• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara Aging Population dan Kebutuhan Perawat di Jepang

86,39 di tahun 2010 dan diprediksikan akan terus terjadi peningkatan diangka 84,19 untuk laki-laki serta 90,93 untuk perempuan di tahun 2060 mendatang.53

2.3.2 Hubungan antara Aging Population dan Kebutuhan Perawat di Jepang

a. Program “Asuransi Perawatan Jangka Panjang Lansia” atau LTCI di Jepang

Program asuransi kesehatan terhadap lansia di Jepang dikenal dengan nama Long-Term Care Insurance (LTCI) yang merupakan sebuah program pemerintah yang mulai diperkenalkan pada tahun 2000. Sebelum diperkenalkannya LTCI program, Jepang sudah memiliki program perawatan lain akan tetapi masih mengalami berbagai kendala dan kekurangan di dalam penerapannya. Program LTCI merupakan program perawatan jangka panjang atau yang dikenal dengan sebutan Kaigo Hoken yang ditujukan untuk memberikan perawatan terhadap penduduk Jepang berusia lanjut dengan kondisi yang lemah baik di lingkungan institusi maupun komunitasnya.54

Program Long-Term Care Insurance (LTCI) ini dilatarbelakangi oleh kondisi bertambahnya usia penduduk Jepang dan tingginya kebutuhan akan

52 Yusy W, Rindu A, Fenomena Perunurunan Angka Kelahiran di Jepang Pasca Perang Dunia II Sampai 2012, Jurnal Al-Azhar Seri Pranata Sosial, Vol, 2, No, 3 (Maret 2014),

Jakarta:Al-Azhar diakses dalam

https://jurnal.uai.ac.id/index.php/SPS/article/download/168/157 (15/11/2020, 09.19 WIB)

53 Amri & Hafidz, “Wah, 2060 Penduduk Jepang Susut Tiga Kali Lipat”, diakses dalam https://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/01/31/lynfhk-wah-2060-penduduk-jepang-susut-tiga-kali-lipat (15/11/2020, 10.11 WIB)

54 John Creighton C, “Japan’s Long Term Care Insurance System”, diakses dalam https://link.springer.com/chapter/10.1057/9781137402639_2 (20/11/2020, 10.05 WIB)

55

perawatan jangka panjang yang dikarenakan oleh semakin banyaknya jumlah lansia di Jepang. Perubahan dalam lingkungan sekitar seperti keluarga yakni terjadinya penuaan terhadap pengasuh orang tua di dalam anggota keluarga juga mendorong terbentuknya program LTCI ini.55 Pada awalnya tugas merawat orang tua di Jepang merupakan tugas dari menantu laki-laki atau perempuan akan tetapi, seiring dengan perkembangan dunia pendidikan dan ekonomi Jepang, hal tersebut semakin berkembang dan semakin sulit bagi menantulaki-laki maupun perempuan untuk mengasuh orang tua dikarenakan kontribusi mereka di dalam dunia pekerjaan.56 Sehingga beberapa faktor tersebut menjadi alasan munculnya suatu program perawatan terhadap orang tua berusia lanjut atau lansia di Jepang.

b. Faktor Penyebab Kurangnya Ketersediaan Nurse dan Careworkers di Jepang

Banyak negara di dunia terutama negara-negara inti tengah mengalami permasalahan kurangnya tenaga kerja perawat salah satunya yakni Jepang. Setiap tahunnya Jepang merekrut 55.000 perawat baru. Akan tetapi pada waktu yang bersamaan juga terdapat sekitar 40.000 perawat meninggalkan profesinya sehingga Jepang tidak dapat memenuhi jumlah kurangnya tenaga kerja perawat yang dibutuhkannya tersebut.57

55 Health and Walfare Bureau for the Elderly, Long-Term Care System of Japan, MHLW, diakses dalam https://www.mhlw.go.jp/english/policy/care-welfare/care-welfare-elderly/dl/ltcisj_e.pdf (20/11/2020, 10.12 WIB)

56 Kurniawaty I, Japan Aging Issues, Long Term Care Insurance (LTCI) and The Migration of Indonesian Nurse to Enter Japan Labor Market, Journal of Strategic Global Studies, Vol, 2, No, 2 (July 2020), Jakarta: Universitas Indonesia, diakses dari https://scholarhub.ui.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1044&context=jsgs (20/11/2020, 10.17 WIB)

57 ibid

56

Pemerintah Jepang telah mengadopsi kebijakan untuk menghadapi permasalahan ketersediaan perawat di Jepang. Berbagai kebijakan yang diperkenalkan pemerintah diantaranya yakni sistem beasiswa pemerintah untuk mahasiswa perawat yang diperkenalkan pada tahun 1962, dan kemudian pada tahun 1963 yakni meningkatkan alokasi anggaran untuk institusi pendidikan keperawatan. Hal tersebut mampu menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah perawat di Jepang hingka 5,8 kali lipat dari dekade sebelumnya. 58 Namun, dikarenakan sistem perawatan kesehatan di Jepang yang semakin maju dan jumlah pasien yang terus meningkat, permintaan akan tenaga perawat di Jepang terus mengalami peningkatan yang melebihi dari ketersediaan tenaga perawat di Jepang. Dengan demikian, faktor utama dibalik kekurangan tenaga kerja perawat di Jepang yakni sebagai berikut :59

1. Peningkatan jumlah tempat tidur di rumah sakit

Pada tahun 1985, pemerintah Jepang mengusulkan undang-undang untuk membatasi peningkatan jumlah tempat tidur rumah sakit tanpa pandang bulu.

Sebelum undang-undang tersebut diberlakukan, administrator rumah sakit segera memasang 132.000 tempat tidur baru, sehingga memicu kekurangan saat ini.60

58 Nursing in Japan, diakses dalam

https://www.nurse.or.jp/jna/english/nursing/employment.html (20/02/2021, 03.05 WIB)

59 Aikoi Sawada, “The Nurse Shortage Problem in Japan” diakses di https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/096973309700400309?journalCode=neja (20/02/2021, 03.05 WIB)

60 Nippon Kango Kyokai (Japan Nursing Association). Heisei 3 nenban kango hakusho (Nursing White Paper of 1991). Tokyo: JNA, 1991: 13 dalam Aikoi Sawada, “The Nurse

Shortage Problem in Japan” diakses di

https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/096973309700400309?journalCode=neja (20/02/2021, 03.05 WIB)

57 2. Perawatan medis yang lebih maju

Pada tahun 1958, hukum medis Jepang mewajibkan administrator rumah sakit untuk menyediakan satu perawat untuk setiap empat pasien. Sejak itu, perawatan medis yang kompleks telah meningkat, sehingga standar satu perawat per dua atau tiga pasien diusulkan untuk bangsal perawatan kritis seperti unit perawatan intensif.61 Dari 10.000 rumah sakit di Jepang , hanya 39% yang mematuhi standar ini.62 Dengan kemajuan modern dalam pengobatan, perawatan berteknologi tinggi membutuhkan lebih banyak perawat.

3. Kondisi kerja yang buruk dan ketidakpuasan kerja

Diakui secara luas bahwa perawat bekerja dalam kondisi yang buruk, terlalu banyak bekerja, dan gaji yang rendah. Rata-rata, seorang perawat Jepang bekerja shift malam sembilan kali sebulan, selama itu, dua perawat biasanya harus merawat 40-50 pasien. Kondisi pasien seringkali menjadi kritis pada malam hari sehingga sulit bagi perawat untuk istirahat. Selain itu, gaji perawat lebih rendah daripada wanita karir lainnya.63 Dalam lingkungan medis berteknologi tinggi saat ini, perawat Jepang masih berfungsi sebagai asisten dokter. Oleh karena itu,

61 Ishihara A, Sugita T, Nagatoya Y et al. Kangoshi (Nursing history). Tokyo: Igakushoin, 1984: 190 dalam dalam Aikoi Sawada, “The Nurse Shortage Problem in Japan” diakses di

https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/096973309700400309?journalCode=neja (20/02/2021, 03.05 WIB)

62 Tachiki K. Kangofu fusoku (The shortage of nurses). Tokyo: Asahi Sonolama, 1991.

dalam Aikoi Sawada, “The Nurse Shortage Problem in Japan” diakses di https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/096973309700400309?journalCode=neja (20/02/2021, 03.05 WIB)

63 ibid

58

mereka menjadi tidak puas, dengan ini menjadi alasan utama mereka meninggalkan pekerjaan mereka.64

4. Sistem pendidikan keperawatan yang buruk dan rumit

Ada banyak jenis sekolah pelatihan perawat Jepang. Sebagian besar bukanlah perguruan tinggi keperawatan tetapi hanya sekolah kejuruan yang menyediakan kursus pelatihan yang berlangsung selama dua atau tiga tahun. Di Jepang, latar belakang pendidikan seseorang sangat penting, jadi, anak muda yang cerdas cenderung bersekolah di perguruan tinggi dan universitas daripada ke sekolah kejuruan. Saat ini sekitar 40% anak muda Jepang bersekolah di perguruan tinggi atau universitas. Jika mereka tidak tertarik pada sekolah perawat, maka mereka tidak akan bersekolah di sekolah tersebut.

5. Rendahnya posisi sosial perawat di Jepang

Faktor kelima penyebab kekurangan perawat adalah rendahnya posisi sosial perawat di Jepang. Bahkan sekarang, banyak orang yang menganggap perawat hanya sebagai pembantu, atau pembantu dokter. Banyak dokter juga memandang perawat hanya sebagai pembantu mereka, dan bukan sebagai spesialis dalam seni merawat. Status mereka yang rendah telah menyebabkan kondisi kerja yang buruk, gaji yang rendah dan sistem pendidikan yang buruk. Akibatnya, setiap tahun banyak perawat meninggalkan pekerjaannya dan kekurangan perawat semakin parah.

64 Nippon Kango Kyokai (Japan Nursing Association). Heisei 3 nenban kango hakusho (Nursing White Paper of 1991). Tokyo: JNA, 1991: 13 dalam Aikoi Sawada, “The Nurse

Shortage Problem in Japan” diakses di

https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/096973309700400309?journalCode=neja (20/02/2021, 03.05 WIB)

59

Berdasarkan penjelasan di atas, kurangnya dan berhentinya tenaga perawat di Jepang yakni disebabkan oleh permasalahan dunia kesehatan Jepang yang sudah berlangsung lama. Permasalahan tersebut yakni dikarenakan oleh faktor jam kerja perawat.65 Banyak perawat Jepang yang sangat lelah, baik secara fisik maupun mental. Beberapa perawat bahkan meninggal karena 'karoshi', yang berarti kematian akibat terlalu banyak bekerja. Tragedi ini terkait dengan berapa kali perawat bekerja pada shift malam. Berdasarkan survey JNA 2008 menunjukkan bahwa 1 dari 23 orang bekerja pada tingkat yang dianggap menyebabkan kematian akibat jam kerja lembur (dalam shift dengan lembur lebih dari 60 jam per bulan).66

Sebagai contoh penyebab seorang perawat di Jepang meninggal mendadak yakni disebabkan oleh terjadinya insufisiensi jantung perawat setelah bertugas terus menerus selama 34 jam. Pada tahun 1965, Otoritas Personalia Nasional Jepang memberikan rekomendasi mengenai pola kerja shift malam perawat. Pola ini menganjurkan bahwa harus ada lebih dari satu perawat pada shift malam dan setiap perawat harus bekerja kurang dari delapan shift malam per bulannya demi kondisi perawat itu sendiri dan kondisi pasien. Rekomendasi ini belum dipertimbangkan oleh sebagian besar pengelola rumah sakit karena adanya kondisi kekurangan tenaga perawat.67 Sebesar 60% perawat di Jepang saat ini

65 Ibid

66 “Nursing in Japan : Employement status of nursing personnel”, Japanese Nursing Association, diakses dalam https://www.nurse.or.jp/jna/english/nursing/employment.html (20/11/2020, 10, 23 WIB)

67 Ejiri N, Sugiyama K, Udagawa S et al. Kangofu wo fuyashite (The urgent need to increase the number of nurses). Tokyo: Shin Nippon Shuppansha, 1991: 14–27 dalam Aikoi Sawada, “The Nurse Shortage Problem in Japan” diakses di

60

banyak yang mengeluhkan masalah kesehatan seperti mata tegang, sakit kepala, leher kaku, bahu kaku, kelelahan fisik dan mental kronis, juga depresi. Selain itu, ada juga peningkatan risiko kelainan janin di antara keturunan perawat Jepang.68 Kondisi yang keras ini kemudian akan mempengaruhi pasien secara langsung.

Mereka tidak dapat menerima perawatan yang memadai dari perawat yang lelah dan terlalu banyak bekerja Perawat cenderung membuat kesalahan penilaian yang ceroboh karena terlalu banyak bekerja.

https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/096973309700400309?journalCode=neja (20/02/2021, 03.05 WIB)

68 Tachiki K. Kangofu fusoku (The shortage of nurses). Tokyo: Asahi Sonolama, 1991 dalam Aikoi Sawada, “The Nurse Shortage Problem in Japan” diakses di https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/096973309700400309?journalCode=neja (20/02/2021, 03.05 WIB)

Dokumen terkait