• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

2.2 Kajian Teoritis

2.2.11 Hubungan Antar Variabel

Kebijakan moneter memiliki tujuan untuk mengarahkan ekonomi makro ke kondisi yang diinginkan (yang lebih baik), dengan

mengatur jumlah uang yang beredar. Kebijakan uang ketat akan mengurangi jumlah uang yang beredar dalam masyarakat (Rahardja dan Manurung, 2002: 362).

Kebijakan pasar terbuka (open market operation) digunakan untuk menambah atau mengurangi jumlah uang beredar dengan cara pemerintah (dalam hal ini Bank Indonesia) turut serta dalam jual beli surat berharga. Jika ingin menambah jumlah uang beredar, maka pemerintah membeli surat berharga di pasar modal. Sedangkan jika pemerintah bermaksud mengurangi jumlah uang beredar, maka ia mengeluarkan surat berharga, misalnya dengan mengeluarkan SBIS (Sofilda dan Suparmoko, 2014: 121).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sahriah (2010) menyatakan bahwa pada saat jumlah Sertifikat Bank Indonesia Syariah mengalami kenaikan, maka pada saat itu laju inflasi rendah atau mengalami penurunan.

SBIS diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai salah satu instrumen operasi pasar terbuka dalam rangka pengendalian moneter yang dilakukan berdasarkan prinsip syariah. Instrumen ini memberikan kesempatan yang bagi bank syariah untuk berpartisipasi di pasar uang dengan sistem yang sesuai dengan syariah. Hubungan SBIS dan inflasi terjadi saat bank syariah membeli SBIS, hal ini menyebabkan likuiditas yang dapat bank salurkan melalui pembiayaan berkurang karena uang mengendap yang dimiliki bank syariah diserap oleh SBIS sehingga tidak bisa dialokasikan pada masyarakat. Hal ini dapat mengurangi terlalu

banyaknya uang yang diedarkan ke masyarakat. Karena salah satu pemicu meningkatnya inflasi adalah banyaknya uang yang beredar. H1: SBIS memberi pengaruh negatif pada inflasi.

2.2.11.2 PUAS terhadap Inflasi

PUAS ialah salah satu instrumen moneter yang digunakan sebagai sarana pemenuhan likuiditas bank syariah. Bank syariah hanya dapat melakukan transaksi jual beli surat berharga di saat bank tersebut mengalami kelebihan dana (surplus) ataupun kekurangan dana (deficit) (Pohan, 2008: 90).

PUAS memiliki fungsi yakni memberikan kemudahan bagi perbankan yang mengalami kesulitan likuiditas, baik berupa kekurangan maupun kelebihan likiditas. Sarana investasi yang digunakan oleh bank dalam transaksi PUAS ialah Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank dengan akad yang digunakan ialah mudharabah (Maharani, 2017).

Hubungan antara PUAS dan inflasi terjadi saat suatu bank mengalami kelebihan likuiditas kemudian melakukan transaksi PUAS dengan bank lain yang sedang mengalami kekurangan likuiditas. Likuiditas yang dimiliki, disalurkan bank tersebut untuk pembiayaan modal kerja, investasi, dan pembiayaan konsumsi. Menurut salah satu teori inflasi yakni teori strukturalis menyatakan bahwa pertambahan barang-barang produksi yang terlalu lambat dibanding dengan pertumbuhan kebutuhannya, dapat menyebabkan kenaikan harga bahan makanan. Akibat selanjutnya adalah kenaikan harga-harga barang lain, sehingga terjadi inflasi yang berkepanjangan. Maka dari itu adanya

transaksi PUAS untuk memenuhi permintaan pembiayaan tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan dalam kebutuhan barang produksi yang pada akhirnya akan berpengaruh pada penurunan tingkat inflasi.

H2: PUAS dari sisi pembiayaan memberi pengaruh negatif pada inflasi. 2.2.11.3 DPK terhadap Inflasi

Menurut kaum Klasik maupun Keynes menyetujui bahwa inflasi ada kaitannya dengan jumlah uang beredar. Oleh karena itu untuk menanggulangi inflasi yang utama ialah bagaimana menekan laju pertumbuhan jumlah uang yang beredar, atau dapat pula mengurangi jumlah uang yang beredar (Sofilda dan Suparmoko, 2014: 197).

Nilai DPK syariah memengaruhi pembiayaan, karena besarnya dana yang terhimpun dari para nasabah akan menentukan jumlah dana yang akan disalurkan kepada sektor riil. Hal tersebut merupakan cerminan dari fungsi intermediasi bank sebagai pihak yang menghubungkan antara pihak surplus dengan pihak defisit (Wulandari, 2014).

Hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi dana masyarakat yang terkumpul pada dana pihak ketiga bank syariah dapat menurunkan tingkat inflasi. Karena semakin tinggi DPK artinya uang yang beredar di masyarakat berkurang. Selain itu dana masyarakat yang sebenarnya bisa digunakan untuk konsumsi, ketika disimpan pada bank syariah selanjutnya digunakan untuk penyaluran pembiayaan oleh bank. Pada akhirnya uang tersebut digunakan sebagai produksi.

H3: DPK memberi pengaruh negatif pada inflasi. 2.2.11.4 Pembiayaan Perbankan Syariah terhadap Inflasi

Perkembangan kredit atau pembiayan perbankan akan berpengaruh pada inflasi dan output melalui dua tahap. Pertama, pengaruh volume pembiayaan dan juga tingkat bagi hasil adalah bagian dari biaya modal terhadap aktivitas produksi perusahaan. Tahap kedua melalui perkembangan konsumsi yaitu pengaruh volume pembiayaan terhadap bagi hasil, konsumsi sektor rumah tangga baik karena efek subtitusi maupun efek pendapatan. Pengaruh melalui konsumsi dan investasi akan berdampak pada besarnya permintaan agregat yang pada akhirnya menentukan tingkat inflasi dan output (Natsir, 2014: 204).

Ketika bank sentral melakukan kebijakan moneter yang ekspansif dan aktifitas pembiayaan diarahkan untuk mendorong pertumbuhan sektor riil. Hal ini menyebabkan jumlah pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah meningkat, dimana peningkatan ini disebabkan oleh penurunan return SBIS oleh BI yang pada akhirnya mengakibatkan perbankan syariah lebih memilih menyalurkan dananya ke masyarakat daripada menyimpannya di BI. Dari peningkatan pembiayaan tersebut, maka modal yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia akan semakin banyak dan selanjutnya produktivitas perusahaan akan semakin meningkat karena proses produksi dapat dibiayai dengan modal tersebut. Dengan demikian, saat produksi riil mengalami kenaikan, akan meningkatkan output riil

perekonomian di Indonesia yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat inflasi (Anjasari, 2017).

Didukung penelitian yang dilakukan oleh Rusydiana (2009) semakin tinggi jumlah pembiayaan perbankan syariah Indonesia akan berpengaruh dan berkontribusi positif pada penurunan tingkat inflasi Indonesia. Hal ini sekaligus sebagai pembuktian terhadap hasil riset sejenis yang dilakukan Hardianto pada tahun 2004. Alasan bahwa pembiayaan syariah akan menurunkan tingkat inflasi adalah karena pembiayaan perbankan syariah khususnya pembiayaan produktif berprinsip bagi hasil akan memungkinkan terjadinya pertumbuhan yang seimbang antara sektor moneter dan sektor riil. Keseimbangan tersebut disebabkan oleh prinsip (profit lost sharing) yang membagi pendapatan (revenue) peminjam.

H4: Pembiayaan perbankan syariah memberi pengaruh negatif pada inflasi.

2.2.11.5 PDB terhadap Inflasi

Menurut Warjiyo (2004) dalam Natsir (2014: 200) Jika peningkatan permintaan agregat tidak dibarengi dengan peningkatan penawaran agregat, maka akan terjadi output gap, tekanan output gap akan berpengaruh terhadap tingkat inflasi sebagai tujuan akhir kebijakan moneter.

Tingkat inflasi yang tinggi biasanya dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang telalu panas. Artinya kondisi ekonomi mengalami permintaan atas produk-produk yang melebihi kapasitas penawaran

produknya, sehingga harga-harga cenderung mengalami kenaikan. Inflasi yang terlalu tinggi juga akan menyebabkan penurunan daya beli uang. Selain itu, inflasi yang tinggi juga bisa mengurangi tingkat pendapatan riil yang diperoleh investor dari investasinya (Tandelilin, 2010: 342).

Dokumen terkait