesuai suhu dan kelembabannya. Larva bentuk pertama adalah rhabidiform yang akan berubah menjadi filariform.
Dari telur sampai menjadi fiilariform memerlukan waktu selama 5-10 hari. Larva akan memasuki tubuh manusia melalui kulit (telapak kaki, terutama untuk N. Americanus) untuk masuk ke peredaran darah. Selanjutnya larva akan ke paru, naik ke trakea, kemudian berlanjut ke faring, kemudian larvaa tertelan ke saluran pencernaan. Larva bisa hidup dalam usus sampai delapan tahun dengan menghisap darah (1 cacing = 0,2 ml/hari). Cara infeksi kedua yang bukan melalui kulit adalah tertelannya larva (terutama A.doudenale) dari makanan atau minuman yang tercemar. Cacing dewasa yang berasal dari larva yang tertelan tidak akan mengalami siklus paru.
Gejala dan tanda penyakit cacing, umumnya penyakit cacing tanpa ada gejala. Manifestasi klinis ankilostomiasis berhubung dengan derajat infeksinya. Terdapat keluhan kulit
sperti gatal akibat masuknya larva. Siklus pada paru biasa tidak menimbulkan gejala. Gangguan saluran pencernaan berupa berkurangnya nafsu makan, mual, muntah, nyeri perut, dan diare, berhubungan dengan adanya cacing dewasa pada usus halus.
Pada infeksi kronis, anemia dapat terjadi karena penghisapan darah oleh cacing. Bila di dalam tubuh terdapat kurang dari 50 cacing maka geejalanya akan subklinis, bila terdapat 50-125 cacing maka akan timbul gejala klinis, dan bila terdapat 125-500 cacing maka gejalaqnya akan berat. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan tinja dengan ditemukannya telur, larva, atau bahkan cacing dewasa.
3. Filariasis
Menurut Widoyono (2011), menyatakan bahwa Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit nematoda yang tersebar di Indonesia. Walaupun penyakit ini jarang menyebabkan kematian, tetapi dapat menurunkan produktivitas penderitanya karena timbulnya gangguan fisik. Penyakit ini jarang terjadi pada anak karena manifestasi klinisnya timbul bertahun-tahun kemudian setelah infeksi. Gejala pembengkakan kaki muncul karena sumbatan mikrofiliria pada pembuluh limfe yang biasanya terjadi pada usia di atas 30 tahun setelah terpapar parasit selama bertahu – tahun. Oleh karena itu, filariasis sering juga disebut penyakit kaki gajah. Akibat paling fatal bagi penderita adalah kecacatan permanen yang sangat menggangu produktivitas.
timori, dan Onchocerca volvulu. Siklushidup W. Bancrofti dan B. Malayi dimulai dari saat filaria betina dewasa dalam pembunuh limfe manusia memproduksi sekitar 50.000 mikrofilaria per hari kedalam darah. Nyamuk kemudian menghisap mikrofilaria pada saat menggigit manusia, selanjutnya larva tersebut akan berkembang dalam tubuh nyamuk, dan ketika nyamukm menggigit manusia, larva infektif akan masuk kedalam tubuh manusia. Larva akan bermigrasi ke saluran limfe dan berkembaang menjadi bentuk dewasa. Mikrofilaria dapat ditemukan dalam darah tepi setelah 6 bulan-1 tahun setelah terinfeksi dan bisa bertahan 5-10 tahun. Vektor utama filaria adalah nyamuk Anopheles, Culex, Mansonia, dan Aedes
Gejala dan tanda penyakit filariasis, penderita filariasis bisa tidak menunjukkan gejala klinis (asimtomatis). Hal ini disebabkan oleh kadar mikrofilaria yang terlalu sedikit dan tidak terdeteksi oleh pemeriksaan laboratorium atau karena memang tidak terdpat mikrofilaria dalam darah.
Apabila menimbulkan gejala, maka yang sering ditemukan adalah gejala akibat manifestasi perjalanan krinik penyakit. Gejala penyakit pada tahap awal (fase akut) bersifat tidak khas seperti demam selam 3-4 hari yang dapat hilang tanpa diobati, demam berulang lagi 1-2 bulan kemudiam, atau gejala lebih sering timbul bila pasien bekerja terlalu berat. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium dengan ditemukannya mikrofilaria dalam darah.
DAFTAR PUSTAKA
Agampodi, B. Suneth., dkk. 2011.. Internasional Journal of Leptospirosis Outbreak in Sri Lanka in 2008: Lessons for Assesing the GlobalBurden Of Disease. International Journal of Infectious Diseases 471-478.
Aryu Candra, Aryu. 2010. Demam Berdarah Dengue: Epidemiologi, Patogenesis, dan Faktor Risiko Penularan. Fakultas kedokteran UNDIP.
Semarang.
DEPARTEMEN KESEHATAN. 2007. Pharmaceutical Care Untuk Pasien Flu Burung . Jakarta.
Fananny, David. 2009. Dengue Hemorrhagic Fever and Natural Disaster : The Case of Padang, West Sumatera. La Trobe University. Australia.
Firnawati, Artika F. 2010. Analisis Faktor Risiko Tingkat Kecacatan Pada Penderita Kusta Di Puskesmas Padas Kabupaten Ngawi. Fakultas Ilmu
Kesehatan. Universitas Muhammadiyah. Surakarta.
Hou, Jinlin., dkk. 2005. Epidemiology and Prevention of Hepatitis B virus Imfection. Journal Internasional 50-57.
Kumala W. Avian Influenza Profil Dan Penularannya Pada Manusia. Universa Medicina. 2005. Volume 24 Nomor 4.
Kunoli F. 2013. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Trans Info Media. Jakarta.
Lesmana, Laurentius A., et all. 2009. Prevalence of Hepatic Steatosis in Chronic Hepatitis B Patients and Its Association with Disease Severity. Journal internasioanl medical.
Liu, Z dan Fang, CT. 2015.a Modeling Study of Human Infections with Avian Influenza A H7N9 Virus in Mainland China. International Journal of
Infectious Diseases. 73 – 78.
M.Arie Wuryanto, M. Arie. 2009. Aspek Sosial Dan Lingkungan Pada Kejadian Luar Biasa (KLB) Chikungunya (Studi Kasus KLB Chikungunya di Kelurahan Bulusan Kecamatan Tembalang Kota Semarang). Semarang.